08 October 2009
Sedlec Ossuary
07 October 2009
Ilmuwan Atheis Yang Berubah
“Kita sekarang ini adalah dalam batas penemuan rohani. Tidak seorang pun yang dapat mengukur dalamnya tarikan seseorang Kristen apabila ia berada dalam hubungan dengan Tuhan. Ini adalah sesuatu yang nyata.”
Dr. N. Jerome Stowell mengakui, “Pengalaman ini telah membawa saya berpaling kepada Tuhan. Saya telah menjadi seorang Kristen hanya dalam waktu singkat walaupun saya tahu sedikit saja tentang jalan Kekristenan. Namun yang saya ketahui ialah perkara yang berhubungan dengan Tuhan itu adalah sesuatu yang positif. Saya akan berusaha untuk memlihara hidup saya jauh di atas indikator nol. Dunia sedikit sekali menyadari tentang pengaruh doa yang penuh kepercayaan. Ini adalah sesuatu yang bergerak dari sumber-sumber yang pasti.”
Lebih lanjut Dr. Stowell menjelaskan tentang percobaannya yang telah mengubah dia dari seorang ateis menjadi seorang yang mempercayai Tuhan dengan sepenuhnya: “Saya bisa dikenal seorang ateis yang sungguh-sungguh. Saya tidak mempercayai Tuhan lebih dari sekadar satu kumpulan pikiran semua orang yang digabung menjadi satu, serta kebaikan mereka masing-masing. Dan saya tidak percaya bahwa Tuhan ada, berkuasa, dan mencintai kita semua. Mempunyai kuasa yang melebihi segala sesuatu.”
“Tetapi suatu kali saya membuat percobaan yang benar-benar telah membuat saya berpikir. Saya berada dalam laboratorium Patologi yang besar dan kami mencoba untuk menemukan panjangnya gelombang otak. Kami mendapatkan bukan hanya panjangnya gelombang otak, melainkan satu kenyataan bahwa panjangnya gelombang setiap otak manusia berbeda daripada sidik jari setiap manusia. Ini adalah satu perkara yang harus diingat: Sesungguhnya Tuhan dapat memelihara catatan pikiran pribadi kita di surga sebagaimana FBI Washington DC dapat mencatat sidik jari kita.
Kami ingin membuat percobaan untuk menemukan apa yang terjadi di otak pada saat seseorang dalam masa transisi dari kehidupan kepada kematian. Kami pilih seorang wanita yang telah dikirimkan keluarganya ke rumah sakit jiwa, namun telah dikeluarkan dari sana. Para dokter tidak mendapat apapun yang salah padanya kecuali suatu fakta bahwa ia memiliki kanker otak. Hal ini telah mengganggu keseimbangan badannya saja, sedangkan kesadaran pikiran dalam keadaan yang sangat baik. Kami mengetahui bahwa ia akan meninggal dan kami sampaikan padanya bahwa ia akan meninggal.
“Dalam kamarnya kami mengatur sebuah peralatan khusus untuk memastikan apa yang terjadi dengan otaknya dalam masa peralihan dari kehidupan kepada kematian. Kami pun meletakkan sebuah pengeras suara yang kecil, sebesar uang satu sen, dalam ruangan tersebut, supaya kami dapat mengetahui apa yang ia katakan jikalau ia ingin menyampaikan sesuatu.
“Kami semua adalah ilmuwan yang keras kepala, dan mungkin saya yang paling keras kepala dan yang paling atheis dari rombongan dokter; semua dalam keadaan siap dengan alat kami untuk melihat apa yang akan terjadi. Alat penunjuk kami mempunyai angka nol (0) di tengahnya. Menuju ke sebelah kanan terdapat penentuan ukuran menuju ke angka 500 positif; sedangkan untuk ke sebelah kiri terdapat angka menuju 500 negatif. Sebelumnya kami telah menggunakan alat ini untuk mengukur stasiun pemancar radio berkekuatan 50 kilowatt untuk memancar ke seluruh dunia; ternyata jarum menunjukkan angka 9 positif.
“Pada bagian akhir wanita ini, ia mulai berdoa dan memuji Tuhan. Ia meminta kepada Tuhan untuk berbelas kasihan kepada mereka yang telah membencinya. Kemudian ia mulai mengukuhkan imannya kepada Tuhan, dan berkata kepada-Nya bahwa ia mengenal Dia sebagai satu-satunya Kuasa dan Ia adalah Kuasa yang hidup. Ia berkata kepada Tuhan bahwa ia menyadari bahwa selalu ada masa yang lalu dan akan tetap ada masa yang akan datang. Ia memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya untuk kuasa-Nya dan untuk pengetahuan tentang adanya Tuhan. Ia sampaikan kepada-Nya bahwa ia mencintai Dia.
Kami para ilmuwan telah demikian terpesona dengan doa wanita tersebut hingga kami lupa percobaan yang sedang dibuat. Kami melihat satu sama lain, dan melihat air mata mengalir dari wajah seluruh ilmuwan. Saya tidak pernah mengalirkan air mata seperti itu sejak masa kecil.
Tiba-tiba saya mendengar satu bunyi “klik” dari alat percobaan yang kami telah lupakan tersebut. Kami lihat kepada jarumnya yang menunjukkan angka 500, dan kelihatan jarum ingin naik lebih tinggi lagi, namun angka 500 positif adalah angka yang tertinggi.
Dengan percobaan yang nyata ini, kami telah mencatat bahwa otak seorang wanita, yang sendirian dan dalam keadaan hampir mati, dalam komunikasi dengan Tuhan tercatat mempunyai kekuatan 55 kali lebih besar dari alat pemancar radio yang berkekuatan 50 kilowatt yang memancarkan siaran ke seluruh dunia.
Setelah itu kami ambil keputusan untuk mencoba kasus yang bertentangan dengan yang pertama. Kami pilih seorang lelaki yang terbaring sakit dengan penyakit yang mematikan. Otaknya telah menciut sampai kepada titik kematian. Sebenarnya ia sudah benar-benar mengalami gangguan kejiwaan dan dapat dikatakan gila. Segera setelah kami meletakkan peralatan khusus tersebut, kami meminta seorang perawat untuk melawan pasien gila ini. Melalui tipu muslihatnya ia coba menarik perhatian lelaki itu kepadanya, kemudian mengatakan kepadanya bahwa ia tidak mau melakukan apapun untuk dia. Lelaki tersebut kemudian mulai marah kepada perawat tersebut, dan jarum mulai bergerak ke arah negatif. Kemudian ia mulai mengutuknya, dan juga menggunakan nama Tuhan dengan sia-sia. Secara tiba-tiba terdengar bunyi “klik” dan ternyata jarum telah tiba ke angka 500 negatif.
Dengan percobaan ini kami dapat langsung melihat apa yang terjadi dengan otak seseorang bila ia melanggar salah satu dari Sepuluh Hukum Allah, janganlah menyebut nama Allah denga sia-sia, yaitu keadaan yang negatif.
Jikalau kami sebagai ilmuwan dapat mencatat semua ini, kami percaya dengan sepenuh hati bahwa Tuhan dapat pula mencatat semua yang terjadi di dalam pikiran kita. Ia mempunyai lebih banyak kuasa daripada kita dan dapat mencatat jauh lebih teliti daripada pencatat apapun yang ada di dunia ini.
Dengan kehadiran Tuhan di dalam diri kita, Ia dapat memberikan kuasa kepada kita, yang mahabesar tanpa pengecualian apapun.” Kemudian Dr. Stowell mengatakan, “Sekarang saya adalah seorang ilmuwan yang mencintai Tuhan dengan sepenuh hati. Saya mau Anda berdoa untuk saya, agar saya akan selalu berpikir, berkata dan berbuat perkara yang positif yang Tuhan kehendaki aku pikirkan, katakan dan lakukan, dan aku tidak akan berpikir berkata dan berbuat sesuatu perkara yang negatif, yang telah membuat aku dibutakan dan dikurung untuk sekian tahun lamanya.
Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibr 4:12).” Dengan kuasa firman Allah itulah yang dapat mengubah manusia. Anda pun bukanlah satu pengecualian!
Diambil dari “Kitab Ajaib”
oleh dr. Kathleen H L Kuntaraf MPH & Jonathan Kuntaraf D. Min.
hal 75-78
Try Again
Mazmur 37:24 - "Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."
06 October 2009
Sung Du
Sung Du adalah seorang guru Kristen muda yang tinggal di Korea sebelum perang dunia ke-2 meletus. Ketika tentara Jepang menduduki Korea, iman Sung Du tidak cukup kuat untuk berkata tidak, sehingga akhirnya dia turut menyembah dewa-dewa bersama orang-orang Jepang di kuil Shinto. Semua guru misionarisnya sangat kecewa terhadapnya, tetapi mereka tetap berdoa untuknya. Namun Allah belum selesai berurusan dengan Sung Du.
Lima tahun setelah perang itu, Arch Campbell (salah satu guru misionaris Sung Du) mendatangi adik Sung Du, Sung Ho dan menanyakan apa yang telah terjadi. “Oh, ia sudah bertobat dihadapan Allah dengan menangis penuh penyesalan”, sang adik menjelaskan.
“Ia berjanji bahwa ia akan mati 2 kali sebelum menyangkali imannya lagi. Dan ia menepati janjinya. Ia mati 2 kali,” jelas Sung Ho selanjutnya.
Setelah bertobat, Sung Du belajar di sekolah Alkitab dan memulai pelayanannya di sebuah gereja dekat Suyang-Ch'on. Sewaktu komunis menguasai daerah itu, mereka melempar Sung Du ke pertambangan untuk bekerja sebagai budak. Ketika Sung Du menolak bekerja pada hari Minggu, para penjaga memukulinya sedemikian parah sampai-sampai mereka mengira Sung Du telah mati. Lalu, mereka membuang tubuhnya ke sungai. Beberapa saat setelah penjaga meninggalkan tempat itu, beberapa orang Kristen mengambil tubuhnya, membawanya pulang ke desa dan mulai menyiapkan penguburan.
Tiba-tiba mereka mendapati bahwa Sung Du masih hidup. Setelah berbulan-bulan, Sung Du sehat kembalidan siap menginjil lagi. Mendengar bahwa Sung Du menginjil lagi, para komunis menangkapnya lagi. Kali ini mereka menembak mati dirinya dan memastikannya benar-benar telah mati. Itulah Sung Du. Ia mati 2 kali untuk menebus ketidak-setiaannya dahulu.
Sama seperti Rasul Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus 3 kali, Sung Du belajar bahwa pengampunana dapat ditemukan kapan saja di salin Kristus. Dan seperti Rasul Petrus akhirnya disalib, Sung Du belajar bahwa "KITA LEBIH DARIPADA ORANG-ORANG YANG MENANG, OLEH DIA YANG TELAH MENGASIHI KITA" --- Roma 8:37
05 October 2009
Apa Yang Terjadi, Bila...
KKR dan Seminar Bandung 2009
Pdt. DR. STEPHEN TONG
"Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya." - 1Kor. 7:22
Anak Yang Hilang
Seorang gadis muda tumbuh di perkebunan ceri tidak jauh dari Traverse City, Michigan. Orang tuanya sedikit kolot, cenderung bereaksi berlebihan pada cincin di hidungnya, musik yang ia dengarkan dan panjang roknya. Mereka menghukumnya beberapa kali, dan ia memendam kejengkelan dalam hati.
“Saya benci Ayah!”, teriaknya ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran, dan malam itu ia menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan puluhan kali. Ia melarikan diri. Ia baru sekali ke Detroit sebelumnya, dalam perjalanan dengan bis bersama kelompok remaja gerejanya untuk menyaksikan permainan tim Tigers. Karena surat kabar di Traverse City sering memberitakan tentang geng, obat terlarang, dan kekerasan di pusat kota Detroit dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orang tuanya tidak akan mencarinya ke sana. California mungkin, atau Florida, tapi tidak Detroit.
Pada hari kedua ia di sana, ia bertemu seorang pria yang mengemudikan mobil paling besar yang pernah dilihatnya. Pria itu menawarkan untuk mengantarnya, membelikan makan siang, dan mengatur agar ia punya tempat tinggal. Ia memberi gadis ini beberapa pil yang membuatnya belum pernah merasa seenak ini. Ternyata selama ini ia memang benar, pikir gadis itu: orangtuanya melarangnya menikmati segala kesenangan.
Kehidupan menyenangkan berlanjut satu bulan, dua bulan, setahun. Orang bermobil besar itu, ia memanggilnya BOS, mengajarinya beberapa hal yang disukai pria. Karena ia masih di bawah umur, pria membayar mahal untuknya. Ia tinggal di apartemen mewah, dan bisa memesan layanan kamar kapan saja. Sesekali ia teringat pada orang-orang di kampung halamannya, tapi hidup mereka sekarang tampak sangat membosankan dan kampungan sampai ia hampir tidak percaya ia tumbuh besar di sana. Ia sedikit takut ketika melihat fotonya di belakang kemasan susu dengan judul besar, “Apakah Anda pernah melihat anak ini?”.
Tapi sekarang rambutnya sudah pirang, dan dengan semua riasan wajah dan perhiasan yang ia kenakan, tidak akan ada yang menyangka ia masih anak-anak. Lagipula, kebanyakan temannya adalah remaja yang melarikan diri, dan tidak ada yang berkhianat di Detroit. Setelah setahun, tanda-tanda samar penyakit mulai muncul, dan ia terkejut melihat betapa cepat bosnya menjadi kejam.
“Jaman sekarang kita tidak bisa main-main,” geramnya, dan tiba-tiba saja, ia sudah berada di jalanan tanpa uang di kantungnya. Ia masih melakukan "pekerjaannya" beberapa kali semalam, tapi bayaran mereka kecil, dan semua uang itu habis untuk membiayai kecanduannya. Ketika musim dingin tiba, ia menemukan dirinya tidur di pagar logam di depan pusat pertokoan. "Tidur" adalah kata yang salah, gadis remaja ditengah kota Detroit malam hari tidak pernah bisa mengendorkan kewaspadaannya. Lingkar hitam mengelilingi matanya. Batuknya bertambah parah.
Suatu malam ia berbaring tanpa bisa tidur, sambil mendengarkan langkah kaki, tiba-tiaba seluruh kehidupannya tampak berbeda. Ia tidak lagi merasa menjadi wanita hebat. Ia merasa seperti anak kecil, tersesat di kota yang dingin dan menakutkan. Ia mulai menggigil. Kantungnya kosong dan ia lapar. Ia juga perlu obat terlarang. Ia melipat kakinya, dan gemetar di bawah lembaran surat kabar yang ditumpuk di atas mantelnya.
Sesuatu muncul begitu saja di pikirannya, dan satu gambaran terbayang di matanya: bulan Mei di Traverse City, ketika jutaan pohon ceri berbuah bersamaan, ia berlarian bersama anjing golden retriever miliknya. Mengejar bola tenis di antara barisan pohon berbunga. Tuhan, mengapa aku pergi, katanya dalam hati, dan rasa perih menghunjam jantungnya. Anjingku saja di rumah makan lebih enak daripada aku sekarang. Ia menangis, dan dalam sekejap ia tahu tidak ada yag lebih ia inginkan di dunia kecuali pulang. Tiga sambungan telepon, tiga kali dijawab mesin panjawab. Ia menutup telepon tanpa meninggalkan pesan dua kali pertama, tapi ketiga kalinya ia berkata, “Ayah, Ibu, ini aku. Aku berpikir mungkin aku akan pulang. Aku akan naik bis ke sana, dan aku akan sampai sekitar tengah malam besok. Kalau Ayah dan Ibu tidak datang, yah, mungkin aku akan terus naik bis sampai ke Kanada”.
Dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam dengan bis dari Detroit ke Traverse City, dan sepanjang jalan ia menyadari cacat-cacat dalam rencananya. Bagaimana kalau orangtuanya sedang keluar kota dan melewatkan pesan itu? Bukankah seharusnya ia menunggu satu dua hari sampai bisa berbicara langsung dengan mereka? Dan kalaupun mereka ada di rumah, mungkin mereka sudah lama menganggapnya mati. Seharusnya ia memberi waktu agar mereka bisa mengatasi rasa kagetnya. Pikirannya bolak-balik antara rasa khawatir dan kata-kata yang disusun untuk menyapa ayahnya.
“Ayah, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Bukan salah Ayah, semuanya salahku. Ayah, bisakah Ayah memaafkan aku?”
Ia mengucapkan pikiran itu berulang-ulang dalam hati, kerongkongannya tercekat bahkan ketika melatihnya. Sudah bertahun-tahun ia tidak minta maaf pada siapapun. Bis melaju dengan lampu menyala sejak Bay City. Butiran kecil salju yang berjatuhan di trotoar terlindas ribuan ban, dan aspal beruap. Ia lupa segelap apa malam hari disini. Seekor rusa berlari menyeberang jalan dan bis menghindarinya. Sesekali, ada billboard. Tanda yang menunjukkan jaraknya ke Traverse City. Ya, Tuhan. Ketika bis akhirnya berbelok ke stasiun, rem udaranya mendesis memprotes, pengemudi mengumumkan dengan suara serak lewat mikrofon.
“Lima belas menit, saudara-saudara. Kita hanya berhenti selama itu di sini.”
Lima belas menit untuk memutuskan hidupnya. Ia memeriksa dirinya di cermin lipat, merapikan rambutnya, dan menjilat lipstik dari giginya. Ia melihat noda tembakau di ujung-ujung jarinya dan berpikir apakah orangtuanya akan melihatnya. Kalau mereka datang. Ia berjalan ke dalam terminal. Tidak tahu harus mengharapkan apa. Tidak satu pun dari adegan yang ia siapakan di pikirannya bisa mempersiapkannya untuk apa yang dilihatnya. Di sana, di atas kursi-kursi plastik terminal bis Traverse City, Michigan, berdiri sekitar empat puluh saudara, paman, bibi, sepupu, nenek, nenek buyut. Mereka semua memakai topi kertas pesta dan gulungan kertas yang bisa ditiup, dan di dinding terminal ditempel spanduk yang dibuat dengan komputer bertuliskan, “Selamat pulang kembali!”
Di tengah kerumunan penyambut, muncul ayahnya. Ia memandang dengan mata perih dengan air mata sepanas air raksa, dan memulai sapaan yang sudah dihafalkan, “Yah, aku minta maaf. Aku tahu....”
Ayahnya memotong. “Sst, Nak. Kita tidak punya waktu untuk itu. Tidak punya waktu untuk permintaan maaf. Kau akan terlambat ke pesta. Sebuah jamuan menunggumu di rumah.”
04 October 2009
Humor : Adu Teknologi
Para ahli sejarah meneliti kemajuan teknologi di masa lalu. Objeknya, tiga negara besar yakni, Inggris, Amerika, dan Indonesia.
Di Inggris, pada kedalaman 200 meter ditemukan tembaga. Para ahli berpendapat di Inggris 200 tahun lalu sudah menggunakan kawat tembaga untuk berkomunikasi. (Wuih hebat.., red)
Di Amerika, ditemukan kaca pada kedalaman 300 meter. Lantas, para ahli-pun mengambil kesimpulan.
"Berarti 300 tahun lalu, di Negeri Paman Sam sudah menggunakan fiber optic (serat kaca) untuk berkomunikasi," ujar salah satu peneliti, sambil manggut-manggut.
Nah, sekarang giliran Indonesia. Setelah lelah menggali, para ahli tidak menemukan apapun untuk diteliti.
Para peneliti terus menggali hingga kedalaman 1.000 meter. Hasilnya, tetap nihil. Akhirnya, para ahli menarik kesimpulan.
Ternyata, Indonesia waktu itu lebih canggih dibandingkan negara manapun. Karena 1.000 tahun yang lalu, Indonesia sudah menggunakan teknologi Wireless. (Iyalah, dari zaman dulu keris sudah bisa diterbangkan dari jarak jauh, red)
03 October 2009
Kopi Luwak
Sebagai pemakan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan bunga-bungaan, luwak merupakan binatang yang pandai memilih makanan yang baik untuknya. Maka, proses fermentasi di dalam pencernaan luwak itulah yang membuat rasa kopi ini berbeda. Aromanya lebih harum serta ada rasa pahit dan getir asam yang lebih khas dan spesial.
Daripada sulit membayangkan, ok kita simak saja prosesnya melalui gambar-gambar ini ya.
Pertama, para petani mulai memetik buah kopi yang sudah matang di pohon, yang berwarna merah.
O ya gambar-gambar ini diambil di perkebunan kopi Bondowoso, Jawa Timur.
ada yang udah nyoba??
Weekly Scripture - Yohanes 14:6-7
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." - Yohanes 14:6-7
Humor : Gagap Teknologi
Suatu hari, terdapat seorang pelajar SMA di Bojonegoro bernama Cuplis datang ke warnet. Dia disuruh oleh gurunya membuka website Depdiknas Surabaya.
Sesampainya di warnet, Cuplis langsung duduk di depan salah satu komputer dengan rasa ingin tahunya yang tinggi.
Tak lama kemudian, setelah bosan melihat monitor dengan screensaver logo Windows yang besar bolak balik, dia memanggil operator yang tengah sibuk membantu pelanggan lain.
"Mbak, saya minta tolong dibukakan website Depdiknas Surabaya," tutur Cuplis.
"Alamatnya di mana, mas?" tanya si operator.
Si Cuplis tidak tahu. Lantas kembali ke sekolah untuk menanyakan ke gurunya.
Tak lama kemudian dia balik ke warnet lagi.
"Sudah tahu alamatnya, mas?" tanya si operator.
"Sudah, mbak!" jawab Cuplis dengan semangat.
"Di mana?"
"Di Jl. Gentengkali Raya, Surabaya, mbak."
























