Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

06 October 2009

Sung Du

Sung Du adalah seorang guru Kristen muda yang tinggal di Korea sebelum perang dunia ke-2 meletus.  Ketika tentara Jepang menduduki Korea, iman Sung Du tidak cukup kuat untuk berkata tidak, sehingga akhirnya dia turut menyembah dewa-dewa bersama orang-orang Jepang di kuil Shinto.  Semua guru misionarisnya sangat kecewa terhadapnya, tetapi mereka tetap berdoa untuknya.  Namun Allah belum selesai berurusan dengan Sung Du.

Lima tahun setelah perang itu, Arch Campbell (salah satu guru misionaris Sung Du) mendatangi adik Sung Du, Sung Ho dan menanyakan apa yang telah terjadi.  “Oh, ia sudah bertobat dihadapan Allah dengan menangis penuh penyesalan”, sang adik menjelaskan.

“Ia berjanji bahwa ia akan mati 2 kali sebelum menyangkali imannya lagi.  Dan ia menepati janjinya.  Ia mati 2 kali,” jelas Sung Ho selanjutnya.

Setelah bertobat, Sung Du belajar di sekolah Alkitab dan memulai pelayanannya di sebuah gereja dekat Suyang-Ch'on. Sewaktu komunis menguasai daerah itu, mereka melempar Sung Du ke pertambangan untuk bekerja sebagai budak. Ketika Sung Du menolak bekerja pada hari Minggu, para penjaga memukulinya sedemikian parah sampai-sampai mereka mengira Sung Du telah mati. Lalu, mereka membuang tubuhnya ke sungai. Beberapa saat setelah penjaga meninggalkan tempat itu, beberapa orang Kristen mengambil tubuhnya, membawanya pulang ke desa dan mulai menyiapkan penguburan.

Tiba-tiba mereka mendapati bahwa Sung Du masih hidup. Setelah berbulan-bulan, Sung Du sehat kembalidan siap menginjil lagi.  Mendengar bahwa Sung Du menginjil lagi, para komunis menangkapnya lagi.  Kali ini mereka menembak mati dirinya dan memastikannya benar-benar telah mati.  Itulah Sung Du.  Ia mati 2 kali untuk menebus ketidak-setiaannya dahulu.

Sama seperti Rasul Petrus yang menyangkal Tuhan Yesus 3 kali, Sung Du belajar bahwa pengampunana dapat ditemukan kapan saja di salin Kristus.  Dan seperti Rasul Petrus akhirnya disalib, Sung Du belajar bahwa "KITA LEBIH DARIPADA ORANG-ORANG YANG MENANG, OLEH DIA YANG TELAH MENGASIHI KITA" --- Roma 8:37

05 October 2009

Apa Yang Terjadi, Bila...

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak ada waktu untuk memberkati kita hari ini,
karena kita tidak mempunyai waktu untuk bersyukur kepada-Nya kemarin hari

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi membimbing kita esok hari,
karena kita tidak mengikuti-Nya hari ini

Apa yang terjadi, bila kita tidak akan pernah melihat setangkai bunga mekar,
karena kita mengomel bila TUHAN mengirim hujan

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi berjalan bersama kita hari ini,
karena kita tidak ingat hari ini adalah hari-Nya

Apa yang terjadi, bila TUHAN mengambil Alkitab kita,
karena kita tidak mau membacanya hari ini

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi meninggalkan pesan-Nya,
karena kita tidak mau mendengar kepada utusan-Nya

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak mengutus Anak-Nya yang tunggal
untuk menebus dan membayar harga bagi dosa-dosa kita

Apa yang terjadi, bila pintu-pintu gereja ditutup,
karena kita tidak membuka pintu hati kita

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak lagi mengasihi kita dan memelihara kita,
karena kita tidak mau mengasihi dan mempedulikan orang lain

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak mendengar kita hari ini,
karena kita tidak mau mendengar-Nya kemarin

Apa yang terjadi, bila TUHAN menjawab doa-doa kita
dengan cara yang sama kita menjawab panggilan-Nya dalam pelayanan

Apa yang terjadi, bila TUHAN memenuhi kebutuhan kita
dengan cara yang sama kita memberikan hidup kita kepada-Nya?

Apa yang terjadi, bila TUHAN tidak peduli lagi?

KKR dan Seminar Bandung 2009

…Doakan dan Hadirilah…


Kebaktian Kebangunan Rohani
dan
Seminar Bandung 2009

oleh:
Pdt. DR. STEPHEN TONG


29-31 Oktober 2009:
KKR Umum: 29-31 Oktober 2009; Pkl. 18.00
KKR Siswa: 30 Oktober 2009; Pkl. 14.00
Seminar Aktivis: 31 Oktober 2009; Pkl. 09.30
KKR Mandarin: 31 Oktober 2009; Pkl. 15.30

di Aula SABUGA,
Institut Teknologi Bandung (ITB)


Sekretariat:
Paskal Hyper Square C-35, Bandung
Telp.: (022) 70071880


"Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya." - 1Kor. 7:22

Anak Yang Hilang

Seorang gadis muda tumbuh di perkebunan ceri tidak jauh dari Traverse City, Michigan. Orang tuanya sedikit kolot, cenderung bereaksi berlebihan pada cincin di hidungnya, musik yang ia dengarkan dan panjang roknya. Mereka menghukumnya beberapa kali, dan ia memendam kejengkelan dalam hati.

“Saya benci Ayah!”, teriaknya ketika ayahnya mengetuk pintu kamarnya setelah sebuah pertengkaran, dan malam itu ia menjalankan rencana yang sudah ia pikirkan puluhan kali. Ia melarikan diri. Ia baru sekali ke Detroit sebelumnya, dalam perjalanan dengan bis bersama kelompok remaja gerejanya untuk menyaksikan permainan tim Tigers. Karena surat kabar di Traverse City sering memberitakan tentang geng, obat terlarang, dan kekerasan di pusat kota Detroit dengan sangat rinci, ia menyimpulkan pasti orang tuanya tidak akan mencarinya ke sana. California mungkin, atau Florida, tapi tidak Detroit.

Pada hari kedua ia di sana, ia bertemu seorang pria yang mengemudikan mobil paling besar yang pernah dilihatnya. Pria itu menawarkan untuk mengantarnya, membelikan makan siang, dan mengatur agar ia punya tempat tinggal. Ia memberi gadis ini beberapa pil yang membuatnya belum pernah merasa seenak ini. Ternyata selama ini ia memang benar, pikir gadis itu: orangtuanya melarangnya menikmati segala kesenangan.

Kehidupan menyenangkan berlanjut satu bulan, dua bulan, setahun. Orang bermobil besar itu, ia memanggilnya BOS, mengajarinya beberapa hal yang disukai pria. Karena ia masih di bawah umur, pria membayar mahal untuknya. Ia tinggal di apartemen mewah, dan bisa memesan layanan kamar kapan saja. Sesekali ia teringat pada orang-orang di kampung halamannya, tapi hidup mereka sekarang tampak sangat membosankan dan kampungan sampai ia hampir tidak percaya ia tumbuh besar di sana. Ia sedikit takut ketika melihat fotonya di belakang kemasan susu dengan judul besar, “Apakah Anda pernah melihat anak ini?”.

Tapi sekarang rambutnya sudah pirang, dan dengan semua riasan wajah dan perhiasan yang ia kenakan, tidak akan ada yang menyangka ia masih anak-anak. Lagipula, kebanyakan temannya adalah remaja yang melarikan diri, dan tidak ada yang berkhianat di Detroit. Setelah setahun, tanda-tanda samar penyakit mulai muncul, dan ia terkejut melihat betapa cepat bosnya menjadi kejam.

“Jaman sekarang kita tidak bisa main-main,” geramnya, dan tiba-tiba saja, ia sudah berada di jalanan tanpa uang di kantungnya. Ia masih melakukan "pekerjaannya" beberapa kali semalam, tapi bayaran mereka kecil, dan semua uang itu habis untuk membiayai kecanduannya. Ketika musim dingin tiba, ia menemukan dirinya tidur di pagar logam di depan pusat pertokoan. "Tidur" adalah kata yang salah, gadis remaja ditengah kota Detroit malam hari tidak pernah bisa mengendorkan kewaspadaannya. Lingkar hitam mengelilingi matanya. Batuknya bertambah parah.

Suatu malam ia berbaring tanpa bisa tidur, sambil mendengarkan langkah kaki, tiba-tiaba seluruh kehidupannya tampak berbeda. Ia tidak lagi merasa menjadi wanita hebat. Ia merasa seperti anak kecil, tersesat di kota yang dingin dan menakutkan. Ia mulai menggigil. Kantungnya kosong dan ia lapar. Ia juga perlu obat terlarang. Ia melipat kakinya, dan gemetar di bawah lembaran surat kabar yang ditumpuk di atas mantelnya.

Sesuatu muncul begitu saja di pikirannya, dan satu gambaran terbayang di matanya: bulan Mei di Traverse City, ketika jutaan pohon ceri berbuah bersamaan, ia berlarian bersama anjing golden retriever miliknya. Mengejar bola tenis di antara barisan pohon berbunga. Tuhan, mengapa aku pergi, katanya dalam hati, dan rasa perih menghunjam jantungnya. Anjingku saja di rumah makan lebih enak daripada aku sekarang. Ia menangis, dan dalam sekejap ia tahu tidak ada yag lebih ia inginkan di dunia kecuali pulang. Tiga sambungan telepon, tiga kali dijawab mesin panjawab. Ia menutup telepon tanpa meninggalkan pesan dua kali pertama, tapi ketiga kalinya ia berkata, “Ayah, Ibu, ini aku. Aku berpikir mungkin aku akan pulang. Aku akan naik bis ke sana, dan aku akan sampai sekitar tengah malam besok. Kalau Ayah dan Ibu tidak datang, yah, mungkin aku akan terus naik bis sampai ke Kanada”.

Dibutuhkan waktu sekitar tujuh jam dengan bis dari Detroit ke Traverse City, dan sepanjang jalan ia menyadari cacat-cacat dalam rencananya. Bagaimana kalau orangtuanya sedang keluar kota dan melewatkan pesan itu? Bukankah seharusnya ia menunggu satu dua hari sampai bisa berbicara langsung dengan mereka? Dan kalaupun mereka ada di rumah, mungkin mereka sudah lama menganggapnya mati. Seharusnya ia memberi waktu agar mereka bisa mengatasi rasa kagetnya. Pikirannya bolak-balik antara rasa khawatir dan kata-kata yang disusun untuk menyapa ayahnya.

“Ayah, aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Bukan salah Ayah, semuanya salahku. Ayah, bisakah Ayah memaafkan aku?”

Ia mengucapkan pikiran itu berulang-ulang dalam hati, kerongkongannya tercekat bahkan ketika melatihnya. Sudah bertahun-tahun ia tidak minta maaf pada siapapun. Bis melaju dengan lampu menyala sejak Bay City. Butiran kecil salju yang berjatuhan di trotoar terlindas ribuan ban, dan aspal beruap. Ia lupa segelap apa malam hari disini. Seekor rusa berlari menyeberang jalan dan bis menghindarinya. Sesekali, ada billboard. Tanda yang menunjukkan jaraknya ke Traverse City. Ya, Tuhan. Ketika bis akhirnya berbelok ke stasiun, rem udaranya mendesis memprotes, pengemudi mengumumkan dengan suara serak lewat mikrofon.

“Lima belas menit, saudara-saudara. Kita hanya berhenti selama itu di sini.”

Lima belas menit untuk memutuskan hidupnya. Ia memeriksa dirinya di cermin lipat, merapikan rambutnya, dan menjilat lipstik dari giginya. Ia melihat noda tembakau di ujung-ujung jarinya dan berpikir apakah orangtuanya akan melihatnya. Kalau mereka datang. Ia berjalan ke dalam terminal. Tidak tahu harus mengharapkan apa. Tidak satu pun dari adegan yang ia siapakan di pikirannya  bisa mempersiapkannya untuk apa yang dilihatnya. Di sana, di atas kursi-kursi plastik terminal bis Traverse City, Michigan, berdiri sekitar empat puluh saudara, paman, bibi, sepupu, nenek, nenek buyut. Mereka semua memakai topi kertas pesta dan gulungan kertas yang bisa ditiup, dan di dinding terminal ditempel spanduk yang dibuat dengan komputer bertuliskan, “Selamat pulang kembali!”

Di tengah kerumunan penyambut, muncul ayahnya. Ia memandang dengan mata perih dengan air mata sepanas air raksa, dan memulai sapaan yang sudah dihafalkan, “Yah, aku minta maaf. Aku tahu....”

Ayahnya memotong. “Sst, Nak. Kita tidak punya waktu untuk itu. Tidak punya waktu untuk permintaan maaf. Kau akan terlambat ke pesta. Sebuah jamuan menunggumu di rumah.”

04 October 2009

Humor : Adu Teknologi

Para ahli sejarah meneliti kemajuan teknologi di masa lalu. Objeknya, tiga negara besar yakni, Inggris, Amerika, dan Indonesia.

Di Inggris, pada kedalaman 200 meter ditemukan tembaga. Para ahli berpendapat di Inggris 200 tahun lalu sudah menggunakan kawat tembaga untuk berkomunikasi. (Wuih hebat.., red)

Di Amerika, ditemukan kaca pada kedalaman 300 meter. Lantas, para ahli-pun mengambil kesimpulan.

"Berarti 300 tahun lalu, di Negeri Paman Sam sudah menggunakan fiber optic (serat kaca) untuk berkomunikasi," ujar salah satu peneliti, sambil manggut-manggut.

Nah, sekarang giliran Indonesia. Setelah lelah menggali, para ahli tidak menemukan apapun untuk diteliti.

Para peneliti terus menggali hingga kedalaman 1.000 meter. Hasilnya, tetap nihil. Akhirnya, para ahli menarik kesimpulan. 

Ternyata, Indonesia waktu itu lebih canggih dibandingkan negara manapun. Karena 1.000 tahun yang lalu, Indonesia sudah menggunakan teknologi Wireless. (Iyalah, dari zaman dulu keris sudah bisa diterbangkan dari jarak jauh, red)

03 October 2009

Kopi Luwak

Kopi luwak merupakan biji kopi matang pohon yang dimakan oleh binatang luwak (Viverridae) dan dikeluarkan bersamaan dengan kotoran binatang tersebut. Jadi, di dalam pencernaan luwak, biji kopi tetap utuh tidak tercerna karena keras, tetapi mengalami proses pencampuran dan fermentasi dengan makanan luwak lainnya.

Sebagai pemakan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan bunga-bungaan, luwak merupakan binatang yang pandai memilih makanan yang baik untuknya. Maka, proses fermentasi di dalam pencernaan luwak itulah yang membuat rasa kopi ini berbeda. Aromanya lebih harum serta ada rasa pahit dan getir asam yang lebih khas dan spesial.   

Daripada sulit membayangkan, ok kita simak saja prosesnya melalui gambar-gambar ini ya. 

Pertama, para petani mulai memetik buah kopi yang sudah matang di pohon, yang berwarna merah. 

O ya gambar-gambar ini diambil di perkebunan kopi Bondowoso, Jawa Timur.


Kedua, setelah buah kopi terkumpul, dip ilah lagi yang bagus-bagus saja, soalnya hanya buah kopi matang (warna merah)  yang akan disantap musang sebagai makanannya.


Ketiga, luwak atau bagaimana Anda menyebutnya? Civet? Musang? A small squirrel-like arboreal mammal, hehehe, dipersilakan memakan buah kopi terbaik yang sudah dipilih oleh para petani tadi. O ya tubuh luwak hanya akan mencerna daging buahnya saja, sementara bijinya nanti akan tetap utuh saat dikeluarkan kembali dalam bentuk feces, hiks.


Dan keempat .... in ilah bentuk feces luwak yang terkenal itu, seperti sudah disebut di atas, bijinya tetap utuh kan ? Secara fisik, biji kopi luwak dan kopi lain bisa dibedakan dari warna dan aromanya. Biji kopi luwak berwarna kekuningan dan wangi, sedangkan biji kopi biasa berwarna hijau dan kurang harum.


Kelima, selanjutnya biji kopi yang tercampur dalam feces, dipisahkan, dikumpulkan, dibersihkan, kemu dian dijemur, dan .... jad ilah biji kopi luwak yang terkenal mahal itu. Bisa dipastikan, ini adalah biji kopi terbaik, sebab hanya buah kopi matang yang dipilih musang sebagai makanannya. Kopi Blue Mountain - Jamaika atau kopi Arabica Supremo - Kolombia? Hahah, lewat! :)

Kopi luwak mantap diminum tanpa gula, rasa getir dan aroma kopi pun sangat terasa, begitu nikmatnya sampai jika kita minum minuman lain setelahnya, entah itu air putih, teh, coklat, atau minuman lainnya, bahkan sudah dipakai ciuman satu jam pun, rasa nikmat kopi luwak masih terasa manis di mulut. Lho? Hahaha.

ada yang udah nyoba??

Weekly Scripture - Yohanes 14:6-7

Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." - Yohanes 14:6-7

Humor : Gagap Teknologi

Suatu hari, terdapat seorang pelajar SMA di Bojonegoro bernama Cuplis datang ke warnet. Dia disuruh oleh gurunya membuka website Depdiknas Surabaya.

Sesampainya di warnet, Cuplis langsung duduk di depan salah satu komputer dengan rasa ingin tahunya yang tinggi.

Tak lama kemudian, setelah bosan melihat monitor dengan screensaver logo Windows yang besar bolak balik, dia memanggil operator yang tengah sibuk membantu pelanggan lain.

"Mbak, saya minta tolong dibukakan website Depdiknas Surabaya," tutur Cuplis.

"Alamatnya di mana, mas?" tanya si operator.

Si Cuplis tidak tahu. Lantas kembali ke sekolah untuk menanyakan ke gurunya.

Tak lama kemudian dia balik ke warnet lagi.

"Sudah tahu alamatnya, mas?" tanya si operator.

"Sudah, mbak!" jawab Cuplis dengan semangat.

"Di mana?"

"Di Jl. Gentengkali Raya, Surabaya, mbak."

02 October 2009

Surat Seorang Prajurit

Seorang prajurit muda tergeletak tak berdaya di barak perawatan darurat, di antara puluhan pasien yang terluka dalam perang saudara Amerika Utara dan Selatan. Pria muda itu merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Dalam ketakutannya, ia merindukan ibu, istri, serta anaknya.

“Adakah sesuatu yang dapat kulakukan untuk meringankan penderitaanmu, Nak?” Tiba-tiba prajurit itu mendengar sapaan lembut seorang pria tengah baya. Namun, lukanya yang parah membuat ia tak mampu memastikan siapa pria baik hati itu.

“Sudikah Bapak menuliskan sebuah surat untuk ibuku?” tanya si prajurit kepada pria yang mendekatinya. Pria itu pun segera mengambil kertas dan pena untuk menuliskan surat bagi si prajurit. Terbata-bata si prajurit mendiktekan suratnya, “Ibu tersayang, anakmu terluka parah dalam perang. Mungkin tidak akan pernah sembuh. Jika aku pergi, janganlah terlalu merasa kehilangan. Peluk ciumku untuk Mary dan si kecil, John.”

Si prajurit terkulai dan tidak sanggup meneruskan suratnya. Maka pria yang menuliskan surat untuknya itu segera menandatangani surat pendek itu dan menambahkan, “Ditulis oleh Abraham Lincoln untuk anak Anda,” kemudian untuk terakhir kalinya, ia menunjukkan surat itu kepada si prajurit. Si prajurit terkejut menyadari bahwa pria baik hati itu tidak lain adalah Presiden Abraham Lincoln. Lantas sekali lagi ia mengimbau, “Tuan Presiden, sudikah Tuan menggenggam tanganku?” Dan, Presiden Lincoln pun menggenggam tangan prajurit muda itu sampai ia menutup matanya.

Lincoln tidak sempat menanyakan nama si prajurit. Secara pribadi ia tidak mengenal pria muda itu, tapi ia menaruh peduli pada penderitaannya. Genggaman tangan Lincoln adalah kepedulian yang tak ternilai bagi si prajurit, yang menemaninya melewati derita dan ketakutan menghadapi kematian. Sebenarnya yang dilakukan Lincoln tidaklah terlalu banyak. Namun, bahkan untuk yang sedikit itu pun, sering kali tidak mudah bagi kita.

01 October 2009

Hukum Truk Sampah!

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba  sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.

Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan mulai menjerit ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum dan melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, “Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!”

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".

Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka : Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya. Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.

30 September 2009

Alpukat Dan Benalu

Suatu hari, sebatang pohon alpukat sedang menikmati sejuknya udara sore. Tiba-tiba keasyikannya terusik oleh sapaan dari sebutir biji benalu yang sedang diterbangkan angin kian kemari.

"Selamat sore alpukat", sapa benalu.

"Oh, kamu benalu, selamat sore juga", balas alpukat.

"Wah Kat, sekarang kamu sudah besar, ranting-rantingmu banyak, daunmu lebat, buahmu besar-besar" , puji benalu.

"Iya Lu, itu karena akar-akar saya banyak dan rajin menghisap sari-sari makanan dari dalam tanah", kata alpukat dengan bangga.

Kemudian benalu melanjutkan, "Hampir sepanjang hari saya diterbangkan angin, rasanya badan saya capek sekali, boleh tidak saya beristirahat di salah satu rantingmu, satu malam saja?".

Tanpa berpikir panjang, alpukat langsung mengabulkan permohonan benalu, “Jangankan 1 benalu, 50 benalupun saya masih tidak terasa,” pikir alpukat, karena benalu itu sangat kecil dibandingkan dengan pohonnya.

Maka sejak itu benalu tinggal di pohon alpukat. Tanpa disadari oleh alpukat, benalu makin hari semakin besar dan beranak banyak. Suatu hari alpukat melihat tubuhnya sudah kurus kering, saat itulah alpukat sadar bahwa benalu sudah merugikan dirinya. Lalu alpukat memutuskan untuk menyuruh benalu meninggalkan tubuhnya.

“Kat, semua akar-akar saya sudah tertancap dalam tubuhmu jadi jangan pernah bermimpi kalau saya akan memenuhi permintaanmu,” kata benalu sambil tertawa.

Semakin hari alpukat makin kurus dan akhirnya mati karena benalu terus menghisap makanan dari tubuh alpukat tanpa belas kasihan.

Banyak orang yang bertindak seperti alpukat, ketika dosa-dosa kecil datang menggoda dan hadir dengan segala daya tariknya, mereka tidak langsung menolaknya, mereka pikir, “Ah itu hanya dosa kecil saja, tidak akan memengaruhi keimanan saya. Saya akan tetap rajin berdoa”.

Terbukti bahwa setiap orang yang meremehkan dosa, yang kecil sekalipun, akan terjerat oleh dosa yang lebih besar lagi. Satu hal yang harus kita ingat, kalau hari ini kita melakukan satu dosa kecil, dosa kecil tersebut makin lama akan menjadi besar dan melahirkan dosa-dosa lain karena salah satu sifat dosa adalah melahirkan dosa.

Jauhilah nafsu orang muda. Jangan merasa diri kuat iman sehingga anda bebas bermain-main dengan dosa. Setiap perbuatan dosa, harus kita jauhi dan hindari.