Ada 3 hal yg kita bisa belajar tentang pohon :
1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri
Buah adalah hasil dari pohon, dari mana pohon memperoleh makan? Pohon memperoleh makan dari tanah, semakin akarnya dalam semakin dia bisa menyerap nutrisi lebih banyak. Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan Sang Pencipta sebagai Sumber Kehidupan kita.
Ada cerita menarik, katanya buah kurma itu manis sekali. Kenapa bisa begitu? Menurut ceritanya pohon kurma itu ditanam di padang pasir. Bijinya ditaruh di kedalaman 2 meter kemudian ditutup dengan 4 lapisan. Sebelum pohon kurma itu tumbuh maka dia berakar begitu dalam sampai kemudian menembus 4 lapisan tersebut dan menghasilkan buah yang manis di tengah padang pasir. Ada proses tekanan begitu hebat ketika kita menginginkan hasil yg luar biasa. Seperti perumpamaan pegas yang memiliki daya dorong kuat ketika ditekan.
2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang
Kadang kita protes kenapa kerja keras kita yg menikmati justru orang lain. Ini bicara tentang prinsip memberi, di mana kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja utk memberi buah, artinya apa? Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yg membutuhkan, jadi bukan untuk kenikmatan sendiri, cukupkanlah dirimu dengan apa yg ada padamu, tapi tidak pernah ada kata cukup untuk memberkati orang lain dengan pemberian kita.
Pelajaran dari Warren Buffet seperti email yg sering anda terima tentang kehidupan dia, beliau adalah orang terkaya di dunia, tapi kehidupannya mencerminkan kesederhanaan, katanya masih hidup di rumah yang sama yang dia tinggalin puluhan tahun lalu, pakai mobilnya yang lama juga, tapi ketika kekayaannya 35 Miliar USD dia berkomitmen untuk menyumbang 31 Miliar USD, itu katanya pas jaman pemerintahan Bill Clinton awal. Sekarang kekayaannya justru bertambah-tambah banyak.
Berapa banyak dari kita yang sulit untuk menahan nafsu terhadap barang-barang bermerek, mobil-mobil mewah, gonta ganti HP.
3. Buah yg dihasilkan pohon itu menghasilkan biji, dan biji itu menghasilkan multiplikasi
Ini bicara tentang bagaimana hidup kita memberi impact terhadap orang lain. Katanya pemimpin itu bukan masalah posisi/jabatan, tapi masalah pengaruh dan inspirasi yang diberikan kepada orang lain.
Claudio Ranieri, pelatih Juventus berkata bahwa Del Piero itu adalah pemimpin, walau ban kaptennya dicopot sekalipun dia tetap pemimpin, ngerti kan? Bukan Mengenai ban kaptennya, itu hanya pengakuan saja.
Bicara tentang impact, pendiri Astra bercita-cita menjadikan perusahaan ini sebagai sebuah pohon besar yang rindang dan menjadi tempat berteduh buat banyak orang dan hal itu mulai tercapai hari-hari ini dengan jumlah karyawan 120.000 artinya memberi penghidupan kepada sekitar 600.000 jiwa. Perusahaan ini dibangun bukan karena keserakahan memperkaya diri sendiri, tapi karena cita-cita utk "Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara" (Catur Dharma ke-1)
Demikianlah yang diceritakan orang bijak itu tentang filosofi pohon ...
Hari ini ulang tahun pernikahan papa dan mama. Sejak sore mereka pergi dan akan makan malam di luar. Aku ingin membuat kue tart dari resep yang kudapat di sebuah majalah. Setelah dua belas tahun, inilah pertama kalinya aku belajar membuat kue.
Aku akan mencoba membuat kue terbaik untuk kupersembahkan kepada papa dan mama di hari istimewa ini. Aku sudah membeli semua bahan yang diperlukan dan begitu mobil yang dikendarai apa dan mama keluar dari pagar rumah, aku segera berlari ke dapur untuk membuat kue.
Aku sangat sibuk dengan kueku sehingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari sudah malam dan mungkin sebentar lagi papa dan mama akan pulang. Aku mengangkat kueku dari oven. Aku mencicipinya dan lapisan luarnya terasa agak pahit karena gosong.
Aku menarik nafas sambil memandang dapur yang berantakan. Blender dan mixer yang kotor, ada tepung yang bertaburan di lantai dan meja, ditambah lagi dengna mangkok-mangkok kotor yang belum sempat kubereskan, dan sebagainya.
Mana yang lebih dahulu harus kukerjakan, apakah menyelesaikan lapisan coklat di kueku atau membereskan dapur yang berantakan. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan kueku. Ketika kueku selesai, aku mendengar suara mobil memasuki halaman rumah.
Aku segera mematikan lampu dan berharap ketika papa dan mama masuk ke dapur akan senang dengan kejutanku. Benar saja, papa dan mama berjalan berdampingan menuju dapur dan ketika mereka sampai di pintu, aku menyalakan lampu sambil berteriak, “SURPRISE …!”
Mereka tersenyum dan aku memeluk mereka sambil mengucapkan selamat atas pernikahan indah mereka. Namun beberapa saat kemudian raut wajah mama berubah dan mama menjadi marah. “Coba lihat, apa yang sudah kau perbuat di dapur ini sehingga sangat berantakan. Sudah berapa kali mama katakan kepadamu untuk segera merapihkan sendiri segala sesuatu yang sudah kau buat menjadi kacau”
“Tetapi Ma …”
Belum sempat aku menjelaskan semuanya, mama sudah berpaling berjalan menuju kamarnya sambil berkata, “Seharusnya mama mengawasimu merapikan semua ini sekarang juga, tetapi sekarang mama sedang kesal. Besok pagi mama mau semuanya sudah rapih.”
“Sayang, coba lihat ke meja itu,” kata papa mencoba meredakan amarah mama.
“Aku tahu bahwa meja itu juga sangat berantakan dan aku juga tidak akan tahan melihatnya,” kata mama sambil berjalan.
Aku dan papa hanya terdiam. Aku menangis dan memeluk papa sambil berkata, “Pa, bahkan mama tidak melirik sedikit pun ke kue itu.”
Papa membelai rambutku sambil berkata, “Sayang, banyak orang tua menderita penyakit situational timberculer glaucoba - ketidakmampuan melihat gambaran secara menyeluruh karena terpengaruh oleh hal-hal kecil, dan itu yang terjadi kepada mama. Besok setelah mama tahu kau membuat kue untuknya, hatinya pasti akan terharu.”
Kita seringkali gagal melihat motivasi baik yang terbungkus oleh suatu keadaan yang buruk. Situational timberculer glaucoba membutakan kita sehingga kita tidak bisa melihat bentuk cinta kasih atau penghargaan yang dipersiapkan oleh orang-orang yang kita kasihi. Ada seorang ibu yang mencubit anaknya hingga memar karena anaknya memecahkan dua buah piring yang akan dicucinya. Manakah yang lebih berharga, terbentuknya kerajinan anak atau harga dua buah piring yang pecah itu ?
Jangan lukai perasaan orang yang kita kasihi karena hal-hal yang kecil, telusuri motivasi awal mereka ketika melakukan suatu hal kemudian bimbing mereka untuk melakukannya dengan cara yang lebih baik.
Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.
Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan.
Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.
"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya.
"Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia".
"Kau tidak perlu meyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman.
"Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."
Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yang dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke. Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri.
"Pelatih", panggilnya.
"Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon?"
Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih ekstra keras dalam beberapa hari ini.
"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.
"Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."
Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.
"Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke.
"Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"
Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesenggukan ia berkata, "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik akibat kecelakaan itu. Minggu lalu... Ibuku meninggal."
Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata, "Hari ini... hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka".
Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak. Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke. Ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orangtuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.
Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN : Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibu kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ayah dan ibu, dengan mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi dan hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur untuk membuat mereka bangga dengan kita. Bukannya melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji yang membuat mereka malu.Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda?
Sumber: Gifts From The Heart for Women - Karen Kingsbury
Suatu siang di RSJ terkenal, terjadi percakapan antara dokter dan dua pasiennya (Alex & Joni).
Dokter : “Alex, kamu harus minum obat kamu supaya cepat sembuh.”
Alex : “Nggak mau, saya kan dewa. Saya nggak bisa mati.”
Dokter : “Siapa bilang kamu dewa, kamu ngelindur lagi, ya.”
Alex : “Tuhan sendiri yg bilang pada saya tadi malam.”
Joni : “Bohong, Dok, dia ngimpi. Saya nggak pernah bilang seperti itu ke dia.”
Si kecil Timmy sudah tidak sabar ingin segera pulang dari ganti baju dan terus memikirkan anjing peliharaannya sambil makan siang. Saat dia selesai mencuci piring, ia langsung main dengan anjingnya.
Tak lama, ibunya mendengar Timmy berteriak, “Amin! Amin! Amin!”
Ibunya segera melihat apa yang ia lakukan. Kemudian si ibu melihat Timmy sedang mengacungkan tangan pada anjingnya sambil berteriak, “Amin!”
“Apa yang kamu lakukan?,” tanya ibunya.
“Mengajarnya untuk duduk,” jawab Timmy.
“Lalu mengapa kamu malah bilang ‘amin’, bukankah harusnya kamu bilang ‘duduk’?”
“Ya,” jawab Timmy, “tapi kata ‘amin’ selalu manjur saat digunakan pendeta, saat dia berkata ‘amin’, semua jemaat langsung duduk.”
Triangulation berarti “menyampaikan keluhan atas seseorang kepada pihak ketiga, bukan kepada yang bersangkutan”. Mengacu pada pengertian ini, mungkni kita semua pernah terlibat di dalamnya. Atau, mungkin kita sedang dalam suatu triangulation yang belum tuntas. Entah sebagai pihak pertama, pihak kedua, pihak ketiga, atau perpaduan ketiganya.
Triangulation biasanya terjadi karena seseorang khawatir menyampaikan keluhan secara langsung kepada yang bersangkutan. Takut menerima reaksi yang tidak menyenangkan. Atau, terlalu pesimis orang itu tidak akan mendengarkan. Atau, ini sudah merupakan “hobi”. Padahal triangulation dapat memicu beredarnya gosip dan rumor. Juga dapat menimbulkan konflik, bahkan kekacauan yang tak terkendali.
Untuk membedakan tiga pihak yang terlibat dalam triangulation, masing-masing akan kita sebut P1 (sasaran keluhan), P2 (yang mengeluhkan P1), dan P3 (perantara P1 dan P2). Berikut ada empat saran praktis. (Uraian singkat tentang topik ini lihat The Lutheran Handbook for Pastor, 2006).
1. Menghindari Triangulation
Sedapat-dapatnya, kita menghindari triangulation dalam komunitas kerja, jemaat, dan keluarga. Jika bermasalah dengan seseorang (P1), kita sebaiknya berbicara langsung kepada yang bersangkutan. Mari pertimbangkan beberapa hal ini:
Dalam berjemaat, kita bisa berjumpa orang-orang sulit, troublemaker, pengadu domba, dan sebagainya, yang menghalangi terciptanya kesatuan dan kedamaian jemaat. Firman Tuhan dalam Matius 18:15-17 kiranya menjadi pedoman kita :
Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Ayat-ayat ini dapat diterapkan apa adanya, tanpa tafsiran atau penjabaran panjang lebar. Tentu dengan kasih persaudaraan seperti yang sangat ditekankan dalam pengajaran Tuhan Yesus.
2. Menghadapi Triangulation Dengan Kasih
Jika seorang P3 menjumpai kita dan berkata, “Banyak orang mengeluhkan sikap dan perbuatan Anda” atau “Seseorang meminta saya menyampaikan keluhannya tentang Anda”, kita hendaknya mendengarkan sepenuh hati dan menerima informasi selengkap dan sejelas mungkin. Kemudian kita bisa menanyakan nama-nama (P2) yang dimaksud. Sekiranya orang itu tidak mau memberi tahu, kita tak perlu bereaksi berlebihan atau berusaha mempertahankan diri sambil menyerang. Kita cukup merenungkan dan memperbaiki diri jika benar, atau melupakannya jika itu tidak benar. Ungkapkan penghargaan kita kepada P3 atas niat baik dan kepeduliannya.
Jika P3 memberitahukan nama orang yang melakukan triangulation terhadap kita, sebaiknya kita menemui P2. Tanyakan mengapa ia segan atau takut berbicara kepada kita. Dan yang terpenting, kita memasuki inti masalah dengan kasih persaudaraan. Jika keluhannya benar, kita perlu mengekspersikan rasa terima kasih karena ia menolong memperbaiki kelemahan kita. Namun, jika yang dikeluhkannya tidak benar, kita dapat memberi penjelasan secukupnya tanpa menyerang tau menjadi berang.
Penolakan seseorang pada keluhan orang lain yang mengandung kebenaran, biasanya karena orang itu terlalu memusatkan diri pada “harga diri” yang keliru, harga diri polesan dan hasil manipulasi. Padahal saat seseorang mengakui kelemhannya dan berkomitmen memulai sesuatu lebih baik, justru di situlah tampak “harga diri” yang sesungguhnya yang menerima kelemahan, tetapi mau serta mampu mengubah diri.
3. Memikul Tanggung Jawab
Jika P2 datang kepada kita dan meminta kita menjadi P3 dalam triangulation, kita dapat mendorongnya berbicara langsung kepada yang bersangkutan (P1). Jika ia tetap tidak mau atau belum mampu menyampaikan langsung dengan alasan yang masuk akal, padahal yang dikeluhkannya benar dan sangat perlu diketahui P1, kita dapat menyampaikannya. Bukan karena ada orang yang menyampaikannya kepada kita, tetapi karena kita sadar masalah itu perlu disampaikan.
Sebelum menyampaikannya ke P1, kita mesti “menyampaikannya” kepada Tuhan melalui doa. Meminta hikmat Tuhan agar “misi” kita mencapai tujuan. Dengan demikian, itu memurnikan motivasi kasih kita demi kebaikan. Jika seseorang tahu dan merasakan bahwa kita mengasihinya, ia akan menerima apa yang kita sampaikan. Meski pahit, ia akan menelannya sebagai obat dan pemulih hubungan dengan orang lain.
Yang perlu dihindari adalah godaan melakukan triangulation baru. P2 yang datang kepada kita, malah kita jadikan P1. Misalnya dengan mengatakan, “Ada yang menyampaikan keluhan tentang Anda, tetapi tidak berani mengatakannya. Jelas ia tidak berani, karena ia punya lebih banyak kelemahan dari Anda. Dialah yang perlu berkaca diri.”
4. Triangulation yang Dibenarkan
Barangkali triangulation yang dibenarkan berkaitan dengan kehidupan berbangsa atau berorganisasi berskala besar, dimana masyarakat atau anggota suatu organisasi tidak memiliki akses langsung kepada para pemimpin selain melalui jalur perwakilan, melalui media massa atau tulisan. Disini kita tak dapat mengulasnya secara tuntas. Namun, perlu ditekankan bahwa dalam triangulation yang satu ini hendaknya semua pihak berfokus pada penyelesaian masalah, bukannya malah memperkeruh suasana. Itu bisa terjadi jika semua pihak mau mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi semua dan dalam koridor kebenaran. Di dunia ini tidak ada “sistem” yang sempurna, tetapi selalu ada kesempatan untuk melakukan peningkatan atau perbaikan.
Oleh : Victor Tinambunan
Sumber : Renungan Harian Edisi Agustus 2009
I Tesalonika 5:18 : “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 79; Ibrani 13; Yeremia 11-12
Sewaktu kecil, orang tua kita selalu mengajar untuk mengucapkan terima kasih apabila diberikan sesuatu oleh seseorang, entah itu berupa barang maupun uang. Bila kita tidak melakukannya, biasanya ayah atau ibu kita akan mengingatkan kita agar mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah memberikan sesuatu kepada kita. Tanpa sadar, hal yang diajarkan itu terus teringat oleh kita sampai sekarang.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengucap terima kasih kepada Tuhan. Hal yang sebenarnya mungkin sering kali kita dengar di saat Ibadah gereja, persekutuan doa, atau pun dari orang tua kita sendiri. Tetapi, tahukah Anda bahwa ucapan syukur yang Anda naikkan kepada Allah adalah kerinduan dari hati-Nya sendiri?
Anda jangan salah sangka mengira pertanyaan diatas dan langsung berpikir bahwa Allah gila pujian atau kehormatan. Bukan, bukan itu yang Dia inginkan. Anda harus tahu bawa tanpa manusia pun, nama-Nya sudah ditinggikan dan dimuliakan oleh para malaikat di Surga dan seluruh alam semesta. Jadi, kalau begitu untuk apa yang manusia harus mengucap syukur kepada Allah? Jawabannya adalah karena Dia ingin berhubungan dengan makhuk ciptaan spesial-Nya ini.
Allah tahu ketika manusia tidak diajar untuk bersyukur maka ia akan menjadi orang yang tinggi hati. Ketika seseorang sudah menjadi sombong, maka dipastikan orang tersebut tidak dapat mengucap syukur. Akibatnya, hubungan ia dan Allah pun akan semakin menjauh.
Tidak ada dalam pikiran Allah untuk menjauh dari anak-anakNya. Ia selalu ingin dekat dan berbicara setiap waktu. Hanya saja hal itu dapat terjadi bila anak-anakNya memiliki hati yang mengucap syukur. Ucapan syukur yang Anda naikkan tidak hanya membuat hati Tuhan disenangkan, tetapi hidup Anda pun dipenuhi oleh kasih.
Mulailah selalu mengawali hari-hari Anda dengan mengucap syukur kepada Tuhan. Bahkan tidak hanya itu, ucapkanlah kata terima kasih kepada-Nya saat masalah atau kondisi yang tidak mengenakkan datang dalam hidup Anda. Percayalah ketika Anda melakukannya dengan segenap hati, berkat Tuhan turun dengan luar biasanya.
Terima kasih adalah kata yang sederhana, tetapi kata tersebut adalah kata yang menyukakan hati Tuhan. Sudahkah Anda membuat hati-Nya bersuka hari ini?
Jawaban.com
Shalom…
Selamat pagi semua..
Tinggal sebentar lagi puncak acara CIBFest 2009 yang diadakan oleh Jawaban.com. Dan saya, sebagai admin dari RumahRenungan.com ini berterima kasih telah mendukung blog ini hingga sekarang, hingga masuk dalam posisi 50 besar blog terfavorit di CIBFest.
Dan sekarang blog ini menduduki posisi 23 dalam 25 besar blog terfavorit. Saya berharap blog ini bisa menjadi terfaovrit di acara CIBFest 2009 nanti, tapi saya serahkan kepada Tuhan, jika memang Dia yang berkehendak pasti semuanya terjadi.
Jika kalian ingin kami menjadi blog terfavorit, dukung kami, pilih kamu menjadi blog favorit kalian, klik disini atau klik logo CIBFest 2009.
Saya membuat blog ini bukan semata-mata ingin terkenal atau ingin dipandang, tetapi blog ini merupakan salah satu pelayanan saya kepada Tuhan Yesus yang bisa saya lakukan. Saya hanya ingin membuat semakin banyak orang menjadi mengenal Tuhan…
Terima kasih… Tuhan Yesus Memberkati kita semua…