Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

21 September 2009

Mencintaimu Segenap Jiwa dan Ragaku

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan.

Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.

"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya.

"Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia".

"Kau tidak perlu meyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman.

"Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yang dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke. Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri.

"Pelatih", panggilnya.

"Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon?"

Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih ekstra keras dalam beberapa hari ini.

"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke.

"Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."

Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan.

"Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke.

"Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesenggukan ia berkata, "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik akibat kecelakaan itu. Minggu lalu... Ibuku meninggal."

Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata, "Hari ini... hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka".

Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak. Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke. Ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orangtuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.

Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN : Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibu kita. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk ayah dan ibu, dengan mengisi hari-hari mereka dengan kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi dan hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur untuk membuat mereka bangga dengan kita. Bukannya melakukan perbuatan-perbuatan tak terpuji yang membuat mereka malu.Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda?

Sumber: Gifts From The Heart for Women - Karen Kingsbury

20 September 2009

Humor : Dua Orang Sakit Jiwa

Suatu siang di RSJ terkenal, terjadi percakapan antara dokter dan dua pasiennya (Alex & Joni).

Dokter : “Alex, kamu harus minum obat kamu supaya cepat sembuh.”

Alex : “Nggak mau, saya kan dewa. Saya nggak bisa mati.”

Dokter : “Siapa bilang kamu dewa, kamu ngelindur lagi, ya.”

Alex : “Tuhan sendiri yg bilang pada saya tadi malam.”

Joni : “Bohong, Dok, dia ngimpi. Saya nggak pernah bilang seperti itu ke dia.”

19 September 2009

Humor : Mengajar Anjing Duduk

Si kecil Timmy sudah tidak sabar ingin segera pulang dari ganti baju dan terus memikirkan anjing peliharaannya sambil makan siang. Saat dia selesai mencuci piring, ia langsung main dengan anjingnya.

Tak lama, ibunya mendengar Timmy berteriak, “Amin! Amin! Amin!”

Ibunya segera melihat apa yang ia lakukan. Kemudian si ibu melihat Timmy sedang mengacungkan tangan pada anjingnya sambil berteriak, “Amin!”

“Apa yang kamu lakukan?,” tanya ibunya.

“Mengajarnya untuk duduk,” jawab Timmy.

“Lalu mengapa kamu malah bilang ‘amin’, bukankah harusnya kamu bilang ‘duduk’?”

“Ya,” jawab Timmy, “tapi kata ‘amin’ selalu manjur saat digunakan pendeta, saat dia berkata ‘amin’, semua jemaat langsung duduk.”

18 September 2009

Triangulation

Triangulation berarti “menyampaikan keluhan atas seseorang kepada pihak ketiga, bukan kepada yang bersangkutan”. Mengacu pada pengertian ini, mungkni kita semua pernah terlibat di dalamnya. Atau, mungkin kita sedang dalam suatu triangulation yang belum tuntas. Entah sebagai pihak pertama, pihak kedua, pihak ketiga, atau perpaduan ketiganya.

Triangulation biasanya terjadi karena seseorang khawatir menyampaikan keluhan secara langsung kepada yang bersangkutan. Takut menerima reaksi yang tidak menyenangkan. Atau, terlalu pesimis orang itu tidak akan mendengarkan. Atau, ini sudah merupakan “hobi”. Padahal triangulation dapat memicu beredarnya gosip dan rumor. Juga dapat menimbulkan konflik, bahkan kekacauan yang tak terkendali.

Untuk membedakan tiga pihak yang terlibat dalam triangulation, masing-masing akan kita sebut P1 (sasaran keluhan), P2 (yang mengeluhkan P1), dan P3 (perantara P1 dan P2). Berikut ada empat saran praktis. (Uraian singkat tentang topik ini lihat The Lutheran Handbook for Pastor, 2006).

1. Menghindari Triangulation
Sedapat-dapatnya, kita menghindari triangulation dalam komunitas kerja, jemaat, dan keluarga. Jika bermasalah dengan seseorang (P1), kita sebaiknya berbicara langsung kepada yang bersangkutan. Mari pertimbangkan beberapa hal ini:

  • Dalam hidup sehari-hari, hindari terlalu banyak mengeluh dan mepercakapkan hal-hal sepele secara mendalam. Kita hendaknya membicarakan hal-hal penting dengan serius dan jangan menganggap serius hal-hal sepele.
  • Sebaiknya kita temui P1 dalam kasih persaudaraan. Kasih itu akan memengaruhi kata-kata dan cara kita berkomunikasi. Tak ada yang terlalu sulit bagi orang yang mengasihi.
  • Cari waktu dan situasi yang tepat, seperti saat mood P1 dalam kondisi baik. Orang cenderung menolak kebenaran jika menghadapi situasi kondisi, dan cara yang tidak tepat.
  • Mohon hikmat Tuhan saat menyampaikan permasalahan. Hikmat selalu berisi semangat penyelesaian masalah tanpa menambah atau memperparah masalah.
  • Jika yang kita sampaikan berkaitan dengan kritik, kita hendaknya memilih kata-kata yang lebih konstruktif, bukan ofensif. Misalnya, jika hendak menegur sifatnya yang pemarah atau pemberang, jangan katakan, “Saya sangat membencimu, karena kau terkenal sebagai pemarah uluh.” Sebaliknya, sampaikan harapan yang tulus, “Saya akan sangat menghargai dan berterima kasih jika kau lebih lemah lembut dalam bersikap dan berkata-kata!” Pesannya sama, tetapi yang terakhir lebih meneguhkan dan membawa perubahan tanpa mengorbankan kebenaran dan persahabatan. Kita membenci “sifat pemarahnya”, tetapi mengasihi orangnya.

Dalam berjemaat, kita bisa berjumpa orang-orang sulit, troublemaker, pengadu domba, dan sebagainya, yang menghalangi terciptanya kesatuan dan kedamaian jemaat. Firman Tuhan dalam Matius 18:15-17 kiranya menjadi pedoman kita :

Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Ayat-ayat ini dapat diterapkan apa adanya, tanpa tafsiran atau penjabaran panjang lebar. Tentu dengan kasih persaudaraan seperti yang sangat ditekankan dalam pengajaran Tuhan Yesus.

2. Menghadapi Triangulation Dengan Kasih
Jika seorang P3 menjumpai kita dan berkata, “Banyak orang mengeluhkan sikap dan perbuatan Anda” atau “Seseorang meminta saya menyampaikan keluhannya tentang Anda”, kita hendaknya mendengarkan sepenuh hati dan menerima informasi selengkap dan sejelas mungkin. Kemudian kita bisa menanyakan nama-nama (P2) yang dimaksud. Sekiranya orang itu tidak mau memberi tahu, kita tak perlu bereaksi berlebihan atau berusaha mempertahankan diri sambil menyerang. Kita cukup merenungkan dan memperbaiki diri jika benar, atau melupakannya jika itu tidak benar. Ungkapkan penghargaan kita kepada P3 atas niat baik dan kepeduliannya.

Jika P3 memberitahukan nama orang yang melakukan triangulation terhadap kita, sebaiknya kita menemui P2. Tanyakan mengapa ia segan atau takut berbicara kepada kita. Dan yang terpenting, kita memasuki inti masalah dengan kasih persaudaraan. Jika keluhannya benar, kita perlu mengekspersikan rasa terima kasih karena ia menolong memperbaiki kelemahan kita. Namun, jika yang dikeluhkannya tidak benar, kita dapat memberi penjelasan secukupnya tanpa menyerang tau menjadi berang.

Penolakan seseorang pada keluhan orang lain yang mengandung kebenaran, biasanya karena orang itu terlalu memusatkan diri pada “harga diri” yang keliru, harga diri polesan dan hasil manipulasi. Padahal saat seseorang mengakui kelemhannya dan berkomitmen memulai sesuatu lebih baik, justru di situlah tampak “harga diri” yang sesungguhnya yang menerima kelemahan, tetapi mau serta mampu mengubah diri.

3. Memikul Tanggung Jawab
Jika P2 datang kepada kita dan meminta kita menjadi P3 dalam triangulation, kita dapat mendorongnya berbicara langsung kepada yang bersangkutan (P1). Jika ia tetap tidak mau atau belum mampu menyampaikan langsung dengan alasan yang masuk akal, padahal yang dikeluhkannya benar dan sangat perlu diketahui P1, kita dapat menyampaikannya. Bukan karena ada orang yang menyampaikannya kepada kita, tetapi karena kita sadar masalah itu perlu disampaikan.

Sebelum menyampaikannya ke P1, kita mesti “menyampaikannya” kepada Tuhan melalui doa. Meminta hikmat Tuhan agar “misi” kita mencapai tujuan. Dengan demikian, itu memurnikan motivasi kasih kita demi kebaikan. Jika seseorang tahu dan merasakan bahwa kita mengasihinya, ia akan menerima apa yang kita sampaikan. Meski pahit, ia akan menelannya sebagai obat dan pemulih hubungan dengan orang lain.

Yang perlu dihindari adalah godaan melakukan triangulation baru. P2 yang datang kepada kita, malah kita jadikan P1. Misalnya dengan mengatakan, “Ada yang menyampaikan keluhan tentang Anda, tetapi tidak berani mengatakannya. Jelas ia tidak berani, karena ia punya lebih banyak kelemahan dari Anda. Dialah yang perlu berkaca diri.”

4. Triangulation yang Dibenarkan
Barangkali triangulation yang dibenarkan berkaitan dengan kehidupan berbangsa atau berorganisasi berskala besar, dimana masyarakat atau anggota suatu organisasi tidak memiliki akses langsung kepada para pemimpin selain melalui jalur perwakilan, melalui media massa atau tulisan. Disini kita tak dapat mengulasnya secara tuntas. Namun, perlu ditekankan bahwa dalam triangulation yang satu ini hendaknya semua pihak berfokus pada penyelesaian masalah, bukannya malah memperkeruh suasana. Itu bisa terjadi jika semua pihak mau mewujudkan kehidupan yang lebih baik bagi semua dan dalam koridor kebenaran. Di dunia ini tidak ada “sistem” yang sempurna, tetapi selalu ada kesempatan untuk melakukan peningkatan atau perbaikan.

Oleh : Victor Tinambunan

Sumber : Renungan Harian Edisi Agustus 2009

17 September 2009

Terima Kasih Tuhan

I Tesalonika 5:18 : “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 79; Ibrani 13; Yeremia 11-12

Sewaktu kecil, orang tua kita selalu mengajar untuk mengucapkan terima kasih apabila diberikan sesuatu oleh seseorang, entah itu berupa barang maupun uang. Bila kita tidak melakukannya, biasanya ayah atau ibu kita akan mengingatkan kita agar mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah memberikan sesuatu kepada kita. Tanpa sadar, hal yang diajarkan itu terus teringat oleh kita sampai sekarang.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengucap terima kasih kepada Tuhan. Hal yang sebenarnya mungkin sering kali kita dengar di saat Ibadah gereja, persekutuan doa, atau pun dari orang tua kita sendiri. Tetapi, tahukah Anda bahwa ucapan syukur yang Anda naikkan kepada Allah adalah kerinduan dari hati-Nya sendiri?

Anda jangan salah sangka mengira pertanyaan diatas dan langsung berpikir bahwa Allah gila pujian atau kehormatan. Bukan, bukan itu yang Dia inginkan. Anda harus tahu bawa tanpa manusia pun, nama-Nya sudah ditinggikan dan dimuliakan oleh para malaikat di Surga dan seluruh alam semesta. Jadi, kalau begitu untuk apa yang manusia harus mengucap syukur kepada Allah? Jawabannya adalah karena Dia ingin berhubungan dengan makhuk ciptaan spesial-Nya ini.

Allah tahu ketika manusia tidak diajar untuk bersyukur maka ia akan menjadi orang yang tinggi hati. Ketika seseorang sudah menjadi sombong, maka dipastikan orang tersebut tidak dapat mengucap syukur. Akibatnya, hubungan ia dan Allah pun akan semakin menjauh.

Tidak ada dalam pikiran Allah untuk menjauh dari anak-anakNya. Ia selalu ingin dekat dan berbicara setiap waktu. Hanya saja hal itu dapat terjadi bila anak-anakNya memiliki hati yang mengucap syukur. Ucapan syukur yang Anda naikkan tidak hanya membuat hati Tuhan disenangkan, tetapi hidup Anda pun dipenuhi oleh kasih.

Mulailah selalu mengawali hari-hari Anda dengan mengucap syukur kepada Tuhan. Bahkan tidak hanya itu, ucapkanlah kata terima kasih kepada-Nya saat masalah atau kondisi yang tidak mengenakkan datang dalam hidup Anda. Percayalah ketika Anda melakukannya dengan segenap hati, berkat Tuhan turun dengan luar biasanya.

Terima kasih adalah kata yang sederhana, tetapi kata tersebut adalah kata yang menyukakan hati Tuhan. Sudahkah Anda membuat hati-Nya bersuka hari ini?

Jawaban.com

Lord And Me

16 September 2009

CIBFest 2009

Shalom…

Selamat pagi semua..

Tinggal sebentar lagi puncak acara CIBFest 2009 yang diadakan oleh Jawaban.com. Dan saya, sebagai admin dari RumahRenungan.com ini berterima kasih telah mendukung blog ini hingga sekarang, hingga masuk dalam posisi 50 besar blog terfavorit di CIBFest.

Dan sekarang blog ini menduduki posisi 23 dalam 25 besar blog terfavorit. Saya berharap blog ini bisa menjadi terfaovrit di acara CIBFest 2009 nanti, tapi saya serahkan kepada Tuhan, jika memang Dia yang berkehendak pasti semuanya terjadi.

Jika kalian ingin kami menjadi blog terfavorit, dukung kami, pilih kamu menjadi blog favorit kalian, klik disini atau klik logo CIBFest 2009.

Saya membuat blog ini bukan semata-mata ingin terkenal atau ingin dipandang, tetapi blog ini merupakan salah satu pelayanan saya kepada Tuhan Yesus yang bisa saya lakukan. Saya hanya ingin membuat semakin banyak orang menjadi mengenal Tuhan…

Terima kasih… Tuhan Yesus Memberkati kita semua…

Kaca Cermin

II Korintus 3:18 "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 78; Ibrani 12; Yeremia 5-6

Beberapa tahun yang lalu, Walter A. Maier, seorang pengkhotbah radio yang terkenal, bercerita tentang seorang kepala suku di pedalaman Afrika yang diberi sebuah kaca cermin oleh salah seorang tamunya. Kemudian kepala suku itu menatap kaca mata itu dengan rasa ingin tahu yang amat dalam, setelah itu ia lalu berkomentar tentang betapa jeleknya orang yang ia lihat dalam kaca cermin itu.

Sang tamu kemudian menjelaskan bahwa orang jelek yang dilihat dalam kaca cermin itu tak lain adalah kepala suku itu sendiri. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun menjadi sangat marah dan melemparkan kaca cermin tersebut pada sebuah batu, sehingga pecah berkeping-keping.

Yakobus menggambarkan Firman Allah sebagai kaca cermin tempat kita melihat diri sendiri (1:23-24). Cermin itu menunjukkan bahwa meskipun kita telah diciptakan untuk merefleksikan karakter Allah dalam kehidupan kita, namun kondisi kita yang telah jatuh dalam dosa ini justru mencerminkan bahwa kita buruk secara rohani dan tercemar oleh dosa.

Akan tetapi bila kita beriman di dalam Yesus Kristus, kita akan dilahirkan kembali secara rohani (Yohanes 3:3-8). Kemudian saat kita mencermati Firman Allah, kita melihat diri kita sama seperti Allah melihat kita, keburukan kita telah diubah menjadi kecantikan yang serupa dengan Kristus. Dan mulai saat itu kita bertumbuh dalam keserupaan dengan-Nya.

Apa yang Anda lihat saat memandang ke cermin Kitab Suci? Apakah Anda ragu membacanya karena itu menunjukkan keburukan dari ketidakpercayaan Anda? Ataukah, apakah Anda membacanya dengan ucapan syukur, melihat diri Anda seperti Allah dan Bapa di surga melihat Anda sebagai anak-Nya yang lahir baru secara rohani, dan semakin serupa dengan anak-Nya yang terkasih? (II Korintus 3:18). Ketahuilah akan hal ini, ketika Anda memiliki Yesus Kristus dalam kehidupan Anda maka Dia yang ada di dalam diri Anda akan mengubahkan kehidupan Anda.

Firman Allah adalah satu-satunya cermin yang dapat mengubah penampilan Anda.

Jawaban.com

Titipan Tuhan

07parented Di Indonesia, kita memperingati tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak. Kita tidak hanya dingatkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesehatan, pendidikan, serta perlakuan yang layak (hak asasi anak). Sebagai orang percaya, hendaknya kita menyadari bahwa anak-anak kita hanya titipan Tuhan. Anak bukan milik orangtua, melainkan milik Tuhan. Tugas kita sebagai orangtua adalah merawat dan mendampingi anak tersebut bertumbuh sesuai dengan rencana-Nya, bukan rencana kita sebagai manusia.

Kita tidak bisa memilih talenta dan karunia yang Tuhan taruh dalam diri anak kita. Meski demikian, kita bisa mebantu anak untuk mengembangkan berbagai kemampuan dan keterampilan di dalam hidupnya. Kita juga tidak bisa menentukan panggilan hidup seperti apa yang akan dimiliki oleh anak kita, sebab itu adalah urusan Tuhan secara pribadi dengan anak yang bersangkutan. Namun, sebagai orangtua, kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kita untuk hidup taat di dalam jalan Tuhan.

Sayangnya, di tengah pergumulan kehidupan dan kebingungan kita menghadapi masa depan, terutama saat kita berupaya menyediakan yang terbaik bagi masa depan mereka, kita sebagai orangtua justru lupa untuk BERTANYA kepada Sang Pencipta : Apa yang sebenarnya Tuhan ingin lakukan bagi anak0anak yang Dia titipkan kepada kita?

Sejak kecil kita sudah menusunskenario agar si anakbisa menjadi seorang dokter. Padahal, Tuhan menitipkan benih musik di dalam dirinya. Saat si anak bertumbuh dewasa dan berani berpendapat untuk memilih sekolah musik daripada sekolah kedokteran, kita menguliahinya panjang lebar, bahwa seni tidak bisa menghasilkan uang untuk hidup layak.

Sejak kecil anak kita terlihat aktif secara fisik dan menyukai olah raga melebihi segala kegiatan lainnya. Namun, sebagai orangtua, kita lebih tertarik untuk melihat prestasi anak kita dalam bidang matematika dan bahasa inggris.

Akhirnya, anak-anak kita tidak bertumbuh dan berkembang seperti yang Tuhan kehendaki, tetapi seperti yang orangtua kehendaki. Tentu semua orangtua menginginkan YANG TERBAIK bagi anak-anaknya. Tetapi pertanyaan penting yang harus kita jawab terlebih dahulu adalah, “Sudahkah kita BERTANYA kepada Tuhan sebelum kita menasehati anak-anak kita tentang pilihan hidupnya pada masa depan?”. Adakah rancangan kita sebagai orangtua LEBIH BAIK daripada rancangan TUHAN?

Yeremia 29:11 - “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apap yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan-rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Tuhan menitipkan talenta dan karunia di dalam diri anak-anak kita bukan untuk “diseleksi” oleh orangtua. Mana yang kita anggap cocok kita kembangkan, sedangkan kelebihan anak kita yang menurut ukuran kita “bakal tidak menghasilkan apa-apa” dalam hidupnya, sebaiknya diabaikan saja. Pernahkah Tuhan salah mengombinasikan bakat/kemampuan dalam diri anak-anak kita?

Billy Frank, putra seorang petani penjual susu, lebih suka membaca buku Tarzan dan Marcopolo dibanding membantu ayahnya memerah susu dan mengurus pertanian. Ia adalah seorang anak yang aktif dan energik, selalu berlari, menyelidiki, dan sepertinya tidak pernah merasa lelah. Kisah-kisah petualangan dan perjalanan para misionaris sangat memikat hatinya. Bahkan masa-masa kuliahnya ia lewat sembari menawarkan diri menjadi “penolong” (pembantu) bagi para penginjil yang bisa ditemuinya. Dalam suratnya kepada ibunya, “Aku ingin seperti orang ini.”

Tentu saat ini tidak ada orang kristiani yang belum pernah mendengar nama Billy (Frank) GRAHAM, bukan? Ya, kisah diatas adalah cuplikan kisah masa kecil seorang penginjil yang sangat terkenal di seluruh dunia. Lihatlah bahwa Tuhan tidak pernah salah menitiipkan talenta maupun karunia di dalam diri seorang anak. Bahwa setiap keunikannya, setiap pembawaannya, setiap minat dan hobinya, itu semua merupakan potensi yang jika ditumbuhkembangkan, akan membuat anak tersebut betul-betul menjadi seperti yang Tuhan inginkan.

Diperlukan IMAN untuk bisa menerima seorang anak apa adanya. Dan, IMAN untuk yakin bahwa Tuhan tidak pernah salah mengombinasikan segala potensi yang ada dalam diri anak-anak-Nya. Bahwa itu semua sudah Dia rancang untuk membawa maksud yang baik. Baik untuk anak tersebut, maupun baik untuk menggenapi pekerjaan Tuhan.

Efesus 2:10 : Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

John C. Maxwell mendefinisikan SUKSES sebagai berikut.
1. Mengetahui maksud Anda dalam kehidupan
2. Bertumbuh untuk mencapai potensi maksimal Anda
3. Menaburkan benih yang menguntungkan bagi sesama.

Sudahkan kita bertanya dan berserah kepada Tuhan demi panggilan hidup anak-anak kita? Bertanyalah, karena Tuhan akan menjawab. Serahkanlah, karena hanya di dalam Tuhan ada jaminan masa depan yang pasti bagi anak-anak kita.

Oleh : Meilania
Guru Sekolah Minggu, pembicara seminar dan pelatihan guru Sekolah Minggu, moderator milis diskusi e-BinaGuru

Sumber : Renungan Harian Edisi Juli 2009

15 September 2009

Tidak Alami

Bilangan 12:3 "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 77; Ibrani 11; Yeremia 3-4

Kata-kata apakah yang muncul dalam pikiran Anda saat Anda berpikir tentang para pemimpin besar seperti Musa? Tentunya bukan kata "lembut" yang akan pertama kali terlintas dalam daftar Anda, tetapi kata itulah yang dicatat Alkitab tentang orang yang telah dipakai Tuhan membawa keluar bangsa Israel dari tanah Mesir beribu-ribu tahun yang lalu.

Musa mempunyai berbagai macam alasan bersikap rendah hati karena ia memang bukan seorang pemimpin alami. Dalam Alkitab tidak ada tanda-tanda bahwa ia dapat menarik atau memimpin suatu kelompok hingga delapan puluh tahun pertama kehidupannya. Sejauh yang kita ketahui, usaha pertamanya menggunakan pengaruhnya adalah ketika menolong orang dari sukunya yang berakibat terbunuhnya seorang mesir dan ia pun melarikan diri dari negeri itu. Empat puluh tahun berikutnya dihabiskan Musa dalam pengasingan di padang gurun Midian, suatu masa yang sunyi yang diringkaskan Firman Tuhan dalam tiga ayat (Keluaran 2:21-23).

Anda tidak perlu menjadi seorang yang berbakat "alami" untuk menjadi seorang pemimpin yang besar; Anda hanya memerlukan hati bagi Allah dan roh yang mau diajar. Sebagian pemimpin besar dalam firman Tuhan dibentuk, tidak dilahirkan. Kabar baik bagi kita, Allah masih membuatnya pada masa kini. Apakah Anda salah satunya?

Persoalan menjadi seorang pemimpin adalah kemauan untuk diproses Tuhan, bukan kemampuan diri sebagai pemimpin.

Jawaban.com

Rumah Di Balik Rumput Liar

Ada dua orang anak kecil yang sedang berjalan di suatu jalan yang berdebu. Mereka menemukan sebuah bangunan tua dengan jendela-jendela yang pecah kacanya. Warna dindingnya sudah amat kusam dan rumput sudah tumbuh tinggi mengelilingi bangunan tua itu. Kedua anak itu tetap ingin memasuki bangunan itu. Mereka membuka pintunya yang hampir tak dapat dibuka karena engselnya sudah rusak.

Ternyata bangunan itu adalah sebuah gereja yang sudah lama tidak digunakan lagi. Bangku-bangkunya penuh dengan debu dan kotoran, sedangkan meja mimbarnya masih terdapat sebuah Alkitab di atasnya. Disamping itu juga masih terdapat kantong kolekte dan beberapa buku puji-pujian di atas lantai. Agaknya gereja ini ditinggalkan dengan tergesa-gesa. Di sudut sana masih terdapat sebuah piano yang ketika itu pasti masih dapat mengeluarkan banyak sekali puji-pujian yang merdu. Kemudian kakak beradik, Billy dan Tommy, memandang satu dengan yang lain.

“Mengapa kita tidak membersihkan gereja ini?”

Mulailah mereka menyapu dan mengepel lantainya serta mengumpulkan kaca-kaca yang pecah. Selanjutnya mereka memotong rumput yang sudah terlampau panjang. Akhirnya mereka menggantung kembali papan nama gereja yang sudah jatuh di antara rerumputan itu.

Selanjutnya mereka pulang. Ternyata ayah mereka sudah tidak nampak lagi, sedangkan ibunya berada di belakang menangis karena ayah mereka menyakitinya seperti biasa.

“Mama, janganlah menangis, hapuslah air matamu, mama”, kata si kecil Billy, ” sebab kami punya sebuah kejutan jaraknya sekitar 1,5 km dari sini”, sambung Tommy.

Mereka menarik tangan ibunya sehingga membuat ibu mereka berlari dengan mereka. “Ada apa, sih, apa yang kalian telah lakukan?”, tanya ibu mereka.

Akhirnya mereka sampai di bangunan tua yang tersembunyi di balik rerumputan liar itu. Dan di tempat itulah mereka berdiri di depan sebuah gereja dusun yang nampak seperti sedia kala.

“Mam, mengapa mama menangis?”, tanya anak-anaknya.

“Kami mengira telah membuat mama senang.”

Ibu mereka menjawab, “Memang anak-anakku, sekarang diamlah dan dengarkanlah dengan seksama.”

Mereka semua diam, dan terdengarlah oleh mereka suara seseorang dari dalam gereja itu. Suara ayah mereka yang sedang berdoa dengan kepala tertunduk.

“Ampunilah aku, ya Tuhan! Ampunilah aku! Aku tidak layak menerima kasihMu! Berikanlah aku TerangMu supaya aku dapat keluar dari kegelapan untuk memperoleh keselamatanMu. Aku telah tersesat dan telah menjalani hidupku dengan salah, sampai aku menemukan gereja ini, tempat di mana semestinya aku berada. Berkatilah, Tuhan berkatilah mereka yang telah membuatku melihat kembali gereja kecil yang tersembunyi di balik rerumputan liar ini.”

Kemudian ia menengadahkan kepalanya dan kedua tangannya terangkat untuk mengundang dua anak kecil dengan wajah kotor disertai istrinya yang mendampingi mereka. Mereka berlari menubruk ayah sekaligus suami dalam satu pelukan erat sambil mengeluarkan air mata.

“Janganlah khawatir, anak-anakku, aku kini bukan lagi ayah kalian yang dulu kalian kenal. Sekarang, segala sesuatu telah menjadi lain. Bersuka citalah dan marilah kita mengumpulkan orang-orang supaya mereka mau mengunjungi gereja kecil ini lagi.”

Mereka berbahagia, karena Tuhan telah mengembalikan ayah mereka, dan itulah yang lebih berharga dari pada seluruh emas di dunia. Pada hari Minggu, semua bangku penuh dengan pengunjung dan semua terlihat bergembira, terutama dua orang anak kecil yang telah menemukan gereja tua di balik rerumputan liar ini yang tak terlihat oleh orang.

Tidak ada sesuatu yang sukar dicari… bila anda berjalan dengan Terang Bapa Surgawi!

Penulis: Sherri Puckett
Mayfield, Ky