Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

31 August 2009

Melayani Dengan Keterbatasan

II Korintus 12:9

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 62; Markus 12; Hosea 4-5

Ketika belum genap berusia empat tahun, Itzhak Perlman terserang polio, sehingga ia tidak bisa menggunakan kakinya. Tetapi, ia lalu mengimbangi kehilangan ini dengan belajar biola. Bertahun-tahun kemudian, ia menghibur banyak orang dengan musik yang ia mainkan. Ia memang kehilangan fungsi kakinya, tetapi permainan musiknya telah memberi sayap. Itu adalah sebuah contoh devosi yang sungguh menggugah.

Beberapa pelayan Allah pun telah menunjukkan devosi yang serupa kepada Tuhan. Mereka telah kehilangan kemampuan tertentu, tetapi kemudian tergugah untuk mengembangkan kemampuan pelayanan yang lain. Misalnya, ketika William Booth, pendiri bala keselamatan, menyadari bahwa ia akan buta, ia tidak putus asa.

Dengan berpandangan positif, William berkata kepada teman-temannya bahwa ia telah melayani Kristus ketika ia masih bisa dapat mempergunakan daya penglihatannya, dan ia akan tetap melayani Dia sekuat tenaga meskipun mengalami kebutaan.

Hal apa yang memotivasi orang Kristiani untuk tetap melayani dan mengikuti Yesus sebaik dan sebisa mungkin meskipun mereka mengalami kehilangan atau menghadapi kesulitan? Seperti Abraham, jawabannya adalah iman.

Anda harus percaya bahwa segala keadaan yang tidak mengenakkan yang Anda terima di bumi karena Kristus itu tidak sebanding lah dengan apa yang Dia telah persiapkan untuk Anda yang setia kepada-Nya sampai akhir, yakni "kota..yang direncanakan dan dibangun oleh Allah" (Ibrani 11:10). Itu adalah "tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air surgawi" (ayat 16a).

Kiranya Roh Kudus senantiasa memberikan kepada Anda kekuatan untuk memuliakan Kristus, entah apa pun keterbatasan yang Anda miliki saat ini.

Keadaan apa pun yang memenjarakan Anda tidak dapat membatasi karya Allah melalui diri Anda

Jawaban.com

Greatest Love

Suatu pagi yang sunyi di Korea, di suatu desa kecil, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu di mana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.

Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka. Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.

Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama.

Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan, Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?"

Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk teman kalian, karena jika tidak ia akan meninggal!"

Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah. Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.

"Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok."

Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis.

"Apakah sakit?" tanya dokter itu..

Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya. Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu.

"Apakah sakit?"

Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."

"Lalu kenapa kamu menangis?",tanya dokter itu.

"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.

Dokter itu tercengang!

"Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"

Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku!"

Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu? "

Sambil menangis ia berkata, "Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya"

Written by Elia Stories

Greater Love Has No One Than This, Than To Lay Down One's Life For His Friend

GBU aLL ^^

30 August 2009

Jangan Berpikir Seperti Dunia Ini

II Korintus 10:4-5

"Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 61; Markus 11; Hosea 1-3

Jika Anda berpikir seperti dunia berpikir, maka akhirnya Anda akan bertindak seperti dunia bertindak. Pikiran yang tidak terkekang menghasilkan tindakan yang tidak terkekang. Jadi, kendalikanlah pikiran Anda dengan patuh terhadap Alkitab.

Aturlah pikiran Anda sesuai dengan firman Tuhan. Firman itu Roh dan kehidupan. Bila pikiran Anda dipenuhi dengan firman Tuhan, maka kemauan Anda menjadi kuat untuk menggunakan wibawa dalam menaklukkan setiap pikiran fasik dan kebiasaan buruk.

Jangan biarkan iblis menipu Anda untuk mengorbankan kemuliaan Tuhan dalam hidup Anda demi kepuasan diri dan dosa sesaat saja. Kekanglah pemikiran Anda. Renungkanlah Firman dan bukannya pikiran-pikiran yang serakah dan duniawi. Arahkan pandangan Anda kepada Yesus, pencetus, dan Penyempurna iman Anda.

Arah pikiran Anda adalah penentu arah tindakan Anda

Jawaban.com

Humor : Jalan Ke Sekolah

Sebuah keluarga baru bangun kesiangan, dan anak mereka yang berumur enam tahun ketinggalan bis sekolah.

Sang ayah, meski terlambat kerja, harus mengantarnya ke sekolah.

Karena ia tidak tahu jalannya, ia menyuruh anaknya untuk mengarahkannya.

Mereka naik mobil melewati beberapa blok sampai sang anak menyuruhnya belok untuk pertama kalinya,

kemudian beberapa blok lagi sebelum belokan kedua. Perjalanan sampai 20 menit -- namun ketika tiba di sekolah,

ternyata sekolahnya dekat dengan rumahnya.

Sang ayah, dengan agak jengkel, bertanya kepadanya mengapa ia malah mengajak berputar-putar.

Sang anak menjelaskan, "Itu tadi jalan yang biasa dilewati bis sekolah, Ayah. Itu satu-satunya jalan yang aku tahu."

29 August 2009

Weekly Scripture – Wahyu 3:21

"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya." - Wahyu 3:21

Tidak Ragu Untuk Bertanya

Ayub 3:11 : "Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 60; Markus 10; 2 Tawarikh 31-32

Allah tidak keberatan dengan pertanyaan-pertanyaan, keraguanlah yang dibenci-Nya. Selama berjam-jam, tiga sahabat Ayub: Elifas, Bildad, dan Zofar menuduhkan kepada Ayub semua jenis kejahatan.

Mereka mengatakan kata-kata bodoh yang sering dinyatakan kepada orang-orang yang menderita. Tetapi Ayub ingin membawa masalahnya kepada Tuhan sendiri! Hanya pada akhir kitab itu Allah berbicara dan walaupun Ia tidak menjawab satu pun pertanyaan Ayub, Ia tidak menghukum Ayub karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Allah menegur Ayub hanya karena satu hal: meragukan karakterNya yang benar.

Anda seharusnya tidak pernah takut mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, tetapi Anda juga tidak boleh menuntut jawabannya. Tidak peduli betapapun keadaan Anda, Anda harus menolak godaan untuk meragukan sifat kudus Allah. Jika Anda, seperti Ayub, melalui bibir yang gemetar mengakui kedahsyatan kemuliaan Allah maka nantikan berkat-berkatNya yang luar biasa itu tercurah dalam kehidupan Anda.

Seberapa berani seseorang untuk bertanya kepada orang lain menunjukkan seberapa dalam hubungan antarkeduanya. Bagaimana hubungan Anda dengan Tuhan saat ini?

Jawaban.com

Kasih Yang Berkorban

Ada seorang ibu mempunyai tiga orang anak. Ketika hujan turun dengan derasnya, sang ibu sambil duduk menulis surat dengan serius. Datanglah anak pertama dan berkata kepadanya, “Bu, aku mengasihimu!”

Mendengar kakaknya berkata demikian, adik kedua tidak mau ketinggalan. Ia datang mendekati ibunya, lalu berkata pula, "Ibu, di antara kami bertiga, akulah yang lebih mengasihi ibu!"

Si bungsu yang memperhatikan dengan serius tindakan kedua kakaknya, segera meninggalkan mainannya, lalu datang kepada ibunya. Si bungsu tidak berkata apa-apa, tetapi ia langsung memeluk ibunya dengan penuh kasih. Setelah itu mereka kembali ke tempatnya masing-masing. Setelah selesai menulis, pada saat itu di luar rumah hujan sangat deras disertai guruh dan kilat yang sambar-menyambar, dan sang ibu memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mengeposkan surat tersebut.

Sang ibu menekankan bahwa surat itu sangat penting dan harus segera dikirim. Anak yang pertama beralasan, "Bu, di luar hujan, aku tidak bisa pergi."

Datanglah anak yang kedua dan beralasan, "Bu, aku lagi mengerjakan PR, harus selesai sore ini."

Si bungsu diam-diam mengambil mantel dan berkata sambil tersenyum, "Bu, saya yang akan mengantarkan surat ke kantor pos."

Sahut ibunya, "Sabar nak, di luar masih hujan."

Si bungsu mengambil surat itu lalu pergi mengantarkannya ke kantor pos, meskipun hari masih hujan.

Seringkali kita berkata kepada orang tua kita, "Bapa, mama, aku mengasihimu."

Tetapi itu hanyalah ucapan yang keluar dari mulut, dan bukan dari dasar hati yang terdalam. Dalam kenyataan, ucapan kita cenderung seperti anak yang pertama dan kedua di saat kita menyatakan kasih kepada orang tua dan sesama kita. Sebenarnya kita tidak perlu mengucapkan kata-kata manis untuk mengungkapkan bahwa kita mengasihi orang tua dan sesama kita, melainkan melalui sikap dan tindakan nyata yang benar-benar tulus.

Sering kita berkata-kata kepada Tuhan, "Tuhan saya mengasihiMu. ....", namun kita hanya berkata-kata saja tanpa dengan tulus hati mengasihiNya. ..tanpa mewujudkannya melalu perbuatan kita.....

Guys, ayo kita menjadi seperti anak bungsu pada renungan diatas.....

28 August 2009

Kelihatan Mustahil

Mazmur 5:4 "Tuhan pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 59; Markus 9; 2 Tawarikh 29-30

Kurang lebih dari 40 tahun yang lalu Penginjil terkenal A.W Tozer pernah berkata, "Peradaban modern sekarang begitu kompleks sehingga hampir tidak memungkinkan bagi kehidupan rohani untuk mendapatkan tempat." Ia sudah menuliskan kalimat itu jauh sebelum email, internet televisi, dan teknologi "hemat waktu" lainnya, merampas sebagian besar waktu kita. Apalagi sekarang, saat dunia sudah jauh lebih maju lagi dengan teknologi yang tumbuh dan berkembang dengan pesatnya.

Namun sebenarnya, kita jangan terjebak dengan hal-hal teknologi semacam itu saja, karena sesungguhnya teknologi pun dapat digunakan untuk kegiatan rohani. Jadi sesungguhnya bukan hanya teknologi masa kini dan kompleksnya budaya modern saja yang mengganggu kehidupan rohani. Tetapi, sering kali hambatan-hambatan yang sangat mengganggu kita dalam menyediakan waktu untuk Allah bukan berasal dari luar diri kita, tetapi justru dari dalam diri kita sendiri. Kitalah yang terkadang enggan meluangkan waktu untuk beribadah kepada Tuhan, atau berdoa secara pribadi dan membaca Alkitab, oleh karena kesibukan masing-masing.

Lalu bagaimana caranya agar kita dapat melakukan hal yang tampaknya mustahil itu? Pertama, kita harus mengakui kegagalan kita dalam meluangkan waktu untuk Allah. Kedua, kita harus menyadari bahwa meluangkan waktu bersama Allah adalah hal yang esensial untuk kehidupan rohani kita. Hal itu seharusnya sama penting seperti keharusan kita untuk mendapatkan makanan yang cukup setiap hari. Ketiga, kita harus menyusun rencana. Sebagai contoh, di dalam Mazmur 5:4, kita dapat melihat bahwa Daud mempunyai jadwal khusus bersama Allah tiap hari.

Dengan ketiga konsep tersebut tertanam dalam benak, teduhkan hati dan pikiran Anda dan mulailah untuk menikmati sukacita yang datang karena Anda telah menyediakan diri untuk Tuhan. Percayalah, Anda pasti sanggup untuk melakukan apa yang kelihatannya mustahil itu.

Waktu yang diluangkan bersama Tuhan adalah waktu terbaik yang perlu Anda miliki

Jawaban.com

Indah Pada Waktunya

“Bila kita melakukan sesuatu sesuai kehendak Allah, maka segala sesuatu akan indah pada waktunya.” Kalimat tersebut mungkin sering kita dengarkan. Mungkin ada beberapa orang yang tidak mempercayai ucapan tersebut. Berbahagialah orang yang mempercayai ucapan tersebut karena itulah yang benar-benar terjadi. Saya akan menceritakan kepada Anda tentang kesaksian sepenggal bagian dari hidup saya menyangkut hal itu.

Saya ingin memulai cerita saya dengan kelulusan SMA. Saya sangat bersyukur sekali karena bisa lulus dari Ujian Nasional. Mungkin sebagian dari Anda hanya berpikir bahwa ini cerita biasa tentang murid yang akhirnya lulus. Sekali-kali tidak. Ini adalah cerita melebihi itu.

Minggu-minggu menjelang UAN, merupakan minggu yang menegangkan. Ketegangan itu bertambah dengan kebijakan pemerintah untuk mengujikan pelajaran IPA/IPS juga di dalam UAN. Betapa mengejutkan pada saat itu. Betapa tidak! Angkatan kamilah yang pertama setelah sekian lama ujian nasional hanya mengujikan 3 mata pelajaran dasar.

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi guru-guru dan kepala sekolah menjadi sangat khawatir. Mereka memberi kami latihan soal yang banyak. Bahkan kerap kali memarahi kami yang kerap kali malas. Mereka memotivasi kami pula untuk mengerjakan sebaik-baiknya dan juga berdoa. Banyak sekali kata-kata yang mendorong kami untuk semangat untuk percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kami. Bahkan sering diadakan acara berdoa bersama meminta kepada Tuhan agar kami semua bisa lulus ujian nasional.

Ada hal yang lucu dan sangat kontradiktif menurut saya. Saya ingat mereka juga berkata bahwa sebaiknya murid-murid yang pintar memberi jawaban kepada murid yang lain. Bahkan kepala sekolah pernah mengumpulkan kami dan memberi tahu perkiraan tentang bagaimana posisi nomor urut murid dengan letak kursi dan meja kami saat ujian berlangsung. Tak luput juga, beliau menyatakan agar kami menyusun strategi untuk saling bekerja sama dengan melihat posisi tempat duduk kami. Aku bahkan tercengang dalam hati bisa-bisanya seorang pemimpin sekolah kami memperbolehkan perbuatan tercela itu.

Beginikah moral dari sekolahku? Pikirku saat itu. Di satu sisi terlihat benar-benar percaya sepenuhnya bahwa Tuhan akan menyertai saat UAN berlangsung. Di sisi lain, tampak keraguan penyertaan Tuhan saat UAN berlangsung dengan menyarankan kami untuk bekerja sama.

Minggu silih berganti, tibalah ujian nasional itu. Hari-hari itu tak terlupakan. Ketegangan dan kekhawatiran muncul dalam benak. Namun, aku tetap memegang prinsip untuk mengerjakan soal-soal itu dengan usahaku sendiri. Begitu banyak godaan saat itu. Banyak temanku yang mendapat bocoran jawaban dari sekolah lain, ada pula yang saling mencontek, ada yang membeli jawaban ujian entah dari mana, dan sebagainya. Tapi aku tidak terpengaruh.

Setelah sekian bulan, akhirnya berita kelulusan tiba. Itu adalah hari penuh sukacita bagiku. Aku pun datang ke sekolah untuk mengambil ijazah. Aku melihat nilai teman-temanku yang berbuat curang saat ujian. Aku termasuk murid yang nilainya tidak setinggi mereka. Namun, aku tidak berkecil hati karena aku bangga bisa lulus dengan usahaku sendiri dalam hati.

Setelah lulus SMA, aku pun ikut suatu ujian masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Aku mendaftar suatu PTN nomor satu di Indonesia dengan jurusan yang juga tidak mudah dimasukkan. Beratus-ratus orang berlomba-lomba mendapatkan kursi pendidikan dan hal itu pun menciptakan suatu tekanan untukku. Tapi, aku pun memegang prinsip untuk jujur saat ujian itu.

Kira-kira satu bulan kemudian, pengumuman tiba dan aku BERHASIL mendapatkan perguruan tinggi dengan jurusan yang kuinginkan. Aku sangat bersuka cita sekali bisa lolos ujian. Begitu luar biasanya juga sukacita yang dirasakan keluargaku.

Saat SMA, aku menyadari bahwa aku bukanlah murid yang pintar. Nilai-nilaiku kerap kali mengecewakan. Bahkan kerap kali dianggap remeh oleh teman-temanku. Aku ingat temanku pernah secara terang-terangan meragukan kemampuanku untuk bisa lolos dari ujian perguruan tinggi negeri. Maka aku menyadari bahwa kisahku ini merupakan karya nyata Allah dalam hidupku. Allah telah memampukan dan memberi kekuatan padaku untuk dapat melampaui suatu hal yang mustahil.

Aku ingat sekali ada temanku yang nilai Ujian Nasional-nya jauh melebihi nilaiku. Namun dia melakukan kecurangan saat ujian berlangsung. Dia juga mencoba ujian masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang sama persis kupilih. Namun dia gagal dalam ujian tersebut. Untukku, ini merupakan keadilan yang Allah berikan kepadaku. Di satu sisi, aku dengan kemampuan akademis yang tidak begitu setinggi dirinya pada akhirnya bisa lolos ujian yang penuh persaingan. Sedangkan dia yang merupakan murid yang lebih pintar dariku malahan tidak dapat lolos ujian itu.

Aku menganggap kisah hidupku yang satu ini adalah bukti nyata dari “Bila kita melakukan sesuatu sesuai kehendak Allah, maka segala sesuatu akan indah pada waktunya.” Tuhan pasti akan menyertai orang yang menurut pada apa yang Allah kehendaki. Allah pasti memampukan dan menjadikannya indah tepat pada akhirnya. Allah menyertai aku karena aku tetap memegang prinsip untuk jujur. Lalu, Allah pun menjawab permintaan doaku untuk bisa lulus SMA dan lulus ujian seleksi perguruan tinggi negeri.

Aku berharap cerita ini dapat memotivasi Anda untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang baik walaupun dunia tidak berprinsip. Mungkin pada awalnya merupakan saat-saat yang sulit. Namun percaya, Allah tidak akan diam. Sang Maha Kuasa akan melihat Anda dan merancangkan suatu akhir yang penuh sukacita dan damai sejahtera. Percayalah!

Oleh : Kathy S

26 August 2009

Anda Berharga Di Mata Tuhan

Ada seorang laki-laki, dimana setiap orang yang melihat fisiknya pasti setuju bahwa ia bukan laki-laki yang menarik. Badannya gemuk dan tingginya di bawah rata-rata, wajahnya tidak tampan. Ia bukan orang yang kaya raya juga bukan orang yang punya kepandaian khusus. Jalannya agak pincang, dan suaranya pun sumbang untuk menyanyi.

Sebut saja ia bernama Milo. Sehari-hari ia bekerja sebagai pegawai sebuah toko buku dengan gaji yang tidak seberapa. Milo sudah hampir berumur 40 tahun, ia kadang merasa fustasi karena ia belum punya pacar hingga saat ini, Ia kadang merasa Tuhan tidak adil baginya menciptakan dirinya seperti itu, tidak ada wanita-wanita yang mengelilinginya karena mengaguminya, tidak ada kelimpahan harta padanya, atau orang-orang yang memujinya karena kehebatannya. Suatu ketika, pulang dari tempat bekerja melewati lorong yang gelap, seorang pria tinggi besar menghadangnya. Wajahnya tidak nampak jelas karena gelapnya malam. Pria itu menodongkan sebuah pisau pada dadanya.

"Serahkan uangmu kalau mau selamat," ujarnya dengan nada suara berat.

"Anda menginginkan uang saya? ambillah semuanya," katanya dengan tenang. Pria itu membiarkan Milo mengambil uangnya, diserahkan semua uangnya ke tangannya. Sikap Milo nampak tenang sekali.

"Anda tidak takut kalau aku membunuhmu disini?" tanya pria itu.

"Oh, tentu tidak. TIdak ada yang berharga pada diriku, sekalipun aku harus memberikan nyawaku aku tidak takut" ujarnya dengan tenang.

Menghadapi sikapnya yang tenang, pria itu makin penasaran dan pelan-pelan menurunkan pisaunya.

"Anda tidak takut mati?" tanya pria itu lagi.

"Saya tidak takut mati, saya tidak memiliki apapun di dunia ini. Saya milik Tuhan, jika anda membunuh saya maka anda mengembalikan saya kepada Tuhan.”

"Anda orang Kristen?" tanya pria itu.

"Tepat, bagaimana anda bisa tahu?" tanya Milo.

Pria itu akhirnya memperkenalkan diri. Milo lalu mengajaknya duduk di sebuah anak tangga dari toko yang telah tutup.

"Aku seorang preman, aku pernah membunuh belasan nyawa. Dulu aku orang Kristen, Ayahku dulu sering sekali memukul ibuku dan juga anak-anaknya hingga kami hidup dalam kekerasan. Ia sering mabuk dan aku pernah hampir dibunuhnya, selain ia tidak punya pekerjaan tekanan hidup menjadikan aku seperti ini."

Kemudian lanjutnya lagi, "Baru kali ini aku menemui orang yang tidak takut padaku" ujarnya.

TIba-tiba air mata meleleh dari kedua pipinya, "Seumur hidupku baru pertama kali aku menangis. Aku tidak tahu kenapa, aku seperti orang bodoh menangis di hadapanmu."

Kasih Tuhan terus menyinari malam hari itu. "Kamu pasti lapar, aku punya makanan untukmu," ujar Milo sambil mengeluarkan roti dari tasnya dan memberikan padanya.

"Aku melihat ada suatu kekuatan yang begitu kuat keluar dari dirimu, menarik aku kembali pada suatu tempat dimana aku dulu pernah berada"

Pria itu adalah orang yang paling ditakuti di tempat tersebut, reputasinya sebagai sebagai pembunuh belum ada tandingannya. Bagaimana mungkin orang seperti Milo bisa membuat hatinya luluh? Malam itu ia bertobat dan apa yang terjadi? Banyak dari anak buahnya yang akhirnya bertobat dan kembali pada jalan kebenaran.

Pernahkan anda merasa tidak berharga? Tidak punya kelebihan apa-apa. Anda merasa fisik anda tidak menarik, anda juga merasa tidak punya harta apa-apa yang bisa diberikan. Tuhan tidak pernah menciptakan kita tanpa maksud. Anda mungkin berkata, "Tuhan. Apa saya seperti ini bisa dapat jodoh? Apa saya layak melayaniMu? Apa saya bisa berhasil?"

Semua adalah mungkin bagi Tuhan. Pernahkah anda membanding-bandingkan diri anda dengan kelebihan orang lain, lalu anda merasa minder? Saudara terkasih, apapun keadaan anda TUhan begitu mempedulikan anda. Sekalipun pelayanan anda mungkin hanya seorang penyapu halaman gereja, Anda tetap seorang yang hebat di mata Tuhan. Jangan pernah bersedih hati, kalau mungkin anda mempunyai cacat fisik. Jangan putus asa kalau orang tidak mengganggap keberadaan anda. Anda sama berharganya dengan ciptaanNya yang lain. Ketahuilah, Anda begitu berharga dimataNya, sehingga Ia begitu tidak ingin kehilangan anda.

Yesaya 43:4a : "Oleh karena engkau berharga di mataKu, dan mulia, dan Aku mengasihi engkau"

Tuhan Yesus memberkati !!!

25 August 2009

Kejamnya Aborsi

Mama Tersayang,

Saat ini aku ada di surga, duduk di pangkuan Tuhan. Tuhan sangatlah mengasihiku dan Ia turut menangis bersamaku. Ia menangisi hatiku yang telah dihancurkan. Sebelumnya aku amat diinginkan untuk menjadi seorang gadis kecil. Aku tak begitu mengerti tentang apa yang telah terjadi. Aku dulu begitu senang saat aku mulai menyadari keberadaanku. Aku ada di dalam tempat yang gelap namun nyaman. Kupandangi jari tangan dan kakiku. Alangkah cantik diriku dalam masa perkembanganku, walaupun belum dekat masanya sampai tibanya saat aku telah siap meninggalkan lingkunganku itu.

Aku habiskan sebagian besar waktuku dengan tidur ataupun berfikir. Bahkan pada hari-hari terawal hidupku, aku merasakan hubungan istimewa antara aku dan Mama. Kadang aku mendengar Mama menangis. Kadang-kadang Mama berteriak atau menjerit, lalu menangis. Kudengar Papa balik berteriak, aku merasa sedih dan berharap bahwa Mama akan segera pulih. Aku berfikir, kenapa kiranya Mama sering menangis. Pernah hampir seharian Mama menangis. Aku turut sedih. Tak dapat kubayangkan kenapa Mama sesedih itu.

Pada hari yang sama, sesuatu yang mengerikan terjadi. Monster yang amat mengerikan memasuki tempat yang hangat dan menyenangkan tempat aku berada. Aku amat takut dan mulai berteriak, namun tak sekalipun engkau mencoba menolongku. Mungkin engkau tak pernah mendengarku. Monster itu dekat dan lebih dekat lagi, sedang aku berteriak dan berteriak lagi, "Mama, Mama ... tolonglah aku; Mama, tolong aku". Lengkaplah teror yang kualami. Aku berteriak dan berteriak hingga kupikir aku tak mampu lagi melakukannya. Lalu monster itu mengoyakkan lenganku. Amat sakit rasanya, nyerinya tak dapat kuterangkan. Teror itu tak berhenti. Oh, betapa aku memohon kepadanya untuk berhenti. Aku berteriak ngeri saat monster itu mengoyak lepas tungkaiku. Walaupun aku telah mengalami teror seperti itu, aku masih sekarat. Kutahu aku takkan pernah memandang wajah Mama, atau mendengar Mama berkata kepadaku betapa Mama menyayangiku. Aku ingin melenyapkan semua air mata Mama. Kubuat banyak rencana untuk membuat Mama bahagia. Aku tak bisa; seluruh mimpiku telah buyar.

Walau aku berada dalam nyeri dan kengerian yang hebat, di atas semuanya aku merasakan nyerinya hatiku yang hancur. Aku tak mengharapkan sesuatu selain menjadi anak Mama. Tak ada gunanya lagi kini, aku telah mengalami kematian yang menyakitkan. Aku hanya dapat membayangkan hal-hal buruk yang telah mereka buat terhadap diri Mama. Aku ingin memberitahu Mama sebelum aku pergi bahwa aku mencintai Mama, namun aku tak tahu kata-kata apa yang Mama dapat mengerti. Dan segera sesudahnya, aku tak lagi memiliki nafas untuk mengucapkannya; aku mati.

Aku merasakan kebangkitan diriku. Aku dihantar oleh malaikat memasuki tempat besar yang indah. Aku masih menangis, namun sakit fisik kini telah lenyap. Malaikat itu membawaku kepada Tuhan, lalu meletakkanku di pangkuanNya. Ia berkata bahwa Ia mencintaiku, dan bahwa Ia adalah Bapaku. Maka aku gembira. Aku menanyakan apakah kiranya yang telah membunuhku. Ia menjawab, "Aborsi. Aku menyesal, anakKu; sebab Aku tahu bagaimana rasanya." Aku tak tahu apa itu aborsi; kupikir itu adalah nama dari monster tadi.

Aku menulis untuk mengatakan aku mencintai Mama dan untuk memberitahu Mama betapa inginnya aku menjadi gadis kecil Mama. Aku telah berjuang keras untuk hidup. Aku ingin hidup. Aku punya kemauan itu, tapi aku tak sanggup; monster itu terlampau kuat. Monster itu telah menyedot lepas lengan dan tungkaiku, kemudian seluruh diriku. Tak mungkin untuk hidup. Aku ingin Mama tahu bahwa aku telah berjuang untuk tetap tinggal bersama Mama. Aku tak ingin mati. Mama, tolong awasi pula si monster aborsi. Mama, aku sayang Mama. Dan aku juga tak suka Mama mengalami nyeri seperti yang telah kualami. Tolong hati-hati.

Dengan Cinta,
Bayi Perempuanmu