Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

21 July 2009

Kantung Anggur Tuhan

Mazmur 56:9 : Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 21; Matius 21; 2 Tawarikh 25-26

Pernahkah Anda mengalami kejadian dimana Anda begitu dipermalukan hingga pada akhirnya Anda harus menitikkan air mata karenanya? Perasaan Anda tentu begitu sakit, harga diri merasa terinjak-injak, bahkan kepercayaan diri Anda menjadi runtuh. Hidup ini seperti tidak ada gunanya lagi.

Anda merasa bahwa seharusnya orang yang mempermalukan Anda tidak berbuat seperti itu. Bahkan hari-hari Anda pun terus dilewati dengan tangisan. Sampai satu titik dimana Anda mengambil keputusan untuk berhenti menangis apapun alasannya.

Raja Daud adalah seorang tokoh Alkitab yang terkenal dengan keekspresifannya. Dia tidak pernah ragu-ragu untuk mengungkapkan kekagumannya kepada Tuhan dengan menari atau melompat-lompat atau mengeluarkan air mata ketika sedang dalam kesusahan/kesedihan. Kitab Mazmur sendiri adalah kitab yang hampir setiap pasalnya menceritakan ungkapan perasaan Daud kepada Tuhan.

Mazmur 56 adalah salah satu pasal yang ditulis Daud mengisahkan mengenai dirinya yang ditangkap orang Filistin di Gat. Daud ketika itu merasa diremehkan dan tidak dapat berbuat apa-apa kepada lawan-lawannya tersebut. Yang Daud lakukan ketika itu adalah menangis.

Daud tahu bahwa ketika dirinya sedang menangis, Tuhan melihatnya. Daud percaya air matanya yang keluar diperhitungkan dan ditampung dalam kirbat Tuhan. Ia percaya bahwa kirbat Tuhan tidak kurang luas untuk menampung air mata yang keluar dari matanya.

Banyak kejadian tidak mengenakkan di depan Anda yang mungkin dialami dan membuat Anda kembali mengeluarkan air mata. Namun, percayalah kirbat Tuhan selalu cukup untuk menampungnya.

Tuhan menghitung air mata yang keluar dari mata anak-anakNya dan Dia menyiapkan Kirbat yang luas untuk menampungnya.

Jawaban.com

Hidup Untuk Memberi

Cerita yang bagus buat di bagi dan dilaksanakan… :) JBU

Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta. Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang Koran, Penyapu jalan, Tuna Wisma, sampai Pak Polisi.

Pemandangan itu membuatku tertarik, pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??

Untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai di seberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang.

“De, boleh kakak bertanya?”

“Silakan Kak.”

“Kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ke tukang Koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan Pak Polisi, itu apa?”

“Oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk Kak, memang kenapa Kak?”

Dengan sedikit heran, sambil ia balik bertanya, “Oh…tidak.”

“Kakak cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah lama kenal dengan mereka?”

Lalu, adik kecil itu mulai bercerita, “Dulu, aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma, setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti Kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih, namun setelah ibuku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik. Maka dari itu, Ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu, jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup, kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka?”

Yang ibuku slalu katakan, “Hidup harus berarti buat banyak orang”, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu kasih kepada sesama serta amal dan perbu atan baik kita, kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang, kenapa kita harus tunda.

Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat, hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta, “Apa yang kita bawa?”

Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati, saat itu juga aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. “Ya Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepadaMu. Hanya kasih yang sempurna serta iman dan pengaharapan kepada-Mulah yang dapat mengiringku masuk ke surga. Terimah kasih adik kecil, kamu adalah malaikatku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyakku…”

Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. kasih tidak berkesudahan. - 1 Kor.13 : 4-8a

Lakukanlah perkara-perkara kecil, dengan membagikan cerita ini kepada semua orang,
Semoga hasil yang didapat dari hal yang kecil ini berdampak besar buat banyak orang.

Author: Unknown

“When life gives you 100 reasons to cry show life that you have 1000 reasons to smile… Face your past without regret… Handle your present with confidence… Prepare for future without fear”

16 July 2009

Remaslah Tanganku dan Akan Kukatakan Aku Sayang Kamu

Ingatkah ketika masih kecil kamu jatuh dan terluka? Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan rasa sakit?

Ibuku, Grace Rose, selalu menggendongku, membawaku ke tempat tidurnya, mendudukkan diriku, lalu mencium “aduh”-ku. Lalu ia duduk di tempat tidur di sampingku, meraih tanganku dan berkata, “Kalau sakit, remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan Aku sayang kamu.

Sering aku meremas tangannya, dan setiap kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata, “Mary, Ibu sayang kamu.”

Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya aku memperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar, ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara untuk meringankan rasa sakit dan meningkatkan rasa senang yang kurasakan dalam berbagai bagian hidupku.

Pada hari-hari sulit di SMU, ia akan menawarkan sebatang cokelat almond Hershey kesukaannya saat aku pulang. Semasa usiaku 20-an, Ibu sering menelepon untuk menawarkan piknik makan siang spontan di Taman Eastbrook untuk sekadar merayakan hari cerah dan hangat di Wisconsin.

Kartu ucapan terima kasih yang ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia dan ayahku berkunjung ke rumahku, mengingatkanku betapa istimewanya aku baginya.

Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, “Kalau sakit, remaslah tangan Ibu dan akan kukatakan aku sayang kamu.”

Suatu pagi, saat aku berusia akhir 30-an, setelah orangtuaku berkunjung pada malam sebelumnya, ayahku meneleponku di kantor. Ia selalu berwibawa dan jernih saat memberi nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung dan panik dalam suaranya.

“Mary, ibumu sakit dan aku tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari.”

Perjalanan mobil 10 menit ke rumah orangtuaku diiringi oleh rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibuku. Saat aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di dapur sementara Ibu berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang mungkin.

“Bu, aku sudah datang.”

“Mary?”

“Iya, Bu.”

“Mary, kaukah itu?”

“Iya, Bu, ini aku.”

Aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa.

“Mary, apakah Ibu akan mati?”

Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang ibuku tercinta terbaring di situ tak berdaya. Pikiranku melayang, sampai pertanyaan itu terlintas dalam benakku: ‘Jika keadaannya terbalik, apa yang akan dikatakan Ibu padaku?’

Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun, menunggu kata-kata itu tiba di bibirku.

“Bu, aku tak tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau memang perlu, tak apa-apa. Aku menyayangimu.”

Ia berseru, “Mary, rasanya sakit sekali.”

Lagi-lagi, aku bingung hendak berkata apa. Aku duduk di sampingnya di tempat tidur, meraih tangannya dan mendengar diriku berkata, “Bu, kalau Ibu sakit, remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang padamu.”

Ia meremas tanganku.

“Bu, aku sayang padamu.”

Banyak remasan tangan dan kata “aku sayang padamu” yang terlontar antara aku dan ibuku selama dua tahun berikutnya, sampai ia meninggal akibat kanker indung telur.

Kita tak pernah tahu kapan ajal kita tiba, tapi aku tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali, “Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan, aku sayang padamu.”

Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang anda cintai adalah dengan memegang dan meremas tangannya dengan lembut. Tindakan itu kadangkala mengandung makna dan arti yang teramat dalam yang hanya dapat dipahami antara anda dan orang yang anda cintai………….

(Mary Marcdante - Chicken Soup for the Mother’s Soul)

Gaya Hidup Beriman

2 Timotius 2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 16; Matius 16; Amos 1-2

Masa kesukaran tidak akan terelakkan dalam hidup setiap orang percaya. Dan sebagai orang percaya, Anda perlu untuk menyadari hal ini. Memang benar kita telah ditebus dari kutuk, dan sia-sia iblis berusaha untuk mengubahkan hal itu, tetapi dia akan tetap menantang Anda.

Jadi, janganlah heran ketika hidup Anda berubah menjadi sulit. Waktunya akan tiba bagi Anda untuk memprakktekkan iman, untuk berdiri teguh dengan iman, berbicara dan bertindak seolah-olah perkataan Tuhan itu benar bahkan ketika Anda tidak merasakannya atau melihat hasil dari iman itu terjadi di sekitar Anda. Akan ada waktunya ketika segala sesuatu dalam hidup Anda sepertinya salah. Itulah saatnya bagi Anda untuk menderita sebagai seorang prajurit yang baik.

Banyak orang ketika mendengar perkataan iman tentang kesembuhan atau kemakmuran, mereka akan berpikir, "Ok, saya akan mencobanya." Tapi kemudian ketika masalah datang, mereka menyerah kalah.

Satu hal yang harus Anda sadari hari ini bahwa hidup beriman itu bukanlah sesuatu yang harus Anda coba, melainkan sebuah gaya hidup yang harus Anda jalani. Anda melakukannya baik ketika masalah sedang melanda atau pun saat hidup Anda sedang baik-baik saja. Anda melakukannya setiap saat karena Anda tidak melakukannya hanya untuk memperoleh keuntungan. Anda melakukannya karena Anda tahu bahwa iman itu berkenan kepada Allah (Ibrani 11:6).

Mungkin saja Anda akan menghadapi banyak masalah di satu waktu, tetapi yakinlah Anda akan selalu unggul jika Anda menderita kesukaran sebagai seorang prajurit yang baik. Jika Anda menolak untuk menjadi lemah dan jatuh, Anda akan memperoleh kemenangan. Satu-satunya orang Kristen yang kalah ialah dia yang berhenti dan menyerah kalah!

Ketangguhan iman dan hidup berkemenangan hanya akan Anda dapatkan ketika Anda melakoni iman sebagai gaya hidup dan bukan hanya sekedar pengharapan untuk keluar dari masalah.

Jawaban.com

15 July 2009

Jangan Duduk Saja, Bangkitlah!

2 Raja-Raja 7:3,5 Empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: "Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? Lalu pada waktu senja bangkitlah mereka masuk ke tempat perkemahan orang Aram. Tetapi ketika mereka sampai ke pinggir tempat perkemahan orang Aram itu, tampaklah tidak ada orang di sana.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 15; Matius 15; Yunus 1-4

Tidak perduli seberat apa pun masalah yang Anda hadapi saat ini, tidak perduli sejauh mana Anda berada di bawah tekanan, dalam waktu 24 jam Anda dapat berada di puncak gunung yang tertinggi.

Anda mungkin berpikir bahwa hal itu mustahil. Namun hal itulah yang ada di dalam pikiran orang-orang Samaria dalam 2 Raja-raja 7. Negeri mereka dilanda kelaparan. Musuh mengelilingi mereka dan semua sumber bahan makanan tidak diizinkan masuk ke Samaria.

Dan dalam keadaan seperti itulah Tuhan mengatakan kepada nabi Elisa bahwa dalam 24 jam seluruh situasi itu akan berubah. Harga tepung dan gandum akan bernilai beberapa sen saja, dan akan tersedia makanan berlimpah untuk semua orang.

Lalu siapa yang dipakai Tuhan untuk mengubah situasi itu? Empat orang kusta! Empat orang kusta itu bukannya duduk saja dan mengasihani dirinya sendiri menunggu ajalnya tiba karena ketiadaan makanan. Mereka mengambil resiko masuk ke perkemahan musuh. Dan sewaktu mereka tiba di sana, mereka tidak melihat seorang musuh pun. Perkemahan musuh telah kosong melompong dan seluruh perbekalan mereka tergeletak begitu saja. Ternyata para malaikat Allah telah menakuti pasukan musuh sampai lari kocar-kacir dan mereka meninggalkan makanan yang cukup untuk memberi makan seluruh penduduk Samaria!

Seringkali Anda dan saya seperti orang-orang dalam kisah ini. Perhatian kita hanya terpusat pada masalah kita, bukannya terpusat pada firman Tuhan. Kita membiarkan diri kita dikelilingi oleh suara-suara negatif dari dunia ini sehingga visi kita untuk mencapai kemenangan tersingkir dari pandangan kita. Ketika hal itu terjadi, iman dan kuasa mulai surut dan masalah kehidupan menimpa kita.

Bila hal itu terjadi dengan Anda, berhentilah menangis. Berhentilah melihat pada masalah Anda dan mengasihani diri sendiri. Hal itu tidak akan mengubah sesuatu. Sebagaimana Tuhan melakukannya terhadap Elisa, Tuhan juga memberikan Anda Firman. Ia menjanjikan kepada Anda kemenangan. Ia berjanji untuk menjadikan Anda seorang pemenang.

Jadi, jangan duduk saja sampai Anda mati. Jangan menerima kekalahan begitu saja. Bangkitlah dengan iman. Berdirilah atas firman Tuhan dan berpeganglah atas firman dalam hidup Anda. Marahlah kepada setan, usirlah dia. Marahlah terhadap penyakit yang Anda derita. Marahlah terhadap kemiskinan dan mulailah memberi. Bangkitlah dan terimalah kelepasan dari Tuhan.

Janji Tuhan yang penuh kemenangan diberikan dalam setiap permasalahan hidup Anda. Bangkitlah dan jangan pernah menyerah!

Jawaban.com

Aku Sakit 27 Tahun Yang Lalu

Dua puluh tujuh tahun yang lalu aku sakit. Alasan mengapa aku begitu ingat peristiwa itu adalah saat sakit itu telah menyebabkan aku untuk memilih calon istriku. Sebelumnya ia hanya seorang teman yang baik, tetapi karena ia datang ke apartemenku, membawakan obat-obatan dan membuatkan sarapan untuk aku, untuk pertama kalinya aku berpikir, “Suatu hari nanti ia akan menjadi seorang istri yang hebat buat seseorang.”

Aku mengajaknya pergi makan di Nashville, Tennessee untuk membantuku sembuh dari flu. Setelah itu kami menjadi teman yang lebih dekat dari sebelumnya, tetapi belum terpikirkan olehku tentang pernikahan. Beberapa bulan kemudian sewaktu aku akan mengambil pekerjaan baru di Atlanta, Cathy, nama wanita itu, membantuku mengemasi barang-barang dan siap untuk berangkat. Kami melewati hari yang menyenangkan dan makan siang bersama-sama. Menjelang hari akhir itu, aku melihat tetesan air mata mengalir dari mata Cathy, membuatku bertanya apa yang terjadi.

Ia berkata, “Aku tak tahu apakah aku bisa hidup tanpamu, kamu adalah sahabatku.” Aku menjawabnya, “Aku tahu, akupun memikirkan hal yang sama.” Hari itu juga kami memutuskan untuk menikah. Kami masih melewati banyak masa sulit, tapi kami masih tetap bersahabat!

Ketika aku mengajar di kelas kesehatan keluarga dan membicarakan mengenai pernikahan, aku selalu menceritakan ini. Murid-muridku tampaknya menyukainya karena mereka belajar untuk pertama kalinya bahwa memberi, berbagi, dan saling memperhatikan satu sama lain adalah hal yang sangat penting di dalam kehidupan, sedangkan seks, penampilan, materi, dan hal-hal lainnya hanya bersifat sekunder.

Oh ya, Cathy dua belas tahun lebih muda dariuk, dan dia sangat cantik. Dia adalah anugrah terbesar kedua setelah keselamatan. Dan aku bersyukur, karena aku sakit 27 tahun yang lalu. Ada hal-hal yang tampaknya buruk menimpa kita, tetapi Tuhan memiliki agenda-Nya sendiri dalam hidup kita. Ia bisa membuat sungai di pada belantara.

14 July 2009

Mengerjakan Panggilan

Keluaran 36:2 Lalu Musa memanggil Bezaleel dan Aholiab dan setiap orang yang ahli, yang dalam hatinya telah ditanam TUHAN keahlian, setiap orang yang tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 14; Matius 14; 2 Raja-Raja 13-14

Ketika Tuhan memerintahkan Musa untuk mendirikan kemah suci, Tuhan secara spesifik menunjuk orang-orang yang tepat untuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Bezaleel dan Aholiab diperintahkan untuk mengerjakan blue print yang lahir dari hati Tuhan. Mereka tidak diperintahkan untuk memikirkan bentuk Kemah Suci itu nantinya, tapi hanya mengerjakan persis seperti apa yang Tuhan perintahkan. Tugas mereka dinyatakan dengan begitu spesifik, meskipun tidak ada gambaran fisik yang jelas seperti yang dilakukan para arsitek yang merancang sebuah gedung spektakuler saat ini. Lalu bagaimana mereka dapat melakukannya?

Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh inisiatif. Tuhanlah yang telah berinisiatif ketika Ia menunjuk seseorang untuk melakukan pekerjaan-Nya. Dan inisiatif Ia juga untuk tidak hanya sekedar memberikan perintah tapi juga memperlengkapi setiap orang yang dipanggil-Nya untuk melakukan perintah-Nya. Keluaran 36:1 menjelaskan hal ini. Demikianlah harus bekerja Bezaleel dan Aholiab, dan setiap orang yang ahli, yang telah dikaruniai TUHAN keahlian dan pengertian, sehingga ia tahu melakukan segala macam pekerjaan untuk mendirikan tempat kudus, tepat menurut yang diperintahkan TUHAN."

Namun ada hal yang lebih penting selain dari inisitif yang datang dari hati Tuhan, yaitu respon kita. Ayat 2 dengan jelas mengatakan tidak hanya Tuhan telah menanamkan keahlian di dalam hati mereka, tapi juga mereka sendirilah yang memiliki kerinduan dan tergerak hatinya untuk datang melakukan pekerjaan itu. Panggilan Tuhan dalam hidup kita tidak akan cukup ketika kita tidak meresponinya. Sikap hati kita di hadapan Tuhan akan menentukan seberapa jauh kita akan meresponi panggilan-Nya. Karena Tuhan begitu menghargai keberadaan setiap kita, sehingga Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada kita untuk melakukan segala keinginan-Nya dengan terpaksa. Tapi Ia begitu merindukan agar setiap kita masuk ke dalam rencana-Nya karena hanya dalam rencana-Nyalah hidup kita akan dipenuhi kemuliaan dan mencapai kemaksimalannya.

Saat ini, apakah yang sedang Anda kerjakan? Bagaimana Anda memandang pekerjaan Anda? Apakah Anda menganggap pekerjaan Anda sebagai suatu kesalahan? Temukan kerinduan hati Allah dalam hidup Anda dan responilah itu. Tidak ada penyesalan di kemudian hari ketika kita berjalan dalam jalan-jalan Tuhan yang ajaib. Penyertaan Tuhan nyata dalam hidup Anda ketika Anda melekat pada-Nya.

Meresponi panggilan Tuhan sama halnya dengan membangun jembatan menuju kemaksimalan hidup yang penuh kemuliaan.

Jawaban.com

Kisah Uang 1.000 dan 100.000

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu, “Ya, ampyyyuunnnn… darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan… bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan… Ada apa denganmu?”

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata, “Ya, beginilah nasibku, kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam… Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas…”

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin, “Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan… aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu.”

Uang seribu terdiam sejenak. Dia “menarik” nafas lega, katanya, “Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!”

“Apa itu?”, uang seratus ribu penasaran.

“Aku sering bertemu teman-temanku di kantong persembahan dan kotak perpuluhan Gereja. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana…”

"GOD hears more than u say, GOD answers more than u ask & GOD gives more than u desire ; realized it"

13 July 2009

Jalan Kemenangan

2 Korintus 2:14 Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 13; Matius 13; 2 Raja-Raja 11-12

Setiap orang memiliki hak untuk memilih jalan mana yang ingin atau tidak ingin ia lewati. Ada berbagai macam pula alasannya. Tetapi semua orang pasti memilih jalan yang enak dan nyaman untuk dilewati. Namun ada satu jalan yang suka dilewati oleh Yesus Kristus dan Ia ingin semua para pengikut-Nya melewati jalan yang sama. Jalan itu disebut Jalan Kemenangan. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa Ia selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya. Ternyata jalan itu memang didesign untuk kita lewati, bukan untuk orang lain. Tetapi mengapa justru jalan ini jarang dilalui oleh anak-anak-Nya?

Syarat untuk melewati jalan itu ialah ‘dalam Kristus'. Artinya, hanya dengan kesediaan kita untuk hidup di dalam kendali, pimpinan dan tuntunan Kristus, barulah kita dapat melalui jalan kemenangan itu. Jelas sekali sangat membutuhkan penyangkalan diri untuk dapat melewati jalan itu. Apa yang kita mau dengan apa yang Tuhan mau jauh berbeda. Selera kita dengan selera Tuhan juga berbeda. Namun kalau kita memilih untuk mengikuti kemauan dan selera Kristus, maka kita pasti akan hidup di jalan kemenangan-Nya.

Pada saat kita memilih selera Tuhan daripada selera kita, itulah yang disebut dengan salib. Perbedaan selera tersebut menuntut kita untuk memilih satu di antaranya. Ingat, tidak ada kemuliaan dan kemenangan tanpa salib dan penderitaan terlebih dahulu. Allah ingin sekali membawa kita untuk mengalami hidup yang berkemenangan, supaya hidup kita menyebarkan keharuman pengenalan akan Allah. Melebihi keinginan kita, Allah jauh lebih ingin supaya kita, anak-anak-Nya, hidup berkemenangan.

Pada waktu kita tidak hidup di jalan kemenangan-Nya, maka kita memiliki peluang yang besar untuk merusak reputasi Allah.

Jawaban.com

Kumpulan Motivasi

* Slideshow ini dapat di download, klik “Menu” kemudian klik nama filenya dan “Save as..”.

12 July 2009

Stop & Belajarlah!

Yesaya 1:16-17 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 12; Matius 12; 2 Raja-Raja 9-10

Di tepi jalan sering kita menemukan rambu lalu lintas STOP. Namun beberapa kendaraan tetap menjalankan kendaraannya. Di tepi jalan yang lain kita sering melihat rambu lalu lintas DILARANG BERHENTI. Tapi yang terjadi sebaliknya, banyak sekali kendaraan yang berhenti di sana.

Satu pelajaran yang penting yang harus dipelajari oleh anak muda ialah membedakan rambu kehidupan dan bertindak sesuai dengan rambu-rambu tersebut. Ada saat di mana kita harus berhenti dari berbagai kebiasaan yang berdosa atau cara hidup yang tidak sehat.

Sebagai manusia, kita selalu harus berurusan dengan ‘kehendak' kita. Kita harus belajar menundukkan dan mengendalikan kehendak kita di bawah tuntunan Roh Kudus. Kebanyakan orang seringkali tahu jawaban dari segala permasalahan hidup mereka sendiri maupun masalah hidup orang lain, tapi ketika mereka mengalami masalah tersebut, mereka justru tidak dapat keluar dari sana. Seringkali masalahnya bukan karena mereka tidak memiliki jawaban yang benar, melainkan mereka tidak dapat ‘mengendalikan kehendak' mereka untuk memilih yang benar. Kehendak mereka lemah, sehingga meskipun mereka tahu mana yang benar, namun mereka tetap memilih yang salah.

Selain belajar untuk berhenti berbuat jahat, Tuhan ingin umat-Nya terus-menerus belajar berbuat baik. Segala sesuatu yang kita pelajari secara terus-menerus pasti akan membuat kita dapat melakukannya dengan baik. Untuk berhenti melakukan yang jahat, kita harus belajar berbuat baik. Untuk belajar mengasihi Tuhan, kita harus membenci iblis dan dosa, Tidak mungkin bagi kita untuk berkata, "Saya tidak membenci Yesus, tapi juga tidak sayang-sayang amat!"

John Mason pernah berkata bahwa khotbah terbaik di dunia disampaikan oleh rambu lalu lintas yang berbunyi: "Keep Right" (artinya berarti tetaplah di kanan, namun bisa juga berarti tetaplah berbuat benar).

Kehendak Anda mengikuti kebiasaan Anda. Terbiasa melakukan hal yang salah akan membuat Anda susah untuk melakukan hal yang benar. Belajarlah untuk senantiasa melakukan kebenaran.

Jawaban.com