"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." - Roma 8:28
Seorang pendeta memasuki gerejanya di suatu siang dan memutuskan untuk berhenti sebentar di altar untuk melihat siapa saja yang datang untuk berdoa. Tidak lama kemudian, pintu belakang terbuka, seorang tua masuk melalui deretan bangku-bangku gereja. Sang pendeta mengerutkan dahi ketika melihat bahwa orang tersebut sepertinya tidak bercukur beberapa hari.
Kemejanya sudah lusuh, dan mantelnya sudah tua dan sobek-sobek. Orang itu belutut, menundukkan kepalanya, kemudian berdiri dan berjalan keluar. Hari-hari berikutnya, setiap siang pria itu datang, setiap saat berlutut hanya sebentar dengan tempat makan siang di pangkuannya. Sang pendeta mulai curiga, perampokan adalah ketakutan terbesarnya. Dia memutuskan untuk menghentikan pria itu dan menanyainya, “Apa yang kau lakukan disini?”
Pria tua itu menjawab, dia bekerja di sebuah pabrik. Waktu makan siang hanya setengah jam. Waktu makan siang adalah saat doa baginya, saat untuk menemukan tenaga dan kekuatan.
“Anda lihat, saya hanya tinggal sebentar, karena pabrik sangat jauh. Saat saya disini, berlutut dan berbicara pada Tuhan, Inilah yang kukatakan, “Aku datang lagi, hanya untuk mengatakan padamu, Tuhan, betapa bersuka-citanya aku sejak aku menemukan persahabatan di dalam Engkau dan Kau hapuskan dosaku. Aku tidak begitu mengerti caranya berdoa, tapi aku memikirkan-Mu setiap hari. Jadi, Yesus.. Ini Jim, datang hari ini.”
Sang pendeta, merasa malu, berkata pada Jim bahwa itu baik. Dia berkata pada pria itu bahwa ia boleh datang dan berdoa kapan saja. Waktunya pergi, Jim tersenyum dan berkata “terimakasih”, Ia cepat-cepat keluar. Sang pendeta berlutut di depan altar. Hal yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Hatinya yang dingin mencair, dihangatkan oleh kasih, dan ia bertemu dengan Yesus disana.
Saat airmatanya mengalir, ia mengulangi doa Jim tua, “Aku datang lagi, hanya untuk mengatakan padamu, Tuhan, betapa bersuka citanya aku sejak aku menemukan persahabatan di dalam Engkau dan Kau hapuskan dosaku. Aku tidak begitu mengerti caranya berdoa, tapi aku memikirkan-Mu setiap hari. Jadi, Yesus..Ini aku, datang hari ini.”
Beberapa hari kemudian, pendeta tersebut melihat bahwa pak tua Jim tidak datang. Setelah beberapa hari tanpa kedatangan Jim, ia mulai khawatir. Ia pergi ke pabrik, ia bertanya tentang Jim dan diberitahu bahwa Jim sakit. Staff rumah sakit merasa khawatir, tapi ia menenangkan mereka. Minggu ketika Jim bersama mereka, ia membawa perubahan di bangsalnya. Senyumnya menularkan kebahagiaan ke semua orang. Ia mengubah orang-orang.
Kepala suster tidak bisa mengerti mengapa Jim begitu bahagia, padahal tidak ada kiriman bunga, telepon, maupun kiriman kartu-kartu ucapan, tidak ada seorangpun yang menjenguknya. Pendeta itu duduk di samping tempat tidurnya, dia menyampaikan kata-kata suster itu. Tidak ada teman datang untuk menunjukkan perhatian. Dia tidak memiliki tempat.
Pak tua Jim terkejut, dengan senyum bijaksanan ia berkata, “Suster itu salah, dia tidak pernah tau, setiap hari di siang hari, Dia disini, mendekatiku dan berkata, “Aku datang lagi hanya untuk mengatakan padamu, Jim, betapa bersuka-citanya Aku sejak Aku menemukan persahabatan ini dan Aku menghapus dosamu. Aku selalu suka mendengar doamu, Aku memikirkanmu setiap hari, jadi Jim, ini Yesus datang hari ini.”
Siapa kita sekarang adalah hasil dari masa lalu. Semua kita punya bekas luka dan cacat dari perkataan dan tindakan orang lain maupun dari kesalahan dan kegagalan kita. Tetapi sebagai anak Tuhan, ini bukanlah akhir cerita.
Roh Tuhan memakai firman-Nya untuk membentuk ulang kita menjadi ciptaan yang baru. Bekas luka dari masa lalu menjadi batu loncatan untuk kedewasaan rohani, pegang 10 prinsip dari Firman tuhan yang ditulis oleh Ed Young dan ijinkan Tuhan membentuk ulang paradigma tentang dirimu.
10. Aku diciptakan. Karena kita buatan Allah… Efesus 2:10
9. Aku disiplin. Kita tahu bahwa Ia telah memilihmu… 1 Timotius 1:4
8. Aku dijaga. Menjagaku seperti biji mata-Mu… Mazmur 17:8
7. Aku tak berkekurangan. Kuasanya memberikan semua yang kubutuhkan di dalam hidup ini… 2 Petrus 1:3
6. Aku berkemenangan. Dalam semuanya ini, kita lebih dari pemenang… Roma 8:37
5. Aku dipanggil. Tuhan memiliki rancangan dan kasih karunia… 2 Timotius 1:9
4. Aku diampuni. Tidak ada lagi tuduhan… Roma 8:1
3. Aku dibebaskan. Kebenaran akan membebaskanku… Yohanes 8:32
2. Aku dicintai. Aku dicintai dengan kasih yang tak berakhir… Yeremia 31:3
1. Aku diterima. Galatia 4:5
Kamu bisa menulis sepuluh hal di atas secarik kertas dan menempelkannya di meja belajar atau lemari bajumu. Setiap saat, perbaharui paradigma mengenai dirimu melalui Firman Tuhan itu. Kamu akan mengenal dirimu dari cara pandang Allah. Kegagalan bukanlah sebuah pilihan. Kegagalan bukan juga sebuah akhir. Kegagalan menjadi momen untuk mengenal Allah dan bangkit bersama dengan-Nya.
Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya utk menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah ia di bawah sebuah pohon yang rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. “Anakku apa yang sedang engkau lihat?” tanya sang ayah.
“Oh lihatlah ayah sekawanan semut itu, mereka begitu sibuk mengangkat daun menuju sarang. Untuk apa sebenarnya daun-daun itu?”, tanya Salomo kepada ayahnya.
“Daun itu adalah makannya, anakku. Ini adalah musim dimana mereka biasa mengumpulkan makanan, untuk bekal ketika salju mulai turun menutupi bumi”, Jawab Daud.
“Lihatlah mereka begitu kecil tapi sanggup mengangkat daun yang begitu besar, bahkan jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri. Ternyata semut tidak selemah yang aku kira selama ini”, sambung Salomo. Dia tampak begitu heran dan kagum dengan pemandangan yang sedang dilihatnya.
“Yah itulah Kuasa Tuhan, bahkan binatang yang paling lemah diberikan Tuhan kekuatan melebihi yang lain. Tuhan itu adil. tahukah kamu anakku, semut yang kecil ini sanggup mengangkat beban yang bahkan 10 kali lebih berat dari tubuhnya. Seekor gajah yang paling besarpun tidak akan sanggup menandingi kekuatan seekor semut. Anakku, jangan pernah sekalipun engkau meremehkan mereka yang tampak lemah. Belajarlah dari semut! Jika engkau nanti menjadi seorang raja”, jawab Raja Daud.
“Engkau tahu berapa lama mereka akan mengangkat makanan-makanan itu?”, tanya Raja.
“Entah ayah, mungkin sampai nanti sore”, jawab Salomo.
“Tidak nak, tidak seperti itu. Mereka akan terus bekerja mengumpulkan makanan hingga musim dingin tiba. Lihatlah bagaimana mereka bekerja! Mereka seakan tidak pernah lelah. Tidak ada yang diam, tidak ada yang tampak sedang asik bersantai bukan?”, sambung Raja Daud.
“Ya, ayah benar. Mereka semua bekerja! Tapi Ayah, mungkinkah karena mereka takut akan dihukum jika tidak bekerja? mungkin ada yang sedang mengawasi mereka bekerja”, Salomo mencoba mengajukan argumennya.
“Tidak, tidak ada yang mengawasi, semut bukan budak dari siapapun. Semut hanya memiliki seorang ratu yang bertugas melahirkan para semut, sedangkan sebagian besar semut adalah jenis pekerja dan sisanya adalah semut prajurit yang bertugas menjaga koloni dan ratu mereka. Tapi tidak untuk mengontrol para pekerja”, jawab Raja Daud.
“Anakku, jika engkau mau merenungkannya, engkau bisa belajar banyak dari kehidupan para semut”, sambung Raja Daud.
“Apakah itu ayah, katakanlah supaya aku ini mengert”, Pinta Salomo.
“Baiklah, supaya engkau tahu, semut adalah binatang yang bijaksana, yang menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Mereka menyadari ada waktu untuk mengumpulkan dan bekerja serta ada waktu untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. tak satupun dari mereka yang berusaha mencuri waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, semua beristirahat, tidak ada yang bekerja. Mereka makan dan minum, berpesta sambil menanti datangnya musim semi.”
“Yang kedua, sebagai semut, mereka tahu bagaimana hidup dalam bersama dalam komunitasnya. Setiap semut paham akan tugas dan perannya masing masing. Mereka menjalankan tugasnya dengan setia. Mereka tidak perlu dipaksa dan tidak perlu didikte. Mereka tetap bekerja tanpa perlu diawasi. Tiap-tiap semut akan melakukan tugasnya dengan sukarela dan sungguh-sungguh. Yang satu tidak iri dengan yang lain. Selain rajin, semut adalah binatang yang memiliki integritas tinggi.”
“Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut.”, sambung Sang Daud.
Tak terasa hari semakin siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Digandengnya tangan Salomo, “Anak ku sudah saatnya untuk pulang. Masih cukup waktu untuk kamu bisa merenungkannya nanti.”
Ya masih banyak waktu bagi kita untuk merenungkan, betapa tidak sempurnanya kita sebagai manusia, hingga masih harus belajar dari para semut.
Selasa siang itu Jon mengajakku untuk ‘ngopi' di kedai kopi yang biasa kami datangi. Jon baru bangun tidurnya kayaknya, karena pekerjaan Jon sebagai pembersih kantor (janitor) yang dilakukan pada malam hari. Maka pagi harinya dia harus tidur. Baru siang ini dia sempat bertemu denganku. Aku mengenal Jon sekitar setahun yang lalu. Jon berasal dari Filipina, maka dia dapat bergaul denganku. Mungkin kebiasaan atau kebudayaan kami masih mirip dari Asia Tenggara.
Kamipun ngobrol ‘ngalor ngidul' sambil tidak lupa menyeruput kopi kami. Aku mengenal Jon di gereja. Meski Jon tidak melayani tetapi dia sering datang ke gereja hampir setiap Minggu. Dia datang bersama dengan istri dan anaknya. Jon rupanya seseorang yang bukan pandai bergaul. Tetapi sebagai entah bagaimana kami berdua bisa ‘cocok'. Kami tidak merasa kaku untuk bercakap-cakap. Dan kebetulan kami juga suka minum kopi. Kadang jika pada bulan tua, Jon tidak mempunyai uang untuk jajan, aku membelikan dia segelas kopi. Dan kamipun ngobrol sambil ‘ngopi'.
Sejak Selasa siang pertemuanku di kedai kopi itu, sampai dua minggu ini aku belum bertemu lagi dengan Jon. Pada hari Minggu dia juga tak tampak di gereja. Aku bertanya kepada diaken gereja. Mereka tidak tahu akan kabar tentang Jon, tetapi mereka akan mengunjungi Jon dalam minggu ini.
Keesokkan hari, sebelum berangkat pergi bekerja aku membeli surat kabar pagi. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah foto kecil di halaman depan sebelah kiri surat kabar. Itu adalah foto Jon. Bibirku terasa panas tersengat oleh kopi yang kuminum. Jon masuk surat kabar. Jon mendapatkan hadiah undian 5 juta dollar. Aku tidak memperhatikan berita utama, tetapi aku cepat membaca kisah Jon yang memenangkan undian. Wah, 5 juta dollar bukan jumlah yang sedikit, pikirku. Aku pun turut senang kalau Jon mendapat uang 5 juta dollar. Tapi mengapa harus lewat undian, tanya dalam hatiku.
Apakah Jon yang kukenal di gereja itu seorang Kristen? Karena kukira orang Kristen tidak boleh membeli undian atau lotre. Pikiranku melayang, wah, bagaimana ya rasanya kalau aku memenangkan hadiah 5 juta dollar. Apa yang akan aku perbuat ? Kadang aku berpikir betapa enaknya mengantongi uang sebanyak itu dan setelah itu aku tidak perlu bekerja keras lagi. Aku mendepositokan uang itu dan makan bunganya. Aku hanya bekerja melayani Tuhan. Aahh ... pikiranku mulai berkhayal tidak keruan.
Seminggu kemudian aku bertemu dengan Jon kembali dengan tidak sengaja. Karena kami sekeluarga diundang menghadiri ulang tahun dari teman sekolah putriku. Pertemuanku yang tak sengaja itu membuatku gembira melihat Jon. Dan penampilan Jon tampak beda sekali. Dia memakai jas hitam yang keren serasi dengan sepatu pestanya, rambutnya yang mengkilat disisir dengan rapi, tampak kalung emas mengalungi lehernya, cincin emas terpasang di jari tangan kanannya.
Aku takkan mengenali Jon kalau kami bertemu di jalan. Dia sungguh beda. Aku merasa senang melihat penampilannya. Berbeda sekali ketika kami berdua sering minum kopi. Jon hanya mengenakan kaos oblong yang sederhana, sepatu olahraga dan topi hitamnya.
Jon melihat ke arahku. Aku pun menyapanya. Ke mana saja selama ini, aku bertanya. Dia tertawa lebar. Dan menjabat tanganku dengan percaya diri. Ternyata dia ke Disneyland bersama keluarganya selama 12 hari. Lihat nggak fotonya di surat kabar kemarin, tanyanya. Oh ya tentu dong. Aku pun mengucapkan selamat padanya. Dia hanya beruntung (lucky) katanya. Setelah itu dia berbicara dengan seorang pengusaha kayu di ujung ruangan. Aku hanya melihat, Jon memang tidak luput dari gejala kejiwaan OKM (Orang Kaya Mendadak). Dia menjadi bintang besar hari itu.
Beberapa bulan telah berlalu, aku tidak pernah bertemu lagi dengan Jon di gereja. Hari-hariku yang biasa ‘ngopi dan ngobrol' bersama Jon. Sekarang kuisi dengan ‘ngopi dan membaca buku' di kedai kopi yang sama pula. Jon tidak pernah datang lagi untuk ‘ngopi'. Dia mungkin sedang terbang berkeliling dunia. Sibuk membuat daftar beli. Aku dengar dia berencana membeli rumah mewah dengan enam kamar. Membeli mobil baru untuk dirinya sendiri dan istrinya. Membeli vila mewah untuk berlibur. Jon ingin membeli ini ... membeli itu .... Entah dimana sekarang Jon berada.
Hmmm ... terasa nikmat kopi yang baru kuhirup. Selintas aku memikirkan peristiwa Jon temanku itu. Bukankah aku kadang berdoa kepada Tuhan, betapa indahnya hidupku jika aku menyimpan sejumlah uang yang cukup banyak di bank. Aku tidak perlu kuatir lagi kalau suatu hari aku nanti dipecat dari pekerjaanku. Aku dapat memberi uang belanja yang lebih pada istriku dan mengajaknya berbelanja di pusat perbelanjaan yang mewah. Aku dapat membelikan mainan kepada anakku setiap waktu. Aku tidak perlu harus bangun tidur jam enam pagi setiap hari untuk berangkat kerja.
Apakah hidupku yang demikian akan membahagiakan diriku? Aku akan merasa senang? Istriku akan bahagia? Keluargaku akan harmonis? Apakah hal itu saja yang kucari dalam hidup ini? Uang atau harta yang akan memuaskan hatiku? Sering kudengar, seberapa banyak uangmu atau hartamu yang kau peroleh, hal itu tidak akan pernah memuaskan hatimu.
Aku teringat dengan ayat Alkitab yang mengatakan, celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh pernghiburan. Lukas 6:24. Apakah salah kalau aku kaya? Bukankah kalau aku kaya aku dapat melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang ?
Tapi aku juga teringat dengan cerita Alkitab anak muda yang kaya, yang pada akhirnya Tuhan Yesus berkata, "sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalama Kerajaan Surga." Ah... aku teringat peristiwa Jon. Memang benar, jika aku berada di posisi Jon, apakah aku masih dapat mengasihi Tuhan lebih dari mengasihi uangku ? Bukankah Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya mengenai ornag muda yang kaya itu karena, orang muda itu tidak dapat meninggalkan uangnya. Hatinya telah direbut oleh uangnya, oleh keindahan material dunia yang dibeli dengan uangnya. Sehingga dia lebih mengasihi uangnya daripada Tuhan.
Kadang aku juga curiga, apakah aku berpikir demikian karena mungkin aku mempunyai perasaan iri hati kepada Jon ? Ah, tidak. Aku hanya membayangkan kalau diriku sekaya Jon sekarang ini. Apakah aku masih mengasihi Tuhan? Apakah aku dapat menggunakan uang itu untuk pekerjaan Tuhan, atau itu hanya lamunanku. Karena seringkali manusia berjanji, ‘aku ingin melayani Tuhan, aku ingin membiayai pekerjaan Tuhan dengan uangku', tetapi pada waktunya ketika uang ada ditangan, manusia mempunyai seribu satu alasan untuk tidak menepati janjinya.
Bisa jadi bukan? Jika Tuhan tidak memberikan berkatNya (uang) padaku, karena Dia tahu aku bakal lemah, melupakan Tuhan, meninggalkan Tuhan, ketika aku menerima berkat itu. Bukankah lebih baik aku dalam keadaan seperti ini yang tidak kekurangan maupun tidak berkelebihan tetapi aku masih mengasihi Tuhan dengan tulus. Keadaanku yang senantiasa membuatku tersadar akan berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidupku setiap hari.
Aku hanya kehilangan Jon. Kehilangan waktu kami mengobrol. Kehilangan rasa persahabatan kami. Entah kapan aku dapat bertemu dengan Jon kembali. Semoga Jon masih tetap mengutamakan Tuhan dalam hidupnya yang telah berubah itu.
Lukas 5:10b-11 Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 1; Matius 1; 1 Raja-Raja 17-18
Ada seorang ibu tiri yang baik. Seorang wanita yang sangat membenci dosa, kekasaran, kekerasan dan kemiskinan. Wanita ini sering memanggil anak tirinya yang tinggi, kurus, dan rendah diri, “Abe, be someone!” Bertahun-tahun kemudian, si Abe mengucapkan sumpah jabatan karena menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.
Abraham Lincoln menjadi presiden Amerika Serikat melalui perjalanan yang berliku-liku. Dia dilahirkan di padang belantara Kentucky, dididik di kalangan keluarga miskin, tanpa menikmati keuntungan dari pendidikan formal, televisi, dan lampu listrik. Pada masa kecilnya, ia hanya seorang anak laki-laki kurus yang berbaring pada waktu malam dan membaca buku yang dipinjamnya di muka perapian. Namun ia mempunyai kemampuan berpikir, berdoa dan bermimpi. Terinspirasi dari Alkitab serta buku-buku yang dibacanya, ia mempunyai semangat untuk menjadi seorang presiden, orang nomor satu di Amerika Serikat. Didikan Nancy Hanks, ibu kandungnya yang meninggal karena wabah sakit susu dan ibu tirinya yang baik membuat Abe menjadi seseorang.
Ingin menjadi seorang macam apakah kita? Tempat dan fasilitas hidup bukan penentu utama. Kemampuan berpikir yang benar, berdoa, dan bermimpi serta berpengharapan itulah yang menentukan kita. Jadilah seseorang! Seseorang yang baik dalam pekerjaan dan kehidupan!
Sebelum Anda berhasil, Anda harus punya sebuah tujuan akhir.
Jawaban.com
Tuhan Yesus memang penuh kasih. Kasih-Nya luar biasa, dengan penuh kesabaran Ia membiarkan kisah kehidupan-Nya dijadikan komoditas yang mampu menghasilkan perak lebih dari tiga puluh keping. Sekarang makin banyak Yudas yang “menjual” Yesus. Mulai dari si novelis Dan Brown dengan novelnya Da Vinci Code hingga sang editor modern Rodolph Kasser yang sukses mengeruk perak dari “injil” Yudas, termasuk James M. Robinson yang bukunya The Secrets of Judas ikut laris terjual. Setidaknya Tuhan Yesus “memberkati” mereka melalui pelanggan baca, bukan?!? “Puji” Tuhan! Tapi sayangnya perak mereka tidak pernah disetor ke bait Tuhan. Tapi kalau toch disetor, Gereja pasti bingung menerimanya antara mau dan “bau” yang tak sedap.
Banyak “injil” baru, yang mulai published, ada injil Thomas, injil Maria Magdalena, injil Filipus, injil Orang Mesir bahkan injil kebenaran yang kemudian terkenal sebagai “kitab Jung” karena dipopulerkan oleh Carl Jung, psikolog terkenal itu. Yudas anak Simon asal Iskariot mendadak kembali populer, semenjak “injil Yudas” bisa dibeli. Yesus digugat dan Yudas dibela. Yesus “bersalah dan” Yudas “benar.” Yesus didakwa telah “memanfaatkan” kebaikan Yudas. Yesus didakwa mengorbankan Yudas demi obsesi-Nya. Yudas memang pahlawan dan Yesus?? Hebat, dakwaan yang spektakuler! Menggemparkan dunia. Getsemani dan Golgota rupanya sudah diulang kembali. Dunia memang menolak Kristus (Yoh.1:10).
Relativitas vs Otoritas
Pemutarbalikkan fakta adalah sifat Iblis, sejak kasus Eden, yang meraih puncaknya pada peristiwa dakwaan di Sanhedrin malam Jumat itu. Saksi palsu didatangkan, yang dengan gagah berani menyaksikan kepalsuan untuk orang yang pernah menyembuhkan, membangkitkan, memberikan roti gratis, mengusir setan bagi saudara-saudaranya bahkan mungkin juga dirinya. Aparat keamanan dan pejabat negeri terima suap dengan tanpa rasa malu. Kontrasnya, semua murid ketakutan dan lari menyaksikan Kristus dilucuti, dipecuti, diludahi dan dipisui.
Menyimak kebohongan dan kata kotor tanpa berbuat apa-apa menjadi jalan keluar yang lepas konflik. Bungkam terhadap kesalahan adalah jalan bijak nan aman. Play save-lah, jangan terlalu lurus nanti sepi teman. Kurang wajar akan menjadi status baru kalau terus mengikuti kebenaran. Inilah pelangi relativitas, TST, tahu sama tahu.
Tapi, sadarkah bahwa membiarkan kadangkala bisa disamakan sebagai tindakan pasif. Membiarkan rekan sekantor membuat nota palsu sama dengan ikut menandatangani secara diam-diam. Membiarkan teman segereja tidak bertanggung-jawab sama dengan merusak apa yang sudah ditata. Tapi, ada juga membiarkan yang aktif, namanya memanfaatkan. Membiarkan teman korupsi, supaya suatu kali kelak kalau kepepet … ya ikutlah. Membiarkan saudaranya berselingkuh, karena ada “kenikmatan” tersendiri dari relasi gelapnya entah ikut nggrayangi entah ikut kecipratan uang diam, hitung-hitung nambah rejeki.
Kristus adalah kebenaran. Sehingga di dalam Kristus berarti berada di dalam kebenaran. Ia mutlak tak bersalah, sehingga segala keputusan-Nya mutlak benar. Itulah sifat otoritas tertinggi. Ia, yang “Ada” (I am that I am, Yahweh), membuat ada dengan mutlak benar. Sehingga setiap keberadaan dibuat-Nya untuk benar. Tapi, kebenaran telah digeser oleh relativitas.
Iblis selalu menginspirasikan anti kebenaran mutlak dengan membuat kebenarannya sendiri, yaitu relativitas. Ia suka membolak-balik hukum. Tidak ada kepastian adalah sifatnya. Tidak jelas, warna kesukaannya. Itulah sebabnya, penyaliban Tuhan Yesus tidak jelas apa kesalahan-Nya selain karena alasan kedengkian para imam kepala (Mat.27:18; Mrk.15:10). Orang bisa lebih memilih Barabas, yang sudah terkenal kejahatannya, ketimbang Yesus yang terkenal belas kasihan dan kebaikannya. Cara menggeser kebenaran, dilakukan Iblis dengan cerdik. Pelan tapi pasti, dan malah menumbuhkan rasa simpati. Hidup yang tertib, dalam kebenaran, dianggap kaku dan kurang menyatu dengan lingkungan. Toleransi mengalahkan esensi. Hukum relativitas mengatasi otoritas.
Akibatnya, penghakiman terhadap penciptanya terjadi berulang lagi. Rasa bersalah telah pergi diganti dengan rasa benar yang mengandung relativitas tinggi. Kecerobohan dan keserakahan diabaikan, dilimpahkan sebagai kesalahan sang pencipta. Lumpur yang didesain untuk menopang daratan dikuras gara-gara bor kerakusan “lupa” dibungkus casing yang tepat, sehingga kerupuk udang sulit didapatkan lagi; yang salah ya Tuhan karena kenapa menciptakan lumpur. Unggas yang namanya burung, dibuat untuk menunjukkan pemeliharaan Tuhan baik yang seduit maupun yang kalau dikumpulkan bisa menambah income para peternak satu Triliun Rupiah, telah pergi dalam sekejap oleh karena instruksi pimpinan tanpa kesan ketajaman para ilmuwan; yang salah ya Tuhan kenapa menciptakan burung. Kereta api yang mustinya dimuseumkan di Ambarawa, menemani rekan-rekan seniornya dari Belanda dan Jerman, eh masih saja dipaksa menarik, ya jebol; yang salah ya keretanya eh salah … relnya … eh salah … masinisnya … eh salah … tukang jaga palang … eh salah … ya Tuhan kenapa membuat kereta …?
Kompromi dan Dusta
Membiarkan Iblis merasuk berarti kompromi dengan roh jahat. Pada saat Tuhan Yesus memanggil para rasul untuk diutus, kuasa untuk mengusir roh jahat telah diberikan (Mat 10:1,8). Jadi khan aneh kalau murid sekaliber Yudas bisa kerasukan setan (Yoh 13:27; Luk 22:3) selain membiarkan, entah aktif atau pasif, Iblis membisikkan rencana jahat dalam hatinya (Yoh 13:2).
Sejak awal Tuhan Yesus mengetahui bakal ada satu yang menjadi Iblis (Yoh 6:70-71). Berulang kali Tuhan Yesus mengingatkannya. Paling tidak pada waktu kebiasaanya mencuri uang diperingatkan melalui peristiwa Yesus diurapi dengan narwastu 300 Dinar (Yoh 12:1-8), bukannya menyesal malahan merencana menyerahkan Yesus (Mat 26:14-16) dan ironisnya hanya dengan 30 keping perak atau setara dengan 120 Dinar! Maaf ya, mental murahan dan munafik!
Kemudian pada waktu perjamuan makan malam terakhir. Di depan ke-12 murid-Nya, Yesus mengatakan bahwa ada seorang murid yang akan menyerahkan Dia (Mat 26:21), yang ditandai lebih dulu dengan mencelupkan tangannya bersama Dia (Mat 26:23). Lucunya justru Yudas bertanya, “Bukan aku, ya Rabi?” (Mat 26:25), padahal ia sudah berencana menyerahkan-Nya sebelumnya. Dan Yesus menjawab “engkau telah mengatakannya” sambil memberikan roti yang telah dicelupkan. Seketika setelah itu, Iblis merasuki Yudas. Tuhan Yesus masih sekali lagi memperingatkan, “apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera” (Yoh 13:27). Dan, masih sekali lagi, di taman Getsemani. Tuhan menanyakan soal makna ciumannya.
Seseorang yang kompromi dengan roh jahat sampai akhir akan berakhir dengan tragis. Kompromi, yang mengalahkan kebenaran, membuat peringatan Tuhan tidak berarti. Sejak semula Iblis bertujuan membunuh manusia (Yoh 8:44), dengan cara menjebak ke dalam dusta. Yudas sudah menuainya, dengan mengakhiri hidupnya dalam tipuan besar hingga Tuhan Yesus mengatakan celakalah orang yang menyerahkan-Nya dan lebih baik untuk tidak dilahirkan. Berbagai dusta diproduksi setiap hari. Hitung saja berapa kali jawaban, “saya tidak tahu” diucapkan demi amannya.
Akhirnya, matikanlah dalam dirimu, segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (Kol 3:5-6). SELAMAT PASKAH!
Pdt. Budimoeljono Reksosoesilo
Pasangan keluarga muda baru saja pindah ke rumah barunya. Pagi berikutnya, saat mereka sarapan, wanita muda pasangan itu melihat tetangganya sedang menjemur cuciannya di rumah sebelah.
“Cuciannya masih belum bersih,” katanya.
“Ibu itu tidak kelihatannya tidak bisa mencuci dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih baik.”
Mendengar komentar itu suaminya hanya diam saja. Setiap pagi pada saat tetangganya menjemur cuciannya, wanita muda itu selalu memberikan komentar yang sama. Satu bulan kemudian, wanita muda itu terkejut karena melihat semua cucian tetangganya dalam keadaan bersih tergantung di tali jemuran, kemudian berkata pada suaminya, “Lihat! Ibu itu akhirnya belajar bagaimana mencuci dengan baik. Siapa ya yang telah mengajarinya?”
Suaminya berkata, “Hari ini saya bangun pagi-pagi dan membersihkan semua kaca jendela rumah kita.”
* * * * * *
Demikian juga kehidupan ini: Saat kita mengamati orang lain itu tergantung dari kebersihan “kaca jendela” tempat kita melihat. Sebelum kita melontarkan kritik, adalah lebih baik kalau kita merenung dahulu dan bertanya pada diri sendiri apakah kita siap melihat hal yang baik lebih dari sekedar mencari sesuatu di dalam diri orang lain untuk kita hakimi.
Wishing you a Happy Sunday… :)
Seorang cendekiawan di Baghdad pada jaman kuno dikatakan ia orang yang sangat arif.
Pada suatu hari, seorang kawan bertemu dengan orang yang terpelajar ini dan mengatakan, “Apakah Anda sudah mendengar tentang kawan kita?”
“Tunggu sebentar,” jawab orang bijak itu. “Sebelum Anda melanjutkan, bisakah aku menanyakan beberapa hal? Apakah yang hendak Anda katakan sesuatu yang benar?”
“Aku tak tahu,” jawab teman itu.
“Baiklah,” kata orang bijak itu. “Anda mengatakan bahwa tidak tahu. Ijinkan aku menanyakan lebih lanjut.”
“Apakah yang Anda ingin ceritakan tentang sesuatu itu baik?”
Orang itu menjawab, “Tidak!”
Kalau begitu, pertanyaanku yang ketiga adalah, “Apa yang kamu ingin ceritakan itu ada manfaatnya bagiku?”
“Tidak ada,” kata teman itu.
Kemudian orang bijak itu mengatakan, “Bila Anda tidak tahu apakah itu benar, tidak baik dan tak ada manfaatnya untukku, lalu mengapa Anda ingin menceritakannya kepadaku?”
Pelajaran yang dapat diambil dari cerita diatas adalah sebelum Anda menceritakan sesuatu tentang orang lain, tanyakannya kepada diri Anda, apakah kabar itu dapat melalui ketiga macam ujian itu? Dengan kata lain, “Apakah berita yang ingin kuteruskan itu benar, baik dan manfaatnya untuk orang lain?”
Bila kabar itu dapat melalui tiga macam tes itu maka beritakanlah. Namun, bila tidak, lebih baik menutup mulutmu.
Bila Anda tidak dapat mengatakan sesuatu yang baik tentang seseorang, maka tutuplah mulutmu!
Steve Goodier
“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” - 1 Yohanes 2:15-17