Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 June 2009

Saya Belajar

Saya belajar apa yang saya anggap terbaik, bukan tentu yang terbaik dari-Nya. Dan sebaliknya, yang terbaik dariNya belum tentu kita senangi. Teruslah bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat dan karunia-Nya. Manusia hanya dapat terus berdoa dan berusaha untuk mendapat yang terbaik dari-Nya.

Saya belajar seberat apa pun cobaan yang diberikan oleh-Nya, pada akhirnya akan membuat kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Syukurilah seluruh anugerah-Nya dengan hati ikhlas dan tulus. Everything happens, happens 4 a reasons.

Saya belajar bahwa kedewasaan itu lebih berkaitan dengan berapa banyak pengalaman yang kita miliki dan apa yang kita pelajari dari pengalaman tersebut, dan kurang berkaitan dengan telah berapa tahun usia kita.

Saya belajar walaupun kita berpikir tidak ada lagi yang dapat kita berikan dan lakukan, ketika seorang teman kesusahan dan membutuhkan kita, kita akan selalu menemukan kekuatan dan jalan untuk terus menolong.

Saya belajar jangan membandingkan diri sendiri dan kesusahan kita dengan orang lain, karena masing-masing kita berbeda.

Saya belajar bahwa latar belakang & lingkungan mempengaruhi pribadi saya, tapi kita tetap bertanggung jawab & menentukan masa depan kita sendiri.

Saya belajar bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan kita.

Saya belajar bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya dapat berlaku sesuka hati saya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Saya belajar bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya....

Saya belajar jangan menilai orang dari penampilannya saja, itu bisa menipu. Bicara dan kenalilah orang tersebut lebih mendalam. Setiap orang memiliki kelebihan dan kebaikannya masing-masing,meskipun tidak ada orang yang sempurna di dunia.

Saya belajar di saat susah lebih terlihat mana teman sejati dan bukan.

Saya belajar bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda yang sama, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri....

Saya belajar bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa saat saja untuk menghancurkannya...

Saya belajar bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya...

Saya belajar hanya karena 2 orang berbeda pendapat dan tidak terlihat mesra, bukan berarti mereka tidak saling menyayangi, mencintai & setia. Dan hanya karena mereka selalu sependapat dan terlihat mesra, bukan berarti mereka selalu saling menyayangi, Mencintai & saling setia.

Saya belajar bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak menyayangi saya....

Saya belajar bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain menyayangi saya. Saya hanya dapat menunjukkan & melakukan sesuatu untuk orang yang saya sayangi... selanjutnya terserah mereka

24 June 2009

Target, Target dan Targett!!!

Wahyu 3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 25; Filipi 2; 1 Raja-Raja 13-14

Dalam kehidupan dunia kerja saat ini, tidak ada yang memiliki pekerjaan tanpa target. Semua bonus, penilaian efektivitas kerja, peningkatan jenjang karier, bahkan sampai besarnya gaji pokok yang diterima seorang karyawan seringkali dilihat dari pencapaiannya akan target yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Ketika saya masih bekerja di bank, setiap hari hal yang saya lakukan hanyalah mengejar target, target dan target. Karena dari sanalah insentif saya akan diperhitungkan. Jika sampai tidak mencapai target, tidak hanya saya yang akan mendapatkan penghasilan minimum di bulan itu, tapi saya juga akan dianggap menghampat pencapaian target tim secara keseluruhan karena secara tim perusahaan pun menetapkan targetnya tersendiri. Jadi setiap orang dalam departemen kami saling berhubungan sebagai tim, dan tidak bisa bekerja sendiri.

Saya teringat ketika target terasa sudah sangat menyesakkan karena sulitnya hal yang harus kami lakukan, pemimpin saya pada saat itu mengumpulkan kami sebagai satu tim dan menggambarkan tim kami sebagai sebuah pensil. Beliau hanya mengatakan, "Saya mengerti jika kalian merasa target kita sepertinya sulit untuk dicapai. Tapi tidak ada yang kita tidak bisa bila kita mengerjakannya bersama-sama. Bayangkanlah tim kita sebagai sebuah pensil, dan target itu bagaikan seutas tali yang diikat di pensil ini. Apa yang akan terjadi bila pensil ini diikat oleh tali yang longgar? Pensil itu tentu akan jatuh bukan? Tapi kalau pensil ini diikat tali dengan kuat, semakin kuat ikatannya, semakin stabil dan fleksibel pensil ini. Kita bisa membawa pensil ini pergi ke manapun dengan seutas tali ini, sepanjang ikatannya kuat.

Demikian juga dengan target. Semakin ketat target yang harus kita capai, semakin tinggi dan semakin fleksibel tim kita untuk menghadapi target-target berikutnya. Setiap target akan membuat kita semakin handal dan profesional. Kedisiplinan akan lahir dari pencapaian kita akan target. Jadi, jangan pernah menyerah karena keberhasilan dan kemenangan sudah menanti di depan kita," ujarnya kala itu.

Saat ini, meskipun saya sudah bekerja di perusahaan lain, bila target pekerjaan begitu menekan saya, saya selalu teringat akan perkataan pemimpin saya saat itu. Dan semangat pun kembali bangkit. Demikian juga ketika saya melihat kepada kehidupan manusia. Seringkali kita menjalaninya hanya seperti air yang mengalir, terjadilah apa yang harus terjadi. Padahal Tuhan merindukan agar kita menjadi pemenang, penakluk dan pejuang kebenaran. Kita tidak bisa membiarkan hidup kita berjalan apa adanya, karena target kehidupan yang harus kita jalani dalam setiap detik, setiap menit kehidupan kita adalah memperjuangkan kebenaran firman Tuhan itu nyata melalui hidup kita.

Hidup tanpa target bagaikan prajurit yang menguasai semua tekhnik berperang tapi tidak pernah terjun ke medan perang. Ia tidak akan pernah menyandang gelar pahlawan ataupun pejuang sejati. Potensinya yang sejati sebagai seorang prajurit tidak akan keluar bila ia tidak terlatih di dalam peperangan yang sesungguhnya.

Jadilah penakluk dalam kehidupan, raih kemenangan dan jangan biarkan hidup Anda mengalir apa adanya.

Telur Columbus

Sepulang Columbus dari perjalanannya yang fenomenal “menemukan” benua Amerika, berbagai penghargaan dan penghormatan datang melimpahinya. Namanya tenar dan perjalanannya menjadi pembicaraan di mana-mana. Walaupun banyak orang yang mengakui pekerjaannya sebagai sebuah prestasi, ternyata tidak semua orang dapat mengapresiasi dan menerima penghargaan yang diberikan atas kepeloporan Columbus. Apapun motif yang ada di benaknya, mereka senantiasa mencela Columbus.

“Ah, kalau cuma melakukan perjalanan seperti itu aku juga bisa, cuma aku saja yang nggak mau,” kata mereka.

Mendengar kata-kata miring yang ditujukan kepadanya, Columbus mendatangi mereka sambil membawa sebutir telur. Katanya, “Kalau kamu memang bisa melakukan seperti yang aku lakukan, sekarang tolong kamu buat supaya telur ini dapat berdiri tegak pada ujungnya.”

Mendapat tantangan Columbus, orang-orang itu satu persatu mencoba memberdirikan telur itu. Semua mencoba dan semua gagal karena telur itu selalu terguling setiap dicoba untuk diletakkan pada posisi berdiri. Setelah berulang-ulang mencoba dan gagal, akhirnya mereka menyerah.

“Kalau kalian menyerah, maka aku akan tunjukkan kepada kalian bagaimana membuat telur itu dapat berdiri di meja,” kata Columbus. Maka diambilnya telur itu, lalu diletakkannya dengan keras di meja sehingga bagian bawahnya retak. Dan telur itupun dapat berdiri di atas meja.

Melihat telur dapat berdiri di meja tapi dilakukan dengan cara seperti itu, orang-orang kemudian protes. “Kalau caranya seperti itu, kami semua juga dapat membuat telur itu berdiri di atas meja.”

“Kalau kamu dapat melakukan seperti yang aku lakukan, mengapa kamu tidak melakukannya sejak tadi..?”

***

Kalau tidak berhati-hati menjalani keseharian, kita bisa jatuh pada sikap seperti orang-orang yang mencela Columbus; meremehkan sebuah prestasi hanya karena menganggap diri kita bisa melakukan hal yang sama. Yang kadang kita lupa dan sering abaikan, “merasa bisa” dan “terbukti bisa” adalah dua hal yang berbeda.

Padahal, memuji dan menghargai dengan tulus kepeloporan orang lain justru menunjukkan kerendahan hati dan ketinggian kualitas pribadi seseorang.(Sumardiono)

23 June 2009

Tulang Rusuk

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih?

Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. Ya, tentang cinta.

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku!

Ada tertulis, “Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan.

Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah..

“Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”

Lima tahun berlalu… Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara..

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, ditempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas..

Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.

Dara tersenyum manis, lalu berlalu.

“Good bye....”

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”

22 June 2009

Kepercayaan

“Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” – Ibrani 10:35

Kepercayaan berarti kepastian pikiran, keyakinan yang teguh, bisa diandalkan, bisa dipercayai. Kali ini kita akan mempelajari bersama sejumlah alasan mengapa kepercayaan bisa melemah dan bagaimana mencegah terjadinya kejatuhan.

1. Mengijinkan orang lain untuk memanipulasi Anda.
Kalau ini terjadi larilah menghindar seperti yang dilakukan Yusuf. “… Yusuf… lari keluar.” - Kej 39:13. Ambil langkah, menghindar dan pusatkan diri Anda dalam Kristus saja – motivasi datang dari dalam – dorongan semangat, kekuatan, atau keberanian datang dari luar – manipulasi datang dari musuh.

2. Menjadi terlalu lelah (kelelahan)
Kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan Anda merasa tertekan, kosong, kesepian, kehilangan kekuatan dan tidak berdaya jadi istirahatlah, tidurlah seperti yang dilakukan Elia, “… sesudah itu ia berbaring dan tidur…” – 1 Raj 19:5. Kadang-kadang berbaring dan tidur merupakan hal paling rohani yang dapat Anda lakukan.

3. Membanding-bandingkan
Membanding-bandingkan akan membawa Anda pada dosa untuk mengingini, seperti yang dilakukan oleh Daud, “…tampak kepadanya…seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya.” – 2 Samuel 11:2 atau kritikan seperti yang dilakukan oleh Harun dan Miriam, “…sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bilangan 12:2).

4. Meragukan
Tomas tidak dapat melihat jadi dia meragukan - Yohanes 20:25

5. Membuat perencanaan sendiri untuk melakukan sesuatu
Jangan merespon seperti yang dilakukan Sara terhadap apa yang Allah firmankan ketika ia berkata, “…hampiri hambaku itu (Hagar); mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” (Kejadian 16:2) kalau itu yang Anda lakukan Anda akan menutup atau sama saja menyingkirkan, membuang pemberian terbaik yang Allah sedang persiapkan untuk diberikan kepada Anda. Terimalah rencana Allah untuk kehidupan Anda dan nantikanlah Dia untuk mewujudkannya. Meskipun visi itu lama penggenapannya… belajarlah untuk menanti dengan sabar.

6. Mengikuti dari kejauhan
Seperti Petrus (Markus 14:66-72). Dekatkanlah diri Anda senantiasa pada Allah dan terimalah keyakinan, keteguhan, kepercayaan yang datang karena pengenalan yang semakin mendalam akan kasih-Nya.

7. Mengikuti atau menyesuaikan diri dengan orang banyak
Seperti yang dilakukan oleh Yudas. Jadilah orang yang berbeda, Anda adalah unik berdasarkan rancangan Allah. Meskipun menghadapi 450 orang yang tidak benar, Elia (satu orang saja) bersama Allah, menjadi mayoritas demikian juga dengan Anda.

8. Fokus yang bercabang atau terbagi-bagi
Keyakinan, keteguhan, kepercayaan, ketahanan akan lenyap kalau fokus Anda bercabang atau terbagi-bagi. Satu komitmen yang terarah akan menjadikan keyakinan, keteguhan, kepercayaan atau ketahanan Anda tidak tergoyahkan. Karena itu jaga dan peliharalah persekutuan Anda dengan Bapa dan dengan keyakinan yang kuat tidak tergoyahkan itu menangkan pertandingan.

Keyakinan tidak akan direnggut dengan satu hempasan begitu saja, musuh akan menggerusnya sedikit demi sedikit sampai lenyap. Jalan keluarnya adalah tetap mengandalkan pada karya Salib yang telah diselesaikan oleh Yesus, dengan demikian saja keyakinan serta kepercayaan Anda akan menjadi semakin kuat dan membumbung tinggi.

Yogyakarta, 7 April 2008
Paulus Trimanto Wibowo

21 June 2009

Lucifer

Lucifer adalah nama yang seringkali diberikan kepada Setan dalam keyakinan Kristen karena penafsiran tertentu atas sebuah ayat dalam Kitab Yesaya. Secara lebih khusus, diyakini bahwa inilah nama Setan sebelum ia diusir dari surga.

Dalam bahasa Latin, kata “Lucifer” yang berarti “Pembawa Cahaya” (dari lux, lucis, “cahaya”, dan ferre, “membawa”), adalah sebuah nama untuk “Bintang Fajar” (planet Venus ketika muncul pada dini hari). Versi Vulgata Alkitab dalam bahasa Lain menggunakan kata ini dua kali untuk merujuk kepada Bintang Fajar: sekali dalam 2 Petrus 1:19 untuk menerjemahkan kata bahasa Yunani “Φωσφόρος” (Fosforos), yang mempunyai arti harafiah yang persis sama dengan “Pembawa Cahaya” yang dimiliki “Lucifer” dalam bahasa Lain; dan sekali dalam Yesaya 14:12 untuk menerjemahkan "הילל" (Hêlēl), yang juga berarti “Bintang Fajar”. Dalam ayat yang belakangan nama “Bintang Fajar” diberikan kepada raja Babilonia yang tirani, yang dikatakan oleh nabi akan jatuh. Ayat ini belakangan diberikan kepada raja iblis, dan dengan demikian nama “Lucifer” kemudian digunakan untuk Setan, dan dipopulerkan dalam karya-karya seperti “Inferno” oleh Dante dan Paradise Lost oleh Milton, tetapi bagi para pengguna bahasa Inggris, pengaruhnya yang terbesar disebabkan karena nama ini digunakan dalam Alkitab Versi Raja James, sementara versi-versi bahasa Inggris lainnya menerjemahkannya dengan “Bintang Fajar” atau “Bintang Siang”.

Sebuah nas serupa dalam Kitab Yehezkiel 28:11-19 mengenai raja Tirus juga diberikan kepada Setan, sehingga menambahkan gambaran lain kepada gambaran Setan dan kejatuhannya yang tradisional.

Yes14:12 : KJV: How art thou fallen from heaven, O Lucifer, son of the morning! how art thou cut down to the ground, which didst weaken the nations!

Terjemahan Resmi: "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Bahasa Sehari-hari: Hai raja Babel, dahulu engkau bintang pagi yang cemerlang, tapi sekarang sudah jatuh dari langit! Dahulu engkau mengalahkan bangsa-bangsa, tapi sekarang dicampakkan ke tanah.

Jika diamati dalam versi KJV, kalimat Allah ini sungguh mencerminkan kesayangannya pada Lucifer, sampai Allah memberi gelar "son of morning" hingga akhirnya Lucifer menghianati Dia.

sumber :
(writter daniel Fb Khotbah Jki Injil Kerajaan)
alkitab, NKJ, NIV
Yesaya 14:12
Yehezkiel 28:11-19

20 June 2009

Weekly Scripture – Mazmur 50:15

Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Sela - Mazmur 50:15

Rileks

Nats : Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum ... (Lukas 6:1)

Bacaan : Lukas 6:1-5

Kehidupan zaman sekarang penuh dengan tekanan; kesibukan dan ketergesaan seolah telah menjadi rutinitas. Bagaimana dengan Anda? Kapan terakhir Anda punya perasaan ingin berteriak sekeras-kerasnya? Kapan Anda merasa begitu ingin menangis? Apakah Anda mengalami kesulitan tidur pada malam hari dan terus diliputi ketegangan? Kapan terakhir Anda tersenyum dengan spontan? Kalau Anda sedang mengalami hal-hal itu, berarti Anda tengah mengalami gejala stres. Anda perlu waktu rileks. Rileks membantu me-recharge baterai kehidupan Anda.

Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Tuhan Yesus yang tengah berjalan di ladang gandum (ayat 1). Untuk apa Dia di sana? Alkitab memang tidak menjelaskan. Namun, sangat mungkin Dia tengah bersantai. Keluar sejenak dari kesibukannya, menikmati panorama alam pada Hari Sabat. Bisa dipahami, setiap hari Dia sangat sibuk -- mengajar, melayani orang banyak, menyembuhkan orang sakit. Begitu padat aktivitas-Nya, sampai kadang makan pun Dia tidak sempat (Markus 6:31). Rupanya Tuhan Yesus juga sangat memperhatikan saat-saat untuk rileks.

Rileks, berhenti sejenak dari hiruk pikuk rutinitas dan ketegangan sehari-hari, banyak sekali manfaatnya. Dalam olahraga golf dikenal pukulan yang disebut backswing. Kunci keberhasilan pukulan ini adalah rileks. Ketika si pemain berada dalam keadaan rileks, pukulannya bisa lebih jauh daripada kalau mereka melakukan dengan tegang. Begitu pula dengan hidup kita. Rileks akan membantu kita untuk mengembalikan kebugaran tubuh dan kejernihan dalam berpikir, sehingga hidup kita menjadi lebih produktif. Dan tentu lebih sehat pula –AYA

KITA PERLU MENJAGA KESEIMBANGAN
ANTARA WAKTU BERAKTIVITAS DAN WAKTU UNTUK RILEKS

Ibu

Ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah kita menyakiti-nya? Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya? Mencaci maki-nya? Melawan-nya? Memukul-nya? Mengacuhkan-nya? Meninggalkan-nya? Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil, Memberikan ASI waktu kita bayi, Mencuci celana kotor kita, Menahan derita, Menggendong kita sendirian.

Disaat ibumu tidur, coba kamu lihat matanya dan bayangkan matanya takkan terbuka untuk selamanya, tangannya tak dapat hapuskan airmata mu dan tiada lagi nasihat yang sering kita abaikan, bayangkan ibumu sudah tiada, apakah kamu cukup membahagiakannya, apakah kamu pernah berfikir, bertapa besar pengorbanannya semenjak kamu berada di dalam perutnya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Berikan lebih banyak (give more)
5. Jangan terlalu banyak mengharap (expect less)

SADARILAH bahwa di Dunia ini ga da 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi...

Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita...

19 June 2009

Enyahkanlah Katak-katak Itu!

Kata Musa kepada Firaun: "Silakanlah tuanku katakan kepadaku, bila aku akan berdoa untukmu, untuk pegawaimu dan rakyatmu, supaya katak-katak itu dilenyapkan dari padamu dan dari rumah-rumahmu, dan hanya tinggal di sungai Nil saja."

Bacaan Alkitab setahun: Amsal 20; Efesus 3; Pengkhotbah 6-7

Pernahkah Anda bergumul dengan salah satu masalah yang enggan lenyap? Masalah itu agaknya kebal terhadap semua penyelesaian yang bisa Anda pikirkan. Anda mengusir masalah itu dengan berbagai cara, tetapi masalah itu malah meluas sampai tidak dapat dikendalikan.

Alkitab menyatakan bahwa seorang Firaun Mesir juga menghadapi masalah semacam itu ribuan tahun yang lalu. Dia berbantah sengit dengan Tuhan mengenai masa depan umat Israel, dan akibatnya dia bangun pada suatu pagi dengan mendapati negerinya dikerumuni katak-katak yang berlumpur, bau dan berlompatan di mana-mana.

Kejadian itu merupakan masalah yang gawat. Saya tidak berbicara tentang seekor atau dua ekor katak di halaman depan istana. Yang saya maksudkan ialah katak di mana-mana, di seantero negeri - di ranjang, di atas meja makan, katak-katak besar di perapian dalam dapur, katak-katak kecil di adonan roti dan air minum, di rambut, dan di tempat-tempat lain yang bahkan tidak ingin Anda bayangkan!

Lalu Tuhan mulai mengadakan tindakan. Dia mengutus hamba-Nya Musa menghadap Firaun untuk menanyakan waktu melenyapkan katak-katak itu. Tahukah Anda jawaban yang diucapkan Firaun? “Besok.” Dapatkah Anda bayangkan itu? Dia sebenarnya dapat berkata, "Lenyapkan katak-katak itu sekarang juga! Hari ini!" Tetapi dia memutuskan untuk melewatkan waktu satu malam lagi di antara katak-katak menjijikkan itu.

Mungkin Anda berpikir, “Itu adalah keputusan bodoh yang pernah saya dengar. Mengapa sampai dia memintanya besok?” Entahlah. Barangkali untuk alasan serupa yang Anda kemukakan dalam hal menunggu sampai besok untuk diselamatkan atau disembuhkan atau menjadi makmur.

Inilah yang saya ingin Anda perhatikan. Ketika Musa mempersilahkan Firaun menentukan waktunya dan dia menjawab, “Besok,” maka Musa menanggapinya, “Baiklah. Agar tuanku mengetahui bahwa ada Tuhan di surga, JADILAH SEPERTI KATAMU ITU.”

Saya ingin mengajukan pertanyaan kepada Anda: Berapa lama Anda bersedia membiarkan masalah yang membandel itu mengusik Anda? Kapan Anda ingin mengenyahkan katak-katak dalam hidup Anda? Sadarkah Anda bahwa masalah itu akan tetap bertahan selama Anda membiarkannya? Masalah itu akan tetap bercokol dalam hidup Anda sampai akhirnya Anda mengabil keputusan penting untuk berjalan bersama dengan firman Tuhan dan mengusirnya. Mengapa tidak Anda lakukan hal itu pada hari ini?

Bukan masalah yang meruntuhkan Anda tapi keputusan Anda untuk tidak mempraktekkan Firman yang membuat masalah itu tetap bercokol di sana.

Kebun Carl

Carl orang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dia selalu menyapa orang dengan senyum lebar dan jabat tangan yang kuat. Meskipun telah tinggal di daerah kami selama lebih dari 50 tahun, tak seorang pun yang kenal baik dengannya.

Sebelum pensiun, dia pergi kerja dengan naik bus tiap pagi. Pandangannya yang kesepian saat menyusuri jalan seringkali membuat kami kuatir. Dia agak pincang karena luka bekas peluru yang dialaminya saat Perang Dunia II. Melihat dirinya, kami kuatir bahwa sekalipun dia selamat dari PD II, mungkin dia tidak bisa selamat dari perubahan di daerah kami yang menunjukkan makin meningkattnya kekerasan, kegiatan geng dan narkoba.

Ketika dia melihat selebaran dari gereja setempat yang mencari sukarelawan untuk memelihara kebun di belakang rumah pendeta, dia merespon dengan cara yang tak terduga. Tanpa banyak bicara, dia langsung mendaftar. Dia masih sehat untuk usianya yang sudah 87 tahun, ketika akhirnya hal yang selalu kami kuatirkan itu terjadi.

Saat itu dia baru selesai menyiram kebun, ketika tiga orang anggota geng menghampirinya. Tanpa mempedulikan usaha mereka untuk mengancamnya, dengan tenang dia bertanya, “Kalian mau minum dari selang ?”

Yang paling tinggi dan bertampang paling garang dari antara ketiganya berkata, ”Ya, tentu saja”, dengan senyum licik. Saat Carl memberikan selangnya kepadanya, dua orang lainnya menangkap lengan Carl dan mendorongnya hingga jatuh. Sementara selang itu terjatuh ke tanah, mencipratkan air ke sana sini, sementara pengganggu-penggangu Carl mengambil jam tangan pensiunan dan dompetnya, kemudian melarikan diri. Carl berusaha untuk bangun, tetapi dia terjatuh pada kakinya yang pincang.

Dia terbaring di sana, berusaha untuk bangkit, ketika sang pendeta datang berlari untuk menolongnya. Sekalipun sang pendeta telah melihat serangan itu dari jendela, dia tidak cukup cepat untuk sampai ke sana dan menghentikannya. “Carl, kamu baik-baik saja? Apakah kamu luka?” sang pendeta bertanya padanya sambil membantu Carl berdiri. Carl hanya mengusap dahinya sambil menghela napas dan menggelengkan kepala.

“Hanya beberapa anak yang terabaikan. Saya harap suatu saat mereka akan menjadi lebih bijak.” Bajunya yang basah menempel pada tubuhnya yang kurus saat dia membungkuk untuk mengambil selang. Dia menyalakan kran lagi dan mulai menyiram.

Dengan bingung dan sedikit perhatian, sang pendeta bertanya, “Carl, apa yang kamu lakukan ?”

“Saya harus menyelesaikan menyiram. Belakangan ini udara sangat kering”, jawabnya tenang. Lega melihat bahwa Carl benar-benar tidak apa-apa, sang pendeta hanya dapat terheran-heran. Carl adalah orang dari waktu dan tempat yang berbeda.

Beberapa minggu kemudian ketiga orang itu kembali. Sama seperti sebelumnya, ancaman mereka tidak mendapat perlawanan. Carl kembali menawarkan mereka minum dari selangnya. Kali ini mereka tidak merampoknya. Mereka merampas selang itu dari tangannya dan membasahi tubuhnya dari kepala sampai kaki dengan air dingin.

Setelah selesai menyiksanya, mereka pergi ke jalanan, sambil mengumpat dan memaki-maki, tertawa satu sama lain tentang betapa lucunya apa yang baru saja mereka lakukan. Carl hanya menatap mereka, kemudian ia berpaling pada matahari yang memberikan kehangatan, memungut selangnya dan melanjutkan menyirami kebun.

Musim panas dengan cepat berganti menjadi musim gugur. Carl sedang melakukan pekerjaannya di kebun ketika dia dikejutkan oleh seseorang yang datang tiba-tiba di belakangnya. Dia jatuh dan menimpa batang-batang evergreen. Saat dia berusaha berdiri kembali, dia menoleh dan dilihatnya pemimpin berbadan tinggi dari berandalan yang menyiksanya musim panas lalu, mengulurkan tangan kepadanya. Dia menutupi dirinya untuk berjaga-jaga terhadap serangan yang mungkin datang. “Jangan kuatir pak tua, saya tidak akan melukai anda kali ini.” Kata pemuda itu dengan lembut, sambil tetap mengulurkan tangannya yang bertato dan penuh goresan kepada Carl.

Saat membantu Carl berdiri, pemuda itu mengeluarkan sebuah tas kumal dari sakunya dan memberikannya kepada Carl. “Apa ini?” tanya Carl.

“Itu barangmu”, jelas pemuda itu. “Semua barangmu kukembalikan, juga uang yang ada di dompetmu.”

“Aku tidak mengerti, ” kata Carl. “Mengapa kamu menolongku sekarang?”

Pemuda itu menggeser kakinya, tampak malu dan sakit. “Aku telah belajar sesuatu dari engkau”, katanya. “Aku bergabung dengan gang itu dan melukai orang-orang seperti engkau. Kami memilihmu karena engkau sudah tua dan kami tahu kami bisa melakukannya. Tetapi setiap kali kami datang dan melakukan sesuatu terhadap engkau, bukannya engkau berteriak atau melawan, tetapi bahkan menawarkan kami minum. Engkau tidak membenci kami meskipun kami membencimu. Engkau tetap menunjukkan kasih terhadap kebencian kami.” Dia berhenti sejenak. “Aku tidak bisa tidur setelah kami mencuri barangmu, jadi ini kukembalikan.” Dia berhenti lagi beberapa saat, tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya. “Kupikir tas itu adalah caraku mengucapkan terima kasih karena telah menguatkan aku.” Dan sambil berkata demikian, pemuda itu melangkah keluar ke jalanan.

Carl melihat kantong di tangannya dan dibukanya dengan perlahan. Diambilnya jam pensiunannya dan dipasangnya di pergelangan tangannya. Saat membuka dompetnya, diperiksanya foto pernikahannya. Dia memandang sejenak kepada mempelai wanita yang masih tersenyum balik kepadanya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Carl meninggal pada suatu hari yang dingin setelah hari Natal di musim dingin itu. Banyak orang menghadiri pemakamannya meskipun cuaca buruk. Secara khusus sang pendeta memperhatikan seorang pemuda bertubuh tinggi yang tidak dikenalnya sedang duduk dengan tenang di pojok gereja. Sang pendeta berbicara tentang kebun Carl sebagai suatu pelajaran dalam hidup. Dengan suara yang tersendat dan air mata yang ditahan, dia berkata, “Lakukan yang terbaik dan buatlah kebun anda seindah mungkin. Kita tak akan pernah melupakan Carl dan kebunnya.”

Musim semi berikutnya selebaran lain muncul lagi. Isinya : “Dicari orang untuk memelihara kebun Carl.” Selebaran itu terabaikan oleh para jemaat yang sibuk sampai suatu hari sebuah ketukan terdengar di kantor sang pendeta. Saat membuka pintu, sang pendeta melihat sepasang tangan yang penuh goresan dan tato memegang selebaran itu. “Saya yakin ini pekerjaan saya, jika anda mau memakai saya,” kata pemuda itu.

Sang pendeta mengenali pemuda itu sebagai orang yang sama yang mengembalikan jam dan dompet Carl yang dicuri. Dia tahu bahwa kebaikan hati Carl telah membalikkan hidup pemuda ini. Sang pendeta menyerahkan kunci-kunci kebun kepadanya, sambil berkata, “Ya, peliharalah kebun Carl dan hargailah dia.”

Pemuda itu pergi bekerja dan selama beberapa tahun kemudian, dia tetap memelihara bunga-bunga dan sayuran sama seperti yang dikerjakan Carl. Dalam masa itu, ia pergi kuliah, menikah dan menjadi anggota masyarakat yang terpandang. Tetapi dia tak pernah melupakan janjinya pada Carl dan menjaga kebun itu seindah mungkin seperti yang akan dilakukan Carl.

Suatu hari dia mendatangi pendeta yang baru dan berkata padanya bahwa ia tidak dapat lagi memelihara kebun itu. Dia menjelaskan dengan senyum tersipu dan bahagia, “Istri saya baru saja melahirkan seorang anak laki-laki tadi malam, dan dia akan membawanya pulang hari Sabtu.”

“Baiklah, selamat !” kata sang pendeta, saat dia menyerahkan kembali kunci-kunci kebun. “Itu hebat sekali! Siapa nama bayinya ?”

“Carl”, jawabnya.