Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

19 June 2009

Kebun Carl

Carl orang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dia selalu menyapa orang dengan senyum lebar dan jabat tangan yang kuat. Meskipun telah tinggal di daerah kami selama lebih dari 50 tahun, tak seorang pun yang kenal baik dengannya.

Sebelum pensiun, dia pergi kerja dengan naik bus tiap pagi. Pandangannya yang kesepian saat menyusuri jalan seringkali membuat kami kuatir. Dia agak pincang karena luka bekas peluru yang dialaminya saat Perang Dunia II. Melihat dirinya, kami kuatir bahwa sekalipun dia selamat dari PD II, mungkin dia tidak bisa selamat dari perubahan di daerah kami yang menunjukkan makin meningkattnya kekerasan, kegiatan geng dan narkoba.

Ketika dia melihat selebaran dari gereja setempat yang mencari sukarelawan untuk memelihara kebun di belakang rumah pendeta, dia merespon dengan cara yang tak terduga. Tanpa banyak bicara, dia langsung mendaftar. Dia masih sehat untuk usianya yang sudah 87 tahun, ketika akhirnya hal yang selalu kami kuatirkan itu terjadi.

Saat itu dia baru selesai menyiram kebun, ketika tiga orang anggota geng menghampirinya. Tanpa mempedulikan usaha mereka untuk mengancamnya, dengan tenang dia bertanya, “Kalian mau minum dari selang ?”

Yang paling tinggi dan bertampang paling garang dari antara ketiganya berkata, ”Ya, tentu saja”, dengan senyum licik. Saat Carl memberikan selangnya kepadanya, dua orang lainnya menangkap lengan Carl dan mendorongnya hingga jatuh. Sementara selang itu terjatuh ke tanah, mencipratkan air ke sana sini, sementara pengganggu-penggangu Carl mengambil jam tangan pensiunan dan dompetnya, kemudian melarikan diri. Carl berusaha untuk bangun, tetapi dia terjatuh pada kakinya yang pincang.

Dia terbaring di sana, berusaha untuk bangkit, ketika sang pendeta datang berlari untuk menolongnya. Sekalipun sang pendeta telah melihat serangan itu dari jendela, dia tidak cukup cepat untuk sampai ke sana dan menghentikannya. “Carl, kamu baik-baik saja? Apakah kamu luka?” sang pendeta bertanya padanya sambil membantu Carl berdiri. Carl hanya mengusap dahinya sambil menghela napas dan menggelengkan kepala.

“Hanya beberapa anak yang terabaikan. Saya harap suatu saat mereka akan menjadi lebih bijak.” Bajunya yang basah menempel pada tubuhnya yang kurus saat dia membungkuk untuk mengambil selang. Dia menyalakan kran lagi dan mulai menyiram.

Dengan bingung dan sedikit perhatian, sang pendeta bertanya, “Carl, apa yang kamu lakukan ?”

“Saya harus menyelesaikan menyiram. Belakangan ini udara sangat kering”, jawabnya tenang. Lega melihat bahwa Carl benar-benar tidak apa-apa, sang pendeta hanya dapat terheran-heran. Carl adalah orang dari waktu dan tempat yang berbeda.

Beberapa minggu kemudian ketiga orang itu kembali. Sama seperti sebelumnya, ancaman mereka tidak mendapat perlawanan. Carl kembali menawarkan mereka minum dari selangnya. Kali ini mereka tidak merampoknya. Mereka merampas selang itu dari tangannya dan membasahi tubuhnya dari kepala sampai kaki dengan air dingin.

Setelah selesai menyiksanya, mereka pergi ke jalanan, sambil mengumpat dan memaki-maki, tertawa satu sama lain tentang betapa lucunya apa yang baru saja mereka lakukan. Carl hanya menatap mereka, kemudian ia berpaling pada matahari yang memberikan kehangatan, memungut selangnya dan melanjutkan menyirami kebun.

Musim panas dengan cepat berganti menjadi musim gugur. Carl sedang melakukan pekerjaannya di kebun ketika dia dikejutkan oleh seseorang yang datang tiba-tiba di belakangnya. Dia jatuh dan menimpa batang-batang evergreen. Saat dia berusaha berdiri kembali, dia menoleh dan dilihatnya pemimpin berbadan tinggi dari berandalan yang menyiksanya musim panas lalu, mengulurkan tangan kepadanya. Dia menutupi dirinya untuk berjaga-jaga terhadap serangan yang mungkin datang. “Jangan kuatir pak tua, saya tidak akan melukai anda kali ini.” Kata pemuda itu dengan lembut, sambil tetap mengulurkan tangannya yang bertato dan penuh goresan kepada Carl.

Saat membantu Carl berdiri, pemuda itu mengeluarkan sebuah tas kumal dari sakunya dan memberikannya kepada Carl. “Apa ini?” tanya Carl.

“Itu barangmu”, jelas pemuda itu. “Semua barangmu kukembalikan, juga uang yang ada di dompetmu.”

“Aku tidak mengerti, ” kata Carl. “Mengapa kamu menolongku sekarang?”

Pemuda itu menggeser kakinya, tampak malu dan sakit. “Aku telah belajar sesuatu dari engkau”, katanya. “Aku bergabung dengan gang itu dan melukai orang-orang seperti engkau. Kami memilihmu karena engkau sudah tua dan kami tahu kami bisa melakukannya. Tetapi setiap kali kami datang dan melakukan sesuatu terhadap engkau, bukannya engkau berteriak atau melawan, tetapi bahkan menawarkan kami minum. Engkau tidak membenci kami meskipun kami membencimu. Engkau tetap menunjukkan kasih terhadap kebencian kami.” Dia berhenti sejenak. “Aku tidak bisa tidur setelah kami mencuri barangmu, jadi ini kukembalikan.” Dia berhenti lagi beberapa saat, tidak tahu apa lagi yang harus dikatakannya. “Kupikir tas itu adalah caraku mengucapkan terima kasih karena telah menguatkan aku.” Dan sambil berkata demikian, pemuda itu melangkah keluar ke jalanan.

Carl melihat kantong di tangannya dan dibukanya dengan perlahan. Diambilnya jam pensiunannya dan dipasangnya di pergelangan tangannya. Saat membuka dompetnya, diperiksanya foto pernikahannya. Dia memandang sejenak kepada mempelai wanita yang masih tersenyum balik kepadanya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Carl meninggal pada suatu hari yang dingin setelah hari Natal di musim dingin itu. Banyak orang menghadiri pemakamannya meskipun cuaca buruk. Secara khusus sang pendeta memperhatikan seorang pemuda bertubuh tinggi yang tidak dikenalnya sedang duduk dengan tenang di pojok gereja. Sang pendeta berbicara tentang kebun Carl sebagai suatu pelajaran dalam hidup. Dengan suara yang tersendat dan air mata yang ditahan, dia berkata, “Lakukan yang terbaik dan buatlah kebun anda seindah mungkin. Kita tak akan pernah melupakan Carl dan kebunnya.”

Musim semi berikutnya selebaran lain muncul lagi. Isinya : “Dicari orang untuk memelihara kebun Carl.” Selebaran itu terabaikan oleh para jemaat yang sibuk sampai suatu hari sebuah ketukan terdengar di kantor sang pendeta. Saat membuka pintu, sang pendeta melihat sepasang tangan yang penuh goresan dan tato memegang selebaran itu. “Saya yakin ini pekerjaan saya, jika anda mau memakai saya,” kata pemuda itu.

Sang pendeta mengenali pemuda itu sebagai orang yang sama yang mengembalikan jam dan dompet Carl yang dicuri. Dia tahu bahwa kebaikan hati Carl telah membalikkan hidup pemuda ini. Sang pendeta menyerahkan kunci-kunci kebun kepadanya, sambil berkata, “Ya, peliharalah kebun Carl dan hargailah dia.”

Pemuda itu pergi bekerja dan selama beberapa tahun kemudian, dia tetap memelihara bunga-bunga dan sayuran sama seperti yang dikerjakan Carl. Dalam masa itu, ia pergi kuliah, menikah dan menjadi anggota masyarakat yang terpandang. Tetapi dia tak pernah melupakan janjinya pada Carl dan menjaga kebun itu seindah mungkin seperti yang akan dilakukan Carl.

Suatu hari dia mendatangi pendeta yang baru dan berkata padanya bahwa ia tidak dapat lagi memelihara kebun itu. Dia menjelaskan dengan senyum tersipu dan bahagia, “Istri saya baru saja melahirkan seorang anak laki-laki tadi malam, dan dia akan membawanya pulang hari Sabtu.”

“Baiklah, selamat !” kata sang pendeta, saat dia menyerahkan kembali kunci-kunci kebun. “Itu hebat sekali! Siapa nama bayinya ?”

“Carl”, jawabnya.

18 June 2009

Sudahkah Anda Mengabarkan Injil Hari Ini?

Apakah judul di atas terdengar “ekstrim”? Masa kita diwajibkan memberitakan Injil setiap hari. Waktu kita kan terbatas. Nggak tahu kalau kita sedang sibuk banyak kerjaan? Banyak pekerjaan rumah dan harus belajar. Dan mungkin kita dapat mempunyai seribu satu alasan untuk hal ini. Tetapi saya akan ceritakan suatu peristiwa.

Parmajit, seorang India yang taat dalam agamanya ‘sikh' dan ketaatannya pada agamanya tersebut dia tampakkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dia memakai sorban, memelihara rambut dan jenggot yang panjang (karena menurut aturan agama mereka, rambut di seluruh tubuh manusia ini nggak boleh dipotong atau dicukur).

Orangnya pendiam, dan dari wajahnya menujukkan kekerasan hatinya. Pekerjaannya sebagai sopir truk tidak membuat orang lain memandang rendahnya padanya, karena dia suka menolong yang lain. Memang Parm (demikian kami memanggil dia) agak kaku dalam bercakap-cakap karena mungkin dia orangnya pendiam. Tetapi bagiku dia seorang teman yang tidak suka mengurusi urusan orang lain dan berbicara apa adanya. Aku sering ngobrol dengan Parm baik tentang keluarganya atau pekerjaannya. Dua atau tiga kali seminggu aku bertemu dengan Parm di tempat kerja.

Lima hari berlalu. Ketika pagi hari aku memulai kerjaku. Manajerku menelponku, mengatakan bahwa seorang sopir truk dari perusahaan kami mengalami kecelakaan dan sopir itu meninggal seketika di tempat kejadian. Sopir itu adalah Parmajit !!! Aku sempat kaget ketika mendengar ucapan manajerku itu. Setelah telpon ku letakkan pada gagangnya. Aku termenung sesaat. Baru lima hari yang lalu aku sempat bercakap-cakap dengan Parmajit. Kini dia telah tiada.

Pikiranku melayang pada seorang pria khas India, tubuhnya yang sedang tidak terlalu tinggi. Dengan kulit sawo gelap dan memakai sorban, wajahnya di penuhi cambang dan jenggot. Suara ramahnya yang masih kuingat dan sering kami bertanya jawab untuk kehidupan sehari-hari. Tiba-tiba pikiranku menyayangkan, "Ah, dia mati tanpa menerima Kristus."

Hati nuraniku pun bertanya pada diriku, "Bukankah kau beberapa kali sempat bercakap-cakap dengan Parmajit? Mengapa kau tidak pernah mencoba mengabarkan Injil padanya?" Aih, seketika itu juga aku hanya dapat berkata pada Tuhan "maafkan aku Tuhan." Dan timbul penyesalan dalam hatiku. Bukankah aku mempunyai kesempatan, mengapa tidak aku gunakan ? Aku hanya dapat menghela nafas. Malu rasanya.

Jadi jika aku menuliskan "Sudahkah anda mengabarkan Injil, pada hari ini?" Apakah menurut anda aku ini ekstrim? Bukankah dari peristiwaku itu, aku telah kehilangan kesempatan. Kita tidak tahu kapan seseorang akan meninggal. Kapan teman sekolahmu yang sering duduk di sampingmu akan meninggal dunia dan dia belum menerima Tuhan. Kita tidak tahu teman sekantor kita yang sering memberi ucapan selamat pagi pada kita akan meninggal tiba-tiba, tanpa Kristus. Aku tidak mengatakan kalau kita mengabarkan Injil, dijamin orang itu percaya dan menerima Kristus saat itu juga. Tetapi paling tidak kita berusaha.

Waktu di Indonesia, aku punya seorang teman pemasaran (salesman) yang memasarkan produk asuransi jiwa. Dia mengajarkan bahwa dia menjadi seorang salesman yang tugasnya adalah menjual (selling). Baik dimana dan kapan saja, dia berusaha menjual produknya. Setiap hari, setiap waktu, setiap kesempatan. Waktu dia membeli bakso, dia tanya apakah si penjual bakso mau membeli produknya dengan keuntungan begini begitu promosinya. Waktu di tempat parkir, dia tanya si jukir (juru parkir?) apakah si jukir ingin mendapatkan keuntungan dari produknya yang paling sedikit akan menjamin keluarganya kelak dan sebagainya.

Nah, yang aku maksudkan kita sebagai orang Kristen harus mempunyai sikap seperti demikian. Kita mengaku orang Kristen, maka tidak lain tugas kita adalah mengabarkan Kabar suka cita yang telah kita terima, Kabar yang telah merubah hidup kita. Maukah kita mengabarkan Injil bagi teman-teman, orang yang kita kenal, bahkan keluarga kita yang belum menerima Yesus sebagai juru selamat ? Mengabarkan Injil bukan untuk memaksa orang lain menjadi Kristen. Dan membuat kita kuatir untuk ditolak, diejek atau dimarahi. Diterima atau tidak itu sudah menjadi konsekwensi kita. Tuhan kita sendiri pernah ditolak oleh orang banyak, apalagi kita?

Berdoalah supaya kita mempunyai keberanian untuk menceritakan pengalaman kehidupan Kristen kita kepada orang lain. Roh Kudus pasti akan membimbing kita. Dan Dia pula yang akan menolong berkata-kata untuk kita.

Markus 13:11 : “Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus.”

Markus 8:38 : “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Sudahkah kita mengabarkan Injil, pada hari ini?

*) Parm meninggal dunia 25 November 2002 dengan meninggalkan seorang istri dan tiga anaknya yang masih kecil.

17 June 2009

Arloji Yang Hilang

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.

Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu.

"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam “kesibukan dan kegaduhan”. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan.

“Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” - Pengkhotbah 4:6

16 June 2009

Humor : Leroy

Si kecil Leroy masuk ke dapur ketika ibunya sedang mempersiapkan makan malam. Karena ulang tahunnya yang semakin dekat, maka dia berpikir untuk memberitahu ibunya, hadiah apa yang dia inginkan. “Mama, saya ingin sebuah sepeda!”, sahutnya.

Si kecil Leroy adalah seorang anak kecil yang sedikit nakal. Dia sering berbuat kenakalan di di sekolah ataupun di rumah. Lalu ibu Leroy balik bertanya, mengapa Leroy berhak mendapatkan sebuah sepeda di hari Ulang Tahunnya.

Si kecil Leroy tentu saja berpikir bahwa dia berhak mendapatkan hadiah Ulang Tahun sebuah sepeda. Ibu Leroy, sebagai seorang Kristen, ingin agar Leroy merenungkan perbuatan apa saja yang telah Leroy perbuat sepanjang tahun ini. “Pergi ke kamarmu dan renungkan semua perbuatanmu di tahun ini. Lalu tulislah surat kepada Tuhan dan beritahu Dia, mengapa kamu berhak mendapatkan sebuah sepeda untuk Ulang Tahunmu tahun ini.”

Si kecil Leroy segera pergi naik ke kamarnya dan mulai menulis surat kepada Tuhan…

Surat pertama :

Hello Tuhan,
Saya telah menjadi seorang anak yang baik tahun ini dan saya ingin hadiah sepeda di hari Ulang tahunku. Saya ingin sepeda yang berwarna merah.

Temanmu,
Leroy

Leroy tahu bahwa apa yang dia tulis bukanlah yang sebenarnya. Dia belon bersikap sebagai anak yang baik tahun ini. Lalu dia mulai menulis surat yang baru…

Surat kedua :

Hello Tuhan,
Saya telah bersikap sebagai anak yang “OK” tahun ini. Saya masih benar-benar menginginkan sebuah sepeda di hari Ulang tahunku.

Leroy

Leroy tahu bahwa dia juga tidak dapat mengirimkan surat seperti ini kepada Tuhan. Lalu dia menulis surat yang ketiga…

Surat ketiga :

Tuhan,
Saya tahu bahwa saya belum menjadi anak yang baik tahun ini dan saya menyesalinya. Saya akan menjadi anak yang baik bila Engkau memberiku sebuah sepeda di hari Ulang tahunku.

Terimakasih,
Leroy

Leroy tahu, bahwa sekalipun surat itu jujur, tetapi surat itu tidak akan membawakan sebuah sepeda untuknya. Sekarang Leroy merasa sangat sedih. Dia turun ke bawah dan berkata kepada ibunya bahwa dia akan pergi ke gereja. Ibu Leroy berpikir bahwa rencananya berhasil, ketika melihat bahwa Leroy kelihatan sangat bersedih hati. “Pulanglah nanti untuk makan malam,” kata ibu Leroy kepadanya. Leroy berjalan ke sebuah gereja di sudut jalan. Lalu dia memastikan bahwa tidak ada seorangpun yang berada disana.

Leroy mengambil patung dari Bunda Maria, menyembunyikannya di balik kausnya, segera berlari meninggalkan gereja itu menuju ke rumahnya, dan langsung pergi ke kamarnya. Dia duduk dan bersiap-siap dengan pena dan secarik kertas.

Leroy memulai untuk menulis sebuah surat kepada Tuhan.

Surat keempat :

Tuhan,
IbuMu ada padaku. Jika Engkau ingin melihat ibuMu kembali, beri aku hadiah Ulang tahun sebuah sepeda.

Tertanda,
Engkau tahu siapa

15 June 2009

Andai Yesus Tidak Pernah Lahir

Ada seorang pendeta yang sementara menyiapkan khotbah natal tertidur dan kemudian bermimpilah ia. Ia mimpi tentang dunia dimana kristus tidak pernah dilahirkan. Di dalam mimpinya ia tidak melihat sebatang lilinpun menyala, sudut rumahnya kosong tanpa pohon natal, sunyi dan sepi.

Ia ingin tahu apa yang terjadi di luar maka ia berjalan kaki menuju kota dan pasar. Aneh, tak ada sebuah gereja pun yang nampak, bunyi lonceng pun tidak terdengar, tiada lagu-lagu natal kecuali musik jazz dan rock pengiring mereka yang berdisko di bar.

Ia pulang dan masuk ke ruangan bukunya. Herannya ,semua buku-buku tentang Yesus Juruselamat sudah lenyap. Setelah itu ia mendengar pintunya diketuk orang dan seorang memintahnya untuk segera mengunjungi ibunya yang sakit keras. Ia mencoba menghibur anak yang sedang menangis itu dengan sepotong ayat, ia membuka Alkitab untuk menemukan ayat perjanjian itu, tapi betapa terkejutnya ia, Alkitabnya hanya berakhir di kitab Maleakhi, tidak ada injil, tidak ada ayat-ayat perjanjian, dan tidak ada pengharapan atas keselamatan. Maka ia hanya bisa menundukkan kepala dan menangis bersama anak itu dalam keputusasaan.

Dua hari kemudiaan ia berdiri di samping peti jenazah wanita itu untuk memimpin upacara pemakaman, tetapi ia tidak bisa berkhotbah tentang penghiburan yang meyakinkan kecuali “Apa yang daripada tanah kembali kepada tanah dan apa yang daripada debu kembali kepada debu..”. Mengapa demikian? Ia baru sadar, semuanya ini karena…. “YESUS KRISTUS TIDAK DATANG KE DALAM DUNIA INI”

Tiba-tiba terbangunlah ia oleh kegembiraan dan sukacita Teriakan “Haleluyah” keluar dari mulutnya waktu ia mendengar paduan suara yang berlatih di gereja menyanyikan: “Kesukaan bagi dunia, penebus datanglah Brihatimu kepadanya, s’kalian nyanyilah s’kalian nyanyilah, sekalian orang bernyanyilah”. Alangkah mengerikan keadaan manusia andaikata Yesus Kristus tidak datang ke dalam dunia! tidak ada harapan sama sekali untuk pengampunan dosa dan hidup yang kekal.

Tapi syukurlah YOHANES 3:16 membawa berita bahagia yang sangat indah bagi seluruh umat manusia di dunia. “KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI, SEHINGGA IA TELAH MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL, SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADANYA TIDAK BINASA, MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL.”

14 June 2009

Sorga Terbuka

Jika ada yang ingin download PDF buku “Sorga Terbuka”, Perjalanan anak usia 11 tahun ke Sorga dan Neraka oleh Joseph. Silahkan download link di bawah ini. Jika link ini error, mohon hubungi saya. Terima kasih… GBU .. :)

Complete Book - Sorga Terbuka

13 June 2009

Weekend Scripture – 1 Tesalonika 5:18

"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." - 1 Tesalonika 5:18

Bagian Terberat Dalam Hidup

Orang di jaman sekarang terlalu banyak berpikir. Kalau saja mereka mengurangi proses berpikir mereka sedikit, maka hidup mereka anda akan menjadi jauh lebih gampang.

Di vihara kami di Thailand, setiap minggu di suatu malam, bhikkhu-bhikkhu begadang melewatkan waktu tidur mereka untuk bermeditasi semalaman di ruang utama. Ini sudah menjadi tradisi bhikkhu hutan. Tidaklah terlalu berat, karena kami selalu bisa tidur di pagi harinya.

Suatu pagi, sesudah semalaman bermeditasi, ketika kami sudah siap kembali ke pondok masing-masing untuk tidur, kepala vihara memanggil seorang bhikkhu junior, orang Australia. Betapa kecewanya dia karena kepala vihara memberikan dia setumpukan besar jubah untuk dicuci, seraya menyuruhnya untuk melakukannya sekarang juga. Sudah menjadi tradisi kami untuk membantu kepala vihara mencuci jubahnya dan juga melayaninya melakukan hal-hal kecil lainnya.

Ini merupakan pekerjaan mencuci yang banyak. Lagipula, seluruh cucian harus dikerjakan dengan cara tradisional ala bhikkhu hutan. Air harus ditimba dari sumur, membuat api besar dan memasaknya sampai mendidih. Potongan kayu dari pohon nangka harus dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil dengan menggunakan kapak. Potongan kecil tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih tadi untuk mengeluarkan sarinya, yang berfungsi sebagai "deterjen". Lalu setiap jubah diletakkan secara terpisah di dalam sebuah bak kayu yang panjang, kemudian air mendidih kecoklatan itu ditumpahkan ke dalamnya. Jubah-jubah itu kemudian dipukul-pukul dengan tangan sampai bersih. Bhikkhu itu kemudian harus mengeringkannya di bawah sinar matahari, membolak-baliknya secara teratur agar pewarna alaminya tidak luntur. Mencuci satu jubah saja sudah lama dan repot. Mencuci sebegitu banyak jubah membutuhkan waktu berjam-jam. Si bhikkhu muda Brisbane ini sudah lelah semalaman tidak tidur. Saya kasihan juga kepadanya.

Saya datang ke pelataran tempat mencuci itu untuk membantunya. Sesampai di sana, dia sedang memaki-maki, lebih condong ke tradisi Brisbane daripada tradisi Buddhis. Dia mengeluhkan betapa tidak adil dan kejamnya. “Tidak bisakah kepala vihara menunggu sampai besok? Tidakkah dia menyadari bahwa saya tidak tidur semalaman? Saya tidak menjadi bhikkhu untuk mencuci!” Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi itulah yang masih cukup sopan untuk ditulis di sini. Saat itu terjadi, saya telah menjadi bhikkhu selama beberapa tahun. Saya mengerti yang dia alami dan tahu jalan keluar dari permasalahannya. Saya berkata kepadanya, “Berpikir jauh lebih berat daripada mengerjakannya.”

Dia menjadi terdiam dan memandang saya. Setelah beberapa lama berdiam diri, tanpa berkata apa-apa dia kembali bekerja dan saya kembali ke tempat untuk tidur. Belakangan di hari itu, dia datang menemui saya untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan saya mencuci jubah. Memang benar, dia menyadari, berpikir adalah bagian yang terberat. Ketika dia berhenti mengeluh dan hanya mengerjakan cuciannya, sama sekali tidak ada masalah.

Bagian terberat dari segala hal dalam hidup adalah memikirkannya.

12 June 2009

Anugerah

Pada suatu hari aku bangun pagi-pagi untuk melihat matahari terbit. Ah, begitu indahnya ciptaan Tuhan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Sambil melihat semua itu, aku memuji Tuhan atas karya-Nya yang indah. Ketika aku sedang berada di situ, tiba-tiba Tuhan menampakkan hadirat-Nya padaku.

Ia bertanya, “Apakah kau mengasihi-Ku?”

Aku menjawab, “Tentu saja Tuhan! Engkau adalah Tuhanku dan Juruselamatku!”

Lalu Ia bertanya, “Seandainya kau menjadi cacat, masihkah kau mengasihiKu ?”

Aku terhenyak. Aku melihat ke bawah, ke arah tangan, kaki dan seluruh anggota tubuhku dan membayangkan betapa banyaknya hal yang tidak dapat kulakukan seandainya itu terjadi. Aku pun menjawab, “Ini akan sulit, Tuhan, tapi aku akan tetap mengasihiMu.”

Lalu Tuhan berkata, “Jika kau menjadi buta, masihkah kau mengagumi ciptaanKu?”

Bagaimana aku bisa mengagumi sesuatu tanpa bisa melihatnya? Lalu aku pun berpikir mengenai orang-orang buta di dunia ini dan banyak di antara mereka yang masih mengasihi Tuhan dan ciptaanNya. Jadi aku pun menjawab, “Sulit membayangkannya, tapi aku tetap akan mengasihiMu.”

Lalu Tuhan bertanya lagi, “Jika kau menjadi tuli, masihkah kau akan mendengarkan perkataanKu?”

Bagaimana aku bisa mendengarkan segalanya jika aku menjadi tuli? Oh, aku mengerti. Mendengarkan suara Tuhan tidak selalu harus menggunakan telinga kita, tapi juga hati kita. Aku pun menjawab, “Ini berat, tapi aku akan tetap mendengarkan perkataanMu Tuhan.”

Tuhan lalu bertanya, “Jika kau menjadi bisu, masihkah kau akan memuji NamaKu?” Bagaimana aku bisa memuji tanpa bisa bersuara? Ah, sekali lagi aku mengerti. Tuhan menginginkan kita untuk memuji dari dasar hati kita. Tak menjadi soal seperti apa suara kita. Lagipula memuji Tuhan tidak selalu dengan lagu. Kita memuji Tuhan dengan rasa syukur dan terima kasih kita.

Jadi aku pun menjawab, “Walaupun secara fisik aku tak dapat menyanyi, aku akan tetap memuji NamaMu Tuhan.”

Lalu Tuhan bertanya, “Apa kau betul-betul mengasihiKu?”

Dengan semangat dan keyakinan yang kuat, aku menjawab dengan mantap, “Ya Tuhan! Aku mengasihiMu karena Kau adalah satu-satunya Allah yang benar!”

Aku pikir aku telah menjawab dengan baik, tapi Tuhan bertanya, “Lalu mengapa kau berdosa?”

Aku menjawab, “Karena aku hanya manusia, aku tak sempurna.”

“Lalu mengapa pada waktu tak ada masalah kau menghindar dan menjauh? Mengapa hanya pada saat ada masalah kau berdoa?”

Tak ada jawaban. Air mata mulai mengalir.

Tuhan melanjutkan, “Mengapa menyanyi hanya pada waktu persekutuan dan retreat? Mengapa mencari Aku hanya pada saat kebaktian? Mengapa meminta sesuatu dengan mementingkan diri sendiri saja? Air mata terus menetes dari pelupuk mataku.

“Mengapa kau menjadi malu karena Aku? Mengapa kau tidak memberitakan kabar baik?”

Mengapa kau mengandalkan manusia dan bukannya Aku? Mengapa menghindar pada waktu ada kesempatan untuk melayani? Aku mencoba untuk menjawab, tetapi tak ada jawaban yang bisa kuberikan.

“Kau diberkati dengan kehidupan. Aku menciptakanmu tidak untuk menyia-nyiakan anugerah ini. Aku memberkatimu dengan talenta untuk melayaniKu, tapi kau tetap berpaling. Aku telah meneruskan firmanKu padamu, tapi kau tidak memiliki hikmat. Aku telah berbicara padamu, tapi telingamu tertutup. Aku telah menunjukkan berkatKu padamu, tapi matamu berpaling. Aku telah mengirimkanmu pelayan, tapi kau duduk diam seolah mereka tidak ada. Aku telah mendengar doa-doamu, dan telah menjawabnya.”

“Apakah kau benar mengasihiKu?”

Aku tak dapat menjawab. Bagaimana bisa? Aku merasa malu sekali. Tak ada pembelaan. Apa yang bisa kukatakan? Pada saat itu, hatiku menangis, dan air mata mengalir, aku berkata, “Ampuni aku Tuhan. Aku tak berharga menjadi anakMu.”

Tuhan berkata, “Itu anugerah, anakKu.”

Aku bertanya, “Lalu mengapa Kau mengampuniku? Mengapa Kau begitu mengasihiku?” Tuhan menjawab, “Karena kau adalah ciptaanKu. Kau adalah anakKu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Ketika kau menangis, Aku ikut menangis bersamamu. Ketika kau bersukacita, Aku ikut tertawa. Ketika kau sedang susah, Aku akan memberimu semangat. Ketika kau jatuh, Aku akan membangunkanmu kembali. Ketika kau letih, Aku akan menggendongmu. Aku besertamu sampai kepada kesudahan zaman, dan mengasihimu selamanya.”

Tak pernah aku menangis seperti ini sebelumnya. Mengapa aku bisa begitu dingin? Mengapa aku bisa melukai hati Tuhan seperti yang telah kulakukan?

Aku bertanya lagi, “Berapa besar kasihMU padaku, Tuhan?”

Dan Tuhan pun merentangkan kedua tanganNya, tangan yang telah dipakukan di atas kayu salib. Aku tersungkur di kaki Kristus, Juruselamatku. Dan untuk pertama kalinya ..aku betul-betul berdoa.

11 June 2009

Bunga Cantik Dalam Pot Retak

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya. “Lho, dia ini juga hampir Cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh...!

Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.” Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.

“Aku rasa mungkin karena wajahku. Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi..."

Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku, “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di veranda samping ini. Toh bis ku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.” Aku katakan kepadanya bahwa kami akan mencarikan ranjang buat dia, untuk beristirahat di beranda.

Aku masuk kedalam menyelesaikan makan malam. Setelah rampung, aku mengundang pria tua itu, kalau-kalau ia mau ikut makan. “Wah, terima kasih, tapi saya sudah bawa cukup banyak makanan.” Dan ia menunjukkan sebuah kantung kertas coklat. Selesai dengan mencuci piring-piring, aku keluar mengobrol dengannya beberapa menit. Tak butuh waktu lama untuk melihat bahwa orang tua ini memiliki sebuah hati yang terlampau besar untuk dijejalkan ketubuhnya yang kecil ini.

Dia bercerita ia menangkap ikan untuk menunjang putrinya, kelima anak-anaknya, dan istrinya, yang tanpa daya telah lumpuh selamanya akibat luka di tulang punggung. Ia bercerita itu bukan dengan berkeluh kesah dan mengadu; malah sesungguhnya, setiap kalimat selalu didahului dengan ucapan syukur pada Allah untuk suatu berkat! Ia berterima kasih bahwa tidak ada rasa sakit yang menyertai penyakitnya, yang rupa-rupanya adalah semacam kanker kulit. Ia bersyukur pada Allah yang memberinya kekuatan untuk bisa terus maju dan bertahan.

Saatnya tidur, kami bukakan ranjang lipat kain berkemah untuknya dikamar anak-anak. Esoknya waktu aku bangun, seprei dan selimut sudah rapi terlipat dan pria tua itu sudah berada di veranda. Ia menolak makan pagi, tapi sesaat sebelum ia berangkat naik bis, ia berhenti sebentar, seakan meminta suatu bantuan besar, ia berkata, "Permisi, bolehkah aku datang dan tinggal disini lagi lain kali bila aku harus kembali berobat? Saya sungguh tidak akan merepotkan anda sedikitpun. Saya bisa kok tidur enak dikursi."Ia berhenti sejenak dan lalu menambahkan, "Anak2 anda membuatku begitu merasa kerasan seperti di rumah sendiri. Orang dewasa rasanya terganggu oleh rupa buruknya wajahku, tetapi anak2 tampaknya tidak terganggu."

Aku katakan silahkan datang kembali setiap saat. Ketika ia datang lagi, ia tiba pagi2 jam tujuh lewat sedikit. Sebagai oleh2, ia bawakan seekor ikan besar dan satu liter kerang oyster terbesar yang pernah kulihat. Ia bilang, pagi sebelum berangkat, semuanya ia kuliti supaya tetap bagus dan segar. Aku tahu bisnya berangkat jam 4.00 pagi, entah jam berapa ia sudah harus bangun untuk mengerjakan semuanya ini bagi kami. Selama tahun2 ia datang dan tinggal bersama kami, tidak pernah sekalipun ia datang tanpa membawakan kami ikan atau kerang oyster atau sayur mayur dari kebunnya. Beberapa kali kami terima kiriman lewat pos, selalu lewat kilat khusus, ikan dan oyster terbungkus dalam sebuah kotak penuh daun bayam atau sejenis kol, setiap helai tercuci bersih. Mengetahui bahwa ia harus berjalan sekitar 5 km untuk mengirimkan semua itu, dan sadar betapa sedikit penghasilannya, kiriman2 dia menjadi makin bernilai...

Ketika aku menerima kiriman oleh2 itu, sering aku teringat kepada komentar tetangga kami pada hari ia pulang ketika pertama kali datang. "Ehhh, kau terima dia bermalam ya, orang yang luar biasa jelek menjijikkan mukanya itu? Tadi malam ia kutolak. Waduhh, celaka dehh.., kita kan bakal kehilangan langganan kalau nerima orang macam gitu!" Oh ya, memang boleh jadi kita kehilangan satu dua tamu. Tapi seandainya mereka sempat mengenalnya,mungkin penyakit mereka bakal jadi akan lebih mudah untuk dipikul. Aku tahu kami sekeluarga akan selalu bersyukur, sempat dan telah mengenalnya; dari dia kami belajar apa artinya menerima yang buruk tanpa mengeluh, dan yang baik dengan bersyukur kepada Allah.

Baru2 ini aku mengunjungi seorang teman yang punya rumah kaca. Ketika ia menunjukkan tanaman2 bunganya, kami sampai pada satu tanaman krisan [timum] yang paling cantik dari semuanya, lebat penuh tertutup bunga berwarna kuning emas. Tapi aku jadi heran sekali, melihat ia tertanam dalam sebuah ember tua, sudah penyok berkarat pula. Dalam hati aku berkata,"Kalau ini tanamanku, pastilah sudah akan kutanam didalam bejana terindah yang kumiliki."

Tapi temanku merubah cara pikirku. "Ahh, aku sedang kekurangan pot saat itu," ia coba terangkan, "dan tahu ini bakal cantik sekali, aku pikir tidak apalah sementara aku pakai ember loak ini. Toh cuma buat sebentar saja, sampai aku bisa menanamnya ditaman."

Ia pastilah ter-heran2 sendiri melihat aku tertawa begitu gembira, tapi aku membayangkan kejadian dan skenario seperti itu disurga. "Hah, yang ini luar biasa bagusnya," mungkin begitulah kata Allah saat Ia sampai pada jiwa nelayan tua baik hati itu." Ia pastilah tidak akan keberatan memulai dulu didalam badan kecil ini." Semua ini sudah lama terjadi, dulu dan kini, didalam taman Allah, betapa tinggi mestinya berdirinya jiwa manis baik ini.

"Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi Tuhan melihat hati." (1 Samuel 16:7b)

Sahabat2 adalah istimewa sekali. Mereka membuatmu tersenyum dan mendorongmu jadi sukses. Mereka meminjamimu sebuah kuping dan berbagi suatu kata pujian. Tunjukkan kawan2mu betapa kau peduli.. Buatlah seseorang tersenyum hari ini.

"Your failure is not a reason for GOD to stop loving you"

GBU all "

10 June 2009

Biji Apel

Holaram,sang menteri dari Negeri Zimbakyu, sedang menghadiri suatu konfrensi internasional. Secara kebetulan tempat duduk dia bersebelahan dengan tempat duduk seorang menteri dari negara Paman Sam yang kebetulan beragama Yahudi. Kebetulan-kebetulan semacam itu membuat dia bingung, tetapi apa boleh buat? Kalau pindah tempat duduk, takut dianggap penghinaan terhadap wakil resmi negara paman Sam.

Sebagaimana biasanya dalam konfrensi internasional, pidato-pidato yang dibacakan itu semuanya sudah tertulis rapih, dibuat oleh staf-staf ahli para menteri yang menyampaikan dan akan dipelajari oleh staf staf ahli para menteri yang mendengarkannya. Para menteri yang hadir, hadir karena harus hadir.

Hanya basa-basi. Ada yang mengantuk, bahkan ada yang tiduran. Ada yang sampai ngorok. Membosankan! Hola harus menyembunyikan rasa kesal di balik seyum yang palsu. Ia harus menunjukkan sikap ramah terhadap perwakilan paman Sam yang beragama Yahudi itu. Kalau tidak, bantuan tahunan dari beberapa lembaga keuangan yang diberikan kepada negaranya atas jaminan negara paman Sam bisa mengalami kemacetan. Apa boleh buat!

Sejak mulainya rapat itu, Hola melihat sesuatu yang aneh. Sebentar –sebentar Menteri dari Negara Paman Sam memasukkan tangan ke dalam kantong jasnya, mengeluarkan sesuatu dan memakan nya.Aneh! Kerena begitu ingin tahunya, akhirnya Hola bertanya kepada Menteri Zionis itu, "Tuan Menteri, kalau boleh tahu, apa yang sedang anda makan dari tadi?"

“Oh tentu saja, lihat ini, biji apel”, jawabnya, sambil mengeluarkan 2 biji apel dari kantong nya. "Biji apel? Tuan Menteri memakan biji apel? Apa khasiat nya ?", Hola heran sekali.

“Ha,anda belum tahu? Hasil riset kami bertahun tahun membuktikan bahwa biji apel bisa mencerdaskan kita, menambah kemampuan dan kinerja otak,” kata Menteri dari Paman Sam menjelaskan. “Benarkah demikian? Apabila Tuan Menteri tak keberatan, bisakah saya mencoba biji itu?” Hola tergiur untuk mencobanya. Sayang sekali, tinggal dua biji. Begini saja; satu untuk saya dan satu untuk anda. Tetapi anda harus membayar 10 dollar untuk satu biji ini.” Dalam perhitungan Paman Sam selalu akurat, tidak pernah salah. Hola senang sekali, ah rupanya itulah rahasia kecerdasan bangsa Amerika. “Terima kasih, terima kasih. Tuan menteri begitu baik hati, memberikan sesuatu yang sangat berharga, bermanfaat sekali.”

Setelah memakan biji apel itu, Hola mulai berpikir, “Edan-gila-tidak waras, sepuluh dollar untuk satu biji apel!”. Ia menahan-nahan rasa kesalnya, akhir meluap juga, “Tuan Menteri, baru terpikir sekarang oleh saya. Dengan uang 10 dollar mungkin saya bisa beli beberapa kilo apel. Tadi Tuan menjual satu biji seharga 10 dollar. Betapa bodohnya saya!”

“Nah itu, lihat bukti keampuhannya! Begitu makan biji apel itu, anda memperoleh pencerahan. Anda baru sadar bahwa anda bodoh. Itu hasil biji apel tadi. Sekarang anda cerdas. Anda tidak akan dibodohi lagi dan semuanya itu kerena satu biji apel,benarkan? " ujar Menteri Paman Sam.

PENCERAHAN BERASAL DARI DALAM DIRI KITA, BUKAN DARI LUAR! diambil dari buku: “PANAS DINGIN, secangkir kopi kesadaran seusaimeditasi”, oleh Anand Krisna dari milis motivasi