Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan. - Amsal 16:8
Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan. - Amsal 16:8
Roma 12:12 (The Amplified Bible) Bersukacitalah dan bergembiralah dalam pengharapan; teguhlah dan sabarlah dalam penderitaan dan kesengsaraan; tekunlah dalam doa.
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 52; Kisah Para Rasul 24; Imamat 14-15
Kita harus hidup dalam pengharapan. Kita harus bersukacita. Jadi, bila iblis datang untuk mencuri kemenangan Anda dan memberitahu Anda bahwa Tuhan takkan menolong Anda kali ini, tetaplah pikirkan firman Tuhan dalam hati Anda dan mulailah bersukacita. Bersukacitalah bahwa Anda ada dalam Dia. Bersukacitalah bahwa surga adalah rumah Anda. Bersukacitalah bahwa Dia yang ada di dalam Anda lebih besar ketimbang dia yang ada di dunia ini. Bersukacitalah! Banggalah akan Tuhan hari ini. Iblis tidak akan tahan menyaksikannya.
"Teguhlah dan sabarlah dalam penderitaan dan kesengsaraan..." Kesengsaraan berarti berada di bawah tekanan. Bila tekanan datang, janganlah menjadi lemah. Sebaiknya pergilah menghadap ke takhta anugerah. Menghadaplah dengan berani dalam nama Yesus dan dapatkanlah pertolongan yang Anda butuhkan.
Ingatlah ini: Bila keadaan menjadi sulit, bukanlah saatnya bagi Anda untuk melupakan Firman. Justru itulah saatnya Anda harus semakin bercokol dengan Firman. Itulah saatnya Anda "tekun dalam doa" agar Anda tidak tergoyahkan.
Bersukacitalah! Bersabarlah di bawah tekanan. Bertekunlah dalam doa. Iblis takkan sanggup mencuri apapun dari Anda.
Kebanggaan Anda akan kuasa Tuhan semakin memampukan Anda melihat pribadi-Nya yang ajaib.
Jawaban.com
Saat berlibur di Yerusalem, ibu mertua George meninggal. Dengan membawa sertifikat kematian, George pergi ke kantor konsulat Amerika untuk mengatur pengiriman mayat ke Amerika agar dapat dimakamkan dengan layak.
Sang konsulat mengatakan bahwa mengirim jasad ke Amerika itu sangat mahal, sekitar lima ribu dolar. Kebanyakan orang memilih untuk menguburkan orang yang mereka kenal di sini karena hanya membutuhkan biaya 150 dolar.
George berpikir sesaat dan menjawab, "Aku tidak penduli berapa yang harus aku bayar untuk mengirim jasadnya kembali ke Amerika, aku ingin melakukannya. "
Setelah mendengarnya, si konsulat berkata, "Anda pasti sangat mencintai ibu mertua Anda karena mau melakukan hal ini."
"Bukan, bukan karena itu," kata George. "Begini, aku tahu bertahun-tahun yang lalu ada Seseorang yang dikubur di Yerusalem. Pada hari ketiga, ia bangkit dari kematian!"
"Aku tidak mau mengambil risiko untuk itu.
Suatu hari, ada seorang pemuda sedang tidur di kamarnya, dan dalam tidur itu dia bermimpi didatangi "Pesan Dari Neraka" berupa sehelai surat yang dikirim oleh sahabatnya. Si pemuda dengan ketakukan serta kebingungan membaca surat itu : Hallo teman, aku sekarang berada di neraka, yang mana sakit sekali. Di mana panas melebihi api waktu di bumi. Aku mengirim surat ini karena aku menganggap aku berada di sini itu semua karena kamu.
Kamu berkata engkau adalah teman dekatku setiap pagi siang dan malam kita bertemu kita bekerja bersama sama, kita belajar bersama sama kita tertawa bersama sama. Padahal kamu tahu mengenai kebenaran kamu tahu bahwa manusia harus lahir baru kamu mengetahui mengenai bahwa Yesus adalah juru selamat manusia tetapi kamu tidak pernah cerita mengenai itu kepadaku.
Kamu tahu bahwa neraka adalah nyata dan benar ada kamu tahu bahwa surga juga nyata dan benar ada dan kamu juga tahu bahwa upah dosa adalah maut yaitu neraka. Tetapi kamu tidak pernah bercerita tentang itu kepada aku. Sekarang aku berada di api siksaan yang mana aku akan tinggal selama-lamanya di sini..
Apakah ini yang kau anggap teman, sahabat? Apakah kau puas sementara aku di neraka, kau berada di surga. Apakah kau puas aku menangis, berteriak, tersiksa, tubuhku yang dihinggapi ulat-ulat, dan api yang panas, aku sungguh kecewa dan menyesal mempunyai teman seperti engkau.
Pemuda itu terbangun dan menangis tak henti hentinya dan dia sadar bahwa itu hanya mimpi malam saja. Kemudian dia berjanji bahwa besok pagi dia akan bersaksi tentang Yesus, surga, neraka dll kepada sahabatnya itu.
Pagi harinya, si pemuda berada di depan pintu rumah sahabatnya. Ayah sahabatnya pun keluar.
"Bisa saya bertemu dengan anak bapak?"
"Nak, bukankah engkau tahu bahwa anak saya telah meninggal tadi malam karena kecelakaan mobil."
Ketika aku menghadap kepada Penciptaku pada hari pengadilan, aku bertelut bersama dengan jiwa-jiwa lain. Di depan kami terbentang kehidupan, laksana potongan-potongan kain dari sebuah selimut. Seorang malaikat duduk di depan kami masing-masing dan sedang menjahit potongan-potongan kain menjadi sebuah permadani yang merupakan kehidupan kami.
Namun ketika malaikatku mengambil potongan-potongan kain dari tumpukan, aku mengamati betapa compang-camping dan kosong potongan kainku itu. Kain itu dipenuhi oleh lubang-lubang yang besar. Setiap potongan diberi etiket dan merupakan sebagian dari kehidupanku yang penuh kesukaran, kepedihan dan pencobaan yang kuhadapi dalam hidup sehari-hariku. Akupun menyaksikan berbagai penderitaan yang aku harus alami dan ini merupakan lubang-lubang yang paling besar.
Aku memandang di sekitarku. Tidak ada yang memiliki potongan kain seperti milikku. Selain beberapa lubang-lubang kecil, perma-dani milik mereka diwarnai dengan warna-warna yang kaya serta corak yang cerah dari kejayaan duniawi. Aku memandang kehidupanku dan menjadi masgul. Malaikatku menjahit potongan-potongan kainku yang compang–camping menjadi satu, tipis menerawang dan kosong seperti ingin mengikat udara menjadi satu.
Akhirnya tiba saatnya untuk menunjukan masing-masing kehidupannya kepada umum, diangkat, diperiksa terhadap sinar matahari, diselidiki dengan teliti akan kebenarannya. Yang lain berdiri dan masing-masing mengangkat permadaninya untuk memperlihatkan bagaimana hidup mereka sebenarnya.
Tibalah giliranku. Malaikatku memandangku dan memberi tanda agar aku berdiri. Aku menundukan mataku ke arah lantai oleh karena merasa malu. Aku tak pernah menikmati kekayaan dunia. Aku telah mengalami kasih dan sukacita dalam hidupku. Namun, di samping itu, akupun mengalami pencobaan akan sakit penyakit dan kematian serta tuduhan-tuduhan yang palsu yang sangat menyakitkan. Seringkali aku harus memulai lagi dari permulaan. Aku seringkali harus bergumul dengan pencobaan untuk menyerah saja, namun entah bagaimana aku masih dapat mengumpulkan sisa kekuatan untuk mencoba lagi. Aku telah melewatkan malam demi malam yang sunyi-senyap di lututku dalam doa, memohon akan bimbingan dan pertolongan dalam hidupku. Aku seringkali dipermalukan oleh yang kujalani dengan tabah dan penuh kepedihan: Setiap kali aku menyerahkannya kepada Bapa surgawi dengan pengharapan bahwa aku tidak menjadi lebur dan larut di bawah penghukuman dari mereka yang dengan tidak adil menghakimiku.
Dan kini, aku harus menghadapi kebenaran. Hidupku ialah seperti itu, dan aku harus menerima sesuai dengan kenyataan. Aku berdiri dengan pelan dan mengangkat kombinasi potongan-potongan kainku yang menggambarkan kehidupanku terhadap sinar matahari. Suatu keheningan yang amat terasa memenuhi ruang itu. Aku melirik sekitarku dan semua orang memandangku dengan mata terbelalak.
Kemudian, aku mengamati permadaniku di depanku. Sinar matahari memenuhi lubang-lubang dan membentuk sebuah gambaran, Wajah dari Kristus. Kemudian Tuhanku berdiri di depanku dengan penuh kasih-sayang dan kehangatan dari dalam mata-Nya. Ia bersabda, ”Setiap kali engkau memberikan hidupmu kepada-Ku, maka itu menjadi hidup-Ku, penderitaan-Ku dan pergumulan-Ku, Setiap titik cahaya dalam hidupmu, bila engkau bersedia untuk meniadakan yang lain dan membiarkan Aku menyinarinya, maka terdapat lebih banyak dari diri-Ku dari pada dirimu.”
Salah satu kisah yang amat menyedihkan serta menakutkan yang pernah kudengar adalah menyangkut seorang Penginjil yang masih muda. Ia baru berumur 21 tahun, semangat pelayanan terhadap Tuhan berapi-api, sangat bagus khotbahnya dan sangat sukses dalam memenangkan jiwa orang. Dia dicari-cari oleh banyak jemaat lokal. Ia telah berkhotbah di pelbagai KKR besar dan tidak mengherankan bahwa dalam KKR nasional, ia akan menjadi pembicara yang utamanya.
Meskipun ia belum tamat dari sekolah Alkitab, ia merupakan seorang pemuda yang menjadi anak-asuh dari evangelis inter-national Sammy Tippit yang amat terkenal, karena pemuda ini amat disukai dan bijak. Walaupun ia belum mempunyai seorang pacar wanita yang tetap, ia biasa berkencan di sekolah Alkitab. Secara rohani, ia seorang pemuda yang matang dan hati-hati. Namun, kadang-kadang, ia bisa terlalu naif dan lugu.
Pada malam pertama dari KKR itu, ia menjadi ketua bagian Pelayanan Konseling dalam suatu ruangan yang besar di belakang ruang studi pendeta. Seorang gadis yang cantik bertanya kepadanya apakah ia dapat berbicara secara pribadi dengan dia. Ia berusaha untuk menyerah-kan hal ini kepada rekan lainnya. Namun, ketika gadis itu agak memaksa, ia mengatakan bahwa ia harus menunggu sampai ia selesai dengan yang lain. Ketika pertemuan selesai satu jam kemudian dan semua konselor sudah pulang, ia berada sendirian dengan gadis itu.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba gadis itu keluar dari kamar seraya berteriak, “Dia mengganggu saya! Ia ingin memperkosa -ku!!”
Malam itu juga pendeta tuan rumah disertai beberapa hamba Tuhan yang merencanakan KKR itu berkumpul menghadapkan pengkhotbah muda itu dengan si gadis dan meminta klarifikasi. Ia dengan tegas menolak tuduhan gadis itu, namun ia tidak mempunyai seorang saksipun. Gadis itu sendiri agaknya mempunyai nama baik di dalam jemaat dan tidak ada alasan apapun untuk tidak mempercayai pernyataannya.
“Apa yang sesungguhnya terjadi dalam ruang itu?” tanya hamba Tuhan. Pemuda itu menjawab, “Bila aku menceritakan kepadamu, itu berarti bahwa saya menuduh seseorang di belakangnya, sama seperti hal itu terjadi pada diriku saat ini. Aku hanya minta, agar aku boleh dihadapkan kepada orang yang menuduh aku”
Para pendeta setuju bahwa mereka akan meminta gadis itu untuk dikonfrontasikan dengan pemuda yang bersangkutan dengan disaksikan oleh semua hamba Tuhan yang hadir dalam KKR itu. Dua malam kemudian, gadis itu datang dengan disertai kedua orang tuanya dalam pertemuan yang amat pribadi. Pemimpin para hamba Tuhan bertanya kepada gadis itu, apakah ia mau mengulangi lagi pernyataan tentang apa yang terjadi di dalam kamar itu. “Ia sudah menceritakan segala sesuatu apa yang terjadi,” kata ayahnya dengan geram, sedangkan ibunya mengamininya sambil melirik kepada pemuda itu.
“Nah, maukah Anda menceritakan versimu tentang apa yang terjadi di dalam kamar itu, nak?”, tanya hamba Tuhan kepada pemuda itu.
“Tidak, pak”, menjawab pemuda itu. “Itu tidak ada gunanya. Hanya dia dan saya mengetahui kebenarannya dan aku tak dapat membela diriku sendiri. Hanya aku ingin mengatakan kepadanya, Cindy, Anda tahu apa yang terjadi dan apa yang tak terjadi dalam kamar itu. Bila Anda tidak mengatakan kebenarannya, aku akan dicap sebagai seseorang yang munafik dan aku tidak pernah dapat berkhotbah lagi. Hal ini akan merusak reputasiku, reputasi jemaat ini bahkan eksistensi Tuhan. Bila aku memang berbuat seperti apa yang Anda katakan, aku layak menerimanya, namun kita berdua mengetahui, bahwa hal itu tidak benar. Aku memintamu dengan sungguh-sungguh dan di dalam nama Kristus, untuk menyatakan kebenarannya.”
Sesuatu keheningan yang amat dalam meliputi pertemuan itu, ketika para hamba Tuhan dan kedua orang tuanya menyaksikan bagaimana wajah gadis itu berubah dan akhirnya air matanya menetes dengan deras dari wajahnya. “Aku berdusta,” katanya dengan tenang, “Aku meminta maaf. Aku berdusta. Ia sama sekali tidak pernah menggangguku, sebaliknya akulah yang menggodanya. Dan ketika ia menolakku, aku begitu malu dan gusar, sehingga aku mengarang cerita itu. Aku mohon maaf!”
Jerry Jenkins, Hedges, 1989 - Higherpraise.com
Sebuah pesan buat setiap orangtua untuk dibaca, karena anak-anak Anda mengamati dan melakukan seperti yang Anda perbuat, dan tidak seperti apa yang Anda katakan.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau menggantung lukisanku yang pertama di almari es, dan aku langsung ingin melukis sebuah lukisan lagi.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau memberikan makan kepada seekor kucing yang tersesat dan aku telah belajar bahwa ramah terhadap binatang itu sesuatu yang baik.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau membuat kue kesukaanku dan aku belajar bahwa sesuatu yang sepele dapat menjadi sesuatu yang penting di dalam hidup ini.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku mendengar Engkau berdoa dan akupun tahu bahwa ada Tuhan kepada siapa aku selalu dapat berbicara dan belajar untuk mempercayai-Nya.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bahwa Engkau membuatkan makanan untuk seorang kawan yang sedang sakit dan aku belajar kita semua seharusnya saling menolong dan peduli.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku merasakan ciumanmu selamat tidur dan aku merasa bahwa aku dikasihi dan merasa aman.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bagaimana Engkau mengurus rumah tangga berikut semua yang berada di dalamnya dan aku belajar bahwa kita harus mengelola apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita.
Ketika Engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan bagaimana engkau melakukan tanggung jawabmu, kendati tubuhmu kurang sehat dan aku belajar, harus bertanggung jawab bila aku kelak dewasa.
Ketika engkau mengira aku tidak melihat, aku memperhatikan engkau mengeluarkan air mata dan aku belajar bahwa kadang-kadang ada sesuatu yang menyakiti kita, namun tidak mengapa bila kita harus menangis.
Ketika engkau mengira aku tidak melihat, aku memandangmu dan ingin mengatakan, “Terima kasih untuk segala sesuatu yang aku telah melihat ketika engkau mengira aku tidak memperhatikannya.
Setiap dari kita -sebagai orangtua, kakek, nenek kawan- mempengaruhi hidup seorang anak!
Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 47; Kisah Para Rasul 19; Imamat 4-5
Kelihatannya tidak bisa dipercaya bahwa jembatan alam terbesar di dunia ini benar-benar ada karena proses alami selama jutaan tahun, tetapi itulah kenyataannya. Jembatan alam terbesar ini pertama kali terlihat tahun 1909 oleh para penjelajah di selatan negara bagian Utah, AS. Jembatan itu dijadikan monumen nasional. Monumen alam itu dijuluki Jembatan Pelangi, dengan bentangan jembatan berupa bebatuan. Jembatan ini merupakan jembatan alam terbesar, terbentuk selama jutaan tahun ketika Sungai Bridge mengukir jalannya melalui batuan pasir yang lembut, dan akhirnya menuju Danau Powell yang tidak jauh dari situ.
Oleh karena dosa, hubungan antara Allah dan manusia terputus. Dosa telah menciptakan jurang menganga yang tak terseberangi. Hal itu digambarkan dengan jelas oleh perumpamaan Lazarus dan orang kaya. Orang kaya itu memohon bapa Abraham agar Lazarus mengulurkan tangan untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kering.
Namun kita bersyukur, dosa yang telah menciptakan jurang menganga dan tak terseberangi oleh manusia itu akhirnya dapat kita seberangi melalui jembatan yang tidak lain jelmaan Allah sendiri, Tuhan Yesus. Marilah kita senantiasa bersyukur atas karunia keselamatan dalam Tuhan Yesus.
Tuhan tidak menuntut kita sempurna. Tuhan hanya menghendaki roh yang mau diajar, segera mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.
Jawaban.com
Manusia di dalam banyak hal, manusia seperti elang, kelelawar atau lebah. Kita senantiasa bergumul dengan masalah-masalah dan keputus-asaan kita, dan tidak pernah sadar bahwa apa yang kita perlukan adalah hanya menengadah ke atas.
Sumber : Ellen Klinke
Seorang kapten penerbang sedang menerima lamaran kerja seorang pramugari. Baginya sudah djelas bahwa pramugari itu belum pernah melakukan banyak perjalanan. Bahkan iapun mengaku bahwa baru pertama kali ia menginap di luar rumahnya.!
Nah, dengan demikian kapten penerbang itu menunjukan pramugari itu tempat-tempat yang terbaik bagi para pramugari untuk belanja, makan dan tempat menginap.
Esok harinya, ketika penerbang sedang mempersiapkan anak buahnya untuk memulai tugas rutinnya, ia diberi tahu bahwa pramugari yang baru tidak muncul. Karena ia tahu, di mana pramugari itu menginap beserta nomor kamarnya, ia menelponnya dan menanyakan mengapa ia tidak datang bekerja.
Pramugari itu menjawab dengan disertai tangisan bahwa ia tidak dapat keluar dari kamarnya. Kaptennya bertanya, ”Mengapa kamu tidak bisa keluar dari kamarmu?”
Anak perempuan itu menjawab sambil menangis, “Ada tiga pintu dalam kamarnya. Yang satu adalah pintu kamar mandi. Yang kedua adalah pintu almari dan yang ketiga ada tandanya: Jangan Menganggu!” (Don’t disturb)