Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 February 2009

Janji

Sudah berapa banyak “buku pernikahan” yang diberikan kepada Anda atau yang Anda beli sejak Anda berdua menikah? I Promise You Forever akan membantu Anda berpikir dengan cara baru tentang cara mengembangkan pernikahan Anda.

Dalam buku ini, Gary Smalley, pakar pernikahan terkemuka di Amerika, memberikan solusi yang revolusioner bagi berbagai alasan yang menyebabkan gagalnya sebagian besar nasihat pernikahan. Kesimpulan barunya yang mengejutkan : Pernikahan-pernikahan yang hebat di bangun di atas landasan kepercayaan, bukan di atas landasan ketrampilan-ketrampilan perilaku yang kita belajar gunakan.

Setelah memberikan konseling kepada pasangan-pasangan menikah selama bertahun-tahun, Dr. Smalley menyadari bahwa tidaklah cukup kalau Anda hanya mempelajari bahasa kasih pasangan Anda, terampil dalam mencari jalan keluar konflik, mengendalikan emosi-emosi Anda, atau menjadi pakar di kamar tidur. Kecuali pasangan Anda cukup aman untuk membuka hatinya tanpa takut di hakimi, dikritik, disalahkan, atau ditolak; apapun yang Anda lakukan takkan efektif. Hanya ketika para pasangan merasa “aman” secara emosional itulah, mereka baru bisa benar-benar menjadi satu, seperti yang Allah kehendaki. Berdasarkan penelitian selama 10 tahun, Dr. Smalley membagikan janji-janji sepenuh hati yang bisa Anda berikan kepada pasangan Anda, yang dijamin akan membangun kepercayaan dan membantu Anda berdua menjadi pasangan jiwa, kekasih, sekaligus sahabat sejati seperti yang Anda inginkan.

Ketentraman menjadikan pernikahan Anda terasa seperti tempat paling aman di bumi, tempat Anda ingin tinggal, bertumbuh, dan mengasihi.
Akan tetapi, untuk mengalami tingkat ketentraman tersebut,
Anda harus membangun sistem keamanan hubungan yang mantab dan memasukkan kodenya untuk mengaktifkannya, sama seperti yang Anda lakukan dengan sistem keamanan elektronik di rumah Anda.
Maka, Anda akan menuju ke pernikahan terbaik yang bisa Anda bayangkan.

Dikutip dari I Promise You Forever, Dr. Gary Smalley, Gloria Graffa, 2008

Renungan Harian edisi Februari 2009

07 February 2009

Weekly Scripture – Mazmur 127:1-2

"Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." - Mazmur 127:1-2

Humor : Mangkuk si Babi

Seorang pria sedang berjalan-jalan di luar negeri untuk menikmati liburan. Dia sangat haus, jadi dia memutuskan untuk berkunjung ke rumah seseorang dan meminta air.

Wanita pemilik rumah mengundangnya masuk dan memberinya semangkuk sup yang masih panas. Kemudian muncul seekor babi yang berlarian di dapur, lalu lari ke arah pengunjung dan terlihat antusias sekali dengan pengunjung itu.

Si pengunjung mengatakan bahwa ia belum pernah melihat babi yang seramah itu. Si pemilik rumah mejawab, "Uhm, sebenarnya ia tak terlalu ramah. Itu mungkin karena kamu menggunakan mangkuk makannya."

06 February 2009

Pohon Kenari

Karena lelahnya seorang petani duduk di bawah pohon kenari sambil mengebaskan topinya untuk menghilangkan rasa panas karena seharian bekerja di bawah terik matahari. Secara bergantian ia memandang tanaman labunya dan pohon kenarinya yang sedang berbuah lebat. Petani itu mulai berpikir, "Tuhan kurang perhitungan dan tidak adil? Buah labu itu besar, tetapi Ia justru menaruhnya pada tanaman merambat yang berbatang kecil sehingga dengan susah payah batang itu menahan buahnya. Sebaliknya kenari ini mempunyai pohon dan cabang yang besar tetapi buahnya kecil saja. Seandainya saya yang menciptakannya saya akan berbuat sebaliknya agar lebih sesuai.”

Sementara petani itu menyandarkan tubuhnya pada pohon kenari tiba-tiba sebuah buah kenari jatuh di atas kepalanya. Ia memungut kenari itu. Akhirnya ia berdiri dan berkata,”Tuhan memang luar biasa dan bijaksana. Ia adil dan pengasih. Seandainya buah kenari ini sebesar labu saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kepala saya.”

Seringkali kita juga berlaku seperti petani di atas. Kita mengatakan Tuhan tidak adil karena sudah membuat kita seperti sekarang ini. Dan dengan keadaan seperti sekarang memang tidak ada sesuatupun yang bisa kita lakukan. Tetapi perhatikanlah sebagaimana Tuhan menciptakan berbagai macam tumbuhan dengan berbagai bentuk dan manfaatnya, demikianlah Allah menciptakan kita dengan beragam kemampuan dan karunia. Tuhan Yesus menciptakan kita masing-masing secara khusus agar kita dapat berbuah bagi yang lain. Banyak orang menyangka ia sudah berbuat banyak tetapi jika ia tidak menjadi berkat bagi orang lain sebenarnya ia bukan berbuah tetapi bengkak. Bengkak artinya ia berbuah bagi dirinya sendiri alias menumpuk berkat bagi dirinya sendiri.

Dan juga jangan pernah anda berkata bahwa Allah tidak adil karena anda tidak sekaya orang lain atau tidak secantik, semampu dan sepintar mereka. Bagi Allah yang lebih penting bukan secara jasmaniah tetapi apakah hidup kita dapat berbuah banyak atau tidak. Ingatlah bagi Allah hanya ada 2 macam orang: yang berbuah dan yang tidak berbuah. Jangan menjadikan kondisi atau kekurangan suatu alasan bagi kita untuk tidak berbuah bagi Allah, orang lain dan diri kita sendiri. Sekalipun Yesus berlatar belakang sebagai seorang tukang kayu, keadaan ini tidak menghalangi-Nya untuk menggenapi kehendak Allah di dalam kehidupan-Nya dan Ia sudah membuktikan bahwa Ia berguna bagi Kerajaan Allah. Dengan menjadi berkat bagi orang lain berarti kita telah memenuhi maksud Allah ketika Ia membentuk kita.

DOA:
Bapa yang penuh kasih aku tidak akan pernah berkata bahwa aku tidak Berguna dan bahwa Engkau tidak adil karena Engkau telah menciptakan aku untuk suatu maksud yang indah dan mulia. Terima kasih Bapa atas semua yang Engkau karuniakan kepadaku, aku mau memakai semuanya untuk memuliakan namaMu. Dalam nama Yesus Yang Adil aku berdoa. Amin.

05 February 2009

Jangan Benci Aku Mama

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyeko lahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali.

Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"

"Nama saya Elic, Tante."

"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati...

Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric... Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya.. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric… Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali...Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya.

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. "Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. (kisah nyata dari Irlandia Utara)

Biarlah Terangmu Bercahaya

1 Timotius 4:12 Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 36; Kisah Para Rasul 8; Keluaran 21-22

Satu hal yang perlu diingat oleh dunia yaitu keteladanan yang baik. Mereka perlu melihat umat Tuhan hidup dalam kasih dan kesucian serta iman dalam rumah mereka, dalam sekolah mereka dan dalam pekerjaan mereka.

Rasul Paulus menaseti kita dalam Roma 12:17 untuk hidup tidak bercela di hadapan semua orang. Ayat lain mengajarkan kita untuk menghindari semua kejahatan. Jadi, bila Anda mengikuti Tuhan, jagan menyerempet bahaya. Berjalanlah sepenuhnya menurut petunjuk Tuhan. Berlakulah sedemikian rupa sehingga orang tidak meragukan diri Anda sebagai orang Kristen. Biarlah orang-orang di sekitar Anda melihat kasih, iman dan kesucian Anda dalam setiap situasi.

Teladan Anda akan jauh lebih berpengaruh ketimbang perkataan Anda. Ketika putra kami, John, masih kecil, kami meluangkan waktu dengan kakek dan nenek saya. John sedang tidur dengan kakek saya dan dia terbangun di malam hari lalu berkata, "Kek, telingaku sakit. Maukah kakek mendoakannya?" Kakek dan nenek saya diasuh oleh gereja yang tidak mempercayai kesembuhan ilahi. Saya tidak tahu tindakan kakek saya waktu itu, tetapi apapun yang ia lakukan tidak membuat John kembali tidur. Jadi, John langsung bangun dan berkata, "Aku akan pergi tidur dengan ibuku. Bila dia berdoa, telingaku tidak sakit lagi." Sekitar 18 tahun kemudian, kakek saya menceritakan kisah itu.

Anda lihat, saya telah memberikan teladan iman dan kasih, dan John mengingatnya. Selagi anak-anak Anda bertumbuh dewasa, mereka mungkin lupa akan sebagian khotbah yang telah Anda beritakan atau bertindak seakan-akan mereka tidak berminat dalam hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan. Tetapi mereka takkan pernah melupakan teladan Anda.

Bahkan di tempat kerja Anda atau hanya di lingkungan Anda, orang-orang mungkin menolak kata-kata yang Anda ucapkan. Tetapi mereka tidak pernah menyangkal atau melupakan tindakan kasih Anda.

Jangan biarkan dosa-dosa kecil dan kompromi rohani merusak keteladanan Anda. Hiduplah dengan tidak bercela dan biarlah terang Yesus bercahaya cemerlang melalui Anda.

Terang Allah bercahaya ketika teladan Kristus nyata melalui hidup Anda.

Jawaban.com

04 February 2009

Harus di Pecahkan

Markus 14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia."

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 35; Kisah Para Rasul 7; Keluaran 19-20

Perempuan itu mendekati Yesus dengan sikap yang cukup mengejutkan. Ia tidak datang untuk meminta bantuan. Ia tidak mengharapkan kesembuhan. Ia juga tidak ingin melihat tanda-tanda dan mukjizat. Ia datang untuk memberi sesuatu yang mahal harganya. Minyak narwastu murni yang ditempatkan dalam buli-buli pualam.

Yesus mempercayakan Roh-Nya kepada kita. Ia memberi kita talenta, karunia-karunia rohani dan segala berkat rohani di dalam surga (Yohanes 4:14). Namun, itu semua tidak akan memancar keluar dalam kehidupan kita kalau kita tidak memecahkan buli-buli itu. Buli-buli itu melambangkan tubuh kita, yaitu kedagingan kita. Sayangnya, orang Kristen sering lebih menyayangi buli-buli itu dan tidak membiarkannya hancur. Karena itulah kita didorong untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1). Setelah buli-buli itu dipecahkan, minyak itu dicurahkan dan "bau minyak semerbak di seluruh rumah itu" (Yohanes 12:3). Baru setelah kedagingan kita dihancurkan, "bau" kita dapat tercium ke sekeliling kita, "menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana" (1 Korintus 2:14).

Dan Yesus menerima pemberian itu. Persembahannya yang dituduh orang sebagai pemborosan itu terus diberitakan di seluruh dunia sebagai bagian dari kabar baik.

Kapal yang berada di pelabuhan tetap aman, tetapi bukan itu tujuan kapal diciptakan.

Jawaban.com

5 Bola

Di awal tahun ajaran baru, di suatu universitas di USA, CEO Coca Cola, Brian Dyson, berbicara mengenai hubungan antara pekerjaan dan kewajiban (Komitmen) hidup yang lain.

“Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit dan kitaharus menjaga agar kelima bola ini seimbang di udara.

Kita akan segera mengerti bahwa ternyata “Pekerjaan” hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali. Tetapi empat bola lainnya Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan ingatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya. Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya. Bagaimana caranya ?

Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita special.

Jangan tetapkan tujuan dan sasaran Kita dengan mengacu pada apa yang orang lain anggap itu penting. Hanya Kita yang mengerti dan dapat merasa “Apa yang terbaik untuk kita”

Jangan mengganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita, melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti.

Jangan biarkan hidup kita terpuruk dengan hidup di ‘masa lampau’ atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupmu.

Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.

Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.

Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.

Jangan berusaha untuk mengunci Cinta memasuki hidupmu dengan berkata, “Tidak mungkin saya temukan”. Cara tercepat untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberinya, cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya “sayap”.

Janganlah berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kita lupa dari mana kita berasal dan juga lupa sedang menuju kemana kita.

Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.

Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu Pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat Kita bawa kemanapun tanpa membebani.

Jangan gunakan waktu dan kata-kata dengan sembrono. Karena keduanya tidak mungkin kita ulang kembali jika telah lewat. Hidup bukanlah pacuan melainkan suatu perjalanan dimana setiap tahap sepanjang jalannya harus dinikmati.

Dan akhirnya resapilah :

MASA LALU adalah SEJARAH,
MASA DEPAN merupakan Misteri dan
SAAT INI adalah KARUNIA.
Itulah kenapa dalam bahasa Inggris saat ini disebut “The Present”.

03 February 2009

Musuh Yang Mematikan

1 Tesalonika 4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 34; Kisah Para Rasul 6; Keluaran 17-18

Banyak dari kita walaupun adalah orang percaya, telah menganggap dukacita dan kepedihan sebagai bagian kehidupan yang sedemikian wajar sehingga kita bahkan tidak mempertanyakannya. Bahkan sebenarnya, jika kita jujur, kita harus mengakui ada kalanya kita merasa sedih dan mengasihani diri sendiri.

Mengapa kita memilih untuk berdukacita? Karena dukacita mempunyai gejolak emosi di dalamnya, suatu gelora perasaan yang pada tahap permulaan sifatnya hampir sama seperti candu.

Tetapi kesedihan dan dukacita adalah hal-hal yang berbahaya. Beberapa tahun yang lalu Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa kedua hal itu bukanlah emosi yang tidak berbahaya seperti yang kita duga. Kekuatan di balik emosi-emosi ini sebenarnya adalah roh-roh yang diutus oleh iblis sendiri untuk membunuh, mencuri dan membinasakan damai sejahtera dan sukacita yang ada pada Anda.

Kesedihan dan dukacita adalah bagian dari serangan gencar si iblis yang menghancurkan. Yesus telah menerimanya ketika Dia mati di kayu salib (Yesaya 53). Dia menanggung kesedihan dan dukacita supaya kita tidak perlu menanggungnya. Jika kedua emosi ini datang mengetuk di pintu hati Anda, ingatlah, itu bukan emosi yang tidak berbahaya. Itu adalah musuh yang mematikan dan telah disingkirkan oleh Yesus di Golgota.

Jangan hidup seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan. Anda adalah orang yang beriman. Anda tahu bahwa Yesus Kristus mati bagi Anda dan bangkit kembali. Itu bukan hanya memberikan Anda harapan sehubungan degan kematian fisik, namun juga memberikan Anda harapan dalam setiap keadaan. Janganlah berdukacita!

Musuh yang mematikan seringkali lahir dari sikap hati kita saat meghadapi permasalahan hidup. Jagalah hati kita dengan segala kewaspadaan.

Jawaban.com

Penjaja Kue

Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, “Pak, mau beli kue, Pak?”

Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab “Tidak, saya sedang makan”. Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab “tidak dik, saya sudah kenyang”.

Setelah pemuda itu membayar kekasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir “Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah”.

Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan.

“Pak mau beli kue saya?”, pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp. 1.500,00 dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. “Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik”. Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasih kepada orang lain.

“Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?” Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, “Saya sudah berjanji sama ibu dirumah ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang kerumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis”. Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa “kerja itu adalah sebuah kehormatan”, kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja dihadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang, dan suatu pantangan bagi ibunya, anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang kerumah ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.

Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu “kerja adalah sebuah kehormatan” ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.

02 February 2009

Integritas Pribadi

2 Tesalonika 3:9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 33; Kisah Para Rasul 5; Keluaran 15-16

Seorang ibu membawa anaknya kepada Mahatma Gandhi untuk dinasehati agar menghentikan kebiasaan buruknya makan permen. "Tunggulah dua minggu lagi. Datanglah ke sini lagi sambil membawa anak ibu," pinta Gandhi. Ibu ini heran, megapa harus menunggu dua minggu lagi. Meski heran, ibu ini menuruti saja.

Dua minggu kemudian, ketika ibu dan anaknya datang, Gandhi langsung menasehati anak itu. Sang ibu mengucapkan terima kasih. Sebelum pamit, ibu itu masih penasaran mengapa dia harus menunggu dua minggu. "Selama dua minggu ini, saya berusaha menghilangkan kebiasaan buruk saya. Soalnya, saya juga gemar makan permen," jawab Gandhi.

Gandhi adalah orang yang punya integritas karena dia menjaga keselarasan antara perkataan dan tindakannya. Paulus mengerti benar pentingnya integritas ini. Sebagai rasul, sebenarnya dia berhak menikmati sokongan hidup dari jemaatnya. Namun Paulus memilih bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Dengan begitu, ketika menasehati jemaat di Korintus, dia bisa berkata lantang, "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10)

Dengan integritas yang terjaga, tanpa banyak mengobral kata-kata pun, Anda bisa menuntun banyak orang datang kepada Kristus. Mereka bisa melihat wajah Kristus tergambar dalam tindakan dan perkataan Anda yang selaras.

Rantai kebiasaan terlalu lemah untuk dirasakan, tetapi membutuhkan komitmen kuat untuk mematahkannya.

Jawaban.com