Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 December 2008

Humor : Untuk Sekolah Minggu

Si kecil Johnny pulang dari Sekolah Minggu dengan sebuah permen besar di tangannya.

Ibunya menanyakan dari mana dia memperolehnya.

"Oh ... aku membelinya di toko dengan uang yang tadi Mama berikan untukku," kata Johnny.

"Lho ... uang itu kan untuk Sekolah Minggu, Johnny!!" tegur ibunya.

"Iya, Ma," jawab Johnny, "Tapi tadi Ibu guru yang berdiri di depan pintu langsung menyuruh aku masuk.

Jadi tadi aku masuk dengan gratis!"

06 December 2008

Kini Kutahu

Kini kutahu, mustahil buat seseorang mencintai kita, yang dapat ialah membuat diri kita layak dicintai, selebihnya terserah mereka.

Kini kutahu, betapapun aku telah peduli, ada saja orang yang tak peduli balik.

Kini kutahu, bisa bertahun-tahun membangun kepercayaan, dan sedetik merusakkannya.

Kini kutahu, yang penting bukan memiliki apa dalam hidup ini, namun siapa.

Kini kutahu, paling lima belas menit berlagak ramah, sesudahnya, hal lain saja.

Kini kutahu, bukan soal bagaimana berbuat yang terbaik dicapai orang, namun apa yang paling dapat kita kerjakan.

Kini kutahu, yang penting bukan apa yang terjadi pada orang, namun apa kemudian yang dilakukannya.

Kini kutahu, apa yang dapat kita lakukan dalam sedetik, dapat membawa nestapa petaka seumur hidup

Kini kutahu, betapapun tipis kita mengiris, selalu ada dua muka terhasil.

Kini kutahu, betapa lamanya untuk menjadi seseorang yang kuidamkan.

Kini kutahu, betapa jauh lebih mudah asal menanggapi, daripada berpikir jernih jitu.

Kini kutahu, harus selalu ucapkan kata kasih sebelum berpisah, karena mungkin itu terakhir jumpa dengannya.

Kini kutahu, betapa lamanya kita dapat tahan sesuatu, yang semula kita pikir tak mampu.

Kini kutahu, kita harus pertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, betapapun yang kita rasakan

Kini kutahu, kita mengendalikan sikap tindak, atau sikap tindak itu mengendalikan kita

Kini kutahu, betapa semula hubungan panas keras, dapat saja berubah menjadi teduh lunak, dan buah-buahnya jauh lebih baik

Kini kutahu, pahlawan itu orang yang mengerjakan sesuatu yang harus dilakukan, tak peduli apapun konsekuensinya saat itu

Kini kutahu, belajar memberi sesuatu itu, menuntut latihan disiplin diri

Kini kutahu, betapa ada saja orang yang sangat mengasihi kita, tetapi tak tahu cara menunjukkannya

Kini kutahu, uang itu selalu menipu dan gagal, untuk menjaga martabat sejati

Kini kutahu, dengan sahabatlah kita, sanggup mengerjakan segala sesuatu atau tak sesuatupun,
dan merupakan saat yang indah

kini kutahu, orang yang mungkin kita anggap akan menendang kita saat kita jatuh, justru yang dapat membantu kita bertegak

kini kutahu, saat kita marah, kita merasa berhak marah, tetapi bukan hak untuk menjadi jahat

kini kutahu, persahabatan dapat terus bertumbuh makin dalam, sebagaimana juga kasih sejati

kini kutahu, seseorang yang tak mencintai kita seperti kita harap, bukan berarti tak menyayangi dengan segala yang dia miliki

kini kutahu, kedewasaan dan kebijakan itu gayut pengalaman dan pelajaran yang terpetik, daripada sekadar berapa kali sudah berulangtahun

kini kutahu, jangan mencela dan remehkan mimpi dan angan anak-anak, bila mereka percayai kata-kata kita, dapat nantinya menjadi bencana

kini kutahu, keluarga itu tak selalu disamping kita, bahkan yang bukan keluarga justru memelihara, mengasihi dan mengajar menghadapi dunia luas, keluarga itu bukan semata biologis

kini kutahu, betapa baikpun kawan, suatu ketika akan menyakiti, maka harus selalu siap memberi maaf kepadanya dan siapapun

kini kutahu, tidak cukup hanya dimaafkan oleh orang lain, diri kita sendiripun terkadang perlu dapat memaafkan kita

kini kutahu, betapa parah pun luka dan patah hati kita, dunia akan terus berputar tanpa mesti melirikmu

kini kutahu, latarbelakang dan lingkungan dapat mempengaruhi diri, namun kita sendiri bertanggungjawab akan menjadi bagaimana

kini kutahu, kala sesama kawan bertarung, kita harus ada di satu pihak, betapapun kita merasa tidak enak melakukannya

kini kutahu, orang bertengkar tak mesti karena saling benci, dan tiada pertengkaran bukan berarti ada kasih

kini kutahu, terkadang kita perlu mengedepankan orangnya terlebih dulu, daripada menyimaki kelakuannya

kini kutahu, kita tak harus berganti kawan, walau kita tahu kawan itu dapat berubah

kini kutahu, tak harus kita mati-matian mengejar suatu rahasia, bila hal itu dapat mengubah dan merusak kehidupan selamanya

kini kutahu, dua orang dapat melihat dua hal yang tepat sama, namun dengan pengertian yang sangat berlawanan

kini kutahu, betapapun kita menjaga anak-anak agar tak terluka, tetap saja mereka terluka, dan kita dapat ikut terluka

kini kutahu, ada begitu banyak jalaran jatuh dan terperangkap cinta

kini kutahu, betapapun akibatnya, orang yang jujur dengan dirinya, akan melangkah dan memperoleh lebih dalam hidup ini

kini kutahu, berapa banyak pun teman kaumiliki, betapa kau adalah tiang pancang mereka, kau akan tetap merasa sepi dan hilang, saat kau paling sangat perlukan mereka

kini kutahu, hidup kita dapat diubahkan dalam hitungan jam, oleh orang yang bahkan tak mengenal kita

kini kutahu, biarpun kaupikir tiada lagi dapat kaubantukan pada kawan yang memerlukan, kau pasti masih punya kekuatan untuk menolong

kini kutahu, membaca dan menulis, sebagaimana bicara, dapat mengurangi sesaknya rasa hati

kini kutahu, paradigma hidup kita, bukan satu-satunya pembatas anugerah yang kita terima

kini kutahu, bahwa pengakuan dan ungkapan hati saja, bukan sesuatu yang merendahkan harkat manusia

kini kutahu, bahwa orang yang paling kita kasihi, justru diambil dari kita terlampau cepat

kini kutahu, dalam makna apapun kata “cinta” itu, akan lenyap maknanya bila dipakai berlebihan

kini kutahu, betapa sukarnya menarik pemisah, antara sikap ramah dan tak menyakiti hati orang, dengan tampil menyatakan pemikiran serta keyakinan

Hati Yang Terpaut

"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku" - Matius 19:21

Bacaan : Matius 19:16-22

Apabila kita membaca kisah orang muda dalam Matius 19:16-22, kita harus angkat topi untuknya. Mengapa? Karena saat usianya masih muda, ia sudah menjadi orang yang kaya. Tidak hanya itu, ia pun gemar membaca perintah Allah dan menurutinya dalam kehidupan sehari-hari. Andaikata orang muda ini hidup pada zaman sekarang, tentu ia akan menjadi seorang pria ideal dan menjadi idaman banyak orang.

Namun sayang, segala hal yang telah ia capai dalam hidupnya tidak membuat Yesus terkesan. Sebab Yesus hendak menguji hingga kedalaman hati, yakni apakah hatinya berpaut kepada Allah. Orang muda ini memang berperilaku baik dan selalu menuruti perintah Allah, tetapi ia tidak memiliki hubungan yang akrab dengan Allah, Sang Empunya perintah. Apa buktinya? Ketika Yesus memintanya menjual seluruh harta miliknya, memberikannya kepada orang-orang miskin supaya memperoleh harta di surga, dan kemudian mengikut Tuhan, ia malah merasa sedih. Alkitab mencatat bahwa hal itu terjadi karena hartanya begitu banyak. Saking banyaknya sehingga hati orang muda ini terpaut kepadanya.

Berdasarkan kisah ini kita belajar bahwa Allah ingin kita tidak sekadar hidup baik dan melakukan semua perintah Allah. Saya dapat meminta anak orang lain untuk turun dari pagar rumah dan anak tersebut benar-benar menurut. Namun, ketaatan si anak tidak menjadi bukti bahwa ia anak kandung saya, karena hatinya dan hati saya tidak terpaut. Yang Tuhan rindukan adalah kita hidup dalam kehausan dan kerinduan untuk selalu berpaut dengan hati-Nya. Itulah yang membedakan antara anak Allah dan bukan anak Allah -RY

TAAT BELUM TENTU BERARTI ADA HATI YANG TERPAUT
TETAPI HATI YANG TERPAUT BISA MEMBUAT KITA TAAT

Yayasan Gloria

Arsip Weekend Scripture - Amsal 19:2

"Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah." - Amsal 19:2

Humor : Lingkungan Baru

Sebuah keluarga, baru sehari tinggal di kota. Sebelumnya, mereka tinggal di desa.

Pagi-pagi benar, anak mereka yang berusia tiga tahun lari ke kamar orang tuanya dan membangunkan mereka.

Si ibu memakaikannya baju dan menyuruhnya main di halaman.

Dua puluh menit kemudian, ia pulang ke rumah.

"Bu, Bu," teriaknya, "semua rumah di sini punya bel pintu -- dan semua bel itu bunyi!"

Why?

US: "God, why did you do that to me? Why did you take the one I most love? Why did you permit such illness to conquer my life? Why am I sterile while others have children? Why? Why?"

STEVEN: Before blaming God, let me tell you my story. Many years ago, I thought richness to meant the ownership of the most precious diamond. So, I kept petitioning God to make me rich by granting me this diamond. One day, God let me stumble upon a very precious diamond on my way to work. Delighted, I scooped it up and swiftly tried to hide it in my suit. At that moment, an angel blocked my way, fiercely took the diamond and threw it far away. Shocked, I kept yelling and screaming at God, "Why did you do that to me? Why? Why?" A few minutes later, I found the King's soldiers approaching me. They started searching me thoroughly. When they finished, I angrily asked reason for their act. To my astonishment, they told me that the King has lost his dearest diamond and ordered them to search for it and instantly kill whomever they found with it. Alleluia. God did that to save my life and help me enlarge my vision scope to other means of richness like good health and happy family.

GOD: my dearest son and daughter, I'd love you all to be always satisfied. But, I select the kind of satisfaction I see suiting my purpose in each one of you. I grant some good health, others wealth, others children. I sometimes permit the loss of beloved ones or certain illnesses to enrich your souls and draw you closer to my heart. My dear children, your "whys" are bitter to my soul. They reflect your lack of love, trust and submission to me. Why do not you just lean your heads on my shoulder and trust my love and care for you? Remember, it was written, "For he maketh sore, and bindeth up: he woundeth, and his hands make whole." (Job 5:18). "Yet I will not forget thee. Behold, I have graven thee upon the palms of my hands." (Isaiah 49:15-16).

US: Dear God, I am sorry for any complaint we have raised against you. Let it be Your Will in my life. Please help me feel your healing hands during my toughest times. Thank you. Amen.

Contributed by Maria Hanna

05 December 2008

Humor : Teks Proklamasi

Seorang anak, sambil nangis pulang sekolah. Bapaknya nanya, "Kenapha kau ucok??!!! akhu liat wajah kau kusut kali la"

Si Ucok: Aku diusir bu guru Pak....

Si Bapak: Kenapa ???

Si ucok: Bu Guru khan nanya.. siapa yg tandatangan text proklamasi

Si Bapak: Lalhu kau jawab apha...?

Si Ucok: Bukan aku Buk... sumpah bukan aku!!!

Si Bapak: Salah lah kau itu!!, sekarang masuk sekolah suzah nak...mengaku
sazza apa salahnya...?!

Si Ucok: Iya ...ya ... Pak yach !!

Esok hari ini si Ucok pulang cepat lagi ... dengan wajah yg lebih kusut lagi...

Si Bapak: macam manaa Cok??

Si ucok: Diskor Pak ... tiga hari ... gara gara akhu ikut saran Bapak ....

Si Bapak: Hayoo ... kita balek ke sekola kauuuuu ... aku kase tau bu guru kauu yg benar ....

Di sekolah:

Bu guru: Wah ... selamat pagi Pak Ucok, ada perlu apa ini?

Bapak Ucok (bicara pelan): Begini bu Guru ... aku kase tahu bu guru mengena'i Proklamasi itu ....

Bu guru (bengong): Yah .. kenapa pak Ucok???

Bapak Ucok: Sebenar nya bu Guru salah zuga... masak si Ucok yg ditanya? khan dia belum lahir bu?

Bu guru (bengong lagi): Trus ..?

Bapak Ucok: Sebenarnya .. ini terus terang lho buk .. sebenarnya yg tandatangan text Proklamasi itu ... aku .. Bu....

Bu guru: KELUAAARRR!! !

Dijalan :

Bapak Ucok : macammana ni Cok, kau tidak ngaku..salah .. aku yg ngaku salah
zuga .... pusiiiinggggggg aku tanteeeeeee ....

Tiba tiba mereka ketemu pak RT...

Pak RT : Wah... ada apa ini pak Ucok sama anak ini..kok wajah kusut ... piyee toh ??

Bapak Ucok : (maka mulai lah pak Ucok bercerita )

Pak RT langsung ketawa ngakak : Ha .....Ha..... itu bukan masalah besar pak......ha. ...ha.... .. mana .. manaa teks nya ? ... tak tandatangani. ...

podo ae gobloke..... :)

Grace

"Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus" - Efesus 4:7

Pernah melihat orang yang sangat mumpuni atau ahli di bidangnya dan melakukan hal-hal besar? Mungkin kita berpikir, "Ah, dia kan memang giat belajar."

Tidak banyak orang yang mau bersusah payah untuk mencapai hal yang tinggi. Asal sudah mencapai standar, puaslah hatinya. Banyak dari kita yang secara tidak sadar membawa paradigma seperti ini.

Di muka bumi ini beragam manusia dengan segala kepintaran dan spesialisasinya, seperti dokter, tukang cukur rambut, beautician, pelaut, pilot, ahli gizi, arsitek, dan sebagainya. Memang kalau di amati, kenapa ya Tuhan menciptakan miliaran manusia dengan daya pikir dan kemampuan yang berbeda-beda? Pastilah karena ini membuat manusia harus belajar praktek Hukum Tuhan "Kasihilah sesamamu manusia..." Kita diminta saling membantu dan kerja sama, yang kuta menolong yang lemah.

Bagaimana kita bisa ada sampai sekarang? Manusia sudah diselamatkan karena anugerah-Nya. Di luar itu, anugerah berarti kasih karunia khusus atau kemampuan yang diberikan pada masing-masing pribadi untuk melayani tubuh Kristus, seperti : pengajar, pengkhotbah, pendoa, hospitality, konsumsi dan lainnya. Tiap-tiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda, dan kita harus saling menghargai atas keunikan Tuhan memperlengkapi tiap orang untuk kebutuhan gereja-Nya.

Setiap orang yang sudah diberi menurut ukuran Kritus harus menjaga diri dan hati sebaik mungkin. Bukan untuk kebanggan diri atau menjatuhkan orang lain, tapi justru untuk memperkuat barisan anak Allah yang memperlengkapi satu dengan lainnya.

Kalau Tuhan sudah menganugerahi kita dengan kasih karunia, tugas dan tanggung jawab kita adalah untuk memaksimalkan supaya jadi berkat buat banyak orang, berbuat bagi Kristus. Amin.

Sumber : Roti Surgawi Edisi Desember 2008

Humor : Membangunkan

Dua ibu membicarakan anak-anak mereka.

"Bagaimana caramu membangunkan Paul pagi-pagi benar saat akan sekolah?" tanya salah satu ibu.

"Oh, itu mudah," jawab ibunya Paul. "Aku hanya harus melempar kucing ke tempat tidurnya tiap pagi."

"Loh, kok bisa?" tanya ibu tersebut.

"Lah, Paul itu tidur dengan anjing peliharaan kami kok."

Kelirumologi Natal

Istilah kelirumologi pertama kali dicetuskan oleh Jaya Suprana,budayawan asal Semarang. Karena itu, Jaya Suprana dikenal sebagai kelirumolog. Istilah kelirumologi merujuk pada kekeliruan-kekeliruan baik makna kata ataupun fakta sebenarnya dari sebuah kejadian, yang karena sudah terlanjur biasa dipergunakan, diucapkan, dan didengar, tidak lagi dirasakan sebagai suatu kekeliruan.

Di kalangan orang kristiani pun berlaku kelirumologi. Contohnya, anggapan bahwa Yunus ditelan ikan paus. Hal ini keliru karena selain paus bukan jenis ikan, melainkan mamalia, Alkitab pun tidak pernah menyebutkan nama ikan paus, tetapi ikan besar (Yunus 1:17). Contoh lain adalah sebutan majelis jemaat. Kita kerap mengatakan, "Pak Sulaiman itu majelis jemaat". Ini keliru. Majelis itu korp-nya, sedang orangnya adalah anggota majelis jemaat; bisa panatua, diaken, atau yang lain. Kekeliruan yang sama tampak pada ungkapan, "Saya jemaat gereja anu". Yang benar adalah, "Saya anggota jemaat gereja anu". Jemaat bukan sebutan personal, melainkan komunal.

Hal seputar Natal ternyata juga memiliki kekeliruan-kekeliruan serupa itu. Berikut adalah beberapa contohnya :

1. Tiga orang Majus
Orang Majus telah sekian lama menjadi "misteri". Berbagai studi telah dilakukan untuk mengungkap "jati diri" mereka. Dalam setiap kisah Natal, para Majus selalul digambarkan berjumlah tiga orang. Konon nama mereka adalah Kaspar, Melkior, dan Baltazar. Film Nativity Story (2006) bercerita tentang orang Majus keempat yang bernama Artaban. Artaban ini "tercecer" dari ketiga temannya. Sementara dalam tradisi Timur kuno, orang Majus dipercaya berjumlah 12 orang.

Alkitab sendiri tidak menyebutkan jumlahnya, Matius hanya mencatat "orang-orang Majus" (Matius 2:1-12). Memang dalam kisah orang majus itu disebutkan adanya tigas jenis hadiah yang mereka bawa : mas, kemenyan, dan mur. Akan tetapi, tiga jenis hadiah tersebut tidak serta merta dibawa oleh tiga orang, bukan? MAtius tidak merinci siapa saja mereka; nama, jumlah dan asal. Tampaknya bagi Matius, detail seperti itu tidak penting karena itu bukanlah informasi utama yang ingin disampaikan. Jauh lebih penting bagi Matius untuk mencatat maksud dan tujuan mereka pergi ke Betlehem, yaitu untuk mencari Raja yang baru lahir.

2. Para gembala bertemu Orang Majus di Kandang
Dalam gambar-gambar kartu Natal ataupun hiasan di kandang Natal biasa dilukiskan seperti ini : Yusuf dan Maria duduk mengelilingi palungan tempat Bayi Yesus terbaring; di samping mereka tampak gembala-gembala bersama dombanya; disisi lain para Majus bertelut sambil membawa persembahan mereka.

Alkitab tidak pernah menyebutkan pertemuan para Majus dan para gembala berlangsung di kandang. Dan tampakya mereka memang tidak datang bersamaan. Para gembala datang di kandang Betlehem sesaat setelah Yesus dilahirkan (Lukas 2:16). Sementara itu, orang Majus datang beberapa lama kemudian. Beberapa petunjuk ke arah fakta demikian adalah ketika Matius menulis, "Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu" (Matius 2:11). Di situ tidak disebutkan "kandang itu". Lalu, perintah Raja Herodes adalah membunuh bayi-bayi berumur di bawah usia dua tahun (Matius 2:16), bukan bayi yang baru lahir. Lagi pula orang Majus itu datang dari negeri jauh.

3. Kamar kosong untuk Maria dan Yusuf
Dalam drama Natal biasanya digambarkan begini : Yusuf berjalan menuntun keledai, sementara Maria yang tengah hamil tua duduk di atasnya. Mereka berjalan dari satu penginapan ke penginapan lain, dan selalu dijawab, "Maaf, tidak ada kamar kosong." Jawaban tersebut keliru sebab yang dikatakan Alkitab bukan tidak ada kamar kosong, tetapi tidak ada tempat bagi mereka (Lukas 2:1-7). Jadi, kamar kosong mungking ada, hanya saja tidak ada tempat bagi Yusuf dan Maria.

Hal ini bisa dimengerti mengingat situasi dan kondisi pada waktu itu. Kota Betlehem tengah dipadati orang-orang dari luar kota yang hendak ikut sensus penduduk. Penginapan tentunya menjadi sangat mahal, sedangkan Yusuf dan Maria hanyalah orang-orang sederhana. Lagipula, Maria tengah hamil tua. Jika sampai melahirkan di penginapan, pasti akan sangat merepotkan pemilik penginapan. Belum lagi suara tangis bayi yang bisa mengganggu tamu-tamu lain. Jadi, dari perhitungan bisnis, tentu rugi menerima mereka menginap. Karena itu bagi mereka, maaf saja, tidak ada tempat.

4. 25 Desember adalah Hari Kelahiran Yesus
Keliru, sebab pada bulan Desember di Palestina sedang musim dingin. Padahal, ketika hari kelahiran Yesus, Alkitab mencatat kisah pada gembala yang tengah menggembalakan dombanya di padang (Lukas 2:8-20). Saat itu pasti bukan musim dingin.

Sebetulnya memang tidak ada tanggal yang pasti mengenai kapan Yesus lahir. Pada zaman itu, perayaan hari kelahiran dianggap sebagai tradisi kafir. Orang-orang Kristiani pun tidak terbiasa melakukannya. Satu-satunya perayaan hari kelahiran yang dicatat dalam Perjanjian Baru adalah ulang tahun Herodes Antipas (Matius 14:6). Gereja perdana pun hanya merayakan hari kebangkitan Tuhan Yesus.

Tanggal 25 Desember semula merupakan perayaan nonkristiani, menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Sekitar akhir abad ke-4 orang-orang Kristiani di kota Roma mengambil alih tanggal itu dan menjadikannya sebagai peringatan kelahiran Yesus, yaitu hari Natal, sampai sekarang. (Sumber : Selamat Natal, Andar Ismail).

Itulah beberapa kekeliruan yang terjadi seputar Natal. Akan tetapi, dari semua kekeliruan itu, kekeliruan yang paling fatal adalah ketika Natal sudah identik dengan kemeriahan, pesta, hura-hura, dan rupa-rupa pertunjukkan acara. Entah di rumah, di gereja, atau dimanapun. Seakan-akan Natal tanpa semua itu bukan lagi Natal, sehingga orang pun lantas lebih sibuk dengan acara, bukan makna; lebih peduli pada bentuk, bukan isi. Tidak heran jika Natal datang pergi, tetapi hanya berlalu tanpa makna, tanpa bekas. Gone with the wind.

Ayub Yahya - Renungan Harian Desember 2008

04 December 2008

Humor : Hotel

Aku dan suamiku menginap di sebuah hotel di Chicago ketika menghadiri sebuah konvensi. Karena kami tak terbiasa tinggal di kota besar, kami sangat khawatir dengan masalah keamanan. Malam pertama kami menginap, kami menaruh kursi, koper, dan tong sampah di pintu. Jika ada seseorang yang mencoba masuk dengan paksa, kami yakin kami pasti mengetahuinya. Sekitar pukul 01.00 pagi, ada yang mengetuk pintu.

"Siapa di situ?" suamiku bertanya dengan gugup.

"Hei," kata orang yang ada di luar pintu, "kunci kamarmu tertinggal di luar."