Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

22 November 2008

Arsip Weekend Scripture - 2 Tim 1:7

"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" - 2 Timotius 1:7

Pemurnian

Pada suatu kaetika seorang ahli pikir berbangsa Yunani yang terkenal diberi tugas yang aneh. Ia diperintahkan oleh gurunya untuk memberikan uang kepada siapapun yang menghinanya selama tiga tahun. Karena murid ini ingin mencapai kemajuan hidup spiritualnya, ia telah melakukan apa saja yang diperintahkannya.

Setelah ujian yang memakan waktu cukup panjang ini usai, gurunya meminta muridnya untuk datang di tempat kediamannya dan berkata kepadanya, “Kini kamu boleh berangkat ke Athena, karena kamu telah siap untuk belajar tentang kebijakan.”

Dengan gembira murid itu berangkat ke Athena. Sebelum ia memasuki kota besar itu, ia melihat seorang bijak sedang duduk di dekat gerbang kota sedang memaki-maki semua orang yang lewat di tempat itu. Dengan sendirinya, ketika orang bijak itu melihat murid yang sedang berjalan memasuki kota itu, iapun dapat makiannya.

“Hei,” teriak orang itu kepada murid tersebut. “Bagaimana kamu bisa menjadi demikian buruk dan tololnya? Aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang lebih brengsek dari padamu”.

Murid itu sama sekali tidak merasa terhina. Sebaliknya ia meledak tertawa.

“Mengapa kamu tertawa ketika aku menghinamu?” tanya orang bijak itu.

“Karena,” jawab sang murid, “selama tiga tahun aku memberi uang untuk hal semacam itu dan sekarang Anda memberikan kepadaku secara GRATIS!”

“Masuklah ke dalam kota,” kata orang bijak itu. “Kota ini menjadi milikmu!”

Sumber : Reflecta

Humor : Rahasia

Ada sepasang suami-istri tua yang telah menikah selama lebih dari 50 tahun. Sepenglihatan dan sepengetahuan seluruh kerabat dan teman2 dekat mereka dari berbagi kalangan dan usia, pasangan suami-istri ini juga selalu kalem dan tidak pernah ada masalah apalagi ribut-ribut.

Ada pun seorang lelaki mapan yang baru saja menjalin hubungan pernikahan, kebetulan dia kenal dengan sang suami tua itu. Seperti biasa, kalo ada orang berhasil sukses, pasti ada aja yang nanya "apa rahasianya?". Dan si lelaki ini akhirnya pada saat yang tepat menanyakan apa "rahasianya" pada sang suami tua itu.

Sang bapak tua berkata, "Wah, kalo mao diceritakan panjang, nak. Dimulai dari 50 tahun lalu.." Wah dalam hati si lelaki ini, bisa jenggotan gw dengerin cerita si bapak tua ini.. "Ya uda, dipersingkat aja pak.." kata sang lelaki.

Sang bapak tua mulai bercerita, "Jadi begini, semua dimulai 50 tahun lalu. Saat itu saya sedang berbulan madu dengan istri saya. Kami menginap di Hotel terkenal dan bagus. Kemudian, pada suatu siang saya dan istri saya pergi menunggang kuda di halaman belakang hotel. Memang hobi saya dan istri saya menunggang kuda. Belum lama kami menunggang kuda. Tiba-tiba, kuda yg ditunggangi istri saya tersandung. Istri saya terlihat kesal, lalu dia berkata "SATU!". Saya tidak mengerti dan merasa tdk perlu bertanya, jadi saya lanjutkan kembali. Tidak beberapa lama kemudian, terulang lagi hal yang sama. Kuda istri saya tersandung lagi. Istri saya kesal lagi dan berkata "DUA!". Saya masih membiarkan sambil tersenyum. Lalu kami melanjutkan menunggang kuda lagi.

Eh, emang kudanya bego kali yah, sang kuda istri saya tersandung lagi. Tiba-tiba istri saya teriak "TIGA!" dan langsung berhenti. Saya bingung melihat istri saya berhenti. Istri saya langsung turun dari kuda itu, merogoh pinggangnya, dan mengeluarkan pistol nya. Langsung.. DOR!!. Kuda itu ditembak mati oleh istri saya.

Saya terkejut setengah mati melihat sikap istri saya. Saya turun dari kuda dan menghampiri dia. Saya berkata kalo tidak seharusnya dia melakukan hal itu, saya memarahi dia karena hal itu tidak baik..dst..dst..

Tiba2 dia melotot ke arah saya dan berkata dgn kencang "SATU!"

Dari saat itu sampai detik ini saya masi bersyukur kalo dia belum mengatakan "DUA"

Cerita Cinta

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya..

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku. Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra.. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati. Jantungku serasa mau berhenti...

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat  denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus  kuambil.

14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga. Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun… "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…" (ts)

------------ --------- -------

Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat. Bayangkan, bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada kita yang adalah ciptaanNya… anakNya… sahabatNya… saudaraNya… sehingga Ia memberikan AnakNya yang kekasih untuk mati di kayu salib bagi kita.

BKM - Buletin Komunitas Mudika Edisi Oktober 2008

Have a blessed day!

Tere

Yoh 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal"

21 November 2008

Seumur Hidup Jadi Tongkat Ibunya

Sebuah Kisah yang mungkin bisa memberika inspirasi tersendiri bagi kita masing-masing

noname 
(Erabaru.or. id) — Hawa udara di Changchun, Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi.

Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……” (Dajiyuan/prm)

Kadangkala Hidupmu Menangis

Kadangkala hidup mengharuskanmu menangis tanpa sebab. Kamu merasa sudah berbuat baik dan benar, tetapi masih banyak kritikan yang dialamatkan kepadamu. Kamu mengira keputusan yang kamu ambil sudah tepat, ternyata perkiraanmu keliru. Jangan putus asa !! Bangkitlah !!

Matahari tanpa sinar tidak layak disebut matahari, demikian juga dirimu, kau adalah matahari yang seharusnya memancarkan sinar, sekalipun mendung kelabu menutupi pandangan orang untuk melihat keindahan cahayamu. AKU sering melihat melihatmu marah ketika kamu melihat orang lain berhasil. Untuk apa kamu menginginkan keberhasilan orang lain? Bukankah AKU udah menyediakan suksesmu sendiri? Kamu tidak pernah mengejarnya, jadi kamu tidak pernah bisa memilikinya.

Matamu tidak terfokus kepada rancangan-Ku yang dahsyat atas hidupmu, melainkan tertuju kepada karya-Ku yang luar biasa atas hidup orang lain.  Jadilah seperti air. Selalu mengalir melewati semua benda, menembus semua sisi dan tanpa batas. Anak-Ku, jangan mau dikalahkan oleh keadaan, tetapi kalahkan keadaaan!!

Anak-Ku yang terkasih, jangan sakit hati ketika kau ditegur, padahal kau merasa sudah mengerjakan yang terbaik. Sakit hati itu hanya akan membuat tidurmu tidak nyenyak dan perasaanmu tidak nyaman. Buanglah itu dari hatimu dan pikiranmu! Kuasailah dirimu sedemikian rupa hingga kamu bisa mengatasi perasaan diperlakukan tidak adil, dilecehkan, diremehkan ataupun dikhianati oleh sesamamu. Bukankah untuk itu kau hidup? untuk melihat kenyataan bahwa di dunia ini yang paling mengerti perasaanmu dan menerima dirimu apa adanya hanya AKU? Jauhilah segala bentuk kemarahan, tetapi jangan jauhi AKU.

Anak-Ku, ingatlah hal ini baik-baik. Aku selalu mebuka tangan-Ku lebar-lebar untuk memberimu rasa aman, kapanpun kau membutuhkannya. AKU senantiasa menyiapkan bahu untuk tempat kepalamu bersandar dan mencurahkan tangis. AKU melakukannya karena AKU sungguh-sungguh peduli padamu!!

Ayah yang selalu mengasihimu,

YESUS

20 November 2008

36 Stress Reducers

1. Pray
2. Go to bed on time.
3. Get up on time so you can start the day unrushed.
4. Say No to projects that won't fit into your time schedule or that will compromise your mental health.
5. Delegate tasks to capable others.
6. Simplify and unclutter your life.
7. Less is more. (Although one is often not enough, two are often too many.)
8. Allow extra time to do things and to get to places.
9. Pace yourself. Spread out big changes and difficult projects over time; don't lump the hard things all together.
10. Take one day at a time.
11. Separate worries from concerns. If a situation is a concern, find out what God would have you to do and let go of the anxiety. If you can't do anything about a situation, forget it.
12. Live within your budget; don't use credit cards for ordinary purchases.
13. Have backups; an extra car key in your wallet, an extra house key buried in the garden, extra stamps, etc.,
14. K.M.S. (Keep Mouth Shut.) This single piece of advice can prevent an enormous amount of trouble.
15. Do something for the Kid in You everyday.
16. Carry a Bible with you to read while waiting in line.
17. Get enough exercise.
18. Eat right.
19. Get organized so everything has its place.
20. Listen to a tape while driving that can help improve your quality of life.
21. Write thoughts and inspirations down.
22. Everyday, find time to be alone.
23. Having problems? Talk to God on the spot. Try to nip small problems in the bud. Don't wait until its time to go to bed to try and pray.
24. Make friends with Godly people.
25. Keep a folder of favorite scriptures on hand.
26. Remember that the shortest bridge between despair and hope is often a good "Thank you, Jesus!"
27. Laugh.
28. Laugh some more!
29. Take your work seriously, but yourself, not at all.
30. Develop a forgiving attitude (most people are doing the best they can).
31. Be kind to unkind people (they probably need it the most).
32. Sit on your ego.
33. Talk less; listen more.
34. Slow down.
35. Remind yourself that you are not the general manager of the universe.
36. Every night before bed, think of one thing you're grateful for that you've never been grateful for before.

** GOD HAS A WAY OF TURNING THINGS AROUND FOR YOU**

Penyambukan

Di suatu sekolah terdapat sebuah kelas yang tidak pernah dapat dikendalikan oleh guru siapapun. Pada tahun ajaran ini dua sampai tiga guru keluar dari sekolah karena tak sanggup mengendalikan murid-murid yang tak mengenal disiplin itu. Seorang pemuda yang baru saja menyelesaikan studinya di perguruan tinggi mendengar tentang kelas itu dan kemudian melamar pekerjaan di sekolah yang bersangkutan.

Kepala sekolah bertanya kepada pemuda itu, ”Apakah Anda sadar akan tugas Anda? Tidak ada seorang gurupun yang dapat menangani kelas itu. Anda melamar pekerjaan itu untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak?”

Setelah beberapa saat berdoa di dalam keheningan, pemuda itu menatap wajah kepala sekolah dan berkata, ”Pak, dengan ijin Bapak, aku menerima pekerjaan dan tantangan ini. Berilah aku waktu untuk percobaan.”

Esok harinya, pemuda itu berdiri di depan kelas tersebut. Ia mengatakan kepada murid-muridnya, ”Anak-anak sekalian. Aku datang hari ini untuk memimpin kelas ini. Namun aku sadar, bahwa aku membutuhkan bantuanmu.”

Seorang anak yang bertubuh besar, Tom, si Raksasa, berbisik kepada teman-temannya di belakang kelas, ”Aku tak memerlukan bantuan kalian. Aku dengan mudah dapat mengalahkan burung kecil itu seorang diri.”

Guru muda itu mengatakan kepada anak-anak di kelasnya, bila mereka berada di dalam kelas, merekapun harus mempunyai peraturan untuk dipatuhi. Namun, ia tambahkan, ia memerlukan para murid untuk membuat peraturannya sendiri dan ia nanti akan membuat daftar peraturannya di atas papan tulis.

Ini sesuatu yang berbeda, pikir murid-murid!

Seorang murid menyarankan, ”TIDAK MENCURI”

Lain lagi berseru, ”HENDAKNYA KITA MASUK KELAS TEPAT PADA WAKTUNYA”

Tidak lama kemudian mereka memiliki 10 peraturan di papan tulis. Kemudian guru muda itu menanyakan, “Hukuman apakah harus diterapkan, bila peraturan itu dilanggar? Pasalnya, peraturan itu tak berguna tanpa penegakannya!“ katanya. Seorang murid menyarankan, bila peraturan itu dilanggar, mereka harus menerima 10 cambukan dengan sebatang cambuk di punggungnya dengan baju dilepas.

Gurunya mengira bahwa ini agak terlalu keras. Karenanya ia menanyakan murid-muridnya apakah mereka sanggup untuk menjalani hukuman itu. Mereka semua setuju. Segala sesuatu berjalan baik untuk dua hari lamanya. Kemudian si raksasa Tom datang sekolah dengan marah. Ia menyatakan, seseorang telah mencuri makan siangnya. Setelah berbicara dengan semua muridnya, mereka mendapatkan bahwa si Jimmy kecil telah mencuri makan siang si raksasa, Tom!Pasalnya, seorang murid melihat Jimmy memakan makanan siang milik Tom! Guru memanggil Jimmy di depan kelas. Jimmy kecil mengaku telah mengambil makanan siang si Tom besar.

Lalu guru itu bertanya kepadanya, ”Kamu tahu hukumannya?”

Jimmy kecil mengangguk. ”Kalau begitu, bukalah jaketmu,” kata guru.

Anak kecil itu datang dengan mengenakan jaket yang terlalu besar. Ia mengatakan kepada guru, bahwa ia bersedia untuk dihukum, tetapi tolong jangan suruh membuka jaketnya.

Namun guru mengingatkan Jimmy kecil akan peraturan dan hukumannya dan mengatakan lagi untuk membuka jaketnya serta menerima hukumannya seperti seorang jantan. Anak yang malang itu mulai membuka jaket tuanya. Setelah ia melakukannya, guru melihat bahwa ia tidak memakai baju di balik jaketnya. Bahkan lebih parah lagi, ia mengamati sebuah tubuh yang lemah dan kurus kering tersembunyi di balik jaket tua itu. Pak guru bertanya, mengapa ia ke sekolah tidak mengenakan baju?

Jimmy kecil menjawab, ”Ayahku sudah meninggal dan ibuku amat miskin. Aku hanya memiliki sepotong baju saja dan hari ini ibuku menyucinya. Aku mengenakan jaket saudara tuaku untuk menghangatkan badan.”

Guru muda itu memandang punggung yang kurus kering dengan tulang-tulang punggungnya yang menonjol. Ia bertanya-tanya, bagaimana ia tega untuk mencambuk punggung yang lemah bahkan tanpa baju itu?

Namun, ia tahu bahwa ia harus menjalankan hukuman itu, karena jika tidak, murid-murid tak akan mau mematuhi peraturan kelasnya. Maka, kemudian ia berancang-ancang untuk mencambuk si Jimmy kecil.

Pada saat itulah, Tom, si raksasa berdiri dan maju kedepan. Ia bertanya, ”Apa ada peraturan yang melarang untuk saya menerima hukumannya sebagai ganti si Jimmy kecil?”

Sang guru berdiam sejenak dan kemudian setuju.

Dengan demikian, Tom, si raksasa membuka bajunya dan membungkuk menutupi punggung Jimmy. Dengan bimbang sang guru mulai mencambuk Tom di punggungnya yang lebar.

Entah karena apa, setelah lima cambukan, cambuk patah menjadi dua. Guru muda itu menenggelamkan wajahnya di dalam kedua tangannya dan menangis. Ia mendengar suara ribut dan mendapati seluruh kelas ikut menangis. Jimmy kecil berbalik kepada Tom dan merangkulnya serta memohon maaf untuk perbuatan mencuri makan siangnya. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa ia akan selalu mencintai si Tom, raksasa bahkan ia bersedia untuk dicambuk sebagai gantinya.

Yesus Kristus telah menerima cambukan sebagai ganti kita serta mengucurkan DarahNya yang amat berharga di atas kayu salib, supaya Anda dan saya memperoleh kehidupan yang kekal di dalam kemuliaan-Nya dengan Dia.

Sebenarnya kita sungguh tidak layak untuk sebuah harga yang telah dibayarkan guna menebus kita. Namun semua itu terjadi karena KasihNya yang tak ada taranya terhadap kita.

Ayam & Bebek

Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mendengar suara di kejauhan.

"Kuek! Kuek!"

"Dengar", kata si istri, "itu pasti suara ayam."

"Bukan, bukan, itu suara bebek," kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!' , bebek itu 'kuek! Kuek!' itu bebek, Sayang,' kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya! Itu a…da…lah…be…bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue…bek, kamu…kamu…"

Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hamper menangis, "Tapi itu ayam…"

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa ia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek! Kuek! Terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek?"

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

"If you start judging people you will be having no time to love them....."

19 November 2008

Apakita Kita Bersama Bapa Hari Ini?

Berapa sering dalam hari-hari ini, kita menjadi sangat sibuk dengan kerjaan, dengan mainan baru dan kawan baru. Ke toko buku melihat buku-buku baru dan film-film baru tayang di bioskop. Seberapa sering kita meninggalkan Bapa, Putra maupun Roh Kudus di rumah, tepat di saat menutup lembar-lembar renungan harian, untuk hal-hal tadi.

Dan saat tiba di rumah sore harinya, kita lupa untuk menyapaNya dan langsung ngeloyor untuk memeriksa e-mail yang baru masuk. Dan saat Dia berbisik ingin mengobrol, rasa kantuk lebih kuat dari segalanya, tempat tidur menjadi lokasi yang paling menarik untuk bertengger. Obrolan denganNya hanya sekedar rutinitas, dengan sekali-kali terkantuk-kantuk dan tidak menghiraukan kata-kataNya. Ucapan bibir hanyalah kata-kata berulang tanpa arti.

Dan keesokan harinya semua terulang kembali. Tapi adakah Dia meninggalkan kita? Tidak. Sebab saat kita sibuk Ia mengerti pikiran kita, Ia tahu apakah kita sedang duduk atau berdiri, bahkan Ia memeriksa saat kita tidur (Mazmur 139) Bahkan segala jalan kita Ia MAKLUMI (Mazmur 139:3)

Itu sebabnya saat hati gundah gulana–saat yang paling tepat untuk ‘baru’ mengingat Dia Ia ada. Ia dengar tangismu.Dia mengikuti kemanapun kita pergi (Mazmur 139:9-12). Bahkan sekalipun kita ingin menjadikan terang disekeliling kita dengan kegelapan oleh ulah dan kebandelan kita, Dia tidak akan membiarkannya.

Tapi sampai kapan kita mau menunggu Dia berbicara pada kita. Kapan kita berbicara padanya. Menyerahkan semuanya padaNya? Apakah sampai saat di mana seperti Pengantin Pria menolak mengenal 10 wanita bodoh, seperti dalam perumpamaan Yesus?

Adakah kita mau berseru pada Tuhan, seperti Daud berseru, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenalilah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal” (Mazmur 139:24). Pernahkan kita bertanya, apa yang telah aku lakukan bagi Tuhan? Adakah aku cukup menyenangkan hatiNya? Atau adakah aku menyedihkanNya hari ini?

Burung Pipit

Hawa udara di Manhattan cukup dingin namun di dalam kedai kopi Starbucks yang terletak dekat Broadway hawanya hangat. Cuaca di akhir November di kota New-York masih dibilang belum terlalu dingin kalau dibandingkan dengan cuaca di akhir Desember atau Januari. Walaupun demikian, inilah cukup untuk mendorong banyak orang masuk ke dalam kedai kopi yang hangat itu.

Untuk seorang musikus, menurut orang, Starbucks ini mempunyai lokasi yang paling menguntungkan di seluruh dunia. Uang yang dapat dikumpulan oleh para pengamen dapat mencapai jumlah yang amat banyak, asalkan Anda dapat menunjukkan kebolehan bermain musik dengan baik.

Kami pada saat itu sedang menyanyikan lagu-lagu pop dari tahun 40 sampai 90-an. Di tengah-tengah permainan dan nyanyian “If You Don’t Know Me by Now” aku mengamati seorang wanita yang sedang duduk di kursi sofa dekat aku berada mengikuti irama dengan gerakan tubuhnya dan menyanyi bersama kami. Setelah lagunya selesai, dia menghampiri aku. Ia mengatakan, “Aku meminta maaf bahwa aku telah ikut menyanyi. Aku harap aku tidak mengganggumu”.

“Tidak,” jawabku. “Kami selalu senang bila hadirin ikut menyanyi. Apakah Anda selanjutnya mau menyanyi lagi dengan kami?” Aku senang ketika ia menerima undangan kami. “Anda memilih,” kataku. “Anda mau memilih bernyanyi apa?”
Ia menjawab: “Apa…apa Anda mengetahui lagu puji-pujian?”

Lagu puji-pujian? Wanita ini tidak tahu dengan siapa ia sedang berhadapan. Sejak kecil aku sudah mengenal lagu puji-pujian. Bahkan sebelum aku dilahirkan, aku sudah pergi ke gereja. Kemudian aku memandang tamu kami tersebut dengan suatu pandangan yang beda. ”Sebutkanlah lagunya,” kataku. “Aku tak tahu. Ada begitu banyak yang bagus. Anda saja yang memilih”, kata wanita itu.

“Baiklah,” jawabku. “Bagaimana dengan ’His Eye is on the Sparrow’?” Teman wanitaku tiba-tiba terdiam serta memalingkan mukanya. Kemudian ia mengarahkan mukanya kepada aku lagi dan berkata, ”Ya, marilah kita nyanyikan lagu itu.”

Ia meletakkan dompetnya, mengencangkan jaketnya dan memandang ke tengah-tengah kedai itu dan mulai menyanyi,” Why should I be discouraged? Why should the shadows come?

Semua tamu dalam kedai itu seakan-akan terpaku. Bahkan suara dari mesin cappuccino berhenti dan semua pelayan berhenti melayani. Lagu itu berakhir dengan ”I sing because I am happy. I sing because I am free For His eye is on the sparrow, and I know He watches me.

Ketika kalimat terakhir selesai dinyanyikan, suara tepuk tangan tambah lama tambah gemuruh dan menderu, seakan-akan mengalahkan suara penonton di Carnegie Hall yang penuh.. Dengan rasa malu, wanita itu mencoba berseru untuk mengatasi gemuruh tepuk tangan itu, “O, kembalilah lagi ke kopimu! Aku datang di sini tidak untuk mengadakan konser, melainkan ingin minum kopi seperti kalian!”

Namun sambutan terus berlanjut. Aku merangkul kawanku yang baru. “Itu bagus sekali!”

“Nah, lucu bahwa Anda justru memilih pujian yang satu itu, “ katanya.

“Mengapa?” tanyaku.

“Ah…”, ia berkata dengan ragu-ragu, ”itulah lagu kesayangan puteriku.”

“Benar?!” seruku.

“Ya!”, kata wanita itu, lalu memegang kedua tanganku. Pada saat itu, tepuk tangan sudah menjadi kurang dan semua orang berbalik lagi menikmati kopinya seperti biasa.

“Ia baru 16 tahun. Ia meninggal dunia minggu yang lalu.”

Aku mengatakan sesuatu untuk memecah keheningan, ”Anda baik-baik saja?”

Ia tersenyum dan melalui matanya basah, ia memegang erat kedua tanganku, “Aku baik-baik saja. Aku akan tetap percaya kepada Tuhan dan menyanyikan puji-pujian-Nya, dan segala sesuatu akan baik-baik saja” Ia mengambil tasnya, memberiku kartu namanya dan pergi keluar dari kedai itu.

Apakah merupakan sesuatu yang kebetulan bahwa aku menyanyi di kedai kopi itu dan pada malam bulan November itu? Apakah suatu kebetulan bahwa wanita itu masuk ke dalam kedai kopi tersebut? Kebetulan bahwa dari semua lagu-lagu, aku justru memilih lagu yang menjadi kesenangan dari anaknya yang baru meninggal minggu yang lalu? Aku tidak dapat percaya!

Tuhan telah merencanakan pertemuan sepanjang sejarah manusia dari sejak semula. Dan karena itu tidak terlalu sukar untuk membayangkan hal itupun terjadi di kedai kopi di pusat Manhattan dengan mengubah suatu perhimpunan biasa menjadi suatu kebangunan rohani. Aku kira, itu merupakan suatu peringatan, bila kita tetap percaya kepadaNya dan menyanyikan puji-pujianNya, segala sesuatu akan tetap OK!