Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 November 2008

Apakah Kau Yesus?

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesmen menghadiri pertemuan sales di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka akan mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari Jumat.

Namun, manager sales menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang telah diperkirakan dan pertemuan berakhir lebih lambat daripada yang telah dijadwalkan. Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas mereka ditangan, mereka berlari menerobos pintu airport, tergesa-gesa, mengejar penerbangan mereka pulang. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari para salesman ini tidak sengaja menendang sebuah meja yang digunakan untuk menjual apel. Dan apel-apel itu beterbangan.

Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang, mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat dalam detik-dekik terakhir pesawat itu tinggal landas. Semua, kecuali satu. Dia berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis yang menjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan untuk memberitahukan bahwa ia akan mengambil penerbangan yang berikutnya. Kemudian, ia kembali ke pintu terminal yang berceceran dengan banyak sekali buah apel di lantai.

Salesman ini merasa lega ketika ia tiba disana. Gadis yang berumur 16 tahun ini buta! Gadis tersebut sedang menangis sesegukan, air matanya mengalir turun di pipinya, dan gadis itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun berhenti, atau pun cukup peduli untuk membantunya.

Salesman itu berlutut di lantai di sampingnya, mengumpulkan apel-apel tersebut, menaruhnya kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya di meja seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain. Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini. Apakah kau tidak apa-apa?"

Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata. Pria itu melanjutkan dengan, "Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah." Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, "Tuan..." Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis ini melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?"

Ia terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara di dalam hatinya, "Apakah kau Yesus?"

Apakah orang-orang mengira engkau Yesus? Bukankah itu tujuan hidup kita? Untuk menjadi serupa dengan Yesus sehingga orang-orang tidak dapat melihat perbedaannya ketika kita hidup dan berinteraksi di dalam dunia yang buta dan tidak mampu melihat kasih, anugrah dan kehidupanNya. Jika kita mengakui bahwa kita mengenal Dia, kita harus hidup, berjalan, dan bertindak seperti Yesus. Mengenal Yesus adalah lebih dalam daripada hanya sekedar mengutip kata-kata dari Alkitab dan pergi beribadah di gereja.

Mengenal Yesus adalah menghidupi FirmanNya hari demi hari. Anda adalah seperti buah apel tersebut di mata Allah meskipun kita rusak dan menjadi cacat ketika kita terjatuh. Allah berhenti mengerjakan apa yang sedang Ia kerjakan, mengangkat Anda dan saya ke suatu bukit yang bernama Kalvari dan membayar penuh semua kerusakan kita. Mari mulai jalani hidup sesuai dengan harga yang telah dibayarkanNya.

Berita Besar

Nats : Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (Roma 10:15)

Bacaan : Roma 10:9-15

Suatu hari Billy Graham sedang berada di dalam lift bersama sahabat karibnya, Graeme Keith. Kemudian seseorang masuk dan segera mengenali Billy Graham. "Maaf, Anda Billy Graham, bukan?" tanyanya. "Ya," jawab Billy. Orang itu menunjukkan wajah kagum lalu berkata, "Wah, Anda benar-benar orang besar!" Segera saja Billy Graham menjawab, "Bukan! Saya bukan orang besar. Saya hanya punya sebuah berita besar!"

Billy Graham benar. Setiap orang percaya punya berita besar untuk dibagikan. Isi berita itu singkat: Yesus adalah Tuhan. Siapa yang percaya, akan diselamatkan. Berita ini bisa berdampak luar biasa bagi si penerima berita. Ini menyangkut keselamatan kekalnya. Betapa sayang jika ada orang yang binasa hanya karena tak seorang pun pernah menyampaikan berita itu kepadanya.

Paulus hidup pada zaman ketika media massa belum ada. Satu-satunya cara untuk menyampaikan berita penting adalah lewat seorang "pembawa berita". Perannya sangat vital. Lidahnya "menyimpan" informasi berharga. Jika ia hanya diam, masyarakat bisa dirugikan karena kehilangan informasi penting. Tak heran, kedatangan seorang pembawa berita sangat dinantikan.

Kini zaman sudah sangat maju. Orang bisa mendengar berita Injil lewat berbagai media massa. Namun, pendekatan pribadi tetap perlu dilakukan untuk meyakinkan orang pada berita besar tersebut. Berita itu harus disampaikan dengan disertai sentuhan kasih Allah. Media massa tidak dapat melakukannya. Namun Anda bisa. Itu sebabnya Allah ingin memakai Anda menjadi pembawa berita-Nya -JTI

ALLAH MENGINGINKAN ANDA MENJADI PEMBAWA BERITA
KARENA CAHAYA KASIH-NYA TERCERMIN DI WAJAH ANDA

Yayasan Gloria

Humor : Syukur

Seorang ibu rumah tangga mengundang beberapa orang untuk makan malam bersama. Ia meminta kepada puterinya yang baru berumur enam tahun untuk memohon berkat sebelum makan malam dimulai.

“Aku tidak tahu apa yang aku harus katakan, mam!”

Ibunya menjawab, “Katakanlah seperti kamu mendengar aku berkata”

Puterinya menundukkan kepala dan berdoa, “Tuhan, mengapa aku koq mau mengundang orang-orang itu untuk makan malam bersama?”

06 November 2008

Humor : Waktu Minum Kopi

Seorang laki-laki meninggal dunia dan kemudian sampai di neraka.

Iblis bertemu dengan orang itu di pintu masuk neraka dan mengatakan, “OK, Anda meninggal dan telah datang di neraka. Anda akan menghabiskan waktumu untuk selamanya di sini, namun Anda boleh memilih satu di antara tiga pintu masuk. Begitu Anda sudah memilih pintu masukmu, Anda tak boleh menggantinya. Nah, mari kita mulai”

Si Iblis membuka pintu kesatu. Orang itu memandang ke dalam dan melihat beberapa pasang suami isteri berdiri dengan kepalanya ke bawah di atas sebuah lantai beton. Orang itu berkata, “Tidak, mari kita meneruskan perjalanan kita.”

Iblis membuka pintu kedua. Orang itu melihat lebih banyak orang lagi yang berdiri dengan kepalanya di bawah, di atas lantai kayu. “Tidak mau. Kita teruskan.”

Si Iblis membuka pintu ke tiga. Orang itu melihat lebih banyak orang sedang berdiri setinggi lutut di kubangan yang penuh dengan kotoran sapi sambil minum kopi. Orang itu berkata, “Bagus. Aku memilih ini” Iblis menjawab, “OK, aku akan mengambil kopi untukmu.”

Orang itu berpikir, ini tidak terlalu jelek seraya menikmati kopi hangatnya.

Sepuluh menit kemudian, suatu suara terdengar dari pengeras suara yang mengatakan, “Waktu minum kopi sudah usai. Kini kembali berdiri dengan kepala di bawah dalam kubangan ini.”

Takut Salah

Nats : Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci (1Yohanes 3:3)

Bacaan : 1Yohanes 2:28-3:10

"Ada adegan di mana aku takut salah. Aku takut ngabisin can (gulungan film-red) apalagi kita pakai tiga kamera. Jadi, aku akting sambil mikirin harga can." Begitu salah satu kesan Artika Sari Devi tentang pengalamannya berperan sebagai Siti dalam film Garin Nugroho, Opera Jawa. Kesadaran bahwa aktingnya tengah direkam, dan film perekamnya berharga mahal, mendorong Tika untuk tampil secara berhati-hati. Takut salah.

Seluruh hidup kita sebenarnya juga tengah "direkam". Seperti pemain film yang akan mempertanggungjawabkan kinerjanya pada sutradara, produser, dan penonton, kelak kita juga harus mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita di hadapan Sang Pencipta. "Film" yang dipakai untuk merekam hidup kita juga sangat mahal karena kita ditebus "bukan dengan barang yang fana ... melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus" (1Petrus 1:18,19).

Di hadapan takhta pengadilan Allah, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan kita: sikap, motivasi, pikiran, ucapan, dan tindakan. Kita harus mempertanggungjawabkan baik perkara-perkara yang kelihatan maupun perkara-perkara yang tersembunyi. Semuanya akan dihakimi menurut tolok ukur kebenaran dan keadilan-Nya.

Seberapa jauh kesadaran ini berpengaruh pada cara kita menjalani hidup ini? Apakah kita tampil secara sembrono dan meremehkan darah penebusan Kristus? Ataukah kita menjalaninya dengan luapan rasa syukur karena telah ditebus dan diizinkan untuk turut mengambil bagian dalam drama kehidupan yang mulia ini?

Kamera siap? Action! -ARS

HIDUP BERTANGGUNG JAWAB ADALAH UNGKAPAN SYUKUR
DAN PERNGHORMATAN ATAS ANUGERAH serta KEMURAHAN ALLAH

Yayasan Gloria

Si Buruk

Setiap orang di kompleks apartemen di mana aku tinggal, mengenal si Buruk. Si Buruk adalah kucing jantan dan menjadi “milik” apartemen itu. Si Buruk amat suka akan tiga hal dalam dunia, berkelahi, makan dari tong sampah dan seks.

Kombinasi dari tiga hal itu ditambah kehidupan di luar apartemen telah meninggalkan akibat di tubuh si Buruk itu. Pertama, ia hanya memiliki satu biji mata saja. Dan di matanya yang lain, terdapat sebuah lubang. Iapun kehilangan satu daun telinga di sisi yang sama. Kaki kirinya pernah patah tulang kemudian menjadi sembuh kembali membentuk sudut yang aneh, sehingga kalau ia berjalan, kelihatannya selalu mau jalan berbelok. Setiap kali orang bertemu dengannya, mereka memberi komentar yang hampir sama, ”Aduh, betapa buruknya kucing itu!”

Semua anak di kompleks itu telah diperingatkan untuk tidak menyentuh si Buruk. Anak-anak yang lebih dewasa sering melempar batu-batu kepadanya, menyemprotnya dengan slang air sehingga ia basah-kuyup bila ia ingin memasuki rumah mereka, atau menjepit kakinya di pintu bila ia tidak mau keluar. Si Buruk selalu bereaksi sama.

Bila ia disemprot air, ia tetap berdiri dengan basah-kuyup sampai mereka merasa lelah dan berhenti sendiri. Bila mereka melemparinya dengan sesuatu, ia lalu melingkarkan badannya di kaki mereka seakan-akan meminta ampun.

Bilamana ia mengamati anak-anak bermain, ia akan datang berlari, sambil mengeong dan menyodorkan kepalanya ke dalam tangan-tangan anak-anak itu, seolah-olah memohon kasih-sayang. Dan bila ada yang menggendongnya, ia dengan segera mulai mengusap-usap baju, anting-anting dan lain-lain yang ia dapat temukan.

Pada suatu hari, ia bermain-main dengan anjing-anjing tetangga. Mereka kelihatannya tidak begitu suka dengan kucing jelek itu. Mereka bersama menganiaya dan melukai si Buruk dengan sangat parah. Aku berusaha untuk menolongnya. Ketika aku sudah mendekatinya ia tergeletak, kelihatannya ia sudah hampir mati.

Aku mengangkatnya dan berusaha membawanya pulang rumah. Aku bisa mendengar ia sedang mendesah dan terengah-engah di dalam pergumulannya dengan kematian. Dapat diduga bahwa ia sedang sangat menderita di dalam kesakitannya. Kemudian aku merasakan suatu sentakan yang tak asing bagiku, suatu usapan yang nyaman di telingaku. Si Buruk, di dalam pergumulannya dengan kematian, masih berusaha untuk mengusap-usap telingaku. Aku mendekatkan tubuhnya dengan diriku dan dia menyodorkan kepalanya ke dalam tanganku serta kemudian memandang aku dengan mata-satu-satunya yang ia miliki.. Aku dengan jelas mendengar suara dari dengkurannya.

Bahkan dalam penderitaan sakit yang hebat, kucing jelek yang penuh dengan luka itu masih memohon sedikit belas kasihan dan kasih sayang. Pada saat itu, aku kira si Buruk merupakan makhluk yang paling indah yang aku pernah temui. Tidak pernah ia berusaha untuk menggigitku, mencakar atau berlari meninggalkan aku atau memberontak. Si Buruk hanya memandangiku dengan penuh kepercayaan bahwa aku akan mampu meringkankan penderitaannya.

Si Buruk telah mati dalam pelukanku sebelum aku dapat masuk ke dalam rumah. Aku duduk di sana sambil menggendong tubuhnya dalam waktu yang lama. Aku berpikir, bagaimana seekor kucing yang cacat, dipenuhi oleh ketakutan, dapat mengubah sedemikian rupa pandangan hidupku tentang apa artinya untuk memiliki jiwa yang demikian murninya, untuk mengasihi dengan segala ketulusan dan kesungguhan.

Si Buruk telah mengajarku tentang kasih sayang lebih banyak lagi dari pada kemampuan ribuan buku, kuliah, pidato-pidato yang berapi-api, dan untuk ini aku merasa sangat berterima kasih. Aku sadar bahwa waktunya sudah tiba untuk melanjutkan perjalananku dan belajar untuk mengasihi dengan tulus dan murni terhadap mereka yang membutuhkan kepedulian.

Banyak orang menghendaki untuk menjadi lebih kaya, lebih berhasil, lebih disukai oleh orang lain dan lebih manis serta cantik- kecuali aku! Karena aku akan selalu berusaha untuk menjadi sebagaimana si Buruk!

God's Little Acre

Menikmati Kebosanan

Ini sebuah cerita ringan tentang kebosanan.

Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.

Tamu : “Sebenarnya apa itu perasaan ‘bosan’, pak tua?”

Pak Tua : “Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu.”

Tamu : “Kenapa kita merasa bosan?”

Pak Tua : “Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki.”

Tamu : “Bagaimana menghilangkan kebosanan?”

Pak Tua : “Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya.”

Tamu : “Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?”

Pak Tua: “Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?”

Tamu : “Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua.”

Pak Tua : “Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang.”

Tamu: “Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?”

Pak Tua : “Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya.”

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.

Tamu : “Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?”

Pak Tua : “Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan.”

Tamu : “Contohnya?”

Pak Tua : “Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu.”

Lalu Tamu itu pun pergi.

Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.

Tamu : “Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?”

Sambil tersenyum Pak Tua berkata: “Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.”

05 November 2008

Tanpa Judul

Setelah menyanyi beberapa puji-pujian, gembala sidang berdiri dan berjalan ke mimbar. Sebelum ia mulai dengan khotbahnya, dengan singkat ia memperkenalkan seorang tamu pembicara yang hadir dalam ibadah malam itu. Dalam perkenalannya, pendeta bercerita kepada jemaatnya bahwa tamu itu merupakan salah seorang teman akrabnya sejak ia masih kanak-kanak. Ia memohon agar temannya memberi sedikit sambutan serta berbagi rasa akan pengalamannya yang ia rasakan bisa menjadi berkat untuk jemaatnya.

Kemudian, seorang yang sudah tua maju ke mimbar dan mulai berbicara. “Seorang ayah dan puteranya serta seorang teman dari anaknya sedang berlayar di samudra Pasifik, ketika mereka diterpa oleh sebuah badai besar sehingga mereka tidak dapat kembali ke arah pantai. Ombak yang ditimbulkan badai itu menjadi begitu tinggi, sehingga ayahnya, yang adalah seorang pelaut yang berpengalaman, tidak dapat menguasai kapalnya sehingga akhirnya kapalnya terbalik dan ketiga orang itu terlempar ke dalam samudra.”

Orang tua itu sejenak ragu-ragu seraya perhatiannya tertuju kepada dua orang pemuda yang sejak semula kelihatannya tertarik terhadap jalannya cerita itu. Kemudian orang tua itu melanjutkan ceritanya.

“Dengan meraih sebuah tambang penyelamat jiwa, ayah itu harus mengambil suatu keputusan yang amat dahsyat yang ia pernah alami selama hidupnya: kepada anak yang mana ia akan melemparkan ujung tambang penyelamat itu. Ia hanya punya beberapa detik waktu untuk mengambil keputusannya. Ia tahu bahwa puteranya adalah orang yang sudah percaya dan ia pun tahu bahwa teman anaknya masih belum percaya. Penderitaan batin yang amat mendalam akan keputusannya itu tidak dapat dibandingkan dengan keganasan dari ombak badai itu. Seraya ia menjerit, “Aku mengasihimu anakku”, ia melemparkan tambang penyelamat itu ke arah teman anaknya. Ketika ia menarik tambang kembali dari teman anaknya ke kapalnya yang sedang karam itu, anaknya sendiri sementara sudah hilang ditelan oleh gelombang-gelombang yang sedang mengamuk dalam kegelapan malam hari. Tubuhnya tidak pernah ditemukan lagi.”

Pada saat itu, kedua pemuda yang duduk dengan tegak di bangku itu sangat ingin mengetahui kelanjutan dari cerita itu. “Ayahnya,” orang tua itu meneruskan, “tahu bahwa anaknya masuk ke dalam keabadian dengan Yesus dan ia tidak dapat menanggung beban untuk membayangkan teman anaknya bila seandainya ia harus memasuki keabadian tanpa Yesus. Karena itulah ia rela mengorbankan anaknya sendiri untuk dapat menyelamatkan teman anaknya. Betapa besar kasih Tuhan bahwa Ia dapat melakukan yang sama untuk kita. Bapa kita sorgawi telah mengorbankan Anak-Nya yang tunggal agar kita dapat diselamatkan. Maka aku sangat menghimbau, kiranya Anda pun menerima kesediaan-Nya yang menyelamatkan Anda dengan memegang erat-erat Tambang Penyelamat”

Sesudah mengatakan kalimat terakhir itu, orang tua itu kembali duduk sementara terdapat keheningan di antara jemaat. Gembala sidang kemudian menaiki mimbar dan menyampaikan khotbah singkatnya seraya mengundang jemaat untuk menerima tawaran keselamatan. Namun, tidak seorangpun memberikan responnya.

Beberapa menit setelah usai kebaktian, kedua pemuda itu berada di sisi orang tua tersebut. “Kisahnya bagus sekali, pak”, kata salah seorang pemuda itu, “namun aku khawatir bahwa sungguh tidak realistis bagi ayah itu untuk mengorbankan anaknya dengan pengharapan bahwa temannya akan menjadi seorang percaya.”

“Ah, pemikiran Anda memang masuk akal”, jawab orang tua itu, sambil matanya ditujukan kepada Alkitabnya yang sudah tua itu. Kepedihan mulai mengambil alih senyum wajahnya ketika ia memandang kedua pemuda itu seraya berkata, “Memang benar, hal itu tidak terlalu realistis, bukan? Namun aku pada hari ini berada di sini untuk mengatakan kepadamu, aku bisa lebih mengerti daripada kebanyakan orang lain, betapa dahsyat kepedihan Bapa sorgawi yang dialami dan dirasakan ketika Ia mengorbankan AnakNya yang tunggal. Sebab, akulah orang yang kehilangan anakku di tengah samudera pada hari kejadian itu dan teman anakku yang kuselamatkan adalah pendetamu sekarang ini.”

Ibu

Pada suatu sore yang cerah, seorang anak menghampiri ibunya di dapur yang sedang menyiapkan makan malam ,dan ia menyerahkan selembar kertas yang selesai dia tulis. Si ibu tersenyum menyambut kertas itu, dan setelah mengeringkan tangannya dengan celemek, ia membacanya.

Dan inilah tulisan si anak itu:
Untuk memotong rumput minggu ini Rp. 7.500,00
Untuk membersihkan kamar minggu ini Rp. 5.000,00
Untuk pergi ke toko menggantikan Mama Rp. 10.000,00
Untuk menjaga adik waktu Mama belanja Rp. 15.000,00
Untuk membuang sampah setiap hari Rp. 5.000,00
Untuk raport yang bagus Rp. 25.000,00
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 12.500,00
Total jumlah hutang Rp. 80.000,00

Si ibu memandang anaknya yang berdiri di situ dengan penuh harap, dan berbagai kenangan terlintas dalam pikiran ibu itu. Kemudian ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya, dan menulis:

Untuk sembilan bulan ketika Mama mengandung kamu selama kamu tumbuh dalam perut Mama, GRATIS.

Untuk semua malam ketika Mama menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, GRATIS.

Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, GRATIS.

Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, GRATIS.

Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, GRATIS.

Anakku, dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati Mama adalah GRATIS.

Setelah selesai membaca apa yang ditulis ibunya, ia menatap wajah ibunya dan berkata: “Ma, aku sayang sekali pada Mama”.

Dan kemudian ia mengambil pulpen dan menulis dengan huruf besar-besar: “LUNAS”

Apakah menurutmu ini cerita yang indah?
Jika ya, kabarkanlah pada semua orang, bahwa orang yang paling mencintainya, selalu ada di dekatnya: SEORANG IBU.

Ucapan Untuk Bapa

Pagi hari Dia menungguku bangun tuk mendengarkanku mengucapkan selamat pagi, namun ternyata, aku terlalu sibuk dengan dunia…

Siang hari, Dia masih menungguku menunggu sapaanku, di sela2 kesibukanku..

namun, aku pun masih terlalu sibuk dengan pekerjaan, ataupun bermain. bahkan saat makan siang pun..aku melupakan Dia

Sore hari, Dia terus menungguku.. sebuah ucapan selamat sore setelah semua kesibukanku selesai.

tapi..aku pun masih sibuk dengan teman teman..atau dengan keluarga..

Malam hari Dia masih terus menungguku.. mengucapkan salam menjelang aku tidur..

tetap saja..aku terlalu sibuk mengurusi kantuk dan lelahku..hingga tak sedikitpun aku berkata-kata padaNya.

Dari matahari terbit hingga kembali terbit..Dia terus menungguku ,, karna kasihNya yg tak terbatas,,Dia terus menantiku,,

Hanya untuk sebuah kata “terima kasih Bapa,” atau “aku bahagia Bapa,”

hari demi hari,,bulan demi bulan,,tahun demi tahun,,

“Apakah sungguh aku terlalu sibuk hingga tak pernah punya waktu untukNya? Dia yang sekalipun tak pernah melupakanku. Dia yang sekalipun tak pernah meninggalkanku, walau seluruh dunia membenciku.. Sungguhkah aku sesibuk itu hingga tak punya waktu untuk Dia? Sungguhkah?”

Hidup Dalam Kepenuhan Roh Kudus

Efesus 5:15-21

Bagaimana orang Kristen menggambarkan hidup dalam kepenuhan Roh Kudus?Ada yang menggambarkan seperti gelas yang diisi penuh dengan air sampai air itu melimpah keluar. Dengan demikian orang Kristen yang tidak dipenuhi Roh digambarkan seperti gelap yang hanya terisi air separoh atau seperempatnya saja.

Gambaran lain yaitu hati manusia. Orang Kristen yang dipenuhi Roh, maka hatinya putih dan di tengah gambar hati itu ada salib Kristus. Sedangkan yang tidak dipenuhi Roh maka gambar hatinya sebagian hitam dan sedikit putihnya serta tidak ada salibnya. Apakah gambaran tadi bisa menjelaskan tentang hidup dalam kepenuhan Roh secara benar dan sesuai dengan Firman Tuhan?

Alkitab menjelaskan bahwa Roh Kudus itu Pribadi Allah: ”Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain…..” Yoh 14: 16. Roh Kudus disebut Seorang bukan sebuah, sesuatu . Yesus juga berkata : ”..tetapi Penghibur yaitu Roh Kudus yang akan diutus Bapa dalam nama-Ku, Dia-lah yang akan mengajarkan….” Yoh 14:26.

Roh Kudus disebut dengan memakai kata ganti orang ketiga: Dia-lah. Roh Kudus adalah Allah yang berpribadi. Nama Roh Kudus disetarakan dengan nama Allah Bapa, dan Anak.(Mat 28: 20). Kepenuhan Roh Kudus berarti kepenuhan Pribadi Allah. Allah yang satu itu masuk secara utuh dalam hidup kita dan mempengaruhi kita.

Tidak ada Gereja yang menolak ajaran tentang Roh Kudus adalah Allah dan juga tentang karunia-karunia Roh Kudus. Semuanya tertulis dalam Alkitab Yang sering menjadi kontroversial adalah penafsiran manusia terhadap keberadaan Roh Kudus itu dan manifestasi-manifestasi-Nya.

Sebagai contoh ada seorang penderita kanker ganas yang sudah divonis dokter bahwa penyakitnya tidak akan sembuh. Tetapi bapak yang satu ini selama dua tahun terakhir tetap hidup dalam sukacita karena Tuhan. Ia mengunjungi pasien-pasien lain dengan kursi rodanya untuk menceriterakan kasih Tuhan Yesus bagi orang-orang yang senasib dengan dirinya. Semua orang melihat sukacita yang terpancar dari wajah bapak tersebut dan berkata : ”Benar bapak itu hidupnya dipenuhi dengan Roh Kudus sehingga ia masih bisa tersenyum sekalipun tahu bahwa penyakitnya tidak akan sembuh.”

Dari sinilah kita tahu bahwa apa yang dipikirkan Allah tidak sama dengan yang dipikirkan manusia. Allah menghendaki dipenuhi Roh Kudus itu merupakan karya-Nya yang amat luas, tetapi manusia kadang-kadang menafsirkannya dengan batasan-batasan yang sempit. Lalu dijadikan patokan bahwa yang ini yang disebut dipenuhi Roh Kudus dan yang lain bukan dipenuhi Roh Kudus.

Bagaimana sebenarnya hidup dalam kepenuhan Roh Kudus? Rasul Paulus menulis dalam surat Efesus ini suatu gambaran yang menjelaskan tentang hal itu :

  1. Dipenuhi Roh Kudus atau hidup dalam kepenuhan Roh adalah berada dibawah kuasa /kendali Allah.
    “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” Efesus 5:18.

    Pada zaman Paulus, ada upacara-upacara kafir yang memakai minum-minum anggur sebagai upaya untuk menjadi mabuk. Dan dengan itu orang-orang penyembah berhala itu mendapat ”pengalaman religius” Paulus membuat analogi antara mabuk anggur tersebut dengan hidup dalam kepenuhan Roh. Walaupun demikian tetap ada bedanya. Orang yang mabuk anggur dikuasai oleh minuman keras yang mengakibatkan gangguan dalam penilaian dan keputusan yang terjadi dalam hidupnya: ngelantur, terhuyung-huyung, bertindak membahayakan orang lain.
    Dipenuhi Roh Kudus juga berakibat, namun bukan menimbulkan gangguan tetapi perbaikan, pembaruan dalam penilaian dan keputusan hidup. Orang itu dikendalikan, dipengaruhi, dikuasai sedemikian rupa oleh Roh Kudus sehingga memancarkan sifat-sifat Allah dalam hidupnya.
    Orang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus akan mengalami dua perkara besar dalam hidupnya : Pertama : menerima karunia-karunia Roh dan kedua : menghasilkan buah Roh dari dalam hidupnya. Karunia Roh untuk melengkapi pelayanan dan buah Roh adalah kebajikan dari dalam hidup kita setelah dipenuhi Roh untuk bersaksi.

  2. Hidup dalam kepenuhan Roh Kudus adalah hidup dalam suasana sukacita Kristus.
    “…dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani” ayat 19

    Orang-orang percaya yang dipenuhi Roh akan selalu merindukan adanya persekutuan dengan Tuhan maupun dengan sesamanya. Bukan asal berkumpul, tetapi persekutuan sukacita. Ada anak Tuhan yang kalau hari Minggu tidak datang beribadah rasanya ada sesuatu yang kurang, yaitu tidak adanya sukacita dalam hidupnya sepanjang hari itu/ minggu itu. Seorang bapak yang semula hanya mau mengantar isterinya ke gereja, tiba-tiba tergerak masuk ketika mendengar lagu : ”Tak tersembunyi kuasa Allah“ Bapak itu kemudian bersaksi bahwa Yesus seakan-akan berkata kepada dirinya bahwa isterimu sudah diselamatkan, sekarang bagaimana dengan kamu. Bapak itu bertobat dalam hidupnya dipenuhi dengan sukacita. Ini juga termasuk dipenuhi Roh Kudus.
    Keluarga itu sekarang hidup dengan penuh sukacita karena semua anggotanya sudah diselamatkan Tuhan Yesus.

  3. Hidup dalam kepenuhan Roh Kudus adalah hidup dalam pengucapan syukur senantiasa.
    “Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu….” Ayat 20

    Mengalami kepenuhan Roh dibuktikan dengan adanya hidup yang senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Tidak ada keluhan yang berlebihan, tidak ada rasa iri, tidak ada semangat untuk mencelakakan orang lain. Dulu terus berkata ini kurang itu kurang, sekarang apapun yang diterima diamini sebagai bagian yang ditentukan Tuhan.
    Semangat kompetisi untuk mengalahkan orang lain, diganti dengan semangat berbagi kepada yang lemah. Semangat menjatuhkan orang lain, diganti dengan semangat mengasihi orang lain.

    Fenomena kepenuhan Roh Kudus bisa kita lihat dengan jelas saat jemaat yang mula mula terbentuk. Ada fenomena-fenomena yang supranatural tetapi ada juga fenomena - fenomena sosial di mana jemaat berbagi dengan sesamanya sehingga jemaat Tuhan itu disukai semua orang. (Kisah 2: 47)
    Alangkah indahnya bila orang Kristen masa kini di zaman akhir ini bisa memunculkan fenomena-fenomena yang seperti pada jemaat mula-mula. Tidak ada yang menganggap dirinya paling luar biasa tetapi tetap menghargai bahwa apapun yang Roh Kudus kerjakan dalam karya-Nya yang lain juga luar biasa. Kepenuhan Roh Kudus bukan untuk diperdebatkan tetapi untuk ditujukan bagi kemuliaan Allah dan kedatangan Kerajaan-Nya di dunia ini.

Pdt. Andreas Gunawan Pr, STh.