Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

30 October 2008

GOD Himself

Mark was a multi-millionaire. He was a CEO of 20+ companies (He never told me the exact number). I met him when I was a 14-year old kid who loved sharing God to others.

So Mark invited me to preach in his huge mansion. So there I was, standing in front of Mark and six of his friends---businessm en of equal wealth and stature. Can you imagine how I looked like at 14? I was a small, thin, ugly, peepsqueaky kid---dressed in a faded shirt and a pair of old brown sandals---nervously holding my Bible--- speaking in front of these millionaires. It was almost hilarious! Why would these bigwigs listen to a nobody?

But when I started telling them about God's love for them---simple stories that any grade schooler could understand-- -the fascinating thing happened: I saw these grown-up men listening intently. I realized they were desperately hungry for God. After my short talk, I led them in a prayer and a song, and I recall how Mark shed tears in front of his friends---and soon after, the others followed.

I can never forget that experience. It made me realize that no matter how old you are, or what state of life you're in---you've got a soul that needs to be fed daily. At the end of the day, your deepest and greatest need is God Himself.

By Bo Sanchez

29 October 2008

Serba Salah

Nats : Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu" (Keluaran 14:13)

Bacaan : Keluaran 14:9-14

Ada saat kita mengalami situasi "maju kena mundur kena". Jalan yang ada di depan seolah buntu, tetapi untuk mundur juga tidak bisa. Jadinya serbasalah. Misalnya, bertetangga dengan orang sulit dan terus mencari-cari masalah. Capek hati rasanya. Namun, mau pindah rumah juga tidak gampang. Atau, teman-teman di kantor yang menjengkelkan. Kita merasa sangat tertekan. Sudah mencoba mencari tempat kerja baru, tetapi tidak kunjung dapat.

Umat Israel dalam bacaan kita juga mengalami hal yang serupa. Mereka baru keluar dari perbudakan di negeri Mesir. Akan tetapi, rupanya Firaun tidak rela melepas mereka (Keluaran 14:5). Lalu mengejar dengan bala tentaranya. Keadaan umat Israel terjepit. Di depan Laut Teberau, sedangkan di belakang tentara Mesir. Mereka ketakutan (ayat 11). Musa mengingatkan mereka agar jangan takut, berdiri tetap, dan berfokus pada penyertaan Tuhan (ayat 13). Akhirnya mereka selamat sampai di seberang (Keluaran 14:30).

Langkah pertama menghadapi keadaan sulit adalah: jangan takut. Sebab bukan saja tidak akan menolong, rasa takut juga malah bisa melumpuhkan; membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua, berdiri tetap dalam iman. Biasanya dalam keadaan tertekan orang mudah sekali tergoda mengambil jalan pintas; asal segera keluar dari masalah, lalu menghalalkan segala cara. Padahal sikap demikian biasanya malah semakin menjerumuskan. Ketiga, berfokus pada kasih dan penyertaan Tuhan. Jalani hidup ini seberat apa pun dengan penyerahan diri dan pengharapan. Tuhan akan bertindak -AYA

TUHAN AKAN BUKA JALAN, SAAT TIADA JALAN
KUNCINYA TETAP BERFOKUS KEPADA-NYA DAN TEGUH DALAM IMAN

Yayasan Gloria

Barn Swallow

Burung betina ini terluka parah
Here his mate is injured and the condition is appalling

image001

Pasangannya membawakan makanan dan mencoba menyuapi si betina
Here he brings her food and attend her with love and compassion

image002

Namun si betina akhirnya mati. Si jantan masih mencoba menggerakkan tubuh tak bernyawa itu
Brings her food but shocked with her death and try to move her

image003 

Si jantan mulai sadar kalau si betina sudah mati. Si burung jantan ini pun menjerit penuh duka
He is aware that his sweetheart is dead and will not come to him again he cries with adoring love

image004

Si jantan tak mau menerima begitu saja kematian pasangannya. Ia terus menjerit pilu di sisi jasad si betina
Stand beside her and scream saddened of her death

image005

Sadar bahwa si betina tak mungkin hidup lagi, si burung jantan tetap bertahan di sisi jasad beku itu dengan segala kesedihan
Finally aware that she would not return to him and she has departed, stands beside her body, sad and sorrow

image006

(Foto ini dilaporkan diambil di wilayah Ukraina, negeri yang dulu pernah menjadi bagian Uni Sovyet).
Photos of two birds are said to have been taken in the Republic of Ukraine Where the bird is trying to save his mate. Millions of people cry after watching this picture in America and Europe

Hambatan Dalam Berdoa

Meski doa seringkali juga disebut sebagai nafas hidup orang Kristen, tapi banyak orang Kristen sekalipun yang mengalami hambatan dalam berdoa. Hambatan itu bisa jadi karena :

1. Kekristenan yang pura-pura.
Kita berdoa, tapi tak lagi percaya pada Yesus, Alkitab, dan kekristenan. Kita mungkin masih mendua hati, kita masih menggantungkan harapa pada sesuatu selain Kristus, kita masih sombong dan lebih percaya pada kemampuan diri sendiri. Bukan berarti Tuhan tidak akan mendengarkan doa orang yang belum percaya. Tapi, doa yang ingin Tuhan dengan dari bibri orang yang belum percaya adalah doa pertobatan. Kita mungkin juga tidak berdoa dalam nama Yesus. Ini bukan berarti setiap doa yang memuat kalimat "dalam nama Yesus" pasti dikabulkan. Betapapun indah dan meyakinkannya kata-kata doa, tidak akan berarti apa-apa jika tak ada iman. Berdoa dalam nama Yesus berarti kita memanjatkan doa kita dengan iman bahwa hanya kepada Yesus saja kita berdoa, dan bahwa hanya Dia saja yang bisa menjawab doa kita seturut dengan kehendak-Nya.

2. Doa duniawi; doa yang hanya mementingkan diri.
Yakobus 4:3-4 mendeskripsikan doa sejenis ini sebagai permohonan doa untuk hal-hal yang "hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu". Kita memperlakukan Tuhan sebagai mesin pemberi berkat, akibatnya kita hanya berdoa untuk hal-hal duniawi, hal-hal yang hanya menuruti keinginan daging kita. Lebih parah, ada juga yang bahkan merasa menerima 'nubuat' akan hal-hal yang indah bagi daging, padahal itu palsu. Hal ini sangat berbahaya karena nubuat palsu itu bisa jadi malah membuat kita memberontak pada Allah. Pastikan doa kita adalah menurut kehendak-Nya dan belajarlah mengenali suara Sang Gembala.

3. Tidak adanya pertobatan dan pengampunan.
Dalam Doa Bapa Kami, ada kalimat "ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" - Matius 6:12. Ini masih berhubungan dengan hukum tabur tuai (lihat Mat 6:14-15). Akar pahit, sikap tidak mau berdamai dengan sesama atau dengan dirinya sendiri, dan sikap menghakimi juga dapat menjadi penghambat doa kita didengar Tuhan. Jika semua hal itu masih ada dalam diri Anda, yang Tuhan ingin dengar dari doa Anda saat ini adalah doa pertobatan dan melepaskan pengampunan. Anda juga dapat meminta bantuan doa dari saudara seiman untuk sama-sama berdoa mengenai ini.

4. Menyakiti orang lain
Hambatan yang lain dapat membuat doa Anda tidak dijawab adalah karena Anda masih menyakiti orang lain. Barangkali Anda masih marah setelah bertengkar dengan pasangan atau keluarga, dsb. Alkitab menyatakan bahwa jika kita datang ke hadirat Allah dengan hati masih menyimpan dendam atau kebencian terhadap sesama, kita harus membereskannya lebih dulu (Mat 5:23-24). Jadi, jika ingin doa kita didengar, sekali lagi kita harus lebih dulu bertobat, mengadakan pemberesan atau mengusahakan ganti rugi terhadap orang yang kita sakiti. Waspadai pikiran-pikiran yang berusaha merasionalkan pelanggaran dan dosa kita dengan berbagai macam dalih. PIkkiran itupun dapat menghambat doa kita didengar Tuhan karena Dia mengetahui isi hati manusia. Demikian pula jika memang benar bahwa Anda yang menjadi korban dari pelanggaran atau kejahatan orang lain, sikapilah itu dengan cara yang menyenangkan dan memuliakan Tuhan.

28 October 2008

Bersama Tuhan Lebih Enak

Pada usia empat tahun anak laki-laki sulung saya, Nathan, tidak dapat berbicara. Ada sekitar enam dokter spesialis THT yang menyatakan bahwa dia mengalami telat berbicara. Lalu saya bawa dia berobat ke Jakarta. Setelah dua minggu menjalani pemeriksaan, anak saya dinyatakan cacat permanen dan tidak ada obat atau terapi untuk membuatnya dapat berbicara. Karena tidak puas dengan semuanya, maka saya bawa dia berobat ke Australia, dan di sana juga dokter menyatakan bahwa anak saya cacat permanen karena terkena virus anjing.

Tetapi saya ingat bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang hidup. Saya cuma kembalikan sepenuhnya anak saya kepada Tuhan dan berharap untuk mendapatkan suatu mukjizat. Sejak saat itu saya selalu berusaha ikut berbagai KKR agar anak saya bisa mengalami kesembuhan ilahi. Dimana ada KKR, di sana pasti ada anak saya, Nathan. Tetapi mukjizat belum juga terjadi. Rupanya Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi anak saya.

Pada suatu hari Tuhan menjawab pergumulan saya. Dia berkata, ”Kalau rohanimu bertumbuh 5% saja, maka anakmu juga akan sembuh 5%, demikianlah seterusnya.” Ketika Tuhan berbicara tentang pertumbuhan rohani, saya bingung karena pada waktu itu saya sudah melayani Tuhan. Tetapi ternyata di hadapan Tuhan saya ini nol karena hati dan perbuatan saya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Setelah saya mengerti, saya mulai melangkah dan memperbaiki hidup saya. Yang dulunya saya suka menonton blue film, menipu, berbuat jahat kepada orang lain dan banyak lagi segi kehidupan saya yang kotor, semuanya itu saya buang.

Mukjizat terjadi pada saat anak saya berusia tujuh tahun. Dia mulai bisa berbicara. Saat dia memanggil saya, ”Papa!”, itu bukan kebahagiaan yang biasa saja, tetapi amat sangat luar biasa karena saya melihat dengan sungguh-sungguh bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhan. Menurut perhitungan dan pengetahuan dokter anak saya tidak akan dapat dan tidak akan pernah dapat berbicara. Tetapi bukan demikian kata Tuhan. Karena Tuhan semakin menunjukkan kuasa-Nya saya semakin memperbaiki hidup saya dengan sungguh-sungguh. Dan puji Tuhan, karena karakter saya menjadi semakin baik dan semakin baik, maka anak saya menjadi semakin sembuh.

Pada saat dia lulus dari Sekolah Luar Biasa (SLB), saya kemudian menyekolahkan Nathan di sekolah normal. Dia mengalami kesulitan karena pelajaran di sekolah normal jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di SLB. Setiap kali menghadapi ulangan harian, dia kedodoran. Bisa mendapatkan nilai 3 saja kami sudah sangat bangga. Tetapi pada suatu ketika saat dia mau menghadapi ulangan umum dia menanyakan apa yang harus dia lakukan dan saya bilang, ”Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Tuhan Yesus pasti tolong kamu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebisamu.” Pada pagi harinya saat saya antar ke sekolah dia meminta saya menumpangkan tangan, berdoa baginya dan saya juga meminta dia untuk berdoa dahulu sebelum mengerjakan soal-soal.

Pada saat dia menghadapi ulangan umum, saya berpuasa untuknya. Ketika pulang sekolah dia menceritakan bahwa sesungguhnya dia tidak mampu mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi malaikat Tuhan menolong dia. Tangannya terus menulis jawaban dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia rasakan bahwa Tuhan telah menjamah tangannya. Ternyata benar apa yang dia katakan. Dia mendapatkan ranking 2 di kelasnya. Sontak sekolahnya sempat gempar. Bahkan Kepala Sekolah mencurigai bahwa Wali Kelasnya menjual jawaban soal kepada anak saya, karena mereka semua tahu bahwa anak saya tidak cerdas.

Karena kuasa Tuhanlah, anak saya dari yang tidak mampu dijadikannya menjadi mampu. Anak saya semakin tumbuh dalam hal rohani karena dia juga melihat mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidupnya. Bahkan Tuhan angkat dia masuk ke Universitas melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa. Pada suatu hari setelah dia menyelesaikan ujian SMA-nya, isteri saya yang menjemput dia pulang sekolah. Dalam perjalanan, dia berkata, ”I love you, mom!” Saya mengasihi mama dan saya sangat mencintai mama.

Sesampai di rumah dia merapikan dirinya, kemudian makan dan sempat bergurau dengan mamanya. Sekitar jam 13.30 dia pamit untuk tidur. Dan pada jam 14.00 siang itu anak saya dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa di Sorga. Hal itu baru diketahui isteri saya sekitar jam 16.30 sore. Isteri saya menemukan Nathan sudah meninggal ketika dia bermaksud membangunkannya. Dia meninggal dengan keadaan yang sangat tenang. Dapat dilihat dari tempat tidur yang masih tertata sangat rapi.

Aku sangat terguncang, bahkan tidak tahu kemana harus kubawa hidupku ini. Isteriku dan anakku yang bungsu histeris. Mereka membentur-benturkan kepala mereka ke tembok, sehingga kurangkul paksa mereka supaya mereka tenang dan kami mulai berdoa. Aku berkata, "Tuhan Yesus, Engkau sungguh baik, karena di saat badai seperti ini Engkau memiliki maksud dan rencana yang indah bagi kami dan kami percaya Engkau tidak akan meninggalkan anak-anak-Mu pada waktu menderita."

Saat itu aku merasa ada yang aneh. Secara jujur aku tidak kuat menghadapi semua itu, tetapi di hatiku tidak ada sedikitpun perasaan yang menyalahkan Tuhan. Yang ada hanya rasa syukur. Kami bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa itu melingkupi kami. Saat Nathan dimasukkan ke dalam es untuk diawetkan, pada pagi hari jam 8 ada SMS masuk dari Amerika yang menyampaikan bahwa, "AKU sangat mengasihi anakmu." Bukan itu saja, Dia kirimkan dua orang hamba Tuhan yang tidak kukenal dan juga mereka menyampaikan pesan yang sama, "Aku telah mengirimkan para malaikat-Ku untuk menjemput anakmu. Sekarang anakmu menjadi bagian dari para penyembah-Ku dan bersukacita bersama-Ku."

Aku pegang semua itu, meskipun aku tidak tahu apa maksudnya. Aku mulai berpuasa selama 40 hari dan Tuhan menjawab melalui firman-Nya yang terdapat di dalam Wahyu 14:2-5 yang berbunyi: 'Dan aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk dan tua-tua itu, dan tidak seorang pun yang dapat mempelajari nyanyian itu selain dari pada seratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.' Ayat-ayat itu membuatku menangis pada malam itu. Dan ayat-ayat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku selama seminggu.
Lalu pada tanggal 21 Juni 2006 pukul 4 pagi ada dorongan roh yang kuat agar aku berdoa. Dan aku taat. Dalam keadaan sadar 100% kurasakan rohku keluar dari tubuhku dan Tuhan menaruh aku di suatu tempat dimana kulihat Tuhan Yesus duduk memangku seseorang dalam kemuliaan-Nya.

Meskipun aku tidak dapat melihat dengan jelas, tetapi kurasakan damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan sinar kemuliaan Tuhan yang putih bening seperti kristal itu memancar penuh kemilau. Oh, betapa indahnya dan tak dapat kugambarkan dengan kata-kata! Dalam sinar kemuliaan itu Dia berkata, 'Waktu-Ku tidak lama.' Setelah itu kulihat Nathan turun dari pangkuan-Nya dan berjalan tiga langkah ke arahku. Nathan memelukku dan aku memeluknya dengan erat dan menciuminya.

Aku mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apakah kamu mau hidup lagi di dunia, Nathan? Ia menggelengkan kepalanya. Kedua, apakah kamu sudah menjadi bagian dari tim pujian dan penyembahannya Tuhan seperti tertulis dalam Wahyu 14:2-5? Dia menganggukkan kepalanya. Ketiga, apakah kamu sudah bersukacita di sini? Dia kembali menganggukkan kepalanya. Setelah itu aku berkata, 'Selamat jalan, Nathan! Kita akan bertemu lagi kelak!' Kulihat Nathan berjalan mundur dengan melambaikan tangannya kepadaku dan menghilang. Ketika rohku kembali, tubuhku terasa bergoncang. Bahkan sempat aku serasa mau rebah. Dunia ini sangat mengerikan. Bumi gelap gulita, bahkan untuk melihat tanganku pun tidak bisa.

Setelah itu aku baru bisa menangis. Padahal waktu bertemu dengan anakku, tidak ada rasa haru, tidak ada dukacita, tetapi yang ada hanyalah damai sejahtera dan sukacita yang luar biasa. Dan jika waktu itu Tuhan menawariku untuk tinggal dan tidak kembali lagi ke dunia, aku pasti mau, karena bersama dengan Tuhan itu jauh lebih enak. Setelah kejadian demi kejadian kualami, sekarang hubunganku dengan Tuhan bertambah intim dan mesra. Suatu hubungan yang tak dapat diutarakan dengan kata-kata.

Sumber kesaksian: Handoko W & Christiani Hartono SH seperti yang dimuat dalam Tabloid Keluarga Edisi 20

Penyertaan-Nya

"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" - Matius 28:20

Bacaan : Mazmur 23:1-6

Buku Tortured For Christ menceritakan dengan detail pengalaman misionaris Richard Wurmbrand di kamp penjara Soviet yang notabene negara komunis pada saat itu. Karena menolak untuk melepaskan keyakinannya di dalam Kristus, Wurmbrand mengalami aniaya yang luar biasa. Dia dipukuli hampir tiap hari, ia hampir mati beku selama musim dingin, ia menghabiskan hari-harinya di tempat pengasingan yang sunyi dan gelap, dan diperlakukan dengan semena-mena. Berapa lama Wurmbrand mengalami aniaya yang tidak terkatakan itu? Sepuluh tahun lamanya!

Bagaimana mungkin seorang manusia bisa bertahan dalam aniaya selama itu? Tentu saja kekuatan dalam menanggung aniaya tersebut bukan berasal dari kekuatannya sendiri, melainkan kekuatan dari Tuhan. Namun satu hal yang pasti, Wurmbrand selalu merasakan keharidan dan penyertaan Tuhan di dalam hidupnya saat-saat ia mengalami penganiayaan.

Tuhan telah berjanji bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, bahkan Dia akan selalu menyertai kita sampai kesudahan jaman. Jika hari-hari ini kita sedang berada di dalam lembah kelam, mengalami kehidupan yang berat dan mengalami masa-masa paling sulit dalam hidup kita, yakinlah bahwa Dia selalu menyertai kita. Ingatlah bahwa kalanya Dia tidak membuat kita terhindar dari masa-masa sulit tersebut, namun yang pasti Dia akan selalu memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita dimampukan untuk bertahan dan mengatasi masa-masa sulit tersebut hingga menjadi orang yang berkemenangan.

Jika hari-hari ini terasa begitu berat bagi Anda untuk dijalani, ingatlah akan penyertaan-Nya dalam hidup Anda. Saya pernah mengalami masa-masa paling sulit dalam hidup saya, namun di saat itu juga saya justru merasakan kasih karunia, kekuatan yang baru dan keintiman yang luar biasa dengan Tuhan. Kita tidak pernah menjalani hari-hari berat ini sendirian, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kwik

Sumber : Renungan Harian Spirit

Terima Kasih TUHAN

Aku mengawali hari itu dengan keluhan-keluhan kecil....

Tugas-tugas yang menumpuk membuat aku sulit untuk memilih dari mana aku harus memulainya sedangkan waktu penyelesaiannya hampir bersamaan. Ditambah lagi kondisi fisik tubuhku rasanya tak mampu. Keadaan-keadaan inilah yang membebaniku pagi itu, yang membuatku mengabaikan saat teduh pribadiku bersama DIA. Hanya sebuah kalimat sederhana yang sempat terucap ”Thanks GOD for today..., sebelum aku menyiapkan diri dan bergegas ke tempat kerjaku.

Mobil yang kutumpangi melaju dengan cepat, membawa diriku dengan berbagai kekesalan di hati. Kupandangi tumpukan kertas yang berisi tugas-tugas yang harus kuselesaikan. ”Mengapa semalam aku harus sakit sehingga aku tak bisa mengerjakan tugas-tugas itu? Sedangkan di kantor seseorang telah siap menanti hasil penyelesaiannya."

Tiba-tiba mobil berhenti, aku kaget, apa sebenarnya yang terjadi? Ternyata ada seorang yang terganggu jiwanya berdiri tepat di depan mobil. Sosok dengan penampilan yang acak-acakan serta senyum kecut di bibirnya, berlalu begitu saja tanpa menghiraukan gertakan dari sang sopir. Spontan air mataku menetes, ”TUHAN mengapa mereka harus seperti ini? Bukankah mereka juga adalah ciptaanMU yang termulia? Aku tahu ENGKAU juga mengasihi mereka”.

Selang beberapa menit, seorang penumpang harus turun jadi mobil pun berhenti. Mataku tertuju pada seorang nenek tua yang duduk di kursi roda, ”TUHAN, mengapa ENGKAU memberikan umur yang panjang kalau akhirnya harus menderita seperti itu?? Hati kecilku pun bertanya sekaligus berusaha menjawab ”pasti ada maksud TUHAN di balik semua itu”.

Belum lepas pandanganku dari sosok nenek tua dengan kursi rodanya sebuah mobil jenazah lewat aku bergumam, ”Ya, inilah hidup, TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN”. Kini mobil yang kutumpangi menyusuri jalan di antara hamparan kebun sayur yang tertata indah laksana ukiran-ukiran yang membentuk perbukitan yang hijau. Untuk kesekian kalinya aku terkagum ”sungguh, tiada yang seperti ENGKAU TUHAN, betapa indahnya alam ini”.

Tanpa terasa perjalanan selama hampir satu jam telah membawaku ke tempat kerjaku. Belum juga kulangkahkan kakiku menyeberangi jalan di depan kantorku, mataku terpaku pada seorang pedagang kaki lima dengan jualannya yang tampak tak ringan juga seorang kakek tua dengan bendi tuanya sibuk mencari penumpang. Hatiku tersentak, ”Ya, inilah hidup yang harus diperjuangkan”.

Pikiran dan perasaanku berkecamuk, berusaha untuk mengerti maksud TUHAN di balik semua peristiwa yang kusaksikan. Aku tak kuasa membendung air mataku yang sejak tadi terus menggenangi mataku. ”TUHAN yang akan memberikan pengertian kepadaku”. Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu kantor. Apa yang terjadi?? Ooh, aku baru ingat seorang temanku berhari ulang tahun. Suasana ceria meliputi ruangan kantorku. Kami berjabatan tangan, bercanda tawa sambil menikmati makanan ringan yang telah disiapkan, aku pun bergumam, ”Hidup itu anugerah dan kita harus mensyukurinya”.

Setelah semuanya selesai, seperti tanpa beban aku mulai mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari itu.. Lembar demi lembar kertas berpindah tempat setelah aku meyelesaikan perhitungan-perhitungan di dalamnya. Kuraih sebuah lembaran kertas, aku kaget, ”benarkah ini lembaran terakhir? Seakan tak percaya aku kembali memeriksa kembali tumpukan kertas yang telah berpindah tempat, "Oh, Thanks GOD ini benar-benar lembar yang terakhir" Tanpa menunggu lama aku pun langsung menyelesaikan semuanya. ”Sudah selesai?” seseorang mengagetkanku. ”Iya Pak, ini hasilnya” jawabku sambil menyerahkan tumpukan kertas yang telah kususun rapi. ”Terima kasih”, ujarnya kembali.

Peritiwa sepanjang hari itu kembali terbayang di benakku. Kekesalanku di pagi hari, kejadian-kejadian yang kusaksikan saat berada dalam perjalanan sampai suasana sukacita di kantorku yang membuatku lupa akan bebanku di pagi hari. Aku tersenyum. ’Thanks GOD, ENGKAU mengajarkan banyak hal untukku hari ini, terima kasih karena ENGKAU mengganti kekesalanku dengan sukacita yang kuperoleh dari apa yang kusaksikan, tak seharusnya aku terpaku pada besarnya masalah yang sepertinya harus kuselesaikan, tak seharusnya aku mengabaikan saat teduhku karena sepertinya dikejar aktivitas, ampuni aku TUHAN, tak seharusnya aku tidak bersyukur, aku harus belajar untuk menghargai hidup sebelum terlambat, aku harus belajar menjalani hidup dengan sukacita, aku harus berjuang tanpa keluhan-keluhan yang justru menghalangi perjuanganku, aku harus terus belajar melihat karya ALLAH dalam semua hal yang kualami dan kusaksikan.

”Terima kasih TUHAN”. Inilah kalimat-kalimat yang terus menghiasi hatiku hingga akhirnya jam kantor selesai. Aku pulang dengan sukacita, ”terima kasih TUHAN, betapa luar biasanya ENGKAU, sungguh semuanya baik ketika itu kujalani bersamaMU dan tanpaMU aku tak kan bisa berbuat apa-apa karena aku bukan siapa-siapa. Biarlah apa yang kudapatkan hari itu bisa dirasakan oleh saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku dan sesamaku.. ”Terima kasih Tuhan...”

Kiriman : Slow Art

Humor : Mobil

Mobil Ratri sudah sering mengalami kerusakan dan setiap mengalami masalah dia selalu menelepon Dono untuk menolongnya. Suatu hari Dono menerima telepon dari Ratri.

"Sekarang ada apa lagi dengan mobilmu itu?" tanya Dono.

"Remnya blong," kata Ratri. "Bisa nggak kamu datang kemari?"

"Sekarang kamu ada di mana?" tanya Dono.

"Aku ada di dalam apotik," kata Ratri.

"Lalu mobilnya dimana?" tanya Dono.

"Ada di dalam apotik juga!"

27 October 2008

Kartu Kredit

"Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi" - Amsal 22:7

Bacaan : Amsal 22:7, 26

Hari ini masih belum punya kartu kredit? Hari ini punya kartu kredit cuma satu? Memang saat sekarang ini kartu kredit bukan lagi untuk orang kelas premium saja, lapisan masyarakat kelas menengah bawah pun sudah akrab dengan kartu plastik ini. Apalagi sekarang ini banyak bank berlomba untuk menggaet nasabah untuk memiliki kartu kredit dengan persyaratan yang super mudah. Tak heran kalau teman saya punya 13 kartu kredit, bahkan ada orang yang punya 42 kartu kredit. Luar biasa bukan?

Memiliki sejumlah kartu kredit tentu sah-sah saja. Persoalannya, kalau kita tidak hati-hati kartu-kartu plastik itu bisa menjadi jerat bagi kita. Dari luar kelihatan keren, tapi ternyata kondisi keuangan kita sangat memprihatinkan.

Larry Burkett, pakar keuangan yang sangat brilian, memberika tiga cara paling mudah untuk menjauhkan diri dari hutang kartu kredit.

  1. Jangan Pernah mengenakan biaya apapun atas kartu kredit Anda jika Anda tidak mempunyai uang untuk membayarnya. Dengan kata lain, gunakan kartu kredit sebagai charged card, bukan hutang dulu bayar belakangan.
  2. Lunasilah hutang kartu kredit Anda tiap bulannya, dan jangan pernah terlambat
  3. Jika Anda tidak bisa melunasi kartu kredit Anda pada akhir bulan, taruhlah kartu kredit Anda di atas kertas roti, panaskan oven hingga 350 derajat, dan masukkanlah kartu-kartu itu selama 30 menit hingga jadi enak dan lembek.

Jika kita melakukan tiga fase cara tersebut, tentu kita tidak perlu stress lagi soal kartu kredit. Sekali lagi, bukan saya anti kartu kredit, tapi penggunaan kartu kredit dengan cara yang salahlah yang harus di waspadai. Jika Anda memutuskan untuk memiliki satu atau beberapa kartu kredit, pastikan diri Anda sudah memiliki pengelolaan uang secara bijak, memiliki disiplin saat mengatur keuangan dan sudah benar-benar siap. Jika tidak, keuangan Anda bakal diobrak-abrik oelh kartu plastik ini. Kwik

Sumber : Renungan Harian Spirit

Misionaris Bagi Suku Sawi-Irian

"Saya hanya mau melayani ke tempat di mana orang lain tidak mau melayani dan masuk ke tempat di mana orang lain belum pernah dan tidak mau masuk." Jim Yost.

Jim Yost berumur 13 tahun ketika ayahnya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam : narkotika. Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian. Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasihNya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencanaNya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi : Irian !

Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun. Jim mengatakan bahwa selain rektornya adalah mantan misionaris di Jamaika, sehingga pelajaran misi selalu ditekankan di semua kurikulum, juga banyak misionaris yang datang ke sekolahnya untuk mengajar. Ia tadinya tidak berpikir akan menjadi seorang misionaris karena ia hanya mau belajar Alkitab dan menjadi seorang gembala jemaat di California.

Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim. Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan sehingga para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Saat berada di Kyoto, yang merupakan pusat penyembahan berhala di Jepang, pada suatu malam Jim berdoa semalam suntuk.

Ia berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris."

Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, "Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris."

Mulai saat itu Jim yang fasih berbahasa Indonesia ini sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.

Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Irian Jaya.

"Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Di mana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana." kata Jim. Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Irian Jaya. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini. Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Yost.

Menurut dia situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Irian Jaya. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Sedangkan pelayanan di hutan belantara Irian Jaya, tinggal seorang diri beserta keluarga, terpencil, kepada siapa akan bergantung, selain kepada Tuhan saja ? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Irian Jaya, ia memutuskan dan "membakar" semua jembatan yang mengantarnya kembali ke Amerika.

"Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali," kata Jim yang sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.

"Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi dalam jangka pendek, yang mereka sebut sebagai misi kunjungan. Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus menerus, menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri," ungkap Jim yang wajahnya mirip McGyver ini.

Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Irian sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang. "Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup!", katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya.

Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana. "Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami. Namun di saat yang amat genting itu Roh Allah memberikan keberanian kepada kami, sehingga kami tidak merasa takut sama sekali. Saya bergerak ke kanan, istri saya ke kiri. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan perang tersebut dengan cara mematahkan panah, lembing, tombak, dan alat-alat perang lainnya semampu kami." Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu.

Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu. Bagi Jim Yost dan istri ketergantungan kepada Tuhan sangatlah mutlak sebab bila Tuhan yang membuka pelayanan yang baru yang tidak mampu dikerjakan manusia, maka Tuhan akan memperlengkapi dan memberi kemampuan. Harga yang harus dibayar untuk memenangkan hati dan jiwa orang-orang Sawi itu cukup mahal dan Jim Yost beserta istri mempertaruhkan hidup mereka sekalipun tantangannya demikian berat. Suatu saat Jim mengalami kecelakaan karena pesawat yang ia tumpangi jatuh dan tengggelam ke sungai. Namun tangan Tuhan menyelamatkan hamba yang dikasihiNya ini, sehingga ia tidak mengalami cedera sedikitpun.

Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan, "Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain akan melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami dan mereka lupa berdoa bagi kami.

Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat."

"Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa "down", anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan kotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan.

Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan." tambahnya. Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.

Pada suatu saat ada seorang anak kecil jatuh dari sampan dan tenggelam di sungai yang sangat pekat warnanya karena banyak tumbuhan air. Setelah ditemukan, anak tersebut sudah tidak bernyawa dan perutnya kembung penuh dengan air. Semua orang menangis meraung-raung tanpa pengharapan. Saat itulah Jim berdoa, memohon belas kasihan Allah agar nyawa anak itu dikembalikan lagi. Mujizat terjadi, anak itu hidup lagi! Akibatnya seluruh kampung percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka mau dibaptis.

Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan "saudara-saudaranya", suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi. Jim Yost mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi. Pada saat ini ia sedang menerjemahkan Alkitab Perjanjian Lama bersama-sama orang-orang Sawi dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Anak pertamanya, Amy (16) lahir di Amerika ketika ia sedang cuti di sana. Sementara itu Jennifer (13) dan Megan (9) lahir di Irian Jaya. Ketiganya sangat menyatu dengan budaya Sawi sekalipun mereka adalah orang Amerika. Dalam hal pendidikan anak-anaknya, istri Jim mengajar mereka di rumah dengan memakai buku-buku yang dibawa dari Amerika sampai sekarang.

"Kami tidak mau berpisah dengan anak-anak. Karena itu mereka tidak kami kirim ke luar untuk belajar, sehingga mereka melihat apa yang ada pada kami. Mereka melihat diri saya sebagai misionaris, bukan hanya orang tua. Contohnya, anak kami yang pertama, Amy, setiap hari membantu ibunya di poliklinik. Ia dapat menyuntik orang-orang sakit, dapat menjahit luka, dapat menolong ibu-ibu yang melahirkan dan lain-lain. Saya yakin dia nanti bisa jadi dokter. Setelah pendidikan selesai nanti Amy dapat kembali ke Irian Jaya." kata Jim.

"Kami tidak kuatir dengan pendidikan mereka sebab yang kami ajarkan sama dengan di sekolah-sekolah Amerika. Tentang pergaulan, memang mereka tidak bergaul dengan anak-anak Amereika sebayanya dan mereka mungkin sedikit rugi, tetapi mereka lebih kaya karena pergaulan dengan anak-anak pedalaman. Mereka tidak punya budaya sendiri, walaupun orang tua mereka berbudaya Amerika. Mereka memiliki supra budaya sehingga gampang menyesuaikan diri," tambah Jim.

Sebab itu, menurut Jim, misionaris yang paling efektif adalah anak-anak dari para misionaris karena mereka lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sampai hari ini Jim Yost sudah 20 tahun tinggal di antara saudara-saudaranya, suku Sawi, bersama keluarganya. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.

Suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi yang ditinggalkan dunia moderen, tetapi diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hambaNya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan caraNya sendiri. Terpujilah Allah!

Cara Kerja Otak Manusia

image002

Petunjuk "melihat" gambar terlampir :

Kalau pandangan mata Anda mengikuti gerakan putaran bulatan warna PINK, maka hanya akan terlihat bulatan satu warna yaitu PINK .

Tapi kalau pandangan mata Anda ke tanda " +" hitam di tengah, maka bulatan yang berputar akan berubah warnanya menjadi HIJAU. Kemudian jika pandangan mata Anda konsentrasi penuh ke tanda "+ " hitam di tengah-tengah gambar, maka perlahan-lahan bulatan warna PINK akan menghilang, dan hanya akan terlihat satu saja bulatan yang berputar yaitu warna HIJAU.

Sangat mengagumkan cara otak kita bekerja. Sebenarnya tidak ada bulatan warna hijau, dan bulatan warna pink juga tidak menghilang. Rasanya cukup membuktikan bahwa kita tidak selalu melihat apa yang kita pikir, dengan kata lain kita melihat sesuatu "bukan apa adanya" tapi "sebagaimana kita melihatnya" .

Kadang kita menghadapi suatu masalah merasa "sangat sulit" atau "sangat berat", baik di tempat kerja, di keluarga, di lingkungan masyarakat maupun masalah pribadi diri sendiri, bahkan kadang terlintas pertanyaan di benak kita, kenapa demikian berat beban masalah atau cobaan yang kita terima? Padahal kalau kita menerima anugrah, hadiah, kenikmatan yang demikian besar, kita tidak pernah mempertanyakannya, kenapa kok saya yang menerima. Dan kadang kita lupa dengan DOA : berilah beban yang aku sanggup memikulnya.

Berat atau ringan, kecil atau besar, masalah atau bukan masalah, sedih atau gembira, hukuman atau pahala, derita atau bahagia, dst. Hanyalah "cara pandang" kita terhadap sesuatu?

Suatu peristiwa ataupun kejadian yang sama, namun jika melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda serta me-makna-i nya dengan berbeda kemudian menyikapinya dengan cara yang berbeda pula, maka hasil nya juga akan berbeda. Semua hanya ada di benak kita sendiri! Karena otak kita lah yang membuatnya berbeda! Jika suatu peristiwa yang negatif namun kalau kita memandang/memaknai nya sebagai hal yang positif dan kita menyikapi dengan cara yang positif maka hasilnya pun akan positif pula. Dan begitu sebaliknya..

Tuhan Memberkati