Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

27 October 2008

Misionaris Bagi Suku Sawi-Irian

"Saya hanya mau melayani ke tempat di mana orang lain tidak mau melayani dan masuk ke tempat di mana orang lain belum pernah dan tidak mau masuk." Jim Yost.

Jim Yost berumur 13 tahun ketika ayahnya dipanggil pulang ke rumah Bapa di Surga. Ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam : narkotika. Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian. Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasihNya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencanaNya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi : Irian !

Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun. Jim mengatakan bahwa selain rektornya adalah mantan misionaris di Jamaika, sehingga pelajaran misi selalu ditekankan di semua kurikulum, juga banyak misionaris yang datang ke sekolahnya untuk mengajar. Ia tadinya tidak berpikir akan menjadi seorang misionaris karena ia hanya mau belajar Alkitab dan menjadi seorang gembala jemaat di California.

Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim. Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan sehingga para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Saat berada di Kyoto, yang merupakan pusat penyembahan berhala di Jepang, pada suatu malam Jim berdoa semalam suntuk.

Ia berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris."

Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, "Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris."

Mulai saat itu Jim yang fasih berbahasa Indonesia ini sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.

Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Irian Jaya.

"Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Di mana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana." kata Jim. Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Irian Jaya. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini. Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Yost.

Menurut dia situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Irian Jaya. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Sedangkan pelayanan di hutan belantara Irian Jaya, tinggal seorang diri beserta keluarga, terpencil, kepada siapa akan bergantung, selain kepada Tuhan saja ? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Irian Jaya, ia memutuskan dan "membakar" semua jembatan yang mengantarnya kembali ke Amerika.

"Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali," kata Jim yang sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.

"Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi dalam jangka pendek, yang mereka sebut sebagai misi kunjungan. Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus menerus, menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri," ungkap Jim yang wajahnya mirip McGyver ini.

Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Irian sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang. "Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup!", katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya.

Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana. "Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami. Namun di saat yang amat genting itu Roh Allah memberikan keberanian kepada kami, sehingga kami tidak merasa takut sama sekali. Saya bergerak ke kanan, istri saya ke kiri. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan perang tersebut dengan cara mematahkan panah, lembing, tombak, dan alat-alat perang lainnya semampu kami." Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu.

Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu. Bagi Jim Yost dan istri ketergantungan kepada Tuhan sangatlah mutlak sebab bila Tuhan yang membuka pelayanan yang baru yang tidak mampu dikerjakan manusia, maka Tuhan akan memperlengkapi dan memberi kemampuan. Harga yang harus dibayar untuk memenangkan hati dan jiwa orang-orang Sawi itu cukup mahal dan Jim Yost beserta istri mempertaruhkan hidup mereka sekalipun tantangannya demikian berat. Suatu saat Jim mengalami kecelakaan karena pesawat yang ia tumpangi jatuh dan tengggelam ke sungai. Namun tangan Tuhan menyelamatkan hamba yang dikasihiNya ini, sehingga ia tidak mengalami cedera sedikitpun.

Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan, "Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain akan melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami dan mereka lupa berdoa bagi kami.

Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat."

"Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa "down", anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan kotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan.

Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan." tambahnya. Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.

Pada suatu saat ada seorang anak kecil jatuh dari sampan dan tenggelam di sungai yang sangat pekat warnanya karena banyak tumbuhan air. Setelah ditemukan, anak tersebut sudah tidak bernyawa dan perutnya kembung penuh dengan air. Semua orang menangis meraung-raung tanpa pengharapan. Saat itulah Jim berdoa, memohon belas kasihan Allah agar nyawa anak itu dikembalikan lagi. Mujizat terjadi, anak itu hidup lagi! Akibatnya seluruh kampung percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mereka mau dibaptis.

Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan "saudara-saudaranya", suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi. Jim Yost mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi. Pada saat ini ia sedang menerjemahkan Alkitab Perjanjian Lama bersama-sama orang-orang Sawi dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Anak pertamanya, Amy (16) lahir di Amerika ketika ia sedang cuti di sana. Sementara itu Jennifer (13) dan Megan (9) lahir di Irian Jaya. Ketiganya sangat menyatu dengan budaya Sawi sekalipun mereka adalah orang Amerika. Dalam hal pendidikan anak-anaknya, istri Jim mengajar mereka di rumah dengan memakai buku-buku yang dibawa dari Amerika sampai sekarang.

"Kami tidak mau berpisah dengan anak-anak. Karena itu mereka tidak kami kirim ke luar untuk belajar, sehingga mereka melihat apa yang ada pada kami. Mereka melihat diri saya sebagai misionaris, bukan hanya orang tua. Contohnya, anak kami yang pertama, Amy, setiap hari membantu ibunya di poliklinik. Ia dapat menyuntik orang-orang sakit, dapat menjahit luka, dapat menolong ibu-ibu yang melahirkan dan lain-lain. Saya yakin dia nanti bisa jadi dokter. Setelah pendidikan selesai nanti Amy dapat kembali ke Irian Jaya." kata Jim.

"Kami tidak kuatir dengan pendidikan mereka sebab yang kami ajarkan sama dengan di sekolah-sekolah Amerika. Tentang pergaulan, memang mereka tidak bergaul dengan anak-anak Amereika sebayanya dan mereka mungkin sedikit rugi, tetapi mereka lebih kaya karena pergaulan dengan anak-anak pedalaman. Mereka tidak punya budaya sendiri, walaupun orang tua mereka berbudaya Amerika. Mereka memiliki supra budaya sehingga gampang menyesuaikan diri," tambah Jim.

Sebab itu, menurut Jim, misionaris yang paling efektif adalah anak-anak dari para misionaris karena mereka lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sampai hari ini Jim Yost sudah 20 tahun tinggal di antara saudara-saudaranya, suku Sawi, bersama keluarganya. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.

Suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi yang ditinggalkan dunia moderen, tetapi diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hambaNya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan caraNya sendiri. Terpujilah Allah!

Cara Kerja Otak Manusia

image002

Petunjuk "melihat" gambar terlampir :

Kalau pandangan mata Anda mengikuti gerakan putaran bulatan warna PINK, maka hanya akan terlihat bulatan satu warna yaitu PINK .

Tapi kalau pandangan mata Anda ke tanda " +" hitam di tengah, maka bulatan yang berputar akan berubah warnanya menjadi HIJAU. Kemudian jika pandangan mata Anda konsentrasi penuh ke tanda "+ " hitam di tengah-tengah gambar, maka perlahan-lahan bulatan warna PINK akan menghilang, dan hanya akan terlihat satu saja bulatan yang berputar yaitu warna HIJAU.

Sangat mengagumkan cara otak kita bekerja. Sebenarnya tidak ada bulatan warna hijau, dan bulatan warna pink juga tidak menghilang. Rasanya cukup membuktikan bahwa kita tidak selalu melihat apa yang kita pikir, dengan kata lain kita melihat sesuatu "bukan apa adanya" tapi "sebagaimana kita melihatnya" .

Kadang kita menghadapi suatu masalah merasa "sangat sulit" atau "sangat berat", baik di tempat kerja, di keluarga, di lingkungan masyarakat maupun masalah pribadi diri sendiri, bahkan kadang terlintas pertanyaan di benak kita, kenapa demikian berat beban masalah atau cobaan yang kita terima? Padahal kalau kita menerima anugrah, hadiah, kenikmatan yang demikian besar, kita tidak pernah mempertanyakannya, kenapa kok saya yang menerima. Dan kadang kita lupa dengan DOA : berilah beban yang aku sanggup memikulnya.

Berat atau ringan, kecil atau besar, masalah atau bukan masalah, sedih atau gembira, hukuman atau pahala, derita atau bahagia, dst. Hanyalah "cara pandang" kita terhadap sesuatu?

Suatu peristiwa ataupun kejadian yang sama, namun jika melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda serta me-makna-i nya dengan berbeda kemudian menyikapinya dengan cara yang berbeda pula, maka hasil nya juga akan berbeda. Semua hanya ada di benak kita sendiri! Karena otak kita lah yang membuatnya berbeda! Jika suatu peristiwa yang negatif namun kalau kita memandang/memaknai nya sebagai hal yang positif dan kita menyikapi dengan cara yang positif maka hasilnya pun akan positif pula. Dan begitu sebaliknya..

Tuhan Memberkati

26 October 2008

Burned-Out On Religion?

Then Jesus said, “Come to me, all of you who are weary and carry heavy burdens, and I will give you rest. Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle, and you will find rest for your souls. For my yoke fits perfectly, and the burden I give you is light.” Matthew 11:28-30 (NLT)

Jesus might have asked: “Aren’t you tired and burned-out on all that religious stuff? Look, come walk with me, and I’ll help you recover your life – your real purpose – and even though it will require some hard, very hard work, you’ll be energized by it because you’ll be living life to its fullest. You’ll be doing exactly what my Father created you to do, and more importantly, you’ll be exactly who I want you to be.”

In taking on the Jesus-yoke, he is asking us to join the school of Christ. In ancient times, when a student studied under a specific teacher, it would be said that the student took on the teacher’s yoke; the student was yoked to the master.

Within that context, consider these words from Jesus: “Take my yoke upon you. Let me teach you, because I am humble and gentle, and you will find rest for your souls. For my yoke fits perfectly, and the burden I give you is light.” (Matthew 11:29-30, NLT)

Jesus says, by walking with him, we’ll learn how to walk with God. We don’t learn from afar; we learn from a caring and committed teacher-student relationship – caring and committed on both sides.

The Christian walk is not a lesson in how to run off doing things for Jesus while we ignore him. Our Christ-walk is a journey with Jesus, where he is very personal and specific about our growth and spiritual maturity.

What does this mean?

· Are you tired? – Jesus will teach you how to find rest in God, not a rest absent of stress, but the rest that results from believing in God’s faithfulness. Ask God to show you what blocks you from believing fully in his faithfulness, and then ask him to break those blockages down.

· Are you confused? – Join Jesus at his school of Christ, and watch him, listen to him, ask him to renew your purpose.

· Ask to be teachable – Tell Jesus you want to be yoked to him, and that you want to learn from him. Ask him to keep your heart teachable.

by Jon Walker

© 2008 Purpose Driven Life. All rights reserved.

Menjaga Tubuh Tetap Bugar

"Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga". Ya, kursi goyang identik dengan kemalasan.

Sama halnya dengan menu makanan berkualitas, olahraga tak dapat digantikan oleh aktivitas apapun. Berolahraga secara rutin membuat tubuh menjadi bugar. Tubuh bugar mengantar kita hidup lebih panjang.

Kita tidak harus memilih olahraga khusus apapun menggunakan alat tertentu. Berjalan kaki adalah pilihan paling murah, tetapi bukan sekedar berjalan kaki. Kita mesti berjalan dengan penuh semangat (brisk walking), yaitu jenis jalan kaki yang menghasilkan degup jantung optimal. Ketika jantung berdegup optimal. Ketika jantung berdegup optimal, tingkat aerobik akan tercapai. Aerobik terjadi ketika enam puluh persen degup jantung maksimal tercapai, yaitu enam puluh persen dari (220-umur). Yang berumur lima puluh tahun degup jantungnya mencapai 102 per menit. Pertahankan degup jantung tersebut selama 40-45 menit.

Berolahraga tidak identik dengan mencari keringat. Apa pun olahraga yang Anda pilih, targetnya adalah aerobik. Namun, seiring dengan usia yang terus bertambah dan persendian yang tidak utuh lagi, tidak semua olahraga aman bagi Anda. Joging, lari, atau lompat, tak cocok lagi dilakukan saat usia baya. Tulang rawan dan minyak sendi sudah menipis. Karena itu, olahraga berat membuat sendi lutut, pinggul, dan pinggang "rontok". Padahal, berjalan kaki saja sudah bisa meraih aerobik tanpa perlu merusak sendi.

Dan, supaya persendian aman, kita mesti menggunakan alas kaki saat berolahraga. Bukan sembarang sepatu, kita perlu memilih yang empuk dan konstruksinya sesuai dengan anatomi kaki. Kualitas sepatu yang kita pakai menentukan nasib sendi yang memikul tubuh. Jika sepatu tak berkualitas, bobot tubuh akan dipikul lebih berat oleh lutut, pinggul dan pinggang.

Sepatu empuk menjadi semacam pegas (shock absorbent) bagi bobot tubuh. Karena itu, tanpa pegas, sendi harus memikul bobot lebih berat; akibatnya bisa mencederai sendi. Sendi yang cedera inilah yang memunculkan keluhan encok.

Bernapaslah Setiap Kali Anda Ingat
Selain berolahraga, kesegaran tubuh dapat kita capai saat sel tubuh mendapatkan asupan makanan yang cukup. Dan, sel tubuh mendapatkan makanan dari oksigen yang kita hela. Namun, porsi oksigen yang masuk ke dalam tubuh belum tentu mencukupi; tergantung seberapa dalam napas dihela dan seberapa tebal kandungan oksigen yang tersedia di udara.

Sehari-hari, kita jarang mengambil napas dalam, terlebih jika kita kurang melakukan aktifitas fisik. Hasilnya, paru-paru kita kurang mengembang dan laju napas pun melamban karena kurangnya asupan oksigen.

Kekurangan oksigen membuat sel-sel menjadi layu, kurang gizi, dan lekas mati. Fungsi organ tubuhpun akan menurun jika sel kekurangan makanan. Organ akan terganggu jika pasokan oksigen tak mencukupi. Dan pada titik tertentu akan membuat organ tak berfungsi lagi. Serangan jantung koroner dan stroke merupakan akibat kurangnya oksigen yang diserap jantung dan otak. Sementara itu, bagi pengidap jantung koroner, pascastroke, atau anemia, udara pengap akan membuat penyakit menjadi semakin berat. Jika sebagian pembuluh darah koroner dan otak sudah tersumbat, akhirnya darah mesti mengangkut oksigen lebih pekat.

Selain jarang menghirup napas dalam, kondisi oksigen di udara yang semakin menipis juga mempengaruhi sel-sel kita. Sel tak dapat bertahan hidup lebih lama karena tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup.

Menghela napas dalam dapat kita lakukan saat kita tengah berolahraga. Atau, kita mesti menyempatkan menghela napas dalam selama kurang lebih 10-20 menit setiap hari. Lakukanlah setiap saat dan dimana pun Anda mengingatnya : ketika di ruang tunggu, menonton televisi, membaca dan sebagainya.

Jika kita berada di ruang yang berpendingin udara, hendaknya masih ada ventilasi supaya sirkulasi udara tetap terjaga. Ruang pengap berpendingin udara sesungguhnya menambah tipis oksigen yang kita hirup.

Oleh sebab itu, kita perlu menarik napas dalam dan memilih tempat yang menyediakan udara yang lebih segar.

Oleh : Hendrawan Nadesul

25 October 2008

Humor : Jack & Diane

Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman.  Diane menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Jack. Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri. TAKUT!

Takut akan penolakan, takut jika Jack tidak merasakan hal yang sama, takut kalau Jack tidak menerimanya sebagai temannya lagi, takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Jack dan dengan harapan, bahwa Jack lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Diane.

Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar.  Jack dan Diane pergi ke arah yang berlainan. Jack melanjutkan studinya ke keluar negeri, sedangkan Diane mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Diane merindukan Jack akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Jack bagaimana perasaan cintanya, jika Jack kembali.

Dan tiba-tiba, surat dari Jack terhenti. Diane menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban. Dimana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya. Dua tahun berlalu dan Diane tetap berharap bahwa Jack akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat. Dan lalu doanya terkabul. Dia menerima surat dari Jack, mengatakan...!

"Diane, aku punya kejutan untukmu! Temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Jack"

Diane berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu. Ketika harinya telah tiba, Diane menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Jack kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Jack. Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.

Dia begitu perhatian melihat Diane, "Hai! Aku Jacelyn, temannya Jack. Kamu Diane?" tanyanya. Diane menganggukkan kepala.

"Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Jack tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi," kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Diane. Diane tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!!

Apa yang telah terjadi?? Diane bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat. "Dimana Jack? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku..." Diane memohon kepada si wanita.

Si wanita melihat dengan cermat ke Diane dan dia menepuk pundak Diane dan mengatakan "ALAMAK DIANE... INI IKE BO...APAKAH E'IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH....AIH......YEY TIDAK DAPAT MENGENALI IKE LAGI YAH??? IHHH...SEBEL DEH.....!!!"

...dan kemudian Diane langsung pingsan..... :D

Ketegangan Keluarga

Nats : Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah (Efesus 4:29)

Bacaan : Efesus 6:1-4

Banyak konflik orangtua dan anak dibingkai oleh kata-kata: "Bapak Ibu itu kuno!" Atau, "Anak zaman sekarang tidak tahu menghormati orangtua, beda dengan zaman kami dahulu". Begitulah yang kerap terjadi dalam banyak rumah tangga. Lalu bagaimana ketegangan seperti ini mesti dikelola?

Paulus berpesan agar orangtua mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan serta bertindak sedemikian rupa agar anak paham yang mereka terima merupakan ekspresi kasih semata. Bisa jadi ajaran dan nasihat mengambil bentuk yang tegas, tetapi tak pernah ketegasan itu keluar dari hati yang membenci.

Sebaliknya, anak diminta menghormati orangtuanya, bukan hanya agar si anak beruntung ("supaya lanjut umurmu", ayat 3). Anak perlu taat kepada orangtua yang hidup dalam Tuhan karena ini merupakan sebuah perintah; suatu keharusan! Namun, ingat juga pesan Paulus, "taatilah orangtuamu di dalam Tuhan". Artinya, perspektif ketaatan pada orangtua mesti berpusatkan kepada Tuhan. Nilai-nilai ketuhanan itulah yang menjadi dasar ketaatan anak terhadap ayah dan ibunya.

Bisa saja orangtua berbuat salah, bahkan jahat. Terhadap kasus seperti ini, anak tentu harus lebih memegang kebenaran sebagai ekspresi imannya kepada Tuhan sebagai sumber segala kebenaran. Sekalipun demikian, janganlah orangtua diabaikan. Mereka tetap layak menerima hormat. Semoga sebagai anak, kita selalu menghargai orangtua dengan hati yang hormat, bukan dengan hati yang merasa "lebih" lalu meremehkan bahkan menihilkan orangtua sendiri -DKL

JIKA DAMAI YANG ANDA INGINKAN
MULAILAH dari KELUARGA ANDA-BUNDA TERESA

Yayasan Gloria

Kingdom Assignment

Ini adalah pembuktian perumpamaan tentang talenta. Sepuluh ribu dolar dibagikan kepada seratus jemaat gereja. Dalam tiga bulan, 10.000 dolar telah berkembang menjadi lebih dari 100.000 dolar. Salah seorang yang mengemban tugas ini adalah Mike. Dulu, kekecewaan dan keputusasaan pernah hampir membuatnya bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepalanya. Namun, pistol itu tidak meletus, padahal ia telah mengisinya dengan peluru. Waktumu belum tiba, Mike. Ia mendengar Allah berbicara. Bukan hari ini, bukan dengan cara seperti ini.

Begitulah awal pemulihannya. Mike datang ke gereja kami, dan ia didampingi seorang anggota jemaat yang berperan sebagai mentornya. "Anda telah menyelamatkan nyawa saya", katanya kepada sang mentor yang menjadi sahabatnya itu. "Jika saya diberi kesempatan, saya ingin membantu orang lain, seperti yang Anda lakukan untuk saya".

Ucapan itu berbalik kepadanya ketika ia menerima tugas seratus dolar itu. Esok paginya, Mike mulai mencari-cari dan menemukan sebuah organisasi bernama "Mentor Me", yang bertanggung jawab memasangkan anggota masyarakat dengan anak perempuan maupun laki-laki yang bermasalah. Program tersebut di bilang sukses besar dan Mike meyakini ke sanalah Allah menghendakinya melakukan investasi.

Mike menelepon organisasi itu dan menawarkan dua hal : uang seratus dolar dan waktunya sebagai sukarelawan untuk menjadi mentor bagi anak-anak muda yang memiliki pengalaman traumatik masa kanak-kanak yang sama dengan dirinya.

"Allah telah mengembalikan hidup daya", kata Mike. "Jika saya dapat menggunakan Kingdom Assignment untuk membantu seseorang menemukan kembali hidupnya, maka saya ini terus menerus diberkati".

Jadi, apa yang akan terjadi jika Anda menerima tugas ini? Tuhas ini akan mengubah hidup Anda selamanya, juga kehidupan orang lain yang begitu banyak di sekitar Anda, hari ini, esok, dan selamanya.

Sumber : Kingdom Assignment, Gloria Gaffa, 2008

24 October 2008

Tetap Berdoa

“Setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan” - Lukas 11:10

Kami berdoa. Terkadang dalam suasana hening. Terkadang dengan bersuara. Kami berdoa selama lebih dari 17 tahun. Kami berdoa memohon kesehatan dan bimbingan bagi putri kami, Melissa, untuk keselamatannya, dan kerap kali supaya ia selalu dilindungi. Saat mendoakan anak-anak kami yang lain, kami meminta Allah memelihara Melissa.

Ketika Melissa beranjak remaja, kami bahkan lebih tekun berdoa agar Dia melindunginya dari segala yang jahat, agar Dia mengawasi tatkala Melissa dan teman-temannya pergi mengendarai mobil. Kami berdoa, “Ya Allah, lindungilah Melissa”.

Lalu apa yang terjadi? Tidaklah Allah memahami betapa menyakitkan kehilangan gadis cantik yang memiliki banyak potensi untuk melayani Dia dan sesama? Tidaklah Allah melihat mobil lain yang melintas pada malam musim semi yang hangat itu?

Kami telah berdoa, tetapi Melissa tetap meninggal dunia.

Bagaimana sekarang? Apakah kami berhenti berdoa? Apakah kami marah kepada Allah? Apakah kami berusaha dengan kekuatan kami sendiri?

Tentu tidak! Saat ini justru doa menjadi lebih penting bagi kami. Allah, Tuhan Yang Mahakuasa dan yang melampaui pemahaman kami, masih memegang kendali. Perintah-Nya supaya kami berdoa masih berlaku. Kerinduan-Nya untuk mendengarkan kami masih nyata. Iman bukanlah menuntut apa yang kami inginkan; melainkan mempercayai kebaikan Allah di balik tragedi hidup.

Kami berduka. Kami berdoa. Kami tetap berdoa.

ALLAH DAPAT MENGABAIKAN PERMINTAAN KITA TETAPI DIA TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN KEYAKINAN KITA

Sumber : Renungan Harian

Sepuluh Anjuran

1. Bencilah dosamu, tapi jangan pernah membenci dirimu.

2. Cepatlah untuk menyesali kesalahan.

3. Apabila Tuhan memberimu terang, berjalanlah di dalam terang-Nya itu.

4. Berhentilah mengatakan hal-hal yang buruk tentang dirimu sendiri. Tuhan mencintaimu dan tidaklah benar jika kamu membenci sesuatu yang Dia cintai. Dia mempunyai rancangan-rancangan yang indah bagimu, jadi kamu melawan-Nya jika kamu berbicara secara negatif mengenai masa depanmu sendiri.

5. Janganlah takut untuk mengaku bahwa kamu telah berbuat kesalahan, tapi janganlah selalu berprasangka bahwa kamulah yang salah setiap saat ada yang tidak benar.

6. Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah kamu lakukan baik yang benar maupun yang salah; itu sama dengan memikirkan terus diri sendiri! Pusatkanlah pikiranmu kepadaNya!

7. Jagalah dirimu sendiri secara fisik. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya apa yang Tuhan telah berikan padamu demi tugasmu, tapi janganlah menjadi terobsesi dengan penampilanmu.

8. Janganlah berhenti untuk belajar tapi jangan sampai ilmu itu membuat kamu sombong. Tuhan memakai kamu bukan karena apa yang ada di dalam kepalamu melainkan karena apa yang ada di dalam hatimu.

9. Sadarilah bahwa setiap talentamu adalah anugerah, bukanlah sesuatu yang kamu ciptakan sendiri; jangan pernah merendahkan orang lain yang tidak sanggup melakukan apa yang kamu dapat lakukan.

10. Janganlah meremehkan kelemahan-kelemahan dirimu, merekalah yang membuat kamu tetap tergantung pada Tuhan.

Kiriman : Domi Dominika

Jika Tuhan Menarik Perhatian Kita

Dikisahkan, seorang mandor bangunan yang sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat, suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya, agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising, tukang yang sedang  bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor. Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi, usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.

Akhirnya untuk menarik perhatian, mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya. Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.

Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain, ia kemudian mengambil batu kecil yang ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada dibawahnya. Karena merasa sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja dilantai bawahnya.

Pelajaran yang bisa di ambil
Sahabat yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hambaNya, Tuhan seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, maupun kadangkala dengan pengalaman-pengalam an yang menyakitkan. Tuhan seringkali menjatuhkan "koin uang" atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah kepada kita manusia, agar mau mendongak keatas, mengingatNya, menyembah-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya. Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia, agar kita mau menengadah kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya. Namun, sayangnya seringkali hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas, mengingat kebesaran-Nya, menengadah kepada-Nya, mengagungkan nama-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya.

Karena itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman menyakitkan, seperti musibah, kegagalan, rasa sakit, kelaparan dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia agar mau mendongak keatas. Menarik perhatian untuk mau menengadah kepada-Nya, menyembah kepada-Nya, mengakui kebesaran-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya. Dengan demikian, pengalaman-pengalam an menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan Yesus untuk menarik perhatian kita. Hendaknya hal itu membuat kita semakin mempererat hubungan dengan Dia. Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yesus, dan menyadarkan kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah dan tidak berdaya.

Sahabat yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Tuhan senantiasa mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, memiliki kesehatan yang kita rasakan, kelengkapan panca indra yang menopang kehidupan kita, mendapatkan rejeki yang kita nikmati setiap hari, keluarga yang bahagia yang kita miliki dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Tuhan yang tak ternilai harganya. Kini apakah Anda akan segera menengadahkan wajah kepada-Nya, ataukah menunggu Tuhan menjatuhkan "batu" kepada kita?

Tuhan Memberkati!

Arsip Weekend Scripture - Matius 6:14-15

"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." - Matius 6:14-15