Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

09 October 2008

Coba Periksa!

Nats : Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah mengetahuinya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan" (Markus 6:38)

Bacaan : Markus 6:30-44

Mukjizat lima roti dan dua ikan diawali dengan belas kasihan Yesus (ayat 34). Namun rupanya Yesus tidak bermaksud bekerja sendirian. Ia meminta partisipasi dari pihak orang banyak. Sabda-Nya, "Berapa banyak roti yang ada padamu?" Bahkan tidak hanya bertanya, Dia juga menekankan perlunya partisipasi itu. Mari perhatikan sabda lanjutan-Nya, "Cobalah periksa!" Dan, akhirnya dari hasil pemeriksaan itu, mereka mendapatkan lima roti dan dua ikan.

Mukjizat Tuhan tidak dilakukan di dalam kehampaan. Yesus meminta kita untuk mengambil bagian. Apabila kita mengelak dengan mengatakan bahwa kita tidak memiliki apa pun, Yesus akan "masuk" lebih dalam dan Dia akan berkata, "Coba periksa dulu ... periksa ... periksa ... apa yang ada padamu!" Dan bila kita sudah menemukannya, bawalah itu kepada-Nya. Dia akan "mengambilnya ... menengadah ke langit, mengucapkan berkat atas apa yang kita bawa, dan memberkatinya", kemudian menggunakan hal itu demi menjadi berkat yang lebih berarti bagi hidup orang-orang lain di sekitar kita.

Kita belajar satu hal penting dari kisah lima roti dua ikan yang menjadi makanan untuk lima ribu orang dan bersisa dua belas bakul. Mukjizat Tuhan dimulai dengan belas kasihan Tuhan yang berpadu dengan keterlibatan dari umat yang bersedia.

Adakah Anda bersedia dipakai menjadi saluran mukjizat Tuhan? Periksalah apa yang ada pada Anda dan bawalah itu kepada Yesus agar diberkati dan dipakai-Nya. Dia tidak pernah meminta apa yang Anda tidak punya. Dia meminta apa yang Anda punya. Anda mengatakan bahwa Anda tidak punya apa-apa? Cobalah periksa dulu! -DKL

BAWALAH TALENTA ANDA KEPADA TUHAN
DIA AKAN MELIPATGANDAKANNYA

Yayasan Gloria

08 October 2008

Pengharapan Yang Berlimpah

"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam Iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan" - Roma 15:13

"Berlimpah-limpah dalam pergharapan", itulah yang Tuhan inginkan. Tetapi betapa banyaknya orang Kristen yang penghargaannya hanya "pas-pasan". Sehingga begitu waktu penantian penggenapan janji menjadi lebih panjang dari yang di duga, pengharapan kita sudah minus atau defisit. Dan pada akhirnya, setelah pengharapan itu minus, maka iman kitapun digerogotinya.

Bagaimana supaya memiliki pengharapan yang limpah? Itu bukan hanya kita, melainkan karya Roh Kudus. Bergeraklah terus dengan Roh Kudus, maka pengharapanmu akan berlimpah dan kita akan punya pengharapan akan kelimpahan juga. Amin.

Pdt. Petrus Agung Purnomo

Unconditional Love

A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam. He called his parents from San Francisco.

"Mom and Dad, I'm coming home, but I've a favor to ask. I have a friend I'd like to bring home with me."

"Sure," they replied, "We'd love to meet him."

"There's something you should know the son continued, he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mind and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us."

"I'm sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live."

"No, Mom and Dad, I want him to live with us."

"Son," said the father, "You don't know what you're asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can't let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He'll find a way to live on his own."

At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told. The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn't know, their son had only one arm and one leg.

The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don't like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable. We would rather stay away from people who aren't as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there's someone who won't treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are.

Tonight, before you tuck yourself in for the night, say a little prayer that God will give you the strength you need to accept people as they are, and to help us all be more understanding of those who are different from us!!

07 October 2008

Lessons of Life

Bukan Aib

Nats : Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauan (Matius 19:12)

Bacaan : 1Korintus 7:25-40

Sebuah cerita humor. Seorang gadis lajang berdoa begini: "Ya Tuhan, kalau memang ia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku, jodohkanlah. Kalau ia bukan jodohku, jangan sampai ia dapat jodoh yang lain, selain aku. Amin."

Status melajang kerap kali dianggap menyusahkan atau bahkan dirasa sebagai aib bagi yang menyandangnya. Perasaan itu muncul biasanya karena si lajang mendengarkan perkataan orang lain. Padahal sebetulnya yang penting bukan statusnya, tetapi sikap dalam menghadapinya. Jika disikapi secara positif, maka sisi-sisi positifnya akan tampak. Bukankah orang yang melajang punya waktu luang dan konsentrasi lebih besar untuk berkarya? Melajang juga bukan berarti hidup sendiri, karena orang yang melajang justru punya kesempatan lebih banyak untuk membangun relasi dengan orang lain.

Mempunyai pasangan hidup atau menikah, tak serta merta membuat segalanya menjadi lebih baik. Paulus malah mengingatkan akan "harga" yang harus dibayar dalam hidup berpasangan (ayat 33-34). Intinya kalaupun berpasangan, janganlah sampai kita terbelenggu perkara duniawi. Jangan sampai riak-riak pernikahan malah menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Jadi baik sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan Tuhan tetap sama; berkarya memuliakan nama-Nya. Bila menikah, bijaklah membina keluarga. Bila hidup lajang, bajiklah membawa diri. Bagi lajang yang sangat ingin menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada di tangan-Nya. Jalani apa pun hidup Anda dengan rasa syukur. Percayakanlah hidup Anda pada rencana dan kebijaksanaan-Nya. Tuhan tahu yang terbaik -DYA

MELAJANG MAUPUN MENIKAH
KITA SAMA-SAMA MESTI MEMULIAKAN NAMA-NYA!

Yayasan Gloria

Humor : Linglung

Salah satu dari ilmuwan terbesar di dunia juga terkenal sebagai profesor yang linglung. Suatu hari, ketika profesor itu naik kereta, ia tidak dapat menemukan tiketnya. Kondektur kereta itu berkata, "Pelan-pelan saja nyarinya, anda pasti akan menemukan tiket itu."

Ketika kondektur itu tiba kembali, profesor itu masih belum juga menemukan tiketnya. Kondektur itu, yang tahu bahwa profesor itu adalah orang terkenal, berkata, "Saya yakin bahwa anda membeli tiket. Tidak jadi masalah bila anda tidak dapat menemukannya. "

"Anda baik sekali," jawab profesor itu, "tapi saya harus tetap menemukannya. Kalau tidak, saya tidak tahu dimana saya harus turun."

06 October 2008

Luput Dari Kecelakaan Maut

Dalam perjalanan pulang ke Bandung setelah mendrop klien ke Cengkareng, roda mobil depan sebelah kiri Rudy yang memang sudah aus mulai berbunyi. Namun Rudy berpikir dengan kondisi bannya yang sudah seperti itu, mobilnya masih dapat dikendarai paling tidak sampai ke rumahnya di Bandung. Malam itu ruas jalan tol Cikampek, Rudy yang sedang mengendarai mobilnya seorang diri hendak menyalip sebuah bis yang ada di depannya. Karena ingin segera tiba di rumah, Rudy memacu kecepatan mobilnya dengan cukup tinggi, namun justru kecelakaan fatal yang terjadi.

"Waktu itu saya lihat mobil itu terbang di atas bis," kisah Iwan Setiawan, salah satu saksi mata dalam kejadian itu. Iwan pun langsung memberikan pertolongan pertama pada Rudy. Iwan melihat sosok tubuh Rudy yang sudah tergeletak di pinggir jalan. Kabar pun segera disampaikan kepada Yenni, istri Rudy melalui telepon genggam milik Rudy.

Yenny sangat terkejut mendengar kabar itu. Hal pertama yang dilakukan Yenni adalah menelepon kedua orang tua Rudy menyampaikan kabar kecelakaan yang menimpa Rudy. Kegemparan serta merta menghampiri keluarga mereka. Saat tiba di rumah sakit, mereka hanya dapat menyaksikan tubuh Rudy yang tergolek lemah di atas tempat tidur dengan badan yang dipenuhi noda darah.

"Ginjalnya tidak dapat berfungsi dengan baik lagi, terlihat dari kreatinin yang menumpuk di darahnya. Hal ini yang menyebabkan pasien koma. Kegagalan ginjal yang kronis seperti itu kemungkinan sebuhnya kecil kecuali jika diadakan pencangkokan ginjal," ujar Dr. Djewaladi, Msc menjelaskan kondisi cedera akibat kecelakaan mobil yang diderita Rudy.

Saat itu Yenni hanya bisa berserah kepada Tuhan. Yenni merasa kalau beban ini terlalu berat untuk dapat ia tanggung sendiri. Yenni pun hanya dapat berdoa menyerahkan Rudy ke dalam tangan Tuhan. Kalau memang Tuhan ingin mengambil Rudy, Yenni hanya meminta agar diberi kekuatan kepada dirinya dan kedua anaknya untuk dapat melalui semua hal ini.

Dukungan doa dari teman-teman Yenni membuat Yenni semakin yakin bahwa Tuhan akan menolong Rudy. Salah satu kelompok ibu-ibu yang datang mendoakan Rudy mengatakan kalau Tuhan sendiri yang akan memulihkan Rudy di atas tempat tidurnya, pulih seperti sediakala. Dan janji itu dipegang Yenni dengan teguh. Keyakinan Yenni akan kuasa doa menjadi penghiburan yang sangat besar bagi Yenni.

Dan memang Tuhan bukanlah Tuhan yang tinggal diam saat anak-anak-Nya berseru kepada-Nya. Tuhan menjawab doa Yenni. Dalam waktu kurang lebih satu minggu, kreatinin Rudy mulai turun sehingga menjadi 6 dan kemudian minggu kedua sudah turun menjadi sekitar 4. Ginjalnya pun sudah mulai membaik. Tuhan Yesus sangat baik sehingga pada hari yang ketiga puluh, Rudy mulai sadar dari komanya.

Melihat keadaan mobil Rudy, semua orang pasti menyangka pengemudinya meninggal dunia. Namun jika Rudy bisa tetap hidup sampai saat ini, semua hanya karena mukjizat Tuhan.

"Saya sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan Yesus yang telah berkenan menyembuhkan suami saya," kisah Yenni menutup kesaksiannya.

"Saya sekarang sudah sehat kembali, sudah kembali dapat berolah raga, dapat mengemudi kembali. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan," ujar Rudy menutup kesaksiannya.

(Kisah ini sudah ditayangkan 25 Februari 2008 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber kesaksian : Rudy Hendra Sujono

Pelayanan Sejati

"Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah itu untuk kemuliaan Allah" - 1 Korintus 10:31

Banyak orang Kristen terpengaruh budaya Yunani, yang menganut pemisahan rohani dan sekuler. Yang berhubungan dengan agama dianggap suci dan lebih tinggi nilainya daripada yang sekuler. Akibatnya, mereka memandang pelayanan hanyalah hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan gereja, seperti : pergi ke gereja, berkhotbah, memimpin pujian, berdoa, memberi persembahan, menjadi petugas kolektan atau penyambut jemaat. Kegiatan di luar gereja, seperti bisnis, mengajar, merawat orang sakit, menciptakan karya seni, bekerja di kantor, dsb tidak dianggap sebagai pelayanan, tetapi hanya di anggap sebagai pekerjaan semata. Jadi banyak orang yang melayani Tuhan hanya pada hari Minggu di gereja, sedang enak hari yang lain, di tempat kerja, mereka melayani diri sendiri.

Ini pandangan yang salah dan tidak alkitabiah. Paulus berkata bahwa apa pun yang kita lakukan, entah rohani atau "sekuler", jika kita lakukan untuk memuliakan Tuhan, merupakan bentuk pelayanan kita kepada-Nya. Pekerjaan kita bukan sekadar kegiatan sekuler, melainkan pelayanan kita kepada Tuhan. Jika konsep kita seperti ini, akan terjadi perubahan yang revolusioner. Orang-orang percaya akan bekerja dengan jujur, sebaik-baiknya dan menonjol di bidang kita masing-masing sehingga kita menjadi saksi Tuhan yang efektif.

JIKA ANDA BEKERJA SEBAIK-BAIKNYA DI TEMPAT KERJA ANDA DAN MEMBERKATI BANYAK ORANG, ANDA SUDAH MELAYANI TUHAN

Sumber : Renungan Malam

Angsa dan Badai Salju

Ada seorang pria yang tidak percaya Tuhan, bahkan ia ragu mengenai keberadaan Tuhan. Ia dan keluarganya tinggal di suatu daerah pertanian. Istrinya adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama. Kadang-kadang pria itu mengejek keyakinan istrinya dan terus-menerus meyakinkan istrinya bahwa Tuhan itu tidak ada.

"Itu omong kosong! Kenapa Tuhan merendahkan diri-Nya sendiri dan menjadi manusia seperti kita? Itu adalah cerita yang paling menggelikan.." kata pria itu.

Pada suatu hari di musim salju, istri dan anak-anaknya pergi ke gereja dan meninggalkan pria itu di rumah sendirian. Setelah mereka pergi, tiba-tiba angin bertambah kencang dan salju mulai turun di tengah-tengah badai. Pria itu duduk untuk bersantai di depan api unggun.

Kemudian, ia mendengar suatu bunyi yang sangat keras. Sesuatu telah menghantam jendela rumahnya. Dan, muncul lagi bunyi hantaman tersebut.

Ia melihat dari jendela untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa. Lalu ia nekad keluar untuk melihat lebih jelas. Di lahan dekat rumahnya, ia melihat suatu kejanggalan, yaitu sekawanan angsa.

Angsa-angsa tersebut tampaknya hendak terbang untuk mencari daerah yang lebih hangat di selatan, tetapi mereka terjebak di badai salju ini. Badai salju tersebut telah menutupi penglihatan mereka untuk terbang ke selatan.

Mereka terjebak di tanah pertanian pria itu, tanpa makanan dan tempat bernaung, tidak bisa melakukan apa-apa, hanya menggeleparkan sayap mereka dan terbang pendek tanpa arah. Pria itu merasa kasihan melihat sekawanan angsa tersebut dan ingin membantu mereka. Ia berpikir, gudang di tanah pertaniannya mungkin bisa menjadi tempat yang baik bagi sekawanan angsa itu untuk tinggal. Tempat itu hangat dan aman, tentunya mereka dapat tinggal di situ semalam sambil menunggu badai salju berhenti. Maka, ia membuka pintu gudang tersebut bagi sekawanan angsa tersebut.

Ia menunggu, mengamati mereka, berharap mereka memperhatikan pintu gudang yang terbuka itu dan masuk ke dalam. Akan tetapi, sekawanan angsa tersebut tidak menyadarinya. Kemudian, ia berjalan menuju mereka untuk mendapatkan perhatian mereka, tetapi mereka malah menghindar darinya karena ketakutan.

Ia masuk ke rumah dan keluar dengan membawa beberapa potong roti, memecahkan roti itu, dan menjatuhkan roti itu untuk membuat jejak ke gudang bagi sekawanan angsa tersebut. Tetapi angsa-angsa tersebut tidak mengerti apa yang dilakukannya.

Pria itu mulai frustasi, maka ia mulai mencoba mengusir sekawanan angsa itu ke arah gudang. Angsa-angsa tersebut panik dan berkeliaran ke segala arah kecuali ke arah gudang itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan angsa-angsa tersebut ke arah yang benar di mana mereka bisa tinggal dengan aman, hangat dan terlindungi.

Akhirnya, pria itu benar-benar frustasi, ia berseru, "Kenapa mereka tidak mengikutiku ? Apakah mereka tahu, bahwa gudang itu adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa selamat dari badai salju ? Bagaimana bisa aku mengajak mereka ke suatu tempat untuk menyelamatkan mereka ?"

Ia berpikir sejenak dan menyadari bahwa angsa-angsa tersebut tidak ingin mengikuti manusia. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka? Satu-satunya cara yang mungkin adalah menjadi salah satu dari mereka. Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka. Mereka akan mengikutiku dan aku akan mengajak mereka ke arah keselamatan."

Saat itu, ia diam dan memikirkan apa yang telah dikatakannya.

Kata-kata yang diucapkannya itu mengiang di pikirannya : "Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka".

Akhirnya, ia mengerti apa kasih Tuhan terhadap manusia dengan menjadi salah satu dari manusia untuk menyelamatkan manusia dan ia berlutut di atas salju untuk dan menyesali perbuatannya.

03 October 2008

Motor

Senang rasanya melihat anak saya dapat mengendalikan motor-motoran barunya. Sebelum memulai mengendarai motor-motorannya, saya terlebih dahulu memberikan pengarahan singkat mengenai apa saja yang harus diperhatikannya, mulai dari cara menjalankan motornya, menghindari lobang, tembok dan got.

Saat menjalankan motornya, saya mengiringinya, dan setiap kali dia hampir menabrak tembok atau mengarah ke got, saya cepat-cepat mengulurkan tangan saya untuk menghentikannya. Adakalanya saya membiarkan dia menabrak objek yang tidak membahayakan agar saya dapat mudah menjelaskan akibat kalau menabrak sesuatu. Disamping itu saya bisa mengajarkan apa yang harus dilakukannya untuk menghindari kejadian tsb (mengerem), atau harus mundur ketika objek tsb merintangi jalannya agar dia dapat memulai jalan kembali.

Semakin lama dia semakin pandai mengendalikan motornya, dan sekarang dia sudah bisa mengendalikan motornya dengan lincah. Anak saya terlihat sangat gembira luar biasa, bahkan setiap bangun tidur (pagi atau siang) selalu ingin mengendarai motor-motorannya dengan semangat. Akhirnya saya mulai membiarkannya mengendarai motor-motorannya sendiri, dan saya cuma memandanginya dari jauh, kalau-kalau dia membutuhkan pertolongan saya.

Saya merenungkan pengalaman ini, setiap hari TUHAN memberikan kita motor untuk kita kendarai. Motor itu adalah kehidupan kita, keluarga kita, pekerjaan kita, waktu kita termasuk semua berkat-berkat yang kita miliki. TUHAN ingin setiap kali kita bangun pagi,  kita bisa mengendalikannya. Tetapi, pernahkah kita sebelum memulai aktivitas (mengendarai motor tsb) kita meluangkan waktu untuk briefing (berdoa) minta tuntunan pada TUHAN, supaya kita mampu mengendalikannya? Atau kita cuek saja, langsung bangun dan menganggap bahwa dengan kekuatan yg kita punya, kita akan mampu mengendalikannya? Pernahkah kita meminta supaya disamping karunia berkat, kita juga meminta agar TUHAN juga memberikan karunia kuasa menikmati berkat-berkat tsb?

"Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah" - Pengkhotbah 5:19

Banyak orang memiliki harta melimpah, tapi tidak bisa menikmatinya karena sakit gula, sakit rematik, sakit mag, alergi, sakit parah lainnya. Banyak orang memiliki karir bagus, anak sehat tapi jarang bisa memiliki kesempatan bersama keluarga. Banyak orang semakin dikaruniai anak, rumah, tapi malah merasakan hidupnya semakin terhimpit dan terkekang. Dalam kehidupan kita, terkadang TUHAN mengijinkan kita menubruk  sesuatu (masalah), semata-mata supaya kita kembali kepada-Nya, hidup mengandalkan TUHAN. Dia akan mengajarkan kita bagaimana cara menangani masalah.

"Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya" - 1 Korintus 10:13b

Tentu ini tergantung dari kepekaan kita mendengar suara-Nya. Semakin mampu mendengar suara-Nya maka kita akan semakin cakap mengatasi masalah kita. Firman Allah berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" - Filipi 4:13.

Semakin kita mampu dan cakap mengendalikan masalah kita, bukankah kehidupan itu indah karena ada masalah, dan tiap bangun pagi kita hadapi dengan penuh semangat. Meskipun TUHAN sepertinya jauh, tapi mata-Nya selalu tertuju pada orang-orang yang dikasihi-Nya.

Oleh : Timotius Tunggul Manurung

01 October 2008

I am blind, please help..

A blind boy sat on the steps of a building with a hat by his feet. He held up a sign which said: 'I am blind, please help.' There were only a few coins in the hat.

blind1

A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them into the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He put the sign back so that everyone who walked by would see the new words. Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the blind boy. That afternoon the man who had changed the sign came to see how things were. The boy recognized his footsteps and asked, 'Were you the one who changed my sign this morning? What did you write?'

blind2

The man said, 'I only wrote the truth. I said what you said but in a different way.'

What he had written was: 'Today is a beautiful day and I cannot see it.' Do you think the first sign and the second sign were saying the same thing? Of course both signs told people the boy was blind. But the first sign simply said the boy was blind. The second sign told people they were so lucky that they were not blind. Should we be surprised that the second sign was more effective?

blind3

Moral of the Story :

Be thankful for what you have. Be creative. Be innovative. Think differently and positively.

Invite others towards good with wisdom. Live life with no excuse and love with no regrets. When life gives you a 100 reasons to cry, show life that you have 1000 reasons to smile. Face your past without regret. Handle your present with confidence. Prepare for the future without fear. Keep the faith and drop the fear. Great men say, 'Life has to be an incessant process of repair and reconstruction, of discarding evil and developing goodness. In the journey of life, if you want to travel without fear, you must have the ticket of a good conscience.'

The most beautiful thing is to see a person smiling...
And even more beautiful is, knowing that you are the reason behind it!!!