Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

18 September 2008

Selamat Pagi

Selamat pagi. Aku adalah Bapa sorgawimu. Hari ini aku akan menangani semua masalahmu.

Tolong ingatlah bahwa Aku tidak memerlukan bantuanmu. Bila si iblis menempatkanmu dalam suatu situasi yang kamu tidak dapat menanganinya, janganlah berusaha untuk melakukannya sendiri, melainkan letakkanlah semua itu ke dalam kotak UDKY (Untuk Dikerjakan Yesus). Semua itu akan ditanggapi sesuai dengan WAKTUKU, dan bukan dengan waktumu.

Begitu masalahnya sudah ditempatkan di dalam kotak, janganlah mempertahankannya atau mengeluarkannya lagi. Mempertahankan atau mengeluarkan lagi, akan memperlambat pemecahan masalahmu.

Bila kamu mengira dalam keadaan tertentu kamu mampu untuk menanganinya sendiri, janganlah lupa untuk berkonsultasi dengan-Ku di dalam doa untuk dapat memastikan bahwa itu adalah solusi yang benar.

Karena Aku tidak pernah tidur, kamu tidak perlu untuk kehilangan tidurmu. Istirahatlah, anakKu. Dan bila kamu sewaktu-waktu memerlukan, Aku hanya sejauh sebuah doa.

God's Little Acre

Orang Tua dan Anak

Tahun 2005 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun.

Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika, "Apa yang kamu inginkan ?"

Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?" tanya saya.

"Biasa-biasa saja" jawab Dika singkat. Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas).

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal. Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :....", Dika pun menjawab : "membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja"

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana yaitu diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ...." Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya, "Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu".

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ...". Maka Dika menjawab "Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil. Ketika Psikolog memberikan pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .." Dika pun menjawab "Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa"

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang ....." Dika pun menjawab "Berbicara tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya diingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan. Atas pertanyaan "Aku ingin ayahku berbicara tentang .....", Dika pun menuliskan "Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahan nya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku".

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya. Ketika Psikolog menyodorkan tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....." Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku". Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...." Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata "tersenyum". Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari. Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku. ..." Dika pun menuliskan "Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku .." Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo, tukang sayur keliling" kata suami saya.

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan".

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik..

17 September 2008

Bukan Halangan

Nats : Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1Korintus 2:5)

Bacaan : 1Korintus 2:1-5

Jacky Chan, bintang film laga Hong Kong yang sudah mendunia, mengunjungi Indonesia pascabencana tsunami Aceh. Ia datang mewakili selebriti Hong Kong yang memberi sumbangan sebagai tanda empati atas penderitaan yang dialami rakyat Aceh. Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, seorang wartawan bertanya, "Hampir di setiap film, Anda berperan sebagai seorang pahlawan. Menurut Anda, apa kriteria pahlawan itu?" Ia menjawab singkat, "Orang biasa yang melakukan sesuatu yang luar biasa."

Kitab Hakim-hakim adalah kitab yang menceritakan perjuangan para pahlawan atau pemimpin militer sebelum Israel menjadi sebuah kerajaan. Jadi bukan hakim dalam pengertian sekarang. Banyak tokoh hebat dalam kitab Hakim-hakim dan kisahnya diceritakan secara panjang lebar. Namun Samgar hanya diceritakan secara singkat-dalam satu ayat (Hakim-hakim 3:31). Berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya. Samgar tipikal sosok yang sederhana. Dalam melawan orang Filistin pun, ia hanya memakai tongkat pengusir lembu sebagai senjata-bukan pedang atau tombak seperti lazimnya orang berperang. Samgar adalah orang sederhana dengan prestasi spektakuler.

Tuhan dapat memakai siapa saja secara luar biasa, pun bila kita hanyalah orang biasa. Kuncinya, kita mau berusaha yang terbaik, sambil tetap mengandalkan diri pada hikmat Allah, bukan pada kekuatan sendiri (ayat 5). Bagaimana dengan kita? Boleh jadi kita bukan orang hebat seperti Otniel, Ehud, atau Simson-tokoh-tokoh dalam kitab Hakim-hakim, tetapi orang sederhana seperti Samgar. Jangan berkecil hati. Sebab itu bukan halangan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa -NDA

JANGAN KECIL HATI KARENA KITA ORANG BIASA
SEBAB ALLAH YANG MEMILIKI KITA LUAR BIASA

Yayasan Gloria

Kekuatan Kontrol, Penerimaan, dan Pilihan

Kekuatan Kontrol

Anak perempuan kami baru saja lulus dari Occidental College. Ia mengenakan topi dan gaun wanita, namun tidak memiliki rambut. Ia baru saja menyelesaikan tahap ketiga kemoterapi karena menderita Acute Myologenous Leukemia.

Kemudian datang kabar menakutkan, penyakt itu kembali kambuh. Saya mempelajari kamajuan dari pengobatan penyakit ini dan memperoleh beberapa artikel tentang berbagai model pengobatan dan mendapati beberapa rumah sakit menawarkan transplantasi sumsum tulang dari orangtua untuk anak. Kami pun dites, ternyata Susan dan saya memiliki kecocokan sumsum 1:20.000. Dengan doa dan ketekunan, Susan tetap hidup dan terbebas dari leukemia hingga 18 tahun kemudian. Puji Tuhan!

Sebuah studi yang dilakukan di Stanford Arthritis Center, para pasien di dorong unutk mengontrol hidup dan penyakit mereka dengan membuat keputusan akan pengobatan yang sesuai dengan mereka dan membuat program olahraga untuk diri mereka sendiri. Mereka yang keadaannya membaik merasakan suatu kekuatan untuk mengendalikan penyakit mereka. Namun yang merasa tidak dapat mengontrol hidup mereka, keadaannya tidak membaik atau malah bertambah buruk.

Kita wajib ikut mengontrol pengobatan medis kita. Tidak peduli apakah yang kita bicarakan adalah rasa lelah atau masalah medis lainnya. Yang jelas, ini sangat penting untuk dilakukan.

Kekuatan Penerimaan

Dalam sebuah penelitian, ada 116 pasien yang mengalami pelepasan retina. Mereka berhasil mendapatkan perawatan medis dan operasi yang hebat dengan tingkat kepulihan yang bermacam-macam. Seberapa baik kesembuhan mereka, sebagian tergantung pada tingkat penerimaan akan hasil operasi. Mereka yang berhasil adalah yang memandang kelemahan kesehatan mereka dapat diatasi. Mereka memutuskan bahwa hal tersebut tidak akan mengganggu hidup mereka yang sangat berarti. Setelah melakukan semua yang mereka bisa, mereka menerima hasil yang ada, dan dengan bantuan Allah melakukan yang terbaik. Ada waktunya untuk kedua hal ini.

Penerimaan bukan berarti ketidakberdayaan, tetapi merupakan kesadaran bahwa perjuangan selanjutnya sia-sia sehingga Anda pun memilih pendekatan yang lain. Panjatkanlah doa agar Anda mendapatkan ketentraman untuk menerima hal-hal yang tidak dapat diubah. Dan tidak ada seorang pun, selain Allah, yang dapat mengontrol segala sesuatu.

Kekuatan Pilihan

Ketika Allah menempatkan Adam dan Hawa di Taman Eden, salah satu atribut paling penting yang Dia berikan adalah sebuah pilihan. Mereka dapat memilih untuk patuh kepada kehendak-Nya atau menentang-Nya. Di samping itu semua serangan yang meneka kita, Allah juga memberi kita kemampuan untuk membuat banyak pilihan yang menghasilkan ketaatan kepada Allah, kebaikan sementara, dan kebaikan kekal kita. Pilihan kita adalah tetap teguh pada arah yang kita tuju.

Musa, berbicara atas nama Allah, memberi tahu bangsa Israel, "Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, ... jadi pilihlah kehidupan" (Ulangan 30:15,19). Alkitab penuh dengan contoh-contoh individu atau bangsa yang diberi kesempatan membuat pilihan. Dengan demikian kita dapat menemukan banyak contoh tentang pilihan-pilihan yang bagus, adil, dan yang buruk. Pilihan yang tepat dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati.

Tidak peduli apa pun situasi yang Anda alami, Anda memiliki pilihan yang akan membuat segala sesuatunya begitu berbeda pada masa sekarang, masa depan, dan selamat akhir hayat Anda; sebagai tambahan, hal ini juga akan mempengaruhi orang-orang di sekitar Anda.

Sumber : Mengatasi Keletihan dan Stress, Dr. Dwight L. Carlson, ANDI

Humor : Alasan

Suatu kali seorang karyawan meminta izin tidak masuk kerja dengan alasan mengurus surat nikah. Minggu berikutnya, ia tidak masuk lagi dengan alasan serupa. Demikian juga, selama beberapa kali ia meminta izin dengan alasan yang sama. Karena heran, maka kepala personalia memanggilnya.

"Sebetulnya Anda ini menikah dengan berapa orang, kok sampai saya menerima laporan dengan alasan izin yang sama?"

"Eh, anu," jawab karyawan itu malu-malu, "Saya nyambi sebagai tenaga kerja honorer KUA."

16 September 2008

Kristen Bola

Nats : Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa - 2Korintus 4:8,9

Bacaan : 2Korintus 4:1-15

Sepulang sekolah, Kathleen, putri saya, suka bermain bola di rumah. Anak usia empat tahun itu sangat suka memantul-mantulkan bola kesayangannya ke lantai. Suatu saat ia berkata, "Pa, Kathleen suka dengan bola ini. Tiap kali Kathleen membanting bola ini, ia malah melambung tinggi. Lucunya, semakin keras dibanting, ia malah melambung makin tinggi ya, Pa."

Paulus adalah seorang rasul yang berterus terang tentang realitas kehidupan dan pelayanan yang tengah dilakukannya. Sejak menyerahkan diri untuk melayani Tuhan, masalah justru seakan-akan enggan meninggalkannya. Ketika melayani jemaat di Korintus, ia pun tidak bebas dari masalah. Jemaat Korintus terkenal dengan reputasinya yang buruk. Banyak hal yang terjadi dalam jemaat ini, telah menyakitkan hati Allah dan Paulus. Misalnya perpecahan, juga tindakan tidak bermoral. Secara logika, sangat masuk akal bila Paulus mempertanyakan penyertaan Tuhan atas hidupnya, memprotes, atau bahkan mengambek. Namun, Paulus tidak melakukannya. Ia tetap setia memegang komitmen pelayanannya.

Inilah inti "karakter pelayanan kristiani" sejati yang harus dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan; di mana pun dan dalam peran apa pun. "Ditindas namun tidak terjepit ... habis akal namun tidak putus asa ... dianiaya namun tidak ditinggalkan sendiri ... dihempaskan namun tidak binasa" (ayat 8,9). Saya menyebutnya "Kristen bola", yang tak menjadi "kempes" walaupun "dibanting" dengan berbagai tantangan dan kesulitan. Apa rahasianya? "Kami senantiasa membawa kematian Yesus dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus nyata dalam tubuh kami" (ayat 10) -MZ

MASALAH SEBESAR APA PUN
DAPAT DILEWATI BERSAMA TUHAN

Yayasan Gloria

Doa 1 Menit

Tuhan Yesus,di dalam kehidupan ini kami memiliki banyak keinginan,di dalam semua keinginan ini, ada keinginan yang baik dan tidak baik, ada yang sejalan dengan kehendakMu, ada yang tidak sejalan dengan kehendakMu.

Tolong kami Tuhan, untuk bukan saja dapat membedakan mana keinginan yang baik, yang berkenan kepada-Mu, dan mana keinginan yang tidak baik yang tidak sejalan dengan kehendakMu, melainkan beri kami juga kekuatan untuk mampu menolak keinginan yang tidak baik, untuk tidak dipengaruhi oleh keinginan buruk tersebut, dan tetap setia kepada kehendak dan rencanaMu Tuhan. Sekalipun keinginan itu bukan hal yang buruk, namun keinginan itu tidak terpenuhi, apa yang kami ingin capai tidak tercapai, tolong kami untuk dapat menerimanya dengan tidak bersungut-sungut, tapi dengan hati yang lapang dan mengimani bahwa Engkau Tuhan pasti punya rencana dan kehendak-Mu yang Engkau ingin genapi dalam kehidupan kami.

Meskipun saat ini kami tak bisa memahaminya dengan pemikiran kami yang terbatas ini, namun biarlah kami mengimani bahwa Engkau Allah yang lebih mengerti kami, Engkau juga pasti akan memberi yang terlebih baik dan indah pada waktuMu Tuhan.

Kami sadar bahwa semuanya ini bukanlah hal yang mudah, yang dapat dalam waktu satu dua hari kami terapkan, mungkin butuh waktu yang lama untuk dapat memiliki iman yang dewasa, iman yang sungguh teruji dalam menghadapi semua kejadian dan badai dalam hidup ini.

Oleh karenanya, kami memerlukan bimbingan dan pertolonganMu selalu ya Tuhan. Terima kasih Tuhan Yesus, karena Engkau selalu bersama kami, menemani kami dalam menjalani kehidupan ini.

Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa.

Amin

Suatu Saat Dalam Taxi

"Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah semuanya seperti kita melakukan untuk Tuhan".

Hari-hari terakhir pekerjaan kantor sangat melelahkan. Tidak ada waktu untuk 'memanjakan' diri sendiri. Bahkan saat akan beristirahat pun, segala masalah dan tugas dalam pekerjaan selalu menghantui pikiran. Terus terang saya sudah malas dengan segala keinginan boss-ku. Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Pergi pagi pulang malam, dari senin sampai sabtu. Dan segala pekerjaanku tidak pernah di hargai olehnya. Jadi aku pikir, "Masa bodoh dengan segala pekerjaan kantor. Aku sudah cape. Terserah deh, nanti jadinya apa. Gua kaga peduli".

Jadi Sabtu kemarin aku habis kan waktu dengan tidur seharian. Membaca buku, menonton televisi, dengar kaset. Laptop yang tegeletak di atas meja tidak aku sentuh sedikit pun. "Masa bodoh" pikirku.

Sendok suapan terakhir telah masuk ke dalam perut. Wah, kenyang juga. Kubenahi segala dokumen yang di butuhkan dan segera keluar kantor mencari taxi. Sudah 5 menit aku menunggu, akhirnya taxi yang kutunggu datang juga.

"Daerah kota pak", seruku pada supir taxi.

"Kotanya dimana pak?", dia menimpali.

"Wah, namanya apa yah?" aku sendiri tidak begitu ingat.

"Nanti saya tunjukkan jalannya kalau sudah sampai di sana"

"Baik Pak".

Suasana hening. Tidak beberapa lama pak supir berkata, "Tadi orang yang pakai taxi ini sebelum Bapak, naik dari Taman Anggrek".

Dekat amat pikirku. Kantorku ada di daerah Citraland.

"Kok mau sih pak?" ucapku.

"Wah tidak baik menolak rejeki. Kalau Tuhan sudah kasih berkat, masa kita tolak", ujarnya dengan logat batak yang masih terasa.

"Kalo supir lain sih pasti nolak. Kalau saya, ngak masalah, dekat atau jauh toh berkat dari Tuhan."

"Wah, berfilsafat dia.", pikirku.

"Tapi sebenarnya untung juga sih kalau nariknya deket. Tadi saja saya di kasih uang 10.000. padahal argonya ngak sampe 5 rebu. Saya senang juga. Tapi sebenernya saya ngak tega kalo mesti nolak. Dia kan pasti mau buru-buru. Bagaimana rasanya, sesudah duduk, eh malah saya tolak. Sakit hati, kan?"

"Iya juga yah", pikirku. Suasana hening kembali. Kuperhatikan wajahnya dari kaca mobil. Keliahatannya ceria, tidak seperti sopir-sopir taxi yang lain. Yang rata-rata wajahnya cemberut.

"Bapak sudah lama jadi sopir taxi", tanyaku memecah keheningan.

"Baru empat tahun Pak."

"Sebelumnya kerja di mana?"

"Dulu saya kerja di perhotelan."

"Kerja di bagian apa Pak?"

"Manager operasional"

Hah? Tidak salah dengar? Manager? ngak mungkin ah..

"Anak buahnya banyak pak?", tanyaku sedikit menyelidik.

"Ada sekitar 100 orang"

"Terus, koq sekarang malah jadi sopir taxi"

"Wah, panjang ceritanya Pak."

"Oh.", gumanku dan tidak bertanya lebih lanjut, kelihatannya ada kenangan pahit yang dia alami.

"Biasalah pak korban kena sikut", ujarnya meneruskan, "Padahal dia teman baik saya. Tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu. Tapi buat saya itu ngak masalah. Saya percaya Tuhan pasti akan tetap pelihara saya. Buktinya saya langsung bisa dapat pekerjaan lagi. Walaupun tidak sehebat seperti dahulu. Yah, sudah cukup lah, untuk kebutuhan sehari-hari"

"Kenapa Bapak tidak mencoba melamar di hotel lain?"

"Nama saya sudah rusak Pak"

"Pasti karena di fitnah oleh teman baiknya itu", pikirku. Kuperhatikan lagi wajahnya. Tetap ceria seperti tadi. Tidak nampak terbeban.

"Lebih enak jadi sopir atau kerja seperti dulu Pak?", tanyaku.

"Wah, enak atau enggak tergantung hati kita Pak. Pokoknya kita mesti sadar, bahwa apa yang kita punya saat ini, Tuhan yang memberi. Mengucap syukur senantiasa. Sukacita bukan datang dari luar, tapi dari dalam diri kita. Jadi kalau di tanya lebih enak mana, dulu atau sekarang, jawabannya yah dua-duanya. Mau jadi apa aja ngak masalah, yang penting ada rasa syukur, pasti sukacita itu datang dengan sendirinya."

Wah, jadi malu aku. Aku yang sejak kecil di didik dalam keluarga percaya, masih mengeluh kan pekerjaan yang saya terima. Padahal kalau dibandingkan dengan sopir taxi, pekerjaan saya jauh lebih enak. Dengan penghasilan yang lebih tinggi tentunya. Tapi, dasar! Nggak ada ucapan syukurnya. Aku jadi teringat akan nasehat yang mengatakan, "Jika kita melakukan sesuatu, lakukanlah segala sesuatu seperti kita melakukan untuk Tuhan".

Hmmm, hari ini aku di sadarkan kan oleh seorang supir taxi. Hari ini aku di kuatkan kembali untuk selalu bersyukur dalam segala hal.

"Anak-Ku, Aku tahu bahwa kadang kala begitu menggoda untuk menyerah dalam kehidupan. Kadang kala sulit menemukan alasan untuk terus berusaha. Apa yang membuatmu merasa seperti menerima lekalahan? Sekolah? Nilai? Kawan-kawan? Orang-tua? Uang? Perang? Dengarlah, Aku ingin kamu mempercayai-Ku dalam hal ini. Meskipun keadaan hidup tampak kacau dari luar, tetapi jika kamu percaya kepada-Ku, ada hal-hal yang tak terlihat terjadi di dalam dirimu. Setiap hari, Aku membuka sesuatu yang baru dan menggairahkan. Masa depanmu akan lebih mengherankan dari apa pun yang dapat kamu bayangkan. Percayalah kepada-Ku, tidak akan sia-sia kamu bertahan karena ada hari depan yang indah menunggumu."

Oleh karena itu, bertahanlah dengan gigih. Janganlah menyerah!

Aku mempunyai sejumlah kejutan nyata bagimu. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Mat 16:26)

Bapa Engkau Sungguh baik, Kasih Mu melimpah dihidup ku

Bapa ku berterimakasih, berkatMu hari ini yang

Kau sediakan bagi ku

Ku naikkan syukur ku.  Buat hari yang Kau beri

Tak habis - habisnya, kasih dan rahmatMu

Selalu baru dan tak pernah terlambat pertolonganMu

Besar setiaMu disepanjang hidup ku.

TUHAN MEMBERKATI !!

15 September 2008

Sebutir Nasi

riceDikisahkan di sebuah kerajaan kecil, sang raja mempunyai seorang putera yang sangat dimanjakan. Merasa sebagai anak semata wayang sekaligus putera mahkota kerajaan, dia tumbuh menjadi remaja yang urakan, tidak tahu sopan santun, dan tidak mau menghargai orang lain. Ia bahkan suka melecehkan para pengasuhnya. Karena itu pangeran kecil ini dibenci dan dihindari oleh para pengasuh maupun pegawai istana lainnya.

Walau dibenci dan dijauhi, pangeran kecil ini masih punya satu-satunya sahabat seusia yang setia kepadanya, yaitu si bocah laki-laki anak dari si juru masak istana. Si bocah tinggal di bangunan kecil jauh di belakang istana kerajaan. Karena dilarang menginjakkan kakinya ke dalam istana, maka sang pangeran kecillah yang biasanya datang bermain ke rumah si bocah. Suatu hari, pangeran kecil meminta si bocah untuk menemaninya makan siang di ruang makan istana. Bukan menemani makan, tetapi berdiri manis menunggui sambil melihat sang pangeran makan. Sesaat sebelum makan pangeran kecil terlihat menundukan kepala sambil mulutnya berkomat-kamit seolah sedang berdoa.

Sejenak kemudian, pangeran kecil mulai melahap hidangan yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan yang enak-enak dan mahal dicicipi. Pangeran bersantap sambil bertingkah seperti orang yang sedang kelaparan dan ingin menghabiskan semua makanan di atas meja. Kadang ia hanya mencuil dan menggigit makanannya, lalu memuntahkannya dan membuang sisanya di meja. Meja makan jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan dimana-mana. Sang pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri memandanginya. Tapi bukannya merasa dihina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung dan marah melihat kelakuan sahabatnya.

"Hai, apa yang kamu tertawakan? Beraninya kamu tertawa seperti itu dihadapanku? Kamu iri melihat aku makan enak?" teriak pangeran kecil.

"Tidak, tidak ada apa-apa...," jawab si bocah kecil.

"Kalau tidak ada apa-apa, mengapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?" Tanya sang pangeran sengit.

"Pangeran jangan cepat marah. Hamba sungguh senang dan tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pangeran pun ternyata juga berdoa sebelum makan. Apa yang pangeran ucapkan dalam doa tadi?" tanya si bocah.

"Walaupun aku seorang pangeran aku juga orang beragama. Di agamaku sejak kecil diajarkan supaya hendak setiap makan mengucapkan doa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa, atas pemberian makanan yang dihidangkan untukku," jelas sang pangeran dengan bangga.

Si bocah kecil tetap saja tersenyum-senyum. Tapi kali ini ia berani berkata demikian, "Menurut pendapat hamba yang mulia. Rasa syukur dan terima kasih akan lebih berarti bila ditunjukkan juga kepada orang-orang yang telah menyediakan semua bahan makanan, dan memasak hingga tersaji hidangan di meja ini," kata si bocah. "Lihatlah sisa makanan yang berceceran dipiring dan meja itu. Perlu berapa orang untuk membuat itu semua?"

"Apa maksud kata-katamu itu? Aku kan seorang pangeran yang boleh berbuat apa saja sesuai kehendakku" kilah sang pangeran kecil. Si sahabat tiba-tiba menarik tangan sang pangeran dan mengajaknya menuju ke dapur istana. Ia bawa sang pangeran menyaksikan bagaimana juru masak istana dan para pekerja dapur begitu sibuk menyiapkan makanan serta membuat berbagai macam masakan.

Saat mereka berkeliling, dari pintu belakang istana tampak seorang petani sedang membawa sekarung beras sebagai hantaran wajib ke istana. Pangeran kecil menyapa si petani bak seorang raja yang berkuasa. "Hai... Paman... Terima kasih atas persembahanmu. Bagaimana panen padi kali ini?" tanya sang pangeran berlagak bijak.

"Panen kali ini buruk sekali, Tuan," jawab si petani ketakutan.

"Sudah tiga bulan kami bekerja keras, dari membajak, menanam, mengairi sawah sampai memupuk tanaman, tapi hasilnya sia-sia. Sawah ladang dihancurkan tikus dan hama wereng. Jadi, ampuni kami karena hanya mampu mempersembahkan sekarung beras ini. Hanya itu yang kami punya karena kami pun belum tahu bagaimana memberi makan anak istri kami," ujarnya sambil menghela nafas panjang.

Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tersentak dan baru tersadar. Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan. Sementara dirinya malah menyia-nyiakan dan membuang-buang makanan yang begitu berharga. Sang pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu karena merasa malu pada diri sendiri. Sejak peristiwa itu, tingkah laku pangeran kecil berubah total. Ia menjadi anak yang sopan dan mau menghargai orang lain. Setiap kali makan, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri, "Jangan sisakan sebutir nasi di piringmu....! "

Pelajaran yang dapat di ambil :

Sejak kecil kita telah dididik untuk selalu berdoa dan mengucap syukur atas semua berkat yang diberikan Tuhan kepada kita kita. Mengucap syukur bukan sekedar berdoa, bukan pula hanya sekedar melaksanakan formalitas ritual beragama. Tetapi lebih dari itu, rasa syukur kita harus disertai dengan sikap menghargai dan menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum butiran nasi yang kita makan sehari-hari memuaskan dan mengenyangkan perut kita, betapa banyak kerja dan kegiatan yang mendahuluinya. Bila kita menghargai arti sebutir nasi serta orang-orang yang menghasilkannya, maka dasar pengertian dan kebijaksanaan itu akan melahirkan sikap mental positif dalam kehidupan kita.

Doa dan syukur harus didasarkan pada perbuatan nyata dan pengertian yang benar mengenai apa yang kita lakukan. Jika setiap doa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita disertai dengan pengertian kebijakan untuk menghargai segala usaha dan jerih payah orang lain, serta tidak menyia-nyiakan berkat yang sedang kita nikmati, niscaya, mereka kelak akan tumbuh menjadi orang-orang yang luhur budi pekertinya. Sekali lagi ingat, ketika kita makan: "Jangan sisakan sebutir nasi di piringmu." (Andrie Wongso)

"Dengan "MEMBERI" hati ini menjadi lapang dan hati juga menjadi bahagia. So, mulailah memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup ini…"

Kucing & Anjing

Nats : Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan (Kejadian 32:7)

Bacaan : Kejadian 32:1-12

Ada sebuah dongeng yang menceritakan mengapa kucing bermusuhan dengan anjing. Dikisahkan bahwa kucing dan anjing dulu berteman akrab. Namun suatu hari kucing menipu anjing dan membuat anjing marah. Sejak itu, anjing membenci kucing. Kucing pun menjadi takut kepada anjing. Selanjutnya, untuk mencegah agar anjing tidak dapat mengendus jejak kucing dengan penciumannya yang tajam, sejak itu kucing selalu mengubur kotorannya.

Hubungan Esau dan Yakub mirip dengan anjing dan kucing di atas. Yakub pernah melakukan sesuatu yang membuat Esau marah besar (Kejadian 27). Itu sebabnya Yakub melarikan diri. Namun dalam perjalanannya kembali ke Kanaan, Yakub akhirnya terpaksa harus bertemu lagi dengan Esau. Hal ini membuatnya takut karena ia ingat apa yang telah diperbuatnya dahulu dan juga kemarahan kakaknya. Sebab itu ia ketakutan kalau-kalau kakaknya akan membalas dendam.

Secara umum, ada dua cara yang dipilih orang untuk menyikapi suatu masalah. Pertama, seperti yang dilakukan oleh Yakub dan oleh kucing dalam dongeng di atas, yaitu melarikan diri. Cara ini memang lebih mudah, tetapi dampak ke depannya masih bisa panjang. Kita bisa terus digelayuti oleh perasaan tidak tenang, dan suatu hari masalah tersebut dapat muncul kembali dengan dampak yang lebih parah. Kedua adalah dengan menghadapi masalah tersebut dan berusaha menyelesaikannya. Cara ini pada awalnya mungkin akan tampak lebih repot dan menakutkan. Namun setidaknya masalah itu tidak akan menjadi berkepanjangan. Cara mana yang Anda pilih? -ALS

JANGAN LARI DARI MASALAH
HADAPI DAN SELESAIKANLAH SAMPAI TUNTAS!

Yayasan Gloria

14 September 2008

Pikirkanlah Orang Lain

"Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri" - Filipi 2:3

Seorang bapak terlihat gelisah saat menunggui istrinya yang akan melahirkan di rumah sakit. "Maaf Pak, kami sudah berusaha supaya anak Bapak dapat lahir dengan selamat, tetapi keadaan si anak hanya dapat bertahan hidup sekitar dua jam," kata dokter yang membantu proses kelahiran.

Bapak yang sedih dan kecewa tersebut berusaha untuk mengendalikan diri. "Dokter, baru saja saya membaca berita, adanya bedah selaput mata manusia dapat di donorkan. Apakah mata bayi saya dapat digunakan untuk orang lain supaya dapat melihat?", tanya bapak itu setelah berhasil mengendalikan dirinya. Keesokan harinya petugas palang merah membawa dua mata bayi tersebut. Yang satu dipasangkan pada seorang anak dan satunya didonorkan pada seorang ibu, sehingga mereka bisa melihat.

Walaupun masih bayi dan umurnya hanya dua jam, bayi tersebut menjadi jalan berkat bagi orang lain. Bagaimana dengan kita, yang berumur lebih dari dua jam? Apakah kita juga sudah menjadi saluran berkat bagi orang lain? Bukan hanya mata, yang bisa kita bantukan, melainkan apa pun yang ada pada kita. Banyak orang yang kekurangan kasih sayang, kita bisa menjadi saluran berkat kasih sayang. Banyak orang yang dalam keadaan sedih, kita bisa menghibur, menguatkan, dan mendukungnya. Banyak orang ingin didengarkan, kita bisa membantu dengan memberikan waktu kita untuk mendengarkannya dengan kasih.

Apa yang dapat kita lakukan hari ini. lakukanlah semuanya itu dengan sepenuh hati! Allah bekerja melalui tindakan kita tersebut untuk menyatakan kasih-Nya pada orang-orang yang membutuhkan. (pa)

LAKUKANLAH SEGALA SESUATU DENGAN CINTA DAN SETIA!

Renungan Pagi