Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

01 September 2008

Ketamakan

"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaan itu" - Lukas 12:15

Sepasang suami-istri yang sangat miskin tidak henti-hentinya berdoa agar diberi rezeki yang melimpah sehingga kehidupannya lebih baik. Pada suatu malam, sang suami bermimpi bertemu seseorang. Dalam mimpinya, orang tersebut berkata, "Besok pagi akan ada seekor ayam betina putih di halamanmu, janganlah kamu mengusirnya. Peliharalah ayam itu karena ia akan memelihara hidupmu."

Mimpi itu menjadi kenyataan. Ayam itu pun dipelihara dan bertelur. Ajaib! Ayam itu tidak bertelur tidak sebagaimana ayam bertelur. Telurnya berupa emas. Mereka menjadi kaya raya. Namun tiba-tiba muncul keinginan dlaam diri sang suami untuk lebih kaya lagi dengan menyembelih ayam itu. Mereka menyesal dan kecewa karena tidak menemukan emas di dalamnya. Akhir cerita, suami istri itu pun menjadi miskin kembali.

Keinginan untuk cepat menjadi kaya merupakan trend manusia masa kini. Kita ingin kaya raya hidup bahagia, tanpa kerja keras. Maunya kita duduk santai semua sudah tersedia. Bukannya kita bertambah kaya, melainkan jatuh miskin, bahkan semakin miskin. Kita harus meninggalkan dan menanggalkan hidup ketamakan sebagaimana pesan firman-Nya di atas. Ketamakan bisa menjadi jerat yang dalam sekejap membuat kita terlena.

Agar terbebas dari jerat itu, kita perlu karunia menerima pemberian Tuhan. Mencukupkan diri dengan apa yang ada dan selalu mengucap syukur untuk segala cinta kasih-Nya. Percayalah kita tidak akan kekurangan karena kita berada di Tangan yang benar yang senantiasa setia memelihara hidup dan kehidupan kita. Allah adalah Sumber kehidupan kita. Mengandalkan-Nya berarti mendapatkan kehidupan. Selamat tinggal ketamakan! (sam)

KETAMAKAN MEMBAWA KITA KE GERBANG KEMISKINAN

Renungan Pagi

Permohonan Seorang Balita

Ayah bundaku, engkau segalanya bagiku. Ketika aku tidak tahu, engkaulah sumber pengetahuanku. Engkau mengetahui segala sesuatu, aku sungguh mempercayaimu. Ketika aku tidak berdaya, tanganmulah yang menopang aku. Engkau bisa melakukan segala sesuatu, aku sangat bergantung padamu. Ketika aku tidak bisa memilih, pilihanmulah yang terbaik. Engkau bisa menilai benar dan salah, baik dan buruk, bagus dan jelek.

Kasih sayangmu adalah sumber kebahagiaanku. Perlindunganmu adalah sumber rasa amanku. Rencanamu bagiku adalah masa depanku yang cerah. Aku sungguh menghargai semua pengorbananmu bagiku. Namun, kalau boleh aku memohon…

Jangan kekang aku dengan kasih sayangmu yang penuh kekhawatiran agar aku bisa bebas bergerak. Jangan ikat aku dengan perlindunganmu yang berlebihan agar aku tidak ragu untuk melangkah. Jangan memaksa aku menjadi seperti yang kau inginkan agar aku bisa menjadi diriku sendiri. Jangan manjakan aku dengan kenyamanan agar aku tidak menjadi lemah. Jangan biarkan kenakalan dan rengekanku mengendalikanmu agar aku tidak menjadi kurang ajar.

Jangan turuti semua kemauanku agar aku belajar mengendalikan diri. Jangan terlalu mengasihani kelemahanku agar aku belajar mandiri. Jangan jauhkan aku dari kesukaran agar aku belajar tegar. Jangan biarkan aku menonton adegan kekerasan dari televisi, agar aku tidak belajar brutal. Atau adegan mesum, agar aku tidak belajar cabul. Jangan ajarkan aku kebencian agar aku mengerti betapa indahnya kasih. Jangan ajarkan aku kebohongan agar aku menghargai ketulusan.

Jangan padamkan antusiasku agar aku menikmati hari-hari yang penuh kegembiraan. Jangan padamkan rasa ingin tahuku agar aku tidak kehilangan gairah untuk belajar dan menjelajah. Jangan membuat aku bingung karena melihat apa yang kau perbuat berbeda dengan apa yang kau ajarkan. Mohon tunjukkan nasehatmu dalam sikapmu supaya aku mengerti bagaimana meneladanimu.

Pujian dan sanjunganmu yang berlebihan bisa membuatku besar kepala dan lupa diri. Kecamanmu yang terlalu sering bisa membuatku kehilangan rasa percaya diri. Harapanmu yang terlalu tinggi bisa membuatku frustrasi.

Akh, betapa berat bebanmu sebagai orang tua! Padahal setiap hari engkau menghadapi begitu banyak persoalan yang harus diselesaikan. Namun demi cintamu padaku, aku percaya engkau akan selalu berusaha memberikan yang terbaik.

(Sumber : www.bayipintar.com) - dikirim oleh : Jan Limanjaya

31 August 2008

Seribu Banding Satu

Nats : Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya (Kejadian 40:23)

Bacaan : Kejadian 40

Salah satu dialog dalam film "Dumb and Dumber" yang masih saya ingat adalah ketika Lloyd Christmas menyatakan cinta kepada Mary Swanson. Mary menolak. Lloyd tidak menyerah. Ia bertanya, berapa banyak kesempatan yang ia miliki untuk mendapat cinta Mary. Lalu wanita itu menjawab: seribu banding satu. Anehnya, Llyod justru bersorak gembira mendengarnya. "Itu berarti saya masih memiliki kesempatan, kan?" katanya.

Begitulah seorang yang optimis. Ia akan berfokus pada kesempatan yang ada, sekecil apa pun kesempatan itu. Karenanya ia akan selalu mempunyai pengharapan; tidak akan patah arang dalam kesusahan.

Yusuf juga seorang yang optimis. Ia tidak putus berharap, pun ketika ia berada dalam penjara. Ia menolong juru minuman dengan menafsirkan mimpinya. Lalu ia berpesan, "Ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini" (ayat 14). Kesempatan yang Yusuf miliki itu memang tidak besar, buktinya si juru minuman kemudian melupakannya (ayat 23). Namun, justru dari kesempatan kecil tersebut, Yusuf mengawali kisah suksesnya di Mesir.

Mungkin saat ini kita tengah berada dalam "penjara kesulitan". Dan kesempatan yang kita miliki untuk keluar dari situ begitu kecil. Jangan berkecil hati. Jangan menyerah. Teruslah berusaha. Lakukan apa yang bisa dilakukan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Ingat lah bahwa dari kesempatan kecil itu tidak jarang tersedia jalan yang lebar bagi kesuksesan. Seperti yang Yusuf alami -RY

KESEMPATAN SEKECIL APA PUN
ITU MENUNJUKKAN MASIH ADANYA HARAPAN

SABDA.org

30 August 2008

Humor : Just Jokes

Hantu apa yg pinter ngitung ?
han, tu, tri, four, five........

Apa beda Megi Z sama tukang sayur?
Kalo Megi Z teriak 'teganya-teganya' , kalo tukang sayur 'togenya-togenya'

Kenapa di komputer ada tulisan ENTER?
Karena kalo tulisannya ENTAR, programnya 'ngga jalan-jalan, dong.....

Apa bahasa Arabnya orang jatuh dari lantai 100 sebuah gedung?
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

Binatang apa yang paling panjang?
Ular ngantri beras

Kenapa gorila lubang hidungnya besar?
Karena jari-jarinya juga besar, biar pas buat ngupil

Ikan apa yang lahir langsung disiksa ibunya?
Ikan lohan (liat aja kepalanya benjol)

Kenapa batman pake topeng?
Karena malu celana dalamnya keliatan

Siapa nama orang Bali yang hobi travelling?
Made (Made in Japan , Made in China , Made in Thailand)

Apa persamaan Pangeran Diponegoro dengan RA Kartini ?
Sama-sama enggak punya handphone

Siapa presiden RI yang paling seksi?
Paha Bibi

Siapa wan ita paling kuat sedunia?
Nyonya Meneer, berdiri sejak 1812

Apa beda onta dan kangkung?
Kalo onta di arab, kalo kangkung di urap

Apa persamaan KTP dan telor asin?
Sama-sama di cap stempel

Kenapa dokter kalo 'mo operasi mulutnya ditutup?
Karena kalo matanya yang ditutup 'ngga keliatan dong....

Apa bukti wortel baik untuk kesehatan mata?
Pernah liat kelinci pake kacamata?

Apa bahasa Indianya bumbu dapur?
Tumbar miri jahe

Binatang apa yang warnanya hitam-putih- merah?
Zebra masuk angin abis dikerokin

Nenek siapa yang jalannya loncat-loncat?
Neneknya kodok, neneknya kangguru, neneknya kelinci.....

Kenapa air laut asin?
Karena ikannya pada keringetan

Mangga apa yang mengerikan?
MANGGAruk-garuk pantat singa

Profesi apa yang 'ngga perlu sekolah?
Wasit tinju, cuman ngitung dari 1 sampe 10 doang

Mengapa dalam bahasa Inggris wanita disebut WOMAN?
Karena saat Adam melihat perempuan pertama kali, yaitu Hawa, ia berkata, "Wou.......man. ......!!!

Ayahnya orang Bali, ibunya orang Betawi, siapa nama anaknya?
I Made Gede Amat

Ikan apa yang matanya banyak?
Ikan teri sekilo

Mengapa gunung berapi meletus?
Karena kalo mencair namanya gunung es

Kentutnya Ade Ray bunyinya gimana?
Brotot...... .brotot.. .....brotot. ......

Kunci apa yang bisa bikin orang joget?
KUNCI-KUNCI HOTA HE

Siapa nama orang Jepang yang lahir di puncak Gunung Merapi saat gunung meletus?
Kurasa Takada

Apa yang bunyinya Bak! Buk! Bak! Buk! Dor! Dor! Dor?
Tukang balon lagi berantem

Ayam apa yang paling kejam?
Ayam mbakar wong Solo

Weekend Scripture - Efesus 5:15

Jalanilah hidup dengan penuh tanggung jawab, bukan seperti orang-orang yang tidak mengetahui makna hidup, tetapi seperti mereka yang mengetahuinya.

"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif" - Efesus 5:15

The Pursuit Of Happyness

Pursuit of Happyness, adalah salah satu film terbaik yang pernah saya lihat selama ini. Suatu kisah nyata kehidupan dari Chris Gardner yang benar-benar menyentuh perasaan. Diperankan oleh salah satu aktor terkenal, Will Smith, dan juga dibintangi juga oleh anaknya sendiri Jaden Smith yang berperan sangat bagus dan menarik difilm ini.

Chris gardner (Will Smith) adalah seorang salesman untuk alat kedokteran, yang hidup bersama istri (Thandie Newton) dan seorang anak (Jaden Smith). Kehidupan yang dilalui Chris sangatlah berat, dia harus dapat menjual alat semacam X-Ray portable untuk tulang itu dua buah dalam satu bulan, ia berusaha mati-matian untuk mendapatkan dokter yang ingin membeli alatnya tersebut, dan ia juga berjuang agar istrinya tetap percaya bahwa dia dapat menghidupi keluarganya dengan keadaan yang cukup kelak. Istrinya sendiri bekerja sebagai buruh di suatu perusahaan. Hampir setiap hari Chris dan istrinya bertengkar karena masalah keuangan.

Hari demi hari terus berlalu, sampai akhirnya sang istri tidak dapat lagi bertahan dengan pekerjaan Chris yang sangat-sangat tidak mencukupi kebutuhan keluarga itu. Dia dan istrinya akhirnya berpisah, istrinya mencoba hidup di New York. Semenjak itu, Chris-lah yang merawat anaknya. Dan disinilah kisah menarik itu bermula, bagaimana seorang ayah sangat begitu menyayangi dan berjuang demi anaknya. Chris mencoba mengikuti program latihan untuk menjadi makelar saham (stockbroker), karena ia melihat orang-orang yang bekerja disana selalu menampakkan muka ceria dan bahagia yang dimana ia tidak pernah menampilkan wajah seperti itu dalam kehidupannya.

Chris akhirnya menjalani program latihan tersebut dengan amat tekun dan bersungguh-sungguh. Chris berhasil mengambil hati atasannya, karena Chris seorang yang berkomitmen, cerdas, dan ikhlas. Disamping menjalani latihan tersebut, ia masih harus menjual alat X-ray-nya itu, karena latihan itu tidak memberikan uang pesangon sepersen pun. Disaat Chris mulai kehabisan uang, ia terpaksa keluar dari rumah kontrakannya dan berlomba-lomba untuk dapat masuk di rumah penampungan di kota San Francisco tersebut. Akhirnya Chris berhasil menjual alat X-raynya itu, dan ia membawa anaknya tidur di hotel untuk satu malam, demi membahagiakan anaknya yang kelelahan harus mengantri untuk mendapatkan tempat penampungan.

Tibalah saat ujian akhir dari program latihan yang dijalani. Chris menjadi orang nomor dua tercepat dalam mengumpulkan kertasan ujian, karena orang yang pertama lupa mengisi bagian esai di pertanyaan belakang sekali. Lalu beberapa hari kemudian, dengan perasaan yang berdebar-debar. Chris memasuki ruang rapat untuk mendapatkan hasil latihannya. Dan Chris dinyatakan lulus, dia menangis, demikian juga dengan saya. Untuk pertama kali dalam hidupnya Chris menampakkan muka yang bahagia. Bagaimana akhirnya? Tonton aja .. heheh..

Pelajaran yang bisa diambil:

Jangan mudah menyerah. Saya waktu nonton film ini sempat berpikir, andai aja itu aku, aku juga belum tentu sekuat dan setabah Chris Gardner, banyak masalah yang dihadapi, keuangan yang sangat kurang, istrinya meninggalkannya, tetapi dia masih tetap kuat dan tidak menyerah.. Huf .. salut...

Rekomendasi banget film ini, bagi yang belon nonton, liat aja deh, meski review nya udah telat :)

Allah, Guru Kita

Nats : Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup (Ulangan 8:1)

Bacaan : Ulangan 8:1-3

Seorang guru yang baik tidak akan mendidik secara sembarangan. Ia akan mengemas pendidikannya dengan metode serta evaluasi yang tepat sesuai tujuan yang ditentukan. Lebih plus lagi bila ia kreatif dan mampu memikat hati naradidik dengan memerhatikan konteks hidup mereka. Sulit memang. Itu sebabnya guru yang baik termasuk langka. Lalu jika kemudian kita berpikir tentang Allah ... apakah Allah adalah guru yang baik?

Tentu saja! Bacaan kita berisi nasihat agar umat melakukan firman yang didengar (ayat 1). Ada tujuan pembelajaran di situ: "Supaya kamu hidup ..."; bahkan juga ujian dan metode pembelajarannya: setiap kita perlu mengingat pengalaman kita berjalan bersama Tuhan (ayat 2). Lalu, ada pula evaluasi: bagaimana sikap hati kita pada akhirnya-agar kita mengalami kepenuhan hidup-yakni saat kita menyadari bahwa kita bisa hidup dengan mengandalkan Allah dan firman-Nya saja (ayat 2,3).

Allah mendidik umat di padang gurun agar karakter mereka semakin matang. Padang gurun menjadi lokasi terbaik untuk belajar dalam hidup beriman, agar manusia lebih bergantung pada Allah ketimbang pada roti. Roti adalah simbol dari apa yang kita anggap kebutuhan dasar hidup. Namun dengan roti saja-tanpa Allah-umat akan mati dan tidak "lulus ujian" Allah.

Sudahkah kita mengikuti "kelas-Nya" dengan baik? Kelak, kita akan menghadapi "kelulusan final" saat kita meninggal, namun dalam tiap-tiap hari ada "tes-tes kecil" yang penting untuk kita menangkan. Bila Allah sedang mendidik Anda, bersyukurlah. Sebab melaluinya Anda akan semakin matang dan berbuah! -DKL

BILA ALLAH MENDIDIK KITA
DIA MAU KITA MENDENGAR DAN MENURUT SEPERTI SEORANG MURID

SABDA.org

29 August 2008

Saat Bimbang

Nats : Ketika hatiku merasa pahit ... aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu (Mazmur 73:21-23)

Bacaan : Mazmur 73:1-5, 21-26

Aku memanggil-Mu, ingin bergantung pada-Mu, tetapi Engkau tak menjawab. Aku sendirian .... Di mana imanku? Yang ada hanya kehampaan dan kegelapan." Demikianlah Ibu Teresa menuliskan salah satu suratnya. Ketika surat-surat pribadinya dipublikasikan, orang kaget. Tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang rohaniwan terkenal seperti dia bisa mengalami kebimbangan hidup? Bahkan, meragukan imannya? Bukankah dunia mengenalnya sebagai tokoh yang begitu mencintai Tuhan dan sesama?

Hal ini tidak mengherankan. Pemazmur pun pernah bimbang akan kehadiran Tuhan. "Seperti hewan aku di dekat-Mu," katanya. Anjing peliharaan hanya paham beberapa instruksi tuannya. Pengertiannya terbatas sekali. Tak bisa ia memahami maksud sang tuan sepenuhnya. Seperti itulah kondisi pemazmur. Ia tak mengerti, mengapa Tuhan membiarkan orang jahat hidup enak dan jaya. Ia yang hidup bersih justru "nyaris tergelincir". Namun ia bertekad, "aku tetap didekat-Mu." Itulah yang membuatnya tetap bertahan di masa bimbang. Akhirnya, pelan-pelan Tuhan membukakan rencana-Nya dan membuat ia mengerti maksud-Nya.

Saat hidup tampak tidak adil, bisa jadi kita pun bimbang. Merasa Tuhan seolah-olah tak ada dan tak berkuasa. Kita meragukan pimpinan-Nya. Ini wajar. Tiap orang percaya pernah mengalaminya. Yang penting bagaimana sikap kita ketika menjalani masa itu. Dalam kebimbangan, Ibu Teresa tetap giat melayani sesama. Pemazmur memilih tetap mendekat pada Tuhan. Kita pun dapat memilih untuk tetap ada di jalan-Nya, sekalipun ada saat di mana hadir-Nya tidak nyata terasa -JTI

MATAHARI SELALU ADA SEKALIPUN AWAN MENUTUPINYA
TUHAN SELALU ADA SEKALIPUN MASALAH KITA MENUTUPINYA

SABDA.org

Penabuh Genderang

Pada suatu peperangan, pasukan Napoleon menderita kekalahan yang hebat hingga hanya tersisa seratus pasukan lebih. Hal ini tentu saja membuat mereka bersembunyi sambil menunggu saat yang tepat untuk menyerang secara gerilya.

Namun yang membuat Napoleon berpikir adalah bagaimana cara membangkitkan semangat anak buahnya. Makanan sudah menipis, istirahat kurang sedangkan perang yang tidak mengenal waktu itu tak kunjung selesai. Belum lagi kekalahan yang baru saja mereka derita membuat mereka kehilangan banyak pasukan dan amunisi. Tentu saja hal ini membuat semangat pasukannya lemah.

Ia memutuskan untuk menambah jumlah pasukan dengan merekrut anak-anak muda dari kota yang mereka taklukkan minggu sebelumnya. Jumlah yang didapat tidak terlalu menggembirakan, hanya sepuluh orang, namun Napoleon sudah memutuskan untuk melanjutkan gerilya pada keesokkan harinya.

Seorang anak muda tuna rungu mendapat bagian untuk menabuh genderang. Dia dianggap kurang cocok untuk memegang senjata. Yang lainnya hanya menggunakan senjata seadanya karena keterbatasan amunisi.

Saat peperangan pun tiba. Ketika genderang menyerang ditabuh, pasukan Napoleon maju. Setelah beberapa saat, Napoleon merasa pasukannya terdesak, lalu ia berteriak kepada si penabuh genderang untuk memukul isyarat mundur. Tetapi karena ia tuna rungu, ia tidak dapat mendengar perintah Napoleon. Ia terus bersemangat menabuh genderang sambil maju ke depan. Ia tidak tahu keadaan yang sebenarnya, ia hanya menjalankan tugasnya.

Pasukan Napoleon yang sedang terdesak melihat keberanian si penabuh genderang maju ke depan, sambil menabuh isyarat menyerang. Mereka heran sekaligus kagum melihat keberaniannya. Semangat mereka tiba-tiba muncul seperti api yang menyambar bensin. Mereka maju dengan berani dan memukul mundur pasukan musuh. Hari itu mereka menang besar, tanpa kerugian yang berarti.

Allah bisa memakai kekurangan kita sebagai kelebihan. Ia mampu mengubah hal buruk menjadi kebaikan untuk kita, juga untuk mereka yang menganggap rendah diri kita.

7 Karakteristik Gereja Yang Hidup

Gereja yang hidup adalah gereja yang meminjam istilah Dietrich Bonhoeffer (ke dalam bermakna, ke luar relevan). Dengan kata lain, kehadirannya dirasakan tidak hanya oelh umat, tetapi juga oleh masyarakat di sekitarnya. Gereja yang hidup pada dirinya sendiri adalah Injil, kabar baik, bukan hanya bagi para warga jemaat di dalamnya, melainkan juga bagi masyarakat di luar gereja. Ia seperti "oase" di tengah padang gurun dunia. Berikut ini adalah 7 karakteristik gereja yang hidup.

  1. Visi yang jelas
    Visi seumpama titik terang di ujung lorong yang gelap, kepadanya segala daya dan upaya diarahkan. Visi tidak hanya akan menjawab pertanyaan untuk apa gereja itu ada, tetapi juga kemana gereja itu akan mengarah. Oleh sebab itu, gereja ada tidak sekadar "menggelinding". Padat programnya, sibuk aktivitasnya, tetapi tidak jelas maknanya. Gereja mesti tahu kemana arah tujuan dan apa yang ingin di capai. Ia tidak berjalan bagai dalam labirin tak berujung.
    Dalam Amsal 29:18 versi King James dikatakan, "Where there is no vision, the people perish." Tanpa visi, rakyat binasa (Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan : "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat"). Memiliki visi sempurna anak panah yang punya sasaran bidik, titik dimana semua energi, kemampuan, dan perhatian seluruh anggota diarahkan, landasan sekaligus tujuan dari semua kegiatan dan program gereja.
  2. Struktur organisasi yang dinamis
    Tidak ada yang meragukan peran Roh Kudus dalam gereja. Namun, hal itu bukan berarti gereja tidak perlu ditata. Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (1 Korintus 14:40). Struktur organisasi yang dinamis memungkinkan "aturan main" yang jelas, tegas, sekaligus terarah, sehingga gereja cepat tanggap, bereaksi secara akurat, dan berinteraksi secara tepat. Ketidakharmonisan bisa diminimalkan, potensi yang ada pun bisa disalurkan lebih efektif dan efisien untuk mencapai visi.
  3. Ibadah yang hangat
    Guru Sekolah Minggu bertanya kepada seorang anak, "Mengapa tidak boleh berisik di gereja?" Si anak menjawab, "Karena mengganggu orang tidur!" Cerita ini memang hanya lelucon, teapi lelucon biasanya berangkat dari sebuah realitas tertentu. Ibadah yang hangat memungkinkan jemaat pulang dari beribadah dengan mendapatkan "sesuatu", baik dari khotbah yang disampaikan, maupun dari suasana ibadah yang di bangun, sehingga dapat dijadikan "bekal" dalam hidup keseharian mereka.
    Akan tetapi, jangan salah, ibadah yang "hidup" tidak sama dengan ibadah yang ingar bingar, penuh musik, dan sorak sorai. John Stott berpendapat tentang ibadah yang penuh kekhidmatan sekaligus penuh seukacia, yaitu keika warga jemaat turut terlibat dengan penuh antusias, khotbah disampaikan oleh hamba Tuhan yang secara sungguh-sungguh menyiapkan dan menggumuli firman Tuhan, tim musik dan pemandu pujian yang disiapkan dengan baik.
  4. Persekutuan yang akrab
    Relasi akrab antarwarga jemaat itu penting. Relasi yang akrab akan mengikat mereka dalam sebuah persekutuan yang harmonis. Seumpama, sebuah keluarga, perbedaan bisa tetap ada, bahkan juga konflik. Namun, itu semua tidak akan sampai memisahkan. Sebab ada dasar kokoh yang melandasi, yaitu kasih Kristus.
    Paulus sangat menekankan relasi kasih ini (Kolose 3:12-17; Filipi 2:1-11). Tuhan Yesus juga menasihatkan para murid untuk saling mengasihi (Yohanes 15:12). Bahkan, relasi kasih ini dikatakan sebagai identitas para murid-Nya (Yohanes 15:14-16). Bisa jadi kedengarannya "klise", tetapi itulah yang harus dibangun. Tanpa dasar kasih Kristus, tidak akan ada keakraban. Ciri-ciri persekutuan yang akrab, yaitu adanya kerinduan untuk bertemu, rasa "nyaman" dan "aman" bila bersama-sama, dan ada keinginan untuk saling berbagi dan melindungi.
  5. Pembinaan yang berkesinambungan dan terarah
    Pembinaan kelompok-kelompok di dalam jemaat sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa muda, dewasa dilakukan secara berkesinambungan dan terarah; tidak sporadis; tidak berjalan sendiri-sendiri; bukan suka-suka kelompok yang bersangkutan. Begitu juga kelompok-kelompok lain, seperti persekutuan wilayah, kelompok sel, dan pendalaman Alkitab. Pertanyaan kunci guna menunjang pembinaan yang berkesinambungan dan terarah adalah apa yang mau dicapai pada masa yang akan datang.
  6. Pelayanan ke luar dan ke dalam
    Pelayanan yang dimaksud disini adalah "pelayanan sosial", seperti ketika para rasul menunjuk ke tujuh orang diaken dalam Kisah Para Rasul 6:1-7. Jadi, sementara para rasul fokus pada "pelayanan firman", "pelayanan sosial" tidak terabaikan. Gereja tidak semestinya hanya berkutat dengan "masalah rohani", tetapi juga perlu "menggarap pelayanan sosial", kepada jemaat perkunjungan, diakonia, dan sebagainya dan kepada masyarakat di sekitar gereja. Beasiswa, poliklinik, posyandu, pelatihan keterampilan, dan sebagainya. Untuk itu, gereja memerlukan inovasi-inovasi baru. Intinya adalah bagaimana agar kehadiran gereja betul-betul dapat dirasakan sebagai berkat.
  7. Membawa perubahan hidup
    Apabila misi ke luar gereja adalah supaya semakin banyak orang merasakan sapaan kasih Allah, mengenal, dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, misi ke dalam gereja adalah menjadikan warganya memiliki sikap hidup yang "berbeda" dalam keseharian mereka di mana pun dan dalam peran apapun. Seperti jemaat mula-mula yang tidak hanya bertumbuh di dalam, tetapi juga "bersinar" di luar. Kisah Para Rasul 2:47 menyatakan, "Dan mereka disukai semua orang."
    Setiap orang kristiani memiliki identitas ganda, dipanggil dari dunia dan diutus ke dalam dunia. Artinya, dipanggil untuk menjadi berbeda dari "orang dunia", tanpa menjadi terpisah dari dunia. Identitas kekristenan semestinya tidak hanya tampak dalam kehidupan kultis (ibadah), tetapi juga nyata dalam kehidupan etis. Menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-16).

Oleh : Ayub Yahya, Renungan Harian

Before You Start Work Today