Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

17 August 2008

Humor : Kalong Bisa Membaca

Feri dan Roni tampak serius membicarakan sesuatu.

Feri : Ron, aku punya teka-teki. Kalau kamu bisa menjawab, nanti kutraktir.

Roni : Beres, Fer.

Feri : Kalong apa yang bisa membaca?

Roni : Jelas nggak ada. Yang namanya binatang tidak ada yang bisa membaca.

Feri : Ada! Kalo nggak aku, kamu, ibu, atau ayahmu!

Cintai Negeri Kita

Nats : Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem (Daniel 9:16)

Bacaan : Daniel 9:12-19

Dalam amanat kemerdekaan 17 Agustus 1963, Bung Karno mengungkap sedikit rahasia tentang bagaimana ia menulis amanatnya, "Saya menulis pidato ini sebagaimana biasa dengan perasaan cinta yang meluap-luap terhadap Tanah Air dan Bangsa ...." Dan, orang yang memiliki rasa cinta terhadap tanah air, pasti merindukan yang terbaik terjadi atas bangsanya.

Bacaan Alkitab hari ini berbicara tentang bangsa Israel yang telah banyak melakukan pelanggaran. Mereka meninggalkan Tuhan dan tidak mau berbalik dari dosa-dosanya. Karenanya bangsa ini tidak akan luput dari keadilan Tuhan-malapetaka bagi yang melanggar ketentuan-Nya. Daniel begitu mencintai bangsanya, itu sebabnya ia sangat sedih ketika menyadari bahwa bangsanya berada di ambang penghukuman Tuhan. Kondisi "carut-marut" bangsanya karena dosa, tidak mengurangi cinta Daniel. Karena itu, ia membawa bangsa Israel dalam doanya kepada Tuhan. Dalam kondisi yang seolah-olah tidak mungkin, Daniel memohon agar Tuhan mengampuni dan melepaskan bangsa Israel dari malapetaka (ayat 18).

Mari kita melihat ke dalam hati kita dan bertanya, sedalam apa kita mencintai negeri ini? Betul, negeri kita ini bukan negeri yang ideal, bahkan di sana-sini kita melihat kondisi yang memprihatikan, tetapi kiranya itu tidak mengurangi cinta kita. Sebab jika bukan kita yang mencintai negeri ini, lalu siapa lagi? Seperti Daniel, mari kita doakan negeri kita dengan penuh cinta. Kita mohonkan ampun atas pelanggaran yang telah dilakukan setiap elemen bangsa ini. Kita mohonkan belas kasihan Tuhan -CHA

INDONESIA ADALAH TITIPAN TUHAN
MARI KITA CINTAI DENGAN SEGENAP JIWA DAN RAGA

SABDA.org

16 August 2008

Humor : Buku

Ada seorang kepala sekolah sekaligus kepala asrama yang sangat disiplin. Ia melarang penghuni asrama membawa binatang peliharaan apapun. Tapi ketika menemukan seekor anak kucing di ruang kerjanya, ia tak mematuhi peraturan yang sudah di buatnya. Dengan diam-diam, ia memelihara kucing itu di ruangannya.

Akhirnya beberapa siswa mengetahuinya. Tapi untung mereka berjanji akan merahasiakannya dan menyarankan untuk menyamarkan panggilan kucing itu dengan sebutan "Buku".

Suatu pagi kepala sekolah pergi ke luar asrama bersama kucingnya yang ditaruh di dalam ransel tertutup agar tidak ketahuan.

Tiba-tiba seorang siswa menyapa, "Pagi-pagi begini bawa buku mau kemana, Pak?"

"Buku sakit, Bapak mau bawa ke dokter. Si Buku diam dari tadi malam, dan tidak mau makan", jelasnya lebih lanjut.

Dengan wajah melongo siswa tadi menatap wajah kepala sekolah dan berkata, "Kayaknya, Bapak deh yang perlu ke dokter!"

Weekend Scripture - 2 Korintus 12:9

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. - 2 Korintus 12:9

Maddie

Sekitar tahun lalu, saya melayani seorang anak kecil berumur 5 tahun untuk mengisi libur musim panas sebagai Babysitter. Dan masa itu adalah pekerjaan musim panas yang paling berkesan! Maddie dan saya selalu berjalan jalan di taman setiap hari setelah makan siang. Maddie suka bermain ayunan dan perosotan di taman itu. Walaupun masih kecil, Maddie mempunyai hati yang baik, dan dia selalu membuat saya terkejut pada kasihya terhadap orang lain. Kedua orang tuanya pun juga sama - Selalu ada damai sejahtera diantara mereka. Saya selalu bertanya, mengapa mereka sangat berbeda dari orang orang lain?

Suatu hari di taman itu, saya sedang mendorong Maddie yang bermain ayunan, dan kami mendengar banyak anak anak kecil tertawa. Kami melihat ada sekelompok anak anak yang berkumpul di sebuah tempat di taman itu.

Maddie menyetop ayunannya, dan ingin pergi kesana untuk melihat apa yang sedang mereka tertawakan.

Kami berjalan, dan seorang anak laki-laki lari menuju Maddie dan mengatakan, "Ayo ke sini dan lihat orang perempuan aneh ini! Ia kotor dan berbau, menangis lagi!"

Maddie mendorong anak laki laki itu, dan menuju ke seorang wanita yang sedang duduk di tanah.

Wanita itu kelihatannya berumur sekitar 50 tahun, walaupun kemungkinan umurnya lebih muda. Karena terlihat kehidupannya sangat susah, dan anak laki-laki itu benar, orang itu berbau dan kotor. Suatu hal yang akan ku pikir akan kulakukan adalah memegang Maddie dan menyingkirkannya dari orang itu.

Ketika saya mencarinya, ternyata Maddie sudah duduk di samping wanita itu, dan memegang tangan orang itu. Orang itu melihat kepada Maddie dan tersenyum. Untuk beberapa detik lamanya orang itu rasanya tidak lagi berbau dan kotor, dia cantik!! Anak-anak yang lain akhirnya meninggalkan orang itu, dan Maddie memeluk orang itu, lalu Maddie meninggalkannya.

Di sepanjang jalan, Maddie menggumamkan sebuah nyanyian, dan berlompat-lompat kecil, sesuai kebiasaannya. Ia gembira, sepertinya tidak memikirkan kesusahan. Saya menunggu Maddie mengatakan sesuatu tentang wanita itu, tetapi ia tidak mengatakan sepatah katapun.

Akhirnya ketika sampai di rumah, saya tidak tahan lagi. Saya menghampiri Maddie dan berkata, "Mengapa kamu lakukan itu?"

Maddie bertanya balik, "Melakukan apa Julie ?" dan saya jawab, "Mengapa kamu memegang tangan dan memeluk orang itu sedangkan anak anak lain menertawainya dan menakut-nakutinya?"

Maddie menatap saya dan berkata, "Julie, Yesus tidak akan memperlakukan wanita itu seperti itu. Setiap orang menertawakan dan memperlakukan Yesus seperti apa yang mereka perbuat, tapi apa yang Yesus telah perbuat! Dia sudah mati untuk kita di kayu salib.

Setiap kali saya melihat seseorang dipermalukan seperti itu, saya selalu pergi menemuinya, memeluk mereka, dan mengatakan bahwa Yesus mencintai mereka, hal itu selalu membuat mereka merasa menjadi lebih baik.

Saya yang berumur 23 tahun, seharusnya lebih pintar! Tetapi anak berumur 5 tahun ini mengetahui lebih banyak daripada saya. Dan itulah Maddie!

Yesus, datang ke dunia yang kotor dan dingin ini, ditertawakan, diludahi, tetapi Dia mati untuk kita.

Saya berubah mulai hari itu, dunia terlihat berbeda, dan hal itu dikarenakan seorang anak perempuan kecil berumur 5 tahun yang telah memperlihatkan apa arti sebenarnya Kasih.

Buta Rohani

Nats : ... tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia (Yohanes 9:3)

Bacaan : Yohanes 9:1-7

Keterlaluan! Di dekat seorang buta yang tidak berdaya, murid-murid bukannya memberi sedekah tetapi malah membicarakan mengapa orang itu buta. "Pasti karena telah berbuat dosa. Tetapi siapa yang berbuat dosa; orang buta ini sendiri atau orangtuanya, ya?" Begitulah obrolan para murid Yesus.

Orang buta itu telah sangat menderita dengan kebutaannya. Kalau orang-orang malah mencurigai dirinya atau orangtuanya telah melakukan dosa, dan lantas hanya mendiskusikan tentu ini hanya menambah penderitaannya. Murid-murid mungkin lupa bahwa mereka sendiri juga orang berdosa (Roma 3:23). Bahkan, jika orang buta itu buta secara jasmani, mereka mungkin saja malah lebih parah, yakni buta rohani.

Yesus tidak terjebak dalam obrolan yang tidak membangun itu. Dia memilih melakukan sesuatu; menyembuhkan mata orang buta itu. Dan yang mengejutkan, Yesus juga berkata: "... bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia" (ayat 3). Bisa dibayangkan, betapa senangnya si buta mendengar hal itu! Pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dirinya? Wow! Sebelum berjumpa Yesus, baginya semua gelap. Hidupnya serasa hampa tidak berguna. Tak ada yang peduli, apalagi melibatkannya dalam aktivitas. Namun, segalanya berbeda setelah berjumpa Yesus. Sang Terang dunia bukan saja menyembuhkan, tetapi bahkan mau melibatkannya dalam pekerjaan Allah!

Kita, daripada membicarakan dosa orang lain, marilah perbincangkan pekerjaan di ladang Tuhan, yang harus kita kerjakan selagi hari masih siang -MNT

MILIKILAH MATA YANG MELIHAT SEPERTI TUHAN MELIHAT

SABDA.org

15 August 2008

Hidup Sesuai Panggilan

"Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu" - Efesus 4:1-2

Allah memanggil kita untuk melanjutkan karya agung-Nya dalam menyelamatkan manusia berdosa. Kita dipanggil Allah untuk melayani-Nya melalui bidang kerja dan bidang hidup kita masing-masing. Itulah sebabnya, Allah mengaruniakan pekerjaan kepada kita. PEkerjaan yang kita miliki berbeda satu sama lainnya. Dengan adanya berbagai bidang kerja, Allah menghendaki kita untuk saling melengkapi, mendukung dan menguatkan, bukan saling berebut dan menjatuhkan.

Melalui Rasul Paulus, Allah menasehati agar kita hidup sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan-Nya. Hidup sesuai panggilan kita. Ada syarat penting dari Allah yang harus kita lakukan, yaitu : hendaklah kita selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar, serta menunjukkan kasih kita dalam hal saling membantu. Rendah hati merupakan sikap kita yang tunduk pada otoritas Allah, menyadari kekurangan diri, dan mengakui kelebihan orang lain. Lemah lembut berarti bertindak dan bersikap sesuai dengan waktu dan tempat. Sabar berarti tekun dan rela menderita. Kasih merupakan hal terbesar di dunia ini. Ketiga hal besar dan penting itu harus kita miliki. Kita bisa meminta dan mendapatkannya hanya pada Kristus. Dia memberi tanpa membangkit-bangkit.

Mari kita hidup sesuai panggilan kita dengan penyerahan diri secara total kepada Kristus yang kita layani. Dia yang memberi pekerjaan pada kita, pasti tidak akan tinggal diam. Dia akan melengkapi, menguatkan, meneguhkan, dan mengokohkan kita sehingga dapat memenuhi panggil untuk memuliakan nama-Nya melalui pekerjaan yang kita lakukan. (nie)

PELAYANAN ADALAH BAGIAN HIDUP ORANG PERCAYA.

Renungan Pagi

A God's Cake

Kadang kita bertanya dlm hati & menyalahkan Tuhan, “Apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?” atau “Kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya?”.

Here is a wonderful explanation…

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, “Tentu saja, I love your cake.”

“Nih, cicipi mentega ini,” kata Ibunya menawarkan. “Yaiks,” ujar anaknya.

“Bagaimana dengan telur mentah ?”

“You’re kidding me, Mom.”

“Mau coba tepung terigu atau baking soda ?”

“Mom, semua itu menjijikkan.”

Lalu Ibunya menjawab, “ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.” Tuhan bekerja dengan cara yang sama.

Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita. Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Jika anda merasa terberkati dengan artikel ini, kirimkan pada teman-teman yang anda kasihi, I already did…

Humor : Sepak Bola

Karena Smith kerap minta izin mengantar bibinya ke dokter, sang bos yang sabar memanggil Smith ke ruangannya.

"Aku perhatikan," kata sang Bos, "Setiap kali ada pertandingan sepak bola di stadion kota ini, kamu harus mengantar bibimu ke dokter!"

"Wahhh ... apa iya, Pak?", kata Smith. "Aku malah tidak menyadarinya. Anda tidak berpikir kalau Bibi saya bohong kan, Pak?"

Lost Sheep

A Word From Billy Graham »

The Bible says, "All we like sheep have gone astray" (Isaiah 53:6). Man is like sheep. We wander around blind; we get lost. We're lost from God. We've strayed from God.

Jesus tells a story of a lost sheep. This farmer had 99 sheep that were safe, but one had wandered away. He was lost. So this shepherd decided that he was going to go after the one lost sheep. After much searching, he found the sheep. And he called all of his friends together, and they rejoiced because he had found the sheep (Luke 15:4-6). Are you that one lost sheep? Jesus Christ would have died on the cross if no one had been lost but you. God loves you and He's searching for you.

The shepherd lives with his sheep. He gives them food and protection and security. Jesus said, "I am with you always, even to the end of the age" (Matthew 28:20). Whatever happens, however sick you may get—you may lose a child, you may lose a father or a mother—Jesus is with you. You're the sheep; He's the shepherd. He loves you, and He gave His life for you. When He died on the cross, God took all of our sins and laid them on Him.

Devotional Prayer:
Lord, we thank You for sending Jesus to find us when we had wandered far from You. Help us to stay close to you as we seek out those who are still lost and need to hear of the salvation that you offer them through Christ. We pray in Jesus’ name. Amen.

Billy Graham Ministries

Adakah Racun di Hati Anda?

Dahulu kala dinegeri Cina adalah seorang gadis bernama Li-li. Ia baru menikah dan tinggal di rumah mertuanya. Dalam waktu singkat ia tahu bahwa ia sangat tidak cocok tinggal serumah bersama ibu mertuanya, karakter mereka sangat jauh berbeda. Dan Li-li sangat tidak menyukai kebiasaan ibu mertuanya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan Li-li dan ibu mertuanya tidak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang paling Li-li kesal adalah adat kuno Cina yang mengharuskan ia harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati segala kemauannya. Semua kemarahan dan ketidak bahagiaan di dalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-li yang berjiwa sederhana.

Akhirnya Li-li merasa tidak tahan lagi terhadap sifat buruk dan kelakuan ibu mertuanya dan ia benar-benar bertekad untuk melaukan sesuatu. Li-li menjumpai seorang teman ayahnya seorang sinshe yang bernama Wang yang mempunyai Toko Obat Cina.  Ia menceritakan semua situasinya dan minta dibuatkan ramuan racun yang kuat untuk diberikan kepada ibu mertuanya. Sinshe Wang berpikir keras sejenak lalu ia berkata, "Li- li, saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu tapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan. "Baik,saya akan mengikuti apa yang bapak katakan".

Sinshe Wang masuk kedalam dan tak lama ia kembali dengan menggenggam sebungkus ramuan. "Kamu tidak bisa memakai racun yang keras yang mematikan seketika untuk menyingkirkan mertuamu karena hal itu akan membuat semua orang curiga. Oleh karena itu saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun ditubuhnya". Sinshe Wang melanjutkan, "Setiap hari, sediakan makanan yang enak-enak dan masukan sedikit ramuan obat ini ke dalamnya, lalu supaya tidak ada yang curiga saat ia akan mati, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya, jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya dan perlakuan dia seperti seorang ratu."

Li-li sangat senang. Ia berterimakasih kepada Sinshe Wang dan buru-buru pulang kerumah untuk melaksanakan niatnya membunuh sang ibu mertua. Minggu demi minggu, bulan demi bula berganti, setiap hari Li-li melayani mertuanya dengan makanan yang enak-enak yang sudah "dibumbuinya". Ia mengingat pesan sinshe Wang tenteang mencegah kecurigaan, maka ia mulai belajar untuk mengendalikan amarahnya, mentaati perintah ibu mertuanya dan memperlakukannya seperti ibu kandungnya sendiri.

Setelah enam bulan berlalu, suasana di dalam rumah berubah drastis. Li-li sudah mampu mengendalikan amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak lagi sering marah-marah atau kesal. Ia tidak pernah lagi berdebat dengan ibu mertuanya. Selama enam bulan terakhir ia mendapatkan ibu mertuanya kini lebih ramah padanya. Sikap sang ibu mertua terhadap Li-li telah berubah dan mulai mencintai Li-li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawannya dan sanak familinya bahwa Li-li adalah menantu yang paling baik yang ia peroleh. Li-li dan ibu mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak sesungguhnya. Suami Li-li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi.

Suatu hari Li-li pergi menjumpai sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi. Ia berkata, "Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya janagn sampai membunuhnya! Ia telah berubah menjadi seorang ibu yang begitu baik sehingga saya sangat mencintainya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan padanya.....".  Sinshe Wang tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya, "Li-li, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun.  Ramuan yang saya berikan kepadamu hanyalah ramuan penguat badan untuk menjaga kesehatan beliau.  Satu-satunya racun yang ada adalah yang terdapat di dalam pikiranmu sendiri dan di dalam sikapmu terhadapnya, tetapi semuanya telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.."

Renungan : Sadarkah anda bahwa sebagaimana anda memperlakukan orang lain maka demikianlah persis bagaimana mereka akan memperlakukan anda? Ada pepatah Cina kuno berkata: "Orang yang mencintai orang lain akan dicintai juga sebagai balasannya."