Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

04 August 2008

Datanglah Sebagaimana Adanya

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dalam ketidak percayaan. Tidak mungkin ini tempatnya. Sebenarnya, tidak mungkin aku diterima di sini. Aku sudah diberi undangan beberapa kali, oleh beberapa orang yang berbeda, dan baru akhirnya memutuskan untuk melihat tempatnya seperti apa sih. Tapi, tidak mungkin ini tempatnya. Dengan cepat, aku melihat pada undangan yang ada di genggamanku. Aku memeriksa dengan teliti kata-katanya, "Datanglah sebagaimana adanya kamu. Tidak perlu ditutup-tutupi," dan menemukan lokasinya. Ya, aku berada di tempat yang benar. Aku mengintip lewat jendelanya sekali lagi dan melihat sebuah ruangan yang penuh dengan orang-orang yang dari wajahnya terpancar sukacita. Semuanya berpakaian rapi, diperindah dengan pakaian yang bagus dan terlihat bersih seperti kalau mereka makan di restoran yang bagus. Dengan perasaan malu, aku memandang pada pakaianku yang buruk dan compang camping, penuh dengan noda. Aku kotor, bahkan menjijikan.

Bau yang busuk ada padaku dan aku tidak dapat membuang kotoran yang melekat pada tubuhku. Ketika aku akan berputar untuk meninggalkan tempat itu, kata-kata dari undangan tersebut seakan-akan meloncat keluar, "Datanglah sebagaimana kamu adanya. Tidak perlu ditutup-tutupi."

Aku memutuskan untuk mencobanya. Dengan mengerahkan semua keberanianku, aku membuka pintu restoran dan berjalan ke arah laki-laki yang berdiri di belakang panggung.

"Nama Anda, Tuan?", ia bertanya kepadaku dengan senyuman.

"Daniel F. Renken," kataku bergumam tanpa berani melihat ke atas. Aku memasukkan tanganku ke kantongku dalam-dalam, berharap untuk dapat menyembunyikan noda-nodanya.

Ia sepertinya tidak menyadari kotoran yang berusaha aku sembunyikan dan ia melanjutkan, "Baik, Tuan. Sebuah meja sudah dipesan atas nama Anda. Anda mau duduk?"

Aku tidak percaya atas apa yang aku dengar! Aku tersenyum dan berkata, "Ya, tentu saja!". Ia mengantarkanku ke sebuah meja dan, cukup yakin, ada plakat dengan namaku tertera dengan tulisan tebal merah tua.

Ketika aku membaca-baca menunya, aku melihat berbagai macam hal-hal yang menyenangkan tertera di sana. Hal-hal tersebut seperti "damai", "sukacita", "berkat", "kepercayaan diri", "keyakinan", "pengharapan", "cinta kasih", "kesetiaan", dan "pengampunan". Aku sadar bahwa ini bukan restoran biasa! Aku mengembalikan menunya ke depan untuk melihat tempat di mana aku berada. "Kemurahan Tuhan," adalah nama dari tempat ini !

Laki-laki tadi kembali dan berkata, "Aku merekomendasikan sajian spesial hari ini. Dengan memilih spesial menu hari ini, Anda berhak untuk mendapatkan semua yang ada di menu ini."

Kamu pasti bercanda! pikirku dalam hati. Maksudmu, aku bisa mendapat SEMUA yang ada dalam menu ini ?

"Apa menu spesial hari ini ?" aku bertanya dengan penuh kegembiraan.

"Keselamatan," jawabnya.

"Aku ambil," jawabku spontan. Kemudian, secepat aku membuat keputusan itu, kegembiraan meninggalkan tubuhku. Sakit dan penderitaan merenggut lewat perutku dan air mata memenuhi mataku. Dengan menangis tersedu sedan, aku berkata, "Tuan, lihatlah diriku. Aku ini kotor dan hina. Aku tidak bersih dan tidak berharga. Aku ingin mendapat semuanya ini, tapi aku tidak dapat membelinya.

Dengan berani, laki-laki itu tersenyum lagi. "Tuan, Anda sudah dibayar oleh laki-laki di sebelah sana," katanya sambil menunjuk pintu masuk ruangan. "Namanya Yesus."

Aku berbalik, aku melihat seorang laki-laki yang kehadirannya membuat terang seluruh ruangan itu. Aku melangkah maju ke arah laki-laki itu, dan dengan suara gemetar aku berbisik, "Tuan, aku akan mencuci piring-piring atau membersihkan lantai atau mengeluarkan sampah. Aku akan melakukan apa pun yang bisa aku lakukan untuk membayarMu kembali atas semuanya ini."

Ia membuka tangannya dan berkata dengan senyuman, "Anakku, semuanya ini akan menjadi milikmu, cukup hanya bila kamu datang kepada-Ku. Mintalah padaKu untuk membersihkanmu dan Aku akan melakukannya. Mintalah padaKu untuk membuang noda-noda itu dan itu terlaksana. Mintalah pada-Ku untuk mengijinkanmu makan di meja-Ku dan kamu akan makan. Ingat, meja ini dipesan atas namamu. Yang bisa kamu lakukan hanyalah MENERIMA pemberian yang sudah Aku tawarkan kepadamu."

Dengan kagum dan takjub, aku terjatuh di kaki-Nya dan berkata,"Tolong, Yesus. Tolong bersihkan hidupku. Tolong ubahkan aku, ijinkan aku duduk di meja-Mu dan berikan padaku sebuah hidup yang baru."

Dengan segera aku mendengar, "Sudah terlaksana." Aku melihat pakaian putih menghiasi tubuhku yang sudah bersih. Sesuatu yang aneh dan indah terjadi. Aku merasa seperti baru, seperti sebuah beban sudah terangkat dan aku mendapatkan diriku duduk di meja-Nya.

"Menu spesial hari ini sudah dipesan," kata Tuhan kepadaku. "Keselamatan menjadi milikmu."

Kami duduk dan bercakap-cakap untuk beberapa waktu lamanya dan aku sangat menikmati waktu yang kuluangkan denganNya. Ia berkata kepadaku, kepadaku dan kepada semua orang, bahwa Ia ingin aku kembali sesering aku ingin bantuan lain dari kemurahan Tuhan. Dengan jelas Ia ingin aku meluangkan waktuku sebanyak mungkin denganNya.

Ketika waktu sudah dekat bagiku untuk kembali ke 'dunia nyata', Ia berbisik padaku dengan lembut, "Dan Daniel, AKU MENYERTAI KAMU SELALU." Dan kemudian, Ia berkata sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan. Ia berkata, "Anakku, lihatkah kamu beberapa meja yang kosong di seluruh ruangan ini ?"

"Ya, Tuhan. Aku melihatnya. Apa artinya?", jawabku.

"Ini adalah meja-meja yang dipesan, tapi tiap-tiap individu yang namanya tertera di tiap plakat ini belum menerima undangan untuk makan. Maukah kamu membagikan undangan-undangan ini untuk mereka yang belum bergabung dengan kita?", Yesus bertanya.

"Tentu saja," kataku dengan kegembiraan dan memungut undangan tersebut.

"Pergilah ke seluruh bangsa," Ia berkata ketika aku pergi meninggalkan restoran tersebut.

Aku berjalan masuk ke "Kemurahan Tuhan" dalam keadaan kotor dan lapar. Ternoda oleh dosa. Asalku bagai kain tua yang kotor. Dan Yesus membersihkanku. Aku berjalan keluar seperti orang yang baru... berbaju putih, seperti Dia. Dan, aku menepati janjiku pada Tuhanku.

Aku akan pergi.

Aku akan menyebarkan luaskan perkataanNya.

Aku akan memberitakan Injil ...

Aku akan membagikan undangan-undangannya.

Dan aku akan memulainya dengan kamu. Pernahkah kamu pergi ke restoran "Kemurahan Tuhan?" Ada sebuah meja yang dipesan atas namamu, dan inilah undangan untukmu... "DATANGLAH SEBAGAIMANA KAMU ADANYA. TIDAK PERLU DITUTUP-TUTUPI."

03 August 2008

Ingin Jadi Apa?

Nats : Kata Yesus kepada mereka, "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya (Yohanes 2:8)

Bacaan : Yohanes 2:1-11

Suatu kali dalam sebuah persekutuan keluarga, saya mengajukan sebuah pertanyaan. Jika mereka diajak berandai-andai menjadi salah satu tokoh dalam kisah pernikahan di Kana, siapakah yang akan mereka pilih?

Suasana menjadi ramai. Ada yang ingin menjadi ibu Maria, sang perantara hingga mukjizat terjadi. Ada yang mau menjadi pelayan, menyaksikan bagaimana mukjizat terjadi. Ada yang ingin menjadi pemimpin pesta, yang cuma tahu beres. Ingin menjadi pengantinnya? Ada juga! Ada yang ingin jadi tempayan, wadah di mana mukjizat itu terjadi. Yang unik, ada yang ingin menjadi Yesus, sang pembuat mukjizat! Namanya berandai-andai, bisa saja ada yang berpikir begitu. Terakhir ada yang menjawab ingin menjadi tamu saja, menikmati mukjizat.

Setelah tak ada jawaban lain lagi, tiba-tiba seseorang menyeletuk, "Lalu, Anda sendiri mau jadi apa dong?". "Saya ingin menjadi air biasa yang digunakan untuk pembasuhan waktu itu," begitu jawab saya. Ya, itulah kerinduan saya. Menjadi air putih biasa, yang kemudian diubah oleh Yesus menjadi anggur. Bukan sembarang anggur, tetapi anggur yang baik (ayat 10), yang membawa sukacita bagi banyak orang.

Saya sadar, ini sangat sulit untuk dipraktikkan. Diubah oleh Tuhan Yesus bahkan bisa terasa berat dan menyakitkan. Namun, jika kita sungguh-sungguh rindu hidup kita yang biasa-biasa menjadi bermakna, bukankah kita mesti rela dikoreksi, diajar, bahkan jika perlu, dihajar? Dan satu hal yang pasti, untuk menjadi apa pun setiap kita mesti taat kepada-Nya terlebih dahulu supaya dapat menjadi berkat bagi orang lain -MNT

UNTUK MENJADI PRIBADI YANG BERHARGA
ADA HARGA YANG HARUS DIBAYAR

SABDA.org

02 August 2008

Weeken's Scripture (Amsal 18:21)

Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan. (Amsal 14:29)

Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh. (Pengkhotbah 7:9)

Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21)

Is GOD Real?

God are you real? The little child whispered, "God, speak to me". And a meadowlark sang. But the child did not hear. So the child yelled, "God, speak to me!"

And the thunder rolled across the sky But the child did not listen. The child looked around and said, "God let me see you". And a star shone brightly, but the child did not notice.

And the child shouted, "God show me a miracle!" and a life was born but the child did not know. So the child cried out in despair, "Touch me God, and let me know you are there!"

Whereupon God reached down and touched the child. But the child brushed the butterfly away And walked away unknowingly.

Author Unknown

Daftar Kebaikan

Suatu hari seorang guru meminta kepada para muridnya untuk membuat daftar semua nama murid di kelas itu pada dua lembar kertas, dan memberikan tempat kosong di setiap nama. Kemudian ia meminta mereka untuk memikirkan hal yang terbaik mengenai teman mereka dan menuliskannya. Tugas itu ternyata menyita sisa waktu pelajaran untuk diselesaikan, dan ketika para murid meninggalkan kelas, setiap orang menyerahkan hasilnya. Sabtu itu, sang guru menuliskan nama dari setiap murid di kertas yang terpisah, lalu membuat daftar apa yang telah dikatakan oleh murid yang lain mengenai murid itu.

Dan pada hari senin, ia memberikan setiap murid daftarnya. Tidak lama kemudian, seluruh kelas mulai tersenyum. "Sungguh" ia mendengar suara bisik-bisik.

"Aku tidak tahu bahwa aku berarti untuk orang lain!" dan, "Aku tidak tahu kalau yang lain sangat menyukaiku." Begitulah komentar yang didengarkan oleh sang guru. Tidak ada orang yang menyinggung daftar itu di kelas lagi. Ia tidak pernah tahu apakah para murid membicarakannya di luar kelas atau kepada para orang tua mereka, tetapi tidak masalah. Latihan itu telah sampai tujuannya. Para murid sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lainnya.

Berapa tahun kemudian, salah seorang dari murid itu tewas terbunuh di Vietnam dan gurunya menghadiri pemakaman murid itu. Ia tidak pernah melihat seorang tentara di dalam peti jenazah militer sebelumnya. Muridnya itu sangat tampan, sangat dewasa. Seluruh gereja dipenuhi oleh teman-temannya. Satu persatu yang mencintainya menghampiri peti jenazah itu. Sang guru adalah orang yang terakhir yang mengucapkan salam perpisahan. Ketika ia berdiri di sana, salah seorang dari tentara yang bertugas sebagai pengangkut peti jenazah itu menghampirinya.

"Apakah kamu guru matematikanya Mark?", tanyanya.

Sang guru mengangguk, "Iya."

Kemudian tentara itu melanjutkan, "Mark banyak membicarakan dirimu."

Setelah pemakaman, bekas teman sekelas Mark bersama-sama pergi ke tempat makan siang, ayah dan ibu Mark ada di sana, sangat jelas terlihat bahwa mereka tidak sabar untuk berbicara dengan guru Mark.

"Kami ingin memperlihatkan sesuatu padamu," kata ayah Mark, sambil mengambil dompet dari sakunya.

"Mereka menemukan benda ini pada Mark ketika ia tewas. Kami kira Anda mungkin akan mengenalinya". Sambil membuka dompet itu, ayah Mark dengan sangat hati-hati mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah diisolasi, dilipat berkali-kali.

Sang guru langsung mengenalinya, bahwa kertas itu adalah kertas yang dibuat olehnya, yang berisikan daftar kebaikan Mark yang ditulis oleh teman-teman sekelasnya. "Terima kasih karena telah melakukan hal itu," ibu mark berkata.

Semua mantan teman sekelas Mark mulai berkumpul. Charlie tersenyum dengan malu-malu Sambil berkata, "Aku juga masih menyimpan daftarku. Daftarku itu berada di bagian atas laci Meja belajarku di rumah". lstri Chuck berkata, "Chuck memintaku untuk meletakkannya di album pernikahan kami".

Aku juga memilikinya," kata Marilyn. "Daftarku ada dalam buku harianku".

Kemudan Vicki, Teman sekelas yang lain, mengambil buku sakunya, kemudian mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan daftarnya yang sudah kusam dan lecek kepada yang lain.

"Aku membawanya bersamaku setiap waktu,' ujar Vicki, lalu sambungnya, "Aku rasa kita semua menyimpan daftar kita masing-nasing ".

Pada saat itu, sang guru terduduk dan menangis. Ia menangis karena Mark dan seluruh temannya tidak Akan mungkin melihat Mark kembali.

Begitu banyak orang yang datang dan pergi di kehidupan kita. Dan kita tidak mengetahui kapan hari itu akan tiba. Jadi katakanlah kepada orang yang Anda kasihi dan cintai bahwa mereka sangat penting dan special dalam kehidupan anda, katakanlah kepada mereka sebelum terlambat.

Harus Dimainkan

Nats : Marilah kita ... berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus (Ibrani 12:1,2)

Bacaan : Ibrani 12:1-12

Di kota Cremona, Italia, didirikan sebuah museum biola. Di museum itu ada ratusan biola kenamaan yang dipajang, termasuk yang sudah berusia lebih dari tiga ratus tahun. Andrea Masconi ditugaskan untuk merawat biola-biola tersebut. Selama tiga puluh tahun, tiap pagi ia memainkan sekitar sepuluh biola bergantian. Tiap biola dimainkannya selama enam sampai tujuh menit. Tujuannya supaya kualitas suaranya tetap terjaga. "Kayu biola bagai otot manusia. Jika tidak dimainkan bakal cepat kendor dan rusak," katanya.

Otot rohani kita juga harus dipakai agar tetap berfungsi prima. Hidup kristiani bagaikan "perlombaan lari yang diwajibkan" (ayat 1). Tiap peserta harus melatih otot tubuhnya tiap hari. Memang melelahkan, tetapi itulah satu-satunya cara mempertahankan stamina otot. Dalam pertandingan iman, otot rohani bisa dilatih lewat ujian dan masalah. Tak heran, kadang Tuhan memberi "ganjaran" (ayat 7-9). Kadang kita dibiarkan menghadapi masalah rumit. Di waktu lain, kita dihadapkan dengan ujian iman yang berat. Lewat semua itu kita bisa melatih kesabaran, kepekaan, dan kebergantungan diri kepada-Nya. Dia menghajar kita untuk kebaikan kita (ayat 10).

Apakah Anda sering meragukan kasih Allah, ketika menempuh jalan hidup yang sulit? Pernahkan Anda merasa iri melihat orang lain hidup lebih nyaman, sedang hidup Anda penuh perjuangan? Percayalah, Allah mengizinkan banyak persoalan datang, karena Dia ingin terus membentuk hidup kita. Seperti Andrea Masconi, setiap pagi Dia menggesek dawai hidup kita supaya tetap berada dalam kondisi prima. Tidak kendur. Berjuanglah bersama-Nya -JTI

ALLAH TIDAK MENGANUGERAHKAN KEMENANGAN
TANPA LATIHAN DAN PERJUANGAN

SABDA.org

01 August 2008

FUN : MATHEMATICS

Jangan beritahu saya usia kamu; kamu mungkin bohong tapi pelayan restoranmu mungkin tahu! Perhitungan Umur Matematis Berdasarkan FREKUENSI ke Rumah Makan. Caranya cukup unik.

JANGAN CURANG!!

Hanya butuh waktu kurang dari semenit, sambil Anda baca ini. Pastikan jangan baca bagian bawah sampai Anda selesai mengerjakan ini. Pasti seru deh..

1. Pilih berapa kali seminggu Anda akan makan di luar rumah (lebih dari satu kali tapi kurang dari 10).
2. Kalikan 2 (supaya genap).
3. Tambah 5.
4. Kalikan dengan 50.
5. Kalau Anda sudah merayakan HUT Anda tahun ini, tambah 1758. Kalau belum, tambah 1757.
6. Sekarang dikurangi dengan 4 digit tahun kelahiran Anda.
7. Hasilnya harus angka 3 digit.

Digit pertama adalah angka awal yang Anda pilih (berapa kali Anda akan makan di luar rumah dalam seminggu)

2 angka berikutnya yaitu.... UMUR ANDA ............. (Oh YA, pasti)

Tahun ini adalah tahun di mana perhitungan ini berlaku (2008). Jadi sebarkan ke teman-teman Anda selagi masih berlaku.

Lectio Divina : Seni Mendengarkan Suara Tuhan

Apakah Anda pernah merasa sedang menjalani hari yang begitu buruk, tidak bersemangat dalam belajar maupun bekerja, dan penuh emosi? Lalu Anda menyadari bahwa semua itu terjadi karena Anda "bolos" berjumpa dengan Tuhan; belum doa pagi sebelum memulai seluruh aktivitas. Hal-hal tersebut akhirnya memunculkan rasa bersalah dalam diri kita.

Rasa bersalah akibat tidak setia datang dan berdoa kepada Tuhan memang perlu, tetapi rasa bersalah saja hanya akan membuat kita terjebak dalam hidup yang legalistik. Tuhan kita adalah Pribadi yang penuh belas kasihan dan anugerah. Karena itu, dengan kesadaran dan kerinduan kita perlu menyandarkan hidup kita pada tangan pemeliharaan-Nya, melakukan waktu teduh sebagai prioritas utama hari demi hari.

Orang kristiani perlu membangun keintiman dengan Tuhan supaya mampu memberi inspirasi, baik bagi diri sendiri maupun lingkungannya, bukan menjadi semikin tidak peka dan tumpul rohani. Orang kristiani perlu mengembangkan seni mendengarkan suara Tuhan dalam doa dan berdiam diri sehingga keintiman dengan Tuhan bisa terjaga. Salah satu metode mendengar suara Tuhan dalam doa dan berdiam diri adalah Lectio Divina.

Lection Divina merupakan disiplin rohani untuk mengasah dan menajamkan kepekaan dalam mendengar suara Tuhan. Disiplin ini bukan bertujuan membuat kita menjadi seperti biarawan atau biarawati; hidup terpisah dari dunia; mengasingkan diri dari budaya dan perkembangannya. Disiplin ini juga bertujuan agar kita mengerti bagaimana bersikap dan berinteraksi dengan dunia ini. Lectio Divina mengasah telinga kita untuk mendengar suara-Nya demi menjalani kehendak-Nya.

Lectio Divina berasal dari kata Yunani Lectio berarti "proses membaca" dan Divina berarti "spiritual". Jadi Lectio Divina adalah sebuah seni mendengarkan suara Tuhan melalui meditasi Firman. Disiplin rohani ini merujuk pada peristiwa Nabi Elia yang tidak merasakan kehadiran Tuhan lewat hal-hal spektakuler; Tuhan justru berbicara dengan begitu lembut lewat angin sepoi-sepoi kepada Elia (1 Raja-raja 19:12). Demikian pula melalui Lectio Divina, kita akan mendengar suara Tuhan dengan lembut dan jelas lewat meditasi Firman.

Lectio Divina adalah praktik spiritualitas kristiani yang diperkenalkan sejak tahun 220 Masehi oleh seorang bapa gereja bernama Origen. Ia adalah tabib Yahudi dan teolog dari Alexandria. Origen mengajarkan cara membaca Alkitab yang dapat memberikan manfaat maksimal bagi pengikut Kristus, yaitu membaca dengan penuh perhatian, konsistensi, dan doa. Sayangnya, setelah reformasi, gereja banyak membuang kekayaan spiritual ini. Kalangan Gereja Roma Katolik masih menjalankan tradisi ini sampai sekarang. Bahkan Paus Benedictus XVI berkata, "Saya ingin mengingat dan merekomendasikan tradisi spiritualitas kuno yang dikenal sebagai Lectio Divina : pembacaan Kitab Suci dengan rajin disertai doa yang intim untuk berdialog dengan Tuhan. Mendengar Tuhan berbicara lewat berdiam diri dan Firman-Nya. Merespons Tuhan dengan hati yang terbuka. Saya yakin bila disiplin rohani ini kembali dilaksanakan, musim semi hidup rohani akan terus terjadi". Kini, disiplin rohani ini perlahan-lahan kembali diperkenalkan di gereja-gereja Protestan.

Langkah Praktis dalam Lectio Divina :

  1. Silencio : proses menyiapkan diri untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan.
    • Carilah tempat yang tepat. Sesuaikan dengan kondisi rumah Anda. Intinya Anda bisa menenangkan diri.
    • Hindarilah kebisingan
    • Ambilan posisi duduk yang nyaman.
    • Berdiam dirilah dan miliki keyakinan akan kehadiran Tuhan.
  2. Lectio : proses membaca firman Tuhan
    • Tentukan ayat-ayat yang hendak Anda baca.
    • Jangan terlalu khawatir tentang berapa ayat atau pasal yang harus dibaca. Jangan pula merasa bersalah bila tidak dapat menyelesaikan bacaan.
    • Mulailah membaca bagian Alkitab dengan tempo yang lambat; lebih lambat dari biasanya
    • Baca beberapa kali bagian Alkitab tersebut.
  3. Meditatio : proses "mengunyah" isi firman Tuhan.
    • Cobalah untuk memahami bacaan Anda.
    • Fokuslah pada satu kata/frasa/kalimat dari sebuah ayat. Ayat mas yang terdapat di Renungan Harian dapa pula Anda pilih.
    • Hafalkan dan izinkan kata/frasa/kalimat tersebut berinteraksi dengan batin Anda.
    • Hubungkan ayat hafalan tersebut dengan konteks kehidupan Anda.
  4. Oratio : proses menanggapi firman Tuhan melalui dialog pribadi dengan Tuhan
    • Gunakan apa yang sudah Anda hafalkan dan berdialoglah dengan Tuhan.
    • Nyatakan perasaan dan isi hati Anda di hadapan-Nya : kesedihan, sukacita, kekaguman, kemarahan, sakit hati, kekecewaan, dan sebagainya.
    • Ingat, dialog adalah komunikasi dua arah. Jadi, Anda perlu berdiam diri dan sabar menanti Tuhan berbicara melalui perenungan firman.
  5. Contemplatio : proses meresapi kasih dan kebaikan Tuhan yang memberi rasa aman dan damai yang melampaui akal budi kita.
    • Berdiam dirilah
    • Nantikan Tuhan berbicara dan memberikan tekad dalam hati Anda. Jangan keraskan hati Anda ketika suara Tuhan terdengar dan memberikan sebuah tugas/panggilan pelayanan.
    • Apabila ada yang ingin Anda sampaikan kepada Tuhan, nyatakanlah. Gunakan kata-kata seperlunya. Bila tidak, kembali berdiam diri.
  6. Incarnatio : proses mengambil penerapan praktis.
    • Tuliskan tekad atau komitmen Anda di secarik kertas
    • Selanjutnya lakukan dengan setia

Disiplin ini memerlukan waktu yang panjang dan tak mudah bila Anda terlalu sibuk bekerja atau belajar. Namun jangan patah semangat, karena bila Anda sudah mengecap keuntungan dari Lectio Divina, kehidupan Anda akan mengalami transformasi yang luar biasa ajaib. Anda akan lebih peka pada suara Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Biarlah melalui pengenalan yang benar akan Dia, hidup kita mengalami transformasi, sehingga dimampukan untuk membawa terobosan rohani dimana pun kita ditempatkan.

Oleh : Budianto Lim

Sumber : Renungan Harian Edisi Agustus 2008

The Right Choice

Buku ini berisi kisah-kisah inspiratif yang mendorong Anda untuk mengambil keputusan positif dalam menghadapi segala kesulitan hidup.

Pernahkan Anda menghadapi situasi yang membuat Anda tertekan atau menghadapi dilema yang tidak kunjung selesai? Tentu saja pernah! Setiap hari kita dihadapkan pada kesulitan hidup.

Dalam buku ini, Kendra Smiley memaparkan pengalaman hidup para wanita yang senasib dengan kita. Kisah-kisah itu diramu dengan indah dan memberikan secercah harapan serta dorongan semangat. Anda akan tertawa dan menangis saat membaca kisah para wanita yang menolak membiarkan situasi menghancurkan sikap positif mereka. Berikut ini adalah salah satu kisahnya.

Sebelum menikah, saya sudah menjadi guru selama beberapa tahun. Pada satu tahun ajaran, saya menghadapi sekelompok siswa kelas 4 yang tidak begitu akur satu sama lain. Mereka menghormati saya dan menjadi pendengar yang baik, tetapi mereka selalu bertengkar.

Pada suatu hari, perselisihan mereka akhirnya membuat kesabaran saya habis. Saya sudah muak dengan sikap buruk mereka. Kurang lebih tiga menit sebelum istirahat, saya meminta para siswa untuk mengeluarkan sehelai kertas dan pensil.

"Tuliskan nama kalian di ujung atas kertas," saya memulai. "Pada baris berikutnya, ibu ingin kalian menuliskan nama orang yang paling tidak kalian inginkan menjadi teman sebangku kalian. Lalu lipas kertas kalian."

"Apakah kami hanya menuliskan satu nama?", banyak yang bertanya demikian.

"Bolehkan saya membuat sebuah daftar?", tanya seorang pemuda yang kelihatan tidak setuju.

"Satu nama saja," jawab saya dan berhenti sejenak hingga tugas itu diselesaikan oleh semua siswa. "Sekarang, beri nomor 1,2,3 pada kertas kalian dan tuliskan tiga kebaikan orang yang namanya kalian tuliskan di atas kertas. Tuliskan tiga hal yang patut dipuji dari orang tersebut."

Saya berkata, "Begitu selesai, kalian boleh keluar kelas untuk istirahat."

Mereka semua neyelesaikan tugas itu. Memang latihan kecil itu tidak langsung menimbulkan perubahan besar bagi kelas kami. Namun, mereka memperlakukan satu sama lain dengan lebih ramah untuk beberapa waktu. Hal itu menimbulkan perbedaan yang positif dalam sikap dan interaksi mereka. Memilih untuk memuji seseorang adalah pilihan yang baik, pilihan yang memberi kekuatan.

Memuji seseorang dengan jujur dan tulus menimbulkan konsekuensi yang menakjubkan. Memfokuskan perhatian pada seseorang, memuji orang lain, dapat menumbuhkan sikap yang positif. Dan itu merupakan suatu pilihan. Kita dapat memilih untuk memuji orang-orang dalam hidup kita atau tidak.

Sumber : The Right Choice, Kendra Smiley, Gloria Gaffa, 2008)

Suatu Pemberian Kepada Allah

“Karena apa yang dilakukan Kristus, kita menjadi suatu pemberian yang kepada Allah yang menyukakan hati-Nya”. - Efesus 1:11

Si Upik yang lincah yang baru berusia tiga tahun, selalu muncul di depan pintu setiap pagi bagaikan cahaya sinar matahari. Penuh dengan senyum, keceriaan wajah, dan nyanyian dia benar-benar cahaya yang menyinari kehidupan kami. Tatapan matanya yang sejuk dan derai tawanya yang merdu, memancarkan sukacita. Rambut ikalnya yang sedang bertumbuh dan sepasang matanya yang bercahaya dipagari bulu-bulu mata, sungguh merupakan pemandangan yang sempurna. Meskipun dia merasa bisa melakukan sesuatu sendiri, tanpa bantuan dan pertolongan kami, dia benar-benar menyukakan kami. Dia sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga kami dan melengkapi hari-hari kepedulian kami dengan kegembiraan.

Demikian juga Allah, Dia mengasihi dan hati-Nya suka terhadap kita anak-anak-Nya. Masing-masing kita dirancang oleh Allah, sebagai karya seni Allah, dan merupakan salah satu dari karya-karya asli-Nya. Dia memilih kita sebelum dunia dijadikan untuk dijadikan harta milik kepunyaan-Nya, yang selalu dekat di hati-Nya dan yang menyukakan hati-Nya.

Tanggapan awal saya akan kenyataan itu adalah, bagaimana aku dapat menyukakan hati Allah? Aku tahu, aku ini siapa dan seperti apa, dan saya tidak selalu menyungging senyum tulus di hadapan-Nya. Memang menyedihkan kami, ketika kami harus mendisiplinkan si Upik karena dia nakal dan agak bandel, tetapi dia bersedia dan mau untuk diajar dan belajar untuk taat. Kita dapat mencuri kesukaan Allah untuk sesaat jika kita memberontak, namun pada saat kita menanggapi dengan baik disiplin, hajaran dan didikan-Nya, hal itu sangat menyukakan hati-Nya.

Meskipun sangat jauh dari pemahaman kita untuk mengerti, kenyataan tetap kenyataan. Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kita ini adalah suatu pemberian kepada Allah yang menyukakan hati-Nya di dalam dan melalui penebusan Yesus Kristus.

Doa: “Tuhan, aku tidak mengerti bagaimana Engkau suka kepadaku, tetapi aku rindu untuk mendatangkan kesukaan bagi-Mu dengan menanggapi kasih-Mu itu sebaik-baiknya.”

31 July 2008

Completely Satisfied

Today's Scripture

“Blessed, fortunate, happy and spiritually prosperous…are those who hunger and thirst for righteousness, uprightness and right standing with God, for they shall be completely satisfied” (Matthew 5:6 AMP).

Today's Word from Joel and Victoria

God longs to pour out his abundant blessing on every area of your life. He wants you to live completely satisfied. When you hunger and thirst for righteousness--God’s way of doing things--then you will live in complete satisfaction. You direct your hunger by choosing what you focus on. For example, if you focus on your favorite food, if you start thinking about it early in the morning, and all throughout the day, chances are, by the end of the day you’ll be eating it! What you give your attention to, you will desire. In the same way, the more you give your attention to God and His Word, the more you will hunger for Him. Just like the scripture promises, when you hunger for righteousness, you will be completely satisfied. The world offers so many things for you to give your attention to, but they aren’t things that will satisfy. You might think you want a particular car, or certain clothes, or live in a particular neighborhood. There’s nothing wrong with those things, but understand that “things” won’t ever satisfy you. Recognize that only God will satisfy you. As you hunger for Him, you’ll live in peace and blessing and live completely satisfied all the days of your life!

A Prayer for Today

Father in Heaven, I come to You today, I ask for forgiveness for allowing anything to capture my heart and attention more than You. I choose today to give You top priority, and choose to hunger for Your righteousness. In Jesus’ Name. Amen.

Joel Osteen Ministries