Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 July 2008

Kekuatiran Yang Bodoh

Nats : Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri (Matius 6:34)

Bacaan : Matius 6:25-34

Ralph Easter telah berulang kali mengemudi dari Calgary, sebuah kota di kaki bukit Alberta, menuju Banff, sebuah dataran tinggi di Canadian Rockies. Ia pernah bercerita bagaimana perjalanan pertamanya ke sana memberi kesan yang tak terlupakan baginya. Saat jalanan yang ia lalui membelok ke barat dari Calgary dan melewati deretan perbukitan, tiba-tiba di depannya tampak barisan puncak bukit bersalju yang seolah-olah hendak memotong dan mengakhiri jalan. Pada saat itu ia merasa ragu bagaimana caranya melewati rintangan yang tampaknya sukar dilalui itu. Akan tetapi ia tetap melanjutkan perjalanan dan mengemudi dengan mantap.

Akhirnya, ketika mencapai ujung jalan yang kelihatannya akan berakhir itu, ternyata ia mendapati sebuah kelokan yang tajam hingga seketika jalanan kembali terbentang seperti sebelumnya. Selanjutnya, kelokan-kelokan jalan membawanya berjalan terus dan naik sampai ke sisi lain dari bukit.

Manakala kita mengarungi kehidupan, berbagai rintangan sering kali tampak menghadang, sehingga kita takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Keadaan sakit, operasi, kebangkrutan, atau kehilangan pekerjaan seakan menghalangi kita untuk mencapai tujuan. Namun jika kita tetap beriman, Allah akan membuka jalan baru di depan kita. Banyak hal yang kita kuatirkan ternyata tidak benar-benar terjadi. Kalaupun ada masalah yang datang, Allah akan senantiasa hadir dan membukakan jalan bagi kita. Kita dapat menghindari kekuatiran yang bodoh dengan mempercayakan masa depan kita kepada-Nya --RWD

ALLAH TAK PERNAH MEMINTA KITA
MENANGGUNG BEBAN KEKUATIRAN

SABDA.org

Tuhan Tidak Pintar Matematika

Dari pengamatan saya terhadap keseharian yang saya temui, saya dapat menyimpulkan satu hal : Tuhan memang serba bisa, tapi Dia tidak pintar matematika.

Kesimpulan ini bukan tanpa dasar lho. Banyak bukti empiris yang mendukung kesimpulan saya ini. Sebagai seorang "fresh graduate", saya tak mungkin mengharapkan penghasilan tinggi dalam waktu sekejap. Terlebih karena saya memegang prinsip bahwa hal yang terpenting dalam bekerja adalah kepuasan hati. Saya lebih memilih pekerjaan yang mungkin tak segemerlap pekerjaan yang dipilih teman-teman seangkatan saya, tapi mampu "memuaskan" idealisme saya. Saya memang sangat mencintai dan menikmati pekerjaan saya saat ini. Tapi saat saya berbincang dengan seorang teman yang bekerja di ibukota, ia mulai membandingkan penghasilan kami (dari sisi finansial tentunya). Jelas saja saya kalah telak darinya. Saya sempat jengkel sebentar. Bagaimana tidak? Selama bermahasiswa, sepertinya prestasi kami sejajar, bahkan saya lebih dahulu lulus ketimbang dia. Tapi kenapa Tuhan tidak menitipkan rejeki yang sama besarnya dengan yang dititipkan pada teman saya ini?

Tapi, begitu saya merenungkan kembali segala kebaikan Tuhan saya menemukan satu hal yang luar biasa. Ternyata penghasilan saya yang tak seberapa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya, bahkan untuk mengirim adik ke bangku kuliah. Padahal logikanya pengeluaran saya per bulannya bisa sampai dua kali lipat penghasilan saya. Lalu darimana sisa uang yang saya dapat untuk menutupi kesemuanya itu? Wah, ya dari berbagai sumber. Tapi saya percaya tanpa campur tangan-Nya, itu semua tidak mungkin. Nah, ini salah satu alasan mengapa Tuhan tidak pintar matematika. Lha wong seharusnya neraca saya sudah njomplang kok masih bisa terus hidup.

Bukti kedua adalah kesaksian seorang teman. Ia mengaku kalau semenjak lajang, penghasilannya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Anehnya, pada saat ia masih membujang, penghasilannya selalu pas. Maksudnya, pas akhir bulan pas uangnya habis. Anehnya, begitu ia berkeluarga dan memiliki anak, dengan penghasilan yang relatif sama, ia masih bisa menyisihkan uang untuk menabung. Aneh bukan? Berarti kalau bagi manusia 1 juta dibagi satu sama dengan 1 juta dan 1 juta dibagi dua sama dengan 500 ribu, tidak demikian bagi Tuhan. Dari kesaksian teman saya, satu juta dibagi 3 sama dengan satu juta dan masih sisa. Betul kan bahwa Tuhan itu tidak pintar matematika?

Ah, saya cuma bercanda kok. Buat saya, kalau dilihat dari logika manusia Dia memang tidak pintar matematika. Mungkin murid saya yang kelas 2 SD lebih pintar dari Dia. Tapi satu hal yang harus digarisbawahi : MATEMATIKA TUHAN BEDA DENGAN MATEMATIKA MANUSIA.

Saya tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah sanggup mengetahui persamaan apa yang digunakan Tuhan. Tapi kalau boleh saya menggambarkan, ya kira-kira demikian : X=Y dimana X=pemberian Tuhan, Y=kebutuhan. Ya, Tuhan selalu mencukupkan apapun kebutuhan kita. Tanpa kita minta pun, Dia sudah "menghitung" kebutuhan kita dan menyediakan semua lewat jalan-jalan-Nya yang terkadang begitu ajaib dan tak terduga. Menyadari hal itu, saya bisa menanggapi cerita teman-teman yang "sukses" dengan penghasilan tinggi di luar kota dengan senyum manis. Soal penghasilan Tuhan yang mengatur. Untuk apa saya memusingkan diri dengan berbagai kekhawatiran sementara Dia telah menghidangkan rejeki di hadapan saya. Yang perlu saya lakukan hanyalah melakukan bagian saya yang tak seberapa ini sebaik mungkin, dan Ia yang akan mencukupkan segala kebutuhan saya.

Amin...

Control Everything That Can Be Controlled

We are often spending our time and energy to feel worry about all the things which is out of our control. We try so hard to control uncontrollable peoples or things, manipulating everything and got frustrated that all we have done is useless. 4 things which are normally uncontrollable in our life are :

1. Other people
We cannot change our partner, children, boss or colleagues, even if we want it to.

2. Our inheritance
We cannot choose the family where we were born, or we will be born as a boy or a girl.

3. Our past
Some of us would like to change our past. Sins, mistakes, bad decisions, wrong curves, which all of this obsessed us and we often imagine if we can control our past. We are all known there is nothing we can do to change our past.

4. Environment and our surrounding
There are many things in our life which cannot be controlled. Economics, drunk driver who crashed your car, living cost, weather, etc. If we try to control the uncontrollable things, it would be ended almost every time with frustration and disenchantment, and we harmed our self. If we try to control the uncontrollable peoples in our life, the truth which is happening is that we destroy out own happiness. Knowing that we cannot control them but we are still trying, it would make us become in their control. Our happiness, peace and our comfort are depending to their behaviour, achievement or attitude. Then, when we were frustrated because we cannot control those uncontrollable, we disposed to give full rein to our God. Our relationship with God is stop and we are suffering because we get no love and power from Him to help us. God do not abandon us; He does not leave us or ignore us. God is able and ready to take the uncontrollable things or persons and carry all your problems in His shoulder. He will be there to give all the support and help that you need. God will not take all your problems until you admit it that all your problems is out of your control.

There are things in our life that we can control:

1. Our relationship with God.
It needs a disciplines, acceptance and willingness. If your relationship with God is more important than anything else, you will have a power to control all the uncontrollable things.

2. Our mind.
If you prefer to think about all the wrong things, imagining all the bad things, thinking about all the negative things, and you let your mind to control our surrounding, you will never win from the uncontrollable things.

3. Our tongue.
So many damages happened every day because of the uncontrollable tongues. How important for us to control our tongue and all the words that we said. Our relation with others will get better soon if we can control our tongue.

4. Our attitude.
Even your condition is very bad, there is nothing that can force you to do a bad thing if you do not want it to, and even your condition is very good, there is nothing that can force you to do a good thing if you do not want it to. Our attitude is our own choice.

5. Our integrity.
We can control our integrity. Are you honest to all what you have done in your live? Are you known as a person to be relying on? If we are using our time and power to control the controllable things, there will be enough power and wisdom to handle the uncontrollable. We are not wasting time to be frustrated because of the uncontrollable persons or things, since we are too busy to control the controllable things or person. If you can control the controllable things, you can handle also the uncontrollable.

Source : "How to remain growing from 9 am to 5 pm"

Kebahagiaan

Menyambut ulang tahunnya yang ke - 6, Putri diajak ayahnya shopping di sebuah toko mainan. Tampaknya ia tertarik pada sebuah boneka cantik terbalut baju beludru ungu di rak mainan di pojok ruangan.

"Apakah Putri boleh minta ini, Pak?"

Sang ayah mengganggukkan kepala tanda setuju. Saat berjalan menuju kasir, Putri melihat anak laki-laki seusianya sedang melihat-lihat mainan ditemani ayahnya. Rupanya tujuan mereka sama. Melihat penampilannya, tampak bahwa mereka berasal dari kalangan yang status sosial ekonominya di bawah keluarga Putri. Dari kejauhan tampak si bocah laki-laki itu melonjak kegirangan melihat sebuah mainan robot yang terpajang di rak. Mereka lalu terlibat dalam percakapan yang serius. Namun setelah si ayah membuka-buka dompet, ia menggelengkan kepala.

Putri menyaksikan dengan saksama seluruh adegan tadi. Setelah berpikir sejenak, ia mengembalikan bonekanya ke tempat semula lalu mengambil robot mainan yang tadi dipilih si bocah. Setelah itu ia menuju ke kasir. Sambil membayar ia membisikkan sesuatu kepada sang kasir, yang kemudian segera membungkus mainan tersebut dan menyimpannya di bawah meja. Putri dan ayahnya berdiri di dekat pintu, menunggu si bocah laki-laki tadi melewati jalur keluar.

"Selamat! Kamu terpilih menerima hadiah ini!" ujar kasir kepada si bocah lelaki itu seraya memberinya bungkusan mainan.

"Wah, inilah barang yang selama ini kuidam-idamkan," seru si bocah dengan amat gembira setelah membuka isi bungkusan tersebut.

"Sayang, alangkah mulianya hatimu," ujar ayah Putri.

"Pak, bukankah Ibu menyuruh saya membeli sesuatu yang membuatku bahagia?"

"Tentu saja, sayang."

"Nah, aku baru saja melakukannya," jawab Putri.

Itulah kisah Putri. Sebagai bocah tentu ia belum pernah baca buku The Bliss of the Way. Di dalamnya Anton Chekhov menulis, "Manusia diciptakan untuk bahagia. Siapa pun yang mendapatkan kebahagiaan berhak mengatakan pada dirinya sendiri, 'Aku telah melakukan kehendak Tuhan di dunia ini.'"

All Things Are Possible

Today's Scripture

"What is impossible with men is possible with God" (Luke 18:27).

Today's Word from Joel and Victoria

Is there a situation in your life today that seems impossible? As a child of the Most High God, you are not limited by what you see. You are not limited by your circumstances, the economy, or what others say because with God all things are possible! It doesn't matter how it may look in the natural, when you see things through your eyes of faith, you will see new possibilities. You will see the answer that is on its way! It all starts by having a grateful attitude: an attitude of faith and expectancy. When you declare the promises of God over your life and meditate on His Word, it activates faith in your heart. Faith draws the good things of God into your life. When you wake up every morning, declare that with God all things are possible. Declare that you are blessed and you cannot be cursed. Declare that you are above only and not beneath. Expect God's favor and blessing in your life every day. As you do, you will see Him move on your behalf, and you'll see new levels of possibility in every area of your life!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for making a way where there seems to be no way. I choose an attitude of faith and expectancy today. Work in my heart and life that I may be a living testimony of Your goodness to those around me. In Jesus' Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

24 July 2008

Baik Kok Menderita?

Nats : Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau (Ayub 42:5)

Bacaan : Ayub 1:1; 42:1-6

Banyak dari kita mungkin sering mendengar ungkapan ini: "Mengapa ia bisa mengalami hal itu? Padahal ia orang baik. Kasihan, ya?" Orang cenderung berpikir bahwa tidak adil bila ada orang baik yang hidup menderita. Ibarat orang tak bersalah yang harus menerima hukuman. Orang berpikir bahwa hidup orang baik itu selalu diberkati Tuhan. Atau, bila ia harus mengalami kesulitan, Allah akan segera menolong.

Alkitab mencatat bahwa Ayub adalah orang saleh, yang bahkan dipuji oleh Allah sendiri (1:1). Namun, Ayub harus mengalami penderitaan yang datang bertubi-tubi. Dari yang awalnya kaya raya sekarang jatuh miskin; dari yang semula sehat sekarang jatuh sakit. Seluruh anaknya tewas dalam sebuah kejadian. Istri serta teman-temannya meninggalkan Ayub. Apa salah Ayub? Tidak, Ayub tidak bersalah. Lalu mengapa ia mengalami penderitaan yang begitu berat? Karena Allah ingin mengajar Ayub tentang siapa diri-Nya. Melalui penderitaan, Allah ingin Ayub mengenal Dia lebih dalam. Dan inilah yang diakui Ayub pada akhir cerita tentangnya. Pengenalan Ayub akan Allah menjadi lengkap saat ia berkata: "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (42:5).

Penderitaan bukan berasal dari Allah, tetapi kerap kali Allah mengizinkan hal itu terjadi supaya kita dapat memetik hikmah dari penderitaan tersebut; baik itu hikmah mengenai kekudusan, pertobatan, ataupun mengenai Allah sendiri. Jadi, daripada menangis dan mengeluh, mari temukan apa yang hendak Tuhan ajarkan lewat penderitaan kita -RY

ALLAH KERAP KALI MENGIZINKAN HUJAN LEBAT TERJADI
SUPAYA KITA DAPAT MELIHAT PELANGI

SABDA.org

Humor : Lupa Nama Istri

Seorang pria tua diundang ke rumah temannya untuk makan malam.

Dia kagum melihat temannya mengawali setiap permintaan dengan kata "sayang", "cintaku", "belahan jiwaku", dll.

Pasangan itu menikah sudah hampir tujuh puluh tahun, namun kelihatan masih berbunga-bunga.

Ketika si istri di dapur, pria tua itu tanya ke temannya, "Aku kagum sekali sama caramu memperlakukan istrimu."

"Aku mesti bilang yang sesungguhnya, " katanya, "aku lupa namanya sudah sejak sepuluh tahun lalu."

Kue Dari Tuhan

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota. Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your cake."

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan.

"Yaiks," ujar anaknya.

"Bagaimana dengan telur mentah ?"

"You're kidding me, Mom."

"Mau coba tepung terigu atau baking soda ?"

"Mom, semua itu menjijikkan."

Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."

Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Amanat Agung

"Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:18-20)

Bagian Satu : Sasaran Pelayanan

Kutipan di atas adalah deretan kalimat terakhir dari Injil Matius, yang juga kalimat-kalimat amanat terakhir Tuhan Yesus di dunia. Juga merupakan kalimat-kalimat awal dari pergerakan para murid, dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke seluruh dunia sebagaimana direkam dalam catatan Kisah Para Rasul dan sejarah gereja. Biji sesawi yang mulai ditaburkan, tumbuh dan berkembang, yang sampai sekarang telah menjadi pohon yang besar.

Amanat ini disebut sebagai Amanat Agung (The Great Commission) karena besarnya otoritas yang memerintahkannya (segala kuasa di surga dan di bumi), luasnya lingkup yang dicakup yaitu semua bangsa, tingginya standar yang dicapai (murid Kristus), menyeluruhnya proses yang dikerjakan (baptis, ajar segala sesuatu yang diperintahkan, pergi), panjangnya janji penyertaan yang mengikutinya (sampai kepada akhir zaman). Adakah amanat yang lebih besar dari Amanat Agung ini?

Apapun yang kita kerjakan dalam pelayanan, bidang apapun yang kita tekuni, siapapun yang kita layani perlu selalu terkonteks dan perlu dievaluasi kena-mengenanya dengan terang amanat ini. Tulisan ini mengajak Saudara yang melayani Tuhan untuk lebih memahami tuntutannya dan relevansinya dalam pelayanan.

Sesuai struktur tata bahasa aslinya (Yunani), kalimat induk dalam amanat ini adalah "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Disini kita sedang berhadapan dengan standar kuantitas dan kualitas hasil pelayanan yang diinginkan Tuhan Yesus bagi kita. Kuantitas merujuk pada berapa murid yang dihasilkan. Kualitas merujuk pada bagaimana murid yang dihasilkan.


Sasaran Kuantitas : Semua Bangsa

Sasaran Tuhan Yesus tidak kurang dari mencapai semua bangsa. Kata bahasa asli (Yunani) yang diterjemahkan sebagai "bangsa" dalam di sini adalah ethne. Dari akar kata ini kita memperoleh kata ethnic dalam bahasa Inggris atau etnis dalam bahasa Indonesia. Kata ethne berarti secara literal sebagai suku bangsa, kaum, atau kelompok orang (people group).

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini (Yohanes 3:16) dan tidak ingin ada seorang pun binasa (2 Petrus 3:9). Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang di dunia yang tawar. membusuk dan gelap (Matius 5:13-16). Kita bukan dari dunia, tetapi tidak diambil dari dunia melainkan diutus ke dalam dunia, sebagaimana Kristus telah diutus ke dalam dunia (Yohanes 17:14-21). Kita diberi teladan untuk menjadi hamba dari semua orang Yahudi, orang di bawah Taurat, orang di luar Taurat, orang lemah, dan sebagainya. Supaya dapat memenangkan sebanyak mungkin orang (1 Korintus 9:19-23). Hingga pada kesudahan zaman nanti didapat orang-orang dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa menyembah Tuhan (Wahyu 7:9-17).

Perhatikan implikasinya : Sasaran akhir pelayanan tidaklah berhenti pada pertobatan ataupun bahkan pertumbuhan, tetapi ketika pelayanan itu menghasilkan murid-murid Kristus yang pergi memenuhi tempat dan panggilannya di dalam dunia untuk membawa orang-orang memuliakan Tuhan!


Sasaran Kualitas : Murid Kristus

Tuhan Yesus bukan hanya mendefinisikan kemana kita pergi, melainkan juga apa yang haris kita hasilkan di sana. Dia menghendaki kuantitas yang berkualitas, dengan ciri seorang murid Kristus. Siapakan murid Kristus?

Murid Kristus yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang menjadi pelajar dan pengikut Kristus, yang hidupnya mencerminkan pengajaran dan kehidupan Kristus. Bagian-bagian lain dalam Alkitab menegaskan sasaran kualitas pertumbuhan yang sama melalui ungkapan "menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya" (Roma 8:29), "diubah serupa dengan gambar-Nya" (2 Korintus 3:18), "mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Efesus 4:13).

Tuhan Yesus tidak hanya mengumpulkan orang banyak yang hanya akan menjadi khalayak ramai. Dia menghendaki agar mereka menjadi murid-Nya yang serupa dengan Dia, dan mereka kemudian diutus untuk menjadikan orang lain lagi serupa dengan Dia. Pelipatgandaan ini terus mengembang kepada semakin banyak orang. Pada masa kini ada banyak penekanan pada penyelenggaraan kegiatan dan pertemuan, namun kurang memberi perhatian pada terjadinya pertumbuhan pribadi. Banyak aktivitas, tetapi kurang produktivitas; banyak pelayanan yang efisien (melakukan dengan benar), tetapi kurang efektif (melakukan yang benar).

Robert E. Coleman (The Masterplan Of Evangelization) menyatakan bahwa pemuridan berarti bahwa setiap petobat baru diberi seorang teman kristiani untuk membimbing dia sampai pada tahap dimana ia juga bertumbuh dewasa dan dapat membimbing orang lain. Si pembimbing harus bersekutu dengannya secara teratur dalam jangka waktu yang lama, mempelajari Alkitab dan berdoa bersama, menjawab pertanyaan-pertanyaan, menjelaskan kebenaran-kebenaran, dan bersama-sama menolong orang lain.


Bagian Dua : Strategi Pelayanan

Misi pelayanan diamanatkan. Pergi ke semua bangsa untuk menghasilkan murid Kristus. Otoritas pemberi amanat dinyatakan. Segala kuasa di surga dan di bumi. Jaminan penyertaan dalam melaksanakan amanat diberikan. Sampai kepada akhir zaman. Amanat agung. Strategi apa yang perlu ditempuh untuk menunaikannya?

Kalimat utama "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku" merupakan satu amanat dengan tiga karakteristik, sebagaimana diketahui dari tiga kata kerja dalam anak kalimat yang menerangkannya : baptislah, ajarlah, pergilah. Amanat Agung dalam Matius 28:18-20 ini berbicara tentang suatu proses transformasi. Proses untuk menjadikan seorang murid Kristus terdiri dari membagikan kabar baik (baptislah sebagai tanda dari pengalaman pertobatan), membina iman mereka (ajarlah), dan mengutus mereka kembali (pergilah). Murid yang diutus pergi ini kemudian memulai lingkaran proses penginjilan, pembinaan, dan pengutusan tersebut. Demikianlah mereka berlipatganda.

Dalam konteks pelayanan, proses transformasi menjadi murid Kristus tersebut dapat diterjemahkan sebagai sasaran bertahap :

  • Penjangkauan dan penginjilan kepada orang-orang yang belum percaya untuk menghasilkan orang yang terbuka terhadap injil dan petobat baru.
  • Pembinaan dan pemberian perlengkapan kepada petobat baru untuk menghasilkan murid yang bertumbuh dan melayani.
  • Pengutusan dan Pelipatgandaan kepada murid yang bertumbuh dan melayani untuk menghasilkan murid yang bermisi dan melipatganda.

Pola pemuridan ini bukan hanya dinyatakan secara verbal oleh Tuhan Yesus dalam Amanat Agung, melainkan juga ditunjukkan secara aktual dalam pelayanan-Nya. Yesus memiliki strategi yang sangat intensional dan spesifik dalam mengembangkan seseorang. Dalam kurun waktu pelayanan sekitar 36 bulan, Dia mentransformasikan hidup kepada murid-murid-Nya, yang selanjutnya pada waktunya mereka juga memengaruhi dunia bagi Tuhan. Gereja dan persekutuan dapat meningkatkan kemampuan untuk membangun orang-orang dan memenuhi misi Tuhan dengan memahami strategi Kristus ini.

Setelah mengamati, menganalisis, dan merefleksikan permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam pelayanan dan gereja, serta pemecahan-pemecahan menyeluruh yang ditawarkan oleh beberapa pendekatan, dapat disimpulkan bahwa secara mendasar semua masalah tersebut disebabkan karena kurang dimilikinya pola pelayanan yang tepat. Pembentukan kualitas murid Kristus yang menjalankan misinya ini tidak dapat diasumsikan akan terjdi dengan sendirinya. Adanya berbagai kegiatan dan pertemuan kerohanian tidak menunjukkan bahwa gereja atau persekutuan tersebut sedang membangun murid Kristus. Kita telah mengondisikan orang untuk mempercayai bahwa seorang murid adalah seseorang yang setia mengikuti suatu kegiatan kerohanian, bukannya seseorang pelajar dan pengikut Krsitus yang mencerminkan karakter, nilai-nilai, dan gaya hidup-Nya, serta secara aktif berusaha membangun karakteristik tersebut pada orang lain. Jika kita mendefinisikan seorang murid sebagai seseorang yang dengan setia mengikuti kegiatan-kegiatan yang kita selenggarakan, yang kita dapatkan adalah penonton-penonton.

Secara ringkas, inilah tujuan dari pelayanan : menolong proses transformasi seorang murid Kristus yang hidupnya mencerminkan pengajaran dan kehidupan Kristus (kualitas : murid Kristus) yang secara aktif berusaha menjadikan orang lain murid Kristus di mana pun dia berada dan diutus (kuantitas : semua ethne), yang dikerjakan melalui usaha penjangkauan dan penginjilan, pembinaan dan pemberian perlengkapan, serta pengutusan dan pelipatgandaan.

Selamat mengemban Amanat-Nya! Tuhan Yesus Memberkati!

Oleh : Johan Setiawan

Sumber : Renungan Harian Edisi Juni 2008

You are An Example

Today's Scripture

"Let your light shine before men that they may see your good works and glorify your Father in Heaven" (Matthew 5:16).

Today's Word from Joel and Victoria

You are God's representative in this earth. When you follow the Word of God and allow Him to work in your life, you are letting your light shine. When you are good to people and show them kindness, even when they don't deserve it, you are shining your light. When you smile and keep a good attitude, even when things don't go your way, you are setting an example so that people will glorify God in heaven. Notice this scripture says, "they will see your good works..." People aren't impressed by our knowledge or what we say, people are drawn to God by our good works. Ask the Lord to show you ways to share His goodness with others. Look for opportunities to let your light shine everywhere you go - at home, at work, in the grocery store, at the gym. There's always an opportunity to be an example of God's goodness. As you do, it will bring honor and glory to God; and when you honor Him, He always honors you. He will continue to pour out His abundant blessing in every area of your life.

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for trusting me to be Your representative in the earth. Show me ways to reflect Your goodness to others. Use me today everywhere I go for Your glory. In Jesus' Name. Amen.

Joel Osteen Ministries

23 July 2008

Kesaksian Intan

Saya terlahir dari keluarga non-kristen fanatik. Dari kecil pun terdidik dengan ajarannya. Saat usia saya 12 tahun, nenek saya yang biasa menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia. Kemudian saya ikut family

yang beragama Kristiani. Saya yang masih lugu, belum tahu mana yang terbaik dalam hidup saya kemudian menerima Yesus karena permintaan keluarga.

Setelah saya menerima Yesus, saya bertumbuh di dalam Dia, sampai akhirnya saya masuk pelayanan dan benar-benar mengerti arti kehadiran Yesus dalam hidup saya. Saya sungguh-sungguh mencintai Yesus.

Di perjalanan pelayanan saya dalam Tuhan, saya dihadapkan pada sebuah kenyataan, bahwa saya merindukan Ayah kandung saya, yang sejak kecil tidak pernah saya ketahui rupanya. Reatret Juli 1995, di tengah malam saya berdoa, saya sebaris kata: "Tuhan, saya kangen Papa."  Kata-kata yang telah saya simpan dalam dendam menahun. Saya benci pada Papa, tapi saya juga merindukannya. Perubahaan yang sangat drastis dalam kehidupan saya.

Tiga bulan kemudian keajaiban terjadi dalam hidup saya. Saya bertemu papa kandung saya yang selama 16 tahun telah meninggalkan saya dan mama saya. Sungguh hal yang tidak masuk di akal. Karena saya bertemu dia langsung dan segera mengetahui bahwa dia adalah papa saya.

Kehidupan saya pun berubah. Papa menarik kami kembali ke non-kristen. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Di tengah-tengah pelayanan saya dengan Tuhan saya diberikan pilihan yang sulit. Saya ingin tetap bersama Yesus,

tapi saya tidak mau kehilangan keluarga yang baru saya temukan. Saya meninggalkan Tuhan.

Setahun kemudian, Papa meninggalkan kami lagi. Ia menikah lagi. Rasa sakit itu teramat sangat. Tahun-tahun berjalan dengan kehampaan, itu yang saya lalui. Berulangkali saya ingin ke gereja, tapi mama selalu menahan

saya. Saya tidak tega melihat kesetiaan mama pada papa, akhirnya saya mengalah.

Lima tahun hidup dalam kehampaan, hingga suatu hari saya sadar saya harus membenahi diri saya. Yang saya perlukan bukan hanya Bapa duniawi tapi juga Bapa surgawi. Akhir tahun 2000, saya pergi ke gereja, berdoa "saya ingin pulang, Tuhan." Saya tahu yang saya butuh kan adalah Tuhan Yesus, Dia lebih segalanya buat saya. Saya bisa hidup tanpa Papa, tapi tidak tanpa Tuhan.

Namun, hati saya kembali diuji oleh Tuhan. Ketika saya memilih kembali kepada Tuhan, mama tidak setuju, dengan alasan yang sangat menyakitkan, "Nanti kalau mami mati ngga ada yang doa'in." Sungguh kata-kata itu mengiris hati saya berkeping-keping. Saya seperti di persimpangan jalan. Di hadapkan pada pilihan berat. Saya tidak mau kehilangan Tuhan, tidak juga ingin kehilangan mama saya. Karena hanya dia yang saya miliki, karena saya anak tunggal.

Saya down dengan dilema ini. Saya harus menyembunyikan identitas saya sebagai kristiani dari orang-orang di sekeliling saya. Saya juga harus bertengkar setiap kali dengan mama saya bila saya ke gereja atau melihat

saya membaca alkitab.

Namun kali ini saya benar-benar kuat. Hari itu saya curhat dengan manager di salah satu divisi di perusahaan saya. Saya sharing setiap hari. Dia yang membantu yang bangkit dan terus berjalan bersama Yesus. Sejak hari

itu, saya mantap dengan kekristenan saya. Saya yakin Tuhan yang telah memilih saya. Hingga saat ini saya bisa di sini menceritakan semua kisah saya ini. Saya benar-benar merasakan tangan Tuhan bekerja dalam hidup saya.

Usia saya 22 tahun. Sekarang saya bekerja sebagai sekretaris direktur di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Kehidupan saya mapan di dalam Tuhan, dan terlebih penting, mama saya sudah tidak pernah memarahi saya bila saya ke gereja. Jalan saya semakin mudah, saya yakin, suatu hari mama saya akan kembali kepada Yesus, semua ini dibantu juga dengan doa teman-teman yang membaca kesaksian ini.

Seperti yang tertulis "Biarlah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu dan memuliakan Bapamu yang di surga"

Saya mengucap syukur untuk kasih dan penyertaan Tuhan kepada saya. Lewat kesaksian ini saya ingin menyampaikan kepada teman-teman yang serupa kisahnya dengan saya, untuk tetap berjalan di dalam Tuhan, karena pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan biasa. Karena Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak akan memberikan coba'an yang melebihi kekuatan kita. Kita hanya diuji, seberapa besar, kasih kita kepada Tuhan, dan memberi pengertian kepada kita, betapa besar kasih Tuhan dalam hidup kita. Itu tidak berkesudahan.

Oleh: Intan (Jakarta) - 15 September 2001

Diterjemahkan oleh: Hilmy