Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

18 July 2008

God Answer Prayer

God answers prayers in 3 ways
He says yes and gives you what you want
He says no and gives you something better
He says wait and gives you the Best

Jesus loves you

Prakarsa Tuhan

Nats : Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN" (1Samuel 1:20)

Bacaan : 1Samuel 1:1-20

Setelah menikah hampir dua tahun, seorang istri akhirnya mengandung anak pertamanya. Namun, dokter mendiagnosa kandungannya bermasalah. Kemungkinan kelak anaknya akan lahir dengan "kelainan", kecuali terjadi mukjizat. Kemudian ia dan suaminya tekun berdoa serta berpuasa. Mereka memohon agar anak mereka lahir sehat walafiat. Ketika tiba saatnya sang istri melahirkan, ternyata anaknya menderita autis. "Kami sudah berusaha dan berdoa. Kalau Tuhan memberikan anak ini dalam keadaan demikian, tentu Dia sudah mempertimbangkan yang terbaik buat kami," kata mereka.

Suami istri itu kemudian tekun mempelajari segala hal tentang autisme-lewat buku, majalah, internet, dan seminar, hingga mereka menjadi banyak tahu tentang autisme. Mereka kerap diminta bersaksi di gereja dan menjadi tempat bertanya bagi banyak pasangan yang memiliki anak dengan "kebutuhan khusus". Mereka tak pernah menyesal anaknya menderita autis.

Kelahiran anak adalah prakarsa Tuhan. Manusia boleh berencana dan berusaha, tetapi Sang Penentu adalah Tuhan sendiri. Hana, istri Elkana, bergumul keras untuk memperoleh keturunan. Tuhan kemudian memenuhi permohonannya. Lahirlah Samuel, yang kelak menjadi salah satu tokoh penting dalam Perjanjian Lama.

Tuhan memberikan anak dengan pertimbangan matang. Tidak mungkin Dia memberikan anak dengan sembarangan. Tuhan pasti punya rencana yang baik untuk setiap anak yang Dia izinkan lahir ke dalam dunia, bagaimanapun keadaannya. Maka baiklah kita menyambut setiap anak yang lahir dengan iman, dengan rasa syukur, dan dengan kasih sayang -AYA

SETIAP ANAK ADALAH TITIPAN DARI TUHAN

SABDA.org

Smooth Stones

Then the angel showed me the river of the water of life, as clear as crystal, flowing from the throne of God and of the Lamb. Revelation 22:1

One of the earliest sunday school stories I recall hearing is the one about David and Goliath. David, shepherd boy, who comes up against the gigantic warrior, Goliath. And with just a slingshot and a few little stones.

What a hero! He zaps the enemy in one fell blow, straight to the head. Here's the story, from the Bible (17th chapter of 1st Samuel): Then he took his (shepherd's) staff in his hand, chose five smooth stones from the stream, put them in the pouch of his shepherd's bag and, with his sling in his hand...David said to the Philistine(giant), "You come against me with sword and spear and javelin, but I come against you in the name of the LORD Almighty, the God of the armies of Israel, whom you have defied. This day the LORD will hand you over to me, and I'll strike you down .. All those gathered here will know that it is not by sword or spear that the LORD saves; for the battle is the LORD's, and he will give all of you into our hands." ..Reaching into his bag and taking out a stone, he slung it and struck the Philistine on the forehead. So David triumphed ...without a sword in his hand he struck down the Philistine and killed him. The stones David selected were smooth. Not big, heavy boulders. Small stones that had been continually washed by the river waters. They were more fit for use against the enemy than rougher, larger, more rugged stones.

David knew. He had spent a lot of time outdoors, by himself, taking care of the flocks of sheep for his father. And he'd had plenty of time to practice with his slingshot. He knew how to do it. In our journeys, as we are constantly washed by the waters of life, we too become more smooth. More fit to be used. As I was thinking of this, I coudn't help but think that it would be good for me to quit struggling so often, and just go with the flow. Smooth stones are just fine, especially when they're part of God's master plan.

Sally I. Kennedy, (c)2008
Irish Thursdays Weekly Devotionals,
http://www.sallyike nnedy.com

Bersepeda Bersama Yesus

Pada awalnya, aku memandang Tuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi ... biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya! Terkadang rasanya seperti sesuatu yang 'gila', tetapi Ia berkata, "Ayo, kayuh terus pedalnya!"

Aku takut, khawatir dan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?". Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan. Dan ketika aku berkata, "Aku takut!". Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan. Orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan ... perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita." Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung di tikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh ... menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata .... "Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."

17 July 2008

Last Date with Mom

After 21 years of marriage, my wife wanted me to take another woman out to dinner and a movie.

She said, "I love you but I know this other woman loves you and would love to spend some time with you."

The other woman that my wife wanted me to visit was my MOTHER, who has been a widow for 19 years, but the demands of my work and my three children had made it possible to visit her only occasionally.

That night I called to invite her to go out for dinner and a movie.

"What's wrong, are you well," she asked? My mother is the type of woman who suspects that a late night call or a surprise invitation is a sign of bad news.

"I thought that it would be pleasant to be with you," I responded. " Just the two of us.."

She thought about it for a moment, and then said, "I would like that very much."

That Friday after work, as I drove over to pick her up I was a bit nervous. When I arrived at her house, I noticed that she, too, seemed to be nervous about our date. She waited in the door with her coat on. She had curled her hair and was wearing the dress that she had worn to celebrate her last wedding anniversary.

She smiled from a face that was as radiant as an angel's.

"I told my friends that I was going to go out with my son, and they were impressed, "she said, as she got into the car. "They can't wait to hear about our meeting".

We went to a restaurant that, although not elegant, was very nice and cozy. My mother took my arm as if she were the First Lady. After we sat down,

I had to read the menu. Large print. Half way through the entries, I lifted my eyes and saw Mom sitting there staring at me. A nostalgic smile was on her lips.

"It was I who used to have to read the menu when you were small," she said.

"Then it's time that you relax and let me return the favor," I responded.

During the dinner, we had an agreeable conversation - nothing extraordinary, but catching up on recent events of each other's life. We talked so much that we missed the movie.

As we arrived at her house later, she said, "I'll go out with you again, but only if you let me invite you." I agreed.

"How was your dinner date ?" asked my wife when I got home. "Very nice. Much more so than I could have imagined," I answered.

A few days later, my mother died of a massive heart attack. It happened so suddenly that I did to do anything for her.

Some time later, I received an envelope with a copy of a restaurant receipt from the same place mother and I had dined.

An attached note said: "I paid this bill in advance. I wasn't sure that I could be there; but nevertheless, I paid for two plates - one for you and the other for your wife. You will never know what that night meant for me.. I love you, son."

At that moment, I understood the importance of saying in time: " I LOVE YOU!" and to give our loved ones the time that they deserve.

Nothing in life is more important than God and your family. Give them the time they deserve, because these things cannot be put off till "some other time."

Golden Phrases

Living in the Rain

Today's Scripture

"Just as the rain and snow descend from the skies and don't go back until they've watered the earth, making things grow and blossom…so will the words that come out My mouth not come back empty-handed. They'll do the work I sent them to do" (Isaiah 55:10-11, Message).

Today's Word from Joel and Victoria

Rain is symbolic of God's blessing, favor, and refreshing. His Word is like rain that causes us to flourish and blossom in every area of life. The scripture says we should live like a well-watered garden, vibrant and growing. We should live under God's cloud of blessing. How do we do that? In the natural, a cloud is formed when moisture vapors rise up from the earth into the atmosphere. Eventually, the moisture is so abundant that the rain begins to fall. In the same way, your praise is like the invisible vapors that rise up to heaven and form a cloud. Eventually, your praise will activate an outpouring of God's blessing, favor, and provision in your life. Do you feel like you are in a dry season? Begin to praise and thank God that He is bringing you through to a place of refreshing. Magnify and bless Him for His goodness in your life. As you turn up your praise, God will turn up the rain and you will experience His abundant outpouring. You'll experience His blessing and provision and live as an overcomer in every area of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, today I choose to bless and honor You. Thank You for this day. Thank You for giving me life. Thank you for making me new. Thank you for saving me and filling me with Your peace and joy. Rain on me today. In Jesus' name, Amen.


Joel Osteen Ministries

Menikah Untuk Bahagia?

Nats : Kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya (Efesus 5:33)

Bacaan : Efesus 5:22-33

Apakah tujuan orang menikah? Supaya bahagia? Bagaimana jika tidak bahagia? Banyak pasangan yang hidupnya susah setelah menikah. Ada yang kesulitan menghadapi karakter pasangannya yang sulit diubah. Akibatnya sering cekcok. Ada yang susah karena anaknya autis atau cacat mental. Yang lainnya terus-menerus dihadapkan pada musibah. Jika visi pernikahan Anda cuma demi mengejar kebahagiaan, bisa jadi Anda kecewa!

Firman Tuhan memandang pernikahan lebih sebagai proses pembentukan atau pendewasaan. Istri diminta "tunduk", artinya belajar menghargai kepemimpinan suami. Dengan merendahkan diri, istri dapat menjaga harga diri suaminya. Begitu pula suami diminta belajar mengasihi istri seperti merawat tubuhnya sendiri. Bahkan seperti Kristus mengasihi jemaat (ayat 25,29,32). Di zaman itu, budaya Romawi menempatkan suami sebagai figur kepala keluarga dengan kuasa tak terbatas. Lumrah jika suami bersikap sebagai tuan yang minta dilayani. Namun, para suami kristiani tidak boleh begitu. Mereka harus "mengasuh dan merawat" istri (ayat 28,29). Artinya menyediakan waktu dan perhatian yang cukup. Rupanya, untuk mewujudkan pernikahan kristiani dibutuhkan penyangkalan diri dari kedua pihak. Menikah ibarat sekolah, yang melaluinya sifat-sifat kita dibentuk.

Dan, proses pembentukan itu menyakitkan! Gary Thomas, pengarang buku Sacred Marriage (Pernikahan yang Kudus), berkata: "Tuhan merancang pernikahan untuk membuat Anda suci, lebih daripada membuat Anda bahagia." Kebahagiaan pernikahan adalah buah atau hadiah dari perjuangan menyangkal diri. Ia tak akan datang sendiri -JTI

PERNIKAHAN KRISTIANI
MERUPAKAN SEKOLAH UNTUK MEMURNIKAN HATI

SABDA.org

16 July 2008

Belas Kasihan & Upah

Nats : Perkataan ini benar.... "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1Timotius 1:15)

Bacaan : 1Timotius 1:12-17

Ketika pengkhotbah Puritan terkenal Thomas Hooker (1586-1647) menjelang ajalnya, seorang sahabat mencoba menghiburnya dengan berkata, "Brother Hooker, Anda akan segera menerima upah." "Tidak, tidak!" ia menghela napas, "Saya akan pergi untuk menerima belas kasihan!"

Dengan sangat kontras A.W. Tozer mengungkapkan tentang doa seorang laki-laki yang mengira bahwa ia dapat masuk surga sebagai upah atas usahanya memenuhi Sepuluh Perintah Allah. Isi doanya kira-kira seperti ini: "Baiklah Tuhan, saya mengaku bahwa saya tidak melaksanakan titah pertama, ketiga, ketujuh dan kesembilan. Tetapi ingatlah, Bapa, saya sudah melaksanakan titah lainnya."

Betapa bodohnya! Orang ini tidak menyadari bahwa apabila ia mengabaikan satu bagian dari Perintah Allah, ia sudah bersalah terhadap seluruhnya (Yakobus 2:10). Apa yang dilakukannya hanyalah membuahkan penghakiman, dan bukan keselamatan.

Saat Rasul Paulus meninjau kembali 30 tahun lebih pelayanannya yang penuh pengorbanan, ia melihat dirinya sebagai "yang paling berdosa" di antara orang berdosa dan bergantung sepenuhnya pada belas kasihan Allah. Meski tak perlu diragukan bahwa ia juga mengharapkan upah, tetapi ia hanya bermegah dalam salib Yesus (Galatia 6:14). Di sanalah Yesus telah menebus dosa hingga setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menerima belas kasihan.

Sungguh ajaib belas kasihan dan anugerah Allah! Suatu hari nanti saya akan "pergi untuk menerima belas kasihan-Nya." Saya harap Anda juga [HVL]

\'Tis mercy all, immense and free,
For, O my God, it found out me;
Amazing love! How can it be
That Thou, my God, shouldst die for me. --Wesley

ANUGERAH ADALAH MENERIMA APA YANG TIDAK LAYAK KITA PEROLEH
BELAS KASIHAN ADALAH TIDAK MENERIMA APA YANG SEHARUSNYA KITA PEROLEH

SABDA.org

Kado Terindah

These are 8 things to beautify your relationship, towards people you care and love, practice them in your daily life, and find the magic...

1. Kehadiran

Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada di sampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.

2. Mendengar

Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul rileks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan Anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

3. Diam

Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomel.

4. Kebebasan

Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah "Kau bebas berbuat semaumu". Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. Keindahan

Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lhoo. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

6. Tanggapan positif

Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.

7. Kesediaan Mengalah

Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado "kesediaan mengalah". Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa musti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

8. Senyuman

Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yg diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi?

Willing Obedience

Today's Scripture

“If you are willing and obedient, you will eat the best from the land” (Isaiah 1:19).

Today's Word from Joel and Victoria

God wants you to have the best in life. He wants to give you the good of the land. God tells us in His Word how to activate His promises in our lives. Notice this verse doesn’t say that just obedience will cause you to eat the good of the land, it says we have to be willing and obedient. God isn’t just concerned with our actions. He’s looking at the motives of our hearts. He wants us to understand His goodness and kindness which draws our hearts toward Him. He wants us to receive His love that causes us to respond to Him with love and obedience in return. Don’t just serve God out of obligation today. Don’t just read the Word because you think you have to. Instead, open your heart and see His goodness. Receive His love and acknowledge His faithfulness in your life. Let your willing obedience open the door to God’s blessing. As you serve Him with a willing attitude, you will experience His favor and increase and live the abundant life He has for you.

A Prayer for Today

Father in heaven, search my heart today. Remove anything that stands in the way of my love for You. I choose to willingly obey You and thank You for giving me Your best. In Jesus’ name, Amen.


Joel Osteen Ministries