"Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu. Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu." (Amsal 7:2-3)
"Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu. Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu." (Amsal 7:2-3)
Nats : Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5)
Bacaan : Mazmur 91:9-16
Saya tahu bahwa tidak seharusnya saya cemas, tetapi saya agak mengkhawatirkan sesuatu saat ini. Mungkin ini karena adanya situasi baru dalam keluarga kami. Bila melihat sekeliling, saya merasa agak gelisah. Ketahuilah, istri saya dan saya baru-baru ini mengetahui bahwa kami akan menjadi kakek dan nenek. Hal ini membuat saya berpikir tentang dunia tempat cucu kami dibesarkan nanti.
Tahun 2024 kelak, cucu kami itu akan lulus sekolah menengah. Mungkinkah biaya sekolah di perguruan tinggi akan sebesar Rp900.000.000,00 per tahun saat itu? Jika minyak masih ada, mungkinkah harga bensin jadi Rp58.500,00 per liter? Mungkinkah moral dan etika sudah ketinggalan zaman? Dan, apa gereja masih berpengaruh?
Masa depan bisa menjadi sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang belum diketahui dapat mencekam, terutama ketika hal yang diketahui saat ini diliputi begitu banyak perjuangan. Itulah sebabnya, kita harus memercayai janji Allah.
Apa pun situasi yang akan dihadapi cucu-cucu kita, mereka dapat bergantung pada janji pertolongan Allah -- tak peduli persoalan apa yang akan meliputi dunia ini. Allah berfirman, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" (Ibrani 13:5). Yesus berkata, "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman" (Matius 28:20).
Janji-janji agung itulah yang dapat kita andalkan tatkala kita mulai merasa khawatir, entah tentang masa depan kita sendiri atau masa depan generasi selanjutnya --JDB
Cemas akan urusan dan masalah masa depan hanya akan mendatangkan derita dan sengsara; Tuhan meminta kita tidak cemas dan tertekan, hari esok kita ada dalam tangan-Nya. --Sper
KITA MUNGKIN TAK TAHU APA YANG AKAN TERJADI DI MASA DEPAN
NAMUN KITA DAPAT MEMERCAYAI DIA YANG MENGENDALIKAN MASA DEPAN
SABDA.org
Nats : Siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya (Yakobus 3:2)
Bacaan : Yakobus 3:1-12
"Mulutmu Harimaumu," demikianlah bunyi slogan iklan sebuah perusahaan jasa telepon selular. Ungkapan ini benar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita ibarat harimau: sangat berkuasa. Ucapan hakim di pengadilan bisa menentukan hidup matinya seorang terdakwa. Ucapan seorang pejabat bisa memengaruhi nasib rakyat. Ucapan pengusaha pada rekannya dapat membuat transaksi bisnis jadi atau batal. Ucapan seorang pria pada kekasihnya bisa membuatnya tersanjung atau tersinggung. Sekali salah ucap, akibatnya bisa gawat!
Tidak heran, Yakobus menasihati agar orang berpikir ulang jika hendak menjadi guru. Tanggung jawab yang ditanggung berat. Setiap hari guru mengucapkan ribuan kata. Ucapannya membentuk cara berpikir murid. Idealnya, semua yang guru ucapkan harus benar. Padahal, kerap kali kita salah bicara. Mengucapkan apa yang tidak perlu atau tidak pantas. Mengendalikan lidah memang lebih sulit daripada mengendalikan api atau menjinakkan binatang. Tanpa dikekang, lidah bisa menjadi liar. Kadang mengucapkan berkat, kadang kutuk. Tidak konsisten. Jika ini terjadi, mana bisa guru menjadi teladan? Mana bisa dipegang perkataannya?
Setiap orang percaya adalah "guru". Pendidik. Kita diberi tugas mengajar dan menasihati sesama. Setiap orangtua pun bertugas menjadi guru bagi anak-anaknya. Jadi, belajarlah mengekang lidah. Berpikirlah lebih dulu, baru berbicara. Saring dulu, baru ucapkan. Lebih penting lagi: jagalah hati agar selalu murni. Sebab apa yang keluar dari mulut, berasal dari hati (Matius 15:18). Hati-hatilah: mulutmu harimaumu. Jangan menerkam orang lain dengan kata-kata Anda -JTI
PERKATAAN YANG DIUCAPKAN TEPAT PADA WAKTUNYA
ADALAH SEPERTI BUAH APEL EMAS DI PINGGAN PERAK -AMSAL 25:11
SABDA.org
The following three-word phrases can enrich every relationship. These are just three little BUT VERY POWERFUL words !!! Try them
I’ll Be There
If you have ever had to call a friend in the middle of the night, to take a sick child to hospital, or when your car has broken down some miles from home, you will know how good it feels to hear the phrase “I’ll be there.” Being there for another person is the greatest gift we can give. When we’re truly present for other people, important things happen to them & us. We are renewed in love and friendship.We are restored emotionally and spiritually. Being there is at the very core of civility.
I Miss You
Perhaps more marriages could be saved & strengthened if couples simply & sincerely say to each other “I miss you.” This powerful affirmation tells partners they are wanted, needed, desired & loved. Consider how ecstatic you would feel, if you received an unexpected phone call from your spouse in the middle of your workday, just to say “I miss you.”
I Respect You / I Trust You
Respect and trust is another way of showing love. Its conveys the feeling that another person is a true equal. If you talk to your children as if they were adults you will strengthen the bonds & become close friends. This applies to all interpersonal relationships
Maybe You’re Right
This phrase is highly effective in diffusing an argument and restoring frayed emotions. The flip side to “maybe you’re right” is the humility of admitting maybe “I’m wrong”. Let’s face it. When you have a heated argument with someone, all you do is cement the other person’s point of view. They, or you, will not change their stance and you run the risk of seriously damaging the relationship between you.Saying “maybe you’re right” can open the door to further explore the subject, in which you may then have the opportunity to get your view across in a more rational manner.
Please Forgive Me
Many broken relationships could be restored and healed if people would admit their mistakes and ask for forgiveness. All of us are vulnerable to faults and failures. A man should never be ashamed to own up that he has been in the wrong, which is saying, in other words, that he is wiser today than he was yesterday.
I Thank You
Gratitude is an exquisite form of courtesy. People who enjoy the companionship of good, close friends are those who don’t take daily courtesies for granted. They are quick to thank their friends for their many expressions of kindness. On the other hand, people whose circle of friends is severely constricted often do not have the attitude of gratitude.
Count On Me
A friend is one who walks in when others walk out. Loyalty is an essential ingredient for true friendship; it is the emotional glue that bonds people. Those that are rich in their relationships tend to be steady and true friends. When troubles come, a good friend is there indicating “you can count on me.”
Let Me Help
The best of friends see a need and try to fill it. When they spot a hurt they do what they can to heal it. Without being asked, they pitch in and help.
I Understand You
People become closer and enjoy each other more if they feel the other person accepts and understands them. Letting your spouse know in so many little ways that you understand them, is one of the most powerful tools for healing relationship. This applies to any relationship.
Go For It
We are all unique individuals. Don’t try to get your friends to conform to your ideals. Support them in pursuing their interests, no matter how weird they seem to you. Everyone has dreams, dreams that are unique to that person only. Support and encourage your friends to follow their dreams. Tell them to “go for it.”
I Love You
Perhaps the most important three words that you can say. Telling someone that you truly love them satisfies a person’s deepest emotional needs. The need to belong, to feel appreciated and to be wanted.Your spouse, your children, your friends and you, all need to hear those three little words “I love you.”
====================================================
Never regret a day in your life.
Good days give you happiness;
Bad days give you experiences;
Both are essential to life
Tahukah anda kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya, dibalik itu adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?
Tahukah anda kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?
Tahukah anda kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan adalah : Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku
Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian warna merah lebih yakin kepada dirinya sendiri?
Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian kuning adalah orang yang menikmati kecantikannya sendiri?
Tahukah anda kalau orang yang suka berpakaian hitam adalah orang yang ingin tidak diperhatikan dan butuh bantuan dan pengertian anda?
Tahukah anda kalau anda menolong seseorang, pertolongan tersebut dikembalikan dua kali lipat?
Tahukah anda bahwa lebih mudah mengatakan perasaan anda dalam tulisan dibandingkan mengatakan kepada seseorang secara langsung? Tapi tahukah anda bahwa hal tersebut akan lebih bernilai saat anda mengatakannya dihadapan orang tersebut?
Tahukah anda kalau anda memohon sesuatu dengan keyakinan, keinginan anda tersebut pasti dikabulkan?
Tahukah anda bahwa anda bisa mewujudkan impian anda, spt jatuh cinta, menjadi kaya, selalu sehat, jika anda memintanya dengan keyakinan, dan jika anda benar2 tahu, anda akan terkejut dengan apa yang bisa anda lakukan.
Tapi jangan percaya semua yang saya katakan, sebelum anda mencobanya sendiri, jika anda tahu seseorang yang benar2 butuh sesuatu yg saya sebutkan diatas, dan anda tahu anda bisa menolongnya, anda akan melihat bahwa pertolongan tersebut akan dikembalikan dua kali lipat.
Today's Scripture
"I have come that they may have life, and have it to the full." (John 10:10)
Today's Word from Joel and Victoria
Jesus wants us to live satisfied lives. He came that we might have and enjoy life, and have it to the full-until it overflows! A major key to enjoying life is that we simply live to give. True happiness and true fulfillment comes when we give our lives away. God has a specific plan for every one of our lives. His plan involves reaching out and touching other people. The Bible tells us in Hebrews 3:13 that "we should exhort one another daily." So make the decision that you're going to be a giver and encourage somebody every single day!
A Prayer for Today
God, I confess that I sometimes focus only on my own needs and wants. Please help me to be a "giver" by putting others first. I want to live according to your plan, so remind me to lift up the people I encounter today with my prayers, actions, and words. In Jesus' name - Amen.
Joel Osteen Ministries
Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama. Ketika tiba hari, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.
Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca cola pertama diturunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp.4.000.
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana, kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7500.
Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana. Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika keluarkan, kaleng ini dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.
Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama?
Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP. Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.
(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA.
Today's Scripture
"Who of you by worrying can add one cubit to his stature?" (Matthew 6:27)
Today's Word from Joel and Victoria
Worrying gives the devil the opportunity to move, just like worship gives God the opportunity to move. Worrying means to play the enemy's lies in your mind, over and over again. God promises in Isaiah 26:3 that He will keep us in perfect peace when we keep our minds stayed on Him. So when the opportunity to worry comes, use it as a reminder to worship the Lord and thank Him for His good and precious promises! Cast all of your cares on the Lord, because He cares for you!
A Prayer for Today
God, I am weary from worrying. Please help me to stop the soundtrack of needless worry that plays over and over again in my head. I want to place my fears and concerns in Your hands and live in peace knowing that You will fulfill all of your precious promises to me. In Jesus' name - Amen.
Joel Osteen Ministries
Bacaan: Matius 9:18-26
Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.- Matius 9:22
Kaum Gurka adalah pejuang Nepal yang sangat berani dan tak pernah mengenal rasa takut. Hanya kali ini mereka tampak ragu-ragu ketika menerima perintah untuk melompat dari pesawat tempur dalam sebuah peperangan. Biasanya pejuang ini selalu berkata ya untuk setiap perintah, namun kali ini mereka mengajukan beberapa persyaratan untuk berani melompat dari pesawat tempur. Ada tiga syarat yang mereka ajukan, yang pertama : tanahnya penuh semak, tak berbatu-batu dan lunak, yang kedua : pesawat yang mengangkut mereka harus terbang selambat mungkin dan yang ketiga : pesawat itu tak terbang lebih dari 30 meter. Kontan saja, si ahli strategi perang berkata, “Syarat yang pertama dan kedua bisa dipenuhi, tapi syarat yang ketiga jelas tak mungkin, karena parasutnya tak akan sempat terbuka dari ketinggian 30 meter.” Para Gurka berkata, “O, kalau begitu tidak apa-apa deh. Kami bersedia lompat dari mana saja. Anda tidak menyebutkan soal parasut itu sebelumnya.”
Ketika saya membaca kisah nyata tersebut, saya tersenyum geli melihat keluguan sekaligus keberanian pejuang Gurka untuk melakukan apa saja demi kemerdekaan. Bahkan melompat dari ketinggian 30 meter tanpa parasut pun mereka berani melakukannya. Berbicara tentang kehidupan iman kita, harusnya kita lebih dari pejuang Gurka tersebut. Mengapa? Karena kita memiliki Panglima perang yang bijak yaitu Tuhan kita sendiri. Ia tidak pernah menyuruh kita melakukan lompatan iman, tanpa janji penyertaan-Nya.
Hanya sayang kita selalu takut untuk melakukan lompatan iman, meski Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan “parasut surgawi” , malaikat Tuhan yang menjaga kita, bahkan janji-Nya sendiri bahwa Ia akan selalu menyertai dan menolong kita. Kita selalu meragukan Tuhan dan mengijinkan kebimbangan bermain-main di area pikiran kita. Bagaimana kalau nanti Tuhan tidak menolong? Bagaimana kalau gagal? Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?
Dan apa jadinya dengan orang yang dikuasai kebimbangan seperti itu? Ia justru tidak akan mendapat apa-apa! Sebab itu jika Tuhan menghendaki kita melakukan lompatan iman, milikilah keyakinan bahwa janji dan penyertaan-Nya itu sempurna. Seperti halnya Musa yang membelah laut kolsom. Demikian juga mujijat akan kita alami kalau kita berani melakukan lompatan iman.
(Kwik)
Renungan Harian Spirit
Tidak ada jawaban. Aku menyelinap masuk. Kamar Idan gelap, tapi dengan cahaya samar lampu taman aku bisa melihatnya meringkuk di sudut, wajahnya tersembunyi dibalik kedua tangannya. Ia menepis tanganku, bahkan mendorongku terjungkal saat aku menyentuh bahunya. Tapi ketika untuk ketiga kalinya kuulurkan tanganku, ia tidak lagi menghindar, dan dalam rangkulanku ia menangis. Hanya saat itu Idan tidak bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Idan yang rasional dan berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur keempat kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris mengerikan.
Sore harinya, saat aku tengah membantu merapikan kembali ruang tamu, kakak
tertua Idan, Kak Ira, menghampiriku.
"Pit, bawa Idan pulang."
"Apa tidak sebaiknya dia di sini dulu, Kak?"
Kak Ira menggeleng. "Coba lihat sendiri," katanya sambil menunjuk ke halaman belakang. Idan kutemukan di sana, sedang mengisap sebatang rokok. Ia sudah tujuh belas tahun berhenti merokok dan melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuatku sadar ia sedang bergelut dengan kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya. Ketika aku mendekat, kulihat asbak di sampingnya telah penuh dengan puntung rokok dan kotak di atas meja tinggal berisi sebatang. Kucabut rokok itu dari antara jemarinya dan kubunuh di asbak. Idan tidak memprotes, ia bahkan tidak menatapku. Aku sadar Kak Ira memang benar. Aku harus segera membawa Idan jauh-jauh dari semua kenangan tentang ibunya.
"Aku mau pulang, Dan, " ujarku sambil memegang tangannya. Ia menggeleng pelan.
"Aku akan menginap di sini. Kau pulanglah sendiri. Besok aku pulang naik bus saja."
"Aku tidak mau sendirian di rumah."
Idan menghela napas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan kepada kakak dan iparnya dan keluar untuk mengambil mobil. Saat itu Kak Ira menggamit tanganku dan berbisik, " Aku senang Idan sudah menikah denganmu. Kau pasti bisa menghiburnya dalam saat-saat seperti ini. Ia paling merasa kehilangan dengan meninggalnya Mama. Kau tahu, ia tinggal dengan Mama selama tiga puluh tiga tahun."
Aku terpana sesaat. Dadaku ngilu. Kupeluk Kak Ira dengan hati menggigil. Bagaimana bisa kukatakan kepadan ya bahwa aku dan Idan sudah sepakat untuk mengakhiri pernikahan ini secepatnya? Sesampai di rumah, Idan langsung menuju ke kamarnya.
"Kau mau kumasakkan nasi goreng, Dan?"
"Nanti saja. Aku tidak lapar."
"Kau tidak makan apa-apa dari kemarin subuh. Nanti kau sakit. Mau ya?"
Idan mengangguk dengan mata hampa. Aku jadi semakin khawatir melihatnya.
"Tunggu di sini," ujarku lagi. "Aku tidak akan lama."
Ketika aku baru saja mengambil telur dari lemari es, aku mendengar suara Idan di kamar mandi. Ia kutemukan membungkuk di wastafel, menangis dan muntah hampir bersamaan. Untuk sesaat kepanikan melumpuhkanku dan aku hanya bisa terpaku diambang pintu, tak pasti apa yang harus kulakukan. Insting pertamaku adalah lari keluar mencari bantuan. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan dalam keadaan seperti itu. Kuhampiri Idan dengan ragu. Perlahan kuelus punggungnya dan sentuhanku agaknya sedikit menenangkannya, dan lambat laun isaknya mereda. Ini membuatku lebih yakin dengan apa yang mesti kulakukan selanjutnya. Kupijat tengkuknya dan kuseka keringat di dahinya. Tapi tiba-tiba saja ia terkulai lemas, dan kalau aku tidak segera meraihnya ke dalam pelukanku, ia pasti akan terpuruk ke lantai. Pelan-pelan kupapah ia ke kamar dan kubaringkan di ranjang. Kubuka kemejanya yang basah dan kuselimuti badannya yang menggigil.
"Maaf, Pit," bisiknya. "Aku tidak bisa menangis di depan kakak-kakakku. Mereka ...."
"Aku tahu. Tidak apa-apa", tanganku masih gemetar saat aku mengelus rambutnya.
"Aku buatkan teh panas, nanti kau minum, ya." Ia mengangguk dan aku beranjak meninggalkannya. Ketika aku kembali, ia kelihatan agak lebih baik. Dihirupnya sedikit teh yang kubawa. Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika aku merapikan kembali selimutnya, Ia memegang tanganku.
"Terima kasih."
"Kau pernah melakukan lebih dari ini untukku."
"Bukan untuk tehnya. Untuk tidak memberiku pernapasan buatan," ia tersenyum nakal.
"Oh, kau!" aku ikut tersenyum, lega.
"Dan untuk menikah denganku," lanjut Idan kemudian, ekspresinya begitu serius.
"Setidak-tidaknya sebelum meninggal, Mama bisa tenang karena mengira aku sudah beristri."
Aku tertegun sesaat. Suaraku goyah dan terbata saat aku bicara, "Aku yang mesti berterima kasih kepadamu."
"Untuk apa?"
"Untuk setahun yang kau lewati denganku. Untuk kesabaranmu. Pengorbananmu."
Idan tersenyum kecil. "Aku tidak melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini setahun yang sangat menyenangkan untukku. Seharusnya aku yang berterima kasih."
"Jangan memaksa," aku mencoba bercanda. "Aku yang harus berterima kasih. Mengalahlah sedikit."
Idan tersenyum dan mencubit hidungku. Tangannya tidak sedingin tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiranku.
"Aku masih tidak mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini," katanya.
"Entahlah, Dan," aku tertawa kecil. "Mungkin aku sudah sangat capai berkilah tiap kali ibuku merongrong soal perkawinan. Dan aku melihat usulmu itu sebagai jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus, keenggananku untuk menikah, karena tidak ada calon yang pas; dan keinginan ibuku yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah."
"Apa yang kau dapat setelah setahun kita menikah?" tanyanya dengan mimik lebih serius. Aku terdiam sejenak. "Banyak," jawabku akhir nya. "Aku belajar bahwa aku tidak menikah dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia, yang punya kekurangan yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam pernikahan, bila kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan tidak selalu berarti kekalahan, tapi boleh jadi suatu kemenangan bersama."
Aku ingin menambahkan bahwa pernikahan membutuhkan cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi aku tidak punya nyali untuk menyatakan semua itu.
"Kau memang selalu pintar bicara," Idan tersenyum.
"Kau sendiri? Apa ya ng kau pelajari selama ini?"
"Hanya satu. Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi setelah kau pergi."
Aku tertegun. "Apa maksudmu?"
Idan bangkit dan duduk mencangkung menatapku. "Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi berpikir aku adalah laki-laki paling bahagia di dunia ini. Dan setiap malam waktu aku pulang dan kau tersenyum menyambutku, aku merasa aku jadi manusia paling beruntung di seluruh jagad raya. Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai berharap kau akan bersamaku terus, walaupun harapan itu, aku tahu, konyol. Tapi kalau kau mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau akan kehilangan akal sehat."
Kutatap wajah Idan lekat-lekat. Ia tidak kelihatan sedang bercanda. Ia tampak sangat tenang dan serius.
"Aku masih belum mengerti," bisikku.
"Pernikahan ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Pit. Ini adalah pernikahan sesungguhnya untukku."
"Apa maksudmu kau mencintaiku?", suaraku tercekik.
"Apa yang tidak kau pahami? Aku mencintaimu," kata-kata Idan begitu lugas, menghantamku seperti sebuah pukulan keras yang membuatku terempas.
"Aku mencintaimu sejak kau memarahiku karena nyaris melindas kelincimu, dua puluh tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama belasan tahun. Dan aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu hingga kini."
"Kau ... kau tidak pernah ...."
"Kau tidak pernah memberiku kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati karena orang lain, dan kau selalu datang kepadaku menceritakan semuanya. Aku tahu aku bukan lelaki idamanmu. Aku tidak menggambar. Tidak menulis puisi. Kalau kau bilang sebuah lukisan itu bagus, aku tidak mengerti kenapa. Aku bukan jago pidato dan calon ketua OSIS yang kau gilai di SMA. Aku bukan aktivis kampus yang membuatmu mabuk kepayang waktu kuliah dulu. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk berterus terang kepadamu."
"Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Dan," ujarku lirih. "Kau istimewa dengan caramu sendiri."
Ia mengangkat bahu. "Tidak cukup untuk kau cintai."
Sesaat aku hanya bisa terdiam, menatap kedua mata Idan, mencari tanda-tanda kalau semua ini hanya salah satu dari sekian banyak permainannya. Tapi ia kelihatan sungguh-sungguh.
"Kenapa kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti ini? Apa yang kau inginkan?", tanyaku datar. Idan tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam senyumnya, sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya.
"Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mesti mengatakan semua ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci kepadaku atau melupakanku sekalipun."
Ia tertunduk sesaat. Ada sorot yang asing berpijar di matanya saat ia kembali menatapku.
"Dan kalau kau tanya apa yang kuinginkan, aku ingin kau disini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau belajar dan akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam dan separah cintaku kepadamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya sekedar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang pernah kutunjukkan."
Ia menghela napas berat. "Tapi itu semua keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu juga."
Lama kami berdua saling berpandangan. "Terima kasih, Dan," desahku akhirnya. Kupeluk ia erat-erat, menyembunyikan air mataku di bahunya.
"Aku sudah bicara dengan Idan, Pram. Tapi aku terpaksa menunda proses perceraian itu. Idan baru saja kehilangan ibunya. Rasanya tidak pantas bicara soal perceraian saat ini."
"Berapa lama?"
"Entahlah. Sebulan dua bulan mungkin."
"Kau tahu waktu kita sangat terbatas, Ta. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Jerman. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi. Mungkin tidak dalam setahun atau dua tahun ke depan. Dan kita akan kehilangan waktu yang mestinya bisa kita lewati berdua."
"Aku tahu, Pram. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Idan sekarang. Dia membutuhkan aku."
"Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Ta. Dan pikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya bersama?"
Aku menghela napas panjang. "Entahlah, Pram", bisikku.
"Apa maksudmu?" suara Pram terdengar kaget.
"Aku .... Aku tidak akan bahagia kalau Idan menderita."
"Ita! Kau tidak .... Dengar, pikir baik- baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan bahagia?"
"Aku tidak merasa menderita menjadi istrinya."
"Tapi kau tidak bahagia!"
"Aku bahagia, Pram. Mungkin tidak seperti saat aku bersamamu. Tapi Idan membuatku bahagia."
"Kau tidak bisa melakukan ini, Ta. Kau hanya kasihan kepadanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini."
"Aku bisa belajar memaafkan diriku sendiri."
"Ita, kau tidak mencintainya!"
"Ia mencintaiku. Itu lebih dari cukup."
"Kau hanya bingung, Ta. Aku mengerti. Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?"
"Aku tidak pernah akan lupa, Pram."
"Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran secepat ini?"
"Idan mengajariku tentang cinta."
"Hanya karena itu?"
"Juga karena aku yakin, aku akan belajar mencintainya."
"Ita ...."
"Selamat tinggal, Pram. Mudah-mudahan kau akan sebahagia aku nantinya, atau mungkin lebih bahagia lagi."
Telepon kututup sebelum air mataku luruh.
"Upit."
Aku tersentak dan berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Idan berdiri di belakangku. Wajahnya penuh tanda tanya dan ia menggeleng perlahan sambil duduk di lantai di sisi kursiku.
"Kenapa?" tanyanya. Aku tak bisa menjawab. Air mataku menetes satu-satu dan dengan lembut ia menyeka pipiku dengan jarinya.
"Aku tak bisa melihatmu begini", lanjutnya pelan. "Ini keputusan yang sangat konyol, Pit. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu sekali lagi?"
Aku mengangguk.
"Dia akan membuatmu sangat bahagia, Pit."
Aku mengangguk.
"Kau akan menyesal."
Aku mengangguk.
"Kau akan sedih, kecewa ...."
Aku mengangguk.
"Kau tidak mencintaiku."
Aku menggeleng.
Idan terbelalak. "Upit!" pekiknya tertahan.
"Idan, maafkan isterimu ini", sambil merangkul suaminya
Tamat
Seorang professor diundang untuk berbicara disebuah basis militer. Di sana , ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya. Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.
Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas.
Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu?", tanya sang professor.
"Melakukan apa ? "tanya Ralph.
"Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?", desak sang professor.
"Oh.." kata Ralph, "selama perang ....saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal."
Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam, juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.
"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah." katanya.
"Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya."
"Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjal ani kehidupan seperti ini."
Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.
Nilai manusia tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT...
Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini. Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri.
- ANd WhATEvEr yOu Do, dO iT HEaRtiLy aS FoR ThE LoRd ^^ -