Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

10 July 2008

3 Things In Life

Three things in life that, once gone, never come back

1. Time

2. Words

3. Opportunity

Three things in life that can destroy a person

1. Anger

2. Pride

3. Unforgiveness

Three things in life that you should never lose

1. Hope

2. Peace

3. Honesty

Three things in life that are most valuable

1. Love

2. Family & Friends

3. Kindness

Three things in life that are never certain

1. Fortune

2. Success

3. Dreams

Three things that make a person

1. Commitment

2. Sincerity

3. Hard work

Three things that are truly constant -

Father - Son - Holy Spirit

I ask the Lord to bless you,

as I pray for you today,

to guide you and protect you,

as you go along your way.

God's love is always with you,

God's promises are true.

And when you give God all your cares,

you know God will see you through.

Please pass this along to People you want God to Bless.

09 July 2008

Aku & Kamu

Ketika AKU menciptakan langit dan bumi. AKU berfirman dan jadilah.

Ketika AKU menciptakan pria, AKU membentuknya dan meniupkan nafas kehidupan ke lubang hidungnya. Tetapi engkau, wanita, AKU menghiasmu setelah aku meniupkan nafas kehidupan ke pria karena lubang hidungmu terlalu lembut. AKU membiarkan pria tertidur dengan nyenyak sehingga AKU dapat dengan sabar dan sempurna membentuk engkau. Pria AKU buat tertidur supaya dia tidak dapat mencampuri hasil karyaKu yang sempurna. Dari satu tulang, AKU menghiasmu.

AKU memilih tulang yg melindungi kehidupan pria. AKU memilih tulang rusuk, yang melindungi jantung dan paru-paru dan mendukungnya, sebagaimana yg harus kamu lakukan. Dari satu tulang ini, aku membentukmu dengan sempurna dan cantik. Sifatmu adalah seperti tulang rusuk, kuat tetapi lembut dan mudah patah.

Engkau menyediakan perlindungan untuk organ paling lembut dari pria, yaitu hati atau jantungnya. Jantungnya adalah pusat dari kehidupannya, paru-parunya menggenggam nafas kehidupan. Tulang rusuk akan membiarkan dirinya patah sebelum ia mengijinkan kerusakan terjadi pada jantung. Jika hati rusak, berarti rusuk telah hancur.

Dukunglah pria sebagaimana tulang rusuk melindungi tubuhnya. Engkau tidak diambil dari kakinya utk menjadi alasnya, tidak juga diambil dari kepalanya utk menjadi atasannya. Engkau diambil dari sisinya, utk berdiri di sebelahnya dan dipeluk dengan erat.

Engkau adalah malaikat-KU yg sempurna. Engkau adalah gadis kecilku yg cantik. Engkau telah tumbuh menjadi wanita yg sempurna, dan mata-KU terpuaskan ketika aku melihat hatimu. Bibirmu sangat cantik ketika mengucapkan doa. Hidungmu sangat sempurna dalam bentuk. Tanganmu sangat lembut untuk disentuh. AKU telah memberi perhatian pada wajahmu saat engkau tertidur. AKU menggenggam hatimu dekat dengan-KU. Dari semua yg hidup dan bernafas, engkau adalah yg paling mirip dgn AKU.

Adam berjalan bersamaku di hari yg dingin dan dia kesepian. Dia tidak dpt melihat ataupun menyentuh-KU. Dia hanya dapat merasakan-KU. Jadi semua yang AKU ingin Adam berbagi denganku, Aku membentuknya di dalam kamu. Kekuatan-KU, kemurnian-KU, cinta-KU, perlindungan- KU dan dukungan-KU. Engkau adalah istimewa karena engkau adalah perpanjangan tangan-KU. Pria melambangkan citra-KU, wanita, perasaan-KU. Bersama-sama, kalian melambangkan kesempurnaan yg sejati.

Jadi, Pria - perlakukan wanita dengan baik. Cintailah dia, hormatilah dia, krn ia lembut. Menyakitinya, berarti engkau menyakiti-KU. Apa yg engkau lakukan kepadanya, engkau melakukan-nya kepada-KU. Jika engkau menghancurkannya, engkau hanya menghancurkan hatimu sendiri, hati-Nya.

Wanita, dukunglah pria. Dalam kesederhanaan, tunjukkan kepadanya kekuatan perasaan yg telah KU berikan kepadamu. Dalam kesunyian, tunjukkan kekuatanmu. Dalam cinta, tunjukkan kepadanya bahwa engkau adalah tulang rusuknya yg melindungi tubuhnya.

Setelah Kau Menikahiku Bag. IX

Kututup telepon, tiba-tiba merasa begitu dingin dan sendiri. Pilihan yang sulit: Idan atau Pram?

"Kita tidak bisa bertemu lagi Pram," ujarku kepada Pram di telepon. Separuh jiwaku rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu kuucapkan.

"Kenapa? Idan melarangmu?"

"Dia tidak tahu apa-apa."

"Kenapa kau terus memikirkan dia, Ta. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau sudi menghabiskan hidupmu dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau bisa mendapatkan semuanya?"

Kugigit bibir ku saat setetes air bergulir di pipiku.

"Ita, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku kepadamu dan hidupmu baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Idan, hidup kita hanya mimpi, cacat, timpang. Dan kita baru akan memulai hidup, setelah kita bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa, Ta, tidak juga masa depan, tapi berdua, kita akan miliki segalanya ...."

"Hentikan," potongku dengan suara bergetar.

"Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu disuruh mundur. Ini menyangkut sisa hidup ku dan hidupmu. Tidak ada yang lebih penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali denganku."

"Aku tidak bisa ...."

"Kenapa tidak?"

Ya, kenapa tidak. Pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang. Tapi tetap hanya sekadar sandiwara. Tapi kenapa rasanya berat sekali memutuskannya?

"Kau tidak mencintai Idan, Ta. Kau berbeda dengannya, jadi bukan kesalahanmu kalau kau tidak bisa mencintainya. Satu-satunya perasaan yang layak kau simpan untuknya cuma iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu dan ia akan selamanya menikah dengan perempuan yang mencintai lelaki lain."

"Aku ...."

"Akuilah, Ta, kau mencintaiku. Kebersamaan kita adalah takdir."

Kututup mikrofon dengan tanganku dan menghela napas panjang. Seluruh tubuhku rasanya terbakar dan lunglai dan dunia seperti berputar makin cepat. Kupejamkan mataku. "Aku tidak mencintaimu," gumamku.

"Lebih keras lagi."

"Aku tidak mencintaimu."

"Kau berbohong."

Lama sekali aku terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan, "Ya."

"Ita," suara Pram gemetar. "Aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia."

Aku tahu sejak awal bahwa permainanku dengan Idan akan berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatiku tetap enggan berdamai dengan kenyataan bahwa aku harus bicara padanya tentang perpisahan. Aku sadar bahwa Idan sendiri tidak berhak dan tidak mungkin menghentikanku. Bahkan, mungkin ia akan merasa lega dengan keputusanku itu, karena akhirnya ia bisa membenahi hidupnya sendiri lagi. Mustahil ia akan menolak berpisah denganku. Apalagi, aku juga tahu ia sangat menyayangiku dan ingin aku bahagia. Dan aku tahu, keputusan untuk kembali kepada Pram adalah yang terbaik untukku dan masa depanku, sesuatu yang pasti akan didukung oleh Idan. Aku yakin keputusanku itu tidak merugikan siapa pun. Kenapa aku harus segan menyampaikannya pada Idan? Mula-mula aku berjanji kepada diriku sendiri untuk mencari waktu yang tepat. Tapi saat itu tak pernah datang. Setiap kali, aku dilanda keraguan dan akhirnya membatalkan niatku. Pram tidak bisa mengerti itu. "Aku ingin kita menikah sebelum aku kembali ke Jerman, Ta. Dan kau harus menempuh masa indahmu dulu. Belum lagi kita harus memikirkan pendapat orang lain yang pasti berkomentar kalau kau menikah denganku segera setelah masa indahmu selesai. Dan aku hanya di sini sepuluh bulan lagi."

"Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi ... Entahlah."

"Apa kau tidak yakin aku akan membuatmu bahagia?"

"Aku ...." aku tergagap dan menggeleng.

"Jadi, bicaralah dengan Idan."

Sore itu, aku pulang dengan hati berat. Aku sudah bertekad untuk bicara dengan Idan malam itu juga. Aku tak akan menundanya lagi. Begitu aku tiba di rumah, Idan sudah menungguku di teras. Matanya berbinar dan wajahnya berseri saat aku mendekati teras, hingga aku jadi berpikir, ada apa sebenarnya.

"Kenapa kau sudah di rumah?" tanyaku. Idan menyilangkan telunjuknya di depan bibir dan menggandeng tanganku ke dalam rumah. "Ada apa?"

"Sst!"

Ia membawaku ke serambi samping. Dengan bangga dikembangkannya tangannya. Di sana ada sebuah ayunan rotan berwarna putih, cukup lebar untuk tiga orang, dengan bantal-bantal yang kelihatan sangat mengundang, berwarna hijau dengan gambar ... mawar putih?

"Ini hadiah ulang tahun pertama perkawinan kita," katanya. Mataku beralih cepat dari ayunan rotan itu. Wajah Idan benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajahku yang pasti telah berubah warna.

"Aku ... aku tidak punya hadiah apa-apa," gumamku sambil kembali menatap ayunan itu, menyembunyikan kalutku. "Aku lupa ...."

Idan tertawa. "Kau bahkan tidak ingat ulang tahunmu sendiri," katanya. Ia duduk diayunan itu. "Ayo," katanya sambil menarik tanganku. Aku duduk disampingnya, tak tahu mesti mengatakan apa. Aku benar-benar tidak ingat bahwa setahun lalu hari itu, aku dan Idan menikah, simulasi. Kenapa Idan harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara aku sendiri sama sekali tak mengingatnya? Idan mulai berayun-ayun pelan sambil menggenggam tanganku. Ia sedang menceritakan sebuah kejadian lucu di kantornya, tapi aku sama sekali tak mendengarkan. Di kepalaku berdenging ribuan kata-kata yang akan segera kuucapkan padanya. Aku telah berlatih dalam hati untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan hati yang telah kubangun runtuh berserpihan.

"Pit, kau tidak menyimak kata-kata Pak Guru, anak nakal," teguran Idan membuyarkan renunganku. "Ada apa?"

Kutatap matanya. "Dan, Pram pulang."

Dahinya berkerut. "Pram?"

"Pacarku yang pergi ke Jerman."

"Oh," ia mengangguk. "Kapan?"

"Sebulan lalu, waktu aku ulang tahun."

Ia mengangguk lagi. Aku tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu. "Dia sudah menikah?" tanya Idan, seperti mendorongku bicara. Aku menggeleng.

"Lalu?"

"Dia ingin menikah denganku," ujarku cepat-cepat, tanpa memandang wajahnya.

"Ia hanya di sini sepuluh bulan lagi. Karena itu, aku ingin kita segera bercerai."

"Oh."

Idan tak mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan ringan, seolah-olah sambil lalu, "Kau yakin ia mencintaimu?"

Aku mengangguk.

"Kau yakin akan bahagia dengannya?"

Sekali lagi aku hanya mengangguk.

"Kalau begitu, selamat," ketulusannya terdengar hangat. "Aku ikut bahagia."

Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Dan aku tidak menemukan setitik pun kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi hatiku. Idan bertanya beberapa hal tentang Pram dan semuanya kujawab dengan antusiasme gadis belasan tahun yang mabuk asmara. Tapi setelah beberapa waktu, aku sadar kalau ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan ceritaku.

"Dan?" tegurku.

"Ya?"

"Kau tidak mendengarkan. Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang berpikir, gadis mana yang bisa kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk bercerai denganku."

Malam itu aku terbangun saat Idan mengguncang bahuku.

"Pit, bangun!"

"Ada apa?" gumamku. Jam alarm di sisi ranjangku baru menunjukkan pukul tiga lima belas dini hari.

"Ganti baju cepat, kita mesti ke rumah sekarang. Mama meninggal."

Aku terlonjak duduk. "Apa?"

"Ganti baju," perintah Idan sambil meninggalkan kamarku. Aku terpaku sejenak sebelum akhirnya lari mengejar. "Kapan?"

"Baru saja."

"Di?"

"Rumah. Ganti bajumu. Kita berangkat lima menit lagi."

"Idan ...."

Ia membanting pintu kamar di depanku. Aku kembali ke kamarku dan bergegas mengganti piyamaku dengan baju yang pantas. Ketika aku keluar, semua lampu belum menyala dan pintu depan masih tertutup. Juga pintu kamar Idan. Kuketuk pintu itu perlahan.

"Dan, aku sudah siap."

 

Bersambung ke Bagian X

Doa Super Ngebut

Bacaan: Lukas 10:38-42

Saya memang berdoa secara rutin tiap hari, tapi ada kalanya doa saya super cepat dan terlihat begitu tergesa-gesa. Bukan seperti dua orang sahabat yang keasyikan ngobrol. Bukan juga seperti seorang anak yang bisa cerita panjang lebar kepada orang tuanya di meja makan. Lebih mirip seorang prajurit yang memberikan laporan kepada komandannya, singkat, cepat dan padat! Belum lagi saya tergoda untuk melirik jam dinding yang kebetulan ada di depan saya. Ketika jarum jam sudah menunjukkan angka tertentu, saya pun makin ngebut di dalam doa!

Saya biarkan kegiatan rutinitas saya termasuk pekerjaan, pelayanan dan urusan tetek bengek saya merebut waktu-waktu pribadi saya dengan Tuhan. Padahal bukankah teknologi yang ada sekarang ini sudah membantu kita untuk sedikit lebih santai? Tak perlu menulis dengan mesin ketik butut, sekarang ada komputer yang sangat hi-tech. Ada telpon, faks, sms, e-mail dan penyedia layanan komunikasi lainnya sehingga waktu kita bisa berhemat banyak. Belum lagi urusan dapur sekarang ini menjadi begitu mudah. Ada microwave, ada rice cooker, ada kompor gas (tak perlu mencari kayu di hutan dulu), ada mesin cuci, dll. Soal makanan juga semuanya serba instan. Bukankah semua ini harusnya bisa membuat kita menjadi lebih santai?

Kenyataannya, semakin ditemukan alat-alat canggih yang mempermudah kerja manusia, maka manusia justru menjadi lebih sibuk lagi! Aneh tapi nyata. Saya mengalaminya, saya rasa Anda juga sama.

Menjadi sibuk sebenarnya tak menjadi soal, selama kesibukan kita tidak mengurangi waktu-waktu pribadi kita dengan Tuhan. Sayangnya kita susah untuk mendisiplin diri dengan memberi waktu dengan Tuhan di jaman yang serba tergesa-gesa ini. Padahal sesungguhnya hubungan kita dengan Tuhan justru menjadi kunci apakah hari-hari kita menjadi efektif. Jujur saja, saya menulis renungan ini dengan penyesalan kepada Tuhan karena mengurangi waktu-waktu pribadi saya dengan Tuhan dan menambahnya untuk kesibukan saya secara pribadi. Berharap kita belajar seperti Yesus, di tengah padatnya jadwal pelayanan KKR dan roadshow dari kota ke kota, Yesus selalu memiliki waktu untuk berdoa dengan BapaNya. Atau sebaliknya, jangan-jangan Anda juga membaca renungan ini dengan tergesa-gesa?

(Kwik)

Renungan Harian Spirit

Kesehatian

KESEHATIAN MENDATANGKAN KUASA

Bahan Renungan Mazmur 133

Pembukaan :

Jika kita merenungkan Mazmur 133:1 kita mempelajari bahwa Tuhan menghendaki kalau kita hidup rukun bersama-sama dengan saudara seiman. Mazmur Daud berkata sungguh alangkah baik dan indahnya bila hidup kita dipenuhi dengan kerukunan. Kerukunan dan Kesehatian nampaknya menjadi satu kesatuan. Kita sama-sama akan mempelajari tema kesehatian yang mendatangkan kuasa.

Bila anda menghitung dengan kalkulator Anda, satu ditambah satu jawabannya adalah dua.  Tetapi, kalkulator Allah berbeda dengan kalkulator kita, satu ditambah satu bisa menjadi seribu, sepuluh ribu atau seratus ribu…  Karena bila dua orang sehati (satu orang ditambah satu orang), maka kuasa Allah bekerja dengan luar biasa.  Satu orang dapat mengalahkan seribu, tetapi dua orang dapat mengalahkan sepuluh ribu!

Yonatan dan pembawa senjatanya termasuk dalam hitungan sedikit orang yang mengerti prinsip ini.  Berdua mereka mendatangi perkemahan orang Filistin dengan senjata seadanya.  Yang lain berpangku tangan di perkemahan, karena senjata mereka telah dilucuti.  Di seluruh bangsa hanya Saul dan Yonatan yang memiliki senjata.  Hari itu Yonatan mengajak bujang pembawa senjatanya untuk menyerang, dan ide yang nampaknya tidak masuk akal ini langsung disetujui!

”Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: “Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang. Lalu jawab pembawa senjatanya itu kepadanya: “Lakukanlah niat hatimu itu; sungguh, aku sepakat.”  (1 Samuel 14:6-7)

Kisah nyata ini berakhir dengan gegap gempita, berdua, Yonatan dan bujangnya, menyebabkan para tentara yang gagah berani kehilangan nyali.  Rupanya semangat Yonatan dan bujangnya membuat bumi bergetar

It takes two wings for a bird to fly.
(Jesse Jackson)

KESEHATIAN MENDATANGKAN BERKAT

“Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.  Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:19-20)

Hanya dua orang!  Jumlah bukan merupakan masalah.  Syaratnya bukan jumlah, tetapi kesepakatan, kesehatian.  Bahasa asli sepakat adalah “sumphoneo” yang artinya harmonis, bersamaan, kompak, setuju.  Dari kata ini kita dapatkan kata simfoni, suatu paduan suara yang indah.  Simfoni indah yang dilantunkan oleh sebuah orkestra tidak berasal dari alat musik dan suara yang seragam.  Terompet melengking tinggi sementara cello berguman rendah.  Suara piano timbul dan tenggelam, di sela-sela iringan biola.  Namun mereka semua kompak melantunkan lagu di kunci yang sama.  Kesatuan (unity)Ta bukan berarti keseragaman (uniform).  Bayangkan bila semua pemain di orkestra adalah pemain piano, yang memukul nada yang sama pada ketukan yang sama.  Betapa membosankan!

No one can wistle a symphony.  It takes an orchestra to play it.
(H.E. Luccock)

Rupanya Tuhan menyukai simfoni kesehatian ini.  Bila Ia mendengarkan lagu-lagu merdu orkestra kesehatian, Ia segera menyuruh para malaikan memenuhi tempat itu dengan berkat. “Tempat itu” bisa berupa rumah tangga Anda, kantor Anda, maupun gereja dan kota kita:

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!  Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.  Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 133:1-3)

EMPAT “K” UNTUK MEMBANGUN KESEHATIAN

1.    KESAMAAN TUJUAN
Kesehatian tidak otomatis terjadi bila sekelompok orang berkumpul bersama-sama.  Bila para pemain musik datang dengan alat musik mereka masing-masing, bertemu tiap hari dan memainkan alat musik mereka, hal ini bukan jaminan bahwa mereka akan melantunkan lagu yang sama.  Perlu kesamaan tujuan, yaitu kesepakatan untuk memainkan lagu yang sama di kunci yang sama.  Bila tidak, bisa-bisa bukan simfoni indah yang kita dengarkan melainkan suara-suara fals yang menyakitkan telinga.  Apakah dalam keluarga Anda ada kesamaan tujuan?  Apakah Anda sudah mengenal tujuan kita bersama sebagai sebuah gereja?

Together we can change the world

2.    KOMUNIKASI
Dalam setiap orkestra, selalu ada konduktor yang mengatur para pemain musik.  Dengan gerakan-gerakan tangannya, ia berkomunikasi pada seluruh anggota orkestra, bagian mana yang main terlebih dahulu, apakah bermain dengan keras atau lembut, cepat atau lambat.  Demikian pula dalam keluarga dan gereja kita, komunikasi yang baik akan membuat seluruh tim mengerti apa yang diharapkan, bagaimana mereka dapat bersama-sama mencapai tujuan.  Komunikasikan dengan kata-kata yang positif keinginan Anda pada anggota keluarga yang lain.  Berikan kesempatan untuk tiap anggota keluarga berbicara dengan terbuka.  Dalam gerejapun, komunikasi sangat penting.  Gembala Satelit maupun Gembala Sel Pukat mengkomunikasikan tujuan kita bersama melalui kotbah, dan dorongan-dorongan yang membangkitkan semangat.  Dengarkan dengan teliti, agar Anda tidak memainkan lagu yang salah!

Praise loudly and blame softly

3.    KERJA SAMA
Bayangkan bila ada sebagian orang yang memang sangat ahli dalam bermain alat musiknya memutuskan untuk bermain sendiri tanpa mengikuti panduan lagu yang diputuskan oleh konduktor.  Walaupun mungkin permainan mereka bagus, tetapi tidak ada artinya bila tidak dilakukan dengan kompak bersama-sama pemain musik yang lain.  Apakah kita juga dapat bekerja sama dengan baik bersama dengan jemaat yang lain?  Apakah dalam keluarga, setiap anggotanya kompak mengikuti arahan dari kepala keluarga?

If you are not participating, you are not part of the team

4.    KOMITMEN
Ada orang-orang yang “tertarik” untuk melakukan sesuatu, tetapi ada juga yang membeirkan “komitmen” untuk melakukan hal itu.  Bila seseorang sekedar “tertarik”, ia akan mengerjakan hal tsb hanya dalam keadaan enak dan menguntungkan.  Komitmen memastikan bahwa kita akan bekerja dan maju bersama-sama, tidak peduli tantangan apapun yang menghadang kita.  Pemain musik yang tidak dapat memberikan komitmennya tentu saja tidak dapat dimasukkan dalam orkestra.  Apa jadinya bila ia tiba-tiba memutuskan untuk tidak naik panggung?  Tanpa yang satu ini, kesatuan tidak dapat terwujud.  Orang-orang yang berani memberikan komitmen mereka adalah orang-orang yang berani untuk berkorban dan melalui berbagai-bagai tantangan, untuk meraih keberhasilan yang lebih besar dari sekedar prestasi rata-rata.

Coming together, sharing together, working together, succeeding together.

Bila kita lihat, orang-orang yang dapat mengubah dunia adalah orang-orang yang memutuskan untuk bersatu.  Dua orang, Yonatan dan bujangnya, membuat sekelompok besar tentara Filistin ketakutan.  Dua orang bersaudara Wright, membuat pesawat terbang yang pertama, yang membawa revolusi pada cara kita hidup di abad ini. Tim yang memenangkan juara dunia sepak bola adalah tim yang bersatu.  Lagu-lagu yang menyentuh hati keluar dari orkestra yang kompak.  Keluarga yang kokoh, berdiri karena tiap anggotanya bersatu.  Dan gereja yang dapat mengubah komunitas, kota dan bangsa-bangsa adalah gereja yang tiap anggotanya bergerak mencapai tujuan yang sama, yang dikomunikasikan dengan positif, membangun kerja sama yang baik, serta berani memberikan komitmen mereka.

A job worth doing is a job worth doing together

Saudara - saudara sekalian semoga renungan ini bisa menjadi berkat bagi saudara yang membacanya, jika anda merasa diberkati, kirimkan kesaksian anda ke rumah renungan yah. God Bless You

Sumber : Jimmy Oentoro dan Berbagai Sumber

Cirebon, 5 Juli 2008

Dikirim oleh : Joshua Ivan Sudrajat S

Humor : Sales & Petani

Seorang sales sedang mencoba membujuk seorang petani untuk membeli sebuah sepeda.

Si petani menolak untuk membeli sebuah sepeda, tapi ternyata si sales tampaknya tidak mudah menyerah.

"Hei ... daripada membeli sepeda, lebih baik aku habiskan uangku untuk pelihara sapi," kata si petani.

"Ah," jawab si sales, "tapi coba pikir deh ... Anda akan sangat terlihat bodoh jika Anda bepergian dengan mengendarai seekor sapi."

"Huhh!!" hardik si petani. "Apakah tidak lebih bodoh jika orang melihatku memerah sebuah sepeda!"

08 July 2008

Humor : Mr. Bean

Mr. Bean di sekolah

Guru: Berapakah 5 plus 4?
Mr. Bean: 9
Guru: Berapakah 4 plus 5?
Mr. Bean: He, he, Anda mau menjebak saya, Anda hanya membalik hitungannya, jawabnya 6!


Mr. Bean di apotik

Mr. Bean: Saya ingin membeli vitamin untuk cucu saya.
Karyawan: Vitamin apa, A, B atau C?
Mr. Bean: Apa saja, cucu saya belum bisa membaca!!

The Smell Of Rain

A cold March wind danced around the dead of night in Dallas as the doctor walked into the small hospital room of Diana Blessing. Still groggy from surgery, her husband David held her hand as they braced themselves for the latest news. That afternoon of March 10, 1991, complications had forced Diana, only 24-weeks pregnant, to undergo an emergency cesarean to deliver the couple's new daughter, Danae Lu Blessing. At 12 inches long and weighing only one pound and nine ounces, they already knew she was perilously premature. Still, the doctor's soft words dropped like bombs. 'I don't think she's going to make it', he said, as kindly as he could. "There's only a 10-percent chance she will live through the night, and even then, if by some slim chance she does make it, her future could be a very cruel one."

Numb with disbelief, David and Diana listened as the doctor described the devastating problems Danae would likely face if she survived. She would never walk, she would never talk, she would probably be blind, and she would certainly be prone to other catastrophic conditions from cerebral palsy to complete mental retardation, and on and on. "No! No!" was all Diana could say. She and David, with their 5-year-old son Dustin, had long dreamed of the day they would have a daughter to become a family of four. Now, within a matter of hours, that dream was slipping away. Through the dark hours of morning as Danae held onto life by the thinnest thread, Diana slipped in and out of sleep, growing more and more determined that their tiny daughter would live-and live to be a healthy, happy young girl.

But David, fully awake and listening to additional dire details of their daughter's chances of ever leaving the hospital alive, much less healthy, knew he must confront his wife with the inevitable. David walked in and said that we needed to talk about making funeral arrangements. Diana remembers 'I felt so bad for him because he was doing everything, trying to include me in what was going on, but I just wouldn't listen, I couldn't listen.' I said, "No, that is not going to happen, no way! I don't care what the doctors say; Danae is not going to die! One day she will be just fine, and she will be coming home with us!"

As if willed to live by Diana's determination, Danae clung to life hour after hour, with the help of every medical machine and marvel her miniature body could endure. But as those first days passed, a new agony set in for David and Diana. Because Danae's under-developed nervous system was essentially 'raw,' the lightest kiss or caress only intensified her discomfort, so they couldn't even cradle their tiny baby girl against their chests to offer the strength of their love. All they could do, as Danae struggled alone beneath the ultraviolet light in the tangle of tubes and wires, was to pray that God would stay close to their precious little girl. There was never a moment when Danae suddenly grew stronger.

But as the weeks went by, she did slowly gain an ounce of weight here and an ounce of strength there. At last, when Danae turned two months old, her parents were able to hold her in their arms for the very first time. And two months later-though doctors continued to gently but grimly warn that her chances of surviving, much less living any kind of normal life, were next to zero. Danae went home from the hospital, just as her mother had predicted.

Today, five years later, Danae is a petite but feisty young girl with glittering gray eyes and an unquenchable zest for life. She shows no signs, what so ever, of any mental or physical impairment. Simply, she is everything a little girl can be and more-but that happy ending is far from the end of her story.

One blistering afternoon in the summer of 1996 near her home in Irving, Texas, Danae was sitting in her mother's lap in the bleachers of a local ballpark where her brother Dustin's baseball team was practicing. As always, Danae was chattering non-stop with her mother and several other adults sitting nearby when she suddenly fell silent. Hugging her arms across her chest, Danae asked, "Do you smell that?" Smelling the air and detecting the approach of a thunderstorm, Diana replied, "Yes, it smells like rain." Danae closed her eyes and again asked, "Do you smell that?" Once again, her mother replied, "Yes, I think we're about to get wet, it smells like rain." Still caught in the moment, Danae shook her head, patted her thin shoulders with her small hands and loudly announced, "No, it smells like Him. It smells like God when you lay your head on His chest." Tears blurred Diana's eyes as Danae then happily hopped down to play with the other children.

Before the rains came, her daughter's words confirmed what Diana and all the members of the extended Blessing family had known, at least in their hearts, all along. During those long days and nights of her first two months of her life, when her nerves were too sensitive for them to touch her, God was holding Danae on His chest and it is His loving scent that she remembers so well.

Stepping Stones Take Us Closer To God

Today's Scripture

"I will restore the years that the locust has eaten and I will bring you out with plenty and you shall be satisfied." (Joel 2:25)

Today's Word from Joel and Victoria

God wants you to live a satisfied life. He has promised to restore all the things that the enemy has stolen. However, just because God gives us this great promise, doesn't mean it will automatically come to pass. We've got to do our part, and develop a restoration mentality. We must expect things to change in our favor. We must be strong-willed and determined, and do everything we can to recover what the enemy has stolen from us. Remember, obstacles are simply opportunities for advancement. If you'll do your part to have a restoration mentality, God will take every obstacle that comes into your life and turn it into a stepping-stone that will take you to a place of higher honor and greater blessing.

A Prayer for Today

God, help me develop an attitude of hopeful expectancy. I know that You only want the best for me and that sometimes means learning to be strong even through hard times. Regardless of my circumstances, please remind me to be patient and to wait for you to reveal the perfect plan you have for my life. I want to have a "restoration mentality!" In Jesus' name - Amen.

 

Joel Osteen Ministries

Tergerak Bertindak

Nats : Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit (Matius 14:14)

Bacaan : Matius 14:13-21

Kalau Anda hanya punya tabungan Rp3.300.000,00, maukah Anda menyumbangkannya untuk orang lain? Elly Liligoli mau. Ia mempergunakan seluruh uang yang ia miliki untuk membeli buku pelajaran, alat tulis, dan kapur tulis untuk anak-anak Suku Rana di pedalaman Pulau Buru, Provinsi Maluku. Semua itu berawal dari air matanya yang mengucur ketika menyaksikan kenyataan bahwa ratusan anak Suku Rana tak dapat mengenyam bangku sekolah, sehingga mereka tidak dapat membaca, menulis, dan berhitung. Hati Elly tergerak oleh belas kasihan.

Ia pun nekat membangun sekolah darurat dan harus berupaya keras meyakinkan masyarakat yang telanjur apatis terhadap upaya pengadaan pendidikan. Bahkan, Elly memberi dirinya menjadi guru pengajar dari 125 anak Suku Rana. Ia mengajar membaca, menulis, berhitung, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan mata pelajaran lain. Dari upaya yang dirintis tahun 2001 itu, akhirnya ada 17 murid Sekolah Dasar Suku Rana pertama yang lulus Ujian Akhir Nasional. Murid-murid itu pun kemudian melanjutkan ke SMP.

Tentu kita juga pernah tergerak oleh belas kasihan ketika melihat, mendengar, atau membaca pengalaman menyedihkan yang dialami orang lain. Lalu kita bersimpati dan merasa iba. Alkitab juga kerap mencatat bahwa Tuhan Yesus "tergerak hatinya oleh belas kasihan". Bedanya, pada saat-saat demikian Yesus tidak hanya tergerak hati-Nya tetapi juga bertindak secara praktis, yaitu menyembuhkan mereka yang sakit (ayat 14). Ya, simpati yang diikuti tindakan sekecil apa pun akan jauh lebih berarti daripada sekadar rasa kasihan -AYA

HATI YANG TERGERAK OLEH SIMPATI ITU MANUSIAWI
SIMPATI YANG DIIKUTI TINDAKAN ITU KRISTIANI

SABDA.org

Setelah Kau Menikahiku Bag. VIII

Pram merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Dibelakangnya ia menuliskan sederet nomor. "Hubungi aku kalau kau bersedia. Aku menunggu."

Malamnya aku berbaring di kamar, menatap kartu itu lekat-lekat seperti gadis belia yang sedang mabuk kepayang. Aku bukan remaja lagi dan seharusnya aku lebih bisa menguasai diriku sendiri. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku sendiri. Kehadiran Pram membangunkan lagi semua harapan dan khayalan yang kukira telah lama lenyap. Tapi masih adakah kemungkinan antara aku dan Pram? Ia mengira dan aku telah meyakinkannya, kalau aku telah menikah dan segalanya telah berakhir. Yang ia tidak ketahui, pernikahanku dengan Idan hanya sebuah permainan yang bisa kusudahi kapan pun aku mau. Tapi, kalau pun ia tahu, apakah segalanya akan berbeda? Apa pendapatnya kalau aku menceritakan semua padanya? Aku ingin tidak memikirkan Pram lagi. Apa yang kuharapkan bersamanya mustahil terjadi. Tapi, hidup dengan Idan seperti ini selamanya juga tidak mungkin. Semua ini hanya sandiwara yang akan berakhir, cepat atau lambat. Apakah kembalinya Pram suatu kesempatan kedua yang semestinya kuraih karena mungkin tidak akan pernah ada lagi? Tapi bagaimana? Kiriman bunga kedua datang dua hari kemudian.

Aku memikirkanmu. Tahukah ia bahwa aku pun tak bisa menghapuskan senyum, mata, wajah dan suaranya dari benakku? Kotak mawar yang ketiga datang di akhir pekan. Maaf kalau kau menganggapku lancang karena terus mencintaimu. Tapi bisakah kau menghentikan badai? Aku tak bisa. Aku bahkan tak kuasa membendung gemuruh di hatiku sendiri. Aku ingin bersamanya, selamanya. Dan itu mustahil. Sore itu, sebelum aku pulang, kutekan nomor yang sudah kuhapal diluar kepala itu. "Kalau kau ada waktu, kita bisa melihat pameran lukisan di galeribaru dekat kantorku."

"Kau yang menentukan apa aku punya waktu atau tidak, Ita."

Dan esok harinya kuhabiskan bersama Pram, mendiskusikan lukisan dan benda seni, sesuatu yang lama ingin kuulangi lagi. Aku tak bisa memungkiri betapa menyenangkannya bercakap-cakap dengan Pram, membicarakan seribu satu hal yang tak pernah kusinggung saat bersama Idan. Setelah lama membicarakan masalah seni rupa, Pram tiba-tiba bertanya.

"Kenapa kau menikah dengan Idan?"

"Kenapa kau bertanya?"

"Seingatku, ia bukan tipemu."

Aku tertunduk. "Kenapa, Ita?"

"Idan mencintaiku", bisikku pelan.

"Apa kau mencintainya."

Kebisuanku mem berinya jawaban.

"Apa kau bahagia?" lanjutnya lirih.

Kutatap matanya yang teduh dan hangat. "Ya."

"Jangan berbohong."

"Idan suami yang baik."

"Tapi apa kau bahagia?"

Bagaimana mengatakan bahwa aku tidak pernah merasa sebahagia saat itu, melewatkan waktu bersamanya?

"Berapa lama kau menikah dengan Idan?"

"Setahun."

"Maaf kalau ini menyinggung perasaanmu. Tapi apa kau menikahinya karena terpaksa? Karena usia dan...."

"Stop." Aku bangkit dan meninggalkannya. Maafkan aku kalau perasaanmu terluka karena pertanyaanku. Tapi bisakah kau renungkan perasaanku sendiri? Bagaimana hatiku tersiksa ketika tahu pernikahan tidak membuatmu bahagia? Kartu itu bergetar ditanganku dan tulisannya kabur dalam genangan air mataku.

"Ita," tanya sekretarisku yang, entah kapan, telah memasuki ruangan.

"Ada apa?"

"Tidak apa-apa," bisikku, mencoba mengendalikan diri. "Tolong keluar sebentar. Aku harus menelepon Idan."

Begitu ia keluar, dengan sangat enggan kudial nomor kantor Idan. Aku tiba-tiba sadar bahwa sejak menikah dengannya aku tak lagi pernah mengadu dan bertanya kepadanya tentang segala hal yang menyangkut hati dan perasaan. Dan kini, aku tahu aku sangat membutuhkan masukannya, seperti dulu, sebelum ia menjadi suami simulasiku.

"Idan."

"Upit? Ada apa pagi-pagi begini?"

"Aku .... Kau tahu ..., " aku terbata. Bagaimana mulai menceritakan kepada suamiku -- walaupun hanya simulasi -- bahwa aku sedang dirundung kasmaran kepada lelaki lain? Idan tidak akan marah, aku tahu. Dia tidak berhak untuk itu. Tapi itu tidak membuat segalanya mudah. Ia bukan lagi sekadar seorang sahabat tempat curahan keluh kesah dan semua masalahku. Ia adalah suamiku, simulasi atau bukan sekalipun. Dan menceritakan hal seperti kartu dari Pram dan bunga mawar putihnya terasa sangat tidak pantas dan kejam untuk dilakukan.

"Ya?" desak Idan.

"Aku.... Idan, kau kenal Indri, kan?"

"Sekretarismu? Tentu."

"Bekas pacarnya yang pilot itu kembali."

"Lalu?"

"Sekarang mereka sering bertemu. Suami Indri tidak tahu, tentu. Tapi sekarang Indri bingung. Ia mengaku jatuh cinta lagi dengan bekas pacarnya itu. Dan si bekas pacar ini pun ingin menikahi Indri."

"Tapi Indri sudah punya anak dua kan?"

"Ya. Tapi menurut si pilot ini, anak bukan masalah. Mereka boleh memilih untuk tinggal dengan siapa."

"Lalu apa hubungannya semua itu denganmu?"

Aku menghela napas. "Indri bertanya apa yang mesti dia lakukan. Aku tak bisa menjawab."

"Dan kau bertanya pada pak gurumu. Baik. Eh! Tunggu sebentar," meskipun ia menutup mikrofon telepon, aku bisa mendengarnya berteriak kepada seseorang di ujung sana, "Tunggu sebentar, ini istriku! Ya, mulailah dulu. aku menyusul."

Istriku. Aku istrinya. Istrinya. Dan jantungku rasanya melesak ke dalam bumi.

"Maaf. Mereka benar-benar tidak bisa apa-apa tanpaku ...," suara Idan kembali di telepon.

"Karena kau yang membuatkan kopi?"

"Kau!" ia tertawa, lalu segera kembali serius. "...Kupikir Indri dan pacarnya terlalu egois. Mereka tidak bisa lagi hanya memikirkan keinginan mereka sendiri. Ada suami Indri dan anak-anaknya yang juga harus diperhitungkan."

"...Tapi kalau Indri tidak bahagia lagi menikah dengan suaminya, apa perkawinan itu harus dan bisa dipertahankan?"

"Sebaiknya kau tanya Indri, apa dia benar-benar mencintai bekas pacarnya itu, atau mereka hanya terpesona dengan nostalgia masa lalu? Apa mereka benar-benar saling membutuhkan atau mereka hanya ingin mengulang keindahan masa pacaran mereka dulu? Kalau hanya itu yang mereka inginkan, mereka akan kecewa kalau terus bersama, karena Indri dan pacarnya sudah jadi orang-orang yang berbeda, sudah lebih dewasa, bukan lagi remaja yang masih hijau."

"Indri bilang dia hanya mencintai lelaki itu, bukan suaminya. Ia tidak pernah mencintai suaminya."

"Kalau begitu kenapa dulu ia menikah?"

"Keadaan."

"Maksudnya?"

"Adik-adiknya sudah ingin menikah semua, tapi orang tuanya tidak mengizinkan karena mereka tidak mau Indri dilangkahi."

"Astaga. Kasihan sekali."

"Jadi bagaimana?"

Idan diam sejenak. "Aku tidak tahu, Pit. Yang aku tahu, aku tidak mau jadi penyebab ketidakbahagiaan seseorang. Kalau aku sarankan Indri untuk meninggalkan pacarnya, siapa tahu ia tidak akan pernah bahagia karena merasa terpaksa terus bersama suaminya. Kalau ia meninggalkan suaminya, aku juga tidak menjamin ia akan bahagia dengan orang yang hanya mengenalnya dipermukaan, tidak utuh, seperti suaminya."

"Lantas aku mesti bilang apa?"

"Sampaikan saja petuahku ini kepada Indri. Bilang saja ini saran dari pakar pernikahan kelas dunia yang reputasinya tidak diragukan lagi."

"Kau sama sekali tidak membantu," desahku.

"Ini bukan keran bocor atau teve rusak yang bisa diperbaiki begitu saja, Pit. Sedangkan memperbaiki teve rusak saja aku menyerah, jangan lagi mengurusi rumah tangga orang."

"Bodohnya lagi, aku bertanya kepadamu."

"Itulah, Pit. Aku sendiri heran kenapa aku mau membuang waktuku dan terpaksa terlambat ikut rapat untuk memberimu saran yang tak berguna."

Aku tertawa pahit. "Ya, sudah. Pergilah buat kopi sekarang. Terima kasih untuk saran dan waktumu."

"Sama-sama. Oh! Bosku ke sini. Aku harus pergi. I love you, Darling!" ia berteriak. Lalu kudengar suaranya, sedikit jauh dari telepon.

"Iya, Pak, sebentar. Istri saya ...."

 

Bersambung ke Bagian IX