Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

07 July 2008

Setelah Kau Menikahiku Bag. VII

"Selamat ulang tahun, Pit."

Aku terlonjak duduk dan menyalakan lampu. "Idan! Untuk apa kau sepagi ini di kamarku!"

"Memberimu selamat ulang tahun," jawabnya polos. Dan ia bangkit dari kursinya di sisi tempat tidur dan menarikku hingga berdiri.

"Ayo! Aku mau menunjukkan hadiah ulang tahunmu dariku!"

Ia menyeretku ke ruang kerja dan menyuruhku duduk di depan komputerku. Ada dua komputer di ruangan itu, satu milik Idan, yang sarat dengan berbagai programming software yang digunakannya untuk bekerja. Dan satu lagi milikku, lebih sederhana dan tidak secanggih milik Idan. Idan menyalakan komputerku dan duduk di sebelahku dengan mata berbinar. Sambil tersenyum geli, aku mencoba menebak apa yang telah disiapkan Idan untukku. Pisi? Personal website, dengan foto dan lagu? Aku menggeleng dalam hati, Idan tidak cukup romantis untuk itu.

"Kau lihat?"

Idan memotong renunganku.

"Apa?"

"Hadiahku."

Keningku berkerut. Tidak ada yang berbeda dengan tampilan komputer itu. Dengan ragu kuraih mouse dan mengklik tombol Start. Tidak ada yang berubah. Tapi Idan kentara sekali menjadi semakin antusias. Setelah membuka file-file-ku dan sekali lagi tidak menemukan apa pun, aku berpaling kepada Idan dengan ekspresi tak berdaya.

"Kau tidak menemukannya?" tanya Idan, dengan setitik kecewa dalam suaranya. Aku menggeleng.

"Aku menambah memori komputermu," akunya kemudian. Dan melihat raut wajahku yang tak berubah, menambah.

"Komputermu sekarang bisa bekerja lebih cepat."

Aku ingin sekali berbagi kegembiraannya. Ia kelihatan begitu bangga dengan hadiahnya, setidaknya beberapa detik yang lalu, sebelum ia sadar bahwa aku kecewa.

"Oh", hanya itu yang bisa kukatakan. "Terima kasih."

"Kau boleh memelukku kalau mau," katanya tersenyum dan membentangkan kedua tangannya. Kupukul lengannya dan tertawa. Dan pagi itu berlalu seperti hari-hari kemarin.

Di kantor teman-temanku menyambutku dengan ucapan selamat dan senyum pernuh arti. Ketika aku memasuki ruang kerjaku, aku mengerti kenapa mereka tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Di meja kerjaku ada sebuah kotak panjang dengan tutup selofan. Setangkai mawar putih. Sesaat jantungku rasanya berhenti berdenyut. Hati-hati kuambil kartu yang menempel pada kotak itu, lupa seketika kepada teman-temanku yang pasti mengawasi lewat kaca ruang kerjaku. Selamat ulang tahun. Masih ingatkah kau kepadaku? Jika ya, aku menunggu di tempat biasa. Mungkinkah?

Aku keluar untuk makan siang lebih awal, mengabaikan godaan teman-temanku yang tak kenal ampun. Pram berjanji akan membahagiakan Puspita. Tapi sayang semuanya sudah terlambat. Dia sudah menikah, sekalipun hanya simulasi. Dalam perjalanan aku kembali memikirkan mawar putih itu. Sejak aku melihatnya, aku tahu kalau itu bukan dari Idan. Idan mustahil bisa seromantis itu. Hanya satu orang yang kutahu pernah dan selalu memberiku mawar putih. Dan ia adalah milik masa lalu yang tak pernah kubayangkan bisa dan akan kembali. Tapi pesan itu? Restoran itu masih seperti yang kukenang. Sederhana dan tidak mencolok di bagian luarnya; tetapi begitu aku masuk, aku menemukan kedamaian dan ketenangan dalam interiornya yang lapang dan asri, dengan kolam-kolam kecil berisi teratai merah jambu dan putih serta suara gemericik air terjun buatan di sepanjang satu dindingnya. Tidak ada yang berubah. Dan meja nomor lima itu masih sedikit di sudut, terhalangi serumpun gelagah. Ketika aku menghampiri meja itu, aku tidak lagi merasa sebagai Puspita yang berusia tiga puluh empat tahun, yang dewasa dan percaya diri, tapi seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun, yang tercabik di antara cinta dan ambisi. Di meja itu harusnya seseorang menantiku, seperti sepuluh tahun yang silam. Sebagian hatiku mengingatkan untuk tidak terlalu berharap. Masa lampau mustahil kembali lagi. Tapi segalanya masih begitu serupa dulu, hingga aku sulit memisahkan kini dan saat itu. Apalagi saat lelaki di meja itu bangkit menyambutku, menggenggam tanganku dan mengucapkan namaku. "Ita," kelembutan suaranya masih seperti yang kuingat. Dan wajahnya, walau mulai sedikit berkerut, masih persis seperti yang kukenang.

"Kau datang."

"Halo, Pram," sapaku sembari duduk di hadapannya, tak melepaskan mataku dari senyumnya. Aku tiba-tiba sadar dengan rasa rindu yang lama tak pernah kugubris, dahaga yang bertahun-tahun tak kuizinkan untuk ada. Perasaanku berkecamuk, galau yang belum pernah lagi kurasakan tentang siapapun juga. Menggelikan sekali kalau seorang perempuan seusiaku masih demikian terguncang karena pertemuan dengan bekas kekasihnya.

"Terima kasih mawarnya," ujarku, sedatar yang mampu kulakukan. Sayangnya getaran di suaraku membeberkan semuanya.

"Kau masih ingat."

"Aku tak bisa lupa, meski mau sekalipun," katanya tersenyum.

"Kapan kau pulang?"

"Tadi pagi."

"Dengan anak istrimu?"

Pram tertawa kecil. "Ini agak memalukan. Tapi aku masih sendiri, Ita."

Jawabannya begitu mengejutkanku hingga sesaat aku tak tahu harus mengatakan apa.

"Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan siapa pun selain denganmu," senyumnya padam dan di matanya bergelora lagi pesona yang pernah dan mungkin masih bisa meluluhkan hatiku. "Sepuluh tahun aku mencari, dan aku tetap tak bisa menemukan penggantimu."

Aku menunduk, bibirku terkatup erat. Sepuluh tahun lalu, di tempat ini juga, ia melamarku, dan aku menolak. Aku tak bisa membiarkan peluang karier yang telah susah payah kurebut tersia-sia begitu saja, bahkan untuk satu-satunya lelaki yang ingin kunikahi. Aku tak bersedia hanya menjadi bayangannya, terperangkap dan layu di negeri asing, walau ia adalah orang yang menguasai separuh jiwaku. Dan ia pergi. Di awal perpisahan surat-suratnya datang dengan teratur, tak satu pun kubalas. Bertahun-tahun ia tetap mengirim kartu ulang tahun dan Lebaran, yang semua kubakar, sampai aku tak lagi peduli, sampai suatu hari tidak ada lagi kartu yang datang. Dan dengan sedih aku harus mengakui bahwa lelaki sesempurna Pram pun suatu ketika akan lupakanku.

"Kau sendiri bagaimana, Ta?"

"Aku sekarang editor senior," jawaban itu terdengar menyedihkan, hampa makna. Apa artinya seuntai jabatan di sisi... cinta? Kesetiaan?

"Selamat!", ia kedengaran tulus, tapi di hatiku kata itu menyakiti.

"Aku selalu yakin kau yang terbaik untuk pekerjaan itu."

"Kau pernah ingin merenggutku dari ini semua," ujarku lirih. Apa jadinya kalau dulu kukatakan "ya"? Sepuluh tahun bersama Pram, seperti apa?", Ia menggeleng.

"Aku hanya memintamu memilih."

Matanya tertambat pada cincin di jari manisku. Suaranya pelan saat ia bertanya, "Kau sudah menikah?"

Aku mengangguk. Ia tertawa kecil, agak gugup . "Siapa?" tanyanya lirih.

"Idan," jawabku kaku.

"Idan? Irdansyah temanmu?"

"Sahabatku."

"Sahabatmu," desahnya.

"Sudah berapa putramu?"

Aku menggeleng. "Belum ada," bisikku.

Pram menatapku lekat. Dua kali ia tampak seolah akan bicara, tapi setiap kali, ia berhenti. Akhirnya, dengan senyum kecil ia mengeluarkan sebuah kotak mungil dari sakunya.

"Aku...," dibukanya kotak itu. "Aku sendiri menganggap diriku gila, karena membawakanmu ini. Tapi, Ta, maaf kalau aku terus-terang seperti ini, di benakku kau masih Ita-ku yang dulu. Aku tahu dalam sepuluh tahun segalanya bisa terjadi dan kau pasti sudah menikah. Tapi...."

Dikeluarkannya sebuah gelang mungil berhias batu-batu semi-mulia. Aku terkesima.

"Aku tahu kau suka perhiasan antik. Ada kenalanku yang membuka toko barang antik di Muenchen. Aku membeli ini darinya," tanpa meminta izinku, ia telah memasangkan gelang itu di tanganku.

"Terima kasih," gumamku terpesona.

"Cantik sekali."

"Kau suka?"

Aku mengangguk. Dan teringat lagi hadiah ulang tahun dari Idan.

"Kau....Sebetulnya kau tidak perlu repot-repot...," suaraku keluar dengan susah payah.

"Sebetulnya aku mau membawakanmu karpet antik yang aku yakin akan membuatmu tergila-gila. Aku sudah membelinya karena itu mengingatkanku padamu. Setiap kali aku berbelanja barang antik aku tak bisa tidak mengingatmu," ia tertawa kecil.

"Tapi aku tidak bisa membawanya ke sini. Bawaanku sudah banyak sekali. Ibuku memesan oleh-oleh untuk semua sanak famili dalam radius dua ratus lima puluh kilometer."

Aku tersenyum kecil. Tapi dalam benakku berkelebat pertanyaan demi pertanyaan. Apakah Idan tahu hadiah seperti apa yang akan membuatku bahagia? Apa ia mengenal selera dan kegemaranku? Aku menggeleng dalam hati. Tidak. Tidak. Pram masih bicara panjang lebar tentang bisnis yang  dilakukannya di Jerman. Aku kembali diingatkan tentang kecerdasan dan  keluasan wawasannya. Apalagi sepuluh tahun berada di negara lain telah menjadikan Pram yang dulu  kukenal lembut dan peka, semakin lapang hati dan terbuka. Kalau ada yang  berubah dalam dirinya, semua itu hanya menjadikannya sempurna. Dan pikiran itu menorehkan nyeri dihatiku. Sudah terlambat, sambatku kepada diri sendiri. Ia bercerita tentang barang-barang antik yang juga jadi salah satu kegemarannya.

"Kalau saja kau bersamaku, Ta," katanya dengan mata berbinar. "Kita bisa menghabiskan waktu mengaduk-aduk Eropa mencari barang antik...."

Ia melihat ekspresi wajahku dan berhenti bicara. "Maaf," katanya sejenak kemudian. "Aku harus kembali ke kantor," gumamku kaku.

"Baiklah. Mau kuantar?"

"Aku ada mobil."

Ia menahan tanganku saat aku hendak berdiri. "Ita, aku tahu semuanya berbeda sekarang. Tapi, kalau kau tidak keberatan, bisakah kita bertemu lagi sekali-sekali selama aku di sini? Aku perlu teman yang bisa mengantarku jalan-jalan mengunjungi galeri dan art shop". Undangan yang sangat menggoda, yang memenuhi benakku serta merta dengan masa lalu dan janji akan sesuatu yang lebih istimewa lagi, kalau saja aku bisa mengucapkan ya. Pram membaca keraguanku dan sesaat sorot matanya meredup.

"Kita bisa jalan-jalan bertiga, kau, Idan dan aku," katanya. "Aku tidak punya banyak teman di sini."

"Aku pikir-pikir dulu," jawabku cepat-cepat, sebelum hatiku dikuasai kehausan untuk berlama-lama dengan Pram.

 

Bersambung ke Bagian VIII

Bersama Yesus

Nats : Siapa saja yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5)

Bacaan : Yohanes 15:1-8

Saat memasuki hari atau minggu yang baru, banyak orang merasa gembira dan bersemangat. Bagi mereka, hari baru adalah kesempatan baru, peluang baru, dan karena itu mereka menyambutnya dengan hati gembira, dengan semangat baru, dan tekad baru. Tetapi bagi sebagian orang yang lain bisa jadi tidak demikian. Hari baru bagai perpanjangan derita hidup yang membawa beban baru, persoalan baru, dan kepahitan baru, sehingga mereka pun merespons hari baru dengan muka masam dan hati galau.

Berada di kelompok manakah Anda saat ini? Apabila Anda termasuk kelompok pertama, puji Tuhan, itu berarti Anda sudah berada "di jalur" yang benar. Berjalanlah terus di sana dan biarlah orang-orang yang ada di sekitar Anda turut merasakan semangat dan kegembiraan hati Anda.

Namun, bisa jadi Anda berada di kelompok kedua. Anda merasa seolah-olah tak sanggup lagi meneruskan hidup ini. Anda sudah kehilangan semangat hidup. Anda enggan. Anda bingung. Anda merasa berat untuk memulai hari dan melanjutkan hidup. Jangan berkecil hati. Yesus mengasihi Anda apa adanya. Di dalam Yesus, Anda masih dapat melakukan banyak hal. Yang Anda butuhkan adalah menyerahkan kembali hidup Anda kepada Tuhan. Naikkan doa sederhana ini, "Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Aku ingin tinggal di dalam-Mu. Sejak hari ini, saya adalah milik-Mu." Dia akan memberikan keteduhan dan kelegaan (Matius 11:28). Sungguh. Dia akan memberikan kekuatan baru, memampukan Anda untuk melangkah tegar, sehingga kita tetap dapat "berbuah" banyak -MNT

TERSENYUMLAH!
YESUS MENGASIHI ANDA

SABDA.org

05 July 2008

Pictures That Play With Your Mind

"Love Does Need A Reason"

Lady : Why do you like me..? Why do you love me?

Man : I can't tell the reason.. but I really like you..

Lady : You can't even tell me the reason... how can you say you like me? How can you say you love me?

Man : I really don't know the reason, but I can prove that I love you.

Lady : Proof? No! I want you to tell me the reason. My friend's boyfriend can tell her why he loves her but not you!

Man : Ok..ok!!! Erm... because you are beautiful,  because your voice is sweet,  because you are caring, because you are loving, because you are thoughtful, because of your smile, because of your every movements.

The lady felt very satisfied with the man's answer. Unfortunately, a few days later, the Lady met with an accident and became comma. The Guy then placed a letter by her side, and here is the content:

Darling,
Because of your sweet voice that I love you... Now can you talk? No! Therefore I cannot love you.
Because of your care and concern that I like you.. Now that you cannot show them, therefore I cannot love you.
Because of your smile, because of your every movements that I love you.. Now can you smile? Now can you move? No, therefore I cannot love you...
If love needs a reason, like now, there is no reason for me to love you anymore.
Do love need a reason? NO!
Therefore, I still love you...  And love doesn't need a reason.

" Sometimes the best and the most beautiful things in the world cannot be seen, cannot be touched, but can be felt in the heart "

Weekend Scripture 28/06/2008

YESUS Berfirman : "Aku tahu engkau sedang gelisah, Aku tahu permasalahanmu sangat berat, Aku tahu bahwa hanya datang padaku ketika engkau merasa keluh, tetapi ingatlah, Aku tidak pernah melupakanmu & apa yang telah engkau lakukan pada-Ku tidaklah sia2"

"Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya" (Mazmur 94:14)

Menabur & Menuai 100 Kali Lipat

Bahan Renungan : Kejadian 26:1–6, 12–16

Saat ini seluruh dunia sedang mengalami masa–masa yang sulit, dalam sejarah tidak pernah Harga Minyak Mentah mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Harga Minyak Mentah bisa menembus angka 140 dolar perbarrellnya. Bahkan saat ini harga minyak mentah dunia diprediksikan akan terus naik

Seluruh umat manusia mengalami kesulitan, harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Masyarakat didunia ini banyak mengalami kesulitan, banyak orang mengalami frustasi dan makin banyak pula orang melakukan bunuh diri. Saat ini fenomena bunuh diri yang dilakukan di Indonesia adalah naik ke menara yang tinggi.

Walaupun bangsa Indonesia mengalami kesulitan kita harus tahu bahwa Tuhan sudah menjanjikan bahwa umatNya akan diberkati, namun kita harus tahu apa yang harus kita lakukan. Janji Tuhan itu bersyarat tetapi kasih Tuhan itu tidak bersyarat. Kita melihat kehidupan Ishak, Ishak juga mengalami masa yang sulit yaitu mengalami bencana kelaparan. Namun Ishak menang dalam menghadapi masa sulit tersebut. Bagaimana rahasia Ishak menang menghadapi masa sulit, ada 3 point yang bisa kita pelajari :

1. Ishak Tidak Mendikte Cara Tuhan (Kejadian 26:1–2)

Ishak mengikuti teladan ayahnya Abraham, Ia mengandalkan Tuhan sebagaimana ia melihat Bapaknya mengandalkan Tuhan. Ishak tahu cara Tuhan memberikan jalan keluar yang berbeda–beda sehingga ia tidak mengejar cara–cara manusia. Ishak mencari Tuhan disaat masa sulit. Ia tidak pergi ke Mesir melainkan ia pergi ke daerah Gerar Filistin.

Kesaksian Bapak Suyono : Ia mempunyai seorang anak rohani, anak rohaninya ini mempunyai toko Batik didaerah Malioboro. Tokonya ini terletak di pertokoan biasa bukan di Mall, ketika ia menerima surat dari pemilik ruko tersebut, ia kaget karena ia melihat harga yang ditawarkan naik 500 persen, ia bingung dan tidak bisa tidur karena ia memikirkan bagaimana ia harus membayar uang sewa tersebut. Kemudian anak rohani pak Suyono ini sadar bahwa ia tidak bisa mencari jalan keluar sendiri, maka ia berdoa dan mendapatkan jalan keluar dari Tuhan. Tuhan menyuruh ia membuat surat penawaran harga kontrak ruko yang telah dinaikkan sebesar 10-15 persen. Kemudian ia menelpon si pemilik ruko dan ia berkata : jika ibu tidak bisa menurunkan harga sewa maka ia siap untuk keluar dari ruko tersebut kapanpun, kemudian si ibu ini mengabulkan permintaan harga sewa dari si anak rohani pak suyono. Ia tahu bahwa semuanya itu Tuhan yang memberikan ide dan jalan keluar di masa sulitnya.

2. Hidup Sebagai Orang Asing

Ciri utama orang asing adalah hak–haknya di batasi. Ketika Ishak hidup di Gerar, ia hidup sebagai orang Asing. Ishak tidak sembrono dalam menjalankan hidupnya di Gerar, demikian juga kita, kita tidak boleh hidup sembrono. Apa yang Tuhan percayakan dalam hidup kita, kita gunakan secara hati–hati karena kita bukan pemilik.

Kesaksian seorang Konglomerat, ia tidak pernah mempergunakan fasilitas yang ada didalam hidupnya, karena ia tahu segala yang ia punya adalah milik Tuhan dan ia juga mengajarkan kepada bawahannya, ketika ada perjalanan bisnis yang kurang dari 5 jam, maka mereka harus naik pesawat kelas ekonomi bukan bisnis. Konglomerat ini akan menanyakan kepada Tuhan ketika ia harus memberi pada seseorang.

3. Menabur pada Masa Yang Sulit

Ishak menabur di Gerar pada saat ia tidak punya apa–apa. Tuhan akan memperhatikan benih yang kita tabur pada masa sulit. Benih yang kita tabur pada masa sulit adalah benih yang terbaik di mata Tuhan.

Kesaksian : Seorang Pengusaha Permen yang mengalami kesusahan dan hutang yang begitu banyak. Disaat ia mengalami kesulitan, ia mulai mengenal Tuhan, ketika ia pertama kali ke gereja ia mendengar kotbah tentang menabur. Pengusaha permen ini belajar memberikan perpuluhan dan ia mengambil beberapa ribu rupiah di dompetnya untuk membeli gula dan membuat permen. Permen itu ia jadikan bingkisan untuk kado natal anak–anak sekolah minggu. Ia melakukan dengan setia, tiba–tiba ia mendapat telepon dari agen gula, ia pikir ia akan ditagih untuk membayar hutang tapi ia ditawari untuk mengambil gula, untuk memulai kembali usahanya. Ketika ia bertanya bagaimana ia membayarnya, si agen gula berkata : ia boleh bayar saat sudah ada uang. Ketika ia belajar memberi di masa yang sulit, Tuhan melihat benih itu dan Tuhan memulihkan usahanya. Saat ini pengusaha permen ini masih setia memberi bingkisan natal untuk anak–anak.

Sumber : Stefanus Suyono

Ditulis oleh : Joshua Ivan Sudrajat S

Cirebon, 1 Juli 2008

Setelah Kau Menikahiku Bag. VI

"Ibu."

Ibuku menurunkan korannya. Senyumnya mengembang saat ia menghampiriku.

"Bagaimana? Sudah enakan?"

"Idan mana?" bisikku.

Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku bertanya dimana aku sekarang atau setidak-tidaknya siapa namaku. Kenapa pertanyaan pertamaku harus tentang Idan? kutukku pada diri sendiri.

"Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang."

Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami teladan.

"Ibu sudah berapa lama di sini?"

"Dari pagi. Kau tidak ingat ibu datang pagi tadi?"

Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta merta terbelah tiga. Tapi yang paling menyakitkanku adalah, Idan sama sekali tak peduli aku sakit. Aku berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh satu-satu. Sore itu ketika Idan pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama sekali belum siap untuk bicara lagi dengannya.

"Bagaimana, Bu?" tanyanya, suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di dahiku, sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia menyentuh leherku, dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan tenagaku yang nyaris nihil, aku tak akan mau melakukannya.

"Tadi bangun sebentar, menanyakan kamu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu."

Tangan Idan berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut. Jangan berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku.

"Kalau Ibu capai, Ibu bisa ambil cuti besok."

Ibu tertawa kecil. "Kau sendiri? Kau tidak tidur entah berapa malam dan kau mengerjakan semuanya. Mencuci, membersihkan rumah, mengurus Upit. Apa kau tidak capai?"

"Saya pakai baterai Energizer, Bu."

Ibu tertawa lagi, "Idan, Idan. Kau mesti istirahat juga. Kalau kau sakit, Ibu tidak yakin Upit bisa mengurusmu sesabar kau merawat dia."

Ibu! Idan itu hanya menantu Ibu! Cuma simulasi pula!

"Sudah tanggung jawab saya, Bu."

Alangkah klisenya! Sunyi. "Kau betul-betul tidak butuh bantuan Ibu?"

"Terima kasih. Kalau ada apa-apa, saya pasti telepon Ibu lagi."

"Baik kalau begitu. Kau tinggal menyuapinya nanti malam, jangan lupa obatnya. Kalau ia mau, ibu sudah masak bubur di dapur. Kalau tidak, beri saja apa yang dia mau."

"Ya, Bu."

"Dan jangan tidak tidur lagi nanti malam. Upit sudah baikan."

"Baik, Bu."

Dan saat itu juga aku bersumpah akan membuat malam itu mimpi buruk untuknya. Aku ingin menghukumnya karena kata-katanya yang menyakiti perasaanku. Aku ingin menghukumnya karena ia melukai harga diriku. Dan aku ingin menghukumnya karena ia membuatku benci pada diriku sendiri. Ia yang membuatku sakit dan entah berapa lama tak berdaya, bahkan terpaksa membiarkannya mengurusku seperti bayi. Ia harus membayar untuk semua penghinaan itu. Aku benci, sangat benci padanya. Aku membuat segalanya sangat sulit untuk Idan malam itu. Aku memberontak saat ia mencoba menyuapiku. Aku menolak saat ia memintaku makan obat. Aku memintanya membuka jendela karena aku kepanasan, lalu menutupnya lagi, karena aku kedinginan, lalu membuka lagi, menutup lagi entah berapa belas kali. Aku memintanya membuatkanku susu yang tidak kuminum, merebuskan mi instan yang tidak kumakan, menyiapkan roti yang kubuang kelantai, mengupaskan apel yang kubiarkan di meja hingga berubah coklat dan memasakkan omelet yang hanya kucuil sedikit. Pijatannya dikakiku terlalu keras, terlalu lembek, terlalu kasar, tidak terasa. Dan saat ia mulai terkantuk-kantuk di kursi, aku membangunkannya untuk menyalakan televisi agar aku bisa menyuruhnya mengganti saluran tiap kali ia mulai mengangguk terlelap. Semua itu akan membuatku sangat puas kalau saja Idan mau menolak, memprotes, mengeluh, atau bahkan marah dan memakiku seperti dulu. Tapi ia sama sekali tidak mengeluh, tidak membantah. Kesabarannya merusak segalanya. Makin lama aku makin menyadari kelembutan dalam suaranya? Yang hanya bisa lahir dari kekhawatiran -- dan kelelahan di matanya? Yang aku tahu hanya bisa datang dari keputusasaan. Aku dibuatnya merasa bersalah, karena aku sadar ia juga tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih berat dari yang kulakukan. Dan kebencianku justru musnah dan berganti kasihan, sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, tapi tak bisa kuelakkan. Menjelang fajar, saat mengawasinya tertidur meringkuk di kursi, aku mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Aku mengulang lagi setiap kalimat yang kuucapkan, dan aku tiba-tiba merasa malu. Kenapa semuanya harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu. Selama dua puluh tahun persahabatanku dengan Idan, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatku merasa terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa aku sampai bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakanku?

Aku tahu permintaanku wajar. Aku tahu aku berhak meminta Idan menemaniku ke mana pun. Dan ia juga sama bersalahnya denganku karena mengobarkan pertengkaran konyol itu. Hanya saja ia lebih berbesar hati untuk menyingkirkan pertengkaran itu sementara aku justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang dalam kontes kedewasaan ini?

Ketika aku terbangun esok paginya, Idan menyambutku dengan baki sarapan pagi dan senyum lebar. Ia membantuku ke kamar mandi dan aku tidak memprotes ketika ia memintaku untuk tidak mengunci pintu. Ia telah menyediakan bangku di dekat wastafel agar aku tak perlu berdiri saat menggosok gigi. Di rak ia telah menyediakan pakaian bersih untukku dan bahkan meletakkan bedak dan sisirku, hingga saat aku keluar dari kamar mandi, aku merasa jauh lebih segar dan hidup. Ketika aku kembali ke kamar, aku melihat spreiku telah diganti, mejaku telah rapi kembali dan bunga di dalam vas di dekat tempat tidurku telah diganti dengan yang baru. Ketika Idan duduk di pinggir ranjangku, menambahkan gula pada susu cokelatku dan mengupaskan telur sarapan pagiku, aku hampir menangis karena terharu.

"Kau tidak ke kantor?", tanyaku mencoba membuka percakapan; kata-kata ramah pertama yang kuucapkan padanya setelah pertengkaran kami.

"Ini hari Minggu, Pit."

"Aku sudah sakit selama seminggu?", bisikku tak percaya.

"Ya, Idan tersenyum."

Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang. Aku tidak bisa tenang di kantor memikirkanmu."

"Ibuku kan di sini."

"Ya. Aku terpaksa memintanya datang. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku minggu lalu. Maaf."

Aku menunduk, bersembunyi dari ketulusan di matanya. Kulirik jam di atas mejaku. Pukul setengah delapan pagi.

"Tidak main bola?"

Ia menggeleng sambil mengolesi sepotong roti lagi dengan selai nenas.

"Aku mau memberi kesempatan pada Agus. Sudah dua bulan dia cuma duduk di bangku cadangan."

Aku tersenyum.

"Dia kurang berani menyerang. Tidak segesit aku. Maklum sudah agak gemuk. Tapi, siapa tahu," ia mengangkat bahu dan tersenyum.

"Kau mau pergi memancing nanti sore?", Ia menggeleng lagi.

"Kenapa?"

"Aku harus memberi ke sempatan ikan-ikan itu berkembang biak, Pit. Kalau kutangkapi terus, mereka bisa punah."

"Kalau kau memancing lagi, tolong sampaikan terima kasihku kepada mereka, ya."

"Terima kasih untuk apa?"

Untuk menunjukkan sisi lain dari Idan yang tidak kuketahui sebelumnya, batinku. Tapi yang keluar dari mulutku adalah, "Karena meminjamkanmu untukku hari ini."

Senyum Idan serta merta surut. Diulurkannya tangannya dan disentuhnya lenganku.

"Lain kali kalau kau ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari sebelumnya? Bukannya aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan teman-temanku, aku tidak bisa begitu saja membatalkannya kan?"

Aku mengangguk dengan leher tersumbat.

"Aku juga janji tidak akan sering nonton film action lagi," katanya kemudian.

"Kita memang perlu ngobrol lebih sering. Jangan menangis, Pit. Nanti air jerukmu asin."

 

Bersambung ke Bagian VII

04 July 2008

Jangan Digenggam Terlalu Erat

Saya pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet di hutan-hutan Afrika, caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun. Maklum, ordernya memang begitu. Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma. Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan. Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabnya.

Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang. Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf..

Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.

Teman, sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya betul-betul bersih...

Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?

03 July 2008

Setelah Kau Menikahiku Bag. V

Ia menyambar tasnya dan melangkah lebar-lebar keluar lewat pintu samping. Aku masuk ke ruang makan dan membanting pintu di belakangku. Seperti inikah perasaan para istri setelah bertengkar dengan suaminya? Dadaku sesak dan kepalaku sakit. Aku benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewa mulai membuat mataku pedih. Aku sama sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padaku. Aku tahu Idan melakukan semua ini, simulasi ini, untukku, tapi selama ini aku tidak pernah menuntut apa pun darinya. Sebaliknya, aku telah berkorban banyak sekali sejak aku menikah --simulasi-- dengannya, mengurangi jadwal clubbing-ku, pulang dari kantor sesegera mungkin, memperhitungkan apa ia akan menyukai makanan yang kubeli. Apa ia telah berbuat sama banyaknya untukku? Tidak! Kubuka lemari es dan kukeluarkan satu kotak es krim cokelat kesukaanku. Pagi itu kulewatkan di depan televisi, menyaksikan film melankolis, air mataku kubiarkan meleleh tanpa henti, dan sekotak es krim itu pun habis tanpa terasa.

Idan kembali pukul setengah sebelas, masih cemberut. Ia langsung mandi dan tak lama kemudian kembali ke ruang duduk sudah rapi dengan t-shirt dan celana jeans.

"Kalau kau mau ke mal, aku sarankan kau mandi dan dandan sedikit", katanya.

"Aku tidak mau pergi ke mal."

"Kau bilang tadi pagi...."

"Aku tidak mau merepotkanmu. Aku tidak mau kau gatal-gatal karena alergimu
kumat."

"Upit, kalau kita tidak pergi sekarang, kita bisa pulang terlalu sore. Aku ada janji jam empat...."

"Aku bilang aku tidak mau ke mal! Kau bisa pergi memancing sekarang kalau kau mau."

"Jangan seperti anak kecil begini, Pit," geramnya. "Ayo!"

"Tidak! Dan kalau kau marah dan mau minggat seperti dulu lagi, silakan!"

BAB III

Meski sudah bersikap menyebalkan, Puspita tidak berhasil membuat Idan marah. Pria itu malah bersikap sangat manis. Wajah Idan benar-benar merah sekarang.

"Upit! Jangan main-main denganku! Aku tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan cemberut sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam lagi."

"Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau pergi."

"Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es krim dan cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar dan melar...."

"Idan!" jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke arahnya. Ia terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri t-shirtnya. Aku lari ke kamarku, membanting pintunya dan melempar diri ke ranjang, sesenggukan. Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku takut, takut sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali sama sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan bantal dan aku terus menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat memaksaku tertidur kelelahan.

Sorenya aku keluar mengendap-endap. Idan pasti telah pergi memancing. Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena kata-kata kasarnya membuatku makin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada pilihan lain kecuali meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuaku. Maka selesai mandi aku segera memasukkan semua pakaianku ke dalam kopor. Saat itu Idan datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak ia memasuki pintu gerbang. Siulannya berhenti saat ia melihat koporku dari pintu kamar yang terkuak.

"Apa-apaan ini, Pit? " tanyanya.

"Aku pulang ke rumah Ibu."

Ia masuk dan duduk di atas kasurku, mengawasi gerak-gerikku.

"Semudah ini kau menyerah?"

"Ini diluar dugaanku."

"Apa?"

"Aku tidak mengira aku menikahi monster."

Idan terdiam, menunduk. "Aku...," katanya lirih.

"Aku bawa pizza kesukaanmu."

"Aku sudah terlalu gemuk."

Ia menggeleng dengan ekspresi bersalah, "Tidak. Kau cantik."

"Aku tidak butuh pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak punya arti apa-apa."

"Aku sudah mencoba jadi suami yang baik."

"Kau gagal."

"Setidaknya aku mencoba. Kau ... kau tidak melakukan apapun supaya pernikahan kita berhasil...."

"Simulasi."

Ia menghela napas panjang dan mengangguk singkat.

"Simulasi."

"Kau salah, Dan. Aku sudah melakukan terlalu banyak. Sudah belajar terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. Apalagi denganmu."

Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar dari kamarku, aku ambruk ke atas tempat tidur. Semua topeng ketegaranku hancur berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Idan bisa menyakitiku sehebat ini. Lama kemudian. setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku bangkit. Kurapikan dandananku dan kuseret koporku keluar.

"Setidaknya tunggulah sampai hujan reda," suara Idan menyambutku.

"Terlalu lama," gumamku.

"Aku tidak bisa tinggal denganmu selama itu."

Aku tak peduli hujan yang serta merta mengguyurku basah kuyup. Saat aku membuka pintu gerbang. Meninggalkan Idan secepatnya, hanya itu yang ada di benakku. Dan ketika mobilku mulai tersendat terendam genangan air hujan hanya lima puluh meter dari rumah, aku begitu berang dan putus asa hingga aku keluar dari mobil dan menendang pintunya, meninju atapnya, air mataku larut dalam siraman hujan. Saat itu aku melihat Idan datang. Tanpa mengatakan apa-apa ia mencabut kunci mobilku dan mengunci mobil itu dari luar.

"Ayo pulang," katanya.

Aku menggeleng tanpa berani menatap wajahnya. Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan perlawananku. Ia membopongku sampai ke rumah, tak memberi ku kesempatan untuk melarikan diri. Setiba di dalam, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di saku.

"Ganti bajumu," katanya.

"Semua bajuku di dalam kopor."

"Ambil bajuku."

"Tidak akan pernah!"

Ia mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata berkobar, "Ini bukan waktunya melawanku, Pit. Kau bisa sakit!"

"Monster," desisku.

Malam itu suhu tubuhku menanjak naik, kepalaku sakit dan tenggorokan nyeri. Aku masih ingat saat Idan menyuruhku menelan sebutir tablet penurun panas dan aku membangkang. Ketika abangku datang untuk memeriksa keadaanku, aku masih bisa menangis dan merengek minta diantar pulang ke rumah orang tuaku. Setelah itu semuanya kabur. Kesadaranku kembali dalam kelebatan-kelebatan singkat. Ketika aku terjaga dan menemukan Idan tengah mengganti kain kompres di dahiku, sentuhannya begitu sejuk dan menenteramkan.

Ketika aku tiba-tiba tersentak dari salah satu mimpi burukku dan mendapati Idan tengah membersihkan ceceran muntahku di lantai. Ketika aku terbangun dari tidurku yang gelisah dan merasakan tangannya erat menggenggam jemariku. Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun dan nyala api dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan cahaya matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma melati dari rumpun di luar kamarku. Ibuku tengah duduk di dekat jendela, membaca.

 

Bersambung ke Bagian VI

Love The Word

Today's Scripture

"Great peace have those who love Your law and nothing shall make them stumble" (Psalm 119:65).

Today's Word from Joel and Victoria

Everything you need in this life is found in the Word of God--direction, healing, peace, joy and provision. No matter what situation you maybe facing today, you can live in peace and victory by knowing God's Word and applying it your life. Notice this verse says that the people who love God's Word have great peace. How do you show your love for God and His Word? By studying it, meditating on it, and obeying His commands. When you choose to obey God's Word, it activates His promises in your life. It activates His great peace in your heart. It activates His blessing, power, and provision. When you hold God's Word in your heart, there's nothing that can take it away from you. There's nothing that can make you stumble or offend you. When you love the Word of God and apply it to your life, you will have great peace and live in victory, and enjoy the abundant life He has prepared for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I humbly come before You, giving You all that I am. I choose to follow Your Word because I love and honor You. Give me your strength and great peace for today. In Jesus' name, Amen.

 

Joel Osteen Ministries

02 July 2008

Setelah Kau Menikahiku Bag. IV

"Idan, ini rumahmu!" meskipun aku tersenyum, air mata kelegaan mulai meleleh di pipiku. "Kau di mana?"

"Di luar."

"Di luar rumah?"

"Ya. Dan aku lapar."

"Oh, Tuhan...."

Aku lari ke luar rumah. Di gerbang kulihat Idan berdiri di sisi mobilnya. Entah sudah berapa lama ia di sana.

"Kau keterlaluan! Aku sudah berpikir untuk menelepon kantor polisi!", teriakku kepadanya.

"Aku juga rindu kepadamu!" balas Idan tertawa. Dan mataku rasanya semakin perih melihat tawanya lagi.

"Di mana saja kau dua hari ini?"

"Di hotel kecil dekat kantor."

Ia baru saja menghabiskan piring ketiga sop buntut kesukaannya. Ia tidak berkomentar ketika melihat bahwa aku sudah membeli semua makanan kegemarannya. Ia hanya makan dua kali lebih lahap.

"Kenapa kau akhirnya memutuskan untuk pulang?" suaraku bergetar.

"Aku perlu baju bersih," ia tertawa malu.

"Laundri hotel mahal sekali."

Saat ia mencuci piring makannya, dengan punggungnya ke arahku, ia menyambung, "Selain itu , aku khawatir karena kau sendirian di sini."

Dan dadaku tiba-tiba terasa ngilu.

"Aku akan pulang terlambat besok," ucapku perlahan. "Aku harus lembur. Dikejar deadline."

Ia berhenti membilas piring dan aku tahu ia berbalik menatapku. Tapi mataku terpaku pada es krim di hadapanku.

"Oke," katanya. "Kau keberatan kalau aku makan malam duluan?"

"Asal kau sisakan cukup untukku," aku tersenyum.

Paginya kulihat lingkaran merah kedua di kalender. Aku bisa mentolerir kebiasaan Idan membiarkan koran yang telah dibacanya berserakan di ruang tamu. Aku bisa memaklumi kegemarannya nonton film action - genre yang paling tidak kuminati, dan sepak bola? Olahraga yang menurutku amat membosankan. Aku bahkan bisa memaafkan kebiasaannya mengeluarkan pasta gigi dengan memencet bagian tengah tubenya, tidak dari bawah seperti yang biasa kulakukan.

Hanya satu yang aku belum sanggup terima. Caranya menghabiskan akhir pekannya. Setiap Minggu pagi ia berangkat sebelum pukul enam untuk bermainsepak bola dengan teman-temannya, dan sorenya, sekitar pukul setengah empat, ia pergi memancing. Untukku yang selalu menghabiskan waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan, kebiasaan Idan itu sama sekali tidak bisa kupahami. Aku tak sanggup menontonnya main bola atau menemaninya memancing, karena aku dengan sangat cepat akan merasa jemu.

Sebulan pertama aku berusaha mengerti. Ia selalu pulang dengan mata berbinar hingga aku tak tega mengeluh dan protes. Tapi dipekan kelima kesabaran ku tandas, dan pagi itu, saat ia tengah memasukkan botol air minum dan kotak rotinya ke dalam tas, aku memintanya untuk tidak memancing.

"Temani aku jalan-jalan ke mal sore ini," pintaku.

"Kau kan bisa pergi sendiri," katanya sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil.

"Seingatku kau berjanji untuk selalu menggandeng tanganku ke manapun."

"Aku tidak bisa mangkir memancing hari ini, Pit," ia masih tetap tak memandang ke arahku, sibuk dengan sepatu bolanya. "Aku sudah janji dengan kawan-kawanku untuk mencoba tempat memancing baru."

"Kau bisa mencobanya minggu depan."

"Tadi malam tidak ada bulan, Pit. Ikan-ikan akan sangat rakus hari ini, " ia tersenyum sambil melompat-lompat dengan sepatu bola barunya. "Aku bisa memecahkan rekor sepuluh kilo sore nanti!"

"Minggu depan voucher diskon salonku sudah tidak berlaku lagi," gumamku.

"Pakai voucher dariku saja," sahutnya ringan sambil mulai lari-lari di tempat.

"Berapa diskon yang kau dapat dengan voucher itu? Kalau kuberi lima belas ribu cukup?"

"Idan! Itu hanya cukup untuk beli minum selama di salon."

"Aku bisa cukur rambut plus dipijit plus minum kopi dengan lima belas ribu."

"Oh, Tuhan!"

Idan berhenti berlari-lari dan berdiri di hadapanku dengan tangan di pinggang.

"Pit, kau sudah cantik begini. Tidak perlu ke salon lagi."

"Aku sudah cukup yakin dengan kecantikan, terima kasih. Yang aku butuh cuma keluar dari rutinitas harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan."

"Jadi? Apa yang kau tunggu? Pergilah. Aku tidak melarangmu. Kalau kau bawakan aku oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan."

"Ini bukan masalah kau melarang atau tidak, Dan. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu teman."

"Kalau begitu ajaklah teman-temanmu."

"Sudah. Mereka punya acara sendiri-sendiri. Dengan suami-suami mereka."

Idan mengerutkan keningnya. "Kau mau melewatkan hari Minggu denganku?"

"Ya!"

"Kenapa tidak bilang dari tadi. Tentu saja kau boleh ikut ke lapangan sepak bola lagi. Aku akan senang kalau kau ada di sana."

"Idan!" jeritku. "Kau ini buta, tuli atau imbesil sih? Kau tahu aku benci sepak bola dan lebih benci lagi memancing!"

Mata Idan menyipit. "Dan kau tahu aku alergi jalan-jalan ke mal," desisnya.

"Kupikir sudah waktunya kau mengalah sekali-sekali."

"Mengalah!" suaranya meninggi. "Apa aku masih kurang mengalah selama ini? Pit, kau sudah menyita enam kali dua puluh empat jam waktuku, apa kau tidak bisa memberiku...."

"Enam kali dua puluh empat? Enam kali dua! Kita hanya benar-benar bertemu dan bicara satu jam saat sarapan dan satu jam waktu makan malam!"

"Kita bisa mengobrol lebih banyak kalau kau mau lebih banyak melewatkan waktu denganku! Tapi tidak! Kau lebih memilih mengurung diri di kamar dengan Pavarotti dan Flamingo."

"Placido Domingo! Maaf, Dan, waktuku terlalu berharga untuk dipakai menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau dua puluh dua orang memperebutkan satu bola kulit!"

"Setidak-tidaknya itu lebih jujur dan bisa dimengerti dari film-filmmu yang becek air mata itu!"

"Kau kekanak-kanakan!"

"Dan kau, Tuan Putri, kau egois!"

 

Bersambung ke Bagian V