Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

01 July 2008

Setelah Kau Menikahiku Bag. III

Suaranya bergetar. "Saya terima nikahnya Puspita Kirana binti Anwar Daud dengan mas kawin tersebut, tunai."

Dan wajahnya kelihatan sedikit pucat. Berapa lama ia tidur semalam? Apa ia terjaga berjam-jam dalam gelap, memikirkan lelucon terbesarnya, seperti aku yang nyalang nyaris sepanjang malam tadi? Ibuku meneteskan air mata sementara senyum lebar memenuhi wajahnya.

Ibu Idan, walau menyaksikan dari kursi rodanya, juga tampak bahagia. Seharusnya aku juga bahagia hari ini. Idan juga. Mungkin dengan orang-orang lain. Tapi seharusnya aku merasa bahagia. Bukan diam-diam mencatat seperti seorang ilmuwan yang teliti: perasaanku, reaksi para tamu, wangi melati dan wajah Pak Penghulu.

Pak Penghulu menyuruhku menyalami suami baruku. (Simulasi, Upit, jangan lupa itu. Suami baru simulasi.) Tangannya dingin. Ekspresi wajahnya aneh, kedua matanya gemerlapan dengan rasa takjub, saat aku mendongak setelah mencium jemarinya. Ia mengecup dahiku dengan bibirnya yang yang nyaris putih. Lalu kami berdua duduk berdampingan mendengarkan petuah Pak Penghulu, Idan menunduk menatap pantalon putihnya dan mataku terpaku pada kain batikku. Akhirnya kuberanikan diri untuk berbisik, "Kau pucat sekali."

"Aku lapar. Tidak sarapan tadi pagi."

"Terlalu nervous?"

"Telat bangun. Aku nonton bola sampai subuh."

Aku tersenyum.

"Bagaimana aku tadi?" bisiknya.

"Meyakinkan. Berapa lama kau latihan?"

"Hanya waktu aku berpakaian tadi pagi. Catatan yang kau beri tercuci dengan celanaku."

Ah, Idan, Idan. Menikah dengannya tidak akan pernah membosankan. Simulasi. Menikah simulasi dengannya tidak akan membosankan, koreksiku. Sebulan pertama Upit berusaha mengerti kebiasaan Idan menghabiskan akhir pekan dengan memancing. Di minggu kelima dia protes, dan mereka bertengkar. Pertengkaran terhebat yang pertama.

Tiga hari pertamaku sebagai istri Idan --simulasi-- kulewatkan di rumahku sendiri. Tiga hari berikutnya dilewatkan di rumah Idan, karena kondisi ibunya, yang memang telah sangat lama sakit, memburuk; mungkin karena ketegangan yang disebabkan persiapan acara pernikahanku dengan Idan. Pada hari ketujuh kami pindah ke rumah milik Idan sendiri. Dan setelah seharian menata perabotan, memasang tirai dan beragam pajangan, malam itu kami lewati dengan tidur. Esok paginya, aku terbangun karena mendengar suara-suara di dapur. Aku menemukan Idan di sana, sedang mendadar telur, sementara di atas meja terhidang nasi goreng dan sepoci kopi yang harumnya menggoda.

"Aku ada rapat pukul setengah delapan," seru Idan sambil membalik dadar telurnya.

"Aku mesti berangkat sebelum setengah enam." Kucicipi nasi goreng buatannya.

"Aku tidak tahu kau pintar memasak."

"Pramuka," komentar Idan ter senyum. Diletakkannya telur di atas meja dan ia duduk untuk sarapan. "Aku juga pandai tali-temali, semafor, menjahit."

"Percaya, percaya. Kalau kau mau menangani urusan masak, aku akan memperbaiki keran dan genting bocor, plus membabat rumput."

Idan terbahak. "Ini hanya sekali-sekali, Pit. Aku tidak mungkin masak setiap pagi."

"Apalagi aku . Kita perlu cari pembantu."

"Jangan," Idan menggeleng. "Ia pasti curiga kalau melihat kita tidur di kamar berbeda."

"Jadi?"

Idan menggaruk kepalanya. "Bisakah kau masak nasi tiap hari?" pintanya.

"Aku punya rice cooker."

Kutatap wajahnya. Dalam hati aku berpikir, haruskah? Ini hanya sebuah permainan. Tidakkah Idan akan jadi besar kepala kalau aku mematuhinya? Tapi di lain pihak, kalau aku benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya jadi seorang istri, mungkin ada baiknya aku mengikuti keinginannya.

"Kalau kau mau membawakan lauk dan sayur bergantian denganku, baik."

Ia tersenyum dan beranjak dari meja dan kembali dengan sebuah bolpoin merah. Dilingkarinya tanggal hari itu di kalender yang tergantung di dinding dapur.

"Hari pertama kita menyelesaikan suatu masalah dengan musyawarah keluarga," katanya saat kembali ke kursinya.

"Masih banyak detil-detil seperti ini yang mesti kita sepakati," lanjutnya.

"Misalnya, aku ingin kau beri tahu aku kalau kau akan pulang terlambat."

Dahiku berkerut. "Untuk apa?"

"Apa kau tidak melapor kepada orang tuamu kalau kau akan pulang terlambat?"

Aku menggeleng. "Ibuku sudah percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri dan tidak akan melakukan hal-hal yang bodoh."

"Tapi aku suamimu. Simulasi memang. Aku perlu tahu kenapa dan di mana kau kalau pulang terlambat."

"Kau kedengaran seperti diktator."

"Kurasa aku tidak minta terlalu banyak."

"Itu terlalu banyak untukku."

Idan meletakkan sendoknya dan menatapku dengan mata menyala. Aku lupa kapan terakhir kali aku melihatnya marah. Tapi aku yakin aku tak salah membaca gelagatnya kali ini. Ia benar-benar marah.

"Ingat," lanjutku hati-hati. "Aku bukan benar-benar istrimu. Kau tidak punya hak untuk mengaturku seperti itu."

Ia menunduk lama sekali, tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih. Dan ruang makan itu menjadi sangat sunyi senyap.

"Baik. Kalau itu maumu," desisnya kemudian. Kami melanjutkan sarapan dalam diam. Aku ingin mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menduga permainan itu akan membuat persahabatanku dengan Idan memburuk. Tapi aku tak berani mengungkapkan itu. Aku yakin Idan akan semakin berang karenanya. Idan meninggalkan meja tanpa mengatakan apa-apa dan pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Tak lama ia kembali menemuiku di ruang makan.

"Aku pergi, Pit," katanya dingin.

Aku bangkit dari meja menghampirinya , berniat untuk memperbaiki situasi.

"Sebagian teman-temanku menyarankan ini," ujarku sambil meraih tangan kanan Idan dan menempelkannya di bibirku.

"Kupikir ada baiknya kucoba. Oh, ya. Mereka bilang kau harus mencium keningku."

Ia membungkuk dan menyapu keningku dengan bibirnya yang terkatup dan berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Dasar tidak tahu terima kasih! Aku sengaja pulang terlambat malam itu. Dalam perjalanan pulang kusinggahi suatu kafe yang belum pernah kukunjungi, sebagian untuk memperoleh kesendirian dan sebagian untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang pasti diberondongkan kawan-kawan yang biasa bersamaku menghabiskan sore hari.

Perasaanku gundah. Rasa bersalah dan kesal berkecamuk di dadaku. Aku tahu Idan telah banyak berkorban untuk permainan ini. Tapi walau aku sungguh-sungguh ingin mempelajari bagaimana rasanya menjadi seorang istri, mesti kuakui bahwa aku belum terbiasa menganggap Idan sebagai suamiku. Bagiku, ia hanya masih seorang sahabat. Dan seorang sahabat tidak boleh menuntut terlalu banyak.

Mataku tertaut pada cincin emas mungil yang disisipkan Idan di jari manisku selepas akad nikah. Ini hanya permainan, batinku. Tapi dalam permainan ini, Idan adalah suamiku. Dan sebagai suamiku, tuntutannya wajar. Kalau aku lantas tidak suka dengan keterbatasannya, itu hanya satu pelajaran pertama dari permainan ini. Kupejamkan mataku dan kutarik napas dalam-dalam. Aku benci kekalahan. Tapi kali ini aku mengalah, bukan kalah. Aku akan belajar satu hal dari semua ini. Bagaimana mengesampingkan keakuan dan memilih kebersamaan. Getir memang. Aku yakin Idan akan menertawaiku. Kalau ia tidak marah-marah dulu.

Alangkah terkejutnya aku mendapati rumah gelap dan kosong. Sudah pukul setengah dua belas malam dan Idan belum pulang? Kucoba menghubungi ponselnya dan hanya mendapati mailbox. Dengan menggunakan berbagai tipu daya, memperhitungkan lemahnya kondisi ibu mertuaku, kutelepon rumahnya. Aku bahkan mencoba mengontak kantornya, tanpa hasil. Idan tidak ada di mana-mana. Inikah balasannya atas penolakanku tadi pagi? Kekanak-kanakan sekali! Tapi tak urung, dengan melarutnya malam, aku jadi semakin cemas. Apalagi hingga pagi Idan tidak kembali. Ia bahkan tidak pergi ke kantor. Aku minta izin pulang setengah jam lebih awal dengan dalih yang dibuat-buat. Tapi saat aku tiba di rumah, Idan tetap tidak ada. Malam itu kulewatkan di sisi telepon, berpikir untuk menghubungi polisi dan rumah sakit. Pukul tiga telepon berdering. Bermacam-macam kengerian terlintas dibenakku saat aku mengangkat receiver.

"Upit?"

"Idan?" jeritku. "Kau di mana?"

"Pit, aku minta maaf karena marah dan minggat begitu saja. Boleh aku pulang?"

 

Bersambung ke Bagian IV

30 June 2008

Mukjizat Terbaik Dalam Hidup

Kita seringkali mendengar ungkapan "Tiada yang mustahil bagi Tuhan." Namun, ketika kita menanti jawaban doa yang tak kunjung datang atau ketika kita mengharapkan sesuatu yang tak kunjung terjadi, seringkali pada akhirnya keluhanlah yang keluar dari mulut kita atau sungutan dalam hati kita.

"Mengapa Tuhan?"

"Kenapa saya?"

*****
Itulah saat dimana iman kita dihadapkan pada pilihan: setia atau cari yang lain?Teman, saya percaya kita semua pernah mengalami mukjizat Tuhan dalam hidup kita. Temukan mukjizat itu dan jadikan itu sebagai kekuatan, khususnya di saat iman kita mulai goyah. Karena sesungguhnya, tak ada yang mustahil bagi Tuhan!!!

Percayalah, tak ada janji sepasti janji yang satu ini.

in Christ,
Jessica

----------------------------------------------------------
Jangan menyerah. Lakukan yang Anda bisa. Dan biarkan Tuhan memberi kejutan bagi Anda! Andrea Helene Gogna menunjukkan pada kita bahwa tak ada yang mustahil bagi Tuhan. Hal itu sungguh benar. Tawa dapat menghapus jutaan tetes air mata.

Mari saya perkenalkan Anda pada bayi Andrea Helene Gogna. Ia adalah malaikat cantik Arun dan Lalaine Gogna. Arun Gogna adalah salah satu pengkotbah Kerygma yang luar biasa dan Lalaine adalah salah satu teman baik isteri saya.

Tidakkah Anda perhatikan? Akhir-akhir ini, para orang tua memberi minimal dua nama bagi bayi mereka. Saya pernah seorang bayi dengan hanya satu nama. Tapi setelah penantian panjang selama 9 tahun, Arun dan Lalaine bisa memberi 9 nama bagi buah hati mereka, dan tak seorangpun komplain. Ya, selama 9 tahun, mereka berdoa untuk memiliki seorang bayi. Selama 9 tahun, mereka rindu sekali untuk mengisi rahim yang kosong. Selama 9 tahun, mereka mengunjungi banyak dokter, diinjeksi, mengikuti prosedur medis yang menghabiskan banyak biaya. Dan tak satupun dari semua itu berhasil. Tak satupun!

Saya ingat saat-saat menyedihkan ketika isteri saya menelepon Lalaine untuk menghiburnya. Apa yang harus ia katakan? Kata-kata apa yang dapat mengatasi kesedihan yang sangat dalam itu? Yang terjadi, kedua wanita itu akan menangis bersamaan di telepon. Justru di saat mereka menyerah dan tidak lagi mengikuti prosedur medis.

- Andrea Helene muncul dalam dunia mereka.
Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi ketika Lalaine membangunkan Arun. Ia memegang strip tes kehamilan mungil berwarna putih di depan wajah Arun. Dengan air mata berlinang dan dengan suara gemetar, ia berkata, "Sayang, ada dua garis biru... Itu artinya kamu adalah seorang ayah..."

Mereka belum pernah melihat dua garis sebelumnya. Selama 9 tahun, strip tes kehamilan mungil berwarna putih itu selalu menunjukkan satu garis. Dengan penuh kegembiraan, Arun bertanya pada isterinya, "Kamu yakin kamu tidak menggambar garis kedua itu?"

Selama 9 tahun penantian itu, mereka menyeka banyak kali tetesan air mata. Namun pada hari yang menyenangkan itu, tawa mereka menghapus semua air mata mereka. Minggu lalu, saya menghadiri pembaptisan Helene. Tapi itu bukan hanya sebuah pembaptisan. Itu merupakan suatu perayaan iman. Mukjizat itu masih terjadi. Sebagaimana saya menulis kisah ini, saya tahu bahwa ada banyak orang tua yang membaca ini yang sedang berdoa untuk memiliki seorang bayi. Mungkin lebih dari 9 tahun. Saya punya tiga hal untuk dikatakan pada Anda.

Pertama, jangan kehilangan harapan. Sama sekali tak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Kedua, lakukan yang Anda bisa. Untuk beristirahat secara fisik, Prof. Arun berhenti dari pekerjaannya sebagai pengajar di La Salle dan Dra. Lalaine mengurangi jam kerja klinik giginya. Ia juga melakukan operasi untuk mengangkat myoma dalam rahimnya. Tapi pada akhirnya, mereka bersandar pada Tuhan.

Ketiga, biarkan Tuhan memberi kejutan bagi Anda. Saya punya teman-teman lain yang selama bertahun-tahun berdoa bagi anak-anak mereka. Bagi beberapa mereka, Tuhan memberi mereka kejutan mukjizat adopsi. Teman, adopsi adalah salah satu ekspresi cinta terbesar di seluruh dunia. Saya serius. Bagaimana mungkin Anda menyambut seorang asing dalam rumah Anda dan menjadikannya darah daging Anda? Hal ini merupakan tindakan tidak masuk akal yang hanya dapat dilakukan oleh Yang Maha Kuasa. Tapi itulah sebabnya mengapa adopsi mempunyai sidik jari Tuhan di atas semuanya.

Teman, Anda mungkin tidak berdoa untuk memiliki seorang bayi. Mungkin Anda berdoa untuk kesembuhan. Mungkin Anda meminta sebuah pekerjaan yang baru. Mungkin Anda ingin berimigrasi ke negara lain. Mungkin Anda ingin menikah. Saya punya tiga kalimat yang sama bagi Anda.

Jangan menyerah. Lakukan yang Anda bisa. Dan biarkan Tuhan memberi kejutan bagi Anda. Tugas Anda adalah menyambut mukjizat terbaikNya bagi hidup Anda. Semoga mimpi Anda menjadi kenyataan,

BO SANCHEZ

Setelah Kau Menikahiku Bag. II

"Astaga," gumam Idan.

"Kalau itu terjadi padaku, siapa menurutmu yang harus kubayangkan? Michelle Pfeiffer atau Nicole Kidman?"

"Gorila," jawabku sekenanya dan Idan meledak tertawa.

"Idan," keluhku. "Berhentilah tertawa. Aku bukan pelawak. Aku sedang membicarakan masalah serius, dan aku sebal kau tertawai terus menerus."

Wajahnya serta-merta menjadi serius. "Aku tidak menertawaimu. Kalau kau benar-benar sahabatku, kau tahu beginilah aku menyikapi semua masalah, yang tergenting sekalipun. Termasuk soal menikah. Cobalah. Kau akan merasa jauh lebih baik. Kalau ibumu menanyakan calonmu sekali lagi, tertawalah. Tertawalah keras-keras."

"Idan, kau benar-benar tak tertolong lagi," gumamku.

"Aku perlu solusi, dan bukan ide-ide konyol."

Idan membisu. Dan untuk beberapa waktu kami berdua sama-sama merenung. Akhirnya, Idan bicara dengan hati-hati.

"Pit, aku tahu ini akan kedengaran gila. Tapi dengar dulu. Aku rasa saranku ini bisa menyelesaikan kedua masalahmu. Pertama, ketidakpercayaanmu pada ras laki-laki. Kedua, ketidakmengertianmu kenapa kau butuh seorang suami."

Aku mengangguk, dalam hati bersiap-siap untuk mempertahankan mimik seriusku walaupun ide yang akan dilontarkan Idan nantinya ternyata kelewat sinting dan karenanya teramat sangat kocak.

"Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal, dan ini sangat sangat penting, jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa kau percaya kepadaku?"

Kutatap Idan dengan dahi berkerut. Ia telah jadi sahabatku selama puluhan tahun. Banyak yang berubah dalam hidupku, dan setidaknya enam lelaki telah hadir dan menghilang dari hidupku. Hanya Idan yang tak berganti. Ia seakan-akan selalu siap mengulurkan tangan menolongku, sementara sense of humornya tak pernah gagal membantuku keluar dari depresi yang paling parah sekalipun. Kalau ada satu laki-laki di dunia yang kuhadapi dengan skeptisisme nyaris nol, hanya Idan orangnya.

"Ya. Aku percaya kepadamu."

"Kalau be gitu, percayalah bahwa yang kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu. Percayalah bahwa aku sama sekali tidak memiliki niat jahat terselubung di balik ideku ini. Percayalah."

"Idan! " potongku tandas. "Ide apa?"

"Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah eksperimen," ia bicara dengan hati-hati, kedua matanya terpan cang pada ekspresi wajahku.

"Kita akan  melakukan pernikahan."

"Apa?"

"Simulasi!" lanjut Idan sesegera mungkin.

"Tentu saja lengkap dengan semua formalitasnya, lamaran, akad nikah, kalau perlu honey moon."

"Bulan madu?"

Idan mengangkat tangannya menyuruhku diam, "Simulasi. Sekali lagi, simulasi. Setelah itu kita akan menjadi suami istri --simulasi? sambil mempelajari kenapa kebanyakan manusia yang normal dan waras begitu berambisi untuk berumah tangga. Kalau pada akhir eksperimen kau merasa yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding dengan keuntungannya, kita bercerai dan kau bisa hidup lajang, merdeka selama-lamanya. Kalau ternyata kau kecanduan hidup sebagai istri, kita bercerai dan kau bisa cari suami yang paling cocok untukmu. Anggaplah ini Sebagai tes untuk melihat apa kau akan memilih menikah atau tidak. Tanpa komitmen, tanpa penalti. Bagaimana?"

"Idan," desisku. "Ini ide terbodoh yang pernah kudengar."

"Semua gagasan jenius selalu diolok-olok pada awalnya," sanggah Idan mantap.

"Pikirkan, Pit. Ini satu-sat unya cara supaya kita bisa belajar seperti apa pernikahan itu sebenarnya tanpa perlu sungguh-sungguh menikah. Kau tidak mungkin melakukannya dengan laki-laki selain aku, yang telah terbukti memiliki sifat ksatria, dapat dipercaya dan teguh pendirian...."

"Serius, Idan, serius!"

"Dan kau sama sekali tidak melakukan pengorbanan apa pun. Kau tidak akan mengalami kerugian apa pun."

"Kecuali jutaan yang harus keluar untuk biaya pernikahan...."

"Simulasi," Idan mengingatkan sambil mengangkat telunjuk.

"OK. Pernikahan simulasi," geramku. "Dan aku akan menyandang status janda setelah kita bercerai."

"Simulasi."

"Idan!"

"Upit!"

"Oh, Tuhan," aku bangkit dengan marah dan beranjak keluar. Idan segera menjejeriku.

"Upit, kau tidak perlu semarah ini," katanya. "Apa aku sejelek itu di matamu hingga kau bahkan tidak mau pura-pura menikah denganku?"

Aku berhenti berjalan dan menatap wajahnya. Dan menggeleng. "Biarpun wajahmu seperti bunglon sekalipun, aku akan tetap memujimu di depan perempuan malang manapun yang mencintaimu."

Matanya berbinar. "Kau tidak marah lagi, kan?"

Aku menggeleng. "Aku bukan marah karena idemu, Dan. Aku tahu otakmu memang selalu korslet tiap kali memikirkan jalan ke luar dari suatu problem serius. Aku mengerti. Aku hanya kesal karena kau sepertinya tidak peduli dengan masalahku."

"Justru karena aku sangat peduli aku mengusulkan ini, Pit," ekspresinya tampak begitu tulus.

"Terima kasih. Tapi ide itu memuakkan."

"Pikirkan ibumu, Pit. Kalau beliau tahu kau akan segera menikah, denganku, orang yang selama ini dikenalnya sangat baik, sopan, hormat kepada orang tua, ulet, tangguh...," ia berhenti saat melihat raut wajahku, "Ibumu akan sangat bahagia, Pit. Pikirkan juga dirimu."

Ia diam sejenak. "Aku janji akan menggandeng tanganmu di setiap pesta. Di mana pun."

Ucapannya begitu menyentuh hatiku hingga aku nyaris menangis terharu. Kalau saja di antara bekas-bekas kekasihku ada yang mengatakan itu kepadaku, aku pasti sudah lama sekali menikah, pikirku sebelum menertawai diri sendiri. Perempuan yang tidak butuh seorang pelindung, tapi haus digandeng tangannya. Aku pasti sama kurang warasnya dengan Idan.

"Apa aku harus menciummu?" tanyaku nyaris berbisik.

"Sesekali mungkin, kalau orang tua kita diam-diam mengawasi," matanya kembali tertawa.

"Di pipi. Aku tidak akan melewati batas. Kalau kita hanya berdua, kau bebas untuk meninjuku, menjambakku."

"Idan," teguran itu lebih lembut daripada yang kuinginkan dan Idan tersenyum.

 

Bersambung ke Bagian III

Terbiasa Dalam Gelap

Nats : Jika kita katakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran (1Yohanes 1:6)

Bacaan : Efesus 5:1-14

Mata kita memang luar biasa. Perhatikan apa yang terjadi jika listrik di sekitar kita mendadak mati. Ruangan yang terang dan semua terlihat jelas oleh mata, tiba-tiba menjadi gelap dan tak terlihat. Sesaat, kita tidak bisa melihat apa pun. Namun, mata kita berangsur-angsur menyesuaikan diri. Lima menit kemudian, kita bisa melihat bayangan benda secara samar dengan bantuan cahaya minim dari luar. Tiga puluh menit kemudian, mata kita akan beradaptasi penuh. Ia menjadi sejuta kali lebih sensitif dibanding jika berada di tempat terang. Akibatnya, kita menjadi terbiasa melihat di dalam gelap.

Paulus menegaskan pada jemaat di Efesus untuk bersikap ekstra hati-hati terhadap kebiasaan berbuat dosa. Percabulan dan keserakahan, misalnya, bukan hanya dilarang. Disebut saja jangan (ayat 3)! Bahkan jika perlu, Paulus meminta mereka berhenti berkawan dengan orang yang suka hidup dalam kegelapan (ayat 7). Mengapa begitu ekstrem? Karena dosa harus dihindari sejak dini. Jika ditolerir, lambat laun orang akan terbiasa berjalan dalam kegelapan. Dosa yang lama dibiarkan membuat pelakunya tak lagi merasa bersalah, malah menjadi betah. Umat menjadi lebih sensitif pada dosa ketimbang kepada Tuhan. Untuk itu, Paulus mengajak mereka hidup "sebagai anak terang". Artinya, terus membuka hati dan mengarahkannya pada Tuhan, sehingga kegelapan sirna.

Orang sering berprinsip "coba sedikit saja tidak mengapa". Ini tidak benar, karena kebiasaan berdosa selalu bermula dari yang sedikit. Lagipula terang dan gelap tak dapat bercampur. Di mana terang hadir, kegelapan kabur. Jika benar kita anak-anak terang, jangan beri tempat sedikit pun pada kegelapan —JTI

BEBERAPA BUTIR RAGI DOSA SUDAH CUKUP
UNTUK MEMORAK-PORANDAKAN KEDAMAIAN HIDUP

SABDA.org

Doa Pagi

Bapa kami yang di surga aku mencintai MU.

Semua kutukan nenek moyangku, papa mamaku, keluargaku dan aku sendiri, aku patahkan dalam KUASAMU. Sakit penyakit dalam tubuhku dan keluargaku telah ENGKAU sembuhkan.

Berkatilah aku, pasangan hidupku, anak-anakku, semua keluargaku, rumahku, pekerjaanku serta teman2ku. Jadikanlah kami kepanjangan hati dan tanganMU.

Dalam nama TUHAN YESUS kami berdoa.

AMIN...                                             

28 June 2008

Humor : Pendeta

Pendeta Abdul sedang mengajar Sekolah Minggu.

"Anak-anak, kalo saya menjual mobil dan rumah saya yang garasinya gede, lalu memberikan semua hasil penjualan itu ke gereja, apakah saya bisa masuk surga?" tanya Pendeta Abdul.

"Tidak!!" jawab anak-anak serempak.

"Nah, kalo saya membersihkan gereja tiap hari, memotongi rumputnya, dan memastikan segala sesuatu yang ada di gereja selalu rapi dan bersih, bisa nggak saya masuk surga?" tanya Pendeta Abdul lagi.

Anak-anak menjawab lagi, "Nggak bisa!"

"Baiklah. Kalo sekarang saya seorang penyayang binatang dan suka memberi permen ke anak-anak, dan mencintai istri saya dengan sepenuh hati, sudah bisakah saya masuk surga?" Pendeta Abdul bertanya lagi.

Sekali lagi jawaban anak-anak, "Nggak bisa!"

"Ok, Ok," lalu ia meneruskan, "Jadi gimana donk caranya masuk surga?"

Seorang bocah berusia 5 tahun berteriak keras, "Bapak Pendeta harus mati dulu!"

Setelah Kau Menikahiku Bag. I

Puspita tak percaya pada lembaga pernikahan, namun tantangan Idan untuk membuktikannya tak bisa ditolak. Maka mereka pun melakukan simulasi pernikahan.

"Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah," gerutuku.

Idan tertawa. "Ibumu menanyakan calonmu lagi?"

Aku mengangguk cemberut. "Apa jawabanmu kali ini?" godanya.

"Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke
kamar."

Idan terbahak. "Kau kekanak-kanakan," katanya.

"Habis jawaban apalagi yang mesti kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan ibuku malah makin gencar menteror."

Idan tersenyum . "Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh tiga."

"Aku akan sangat gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya," komentarku.

Alis Idan terangkat. "Kenapa?"

"Pernikahan hanya memperumit hidup perempuan. Pernikahan juga membuat hidup laki-laki lebih sulit."

"Persis!" potongku.

"Untuk apa menikah kalau yang kita dapat hanya kesulitan?"

"Mungkin karena kesulitan itu hanya efek sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?"

"Sok tahu," cibirku.

"Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan menikah."

<span id="fullpost">"Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga puluh lima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga."

"Tapi kau tidak! Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi menikah?"

Idan tersenyum. "Ya, memang."

"Lebih enak hidup seperti ini. Bebas!"

"Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas."

Dan aku menghela nafas panjang. "Ah, ya. Calon."

"Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak juga menikah?"

"Ya, " gumamku enggan.

"Bukan karena kau sama sekali antimenikah."

Aku menggeleng. "Jangan bilang siapa-siapa, tapi kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke pesta."

"Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu kan?"

"Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus," komentarku pahit.

"Maksudku, aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku
pergi."

"Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran."

"Idan!" kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil tertawa.

"Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak penggandeng tetap?" tanyanya kemudian, lebih serius.

"Ya. Justru itu. Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah. Kalau saja," aku terdiam.

"Apa?"

"Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki itu akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahiku. Bagaimana seorang perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya ternyata suami yang payah? Yang suka memukuli, mencaci maki, Menghina; orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat."

"Pit, laki-laki yang begitu sedikit sekali."

Aku menggeleng. "Semua laki-laki binatang."

"Bagaimana dengan aku? Aku laki-laki."

"Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat."

Idan terbelalak. Didekapnya dada kirinya dan ia terkulai di kursinya.

"Idan!" desisku. "Nanti orang-orang memperhatikan kita!"

"Pit, kau sadar kalau aku belum mati? Aku harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran menjadi malaikat," dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah terjulur.

"Idan, Idan," desahku.

"Kalau kau memang mau menikah, berobatlah." Ia tergelak.

"Dan kau. Kalau kau memang mau menikah, percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan laki-laki."

"Aku tidak bisa, Dan."

"Berarti kau memang tidak bisa menikah. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan kalau kau memaksakan diri, kau akan merana. Dan kalau kau sengsara kau akan makan makin banyak. Dan kalau kau makan banyak-banyak kau akan?"

"Idan!" walaupun nada suaraku keras, aku tak bisa menahan senyum mendengar
pernyataan konyol itu. Setelah dua puluh tahun menjadi sahabatku, ia benar-benar telah memahamiku.

"Apa kau pernah berpikir tentang ibumu?" katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa menjadi sangat jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian detik. "Ia pasti sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan melindungimu."

"Jangan bicara begitu," cetusku, kembali manyun.

"Satu, ini hidupku, bukan hidup ibuku. Aku sedih kalau ibuku sedih. Tapi kalau suamiku berkhianat, apa ibuku mau menanggung rasa malu dan sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa menggaji lebih banyak pembantu, plus bodyguard kalau perlu."

"Baik, baik, Tuan Putri. Hamba mengaku salah," Idan membungkuk dalam-dalam.

"Jadi, dengan asumsi kau tidak sama sekali menihilkan kemungkinan menikah, apa yang ingin kau capai dengan itu?"

Aku tertunduk lemas. "Itulah, Dan," desahku. "Aku tidak tahu. Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya pekerjaan dengan masa depan yang lumayan. Jadi menikah untuk alasan ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku. Aku punya teman-teman diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan alasan bagiku untuk menikah."

"Bagaimana dengan keturunan?"

"Anak? Apa aku harus menikah untuk punya anak? Aku bisa mengadopsi bayi, kan? Di luar sana banyak anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya. Kalau aku mau, aku bisa mengasuh satu, dua atau bahkan tiga dari mereka. Jadi tolong, jelaskan kenapa aku harus menikah, mempertaruhkan diriku sendiri, mengambil risiko dilukai lahir dan atau batin. Tak ada kepastian sama sekali bahwa pernikahan itu akan bertahan sepanjang hidupku. Disamping itu, kalau pernikahan itu hancur di tengah jalan, aku akan jadi pihak yang paling besar menanggung kerugian. Kenapa, Dan? Untuk apa?"

Idan termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. "Cinta mungkin?"

"Kau terlalu banyak menonton film romantis ," olokku.

"Kau tahu berapa lama cinta bertahan dalam suatu pernikahan?"

"Berapa lama?"

"Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi, frustrasi dan imajinasi."

"Imajinasi?"

"Kalau kau terjebak di dalam penjara dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu, kau harus membayangkan menikah dengan Richard Gere atau kau bisa jadi gila."


Bersambung ke Bagian II

Weekend Scripture 21/06/2008

"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak" (Mazmur 37:3-5)

Bukan Pihak Penting

Nats : Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan segala jalanmu (Amsal 3:6)

Bacaan : Hosea 8:1-6

Beberapa waktu yang lalu, seorang kolega marah terhadap saya. Usut punya usut ternyata ia kecewa karena saya lupa tidak memberitahukan suatu berita penting kepadanya. Kelalaian saya ternyata menyebabkan dia merasa bahwa saya tidak menghargainya, tidak menganggapnya penting. Sikap saya telah menyakiti hatinya.

Di masa Nabi Hosea hidup, bangsa Israel juga pernah menyakiti Tuhan dengan cara yang serupa. Walaupun Allah telah menyatakan diri secara jelas dalam memimpin kehidupan mereka dari waktu ke waktu, namun mereka malah beribadah kepada dewa-dewa asing. Lebih dari itu, mereka juga mulai "menyingkirkan" Tuhan dari kehidupan mereka. Mereka tidak lagi merasa perlu bertanya kepada Tuhan dalam mengambil keputusan penting; seperti mengangkat raja maupun pemuka umat (ayat 4). Mereka tidak lagi merasa perlu meminta persetujuan Tuhan dalam melakukan sesuatu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita menganggap Tuhan sebagai yang nomor satu dalam hidup kita? Apakah Tuhan adalah Pihak yang begitu penting bagi kita, sehingga kita selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya sebelum bertindak? Atau kita merasa dapat membuat keputusan kita sendiri tanpa persetujuan-Nya? Amsal 3:6 mengingatkan bahwa kita harus mengakui Dia, sebagai Tuhan yang memimpin hidup kita. Dari situ kita akan selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya dalam mengambil suatu langkah. Dengan demikian, Dia akan meluruskan langkah kita. Tiap-tiap hari, selalu ada banyak hal perlu kita pertimbangkan. Apakah Anda rindu mengakui Dia sebagai Pemimpin Hidup kita? —GS

BILA DIA YANG MEMIMPIN LANGKAH
MAKA HIDUP ANDA AKAN TERTATA. YAKINLAH!

SABDA.org

27 June 2008

Barking Flowers

 

Give
us a sense of humor, Lord,
Give us the grace to see a joke,
To get some humor
out of life,
And
pass it on to other folk.
THIS
IS SO CUTE, IT DESERVES TO BE PASSED ON.

Batas Kekhawatiran

Nats : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33)

Bacaan : Matius 6:25-34

Siapa bilang kekhawatiran tidak berguna? Kekhawatiran dalam kadar tertentu, jelas bermanfaat. Saya khawatir tak lulus ujian, karena itu saya belajar. Saya khawatir sakit, karena itu saya menjaga pola hidup dan rajin berolahraga. Saya khawatir akan hari depan pendidikan anak-anak, karena itu saya membayar premi asuransi pendidikan. Saya khawatir menjadi botak, karena itu saya memakai sampo penguat akar rambut, dan sebagainya.

Ya, khawatir dalam kadar dan konteks tertentu memang ada gunanya. Namun yang dimaksud Yesus dalam bacaan kita adalah kekhawatiran yang begitu besar, hingga menyingkirkan iman dari pusat kehidupan. Dalam bahasa Yunani, Yesus berkata, "Me merimnate." Artinya, jangan terus-menerus khawatir begitu rupa. Bila kekhawatiran akan makanan, pakaian, dan kehidupan begitu besar, maka kita kehilangan iman. Jika kekhawatiran lebih besar dari iman, kita tak akan dapat mencari Kerajaan Allah lagi. Kerajaan Allah adalah realitas di mana Allah memerintah, sehingga kita menjadi tenang dan tenteram.

Setiap hari memiliki kesusahannya sendiri (ayat 34). Kalau pusat hati kita adalah kekhawatiran, kita menambah kesusahan hari ini dengan beban yang tak perlu, yang semakin membuat kita lemah lesu. Lalu bagaimana kita dapat menjadi seperti burung yang merdeka dan bunga yang tampil penuh dalam kesementaraannya? Kita mesti menghadapi persoalan dunia yang berat ini dengan berani. Kita mengakui beratnya masalah, namun juga mengakui bahwa Allah bertakhta atas masalah. Dengan demikian kita dapat menghidupi setiap hari dalam kadar ketegangan yang pas —DKL

MASALAH SELALU ADA, DATANG DAN PERGI
PEMELIHARAAN ALLAH SELALU ADA, BAHKAN TAK PERNAH PERGI

SABDA.org