Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

28 June 2008

Weekend Scripture 21/06/2008

"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak" (Mazmur 37:3-5)

Bukan Pihak Penting

Nats : Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan segala jalanmu (Amsal 3:6)

Bacaan : Hosea 8:1-6

Beberapa waktu yang lalu, seorang kolega marah terhadap saya. Usut punya usut ternyata ia kecewa karena saya lupa tidak memberitahukan suatu berita penting kepadanya. Kelalaian saya ternyata menyebabkan dia merasa bahwa saya tidak menghargainya, tidak menganggapnya penting. Sikap saya telah menyakiti hatinya.

Di masa Nabi Hosea hidup, bangsa Israel juga pernah menyakiti Tuhan dengan cara yang serupa. Walaupun Allah telah menyatakan diri secara jelas dalam memimpin kehidupan mereka dari waktu ke waktu, namun mereka malah beribadah kepada dewa-dewa asing. Lebih dari itu, mereka juga mulai "menyingkirkan" Tuhan dari kehidupan mereka. Mereka tidak lagi merasa perlu bertanya kepada Tuhan dalam mengambil keputusan penting; seperti mengangkat raja maupun pemuka umat (ayat 4). Mereka tidak lagi merasa perlu meminta persetujuan Tuhan dalam melakukan sesuatu.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita menganggap Tuhan sebagai yang nomor satu dalam hidup kita? Apakah Tuhan adalah Pihak yang begitu penting bagi kita, sehingga kita selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya sebelum bertindak? Atau kita merasa dapat membuat keputusan kita sendiri tanpa persetujuan-Nya? Amsal 3:6 mengingatkan bahwa kita harus mengakui Dia, sebagai Tuhan yang memimpin hidup kita. Dari situ kita akan selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya dalam mengambil suatu langkah. Dengan demikian, Dia akan meluruskan langkah kita. Tiap-tiap hari, selalu ada banyak hal perlu kita pertimbangkan. Apakah Anda rindu mengakui Dia sebagai Pemimpin Hidup kita? —GS

BILA DIA YANG MEMIMPIN LANGKAH
MAKA HIDUP ANDA AKAN TERTATA. YAKINLAH!

SABDA.org

27 June 2008

Barking Flowers

 

Give
us a sense of humor, Lord,
Give us the grace to see a joke,
To get some humor
out of life,
And
pass it on to other folk.
THIS
IS SO CUTE, IT DESERVES TO BE PASSED ON.

Batas Kekhawatiran

Nats : Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33)

Bacaan : Matius 6:25-34

Siapa bilang kekhawatiran tidak berguna? Kekhawatiran dalam kadar tertentu, jelas bermanfaat. Saya khawatir tak lulus ujian, karena itu saya belajar. Saya khawatir sakit, karena itu saya menjaga pola hidup dan rajin berolahraga. Saya khawatir akan hari depan pendidikan anak-anak, karena itu saya membayar premi asuransi pendidikan. Saya khawatir menjadi botak, karena itu saya memakai sampo penguat akar rambut, dan sebagainya.

Ya, khawatir dalam kadar dan konteks tertentu memang ada gunanya. Namun yang dimaksud Yesus dalam bacaan kita adalah kekhawatiran yang begitu besar, hingga menyingkirkan iman dari pusat kehidupan. Dalam bahasa Yunani, Yesus berkata, "Me merimnate." Artinya, jangan terus-menerus khawatir begitu rupa. Bila kekhawatiran akan makanan, pakaian, dan kehidupan begitu besar, maka kita kehilangan iman. Jika kekhawatiran lebih besar dari iman, kita tak akan dapat mencari Kerajaan Allah lagi. Kerajaan Allah adalah realitas di mana Allah memerintah, sehingga kita menjadi tenang dan tenteram.

Setiap hari memiliki kesusahannya sendiri (ayat 34). Kalau pusat hati kita adalah kekhawatiran, kita menambah kesusahan hari ini dengan beban yang tak perlu, yang semakin membuat kita lemah lesu. Lalu bagaimana kita dapat menjadi seperti burung yang merdeka dan bunga yang tampil penuh dalam kesementaraannya? Kita mesti menghadapi persoalan dunia yang berat ini dengan berani. Kita mengakui beratnya masalah, namun juga mengakui bahwa Allah bertakhta atas masalah. Dengan demikian kita dapat menghidupi setiap hari dalam kadar ketegangan yang pas —DKL

MASALAH SELALU ADA, DATANG DAN PERGI
PEMELIHARAAN ALLAH SELALU ADA, BAHKAN TAK PERNAH PERGI

SABDA.org

26 June 2008

Bila Semua Mengecewakan

Nats : Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku (Habakuk 3:18)

Bacaan : Habakuk 3:17-19

Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana sehingga mengganggu kenyamanan dan kestabilan, bagaimana kita menghadapinya? Doa Habakuk ini bukan doa yang nyaman. Realitas hidup Habakuk adalah ketidakadilan, penindasan yang merajalela. Payahnya, Tuhan seolah-olah membiarkan semuanya itu. Tidak ada keadilan! (Habakuk 1:2,3). Karenanya Tuhan menghukum Israel dengan perantaraan bangsa lain. Namun, bangsa lain yang menjarah ini kemudian akan berhadapan sendiri dengan murka Tuhan (2:6-20). Suasana benar-benar kelam. Di sinilah puisi doa Habakuk teruntai. Itulah sebabnya doa ini dinyanyikan dalam nada ratapan (ayat 3).

Habakuk memulai puisi ratapan tentang hidup yang mengkhawatirkan dengan merefleksikan kuasa Tuhan yang melebihi kekuatan-kekuatan mitologis (ayat 1-16). Masalahnya, kita sering menganggap kuasa-kuasa lain lebih berjaya daripada Tuhan. Kuasa Tuhan, entah bagaimana, kurang berasa. Di sinilah Habakuk menjadi contoh bagi kita. Perhatikan ungkapan sang nabi di akhir puisi doanya. Pesannya amat kuat dan jelas. Barangkali dapat dibahasakan ulang bahwasanya iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku akan bersorak-sorak, beria-ria di dalam Allah penyelamatku."

Apakah dimensi iman yang sedewasa ini menjadi milik kita? —DKL

HABIS HUJAN TAMPAK PELANGI
TERHADAP TUHAN, JANGAN PERNAH PATAH HATI

SABDA.org

Siapa Yang Mempersiapkan Parasutku?

Charles Smith, seorang lulusan akademi Angkatan Laut Amerika adalah seorang juru terbang sebuah pesawat jet di Vietnam. Setelah melakukan 75 penerbangan di medan pertempuran, pesawatnya telah dijatuhkan oleh sebuah roket musuh. Untungnya, Smith berhasil dilontarkan keluar pesawat dan turun dengan parasut di tengah-tengah musuh. Ia ditangkap dan kemudian dipenjarakan di sebuah penjara Vietnam.

Ia berhasil untuk tetap hidup dan kini ia memberikan pengajaran-pengajaran tentang segala sesuatu yang ia telah belajar dari pengalamannya.

Pada suatu hari, Smith dan isterinya sedang makan di sebuah restoran. Seseorang dari seberang meja mendekatinya dan berkata, “Anda adalah Charles Smith!. Anda telah menerbangkan pesawat-pesawat jet dari kapal induk Kitty Hawk dan Anda telah ditembak jatuh!”

Smith mengatakan, “Bagaimana kamu tahu itu semua?”

“Akulah yang mempersiapkan parasutmu setiap hari”, jawab orang itu.

Smith ternganga karena terkejut bercampur dengan hati penuh terima kasih. Orang itu memompa tangannya dan mengatakan, “Kukira apa yang aku lakukan berhasil!”

Smith meyakinkannya, “Itulah pasti. Bila seandainya parasut itu tidak berhasil terbuka, maka aku tak akan berada di sini sekarang ini”

Malam harinya, Smith tidak dapat tidur melainkan terus memikirkan akan orang itu. Smith berpikir, “Aku bertanya-tanya, bagaimana orang itu bila berpakaian uniform angkatan Laut? Topi putih, suatu perangkat uniform angkatan laut dan sebagainya. Aku bertanya, beberapa kali aku telah berpapasan dengannya namun belum pernah mengatakan, “Selamat pagi, apa kabar atau apapun”, karena aku pada saat itu adalah seorang juru terbang jet dan ia hanya seorang pelaut”.

Smith membayangkan betapa lamanya pelaut itu berada di meja yang panjang di perut kapal, dan dengan hati-hati melipat parasut itu dalam lipatan-lipatan yang rapi sambil memegang di dalam tangannya nasib seseorang yang ia tidak kenal.

Kini, ia bertanya kepada hadirin, “Siapakah yang menyiapkan parasutmu?” Setiap orang mempunyai seseorang yang memberikan segala sesuatu bagi apa yang Anda perlukan untuk hari itu. Smithpun menerangkan bahwa ia memerlukan banyak macam parasut, ketika pesawat jetnya tertembak jatuh di atas wilayah musuh – ia memerlukan parasut physical, parasut mental, parasut emosional dan parasut spiritual. Ia membutuhkan semua dukungan itu sebelumnya ia mencapai keamanan.

Kadang-kadang, di tengah-tengah tantangan hidup, kita sering lupa akan apa yang sesungguhnya penting. Kita mungkin sering lupa atau tidak ingat untuk mengatakan, “Halo, tolonglah atau terima kasih, memberi selamat kepada seseorang atau sesuatu yang indah yang telah dialami oleh seseorang, memberikan kepada mereka imbalan atau sekadar berbuat suatu yang indah dan baik tanpa alas an apapun”.

Maka, bila Anda memasuki minggu ini, bulan atau tahun ini, kenalilah mereka yang telah menyiapkan parasutmu.


God's Little Acre

Secercah Senyuman

Secercah senyuman tidak memerlukan biaya sedikitpun, sebaliknya dapat memberikan sesuatu yang amat berharga. Senyuman dapat memperkaya seseorang yang menerimanya, tanpa menjadikan si pemberi itu lebih miskin lagi.

Tiada seorangpun, betapa besar kekayaannya atau kuasanya, yang dapat hidup tanpa senyuman. Dan tiada seorangpun, betapa miskinnya sekalipun yang tak dapat dibuat kaya olehnya.

Secercah senyuman menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangga dan memperkuat niat yang baik dalam pekerjaan serta merupakan tanda dari persahabatan.

Ia membawa ketenangan kepada mereka yang lelah dan resah, mendorong kepada mereka yang putus asa, terang mentari kepada mereka yang sedih dan merupakan obat yang paling mujarab bagi kesukaran.

Namun ia tak dapat dibeli, diminta, dipinjam atau bahkan dicuri, karena hal itu tidak ada nilainya bagi siapapun, kecuali bila diberikan kepada orang lain. Ada banyak orang yang terlalu lelah bahkan untuk memberikan secercah senyuman kepadamu. Berikanlah salah satu dari yang kau miliki, karena seseorang yang tak dapat memberikannya, justru amat memerlukan secercah senyuman.


B.J. Morbitzer

Humor : Pernikahan Yang Kokoh

Sepasang suami dan isteri sedang mengikuti sebuah persekutuan jemaat dengan beberapa teman. Ketika itu sedang mempersoalkan tentang Pemberian Nasihat Pernikahan oleh gereja masih diper- lukan atau tidak.

“Oh, kalau kami tidak memerlukan akan hal itu. Kami berdua mempunyai hubungan perkawinan yang amat baik,” jelas sang isteri.

“Ia mengambil mata pelajaran pokok Komunikasi ketika di sekolah tinggi dan aku telah mengambil pelajaran pokok dalam Seni Akting. Ia berkomunikasi cukup baik dan aku beraksi seakan-akan aku mendengar!”

25 June 2008

Bukan Pemerintahanmu

Nats : Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga (Matius 6:10)

Bacaan : Matius 6:5-14

Tony Blair memenangkan pemilu dengan keunggulan suara yang amat besar. Menjelang pengangkatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, ia menghadap Ratu Elizabeth. Film The Queen menggambarkan bagaimana ia dengan penuh percaya diri berkata, "Yang Mulia, partai saya telah memenangkan pemilu dan karena itu sekarang saya menghadap dan memohon perkenan Yang Mulia untuk membentuk suatu pemerintahan."

Sayangnya, ternyata sikap Blair itu menyalahi adat. Semestinya raja atau ratulah yang meminta kesediaan calon perdana menteri untuk menjalankan tugas. Namun, dengan lembut Ratu Elizabeth mengoreksinya. "Tugas telah ditetapkan atasku, sebagai ratu atasmu, untuk mengundang engkau menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan di dalam namaku."

Sistem pemerintahan monarki menyediakan ilustrasi menarik bagi dinamika kehidupan dalam Kerajaan Allah. Tak jarang, kita juga tergelincir bersikap seperti Tony Blair. Dengan penuh percaya diri kita merasa berhak "membentuk pemerintahan" sendiri, hidup secara egois menurut kemauan pribadi. Ini seperti sikap pemain orkestra yang mau menonjolkan kecakapannya sendiri, sehingga menyimpang dari aransemen, dan justru merusak harmoni.

Doa Bapa Kami menjungkirbalikkan ilusi tersebut. Yesus mengajarkan fokus hidup yang benar: kekudusan nama Allah, kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya. Dia seperti dirigen yang menyodorkan notasi musik, mahakarya Sang Maestro, dan meminta kita memainkan bagian kita, mengikuti aransemen-Nya, guna mengumandangkan harmoni bagi Sang Raja, Allah Bapa kita —ARS

HIDUP BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI MENDATANGKAN KEKACAUAN
HIDUP BERPUSAT PADA ALLAH MEMBUAHKAN KEHARMONISAN

SABDA.org

Feeling More Thankful

A man lay in a hospital bed worried about whether he would live or die. He called his pastor to come pray for him. He told her that if he got well, he'd donate $20,000 to the church. The pastor prayed and the man eventually DID get well and returned home. But no check came to the church. So the pastor paid him a visit.

"I see you're doing quite well now," she observed.

"I was just wondering about the promise you made."

"What promise?" he asked.

"You said you'd give $20,000 to the church if you recovered."

"I did?" he exclaimed.

"That goes to show you just how sick I really was!"

It is easy to give thanks -- or to show it -- when we feel grateful. But gratitude is not a feeling we can manufacture. Nor are we born feeling grateful. Children are not thankful by nature. We teach them to say thanks and, in time, they develop stronger feelings of gratitude.

My children could talk before they were weaned from diapers, but one thing they never said was, "Thank your for changing my dirty diapers. Dad, I know that is a messy job. I appreciate all you are doing for me." Too bad. Sometimes I deserved a BIG thank you. When they were sick, they never thanked us for sitting up with them at night. And when they became car sick at the beginning of a road trip, they never said thanks for cleaning it up. Even though their mother and I spent almost a half hour scrubbing the carpet in a convenience store parking lot at seven degrees below zero (our metric system readers will recognize that as -22 degrees Celsius), they never did said, "Gosh, guys, you're the greatest parents ever! We are SO lucky to be part of this family."

Naturally, we wouldn't expect small children to thank their parents for being parents. And for most people, feelings of gratitude come with empathy as we mature. But can we learn to feel more thankful? Here are three simple steps to help anybody live more thankfully and to respond more authentically.

First, recognize WHEN a thankful response is appropriate. We take for granted too many of the things that we should be giving thanks for.

Second, spend a moment reflecting on how another's thoughtfulness makes you feel. Be intentional about this.

Then third, from a sincere feeling of gratitude, give thanks. When you do, you will also discover that you are becoming a happier person.

-- Steve Goodier

Humor : Uang

Pada suatu hari disebuah Sekolah Dasar waktu itu jam istirahat dan terlihat di halaman sekolah tersebut seorang anak kecil menangis dengan kerasnya, lalu bertanyalah salah seorang gurunya....

Guru : Nak...kenapa nangis?

Anak : "Uang saya hilang seratus perak bu", jawabnya sambil nangis

Guru : Ya udah sekarang diem ya...nih ibu kasi seratus.

Tapi anak kecil tersebut malah nangis makin kenceng..gurunya pun bertanya.

Guru : Lho...kok nangisnya makin kenceng, kan udah ibu ganti seratus

Anak : Iya bu...tapi kalau tadi uangnya ga hilang, kan sekarang uang saya ada dua ratus

Guru : ............ .?