Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 June 2008

Bila Semua Mengecewakan

Nats : Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku (Habakuk 3:18)

Bacaan : Habakuk 3:17-19

Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana sehingga mengganggu kenyamanan dan kestabilan, bagaimana kita menghadapinya? Doa Habakuk ini bukan doa yang nyaman. Realitas hidup Habakuk adalah ketidakadilan, penindasan yang merajalela. Payahnya, Tuhan seolah-olah membiarkan semuanya itu. Tidak ada keadilan! (Habakuk 1:2,3). Karenanya Tuhan menghukum Israel dengan perantaraan bangsa lain. Namun, bangsa lain yang menjarah ini kemudian akan berhadapan sendiri dengan murka Tuhan (2:6-20). Suasana benar-benar kelam. Di sinilah puisi doa Habakuk teruntai. Itulah sebabnya doa ini dinyanyikan dalam nada ratapan (ayat 3).

Habakuk memulai puisi ratapan tentang hidup yang mengkhawatirkan dengan merefleksikan kuasa Tuhan yang melebihi kekuatan-kekuatan mitologis (ayat 1-16). Masalahnya, kita sering menganggap kuasa-kuasa lain lebih berjaya daripada Tuhan. Kuasa Tuhan, entah bagaimana, kurang berasa. Di sinilah Habakuk menjadi contoh bagi kita. Perhatikan ungkapan sang nabi di akhir puisi doanya. Pesannya amat kuat dan jelas. Barangkali dapat dibahasakan ulang bahwasanya iman tidak boleh ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri Habakuk berdoa, "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku akan bersorak-sorak, beria-ria di dalam Allah penyelamatku."

Apakah dimensi iman yang sedewasa ini menjadi milik kita? —DKL

HABIS HUJAN TAMPAK PELANGI
TERHADAP TUHAN, JANGAN PERNAH PATAH HATI

SABDA.org

Siapa Yang Mempersiapkan Parasutku?

Charles Smith, seorang lulusan akademi Angkatan Laut Amerika adalah seorang juru terbang sebuah pesawat jet di Vietnam. Setelah melakukan 75 penerbangan di medan pertempuran, pesawatnya telah dijatuhkan oleh sebuah roket musuh. Untungnya, Smith berhasil dilontarkan keluar pesawat dan turun dengan parasut di tengah-tengah musuh. Ia ditangkap dan kemudian dipenjarakan di sebuah penjara Vietnam.

Ia berhasil untuk tetap hidup dan kini ia memberikan pengajaran-pengajaran tentang segala sesuatu yang ia telah belajar dari pengalamannya.

Pada suatu hari, Smith dan isterinya sedang makan di sebuah restoran. Seseorang dari seberang meja mendekatinya dan berkata, “Anda adalah Charles Smith!. Anda telah menerbangkan pesawat-pesawat jet dari kapal induk Kitty Hawk dan Anda telah ditembak jatuh!”

Smith mengatakan, “Bagaimana kamu tahu itu semua?”

“Akulah yang mempersiapkan parasutmu setiap hari”, jawab orang itu.

Smith ternganga karena terkejut bercampur dengan hati penuh terima kasih. Orang itu memompa tangannya dan mengatakan, “Kukira apa yang aku lakukan berhasil!”

Smith meyakinkannya, “Itulah pasti. Bila seandainya parasut itu tidak berhasil terbuka, maka aku tak akan berada di sini sekarang ini”

Malam harinya, Smith tidak dapat tidur melainkan terus memikirkan akan orang itu. Smith berpikir, “Aku bertanya-tanya, bagaimana orang itu bila berpakaian uniform angkatan Laut? Topi putih, suatu perangkat uniform angkatan laut dan sebagainya. Aku bertanya, beberapa kali aku telah berpapasan dengannya namun belum pernah mengatakan, “Selamat pagi, apa kabar atau apapun”, karena aku pada saat itu adalah seorang juru terbang jet dan ia hanya seorang pelaut”.

Smith membayangkan betapa lamanya pelaut itu berada di meja yang panjang di perut kapal, dan dengan hati-hati melipat parasut itu dalam lipatan-lipatan yang rapi sambil memegang di dalam tangannya nasib seseorang yang ia tidak kenal.

Kini, ia bertanya kepada hadirin, “Siapakah yang menyiapkan parasutmu?” Setiap orang mempunyai seseorang yang memberikan segala sesuatu bagi apa yang Anda perlukan untuk hari itu. Smithpun menerangkan bahwa ia memerlukan banyak macam parasut, ketika pesawat jetnya tertembak jatuh di atas wilayah musuh – ia memerlukan parasut physical, parasut mental, parasut emosional dan parasut spiritual. Ia membutuhkan semua dukungan itu sebelumnya ia mencapai keamanan.

Kadang-kadang, di tengah-tengah tantangan hidup, kita sering lupa akan apa yang sesungguhnya penting. Kita mungkin sering lupa atau tidak ingat untuk mengatakan, “Halo, tolonglah atau terima kasih, memberi selamat kepada seseorang atau sesuatu yang indah yang telah dialami oleh seseorang, memberikan kepada mereka imbalan atau sekadar berbuat suatu yang indah dan baik tanpa alas an apapun”.

Maka, bila Anda memasuki minggu ini, bulan atau tahun ini, kenalilah mereka yang telah menyiapkan parasutmu.


God's Little Acre

Secercah Senyuman

Secercah senyuman tidak memerlukan biaya sedikitpun, sebaliknya dapat memberikan sesuatu yang amat berharga. Senyuman dapat memperkaya seseorang yang menerimanya, tanpa menjadikan si pemberi itu lebih miskin lagi.

Tiada seorangpun, betapa besar kekayaannya atau kuasanya, yang dapat hidup tanpa senyuman. Dan tiada seorangpun, betapa miskinnya sekalipun yang tak dapat dibuat kaya olehnya.

Secercah senyuman menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangga dan memperkuat niat yang baik dalam pekerjaan serta merupakan tanda dari persahabatan.

Ia membawa ketenangan kepada mereka yang lelah dan resah, mendorong kepada mereka yang putus asa, terang mentari kepada mereka yang sedih dan merupakan obat yang paling mujarab bagi kesukaran.

Namun ia tak dapat dibeli, diminta, dipinjam atau bahkan dicuri, karena hal itu tidak ada nilainya bagi siapapun, kecuali bila diberikan kepada orang lain. Ada banyak orang yang terlalu lelah bahkan untuk memberikan secercah senyuman kepadamu. Berikanlah salah satu dari yang kau miliki, karena seseorang yang tak dapat memberikannya, justru amat memerlukan secercah senyuman.


B.J. Morbitzer

Humor : Pernikahan Yang Kokoh

Sepasang suami dan isteri sedang mengikuti sebuah persekutuan jemaat dengan beberapa teman. Ketika itu sedang mempersoalkan tentang Pemberian Nasihat Pernikahan oleh gereja masih diper- lukan atau tidak.

“Oh, kalau kami tidak memerlukan akan hal itu. Kami berdua mempunyai hubungan perkawinan yang amat baik,” jelas sang isteri.

“Ia mengambil mata pelajaran pokok Komunikasi ketika di sekolah tinggi dan aku telah mengambil pelajaran pokok dalam Seni Akting. Ia berkomunikasi cukup baik dan aku beraksi seakan-akan aku mendengar!”

25 June 2008

Bukan Pemerintahanmu

Nats : Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga (Matius 6:10)

Bacaan : Matius 6:5-14

Tony Blair memenangkan pemilu dengan keunggulan suara yang amat besar. Menjelang pengangkatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, ia menghadap Ratu Elizabeth. Film The Queen menggambarkan bagaimana ia dengan penuh percaya diri berkata, "Yang Mulia, partai saya telah memenangkan pemilu dan karena itu sekarang saya menghadap dan memohon perkenan Yang Mulia untuk membentuk suatu pemerintahan."

Sayangnya, ternyata sikap Blair itu menyalahi adat. Semestinya raja atau ratulah yang meminta kesediaan calon perdana menteri untuk menjalankan tugas. Namun, dengan lembut Ratu Elizabeth mengoreksinya. "Tugas telah ditetapkan atasku, sebagai ratu atasmu, untuk mengundang engkau menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan di dalam namaku."

Sistem pemerintahan monarki menyediakan ilustrasi menarik bagi dinamika kehidupan dalam Kerajaan Allah. Tak jarang, kita juga tergelincir bersikap seperti Tony Blair. Dengan penuh percaya diri kita merasa berhak "membentuk pemerintahan" sendiri, hidup secara egois menurut kemauan pribadi. Ini seperti sikap pemain orkestra yang mau menonjolkan kecakapannya sendiri, sehingga menyimpang dari aransemen, dan justru merusak harmoni.

Doa Bapa Kami menjungkirbalikkan ilusi tersebut. Yesus mengajarkan fokus hidup yang benar: kekudusan nama Allah, kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya. Dia seperti dirigen yang menyodorkan notasi musik, mahakarya Sang Maestro, dan meminta kita memainkan bagian kita, mengikuti aransemen-Nya, guna mengumandangkan harmoni bagi Sang Raja, Allah Bapa kita —ARS

HIDUP BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI MENDATANGKAN KEKACAUAN
HIDUP BERPUSAT PADA ALLAH MEMBUAHKAN KEHARMONISAN

SABDA.org

Feeling More Thankful

A man lay in a hospital bed worried about whether he would live or die. He called his pastor to come pray for him. He told her that if he got well, he'd donate $20,000 to the church. The pastor prayed and the man eventually DID get well and returned home. But no check came to the church. So the pastor paid him a visit.

"I see you're doing quite well now," she observed.

"I was just wondering about the promise you made."

"What promise?" he asked.

"You said you'd give $20,000 to the church if you recovered."

"I did?" he exclaimed.

"That goes to show you just how sick I really was!"

It is easy to give thanks -- or to show it -- when we feel grateful. But gratitude is not a feeling we can manufacture. Nor are we born feeling grateful. Children are not thankful by nature. We teach them to say thanks and, in time, they develop stronger feelings of gratitude.

My children could talk before they were weaned from diapers, but one thing they never said was, "Thank your for changing my dirty diapers. Dad, I know that is a messy job. I appreciate all you are doing for me." Too bad. Sometimes I deserved a BIG thank you. When they were sick, they never thanked us for sitting up with them at night. And when they became car sick at the beginning of a road trip, they never said thanks for cleaning it up. Even though their mother and I spent almost a half hour scrubbing the carpet in a convenience store parking lot at seven degrees below zero (our metric system readers will recognize that as -22 degrees Celsius), they never did said, "Gosh, guys, you're the greatest parents ever! We are SO lucky to be part of this family."

Naturally, we wouldn't expect small children to thank their parents for being parents. And for most people, feelings of gratitude come with empathy as we mature. But can we learn to feel more thankful? Here are three simple steps to help anybody live more thankfully and to respond more authentically.

First, recognize WHEN a thankful response is appropriate. We take for granted too many of the things that we should be giving thanks for.

Second, spend a moment reflecting on how another's thoughtfulness makes you feel. Be intentional about this.

Then third, from a sincere feeling of gratitude, give thanks. When you do, you will also discover that you are becoming a happier person.

-- Steve Goodier

Humor : Uang

Pada suatu hari disebuah Sekolah Dasar waktu itu jam istirahat dan terlihat di halaman sekolah tersebut seorang anak kecil menangis dengan kerasnya, lalu bertanyalah salah seorang gurunya....

Guru : Nak...kenapa nangis?

Anak : "Uang saya hilang seratus perak bu", jawabnya sambil nangis

Guru : Ya udah sekarang diem ya...nih ibu kasi seratus.

Tapi anak kecil tersebut malah nangis makin kenceng..gurunya pun bertanya.

Guru : Lho...kok nangisnya makin kenceng, kan udah ibu ganti seratus

Anak : Iya bu...tapi kalau tadi uangnya ga hilang, kan sekarang uang saya ada dua ratus

Guru : ............ .?

Cemburu = Tanda Cinta?

Bacaan : 1Korintus 13:4-7

Nats: Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu (1Korintus 13:4)

Cemburu adalah perasaan marah atau pahit yang muncul ketika ada orang yang kita anggap akan merebut kekasih kita. Banyak orang mengatakan, cemburu adalah tanda cinta. Bukankah orang menjadi cemburu karena merasa sangat memiliki dan tidak rela kehilangan kekasihnya?

Sebenarnya cemburu tidak selalu identik dengan tanda cinta. Alkitab menyatakan "kasih ... tidak cemburu" (1Korintus 13:4). Kadang kala sikap cemburu justru menunjukkan kurangnya kasih sejati. Mengapa demikian? Sebab rasa cemburu bisa muncul dari sikap egois. Kita memperlakukan kekasih seperti barang milik kita. Tanpa sadar, kita berusaha "mencetaknya" menjadi seperti yang kita inginkan. Ia tidak diberi ruang untuk bebas bergerak. Kita mencurigai segala hubungannya dengan orang lain. Kita tidak suka melihatnya bercanda dan tertawa
bersama orang lain. Kita merampas sukacita hidupnya!

Rasa cemburu kerap kali muncul dalam relasi suami istri, mertua menantu, pemuda pemudi yang sedang berpacaran, bahkan dalam persahabatan. Tidak jarang, hal ini bukannya membuat hubungan semakin harmonis, malah merusak dan menjauhkan kita dari sang kekasih. Bagaimana cara menghilangkan rasa cemburu? Surat 1Korintus 13:7 mengatakan, "Kasih ... percaya segala sesuatu." Kasih percaya akan kesetiaan orang lain. Kasih belajar melihat apa yang terbaik dalam diri sang kekasih, sehingga kita pun berhenti berprasangka buruk. Jika kita memiliki kasih yang percaya, kecemburuan akan lenyap! --JTI

KASIH TAK MENJADI LEBIH KUAT KARENA CEMBURU
KASIH DIPERKUAT OLEH SIKAP LEBIH PERCAYA


Yayasan Gloria

24 June 2008

Humor : Pelajar Sapi

Acong : Don, katanya kamu ikut pertukaran pelajar.

Doni : Iya.

Acong : Wah hebat dong.

Doni : Ah gak juga

Acong : Lho emangnya kenapa?

Doni: soalnya indonesia kirim saya ke india india kirim sapi ke indonesia.

Hati Seorang Ayah

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?"

Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab, "Sebab aku Laki-laki."

Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman, "Aku tidak mengerti."

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan, "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki."

Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan. Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya, "Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."

Hanya itu jawaban Sang Bunda. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya."

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya."

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya.

"AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah...


With Love

To All Father : "JIKA KAMU MENCINTAI Ayah mu / sekarang merasa sebagai AYAH KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DIDUNIA INI DAPAT MENCINTAI DAN MENYAYANGI AYAHNYA & Dan Mencintai Kita Sebagai Seorang Ayah"

Note: Berbahagialah yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya. Berbahagialah yang merasa sebagai ayah. Dan lakukanlah yang terbaik buat keluarga kita.

Mengapa Saya?

Nats : Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)

Bacaan : Ayub 2:1-10

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?" Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'"

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Ashe, seperti juga Ayub dalam bacaan kita, tidak demikian. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat —AYA

KETIKA MENERIMA SESUATU YANG BURUK
INGATLAH SAAT-SAAT KETIKA KITA MENERIMA YANG BAIK

SABDA.org