Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 June 2008

Secercah Senyuman

Secercah senyuman tidak memerlukan biaya sedikitpun, sebaliknya dapat memberikan sesuatu yang amat berharga. Senyuman dapat memperkaya seseorang yang menerimanya, tanpa menjadikan si pemberi itu lebih miskin lagi.

Tiada seorangpun, betapa besar kekayaannya atau kuasanya, yang dapat hidup tanpa senyuman. Dan tiada seorangpun, betapa miskinnya sekalipun yang tak dapat dibuat kaya olehnya.

Secercah senyuman menciptakan kebahagiaan dalam rumah tangga dan memperkuat niat yang baik dalam pekerjaan serta merupakan tanda dari persahabatan.

Ia membawa ketenangan kepada mereka yang lelah dan resah, mendorong kepada mereka yang putus asa, terang mentari kepada mereka yang sedih dan merupakan obat yang paling mujarab bagi kesukaran.

Namun ia tak dapat dibeli, diminta, dipinjam atau bahkan dicuri, karena hal itu tidak ada nilainya bagi siapapun, kecuali bila diberikan kepada orang lain. Ada banyak orang yang terlalu lelah bahkan untuk memberikan secercah senyuman kepadamu. Berikanlah salah satu dari yang kau miliki, karena seseorang yang tak dapat memberikannya, justru amat memerlukan secercah senyuman.


B.J. Morbitzer

Humor : Pernikahan Yang Kokoh

Sepasang suami dan isteri sedang mengikuti sebuah persekutuan jemaat dengan beberapa teman. Ketika itu sedang mempersoalkan tentang Pemberian Nasihat Pernikahan oleh gereja masih diper- lukan atau tidak.

“Oh, kalau kami tidak memerlukan akan hal itu. Kami berdua mempunyai hubungan perkawinan yang amat baik,” jelas sang isteri.

“Ia mengambil mata pelajaran pokok Komunikasi ketika di sekolah tinggi dan aku telah mengambil pelajaran pokok dalam Seni Akting. Ia berkomunikasi cukup baik dan aku beraksi seakan-akan aku mendengar!”

25 June 2008

Bukan Pemerintahanmu

Nats : Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga (Matius 6:10)

Bacaan : Matius 6:5-14

Tony Blair memenangkan pemilu dengan keunggulan suara yang amat besar. Menjelang pengangkatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, ia menghadap Ratu Elizabeth. Film The Queen menggambarkan bagaimana ia dengan penuh percaya diri berkata, "Yang Mulia, partai saya telah memenangkan pemilu dan karena itu sekarang saya menghadap dan memohon perkenan Yang Mulia untuk membentuk suatu pemerintahan."

Sayangnya, ternyata sikap Blair itu menyalahi adat. Semestinya raja atau ratulah yang meminta kesediaan calon perdana menteri untuk menjalankan tugas. Namun, dengan lembut Ratu Elizabeth mengoreksinya. "Tugas telah ditetapkan atasku, sebagai ratu atasmu, untuk mengundang engkau menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan di dalam namaku."

Sistem pemerintahan monarki menyediakan ilustrasi menarik bagi dinamika kehidupan dalam Kerajaan Allah. Tak jarang, kita juga tergelincir bersikap seperti Tony Blair. Dengan penuh percaya diri kita merasa berhak "membentuk pemerintahan" sendiri, hidup secara egois menurut kemauan pribadi. Ini seperti sikap pemain orkestra yang mau menonjolkan kecakapannya sendiri, sehingga menyimpang dari aransemen, dan justru merusak harmoni.

Doa Bapa Kami menjungkirbalikkan ilusi tersebut. Yesus mengajarkan fokus hidup yang benar: kekudusan nama Allah, kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya. Dia seperti dirigen yang menyodorkan notasi musik, mahakarya Sang Maestro, dan meminta kita memainkan bagian kita, mengikuti aransemen-Nya, guna mengumandangkan harmoni bagi Sang Raja, Allah Bapa kita —ARS

HIDUP BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI MENDATANGKAN KEKACAUAN
HIDUP BERPUSAT PADA ALLAH MEMBUAHKAN KEHARMONISAN

SABDA.org

Feeling More Thankful

A man lay in a hospital bed worried about whether he would live or die. He called his pastor to come pray for him. He told her that if he got well, he'd donate $20,000 to the church. The pastor prayed and the man eventually DID get well and returned home. But no check came to the church. So the pastor paid him a visit.

"I see you're doing quite well now," she observed.

"I was just wondering about the promise you made."

"What promise?" he asked.

"You said you'd give $20,000 to the church if you recovered."

"I did?" he exclaimed.

"That goes to show you just how sick I really was!"

It is easy to give thanks -- or to show it -- when we feel grateful. But gratitude is not a feeling we can manufacture. Nor are we born feeling grateful. Children are not thankful by nature. We teach them to say thanks and, in time, they develop stronger feelings of gratitude.

My children could talk before they were weaned from diapers, but one thing they never said was, "Thank your for changing my dirty diapers. Dad, I know that is a messy job. I appreciate all you are doing for me." Too bad. Sometimes I deserved a BIG thank you. When they were sick, they never thanked us for sitting up with them at night. And when they became car sick at the beginning of a road trip, they never said thanks for cleaning it up. Even though their mother and I spent almost a half hour scrubbing the carpet in a convenience store parking lot at seven degrees below zero (our metric system readers will recognize that as -22 degrees Celsius), they never did said, "Gosh, guys, you're the greatest parents ever! We are SO lucky to be part of this family."

Naturally, we wouldn't expect small children to thank their parents for being parents. And for most people, feelings of gratitude come with empathy as we mature. But can we learn to feel more thankful? Here are three simple steps to help anybody live more thankfully and to respond more authentically.

First, recognize WHEN a thankful response is appropriate. We take for granted too many of the things that we should be giving thanks for.

Second, spend a moment reflecting on how another's thoughtfulness makes you feel. Be intentional about this.

Then third, from a sincere feeling of gratitude, give thanks. When you do, you will also discover that you are becoming a happier person.

-- Steve Goodier

Humor : Uang

Pada suatu hari disebuah Sekolah Dasar waktu itu jam istirahat dan terlihat di halaman sekolah tersebut seorang anak kecil menangis dengan kerasnya, lalu bertanyalah salah seorang gurunya....

Guru : Nak...kenapa nangis?

Anak : "Uang saya hilang seratus perak bu", jawabnya sambil nangis

Guru : Ya udah sekarang diem ya...nih ibu kasi seratus.

Tapi anak kecil tersebut malah nangis makin kenceng..gurunya pun bertanya.

Guru : Lho...kok nangisnya makin kenceng, kan udah ibu ganti seratus

Anak : Iya bu...tapi kalau tadi uangnya ga hilang, kan sekarang uang saya ada dua ratus

Guru : ............ .?

Cemburu = Tanda Cinta?

Bacaan : 1Korintus 13:4-7

Nats: Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu (1Korintus 13:4)

Cemburu adalah perasaan marah atau pahit yang muncul ketika ada orang yang kita anggap akan merebut kekasih kita. Banyak orang mengatakan, cemburu adalah tanda cinta. Bukankah orang menjadi cemburu karena merasa sangat memiliki dan tidak rela kehilangan kekasihnya?

Sebenarnya cemburu tidak selalu identik dengan tanda cinta. Alkitab menyatakan "kasih ... tidak cemburu" (1Korintus 13:4). Kadang kala sikap cemburu justru menunjukkan kurangnya kasih sejati. Mengapa demikian? Sebab rasa cemburu bisa muncul dari sikap egois. Kita memperlakukan kekasih seperti barang milik kita. Tanpa sadar, kita berusaha "mencetaknya" menjadi seperti yang kita inginkan. Ia tidak diberi ruang untuk bebas bergerak. Kita mencurigai segala hubungannya dengan orang lain. Kita tidak suka melihatnya bercanda dan tertawa
bersama orang lain. Kita merampas sukacita hidupnya!

Rasa cemburu kerap kali muncul dalam relasi suami istri, mertua menantu, pemuda pemudi yang sedang berpacaran, bahkan dalam persahabatan. Tidak jarang, hal ini bukannya membuat hubungan semakin harmonis, malah merusak dan menjauhkan kita dari sang kekasih. Bagaimana cara menghilangkan rasa cemburu? Surat 1Korintus 13:7 mengatakan, "Kasih ... percaya segala sesuatu." Kasih percaya akan kesetiaan orang lain. Kasih belajar melihat apa yang terbaik dalam diri sang kekasih, sehingga kita pun berhenti berprasangka buruk. Jika kita memiliki kasih yang percaya, kecemburuan akan lenyap! --JTI

KASIH TAK MENJADI LEBIH KUAT KARENA CEMBURU
KASIH DIPERKUAT OLEH SIKAP LEBIH PERCAYA


Yayasan Gloria

24 June 2008

Humor : Pelajar Sapi

Acong : Don, katanya kamu ikut pertukaran pelajar.

Doni : Iya.

Acong : Wah hebat dong.

Doni : Ah gak juga

Acong : Lho emangnya kenapa?

Doni: soalnya indonesia kirim saya ke india india kirim sapi ke indonesia.

Hati Seorang Ayah

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, "Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?"

Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab, "Sebab aku Laki-laki."

Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu berguman, "Aku tidak mengerti."

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan, "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki."

Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan. Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya, "Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."

Hanya itu jawaban Sang Bunda. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya."

"Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya."

"Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya."

"Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di Dunia & Akhirat."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya.

"AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH."

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah...


With Love

To All Father : "JIKA KAMU MENCINTAI Ayah mu / sekarang merasa sebagai AYAH KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DIDUNIA INI DAPAT MENCINTAI DAN MENYAYANGI AYAHNYA & Dan Mencintai Kita Sebagai Seorang Ayah"

Note: Berbahagialah yang masih memiliki Ayah. Dan lakukanlah yang terbaik untuknya. Berbahagialah yang merasa sebagai ayah. Dan lakukanlah yang terbaik buat keluarga kita.

Mengapa Saya?

Nats : Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10)

Bacaan : Ayub 2:1-10

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, "Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?" Ashe menjawab, "Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?' Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, 'Mengapa saya?'"

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Ashe, seperti juga Ayub dalam bacaan kita, tidak demikian. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat —AYA

KETIKA MENERIMA SESUATU YANG BURUK
INGATLAH SAAT-SAAT KETIKA KITA MENERIMA YANG BAIK

SABDA.org

23 June 2008

Manusia Super

Siang ini February 8, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setiabudi, dua sosok kecil berumur kira2 delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.

Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan, "Terima kasih Oom !".

Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka. Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki2 lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi2 sayup2 saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka.

Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan ditabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka
tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

"Terima kasih ya mbak. Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka.

Tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak?", mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?", suaranya mengingatkan pada anak lelaki saya yang seusia mereka. sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!"

Lalu tak lama siwanita berkata, "Ambil saja kembaliannya, dik!", sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur. Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya & menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut & meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut utk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang, "Sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja!".

Namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.

"Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!"

Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar, "Om, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek!".

"Eeh.. nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih!"

Saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek. Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya.

"Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa, itu buat kalian", lanjut saya

"Jangan ..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga", anak itu bersikeras.

"Sudah ..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas! saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

"Ini deh om, kalau kelamaan, maaf..", ia memberi saya delapan pack tissue.

"Buat apa?", saya terbengong.

"Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu".

Walau dikembalikan ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul di rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om!"

Mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan.

"Duit mbak tadi gimana?", suara kecil yg lain menyahut.

"Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin..."

Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan.

"Tuhan.. Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Engkau hanya semulia yang kau kerjakan. Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya adalah milik orang lain.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semenit Saja

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke Gereja untuk disumbangkan; namun betapa kecilnya kal au dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit, namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di Gereja lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu ayat Kitab Suci tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser, namun lebih senang berada di kursi paling belakang ketika berada di Gereja.

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata,
namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 3 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya menyediakan waktu untuk ibadah; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Kitab Suci; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh Koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan apa-apa, atau berbuat apa-apa.

Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada mail yang isinya tentang Kerajaan Allah betapa  seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta  langsung klik pada icon DELETE.

ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR...?

Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada ALLAH, YANG MAHA BAIK, apabila anda tidak memFORWARD pesan ini. Betapa banyak orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin bahwa mereka masih percaya akan sesuatu?