Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

13 June 2008

Harga Manusia Di Mata TUHAN

Suatu ketika saat seorang pendeta sedang mengajar anak-anak kecil, ada seorang anak kecil bertanya kepada Pendeta, "Pendeta, sedemikian berharganya kah kita sehingga Tuhan Yesus mau berkorban demi kita?"

Pendeta itu heran namun akhirnya tersenyum dengan pertanyaan polos dari anak tersebut. Anak itu benar, seberharga apakah kita ini, manusia, sehingga Tuhan Yesus mau datang ke bumi, menderita dan wafat di salib demi kita semua?

Pendeta itu lalu mengeluarkan selembar uang sebesar Rp 50.000,00 lalu memperlihatkannya di depan anak-anak tersebut. Pendeta itu bertanya, "Siapakah di antara kalian yang menginginkan uang ini?"

Spontan semua anak mengangkat tangannya sambil berteriak, "Saya! Saya!"

Tentu saja, siapa yang tidak mau diberikan uang 50 ribu rupiah gratis? Berapa banyak permen dan snack yang bisa dibeli dengan uang sebesar itu?

Pendeta itu lalu meremas uang itu keras-keras, lalu kembali memperlihatkan uang itu pada anak-anak. "Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang ini?" tanya pendeta itu kembali.

"Saya! Saya!" kata anak-anak itu, biar pun penampilannya jelek, uang kan tetap uang. Dirapikan sedikit nanti bagus lagi kok.

Uang itu tidak diberikan kepada siapa pun, sebaliknya, uang itu dilemparkan ke tanah, diinjak-injak hingga bercampur dengan debu dan tanah. Uang itu sekarang benar-benar kusam dan kotor.

Sekali lagi pendeta itu mengangkat uang itu dan bertanya, "Siapakah di antara kalian yang masih menginginkan uang yang kumel ini?"

Pendirian anak-anak itu tidak berubah, biar pun jelek, kotor, toh itu tetaplah uang sebesar 50 ribu rupiah!

"Demikianlah nilai kita di mata Tuhan. Sejelek apapun, sebodoh apapun, sekotor apapun, semiskin apapun, betapapun berdosanya kita, Tuhan tidak menganggap kita berbeda. Nilai kita di mata Tuhan begitu besar, bahkan dosa-dosa kita sekalipun tidak menutupi nilai kita di mata Tuhan. Tuhan berusaha agar kita tidak hancur, agar kita tidak lenyap. Karena itu Ia mengutus anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan kita dari dosa dan kehancuran."

Karena itu percayalah, sehina apapun kamu di dunia ini, tangan Tuhan tetap terbuka untukmu."

Sukses Plus Bahagia

Nats : TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu! (Mazmur 21:2)

Bacaan : Mazmur 21

Semua orang ingin sukses. Ironisnya, banyak orang tidak bahagia justru setelah mereka meraih sukses. Sebut saja Kurt Cobain, penyanyi dari grup Nirvana yang bunuh diri ketika sedang tenar-tenarnya di tahun 1990-an. Atau, para rohaniwan yang citranya runtuh karena keblinger oleh kesuksesan mereka. Belum lagi para pengusaha yang setelah sukses, justru keluarganya berantakan. Dan, masih banyak kisah tragis lain tentang kesuksesan. Ini menunjukkan pentingnya menjaga sikap hati saat meraih kesuksesan.

Bacaan hari ini berbicara tentang kemenangan Raja Daud. Berbagai kejayaan dan kesuksesan ia peroleh, sehingga ia menjadi raja yang besar dalam sejarah bangsa Israel. Namun, ia sangat sadar bahwa kemenangannya datang dari Tuhan (ayat 2). Oleh karena itu, ia mengembalikan semua kemuliaan hanya bagi Tuhan. Hasilnya, ia bersukacita. Bukan karena kemenangannya, melainkan karena kesadaran yang ia miliki tentang siapa yang memberi kesuksesan tersebut, yakni Tuhan.

Dari mazmur ini kita belajar tentang cara menyikapi kesuksesan. Pertama, kita harus selalu menyadari bahwa kita sukses bukan melulu karena kita hebat, tetapi lebih utama karena anugerah Tuhan. Dalam rencana-Nya, Allah memercayakan berkat yang lebih kepada kita. Karena itu kita tidak boleh menjadi sombong. Kedua, kesuksesan bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk disalurkan kepada sesama. Sama seperti segala berkat yang lain, Tuhan ingin kesuksesan kita dipakai untuk memberkati orang lain dan memuliakan nama-Nya. Dengan demikian, kita akan menjadi orang sukses yang bahagia —ALS

KITA SUKSES KARENA ALLAH MEMERCAYAKAN
BERKAT YANG LEBIH KEPADA KITA


SABDA.org

Kesaksian Pefri Pasande

Syaloom ...

Puji syukur saya memiliki Allah yang hidup dan berkuasa juga sangat baik. Kesaksian saya sebagai berikut:

Saya berhasil menyelesaikan studi S1 saya di Makassar pada bulan September 2000. Itu semua tak lain dan tak bukan semata-mata karena kemurahan Tuhan Yesus. Sebelumnya saya telah bergumul dan berserah dan meminta kepada Tuhan Yesus bahwa apabila saya dapat menyelesaikan kuliah saya, maka saya yakin saya akan diberikan juga pekerjaan.

Pada akhir bulan November, karena dorongan Roh Kudus, saya berkeinginan untuk berangkat ke Jakarta. Di sana saya ikut dengan kakak sepupu dan itu pengalaman pertama saya tinggal di Jakarta.Saya tiba di Jakarta dan tinggal dengan keluarga saya yang menjadi hamba Tuhan.

Saya memasukkan sekitar 16 surat lamaran pada esok harinya. Saya yakin Tuhan Yesus menyediakan banyak pekerjaan di sini karena Dia telah mengirim saya ke sini. Pada hari ketiga saya di Jakarta, saya langsung mendapatkan panggilan Test. Dan saya diterima untuk bekerja. Hanya saja, saya mulai bekerja pada awal Januari karena pada bulan Desember pekerjaan tidak terlalu padat, lagi pula banyak liburnya. Hal ini membuat saya merasa terharu akan kebaikan Tuhan Yesus yang tidak membiarkan saya menunggu terlalu lama. Saya merasa bahwa semua ini telah diatur oleh Tuhan.

Waktu pertama kali tiba di Jakarta, saya sempat berpikir bagaimana saya dapat memasukkan lamaran saya ke perusahaan yang ada di sini. Namun, ternyata di tempat saya tinggal (pastori) sudah tersedia harian KOMPAS. Lalu pada waktu saya menuju ke tempat test, semua kendaraan yang saya tumpangi seolah-olah sudah tersedia dan tepat waktunya. Waktu itu saya bertanya-tanya, bagaimana saya akan menemukan alamat perusahaan yang memanggil saya untuk test, sedangkan saya baru 3 hari di Jakarta belum tahu jalan.Tetapi semuanya itu berkat kemurahan Tuhan Yesus.

Hampir setiap saat jika ada waktu luang saya selalu berdoa bersekutu dengan Tuhan, menyanyikan pujian mengagungkan nama Tuhan Yesus Kristus.

Saat ini saya telah bekerja dan Tuhan Yesus memberikan pekerjaan yang baru. Sekarang saya tinggal di Cilegon. Di tempat pekerjaan saya yang baru, segala kebutuhan, baik itu makan, cucian,dll, disediakan oleh perusahan. Sungguh Tuhan Yesus yang saya sembah adalah Tuhan yang amat baik.

Satu pesan saya bagi saudara-saudara adalah jangan lupa berbakti dan beribadah kepada Tuhan, terutama hari Minggu. Jangan pernah tinggalkan hari Tuhan itu. Serta biarkanlah Roh Kudus beracara dalam hidup kita sehari-hari. Hiduplah kudus dan suci di hadapan Tuhan. Serta bertobat mohon ampun pada Tuhan jika hari ini kamu berbuat dosa. Jangan menoleh kebelakang mengingat dosa yang pernah dibuat, lupakan itu. Jangan biarkan dosa itu menjadi batu sandungan kita. Dan jangan jenuh berbuat baik.

Kiranya kesaksian saya ini dapat menguatkan iman saudara. Amin.

Tuhan memberkati.


Oleh: Pefri Pasande (Cilegon) - 19 November 2001

12 June 2008

Iman Yang Kuat

Peristiwa ini baru saja saya alami ketika saya mendapat tugas dari perusahaan saya. Saat itu saya diharapkan mengujungi beberapa Job Site di kota kecil di daerah Kalimantan yaitu Petangis, Bontang, dan Sangatta. Pada saat mendapat tugas tersebut kondisi kesehatan saya masih dalam pengawasan dokter.

Saya berangkat sendiri pada tanggal 16 Oktober 2001 dari Jakarta ke Balikpapan. Kota yang saya kunjungi pertama adalah Petangis. Tetapi sebelum menuju kota tersebut saya transit di Balikpapan, dan pada keesokan harinya tanggal 17 Oktober 2001 saya berangkat dari Balikpapan menuju Petangis pada pukul 09.00 WIT. Dari Balikpapan ke Petangis saya harus tetapi terlebih dahulu menyeberang menggunakam speed boad kemudian mencarter taxi ke tempat tujuan. Saya tiba di Petangis pada pukul 15.30 WIT. Di Petangis saya bertemu dengan teman satu team yang terlebih dahulu tiba di lokasi kerja.

Sesampai di lokasi kerja, saya merasakan kondisi kesehatan saya menurun. Saya menyampaikan kepada teman kerja saya, bahwa kemungkinan saya tidak akan melanjutkan perjalanan ke Bontang dan Petangis. Pada hari Minggu tanggal 21 Oktober 2001 kami merencanakan akan berangkat ke Balikpapan, karena sebelum menuju Bontang kami harus melalui Balikpapan terlebih dahulu. Ya Tuhan, hari Minggu (Sabat), saya harus ikut Kebaktian, kata hati saya. Saya mohon kepada Tuhan agar sesampai di Balikpapan saya dapat ikut kebaktian sore.

Hari Minggu tanggal 21 Oktober 2001 kami berangkat pukul 09.00 WIT. Saya masih merasa kondisi badan saya kurang sehat. Kami tiba di Balikpapan pukul 13.00. WIT (lebih cepat dari perkiraan saya). Sesampai di Balikpapan kami terlebih dahulu makan siang bersama rekan-rekan. Sehabis makan siang, kami semua dianjurkan untuk beristirahat dan kembalilah kami ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat. Pada saat akan istirahat, saya tidak dapat tidur, dan saya teringat bahwa saya sudah bertekad untuk mengikuti kebaktian sore di kota ini.

Terus terang bahwa saya tidak terlalu menguasai kota Balikpapan, sehingga saya tidak tahu dimana letak gereja, apalagi gereja yang mengadakan kebaktian sore. Akhirnya saya mencoba untuk membuka peta lokasi hotel dan saya lihat ada beberapa gereja. Tetapi apakah gereja tersebut mengadakan kebaktian sore? Kemudian saya lihat di buku telepon nomor telepon tempat ibadah. Saya cari dan saya telepon satu persatu. Ketemu. Kebetulan ada yang mengangkat telepon. Saya menanyakan dengan siapa saya berbicara. Ternyata istri pendeta. Kemudian saya menanyakan gereja mana yang mengadakan kebaktian sore. Ibu tersebut memberitahukan sebuah gereja, yaitu gereja GPIB Gunung Malang Balikpapan. Ya Tuhan, saya tidak tahu lokasi tersebut.

Kemudian saya keluar dari kamar hotel, dan kebetulan ada seorang petugas kebersihan hotel yang sedang membersihkan kamar hotel. Lalu saya bertanya kepada Bapak itu. "Pak, apakah Bapak tahu alamat ini?"

"O tahu Pak", jawabnya.

"Saya harus naik apa menuju kesana?", saya bertanya lagi.

"O saya saja yang mengantarkan Bapak", jawabnya lagi.

"Bapak kan masih kerja." kata saya.

"Sebentar lagi saya akan pulang, Pak", jawabnya.

"Ok ... kalau begitu, jam berapa?", tanya saya lagi.

"Jam empat", jawabnya.

"Wah ... tepat sekali. Kalau begitu saya tunggu ya, Pak."

"Bapak tunggu saja di kamar, nanti saya panggil kalau saya akan pulang," jawabnya lagi.

Sambil melangkah ke kamar, saya mengucap syukur kepada Tuhan dalam hati. "Ya Tuhan terima kasih, Engkau memberi jalan kepada hamba-Mu ini".

Malam harinya, setelah makan malam bersama rekan-rekan, kami beristirahat karena esok harinya kami akan melanjutkan perjalanan ke Bontang. Tetapi saya mengatakan kepada rekan saya bahwa jika kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan, saya tidak ikut ke Bontang, tetapi saya pulang ke Jakarta / Bandung untuk pemeriksaan kesehatan saya.

Sesampai di kamar, saya mencoba beristirahat dan berdoa terlebih dahulu. Saya mencoba merebahkan diri, tetapi saya tidak bisa tidur. Saya rasakan kondisi kesehatan saya kok semakin memburuk, dan jantung saya berdetak kencang. Saya coba menenangkan pikiran, tetapi tidak bisa juga. Ya Tuhan kenapa jadi begini?

Saya buka Alkitab dan membacanya satu persatu. Salah satu ayat yang membuat saya sangat takjub adalah Markus 5:28-29. "Sebab katanya: Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh. Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya."

"Ya Tuhan Yesus, ibu itu hanya memegang jubah-Mu saja sudah sembuh. Kumohon Tuhan, malam ini sembuhkanlah sakit hamba-Mu ini hanya dengan membaca firman-Mu."

Dalam nama Tuhan Yesus saya memohon Tuhan. Lalu saya berdoa dan bernyanyi nyanyian pujian kepada Tuhan. Tiba-tiba timbullah kepercayaan bahwa malam ini saya tidak sendiri dan saya percaya Tuhan Yesus menyembuhkan saya. Saya rasakan hati saya mulai tenang untuk beristirahat. Kemudian saya berdoa, saya serahkan semua rencana hidup saya kepada-Nya. Saya melakukannya sendiri di dalam kamar hotel tersebut. Setelah itu saya beristirahat tanpa beban. Dan saya merasa sangat nyaman sewaktu istirahat.

Keesokan harinya tubuh saya terasa segar dan sehat. Kami check-out dari hotel dan saat itu saya merasa mampu meneruskan perjalanan ke Bontang dan Sangatta sampai pekerjaan saya selesai.

Dan pada tanggal 31 Oktober 2001, saya dan rekan-rekan lainnya pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil cuti lapangan. Keesokan harinya saya melakukan check-up kesehatan. Dan puji Tuhan, ternyata kondisi kesehatan saya baik sehingga dokter tidak memberikan obat sama sekali. Hanya saya dinasehati agar berolah raga dan menjaga makanan sehari-hari. Saat ini saya menjalani terapi kesembuhan tanpa obat. Puji Tuhan. Amin.

Humor : Humor Pendek

Pria bertanya kepada Tuhan: "Tuhan, mengapa Engkau menciptakan wanita begitu cantik?"

Tuhan berkata, "Itu supaya kamu mencintainya"

"Tapi Tuhan", sahut si pria, "mengapa Engkau ciptakan dia begitu tolol?"

Tuhan menjawab, "Itu supaya dia mencintaimu"

---------------------------------------------------------

Seorang wanita bermimpi di tengah malam dan tiba-tiba berteriak, "Cepat bangun! Suamiku kembali!"

Pria di sampingnya cepat-cepat bangun, melompat dari jendela, lalu sadar.

"Sialan! Aku ini suaminya!"

-----------------------------------------------

Istri: Kamu selalu membawa fotoku didompetmu ke kantor. Kenapa?

Suami: Supaya kalau ada masalah, seberat apapun, aku akan memandang fotomu dan masalah itupun lenyap.

IstrI: Oh...itu kedengarannya manis sekali. Rupanya fotoku punya pengaruh yang hebat juga ya buatmu.

Suami: Tentu saja. Aku cukup memandang foto itu dan berkata pada diri sendiri: Memangnya masalah apa yg bisa lebih besar dari ini!

-----------------------------------------------------------------

Si cewek: Nanti kalo sudah menikah, aku mau berbagi semua kekuatiran dan masalahmu dan membantu meringankan bebanmu.

Si cowok: Wah kamu baik sekali. Tapi aku ngga punya kekuatiran atau masalah apapun.

Si cewek: Itu kan karena kita belum menikah.

-----------------------------------------------------------------

Anak: Mama, tadi waktu di angkot sama papa, dia minta saya nyerahin tempat duduk saya buat penumpang cewek.

Mama: Itu memang sikap yang baik.

Anak: Tapi Ma, aku kan duduk di pangkuan Papa

--------------------------------------------------------

Seorang pria yg baru saja merit bertanya kepada istrinya, "Seandainya tadinya Papaku ngga mewariskan kekayaan kepadaku, apa kamu mau juga menikah?"

"Sayang", jawab si istri, "Aku tetap menikahi kamu, ngga peduli siapa yang mewariskan kekayan padamu"

-----------------------------------------------------------------

Wawancara dengan jutawan

T: Siapa yang Anda anggap berjasa atas keadaan Anda yg sekarang berstatus jutawan?

J: Istri saya.

T: Wow...pastilah dia wanita hebat. Bisakah Anda menceritakan keadaan Anda sebelumnyua?

J: Sebelumnya saya milyarder.

---------------------------------------------------------------------------

Istri bertanya kepada suami: "Mana yang kamu paling suka dari aku - wajah cantikku atau tubuh sexy-ku?

Suami menatapnya dari atas ke bawah dan menjawab, "Aku suka sense of humor-mu".

Dapat Di Percaya

Nats : Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar (Matius 25:21)

Bacaan : Matius 25:14-30

Setiap orang pasti ingin dipercaya, apalagi untuk melakukan tanggung jawab yang besar. Namun, bagaimana seseorang dapat dipercaya jika sikapnya tak seperti yang diharapkan? Kalau uang lima puluh ribu rupiah bisa hilang di kamar hotel, berarti ada orang yang tidak dapat dipercaya di hotel itu. Kalau karyawan kerap terlambat datang ke kantor dan pulang lebih cepat dari jam kerja, maka integritasnya sukar dipercaya. Kalau seorang guru Sekolah Minggu biasa membolos mengajar, tidak mungkin ia dapat dipercaya untuk tugas yang lebih besar.

Perumpamaan Yesus tentang talenta mengingatkan kita bahwa yang penting bukan seberapa besar tanggung jawab yang diberikan kepada kita, melainkan seberapa besar tanggung jawab kita dalam mengerjakan pelayanan. Hamba yang menerima satu talenta berpikir tuannya kejam karena hanya memberinya satu talenta. Ia mengira sang tuan akan merampas keuntungannya, sebab itu ia tidak mengerjakan bagiannya. Ia malah menyembunyikan talenta itu di dalam tanah, lalu mengembalikan talenta itu kepada tuannya (ayat 24,25). Jika demikian, bagaimana sang tuan dapat memercayai dan memberi tanggung jawab lebih besar?

Integritas kita diuji ketika tidak ada orang lain yang melihat dan memerhatikan kita. Masih dapatkah kita mengerjakan tanggung jawab kita dengan sepenuh hati sekalipun tidak ada yang mengawasi? Tuhan akan senang bila kita mengerjakan dengan sungguh-sungguh setiap tanggung jawab yang Dia percayakan. Dengan demikian, suatu hari kelak Dia berkata, "Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (ayat 21) —CC

MASA DEPAN KITA AKAN LEBIH BAIK BILA KITA JUJUR DAN DAPAT DIPERCAYA


SABDA.org

Reflect Him

Today's Scripture

Let this same attitude and purpose and humble mind be in you that was in Christ Jesus. Let Him be your example in humility” (Philippians 2:5 AMP).

Today's Word from Joel and Victoria

When you reflect something, you are exhibiting its likeness. You are displaying its characteristics. Like a mirror, the Bible tells us that we should reflect the character and likeness of Jesus. We should have His same attitude. That may sound like a pretty tall order; after all, Jesus was the Son of God. But remember, when we accept Him as our Lord and Savior, we become sons and daughters of the Most High God, too. We become empowered by the same spirit that raised Christ from the dead. That means we have the same spirit of humility—the same strength, the same love, the same power on the inside. We are empowered to follow His example and do what He did. When Jesus walked the earth, the scripture says He went around doing good and bringing healing to others, physically, spiritually and emotionally. That’s what we should be doing, too. Notice this verse starts by saying, “Let…” We have to invite God into our attitude and actions. Choose today to invite Him to work in you. As you do, you will reflect Him in your attitude and actions and bring good to others, and you will reap an abundant harvest of blessing in every area of your life.

A Prayer for Today

Heavenly Father, I invite You to dwell in my thoughts, heart and attitude. I choose to follow Your example and bring good to others. Help me to be a pure reflection of Your love in everything I do. In Jesus’ Name. Amen.


Joel Osteen Ministries

11 June 2008

Jam

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?"

"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"

"Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"

"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu".

Tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya. Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam.

"Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"

"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti
ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.

Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.


Author Unknown

Gambaran Suram

Nats : Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku" (Yohanes 21:19)

Bacaan : Yohanes 21:15-19

Seperti apakah masa depan kita nanti? Para pengamat lingkungan meramalkan hidup akan semakin sulit. Meningkatnya pemanasan global akan membuat kota-kota di pesisir terendam air. Jumlah ikan di laut berkurang, bahkan akan habis karena terlalu banyak dikeruk. Bensin, solar, dan minyak tanah tidak ada lagi. Kalaupun ada, pasti mahal sekali. Persaingan hidup semakin tajam. Belum lagi munculnya krisis pangan, karena pertambahan penduduk tak seimbang dengan pertambahan produksi pangan. Jaringan televisi CNN pernah menayangkan gambaran suram masa depan bumi dalam tayangan berjudul Planet in Peril (Dunia dalam Ancaman Bahaya). Sungguh mengerikan!

Ketika Yesus menjelaskan masa depan Petrus kepadanya, Petrus juga merasa ngeri. Bayangkan, Yesus mengatakan bagaimana ia akan diikat dan dibawa ke tempat yang tidak ia kehendaki (ayat 18). Penganiayaan terbayang di depan. Ibarat film, hidupnya tak akan berakhir dengan happy ending. Di ujung jalan, salib menanti. Lalu, apakah Petrus lantas tak bersemangat hidup? Tampaknya tidak, karena sesudah memberitahukan semuanya Yesus berkata, "Ikutlah Aku" (ayat 19). Artinya, asal Petrus terus melangkah bersama Yesus, ia akan dimampukan untuk bertahan sampai akhir. Kenyataan membuktikan bahwa akhirnya Petrus mati disalib, namun ia tidak menyesal. Dengan tegar ia menghadapinya, malahan minta disalib terbalik.

Seperti apakah masa depan kita? Tak ada jaminan bahwa hidup akan semakin baik atau bumi semakin ramah. Namun, kita memiliki jaminan penyertaan Tuhan. Siapa saja yang mengikut Yesus akan dimampukan untuk tegar menghadapi situasi, seburuk apa pun —JTI

YANG PENTING BUKANLAH TAHU MASA DEPAN SEPERTI APA
MELAINKAN TAHU KITA BERJALAN DENGAN SIAPA


SABDA.org

Nats : Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku" (Yohanes 21:19)

Bacaan : Yohanes 21:15-19

Seperti apakah masa depan kita nanti? Para pengamat lingkungan meramalkan hidup akan semakin sulit. Meningkatnya pemanasan global akan membuat kota-kota di pesisir terendam air. Jumlah ikan di laut berkurang, bahkan akan habis karena terlalu banyak dikeruk. Bensin, solar, dan minyak tanah tidak ada lagi. Kalaupun ada, pasti mahal sekali. Persaingan hidup semakin tajam. Belum lagi munculnya krisis pangan, karena pertambahan penduduk tak seimbang dengan pertambahan produksi pangan. Jaringan televisi CNN pernah menayangkan gambaran suram masa depan bumi dalam tayangan berjudul Planet in Peril (Dunia dalam Ancaman Bahaya). Sungguh mengerikan!

Ketika Yesus menjelaskan masa depan Petrus kepadanya, Petrus juga merasa ngeri. Bayangkan, Yesus mengatakan bagaimana ia akan diikat dan dibawa ke tempat yang tidak ia kehendaki (ayat 18). Penganiayaan terbayang di depan. Ibarat film, hidupnya tak akan berakhir dengan happy ending. Di ujung jalan, salib menanti. Lalu, apakah Petrus lantas tak bersemangat hidup? Tampaknya tidak, karena sesudah memberitahukan semuanya Yesus berkata, "Ikutlah Aku" (ayat 19). Artinya, asal Petrus terus melangkah bersama Yesus, ia akan dimampukan untuk bertahan sampai akhir. Kenyataan membuktikan bahwa akhirnya Petrus mati disalib, namun ia tidak menyesal. Dengan tegar ia menghadapinya, malahan minta disalib terbalik.

Seperti apakah masa depan kita? Tak ada jaminan bahwa hidup akan semakin baik atau bumi semakin ramah. Namun, kita memiliki jaminan penyertaan Tuhan. Siapa saja yang mengikut Yesus akan dimampukan untuk tegar menghadapi situasi, seburuk apa pun —JTI

YANG PENTING BUKANLAH TAHU MASA DEPAN SEPERTI APA
MELAINKAN TAHU KITA BERJALAN DENGAN SIAPA


SABDA.org

As It Is in Heaven

Today's Scripture

Your kingdom come, Your will be done on earth as it is in heaven” (Matthew 6:10).

Today's Word from Joel and Victoria

God longs to give you a glimpse of heaven while you are here on earth. He wants to show you His wonderful plan and bring it to pass in your life. Have you ever thought about how God’s will is accomplished in heaven? In heaven, God’s will is automatic. There are no opposing forces of darkness or anything that would come against His will. On earth, His will is activated in our lives when we first make Jesus our Lord and Savior; and then we must choose to come into agreement with His will on a daily basis through our thoughts, our words and our actions. On earth, we have to stand against the forces of darkness. We have to refuse those negative, self-defeating thoughts. As you open your heart to the Word of God and invite His will to be done in your life, it says in Ephesians 6 that you will be empowered by your union with Him. As you declare what God says about you, you will overcome all opposition, and you will see God’s will in your life as it is in heaven!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I humbly come to You today and invite Your will to be done in my life. I submit every area of my heart to You. Let everything I say and do bring glory to You. In Jesus Name. Amen.


Joel Osteen Ministries