Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

23 May 2008

Apakah Anda Akan Lari?



Healing Words

Today's Scripture

“…the tongue of the wise brings healing”

Today's Word from Joel and Victoria

Are your words bringing healing to the people around you? The Bible clearly tells us that life and death are in the power of our tongue. We can use our tongue to build people up and encourage them with words of healing, or we can just as easily sow negative seeds with our words. The Bible says that the tongue of the wise brings healing. Choose to be wise today by choosing healing words. Choose to look for the best in others and build them up. Choose healing words over gossip; choose words of freedom and peace over anger and judgment. Let your words uplift and encourage the people in your life. Speak strength and hope to others. As you use your words to bring healing, God will pour out more of His wisdom in your life. You’ll reap the harvest you’ve sown with your words. God will pour out His blessing and increase in your life so you can live the abundant life He has in store for you.

A Prayer for Today

Father in heaven, today I choose to be wise and bring healing to others with my words. I ask for increase of Your power and ability in my life so that I can live to honor You in all I do. In Jesus’ Name. Amen.


Source : Joel Osteen Ministries

Engkau Begitu Berharga

Menyimak musibah gempa pada hari Senin tanggal 12 Mei 2008 yang berkekuatan "8.3 Skala Richter" di kawasan pegunungan yang jaraknya sekitar 100 km dari kota berpenduduk 10juta jiwa, di Chengdu, ibukota provinsi Sichuan - China. Setiap hari non-stop beritanya di TV lokal CCTV menceritakan 1001 kisah-kisah yang menyentuh, dan didalamnya pula kita dapat melihat rasa solidaritas kemanusiaan dan penanganan musibah yang terkoordinasi dengan sangat baik. Dari banyaknya kisah yang diliput, ada satu kisah yang ingin saya bagikan yang menunjukkan betapa satu nyawa itu sungguh berharga. Tentara-tentara muda dan relawan tak kenal lelah menyisir puing-puing reruntuhan bangunan, mengambil mayat-mayat dan mencari-cari orang-orang yang masih bisa tertolong nyawanya.

Suatu ketika seorang regu penyelamat seperti biasa memanggil-manggil kalau-kalau ada korban yang masih hidup tertimbun di reruntuhan bangunan. Dan suatu ketika mereka menemukan ada seorang gadis belasan tahun yang telah tertimbun beberapa hari dan masih dalam keadaan bernyawa, dengan susah payah mereka mengeluarkan gadis ini dari timbunan itu, dan ajaib setelah beberapa hari tertimbun, gadis ini masih dalam keadaan yang lumayan sehat. Ketika menyambut gadis ini keluar dari reruntuhan itu, salah seorang regu peyelamat menyanyikan lagu "Happy birthday to you...." kemudian diikuti teman-temannya yang lain, mereka menyanyikan lagu itu dengan tepuk-tangan. Saya yang sedang menonton TV saat itu agak heran mengapa mereka menyanyikan lagu ini? Dan seketika itu juga saya mengerti sekaligus trenyuh karena dalam nyanyian itu ada suatu dasar filosofis yang dalam yang keluar dari mulut sekumpulan orang-orang muda yang menjadi regu penyelamat. Bahwa mereka sedang merayakan nyawa gadis yang tertolong itu sebagai perayaan bahwa gadis itu telah "born again", hari itu "ia dilahirkan lagi". Pantaslah mereka menyanyikan lagu "Happy birthday to you....". Gadis itu tersenyum dan menangis, diantara relawan juga ikut menangis haru menyambut "hari lahir" yaitu hari keselamatannya. Mereka bertepuk tangan merayakan satu nyawa yang tertolong.

Betapa Alkitab juga mengajarkan kepada kita bahwa kita ini sungguh berharga, meski Allah telah menciptakan banyak sekali manusia, namun Ia tetap memandang satu jiwa dan setiap jiwa sungguh berharga. Tuhan Yesus berkata :
"Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Lukas 15:10). Kembali saya tersentuh merenungkan satu ayat ini. Ketika ada yang bertobat, para Malaikat menyanyi "happy birthday to you....", menyambut anak-anak Allah yang dilahirkan lagi dan menerima keselamatan kekal dari Allah.


Dikutip dari : Sarapan Pagi

22 May 2008

Kalung Anisa

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik.

Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.

Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya.

"Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi"

Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000.

Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten.

"Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?"

Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.

"Terimakasih..., Ibu"

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.

Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya "Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah?"

"Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !"

"Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu".

"Yah..., jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga

"Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa!". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?"

"Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?".

"Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu."

"Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini", Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan, air mata membasahi pipinya.

"Ada apa Anisa, kenapa Anisa?"

Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangan-nya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya

"Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa" Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.

Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih, sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa.

"Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau"

"Ya", ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.


Renungan:

Demikian pula halnya dengan Tuhan terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Tuhan mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Iman Yang Teruji

Bacaan : 1Petrus 1:1-9

Ibu Merry berusia 72 tahun. Ia menderita kanker lever stadium akut. Dokter sudah memvonis bahwa hidupnya hanya tinggal hitungan bulan. Perutnya membesar, dan kerap kali ia harus menanggung kesakitan di sekujur tubuh. Suatu hari, saya dan istri menengoknya di rumah sakit. Kami berbincang-bincang. Wajahnya yang kurus pucat tidak melunturkan semangat dan senyumnya. Saya membacakan firman Tuhan. Sebelum berdoa, saya mengajaknya bernyanyi, sebab ia senang menyanyi. "Tante mau nyanyi lagu apa?" tanya saya. "Lagu Berserah kepada Yesus," jawabnya. Kami pun bernyanyi bersama.

Sungguh luar biasa. Seseorang yang seakan-akan sudah dekat dengan kematian dan di tengah deraan sakit yang hebat, melantunkan pujian: "Aku berserah, aku berserah, kepada-Mu Juru Selamat, aku berserah." Inilah iman yang sejati. Sangatlah biasa bila dalam keadaaan berkelimpahan, hidup senang, dan sehat walafiat, seseorang memuji-muji Tuhan. Akan tetapi, sungguh istimewa bila di tengah kesulitan hidup, dalam pencobaan yang berat, seseorang masih bisa memuji dan mengagungkan nama Tuhan.

Surat Petrus yang pertama ditujukan kepada umat kristiani yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia (ayat 1). Mereka tengah mengalami tekanan dan penganiayaan hebat akibat iman mereka. Namun, Petrus mengingatkan mereka untuk tetap gembira walau harus menanggung semua kesulitan itu (ayat 6). Nasihat ini juga berlaku bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tetaplah bergembira. Pandanglah pencobaan sebagai sarana untuk "membuktikan" kemurnian iman kita -AYA

IMAN, SEPERTI JUGA CINTA,
TERUJI PADA SAAT YANG SULIT


SABDA.org

Ke Gereja Hanya Sia-sia

Jika kita merasa sia2 atau buang2 waktu untuk ke Gereja karena berbagai alasan, ini ada cerita untuk mengingatkan kita arti pentingnya ke gereja .. semoga cerita ini dapat mendorong kita lagi untuk pergi ke gereja bagi yang udah lama atau belum pernah ke gereja ... Terima kasih .. Tuhan memberkati ..

-----------------------------------

Seorang Katolik menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke gereja setiap minggu.

Tulisnya, "Saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itu saya telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu, demikian pun para pastor itu telah memboroskan waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu."

Surat itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca.

Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seseorang yang menulis demikian, "Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri saya telah memasak 32.000 jenis masakan. Selama hidup saya tidak bisa mengingat satu pun jenis masakan itu yang dilakukan istri saya. Tapi saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi saya kekuatan yang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kepada saya, maka saya sudah lama meninggal."

Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.


--------------------

Cerita 2

Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak muda, anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka.

Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata, "Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?"

"Tentu!"

"Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggu lalu..?"

"Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya."

"Lalu apa khotbah dari pastor?"

"Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi kekuatan,

Nenek menyukai khotbah itu."

Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNya?"

Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung.

Dan anak-anak lain tampak menjadi malu.

Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan berkata, "Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur."

Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari!"

"Nenek, apa nenek tidak sedang melucu?

Air didalam tas rajutan....!

"Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Tom.

"Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan.

Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu."

Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetes-teskan ..

"Lihat,nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya."

"Benar," katanya.

"Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang baik, meskipun kamu tidak mengetahuinya."

Is Your Faith In Your Fear?

But Jesus immediately said to them: "Take courage! It is I. Don't be afraid.” (Matthew 14:27, NIV)

Across the breadth of the Bible, God consistently sends the message, “Do not be afraid, for I am with you.”

The Bible reveals that God knows we tend toward fear, particularly as we respond to uncertainty and change. Yet the Bible also reveals that God is the only unchanging certainty in this world – or out of it.

Yet, is it possible we have more faith in our fear than we do in God?

No matter how complex life becomes, it still comes down to this basic choice: Will we place our confidence in the All-Powerful Supreme Being and Sole Authority of the Universe, or will we place greater confidence in our fears?

Although the choice is black-or-white basic, God knows it’s not simple. It involves a challenging stretch, and that’s why God continually reminds us, “Fear not, for I am with you.”

God is clear that our abilities, our resources – even a belief in the myth of luck – will not be what strengthens us for the journey. (Philippians 4:13) We fear we can’t do the things God calls us to do, and we fear that God will not protect us or provide for us. We choose this fear, embracing the unholy lie that our circumstances are bigger than the One True God.

Our faith in God gets placed on the altar of our own perceptions when we should be placing our perceptions on the altar of unflinching faith.

If you’re like me, you often fear what’s behind the curtain of God’s call, and God – frustratingly – won’t let me peek behind the curtain, and so:

Our fear shouts – “Pay no attention to the God behind the curtain; he’s just another wizard from Oz, using smoke and mirrors to give you the illusion of power and grace.”

Our God whispers – In that still, small voice, he calls us to develop confidence in him; he calls us to abandon the confidence we have in what we see and the confidence we have in our fears. God keeps the curtain of our future drawn so we will learn to live by faith and not by sight, so we will become certain of what we hope for and become sure of God, even when we cannot see how he’s working in our current circumstances. (Hebrews 11:1)

What does this mean?

· Ask God to replace your fear with faith – Eliminating your fear involves more than working up your courage. This is a spiritual battle that requires you to develop faith. But first you need to make a choice – Will you fear, or will you “faith?”

· Faith means you believe the truth – Your behavior and decisions are most often rooted in what you believe. When you experience fear, ask yourself, “What does this fear say about what I believe in this circumstance?” What fears are you experiencing today? What do they say about the beliefs you currently embrace? Ask God to pull these false beliefs and fears out by the root.

· Get caught in an act of faith – One day, a woman who had hemorrhaged for 12 years slipped up behind Jesus and touched his robe, believing he could heal her. “Jesus turned –caught her at it. Then he reassured her: ‘Courage, daughter. You took a risk of faith, and now you're well.’” (Matthew 9:22, MSG) God is for you, and he encourages you to be caught in the act of faith. When you act in faith, you proclaim your belief in God; you acknowledge he exists and that God cares about you.

· Let a friend tell you about your fears -- Ask a friend if he or she sees a part of your life where you show more fear than faith – and then, together, pray for God to help your unbelief. (Mark 9:24)


by John Walker

Be a People Builder

Today's Scripture

Therefore encourage one another and build each other up…” (I Thessalonians 5:11).

Today's Word from Joel and Victoria

God designed us to live in relationship with others. He wants us to help each other grow. None of us will reach our highest potential by ourselves. We need people in our lives to encourage us, and we need to encourage the people in our lives and help them reach their potential. The word “encourage” means to “urge forward.” Many times you can see things in other people that they don’t see themselves. You can see their strengths and talents. You can see that God has a special plan for them even though they may be going through a difficult time. Don’t assume that people see what you see in them. Take a moment and encourage them either with a kind word or a simple note. There might be a special gift you can give that will remind them of their goal or dream. In whatever way you can, urge the people in your life to keep moving forward. If you’ll be a people builder and help others fulfill their dreams, God will help you fulfill your dreams also, and you’ll live in blessing all the days of your life.

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for the people You have placed in my life. Help me build them up and find creative ways to urge them forward to Your glory. In Jesus’ Name. Amen.

Soure : Joel Osteen Ministries

21 May 2008

Humor : Ayam

Ada seorang anak bernama Denny, yang baru saja mencuri seekor ayam dari ladang orang. Nggak lama kemudian Denny sadar bahwa perbuatan mencuri itu adalah dosa.

Setelah itu Denny pergi ke gereja/bilik pengakuan dosa untuk mengakui perbuatannya kepada Pastor :

Denny

:

"Pastor, saya mengaku dosa. Saya telah mencuri seekor ayam dari ladang orang."

Pastor

:

"Wah, tindakanmu itu salah besar.

Denny

:

"Maukah Pastor menerima ayam itu kembali?

Pastor

:

"Tentu saja tidak! Kamu harus mengembalikannya kepada pemiliknya.

Denny

:

"Tapi ..., pemiliknya menolak untuk menerima kembali ayam itu, Pastor.

Pastor

:

"Oh ..., kalau begitu, ambillah ayam itu untukmu.

Denny

:

"Terima kasih, Pastor."

Tak lama kemudian pastor itupun pulang ke rumah, sesampainya di rumah ia teringat akan ayamnya yang berada di kandang. Setelah menghitungnya ternyata salah seekor dari ayam itu hilang ...

Pagi Yang Indah

Raja-raja 8:29
Kiranya mata-Mu terbuka terhadap rumah ini, siang dan malam, terhadap tempat yang Kaukatakan:nama-Ku akan tinggal di sana; dengarkanlah doa yang hamba-Mu panjatkan di tempat ini.”

Tawarih 6:40 “Sebab itu ya Tuhanku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini.”

Nehemia 1:11 “Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela akut akan nama-Mu ………..”

Mazmur 17:6 “Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku.”

Mazmur 54:4 “Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!”

Daniel 9:3 “Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.”

Mazmur 55:23 “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”


Firman TUHAN mengatakan bahwa Anda perlu berdoa setiap hari, Anda harus berdoa dengan tanpa henti (tanpa putus, terus-menerus, senantiasa). Pagi ini hati saya digerakkan untuk berdoa bagi orang lain dan mendoakannya dengan sungguh-sungguh. Ada banyak di luar sana yang sangat membutuhkan doa-doa kita. Ada banyak di luar sana yang tidak tahu bagaimana berdoa. Ada banyak orang-orang di luar sana yang tidak berdoa. Tetapi Tuhan sudah menempatkan Roh Kudus dalam hati setiap orang percaya dan semuanya bergantung pada diri orang percaya tersebut untuk taat pada tuntunan Roh Doa.

Tidak ada lain yang sangat diperlukan pada masa-masa sekarang ini daripada kuasa doa yang bekerja secara sepenuh, di bawah pimpinan dan dorongan dari Roh Kudus. Saya mengajak saudara-saudara saya, orang-orang percaya yang penuh dengan Roh Kudus untuk berjuang, memusatkan dan mengarahkan perhatian, khususnya di ladang anggur doa. Tersembunyi dari pemandangan manusia, tetapi terbuka lebar-lebar di Sorga; dan orang-orang kudus di Sorga bergabung dengan Anda di dalam gerakan kasih Allah ini.

Dalam hal ini Anda memiliki persekutuan timbal-balik, karena mereka yang ada di Sorga juga menjalankan pelayanan syafaat untuk Saudara-saudara mereka di bumi.

Bersukacitalah karena diberi tanggung-jawab dan kepercayaan untuk suatu tugas yang kudus. Ketahuilah bahwa kepercayaan ini sungguh sangat berharga dan terhormat. Oleh karena itu waspadalah jangan sampai Anda digoda untuk menyimpang atau mengabaikan tugas yang mulia ini.

Saya percaya hari ini TUHAN memanggil Saudara untuk berdoa secara khusus. Kepada Saudara sudah diberikan kehormatan untuk menolong orang lain. Firman Allah menegaskan, “Kamu tidak mendapatkan, karena kamu tidak berdoa.” Meminta tidak selalu berarti hanya untuk diri sendiri saja. Saudara dipanggil untuk berdoa bagi orang lain dan mendoakannya dengan sepenuh hati. Saya mendorong Saudara untuk mengadakan waktu sejenak sekarang ini juga dan dengarkanlah suara TUHAN yang sedemikian jelas. Ijinkan TUHAN mendatangkan ke dalam pikiran dan hati Anda orang-orang yang untuk mereka Dia sudah memanggil Saudara untuk mendoakannya.

Selanjutnya lakukanlah, doakanlah. Doa-doa Saudara selalu dibutuhkan.

Efesus 6:18 “Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus.”

Ijinkanlah TUHAN memimpin Saudara dan membimbing Saudara ke suatu tempat untuk berdoa, di mana Saudara dapat melakukan-nya. Saya tahu Saudara punya beban-beban doa… marilah kita bawa dan naikkan kepada TUHAN sekarang ini juga dan yakinlah bahwa TUHAN sudah mendengar doa-doa saudara untuk setiap orang.

Berdoalah dengan tanpa berhenti dan dengan bersungguh-sungguh hati. Inilah doa saya untuk saudara hari ini.


P.U.S.H.
P
ray Until Something Happens – Berdoalah Sampai Sesuatu Terjadi.


A.S.A.P.

A
lways Say A Prayer – Selalu Ucapkan Doa

F.R.O.G.
Fully Rely On God – Bergantung/Bersandar Sepenuh Pada Allah.


Carolyn

Dua Hati Bertemu

Bacaan : 1Raja-raja 19:1-14

Setiap kali suami saya pulang, anak saya yang berusia 2 tahun langsung tahu lebih dulu hanya dengan mendengar suara sepeda motornya. Ia akan segera lari keluar untuk menyambut ayahnya dengan gembira. Bagaimanapun suasana hatinya saat itu, yang jelas ia selalu senang bertemu lagi dengan ayahnya. Perasaan ini terjadi karena dua hati -- ayah dan anak -- bertemu.

Saat itu, Elia sedang lelah dan putus asa. Bahkan ia minta mati saja, "Cukuplah itu ... ambillah nyawaku" (ayat 4). Aneh memang. Elia yang baru saja melakukan pekerjaan besar bersama Tuhan, mengalami kelelahan dan keputusasaan hanya karena ancaman Izebel, seorang manusia belaka.

Lalu Tuhan datang menemui Elia. Bukan lewat angin besar yang membelah gunung dan memecah bukit. Bukan lewat gempa atau api. Dia datang lewat angin sepoi-sepoi basa. Tuhan menemui Elia bukan lagi lewat peristiwa dahsyat, melainkan melalui peristiwa biasa. Di situlah Elia keluar dan menemui Tuhan. Dua hati bertemu, dan Tuhan menggugah hati Elia dengan bertanya, "Apakah kerjamu di sini?" (ayat 13). Tuhan menyadarkan Elia pada tugasnya dan menguatkannya supaya tidak lagi kalah oleh ketakutan dan kecemasan.

Jika saat ini kita sedang takut dan cemas, serta begitu putus asa, Tuhan menggugah hati kita dengan pertanyaan, "Apakah kerjamu di sini?" Tuhan ingin kita bangkit. Hanya satu yang Dia inginkan, yakni agar kita bertemu dengan-Nya. Sekarang juga, temuilah Tuhan dalam keheningan doa. Utarakan segala pergumulan kita kepada-Nya. Dia akan meneguhkan kita kembali pada panggilan pelayanan yang sudah dipercayakan pada kita -CHA

DALAM KEHENINGAN DOA
HATI KITA BERTEMU DENGAN HATI TUHAN


SABDA.org