Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

03 May 2008

The Little Match-Seller

It was terribly cold and nearly dark on the last evening of the old year, and the snow was falling fast. In the cold and the darkness, a poor little girl, with bare head and naked feet, roamed through the streets. It is true she had on a pair of slippers when she left home, but they were not of much use. They were very large, so large, indeed, that they had belonged to her mother, and the poor little creature had lost them in running across the street to avoid two carriages that were rolling along at a terrible rate. One of the slippers she could not find, and a boy seized upon the other and ran away with it, saying that he could use it as a cradle, when he had children of his own. So the little girl went on with her little naked feet, which were quite red and blue with the cold. In an old apron she carried a number of matches, and had a bundle of them in her hands. No one had bought anything of her the whole day, nor had anyone given her even a penny. Shivering with cold and hunger, she crept along; poor little child, she looked the picture of misery. The snowflakes fell on her long, fair hair, which hung in curls on her shoulders, but she regarded them not.

Lights were shining from every window, and there was a savory smell of roast goose, for it was New-year’s eve—yes, she remembered that. In a corner, between two houses, one of which projected beyond the other, she sank down and huddled herself together. She had drawn her little feet under her, but she could not keep off the cold; and she dared not go home, for she had sold no matches, and could not take home even a penny of money. Her father would certainly beat her; besides, it was almost as cold at home as here, for they had only the roof to cover them, through which the wind howled, although the largest holes had been stopped up with straw and rags. Her little hands were almost frozen with the cold. Ah! perhaps a burning match might be some good, if she could draw it from the bundle and strike it against the wall, just to warm her fingers. She drew one out—“scratch!” how it sputtered as it burnt! It gave a warm, bright light, like a little candle, as she held her hand over it. It was really a wonderful light. It seemed to the little girl that she was sitting by a large iron stove, with polished brass feet and a brass ornament. How the fire burned! and seemed so beautifully warm that the child stretched out her feet as if to warm them, when, lo! the flame of the match went out, the stove vanished, and she had only the remains of the half-burnt match in her hand.

She rubbed another match on the wall. It burst into a flame, and where its light fell upon the wall it became as transparent as a veil, and she could see into the room. The table was covered with a snowy white table-cloth, on which stood a splendid dinner service, and a steaming roast goose, stuffed with apples and dried plums. And what was still more wonderful, the goose jumped down from the dish and waddled across the floor, with a knife and fork in its breast, to the little girl. Then the match went out, and there remained nothing but the thick, damp, cold wall before her.

She lighted another match, and then she found herself sitting under a beautiful Christmas-tree. It was larger and more beautifully decorated than the one which she had seen through the glass door at the rich merchant’s. Thousands of tapers were burning upon the green branches, and colored pictures, like those she had seen in the show-windows, looked down upon it all. The little one stretched out her hand towards them, and the match went out.

The Christmas lights rose higher and higher, till they looked to her like the stars in the sky. Then she saw a star fall, leaving behind it a bright streak of fire. “Someone is dying,” thought the little girl, for her old grandmother, the only one who had ever loved her, and who was now dead, had told her that when a star falls, a soul was going up to God.

She again rubbed a match on the wall, and the light shone round her; in the brightness stood her old grandmother, clear and shining, yet mild and loving in her appearance. “Grandmother,” cried the little one, “O take me with you; I know you will go away when the match burns out; you will vanish like the warm stove, the roast goose, and the large, glorious Christmas-tree.” And she made haste to light the whole bundle of matches, for she wished to keep her grandmother there. And the matches glowed with a light that was brighter than the noon-day, and her grandmother had never appeared so large or so beautiful. She took the little girl in her arms, and they both flew upwards in brightness and joy far above the earth, where there was neither cold nor hunger nor pain, for they were with God.

In the dawn of morning there lay the poor little one, with pale cheeks and smiling mouth, leaning against the wall; she had been frozen to death on the last evening of the year; and the New-year’s sun rose and shone upon a little corpse! The child still sat, in the stiffness of death, holding the matches in her hand, one bundle of which was burnt. “She tried to warm herself,” said some. No one imagined what beautiful things she had seen, nor into what glory she had entered with her grandmother, on New-year’s day.


by Hans Christian Andersen

Mengikuti Sekam

Bacaan : Yakobus 1:19-27

Menurut legenda yang dikisahkan para rabi, ketika Yusuf menjadi perdana menteri saat Mesir dilanda kelaparan, ia membuang sekam dari lumbung-lumbungnya ke Sungai Nil. Sekam itu mengambang sampai jauh mengikuti aliran air, sehingga orang-orang yang tinggal di tepian sungai jauh di daerah hilir dapat melihatnya. Hanya sekam yang mereka lihat, namun itu berarti ada banyak gandum di suatu tempat. Ketika melihat sekam yang mengambang itu, mereka yakin bahwa jika mereka cukup kuat untuk pergi dan menemukan tempat sekam itu dibuang, mereka pasti mendapati persediaan gandum yang berlimpah.

Seperti sekam yang menunjukkan adanya persediaan gandum, Alkitab -- sebagai catatan tertulis dari firman Allah -- juga berguna sebagai petunjuk di mana kita dapat memenuhi kebutuhan rohani kita. Namun, tak jarang kita memperlakukannya sebagai tujuan akhir. Kita sudah merasa puas jika telah membaca Alkitab dan melengkapinya dengan renungan dan buku-buku rohani. Kita sudah puas dengan giat mengikuti kelompok pendalaman Alkitab dan mendengarkan khotbah setiap Minggu.

Itu semua tindakan yang perlu dan penting, tetapi belum cukup untuk mendapatkan manfaat firman yang sesungguhnya. Membaca, mendengar, dan mempelajari Kitab Suci adalah langkah awal. Jika berhenti di situ, kita hanya menambah pengetahuan tentang Alkitab. Kita harus melengkapinya dengan mengikuti petunjuk firman itu. Artinya, kita perlu menaati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (ayat 22-25). Dengan demikian kita akan menemukan gandumnya, yakni kehidupan yang diubahkan oleh firman Allah -ARS

FIRMAN TUHAN TIDAK SEKADAR MEMBERI KITA PENGETAHUAN
TETAPI JUGA MEMBERI PERUBAHAN


SABDA.org

02 May 2008

Orang Kong Hu Cu Yang Bertobat

Kejadian ini terjadi pada mama saya kurang lebih 10 tahun yang lalu. Sebelumnya, kami sekeluarga bukan pengikut Kristus, mengikuti kepercayaan leluhur yaitu Konghucu. Mama saya sering dirasuki oleh roh (iblis) yang mengaku sebagai kakaknya (bibi saya) yang meninggal karena gagal melahirkan, dan sekeluarga kami percaya bahwa itu adalah bibi saya dan kami takut sekali.

Karena kepercayaan kami dulu itu, kami menghormati dan memenuhi segala permintaannya. Tetapi mama saya tetap tidak sembuh malah makin gawat. Semakin dituruti semakin banyak permintaannya, dan setannya makin galak, marah-marah kalau datang, sesajennya kurang, dan mama selalu pesan pada kami bahwa kami harus menghormatinya, dan berpesan bahwa dia tidak sendirian datangnya alias bawa teman antara lain kakek, dan saudara-saudara lain yang sudah pada meninggal.

Kami selalu pakai tepekong dan mama dikasih minuman bercampur PHU (kertas berwarna yang ditulis - sejenis jimat). Setannya sih pergi tetapi tidak lama balik lagi dan seterusnya begitu terus.

Sampai suatu saat, ada saudara yang memberi tahu pada mama agar didoakan saja, dan tanpa sepengetahuan kami, mama pergi diam-diam dan didoakan karena dia sendiri tidak tahan disiksa.

Melalui doa pengusiran berkali-kali, setiap mama dirasuki kami selalu memanggil pendeta untuk melakukan pengusiran dan kadangkala kami praktekkan sendiri pengusirannya. Mulanya kami ragu apa kami mampu, tetapi janji Tuhan ya dan Amin dan kami mampu. Saya yakin itu bukan kemampuan saya melainkan Tuhan Yesus (Puji nama Tuhan, Halleluya).

Kami sekeluarga sudah percaya dan dibaptis.


Oleh: Liu Lina (Chung Li, Taiwan) - 21 Desember 2001

Christian Ways To Reduce Stress

An Angel says, "Never borrow from the future. If you worry about what may happen tomorrow and it doesn't happen, you have worried in vain. Even if it does happen, you have to worry twice."

  1. Pray

  2. Go to bed on time.

  3. Get up on time so you can start the day unrushed.

  4. Say No to projects that won't fit into your time schedule, or that will compromise your mental health.

  5. Delegate tasks to capable others.

  6. Simplify and unclutter your life.

  7. Less is more. (Although one is often not enough, two are often too many.)

  8. Allow extra time to do things and to get to places.

  9. Pace yourself. Spread out big changes and difficult projects over time; don't lump the hard things all together.

  10. Take one day at a time.

  11. Separate worries from concerns. If a situation is a concern, find out what God would have you do and let go of the anxiety. If you can't do anything about a situation, forget it.

  12. Live within your budget; don't use credit cards for ordinary purchases.

  13. Have backups; an extra car key in your wallet, an extra house key buried in the garden, extra stamps, etc.

  14. K.M.S. (Keep Mouth Shut). This single piece of advice can prevent an enormous amount of trouble.

  15. Do something for the Kid in You everyday.

  16. Carry a Bible with you to read while waiting in line.

  17. Get enough rest.

  18. Eat right.

  19. Get organized so everything has its place.

  20. Listen to a tape while driving that can help improve your quality of life.

  21. Write down thoughts and inspirations.

  22. Every day, find time to be alone.

  23. Having problems? Talk to God on the spot. Try to nip small problems in the bud. Don't wait until it's time to go to bed to try and pray.

  24. Make friends with Godly people.

  25. Keep a folder of favorite scriptures on hand.

  26. Remember that the shortest bridge between despair and hope is often a good "Thank you , Jesus."

  27. Laugh.

  28. Laugh some more!

  29. Take your work seriously, but not yourself at all.

  30. Develop a forgiving attitude (most people are doing the best they can).

  31. Be kind to unkind people (they probably need it the most )

  32. Sit on your ego.

  33. Talk less; listen more.

  34. Slow down.

  35. Remind yourself that you are not the general manager of the universe.

  36. Every night before bed, think of one thing you're grateful for that you've never been grateful for before. GOD HAS A WAYOF TURNING THINGS AROUND FOR YOU. "If God is for us, who can be against us?" (Romans 8:31)

Mukjizat Natal

Kisah nyata ini terjadi di malam Natal pada saat perang dunia pertama tahun 1914, tepatnya di front perang dunia bagian barat, di Eropa. Pada saat itu tentara Prancis, Inggris dan Jerman saling baku tembak satu dengan yang lain.

Di malam Natal yang dingin dan gelap begini hampir setiap prajurit merasa sudah bosan dan muak untuk berperang apalagi telah berbulan-bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari isteri, anak maupun orangtuanya.

Pada malam Natal biasanya mereka selalu berkumpul bersama dengan seluruh anggota keluarganya masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.

Berbeda dengan malam Natal yang sekarang ini, di mana cuaca di luar sangat dingin sekali dan salju pun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, melainkan berada di hadapan musuh perang mereka yang setiap saat bersedia untuk menembak mati siapa saja yang bergerak.

Tiada hadiah yang menunggu selain peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makananpun sudah berkurang sehingga hari inipun hampir seharian penuh mereka belum makan. Pakaianpun basah kuyup karena turunnya salju.

Biasanya mereka berada di lingkungan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit seperti layaknya seekor tikus, masih lumayan bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada sekarang inipun basah, becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar pada saat ini selain rasa damai untuk bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Seorang tentara sedang merintih kesakitan karena baru saja terkena tembakan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pimpinan mereka yang biasanya keras, tegas entah kenapa pada malam ini kelihatannya sangat sedih sekali, terlihat air matanya turun berlinang, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang ini akan berakhir? Kapankah mereka akan bisa pulang kembali ke rumahnya masing-masing? Kapankah mereka bisa memeluk lagi orang-orang yang mereka kasihi?

Dan masih merupakan satu pertanyaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali dengan istri dan anak-anaknya? Entahlah...

Tidak sepatah katapun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya sendiri. Selama berjam-jam mereka duduk membisu sedemikian rupa

Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, ada cahaya kecil yang timbul dan bergoyang, cahaya tersebut kelihatan semakin nyata. Rupanya ada seorang prajurit Jerman yang telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka, sehingga nampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

Pada saat yang bersamaan terdengar alunan lembut suara lagu “Stille Nacht, heilige Nacht” (Malam Kudus), yang pada awalnya hanya sayup-sayup kedengarannya, tetapi semakin lama lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan semakin keras terdengar, sehingga membuat para pendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarga mereka yang berada jauh dari medan perang ini.

Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, bersih, dan merdu. Prajurit Sprink tersebut sebelumnya dikirim ke medan perang adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya suasana keheningan dan gelapnya malam Natal tersebut telah mendorong dia untuk melepaskan emosinya dengan menyanyikan lagu tersebut, walaupun ia mengetahui dengan menyanyikan lagu tersebut, prajurit bisa mengetahui tempat di mana mereka berada.

Ia bukan hanya sekadar menyanyi dalam tempat persembunyiannya saja, ia berdiri tegak, tidak membungkuk lagi, bahkan ia naik ke atas sehingga dapat terlihat dengan nyata oleh semua musuh-musuhnya. Melalui nyanyian tersebut ia ingin membawakan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna dari Natal ini, ialah untuk berbagi rasa damai dan kasih. Untuk ini ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Tetapi apakah ia ditembak mati?

Tidak! Entah kenapa seakan-akan ada mukjizat yang terjadi sebab pada saat yang bersamaan semua prajurit yang ada di situ turut keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing dan mereka mulai menyanyikannya bersama. Bahkan seorang tentara Inggris musuh beratnya Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua peniup bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Mereka menyanyikan lagu Malam Kudus ini dengan rasa pilu dan air mata yang turun berlinang.

Yang tadinya lawan sekarang menjadi kawan, sambil saling berpelukan mereka menyanyikan bersama lagu Malam Kudus dalam bahasanya masing-masing, di sinilah rasa damai dan sukacita benar-benar terjadi. Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama dengan lagu Adeste Fideles (Hai Mari Berhimpun), mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhanpun hilang dengan sendirinya.

Mereka berhimpun bersama dengan musuh mereka yang seharusnya saling menembak, membunuh satu dengan yang lain, tetapi entah kenapa dalam suasana Natal tersebut mereka ternyata bisa berkumpul dan menyembah bersama kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat. Rupanya inilah mukjizat Natal yang benar-benar bisa membawa suasana damai di malam yang suci.

Saya berharap melalui tulisan ini dapat membagikan rasa kasih dan damai kepada rekan-rekan dan para pembaca budiman serta mengajak kita semua untuk merenungkan kembali makna Natal yang sebenarnya.

Apabila ternyata masih ada luka batin yang belum sembuh, marilah kita mengambil kesempatan di hari Natal ini untuk saling memaafkan dan mendoakan satu dengan yang lain biarlah damai dari Kristus bertahta di hati kita.

Matius 5:9 : Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Ya Tuhan, Engkau menyinari malam paling suci ini dengan Cahaya Damai-Mu. Ajarilah kami untuk melihat kedamaian yang seharusnya kami cari, kedamaian yang seharusnya kami jaga, dan kedamaian yang harus kami bagi. Semangat hari ini dan setiap hari, menjadi seperti hari Natal, seperti Engkau mengilhami diri kami untuk membawa damai dan pengampunan bagi sesama orang yang kami jumpai. Terima kasih untuk kelahiran-Mu di dunia ini Tuhan Yesus, kelahiran-Mu membawa keajaiban bagi dunia ini dan bagi hidup kami. Segala pujian, hormat dan syukur kami naikkan bagi-Mu Yesus Kristus, Sang Raja. Amin

Ask For Wisdom

Today's Scripture

“If any of you lacks wisdom, he should ask God, who gives generously to all without finding fault, and it will be given to him” (James 1:5).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you need wisdom for something today? Ask God. He loves it when you call upon Him, and He longs to give generously to you. Do you need wisdom to lead your family? Do you need wisdom on your job? Do you need wisdom for a decision you have to make in life? Ask God! The next verse goes on to say that when you ask, you must ask in faith without wavering. That means you have to be absolutely determined to get your answer from Him. You can’t just ask and then decide to do things your own way, or doubt that He will give you the answer. That’s being double-minded. When you’re double-minded, the Bible says you won’t be able to receive anything from the Lord. Don’t let that be you! Have a one-track mind that’s focused on God and His promises. Believe that He is going to generously bless you with His wisdom. As you keep an attitude of faith and expectancy, He’ll cause you to rise higher and higher, and you’ll live the abundant life He has in store for you!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for being a good and generous God. Thank You for pouring out Your abundant blessing in my life. Keep my heart and mind focused on You always. In Jesus’ Name. Amen.

From : Joel Osteen Ministries

Mampukan Kita Mencintai Tanpa Syarat?

Based on True Story :

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam. Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun dan dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.


Rutinitas ini dilakukan pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.


Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata, "Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya, "Sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".


Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak2 mereka, "Anak2ku, jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian (sejenak kerongkongannya tersekat), kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."


Sejenak meledaklah tangis anak2 pak Suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh di pelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu. Sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa2. Di saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru di situlah pak Suyatno bercerita.


"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu2. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit".

30 April 2008

Humor : Pulang Ke Surga

Ada seorang laki-laki yang ayahnya baru saja meninggal. Ia datang ke gereja dan menemui seorang pendeta. Ia bertanya, "Pak pendeta, apakah ayah saya sudah masuk Surga?"

"Belum, anakku, ayahmu masih di dalam api penyucian karena dosanya banyak", jawab pendeta itu.

"Apa yang harus aku lakukan?", tanyanya.

"Kamu harus berdoa lebih banyak dan menyumbang uang untuk gereja ini" ,jawab pendeta itu. akhirnya ia menyumbang uang untuk gereja.

Keesokan harinya laki-laki itu datang lagi dan menanyakan hal yang sama tapi jawab pendeta itu, "Anakku, ayahmu belum masuk Surga. Kepalanya sudah keluar dari api penyucian tapi belum semua badannya."

Kemudian pendeta yang serakah itu menyuruh laki-laki itu lebih banyak berdoa dan menyumbang uang lagi. Keesokan harinya laki-laki itu datang lagi dan menanyakan hal yang sama. Tapi kata pendeta, "Separuh badan ayahmu sudah keluar dari api penyucian, tapi separuhnya lagi belum."

Akhirnya orang itu pun menyumbang uang lagi untuk gereja. Hari keempat orang itu datang lagi, tapi ia masih mendapatkan jawaban yang sama.

"Sebentar lagi ayahmu pasti masuk Surga. Kaki kanannya sudah keluar dari api penyucian. Kaki kirinya masih tertinggal", kata pendeta itu.

Apa yang terjadi? orang itu pergi. Pendeta itu keheranan dan bertanya, "Hei...kok malah pergi? Apa kamu ngga mau menyumbang uang lagi untuk gereja?"

Jawabnya, "Buat apa pak pendeta, ayahku yang meninggal adalah orang cacat"

Tetap Tinggal Bersama Yesus

Yoh 6:60-71

Situasi jadi berkembang. Sebelumnya orang-orang Yahudi yang bersungut-sungut karena mendengar perkataan Yesus. Kemudian malah murid-murid Yesus yang mengundurkan diri karena tidak sanggup menerima pengajaran-Nya.

Memang ada orang yang mengikut Yesus sebagai murid. Mereka ikut Dia ke padang belantara, di mana Ia mengajar mereka dan memberi mereka makan. Namun mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada Dia, pada misi dan pelayanan-Nya sebagai Mesias bagi Israel. Mereka menyatakan bahwa pengajaran Yesus terlalu berat. Padahal faktanya tidaklah demikian. Mereka hanya tidak suka pada apa yang mereka dengar. Oleh sebab itu, mereka tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Yesus tahu yang sesungguhnya ada di dalam hati mereka. Sebenarnya mereka tidak dapat menangkap makna rohani dari perkataan-Nya. Mereka bingung, bagaimana mungkin orang dapat memperoleh hidup kekal melalui makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Namun Yesus tahu bahwa orang tidak mungkin percaya bila tidak ditarik Bapa. Bahkan orang seperti Yudas Iskariot yang telah mendengar dan melihat semua yang Yesus lakukan, tidak memiliki iman yang sungguh-sungguh kepada Yesus.

Banyak orang yang seperti itu. Mengikut Yesus hanya sementara waktu, yakni sepanjang pengajaran Yesus dan konsekuensi menyangkut Yesus tidak bertabrakan dengan faham, kebiasaan, atau keinginan-keinginan manusiawi mereka. Namun ketika harus menerima seluruh pengajaran Yesus dan juga kehendak-Nya, saat itulah iman semu menjadi runtuh. Mereka tidak mau lagi mendengar perkataan Tuhan dan menolak untuk mengikut Yesus secara serius.

Kiranya kita menjadi seperti para murid sejati, yang meskipun tidak memahami pengajaran Yesus pada waktu itu, tetapi mau percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Mereka percaya bahwa hanya melalui Dia mereka mendapat hidup kekal. Mereka tetap bersama Yesus dan menyilakan Yesus membentuk dan mengubah mereka!

20 Things To Remember

Twenty Things to Remember :

  1. Faith is the ability to not panic.
  2. If you worry, you didn't pray. If you prayed, don't worry
  3. As a child of God, prayer is kind of like calling home every day.
  4. Blessed are the flexible, for they shall not be bent out of shape.
  5. When we get tangled up in our problems, be still. God wants us to be still so He can untangle the knot.
  6. Do the math. Count your blessings.
  7. God wants spiritual fruit, not religious nuts.
  8. Dear God: I have a problem. It's me.
  9. Silence is often misinterpreted, but never misquoted.
  10. Laugh every day -- it's like inner jogging.
  11. The most important things in your home are the people.
  12. Growing old is inevitable, growing up is optional.
  13. There is no key to happiness. The door is always open. Come on in.
  14. A grudge is a heavy thing to carry.
  15. He who dies with the most toys is still dead.
  16. We do not remember days, but moments. Life moves too fast, so enjoy your precious moments.
  17. Nothing is real to you until you experience it; otherwise it's just hear say.
  18. Its all right to sit on your pity pot every now and again. Just be sure 20 to flush when you are done.
  19. Surviving and living your life successfully requires courage. The goals 20 and dreams you're seeking require courage and risk- taking. Learn from the turtle, it only makes progress when it sticks out it's neck.
  20. Be more concerned with your character than your reputation. Your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are.

Submitted by: Nancy Chessher - Dade City, FL

Wait on the Lord

Today's Scripture

“But those who wait on the Lord, shall renew their strength, they shall mount up with wings like eagles, they shall run and not be weary, they shall walk and not faint” (Isaiah 40:31).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you need strength today? Sometimes it’s easy to get down and discouraged when you’re constantly looking at the circumstances of life. You may feel tired and weary from a long battle. But when you wait on the Lord, the Bible says your strength will be renewed. Waiting on the Lord means you’re putting your trust and hope in Him. You’re living with an attitude of faith and expectancy. In the natural, if you are waiting for someone like a special dinner guest, you’re probably not just sitting around the house wondering what will happen. No, you’re probably preparing for that special person by straightening the house and making sure everything is perfect for their arrival. Most likely, you started weeks in advance making the menu and deciding what to wear! In the same way, when you are waiting on the Lord, it doesn’t mean you are just sitting around, it means you are preparing for Him. Are you ready for God to move on your behalf? Are you waiting on Him? As you take a step of faith, He’ll meet you there. He’ll renew your strength and lead you into victory in every area of your life!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for Your promise to renew my strength. I choose to wait on You. I choose to trust You. I choose to prepare for You to move mightily in my life! In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries