Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

08 April 2008

Rasa Malu

Bagi orang Jepang, rasa malu atas kesalahan dan kegagalan yang mereka alami bisa tampak sebagai masalah yang begitu besar. Oleh karena itu, demi menghapus rasa malu semacam ini, mereka berani melakukan tindakan harakiri (bunuh diri).

Dalam setiap hidup kita, rasa malu dan sesal pasti akan muncul saat kita menyadari telah salah melangkah atau mengalami kegagalan. Perumpamaan tentang anak hilang yang diberikan oleh Tuhan Yesus memberi kekuatan dan keberanian kepada kita.

Setelah si anak hilang menyadari kesalahannya, ia sungguh merasa malu dan menyesal. Malu pada orang-orang yang mengenalnya, malu pada masyarakatnya, terutama malu pada keluarganya, khususnya pada sang ayah yang pernah ia sakiti. Rasa malu yang begitu menguasai bisa saja membuatnya putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Namun, apakah yang dapat kita pelajari dalam perumpamaan ini? Si anak hilang tidak berhenti pada rasa malu dan sesal saja. Ia mempunyai keberanian untuk mengakui segala dosanya. Ia berani melawan rasa malunya dengan pulang dan menghadapi bapanya. Dengan segala risikonya. Ia pulang dengan hati yang siap menerima konsekuensi atas kesalahannya, bahkan jika ia harus kehilangan status sebagai anak.

Terkadang rasa malu atas kesalahan kita tak tertahankan. Namun, kita memiliki Bapa surgawi yang penuh kasih dan mau mengampuni. Mari kita beranikan diri untuk datang kepada-Nya dengan pertobatan, Dia siap menerima kita kembali dan memulihkan kita dari keterpurukan.

He Delivers You From All

Today's Scripture

“Many are the afflictions of the righteous, But the LORD delivers him out of them all” (Psalm 34:19).

Today's Word from Joel and Victoria

Aren’t you glad we serve a Deliverer today? An affliction is defined as the cause of persistent pain or distress. You might feel afflicted today, but God is working to bring you out of that difficult situation. It may not be in the way you thought, but you have to trust that God has your best interest at heart. I know that afflictions can take on many forms—a sickness or hardship, a temptation, a coworker or family member. There are so many things that can come against us, but God promises in His Word that no weapon formed against us shall prosper! Those afflictions are only temporary. Stand in faith believing that God is on your side. Remember, you and God are a majority. It doesn’t matter what your circumstances look like, get up every morning and say, “This is the day that the Lord has made, I will rejoice and be glad in it.” As you stand and trust the Lord, He will deliver you out of all your afflictions, and you’ll see His hand of blessing in every area of your life.

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for making me righteous through the blood of Jesus. I trust that You have a good plan for me, and that You will deliver me out of all affliction. Thank You for Your strength and peace in my life. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Perahu Kesempatan

Berapa banyak dari Anda yang tidak mempunyai cukup uang? Atau tidak mendapat penghasilan yang cukup besar? Atau tidak menyukai karier Anda? Atau tidak mempunyai cukup waktu luang? Atau tidak memiliki perkawinan yang bahagia? Atau tidak memiliki kesehatan yang baik? Berapa banyak dari Anda berharap memiliki hidup lebih baik dari sekarang? Well..... bagaimana dengan Anda? Mungkin Anda hanya tidak memaksimalkan kesempatan Anda, dan Anda tidak melompat ke perahu kesempatan saat itu melintas.

Ada sebuah kisah tentang seorang pendeta yang terdampar di bubungan atap gereja saat banjir besar melanda. Air telah sampai ke pergelangan kakinya saat sebuah perahu lewat. "Pergi, selamatkan yang lain," ujarnya, "Tuhan akan mengurusku." Tak lama kemudian, saat air sampai ke pinggangnya, perahu lain lewat. "Tak masalah," ujarnya,"Tuhan akan mengurusku." Ketika air sampai ke lehernya, perahu ketiga muncul. Sekali lagi, ia mengatakan," Jangan khawatir, Tuhan akan mengurusku." Kemudia air menutupi kepalanya dan ia tenggelam. Saat masuk Surga, ia bertanya mengapa Tuhan tidak menolongnya. "Astaga," kata Tuhan, "Aku pikir kamu ingin kemari, bukankah Aku sudah mengirim tiga perahu?"

Pahami bahwa ada perahu kesempatan yang melewati Anda setiap waktu, setiap hari. Mulailah dengan mengetahui apa yang Anda inginkan: apakah lebih banyak uang, atau penghasilan yang lebih besar, atau pekerjaan yang Anda senangi, atau lebih banyak waktu luang, atau perkawinan yang bahagia, atau kesehatan yang baik? Berapa banyak bagian hidup yang Anda harap lebih baik, lebih besar, atau lebih sukses? Anda akan melihat perahu kesempatan dengan mengetahui akhir yang Anda inginkan dan hasil yang Anda inginkan, kemudian menjadi waspada dan menyadari adanya kesempatan saat kesempatan itu datang. Obsesi luar biasa dan keputusan akan membantu Anda melompat saat perahu lewat, karena kedua hal tsb membuat Anda tetap fokus pada apa yang Anda cari dan membuat Anda lebih mudah mengenali kesempatan saat hal itu muncul.

Keberanian untuk menghadapi situasi dan mambangun kekuatan sehingga saat kesempatan muncul, Anda telah siap memanfaatkan kesempatan itu. Kepercayaan diri utnuk bertindak segera dan dengan antusiasme tak terbatas pada saat kesempatan muncul.

Di mana kesempatan itu berada? Di mana saja! Dunia ini dinamis dan selalu berubah, penuh dengan kesempatan besar yang menunggu ditemukan orang berani dan percaya diri. Ya, kesempatan ada di mana-mana!

"Orang pesimis adalah orang yang membuat kesulitan dari kesempatannya. Orang optimis adalah orang yang membuatkesempatan dari kesulitannya".

Kebalikan dari kesempatan adalah masalah. Saat hidup memberitkan tantangan yang tak diharapkan pada Anda, pikirkan hal itu dengan persepsi yang berbeda. Pikirkan kesulitan hidup seperti sebuah pedang yang dilempatkan ke arah Anda. Semakin besar masalah, maka semakin besar pedangnya, semakin tajam mata pisaunya, dan semakin besar kekuatan yang menghampiri Anda.

Intinya dan di sini lah perubahan persepsi sangat penting. Ada dua cara untuk menangkap pedang: pada gagangnya atau pada mata pisaunya.

"Bila nasib melempat sebuah pedang ke arahmu, ada dua cara untuk menangkapnya: pada mata pisaunya atau pada gagangnya."

Dengan menangkap mata pisaunya, sebuah pedang dapat menyakiti atau melukai ANda. Jika cukup tajam, atau jika dilemparkan dengan kekuatan yang besar, sebuah pedang akan menimbulkan luka yang mematikan. Namun jika ditangkap gagangnya, sebuah pedang tidak akan melukai dan dapat digunakan sesuka Anda sebagai alat utnuk memotong hal yang merintangi Anda.

Biarkan masalah membangkitkan jiwa bertarung Anda. Anda tidak akan bisa pergi terlalu jauh tanpa jiwa bertarung yang baik. Jadi biarkan. Dengan api dalam hati Anda, Anda dapat mengobarkan kekuatan terpendam Anda, mendorong diri untuk mencari solusi. Dengan jiwa bertarung dan dengan melihat masalah dari berbagai sisi, Anda akan mampu melihat keuntungan dan manfaat dari masalah itu sendiri.

Anda dapat kembali ke jalan kemenangan pribadi dan mengatasi tantangan hidup dengan langsung menghadapi masalah Anda ya!

07 April 2008

Kasih Yang Sebenarnya

Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar. Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan.

Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan diatasnya tertulis "Untuk Anakku Tersayang". Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Disamping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

"Ya Tuhan,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini. Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku Kumohon Ya Tuhan, jadikan buah kasih hambaMu ini Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu. Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya. Sekali lagi kumohon Ya Tuhan, Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu menyertaimu"

Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayah memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita.

Humor : Ibu Guru

Nina yang berusia 8 tahun memperlihatkan raportnya kepada ayahnya. Nilainya bagus-bagus, sebagian besar nilainya A dan ada beberapa yang B.

Tetapi di dalam catatan guru di bagian bawah buku raportnya itu tertulis, "Nina adalah seorang anak yang pandai, tapi dia punya satu kelemahan. Dia terlalu sering bicara dan ngobrol dalam kelas. Tapi sebagai gurunya saya sudah punya ide yang saya pikir mungkin dapat menghentikan kebiasaan buruknya itu."

Ayah Nina langsung menandatangani buku raport tersebut, tidak lupa dia menyelipkan sebuah catatan kecil, "Tolong segera beritahukan kepada saya apabila ide Anda tersebut berhasil mengubah kebiasaan buruk Nina, karena saya akan mencobanya juga untuk ibunya Nina."

Kok Berat Sih?

Jam 7 malam. Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku. Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor. Dengan enggan kuangkat tas berat itu ke pundakku. Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku memang harus membawa tas ini.

Di perjalanan pulang, aku mengendarai sepeda motorku masih dengan konsentrasi pada tas yang membebani pundakku. Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Huh, aku memaki dalam hati. Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya nanti.

Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati. Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa beristirahat. Suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku. Kulirik spion dan kulihat seorang anak muda dengan mobil mewahnya membunyikan klakson dengan nada tak sabar.

Huh, kenapa sih dengan orang-orang ini? Emangnya dia nggak lihat kalau jalanan emang lagi macet? Emangnya dikira enak membawa tas seberat ini?

Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak dapat kutemui. Suasana hiruk pikuk keluargaku terasa seperti dentuman-dentuman keras di kepalaku. Lagi-lagi aku memaki dalam hati. Aku capek. Aku ingin istirahat. Berat sekali yang harus aku angkat. Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti?

Malam hari. Akhirnya aku memperoleh ketenangan. Aku bisa tidur dan beristirahat. Tapi tas besar dan berat ini terasa mengganggu sekali. Aku tak bisa tidur. Tapi aku tak bisa melepaskannya. Aku kesal.
"Bapa, kenapa sih berat sekali? Sungguh-sungguh sangat mengganggu"

Aku mengeluh sambil meneteskan air mata.

"Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu anakKu?"

"Tapi aku tak bisa Bapa"

"Kenapa?"

"Lihatlah, semua tas ini berlabelkan tanggung jawab. Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa meletakkannya.
Tas hitam yang paling besar ini, lihat tulisan di depannya, PEKERJAAN. Semua tanggung jawab pekerjaanku ada di dalamnya. Lalu yang coklat ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa meletakkannya. Semuanya adalah bebanku. Dan yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"

Aku berusaha menjelaskan.

Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu mendekatiku, "Kemarilah, Aku ingin melihatnya". Ia melihat tas hitam besar yang kuletakkan di pundakku.

"AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini. Ini memang tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus menanggungnya. Namun saat engkau melangkah keluar dari kantor, engkau dapat meletakkan tas ini di samping meja kerjamu. Tenanglah, tidak akan ada yang mengambilnya. Lagi pula semua isinya adalah tanggung jawabmu bukan? Percayalah, tak akan ada yang tertarik untuk mengambil tas ini, sehingga keesokan hari, saat engkau kembali ke kantor, pasti tas ini akan tetap ada di sana , dimana engkau meletakkannya. Dan engkau dapat mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung jawabmu".

Ia tersenyum menunggu jawabanku.

"Benar Bapa, tapi aku tak dapat meletakkannya. Ia melekat terus di pundakku".

Ia menatapku dengan penuh kasih, lalu perlahan mengambil tas itu dari pundakku.

"Kemarilah anakKu. Di saat engkau tak dapat meletakkannya, Aku dapat membantumu untuk meletakkannya. Dan esok, Aku pun dapat membantumu untuk mengenakannya kembali."

Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku. Rasanya pundakku lega sekali. Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil. Aku menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum.

"Engkau benar Bapa, rasanya enak sekali. Ringan. Besok aku akan lebih siap untuk melanjutkan pekerjaanku. Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".

Aku menatap wajah Bapaku yang penuh kasih. Sungguh indah senyum dan sinar mataNya. Ia menatap tas coklat di pundakku.

"Lalu itu? engkau tidak ingin meletakkannya juga?"

"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung jawab KELUARGA. Kemanapun aku pergi aku harus membawanya."

"AnakKu, Aku sungguh bahagia karena engkau memperhatikan setiap tanggung jawab yang kuberikan padamu mengenai keluargamu. Tapi engkau pun tak boleh lupa, bahwa keluargamupun adalah milikKu. Dan aku memelihara setiap kepunyaanKu. Engkau memang harus membawa tas itu bersamamu, tapi sesekali letakkanlah, agar engkau dapat bermain dengan bebas dengan keponakanmu, bercanda dengan kakakmu, atau sekedar berbincang dan bercerita dengan orang tuamu. Rasanya belakangan ini Aku jarang melihatmu melakukannya".

Aku tertunduk malu. Ia benar. Aku membawa tas ini kemana-mana, dan kulaksanakan setiap tanggung jawab untuk keluargaku, tapi sepertinya ternyata tas ini menjadi jauh lebih berharga dari pada kehadiran keluargaku sendiri.

Sekali lagi Bapa mengambil tas dari pundakku.

"Mari anakKu, letakkanlah. Di saat engkau perlu, letakkanlah. Karena engkau dapat yakin, walaupun engkau meletakkannya dan meluangkan waktu dengan keluargamu, Akulah yang akan tetap menjagamu dan keluargamu".

Dan pundakku menjadi jauh lebih lega. Kini hanya tinggal satu tas biru yang masih memberati pundakku.

"Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh tak dapat kuletakkan. Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya. Karena setiap detik kehidupanku adalah pelayananku untukMu. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"

"Hmm... benar juga".

Aku terkejut mendengar jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapanku. Ia telah membantuku meletakkan kedua tasku sebelumnya, dan sepertinya aku sungguh-sungguh berharap agar tas ini juga dapat kulepaskan.

"Mari coba kulihat tas itu"

Ia melihat dan meraba tas biru yang masih melekat di pundakku.

"Anakku, sepertinya ada yang salah dengan tasmu ini. Kemarilah, coba lepaskan".

Ia mengambil tas biruku.

"Anakku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu melayaniKu dalam setiap detik kehidupanmu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh menyenangkan hatiKu. Tapi sepertinya tasmu ini bahannya terlalu berat, sehingga menekan pundakmu terlalu berat."

Kemudian Ia memberikan aku satu tas biru yang lain.

"Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan tas dengan bahan KASIH. Jika engkau meletakkan semua pelayananmu di dalamnya, niscaya engkau tidak akan terbebani dengan tasmu ini".

Aku menerima tas baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi tas lamaku ke dalam tas berbahan KASIH itu. Aku mencoba mengangkatnya. Ternyata Bapaku benar.
Tas itu kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundakku.

Aku memandangNya penuh kasih.

"Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihiMu. Terima kasih untuk pelajaranMu hari ini".

Pagi ini aku memulai hari dengan senyuman. Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari ini. Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang menyebalkan, namun tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku berdoa untuk mereka. Mungkin mereka juga masih selalu membawa tas mereka kemana-mana atau mereka juga mengenakan tas dengan bahan yang salah. Banyak sekali. Aku melihat ada yang membawa dua tas besar, tiga bahkan empat. Tulisannya pun bermacam-macam, ada PEKERJAAN, KELUARGA, PELAYANAN, KULIAH, SEKOLAH, BISNIS, dan masih banyak lagi. Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita pikul dan harus kita selesaikan. Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan di saat mana kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus meletakkan.

Dan aku terus belajar ...

Seseorang yang bijaksana pernah bertanya padaku:
"Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan satu tangan selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas tersebut selama 10 menit lalu meletakkannya sejenak dan mengangkatnya kembali selama 10 menit dan demikian seterusnya sampai 1 jam?"

"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Matius 11:28

"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari". Matius 6:34

October 4, 2005
Angela Christy

Buat semua sahabat dan kakak, adikku yang tengah memikul tasnya masing-masing.

*) Terinspirasi dari buku Serahkanlah Segalanya Kepada Dia karya Max Lucado

New Garments

Today's Scripture

“Provide for those who grieve…a garment of praise instead of a spirit of despair. They will be called oaks of righteousness, a planting of the Lord for the display of his splendor” (Isaiah 61:3 NIV).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you need a new garment today? I’m not talking about a physical garment. I’m talking about what’s covering your mind and emotions. Are you clothed with despair and disappointment? Are you wearing “heaviness”? If you’ve gone through a hurtful situation, the Bible says there is a time to grieve, and it’s important to release that hurt to the Lord. But the Bible also tells us that God wants to give you a garment of praise instead of a spirit of despair. You can put on a garment of praise instead of a heavy, burdened spirit. What’s holding you back today? Are the garments of yesterday weighing you down and holding you back? The garment of praise is light and filled with peace and joy. Don’t carry those heavy burdens around anymore! Today is the day for new garments! Forgive those who have hurt you and begin to praise Him! Thank God for life today. Thank Him for the beautiful sunrise. Thank him for restoring you, even if you don’t see it yet. And this verse says, you will be called an oak of righteousness, strong and secure, and you will display the splendor of the Lord all the days of your life!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I come to You today and ask that You take off my old, heavy garments of despair and heaviness. Make me new today. Give me a garment of praise so that I can be a display of Your glory and splendor. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

05 April 2008

Don't Give Up

One day I decided to quit. I quit my job, my relationship, my spirituality. I wanted to quit my life. I went to the woods to have one last talk with God, "God, I asked, 'Can you give me one good reason not to quit?". His answer surprised me.

"Look around", He said. "Do you see the fern and the bamboo?"

"Yes", I replied.

"When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them. I gave them light. I gave them water. The fern quickly grew from the earth. Its brilliant green covered the floor. Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful. And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. He said.

"In year three there was still nothing from the bamboo seed. But I would not quit. In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would not quit", He said.

"Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant. But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall. It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive. I would not give any of my creations a challenge it could not handle."

He asked me, "Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots".

"I would not quit on the bamboo. I will never quit on you."

"Don't compare yourself to others", He said.

"The bamboo had a different Purpose than the fern. Yet they both make the forest beautiful".

"Your time will come", God said to me.

"You will rise high"

"How high should I rise?", I asked.

"How high will the bamboo rise?", He asked in return.

"As high as it can?", I questioned.

"Yes", He said, "Give me glory by rising as high as you can".

I left the forest and brought back this story. I hope these words can help you see that God will never give up on you. Never, Never, Never Give up.


Reflection :
For the Christian Prayer is not an option but an opportunity. Don't tell the Lord how big the problem is, tell the problem how Great the Lord is!

Heavens door open this morning, God asked me, "My CHILD, what can I do for you?"

And I said, "FATHER, please protect and bless the one reading this message". God smiled and answered, "Request granted".

This message is now in your hands.
What will YOU do with it?

Humor: Rumah Baru

Ketika keluarga Hadi pindah ke rumah baru, seorang kerabat yang berkunjung bertanya pada Semi yang berusia lima tahun, "Apa kamu suka rumah barunya."

"Bagus sekali rumah ini!" katanya.

"Aku punya kamar sendiri, Miki punya kamar sendiri, dan Jimi punya kamar sendiri. Tapi kasihan Ibu, ia masih sekamar dengan Ayah!"

Blessings on the Other Side

Today's Scripture

“When they walk through the Valley of Weeping, it will become a place of refreshing springs. The autumn rains will clothe it with blessings” (Psalm 84:6).

Today's Word from Joel and Victoria

Do you feel like you are walking through a tough place in your life today? When you walk through the “valley of weeping”, God is walking with you. He wants to strengthen and empower you to keep moving forward. He is leading you to a place of blessing and refreshing! Be encouraged today, it’s not over until God says it’s over, and He always causes us to triumph! The Bible says that weeping may endure for the night, but joy comes in the morning! It also says that the path of the righteous is like the light of dawn shining brighter until the full day. No matter how dark your circumstance may seem, you are on a path that is shining brighter and brighter. Know today that there is a place of victory on the other side of your challenge. Keep believing and keep expecting. As you continue to meditate on the goodness of God and declare His favor in your life, you will be strengthened and refreshed in your inner man. You will rise higher and higher, and you will live the life of victory the Lord has in store for you!

A Prayer for Today

Father in heaven, thank You for leading me to my place of blessing. I trust that You are faithful and believe that You have a good plan for my life. Help me to always hear Your voice so I can follow You all the days of my life. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Kemurahan Hati Yang Sejati

Waktu sebuah angin topan menimpa sebuah kota kecil dekat-dekat sini, banyak keluarga mengalami musibah. Sesudah itu, semua surat kabar lokal memuat banyak berita kemanusiaan yang menarik dengan liputan keluarga-keluarga yang paling menderita.

Di edisi Minggu, sebuah gambar khusus begitu menyentuh hatiku. Ada seorang ibu muda berdiri di depan sebuah rumah-mobil yang hancur, raut wajahnya mencerminkan kesedihan yang begitu memelas. Seorang bocah laki-laki, sekitar 7 atau 8 tahun, berdiri di sampingnya, matanya memandang ke bawah. Seorang gadis kecil sedang memegang erat-erat gaun ibunya, matanya memandang ke lensa kamera, lebar terbelalak penuh kebingungan dan rasa takut. Berita yang menyertai gambar itu memberikan nomor-nomor ukuran pakaian tiap anggota keluarga itu. Perhatianku makin bertambah, aku mengamati ukuran-ukurannya hampir menyamai punya kami. Ini sebuah kesempatan bagus untuk mendidik anak-anakku membantu mereka-mereka yang kurang beruntung dari anak-anakku. Gambar keluarga muda itu aku tempelkan pada lemari es, kuterangkan bencana mereka itu pada putra-putra kembarku, Brad dan Brett, yang berumur 7 tahun, dan pada putriku Meghan yang baru berumur 3 tahun. Aku berkata, "Kita ini punya begini banyak, mereka itu sekarang hampir-hampir tak memiliki apapun. Ayo, mari kita membagikan milik kita dengan mereka." Aku bawa turun 3 kotak besar dari gudang bawah-atap yang lalu kutaruh di ruang keluarga. Meghan diam-diam mengamati kedua kakaknya dan aku yang sedang mengisi salah satu kotak itu dengan makanan kaleng dan lain-lainnya yang tahan lama, juga sabun dan kebutuhan kebersihan lainnya. Waktu aku memilah pakaian-pakaian, aku menyemangati putra-putraku untuk melihat-lihat mainan mereka dan menyumbangkan apa yang kiranya sudah kurang digemari. Si Meghan terus memandang, diam saja, saat mereka itu mulai menumpuk mainan maupun 'game' yang mau dibuang. "Nanti habis ini akan ibu bantu carikan sesuatu untuk gadis kecil itu," kataku.

Bocah-bocah laki-laki itu mengisikan mainan-mainan yang mereka pilih untuk disumbangkan ke dalam salah satu kotak sedangkan aku mengisi kotak ketiga dengan pakaian-pakaian. Meghan datang berjalan sambil mendekap erat-erat di dadanya, Lucy, boneka kainnya yang selain sudah luntur, kucel bocel dan lusuh kumal namun begitu ia sayangi. Ia berhenti sejenak di depan kotak yang memuat mainan-mainan itu, menempelkan wajahnya yang bulat kecil mungil pada muka lukisan Lucy yang datar ceper, memberinya sebuah ciuman selamat tinggal, lalu menaruhnya dengan lembut di atas lain-lainnya. "Lho, Sayang," aku berkata, "Lucy tidak perlu kau berikan. Itu kan kesayanganmu?" Meghan mengangguk dengan hikmat, matanya agak berkilau membasah dengan air mata yang tertahan. "Lucy membuatku begitu bahagia, Bu. Mungkin nanti dia juga akan membuat gadis kecil itu bahagia sekali." Aku, yang semula maunya mengajar, malah mendapat pelajaran. Anak-anak laki-laki itu telah melihat dan melongo, mulut terbuka, saat adik perempuannya meletakkan boneka kesayangannya ke dalam kotak. Tanpa sepatah kata, Brad berdiri dan menghilang ke kamarnya. Ia muncul kembali dan membawa salah satu mainan tokoh aksi-aksian yang paling ia kagumi. Terlihat ia agak ragu-ragu, maju-mundur sambil menggenggam mainan itu, lalu ia melirik Meghan dan kemudian diletakkannya di kotak, di samping Lucy. Sebuah senyum pelan-pelan melebar di muka Brett, lalu ia lompat berdiri, matanya bersinar-sinar saat ia lari pergi mengambil beberapa buah mobil-mobilan dari kumpulan Matchbox yang ia begitu sayangi. Begitu terkagum, aku menyadari bahwa merekapun juga menangkap isi makna sikap dan tindakan Meghan. Dengan menahan air mata, aku merangkul ketiga anak-anakku dalam pelukanku. Dengan rasa menelan yang berat, aku memandangi Meghan agak lama, termenung sebentar memikirkan bagaimana caranya aku bisa mengajar putra-putraku pelajaran yang Meghan baru ajarkan kepadaku, karena tiba-tiba saja aku sadar bahwa setiap orang bisa memberikan apa saja yang memang mau dibuang.

Kemurahan hati yang sejati ialah bila memberikan apa yang justru paling kau sayang dan hargai. Kebajikan murni sejati dan jujur ialah di saat gadis umur tiga tahun mengorbankan boneka tersayangnya, meskipun sudah kumal, kepada seorang gadis kecil lainnya yang tak ia kenal, dengan harapan bahwa itu akan membawa kadar kebahagiaan yang sama seperti yang ia terima. Dengan mengambil contoh dari si kecilku, aku mengambil kembali jaket coklatku berjumbai-jumbai yang lama dari kotak pakaian. Aku ganti itu dengan jaket baru berwarna hijau-pemburu yang baru kutemukan minggu lalu waktu ada obral. Aku harap wanita muda di gambar itu akan menyukainya sama seperti aku.

("True Generosity" by Elizabeth Cobb)