Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 February 2008

The Fire

An article in National Geographic several years ago provided a penetrating picture of God's wings.

After a forest fire in Yellowstone National Park, forest rangers began their trek up a mountain to assess the inferno's damage. One ranger found a bird literally petrified in ashes, perched statuesquely on the ground at the base of a tree. Somewhat sickened by the eerie sight, he knocked over the bird with a stick. When he struck it, three tiny chicks scurried from under their dead mother's wings.

The loving mother, keenly aware of impending disaster, had carried her offspring to the base of the tree and had gathered them under her wings, instinctively knowing that the toxic smoke would rise.

She could have flown to safety but had refused to abandon her babies. When the blaze had arrived and the heat had singed her small body, the mother remained steadfast. She had been willing to die so those under the cover of her wings would live.

He will cover you with his feathers, and under his wings you will find refuge; his faithfulness will be your shield and rampart.
Psalm 91:4 (NIV)

Humor: Guru Baru

Ini adalah hari pertama sekolah setelah tahun baru. Semua murid ada di tempat duduk masing-masing, menunggu guru baru mulai mengajar.

Guru baru itu berdiri dan berkata, "Siapa pun di sini yang berpikir dirinya bodoh, tolong berdiri."

Semua murid saling lihat, dan akhirnya seorang anak berdiri.

"Menurutmu, kamu bodoh?" tanya guru baru itu.

"Tidak," kata anak itu, "saya cuma kasihan melihat Pak Guru berdiri sendirian."

Sesuatu Untuk Dipikirkan

Sebuah kapal telah karam ketika mengalami badai yang dahsyat di tengah laut. Hanya dua orang yang berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke sebuah pulau yang gersang dan tanpa kehidupan. Kedua orang itu tidak tahu apa yang mereka harus lakukan kecuali berdoa kepada Tuhan. Namun, untuk mengetahui doa siapa yang lebih kuat, mereka setuju untuk membagi pulau itu ke dalam dua wilayah untuk dihuni masing-masing.

Pertama-tama, mereka berdoa untuk makanan. Esok harinya, orang yang pertama melihat sebuah pohon penuh dengan buah-buah di sisi wilayahnya sedangkan wilayah orang kedua tetap gersang tanpa kehidupan.

Setelah seminggu orang pertama merasa kesepian dan memutuskan untuk berdoa agar diberi seorang isteri. Esok harinya seorang wanita sedang berenang menuju ke sisi pulau itu di mana ia tempati. Sedangkan di sisi orang kedua, tidak terjadi sesuatu apa.

Tak lama kemudian orang pertama berdoa untuk sebuah rumah, pakaian dan makanan. Esok harinya, dengan mengherankan semua itu telah tersedia untuk orang pertama, sedangkan orang kedua masih tak memiliki apapun.

Akhirnya, orang pertama berdoa untuk sebuah kapal, supaya dia dan isterinya dapat meninggalkan pulau itu. Pada esok harinya, ia mendapatkan sebuah kapal berlabuh di sisi wilayahnya. Orang pertama kemudian bersama isterinya menaiki kapal itu untuk meninggalkan orang kedua di pulau itu. Ia menilai orang kedua itu tidak layak untuk menerima berkat Tuhan, karena tak ada satu dari doa-doanya dijawab oleh Tuhan.

Ketika kapal itu hendak berlayar, orang pertama itu mendengar sebuah suara yang kencang dari sorga : “Mengapa kamu meninggalkan kawanmu di pulau?”

“Berkat-berkatku adalah milikku sendiri, karena akulah yang memintanya melalui doa-doaku,” demikianlah orang pertama itu menjawab. Sedangkan doa-doa kawanku itu semuanya tak terjawab sehingga ia tak layak untuk menerima apapun.

“Kamu salah!” suara itu berkumandang. “Ia hanya menyampaikan satu doa saja yang Ku telah menjawab. Bila tidak, niscaya kamu tidak akan menerima apapun dari berkatKu.”

“Katakanlah,” kata orang pertama itu, : “Apa yang ia telah doakan, sehingga aku dianggap berhutang sesuatu kepadanya?”

“Ia berdoa, agar doa-doamu semuanya Kujawab.”

Kiranya kita sadar bahwa berkat-berkat kita bukan hanya merupakan hasil dari doa-doa kita sendiri, melainkan juga hasil dari doa-doa yang dipanjatkan oleh orang lain untuk kita.

Kiranya pada hari ini, doa-doaku untukmu akan dijawab semuanya. Tuhan memberkatimu!

“Apa yang engkau lakukan untuk orang lain, itu lebih penting daripada apa yang engkau lakukan untuk dirimu sendiri!”


Sumber : Reflecta Edisi November 2006

He Answer

Cara Tuhan melihat berbeda dengan apa yang kita lihat


Separate Yourself

Today's Scripture

“So whoever cleanses himself [from what is ignoble and unclean, who separates himself…be a vessel set apart and useful for honorable and noble purposes…” (II Timothy 2:21).

Today's Word from Joel and Victoria

Are there people or activities in your life that you know you need to separate yourself from? The Bible says that bad company will corrupt good morals. God wants you to constantly be growing and rising higher in life. That’s why this verse encourages us to separate ourselves from corrupting influences. And those influences are more than just the people in your everyday life. The influences are anything that influence your thinking. Be careful about what you are allowing into your mind. Be careful about what you read and what you watch. Don’t give your attention to things that are going to drag you down. Choose to separate yourself today. Remember. God wants you to live an abundant life. He wants you be separate so that He can work through you and fulfill his purposes in you life. As you cleanse yourself God will work in and through you so that you can live as an over comer the way God intends!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank you for your Word which is the Truth that sets me free. Give me strength to separate myself from anything that does not honor You. In Jesus Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

25 February 2008

Patahkan Kakinya

Ada seorang hamba Tuhan di Australia yang selain melayani sebagai Gembala Sidang, dia juga adalah seorang gembala domba dan dia memiliki banyak domba peliharaan.

Dalam keseharian dia menggembalakan domba, memberi mereka makan, membawa mereka ke padang rumput, dia menemukan seekor domba yang nakal dan memiliki karakter yang sangat berbeda dengan domba-domba yang lain.

Domba nakal ini selalu memisahkan diri dari teman-temannya. Ketika domba-domba yang lain makan rumput secara berkelompok, dia akan keluar dari kelompoknya dan pergi ke tempat yang dia suka, atau ketika gembalanya sedang menggiring domba-dombanya ke padang rumput, si domba nakal akan lari sendirian ke arah yang berlawanan, jauh dari kelompoknya. Reaksi si gembala adalah selalu mengejar domba nakal ini dan menempatkannya kembali ke kelompoknya.

Dan hal ini selalu dia lakukan berulang kali, jadi, bila si domba nakal memisahkan diri, si gembala akan mengejar dan menggendongnya untuk mengembalikan dia ke kelompoknya.

Gembala ini sabar menghadapi hal ini karena dia juga seorang gembala yang Tuhan percayakan jemaat kepadanya (mungkin juga ada jemaat yang nakal kaya' begini..), tapi setelah berkali-kali hal ini terjadi, si gembala pusing juga ternyata dan dia mulai menyampaikan hal ini kepada Tuhan dalam doanya

"Tuhan,...Engkau adalah seorang Gembala yang baik,..dalam Mazmur, Daud pun mengilustrasikan Engkau sebagai Gembala yang membawa domba-domba-Mu ke padang rumput yang hijau. Daud, pada masa mudanyapun adalah seorang gembala domba dan apa yang dia ungkapkan tentang Engkau, sebagai seorang Gembala, aku percaya bahwa Daud pun menemukan hal-hal ini ketika dia sedang menggembalakan dombanya.

Tuhan,...Engkau Allah yang mengetahui segala sesuatu,... jadi kalo Engkau ada pada posisiku,....apa yang akan Engkau lakukan dalam menghadapi domba yang nakal ini?"

"Patahkan kakinya..." Kata Tuhan.

Haa....Tuhan,...patahkan kakinya..? (sambil mikir, ko' Tuhan tega amat) Tanya balik ke Tuhan. Tapi, kembali jawaban Tuhan, "..patahkan kakinya.."

Menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dia ngikut apa yang Tuhan suruh dia buat. Maka, esok harinya, ketika sedang menggembalakan domba, si domba nakal melakukan kebiasaannya dan si gembala mengangkatnya, sambil berkata dalam hati, "Tuhan,... aku nggak tega, tapi karena Engkau yang suruh aku untuk patahkan kakinya, maka aku akan patahkan kakinya..."

Si domba nakal merintih kesakitan dan si gembala nggak tahan mendengarnya, hatinya sakit sekali mendengar rintihan itu, namun dia sangat mengasihi domba itu dan dia patuh dengan apa yang Tuhan suruh dia lakukan.

Setelah dia mematahkan kaki si domba nakal, kaki tersebut dia balut. Setiap hari dia menggendong domba nakal itu karena dia nggak bisa jalan. Si domba itupun dirawat olehnya, domba itu makan rumput di samping gembalanya karena bila dia makan rumput dengan teman-temannya - dia akan terinjak, bila sedang berjalan-jalan di padang rumput, si gembala akan menggendongnya.

Inilah yang terjadi, setiap kali domba nakal ini haus, dia akan menjilat keringat si gembala yang menggendongnya, kepalanya selalu bersandar pada dada si gembala dan menggosokkan kepalanya di bahu gembala bila sedang berjalan-jalan di padang rumput.

Selama kakinya patah, domba nakal ini sangat bersikap manis dan hampir setiap saat, dia menjilat keringat gembalanya dia tidak berdaya, sangat bergantung pada gembalanya.

Akhirnya, kakinya pun sembuh. Si gembala membuka balut pada kakinya dan melepaskannya untuk bermain-main dengan teman-temannya yang lain.

Namun, hal inilah yang terjadi, dia tidak berlari ke kelompoknya, tapi terus merapatkan dirinya di antara kaki gembalanya, sehingga si gembala mengangkatnya (dan si domba nakal masih terus menerus menjilat keringat si gembala!) dan harus meletakkan dia di kelompoknya, tapi si domba nakal selalu berlari mengikuti dan merapatkan dirinya kembali ke gembalanya!

Si gembala berulang kali melakukan hal ini,tapi, berulang kali pula si domba nakal kembali kepadanya...

Si gembala bingung dengan perilaku domba nakal ini, dan dalam kebingungannya Tuhan berkata kepadanya, "Itulah yang tidak dimengerti oleh umat-Ku, ketika Aku membiarkan mereka berbeban berat atau terluka atau Aku ijinkan sesuatu menimpa mereka, itu adalah untuk membawa mereka mendekat kepada-Ku. Aku melakukan itu untuk membuat mereka mengerti betapa berharganya mereka di hati-Ku, betapa Aku ingin mereka hidup bergantung hanya pada-Ku, dekat dan intim dengan-Ku. Tapi, seringkali, mereka semakin menjauh ketika hal-hal itu terjadi...."

Gembala itu akhirnya mengerti, mengapa Tuhan menyuruh dia mematahkan kaki domba nakal itu, yaitu untuk menyatakan isi hati-Nya, betapa manusia berharga di hati-Nya dan mengajar dia tentang kerinduan Allah untuk hidup intim dengan umat-Nya, namun, banyak orang yang nggak menyadari hal itu dan Allah mau dia menyatakan itu kepada jemaat-Nya.

Teman,...terkadang kita nggak sadar bahwa hal-hal kecil yang kita hadapi setiap hari, adalah proses pembentukan karakter.

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman Tuhan, dan Aku akan memulihkan keadaanmu..." (Yeremia 29:11-14b)

Diterjemahkan oleh: Karunia Grace

Sebarkan lah cerita ini agar banyak umatNya tahu bahwa Tuhan memberikan suatu rencana yang indah untuk membentuk mu menjadi manusia yang berarti di mata Tuhan ....

With God

Today's Scripture

“Jesus looked at them and said, "With man this is impossible, but not with God; all things are possible with God" (Mark 10:27).

Today's Word from Joel and Victoria

With God all things are possible! Now that’s a very broad statement. But, it doesn’t mean you can just do anything you want. You have to get with God first. In order to get with God, or align yourself with Him, you have to obey His Word. You have to submit yourself to Him and His plan for your life. You must turn your back on your old life and your old way of doing things. When you are in agreement with God and His Word, then all things will be possible. When you make your thoughts agreeable to His Word, than your plans will be established and you will succeed! Make whatever changes are necessary in your life today so that you can align yourself with God. Don’t hang around people that will try to drag you down. Guard what you watch on TV and what you listen to. Be determined everyday to spend time in prayer and studying the Word. The Bible promises that as you draw near to God, He will draw near to you. As you are in agreement with God, all things will be possible for you, and you will live the life of victory He has planned for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I want everything You have in store for me. Today I choose to align myself with You. Show me if there is anything in my life that is displeasing to You so that I can walk with You all of my days. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Pemulihan Hati Bapa

Saat ini gelombang pemulihan hati Bapa sedang melanda gereja-gereja di GBI. Dalam suatu Retreat Pemulihan, banyak kesaksian menunjukkan betapa banyak orang yang mengalami gambar dirinya rusak, tidak mengenal figur bapak yang benar, mengalami luka-luka batin yang akibatnya mendatangkan keterikatan akan kuasa kegelapan. Yang mengerikan, adalah masalah dalam gambar diri yang rusak, tidak mengenal hati Bapa, luka batin dan keterikatan pada kuasa kegelapan itu menghasilkan “trans-generational curses” (kutukan dari generasi ke generasi).

Seorang wanita yang dibesarkan dalam keluarga yang cerai-berai, artinya ayahnya kawin lagi, lalu bercerai, lalu kawin lagi dan ibunya juga kawin lagi, bercerai lagi, mengaku benci sekali dengan ayahnya. Ia bertekad akan menikah dengan pria yang tidak seperti ayahnya. Namun apa yang terjadi, suaminya ternyata selingkuh. Ada trans-generational curse, kutukan antar generasi. Apa yang ia khawatirkan, ternyata menjadi kenyataan. Untunglah wanita ini mengikuti Retreat Pemulihan. Ia tidak malu bersaksi, karena dengan bersaksi ia mempermalukan iblis dan menyatakan bahwa ia tidak lagi di bawah kuasa dan kutuk iblis. Wahyu 12:11-12 menyatakan : "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” Kuasa iblis dikalahkan oleh darah Tuhan Yesus dan oleh perkataan kesaksian kita.

Pada sesi Luka-Luka Batin, seorang gembala dengan penuh kerendahan-hati mengakui bahwa dirinya adalah seorang anak yang tidak mengenal kasih Bapa, karena sejak kecil beliau ditinggalkan ayahnya. Beliau dulu sering mempertanyakan, mengapa ayahnya yang seorang pendeta dipanggil pulang Tuhan begitu cepat. Ada kepahitan dan luka-luka batin karena beliau tidak terima. Karena beliau kurang mendapatkan kasih Bapa, maka setelah menikah beliau sibuk dalam pekerjaan, mengejar karier. Dan memang dalam kariernya berhasil, namun keluarganya tidak mendapatkan kasih yang memadai. Sebagai orang yang kurang kasih Bapa, beliau tidak dapat mengekspresikan kasih kepada isteri dan anak-anaknya.

Isteri gembala ini juga dengan kerendahan hati bersaksi, betapa sejak kecil ia merasa diperlakukan tidak adil. Ia dibesarkan dalam keluarga yang otoriter. Mereka berusaha di bidang katering. Diantara saudara-saudaranya, ia ditugaskan di bagian yang paling berat: mengumpulkan piring dan gelas yang baru dipakai dalam suatu resepsi pernikahan dan mencucinya dengan cepat karena akan dipakai dalam resepsi berikutnya. Ia ingat, pada waktu itu resepsi pernikahan di tahun 80-an, para undangan duduk di kursi, ia harus mengambil piring dan gelas dari kolong kursi. Kakak-kakak perempuannya bertugas di bagian yang lebih ringan: mengatur makanan atau mengisi kembali makanan yang kurang. Apalagi jika mengingat kakaknya yang kuliah di Bandung, ia merasa iri. Setiap ke Bandung menjenguk kakaknya, orang tuanya selalu membawa oleh-oleh kesukaan kakaknya (cokelat Silver Queen dan lain-lain), namun ia yang tinggal bersama orang tuanya tidak mendapatkan hal-hal itu.

Ketika ia dewasa, ia bertekad mendapatkan suami yang kebapakan. Namun ternyata suaminya, sang gembala, sangat sibuk di kantor. Apa yang ia harapkan ternyata tidak terkabul. Perlu diketahui, suaminya adalah seorang profesional yang bekerja di group perusahaan besar, namun merangkap menjadi gembala di suatu gereja.

Dalam membesarkan anak-anak, ia sangat keras mendidik mereka. Ia ingin berhasil sebagai ibu. Ia memaksa anak-anaknya belajar dengan keras. Ia sering mengata-ngatai anaknya: “Bodoh”, “Lamban” ketika anaknya cuma mendapat angka delapan. Padahal IQ anaknya 137, tergolong pandai. Hal ini membuat kepahitan pada anaknya.

Untunglah suami isteri ini, gembala dan isterinya tersebut di atas, sekarang telah mengalami kasih Bapa. Ia tidak malu menyaksikan kisah mereka, karena mereka bertekad mempermalukan iblis dengan kesaksian ini. Dan yang penting, trans-generational curse tidak akan melanda anak-cucunya. Mereka sudah dipulihkan gambar diri mereka, mereka menerima kasih Bapa, mereka sudah menerima kesembuhan luka batin.

Ada lagi peserta retreat yang bersaksi bahwa pada saat itu Tuhan tunjukkan hatinya. Luka batin yang tidak diselesaikan sesuai firman Tuhan akan membuat luka itu dipenuhi dengan “belatung”. Luka itu tambah lebar. Selama ini luka itu “ditambal” dengan upaya manusia, dengan kompensasi. Kompensasi atau tambalan itu bisa berupa : rendah diri, sombong (merasa hebat untuk menutupi luka hati), menarik diri, curiga kepada orang lain, takut disakiti orang lagi, benci kepada laki-laki (sehingga sampai saat ini kesulitan mendapatkan pasangan hidup). Luka yang dibiarkan menganga atau ditambal, akan mengundang kuasa kegelapan untuk masuk. Bentuk keterikatan itu tidak selalu berupa kerasukan. Ada orang-orang yang dikuasai amarah yang membabi buta, ada yang dikuasai perasaan iri hati yang ekstrim, ada yang dikuasai roh percabulan, ada yang dikuasai dengan roh cinta uang, dan lain-lain. Itu adalah bentuk keterikatan pada roh jahat, disamping bentuk kerasukan dan manifestasi lainnya.

Pada retreat itu juga banyak remaja yang dipulihkan. Mereka yang diperlakukan tidak adil oleh orang tua, dicuekkin, dikasari, menghadapi percekcokan antara papa dan mama, dipaksa berprestasi di sekolah. Akibatnya ada anak yang sampai mau bunuh diri. Namun mereka akhirnya dilawat kasih Bapa dan disembuhkan luka-luka hati mereka sehingga mereka mau mengampuni dan memohon ampun kepada ayah ibu mereka.

Dalam sesi Pemulihan Hati Bapa, Pdt. Rubin Ong menceritakan bahwa iblis merusak figur bapa-bapa di bumi ini, sehingga mereka otoriter dan sadis, sehingga mereka cuek dan tidak berkomunikasi dengan anak-isterinya, sehingga mereka membeda-bedakan di antara anak-anak. Seorang hamba Tuhan dari Papua, Nathanael, begitu menderita semasa kecilnya. Kalau ia salah, ayahnya yang bertubuh besar akan menendang, memukulinya dan mencambuk dengan kopel rim (ikat pinggang militer), sampai anak itu merangkak kesakitan. Kalau anak ini disiksa, ia akan menderita kesakitan selama tiga bulan. Ia begitu benci kepada ayahnya sehingga ia bertekad membunuh ayahnya. Namun ketika ia mendapatkan pemulihan hati Bapa, ia mengampuni ayahnya.

Suatu kali Bryan Duncan berlibur bersama-sama isteri dan anak-anaknya. Ketika ia menulis lagu-lagu kristiani ia tiba-tiba menangis. Isterinya yang melihat hal itu diam saja, namun setelah suaminya reda, isterinya bertanya : “Ada apa?” Bryan Duncan yang teman dekat Michael W. Smith, penyanyi lagu rohani, mendapatkan pesan Tuhan yang sangat menyentuh. Ia melihat anak-anak mereka berlari kian kemari, bermain-main dengan penuh keriangan, hidup mereka penuh keceriaan. Mengapa? “Karena anak-anak itu tahu bahwa mereka dilindungi, dipelihara, didukung oleh ayah mereka. Ketika mereka merasa aman, merasa di-support, didukung, hidup mereka indah dan penuh sukacita.” Begitulah kasih Bapa melingkupi, melindungi, mendukung, menjadi sumber kehidupan. Itulah yang membuat kita sebagai anak-anak-Nya dapat hidup dengan penuh sukacita. Ilham itu dituliskan Bryan Duncan dalam lagu yang berjudul “Child Love”. Kasih yang dialami oleh anak-anak karena mereka aman dalam pelukan Bapa.

Orang-orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang-orang yang terhubung dengan “Sumber” (sumber kehidupan, sumber sukacita, sumber damai sejahtera, sumber kasih, sumber berkat, sumber kesembuhan, sumber keselamatan dll). Oleh karena itu orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang yang merasa aman, secured, gambar dirinya tidak bergantung pada apa kata orang. Ia tidak takut gambar dirinya rusak karena dikritik orang lain atau difitnah orang. Ia merasa aman dan secured karena ia memiliki Bapa, ia hidup intim dengan Bapa, ia mengenal Bapa.

Filipus yang mewakili seluruh dunia ini pernah berseru kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Seluruh dunia membutuhkan Bapa. Seluruh dunia selalu merasa kurang, tidak cukup, ketika mereka belum mengenal Bapa. Seluruh dunia butuh di-bapa-i. Selama orang tidak mengenal Bapa, hidup mereka tidak akan cukup.

23 February 2008

Sayangi Orang Tuamu

Anakku yang kusayangi,

Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku.

Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan, jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri, sabarlah! Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.

Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku! Dengarlah aku! Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hinga kau tertidur. Dan aku lakukan itu untukmu !

Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan. Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu.

Jika aku tidak tahu tentang perkembangan teknologi, jangan tertawakan aku tapi biarkan aku mengerti sendiri. Aku mengajarimu banyak hal. Cara makan yang baik, cara berpakaian yang baik, berperilaku yang baik, bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan.

Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.

Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku! Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.

Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya, bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.

Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup, ketika aku ingin mati, jangan marah, karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti! Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar “hidup” lagi, kita hanya “tidak mati”.

Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.

Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usia ku yang sudah bertambah tua. Kau harus ada didekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang kulakukan pada saat kau lahir.

Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran. Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintanmu padaku.

Aku mencintaimu anakku………

Ayahmu, ibumu

Lemari Kartu

Di ruangan itu, antara sadar dan tidak, aku merasa berada di dalam suatu ruangan. Yeah well, tak ada hal yang menarik di dalam sana, kecuali pada salah satu dindingnya, terdapat lemari dengan laci-laci kecil, membentang dari lantai sampai ke langit-langit. Tiap-tiap laci berisi catatan-catatan sesuai dengan judul yang terdapat pada tiap-tiap laci.

Kudekati salah satu laci yang bertuliskan “Gadis-gadis yang kusukai”. Kubuka laci tersebut dan mulai membaca catatan-catatan yang ada di dalamnya. Aku terkejut! Kututup laci tersebut. Aku mengenal semua nama yang tertulis di sana!

Kini aku sadar, di mana aku berada! Ruangan dengan catatan-catatan yang ada di dalamnya merupakan ruang penyimpanan data kehidupanku. Semua hal dalam hidupku tercatat secara terperinci di sana, Heran dan penasaran dan takut, berbaur menjadi satu. Kubuka laci demi laci secara acak, kubaca tiap catatan yang ada di dalamnya.

Beberapa catatan memberikan sukacita dan kenangan manis, ada pula yang membuat aku malu, bahkan kecewa terhadap diriku sendiri. Berbagai catatan mengenai kehidupanku ada di sana, ada catatan yang berjudul “Teman-teman”, dan di sebelahnya terdapat juga catatan yang berjudul “Teman-teman yang aku khianati”.

Catatan-catatan itu memiliki bermacam-macam judul, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang bagiku cukup ‘aneh’

“Buku-buku yang aku baca”
Kebohongan yang pernah aku ucapkan”
Sampai kepada “Hal-hal yang telah aku lakukan ketika marah”
Dan masih banyak lagi

Aku tak henti-hentinya merasa heran dengan apa yang tertulis di dalamnya. Sering kutemui begitu banyak catatan, lebih banyak dari yang kuharapkan. Seringpula aku berharap catatan yang kubaca berisi lebih banyak data. Catatan ini merupakan sejarah kehidupan secara terperinci. Mungkinkah aku memiliki cukup waktu untuk membuat semua catatan ini? Kartu-kartu ini begitu banyak, ribuan, bahkan jutaan catatan yang ada di dalamnya, dan semuanya benar! Dibuat dengan tulisan tanganku, bahkan ada tanda-tanganku pada setiap kartu. Tiba-tiba aku tersentak, “Catatan-catatan ini tidak boleh dilihat orang lain! Tak seorangpun! Aku harus menghancurkan catatan-catatan ini!”.

Aku mencoba mengeluarkan kartu-kartu ini dari lacinya, namun setiap kartu seolah-olah melekat erat pada lacinya Aku berusaha sekuat tenaga, kucoba merobek catatan tersebut, namun kertas itu terasa begitu keras, sekuat baja, dan… aku tak dapat merobeknya!

Tak berdaya aku mengembalikan laci-laci itu ke tempatnya. Kusandarkan kepalaku ke dinding, malu, marah, kecewa, dan putus asa berbaur menjadi satu. Lalu aku melihat sebuah laci, judulnya “Orang-orang dengan siapa aku berbagi kasih Yesus”. Ku buka laci itu perlahan, terasa ringan, sangaaat ringan dan isinya pun hanya sedikit sangaaat sedikit.

Air mataku mulai bercucuran, aku menangis tersedu-sedu. Aku jatuh, berlutut… dan menangis. Air mata mengaburkan pandanganku. Aku malu, sangaaat malu! Aku malu! Aku malu melihat perjalanan hidupku. “Tak seorang pun boleh memasuki ruangan iniii!” teriakku.

Tiba-tiba aku melihat Yesus berdiri di hadapan. Aku tertunduk, tak sanggup berhadapan dengan-Nya dalam keadaan seperti ini. Ia berjalan menghampiri laci-laci tersebut dan membaca catatan-catatan yang ada di dalamnya. Aku tak sanggup memandang wajah-Nya, aku takuuut.

Ketika aku beradu pandang dengan-Nya, kulihat kesedihan yang sangat dalam di mata-Nya. Jauh lebih dalam dari yang mampu kurasakan. Ya, Tuhan! Mengapa Engkau harus membaca semua itu?

Setelah selesai membaca semuanya, Ia menghampiri aku. Tampak penyesalan di wajah-Nya… Aku tak sanggup memandang-Nya. Ku tundukkan kepalaku dan menangis dengan sedih, aku orang yang berdosaaa!!! Kemudian, Yesus merangkulku, tanpa kata Ia turut menangis bersamaku.

Tiba-tiba Ia berdiri, menghampiri laci-laci itu dan mengeluarkan semua catatan itu. Satu-persatu dikeluarkanNya catatan itu, Ia tersenyum, sebuah senyuman yang pilu, amat memilukan… Lalu Ia mulai membubuhkan tanda tangan-Nya di atas namaku.

Tidaaaaakkk!!! Yesus terlalu suci untuk membubuhkan nama-Nya di atas dosaku. Ku coba merebut catatan-catatan itu. Lalu kulihat nama-Nya, menutupi namaku dan tanda tanganku. Nama Yesus tertera di sana, dengan tinta merah, tebal, dan tampak hidup. But hey! Itu bukan tinta! Itu darah Yesus!!!

Kemudian, Ia menghampiri aku, meletakkan tangan-Nya di bahuku, dan berkata,
“Sudah selesai”. Yesus membantuku berdiri, menuntunku keluar meninggalkan ruangan itu. Ketika aku menoleh ke belakang, ruangan itu masih terbuka dan tak ada kunci di sana yang tinggal hanyalah kartu-kartu kosong yang masih harus kuisi.


Sumber : Reflecta Edisi November 2006

Filsafat Bolak Balik

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing

Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (capek jadi kuli)

Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit

Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan
Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan
udah keburu tua gak ada tenaga