Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

26 February 2008

Separate Yourself

Today's Scripture

“So whoever cleanses himself [from what is ignoble and unclean, who separates himself…be a vessel set apart and useful for honorable and noble purposes…” (II Timothy 2:21).

Today's Word from Joel and Victoria

Are there people or activities in your life that you know you need to separate yourself from? The Bible says that bad company will corrupt good morals. God wants you to constantly be growing and rising higher in life. That’s why this verse encourages us to separate ourselves from corrupting influences. And those influences are more than just the people in your everyday life. The influences are anything that influence your thinking. Be careful about what you are allowing into your mind. Be careful about what you read and what you watch. Don’t give your attention to things that are going to drag you down. Choose to separate yourself today. Remember. God wants you to live an abundant life. He wants you be separate so that He can work through you and fulfill his purposes in you life. As you cleanse yourself God will work in and through you so that you can live as an over comer the way God intends!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank you for your Word which is the Truth that sets me free. Give me strength to separate myself from anything that does not honor You. In Jesus Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

25 February 2008

Patahkan Kakinya

Ada seorang hamba Tuhan di Australia yang selain melayani sebagai Gembala Sidang, dia juga adalah seorang gembala domba dan dia memiliki banyak domba peliharaan.

Dalam keseharian dia menggembalakan domba, memberi mereka makan, membawa mereka ke padang rumput, dia menemukan seekor domba yang nakal dan memiliki karakter yang sangat berbeda dengan domba-domba yang lain.

Domba nakal ini selalu memisahkan diri dari teman-temannya. Ketika domba-domba yang lain makan rumput secara berkelompok, dia akan keluar dari kelompoknya dan pergi ke tempat yang dia suka, atau ketika gembalanya sedang menggiring domba-dombanya ke padang rumput, si domba nakal akan lari sendirian ke arah yang berlawanan, jauh dari kelompoknya. Reaksi si gembala adalah selalu mengejar domba nakal ini dan menempatkannya kembali ke kelompoknya.

Dan hal ini selalu dia lakukan berulang kali, jadi, bila si domba nakal memisahkan diri, si gembala akan mengejar dan menggendongnya untuk mengembalikan dia ke kelompoknya.

Gembala ini sabar menghadapi hal ini karena dia juga seorang gembala yang Tuhan percayakan jemaat kepadanya (mungkin juga ada jemaat yang nakal kaya' begini..), tapi setelah berkali-kali hal ini terjadi, si gembala pusing juga ternyata dan dia mulai menyampaikan hal ini kepada Tuhan dalam doanya

"Tuhan,...Engkau adalah seorang Gembala yang baik,..dalam Mazmur, Daud pun mengilustrasikan Engkau sebagai Gembala yang membawa domba-domba-Mu ke padang rumput yang hijau. Daud, pada masa mudanyapun adalah seorang gembala domba dan apa yang dia ungkapkan tentang Engkau, sebagai seorang Gembala, aku percaya bahwa Daud pun menemukan hal-hal ini ketika dia sedang menggembalakan dombanya.

Tuhan,...Engkau Allah yang mengetahui segala sesuatu,... jadi kalo Engkau ada pada posisiku,....apa yang akan Engkau lakukan dalam menghadapi domba yang nakal ini?"

"Patahkan kakinya..." Kata Tuhan.

Haa....Tuhan,...patahkan kakinya..? (sambil mikir, ko' Tuhan tega amat) Tanya balik ke Tuhan. Tapi, kembali jawaban Tuhan, "..patahkan kakinya.."

Menyadari bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dia ngikut apa yang Tuhan suruh dia buat. Maka, esok harinya, ketika sedang menggembalakan domba, si domba nakal melakukan kebiasaannya dan si gembala mengangkatnya, sambil berkata dalam hati, "Tuhan,... aku nggak tega, tapi karena Engkau yang suruh aku untuk patahkan kakinya, maka aku akan patahkan kakinya..."

Si domba nakal merintih kesakitan dan si gembala nggak tahan mendengarnya, hatinya sakit sekali mendengar rintihan itu, namun dia sangat mengasihi domba itu dan dia patuh dengan apa yang Tuhan suruh dia lakukan.

Setelah dia mematahkan kaki si domba nakal, kaki tersebut dia balut. Setiap hari dia menggendong domba nakal itu karena dia nggak bisa jalan. Si domba itupun dirawat olehnya, domba itu makan rumput di samping gembalanya karena bila dia makan rumput dengan teman-temannya - dia akan terinjak, bila sedang berjalan-jalan di padang rumput, si gembala akan menggendongnya.

Inilah yang terjadi, setiap kali domba nakal ini haus, dia akan menjilat keringat si gembala yang menggendongnya, kepalanya selalu bersandar pada dada si gembala dan menggosokkan kepalanya di bahu gembala bila sedang berjalan-jalan di padang rumput.

Selama kakinya patah, domba nakal ini sangat bersikap manis dan hampir setiap saat, dia menjilat keringat gembalanya dia tidak berdaya, sangat bergantung pada gembalanya.

Akhirnya, kakinya pun sembuh. Si gembala membuka balut pada kakinya dan melepaskannya untuk bermain-main dengan teman-temannya yang lain.

Namun, hal inilah yang terjadi, dia tidak berlari ke kelompoknya, tapi terus merapatkan dirinya di antara kaki gembalanya, sehingga si gembala mengangkatnya (dan si domba nakal masih terus menerus menjilat keringat si gembala!) dan harus meletakkan dia di kelompoknya, tapi si domba nakal selalu berlari mengikuti dan merapatkan dirinya kembali ke gembalanya!

Si gembala berulang kali melakukan hal ini,tapi, berulang kali pula si domba nakal kembali kepadanya...

Si gembala bingung dengan perilaku domba nakal ini, dan dalam kebingungannya Tuhan berkata kepadanya, "Itulah yang tidak dimengerti oleh umat-Ku, ketika Aku membiarkan mereka berbeban berat atau terluka atau Aku ijinkan sesuatu menimpa mereka, itu adalah untuk membawa mereka mendekat kepada-Ku. Aku melakukan itu untuk membuat mereka mengerti betapa berharganya mereka di hati-Ku, betapa Aku ingin mereka hidup bergantung hanya pada-Ku, dekat dan intim dengan-Ku. Tapi, seringkali, mereka semakin menjauh ketika hal-hal itu terjadi...."

Gembala itu akhirnya mengerti, mengapa Tuhan menyuruh dia mematahkan kaki domba nakal itu, yaitu untuk menyatakan isi hati-Nya, betapa manusia berharga di hati-Nya dan mengajar dia tentang kerinduan Allah untuk hidup intim dengan umat-Nya, namun, banyak orang yang nggak menyadari hal itu dan Allah mau dia menyatakan itu kepada jemaat-Nya.

Teman,...terkadang kita nggak sadar bahwa hal-hal kecil yang kita hadapi setiap hari, adalah proses pembentukan karakter.

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman Tuhan, dan Aku akan memulihkan keadaanmu..." (Yeremia 29:11-14b)

Diterjemahkan oleh: Karunia Grace

Sebarkan lah cerita ini agar banyak umatNya tahu bahwa Tuhan memberikan suatu rencana yang indah untuk membentuk mu menjadi manusia yang berarti di mata Tuhan ....

With God

Today's Scripture

“Jesus looked at them and said, "With man this is impossible, but not with God; all things are possible with God" (Mark 10:27).

Today's Word from Joel and Victoria

With God all things are possible! Now that’s a very broad statement. But, it doesn’t mean you can just do anything you want. You have to get with God first. In order to get with God, or align yourself with Him, you have to obey His Word. You have to submit yourself to Him and His plan for your life. You must turn your back on your old life and your old way of doing things. When you are in agreement with God and His Word, then all things will be possible. When you make your thoughts agreeable to His Word, than your plans will be established and you will succeed! Make whatever changes are necessary in your life today so that you can align yourself with God. Don’t hang around people that will try to drag you down. Guard what you watch on TV and what you listen to. Be determined everyday to spend time in prayer and studying the Word. The Bible promises that as you draw near to God, He will draw near to you. As you are in agreement with God, all things will be possible for you, and you will live the life of victory He has planned for you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, I want everything You have in store for me. Today I choose to align myself with You. Show me if there is anything in my life that is displeasing to You so that I can walk with You all of my days. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

Pemulihan Hati Bapa

Saat ini gelombang pemulihan hati Bapa sedang melanda gereja-gereja di GBI. Dalam suatu Retreat Pemulihan, banyak kesaksian menunjukkan betapa banyak orang yang mengalami gambar dirinya rusak, tidak mengenal figur bapak yang benar, mengalami luka-luka batin yang akibatnya mendatangkan keterikatan akan kuasa kegelapan. Yang mengerikan, adalah masalah dalam gambar diri yang rusak, tidak mengenal hati Bapa, luka batin dan keterikatan pada kuasa kegelapan itu menghasilkan “trans-generational curses” (kutukan dari generasi ke generasi).

Seorang wanita yang dibesarkan dalam keluarga yang cerai-berai, artinya ayahnya kawin lagi, lalu bercerai, lalu kawin lagi dan ibunya juga kawin lagi, bercerai lagi, mengaku benci sekali dengan ayahnya. Ia bertekad akan menikah dengan pria yang tidak seperti ayahnya. Namun apa yang terjadi, suaminya ternyata selingkuh. Ada trans-generational curse, kutukan antar generasi. Apa yang ia khawatirkan, ternyata menjadi kenyataan. Untunglah wanita ini mengikuti Retreat Pemulihan. Ia tidak malu bersaksi, karena dengan bersaksi ia mempermalukan iblis dan menyatakan bahwa ia tidak lagi di bawah kuasa dan kutuk iblis. Wahyu 12:11-12 menyatakan : "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” Kuasa iblis dikalahkan oleh darah Tuhan Yesus dan oleh perkataan kesaksian kita.

Pada sesi Luka-Luka Batin, seorang gembala dengan penuh kerendahan-hati mengakui bahwa dirinya adalah seorang anak yang tidak mengenal kasih Bapa, karena sejak kecil beliau ditinggalkan ayahnya. Beliau dulu sering mempertanyakan, mengapa ayahnya yang seorang pendeta dipanggil pulang Tuhan begitu cepat. Ada kepahitan dan luka-luka batin karena beliau tidak terima. Karena beliau kurang mendapatkan kasih Bapa, maka setelah menikah beliau sibuk dalam pekerjaan, mengejar karier. Dan memang dalam kariernya berhasil, namun keluarganya tidak mendapatkan kasih yang memadai. Sebagai orang yang kurang kasih Bapa, beliau tidak dapat mengekspresikan kasih kepada isteri dan anak-anaknya.

Isteri gembala ini juga dengan kerendahan hati bersaksi, betapa sejak kecil ia merasa diperlakukan tidak adil. Ia dibesarkan dalam keluarga yang otoriter. Mereka berusaha di bidang katering. Diantara saudara-saudaranya, ia ditugaskan di bagian yang paling berat: mengumpulkan piring dan gelas yang baru dipakai dalam suatu resepsi pernikahan dan mencucinya dengan cepat karena akan dipakai dalam resepsi berikutnya. Ia ingat, pada waktu itu resepsi pernikahan di tahun 80-an, para undangan duduk di kursi, ia harus mengambil piring dan gelas dari kolong kursi. Kakak-kakak perempuannya bertugas di bagian yang lebih ringan: mengatur makanan atau mengisi kembali makanan yang kurang. Apalagi jika mengingat kakaknya yang kuliah di Bandung, ia merasa iri. Setiap ke Bandung menjenguk kakaknya, orang tuanya selalu membawa oleh-oleh kesukaan kakaknya (cokelat Silver Queen dan lain-lain), namun ia yang tinggal bersama orang tuanya tidak mendapatkan hal-hal itu.

Ketika ia dewasa, ia bertekad mendapatkan suami yang kebapakan. Namun ternyata suaminya, sang gembala, sangat sibuk di kantor. Apa yang ia harapkan ternyata tidak terkabul. Perlu diketahui, suaminya adalah seorang profesional yang bekerja di group perusahaan besar, namun merangkap menjadi gembala di suatu gereja.

Dalam membesarkan anak-anak, ia sangat keras mendidik mereka. Ia ingin berhasil sebagai ibu. Ia memaksa anak-anaknya belajar dengan keras. Ia sering mengata-ngatai anaknya: “Bodoh”, “Lamban” ketika anaknya cuma mendapat angka delapan. Padahal IQ anaknya 137, tergolong pandai. Hal ini membuat kepahitan pada anaknya.

Untunglah suami isteri ini, gembala dan isterinya tersebut di atas, sekarang telah mengalami kasih Bapa. Ia tidak malu menyaksikan kisah mereka, karena mereka bertekad mempermalukan iblis dengan kesaksian ini. Dan yang penting, trans-generational curse tidak akan melanda anak-cucunya. Mereka sudah dipulihkan gambar diri mereka, mereka menerima kasih Bapa, mereka sudah menerima kesembuhan luka batin.

Ada lagi peserta retreat yang bersaksi bahwa pada saat itu Tuhan tunjukkan hatinya. Luka batin yang tidak diselesaikan sesuai firman Tuhan akan membuat luka itu dipenuhi dengan “belatung”. Luka itu tambah lebar. Selama ini luka itu “ditambal” dengan upaya manusia, dengan kompensasi. Kompensasi atau tambalan itu bisa berupa : rendah diri, sombong (merasa hebat untuk menutupi luka hati), menarik diri, curiga kepada orang lain, takut disakiti orang lagi, benci kepada laki-laki (sehingga sampai saat ini kesulitan mendapatkan pasangan hidup). Luka yang dibiarkan menganga atau ditambal, akan mengundang kuasa kegelapan untuk masuk. Bentuk keterikatan itu tidak selalu berupa kerasukan. Ada orang-orang yang dikuasai amarah yang membabi buta, ada yang dikuasai perasaan iri hati yang ekstrim, ada yang dikuasai roh percabulan, ada yang dikuasai dengan roh cinta uang, dan lain-lain. Itu adalah bentuk keterikatan pada roh jahat, disamping bentuk kerasukan dan manifestasi lainnya.

Pada retreat itu juga banyak remaja yang dipulihkan. Mereka yang diperlakukan tidak adil oleh orang tua, dicuekkin, dikasari, menghadapi percekcokan antara papa dan mama, dipaksa berprestasi di sekolah. Akibatnya ada anak yang sampai mau bunuh diri. Namun mereka akhirnya dilawat kasih Bapa dan disembuhkan luka-luka hati mereka sehingga mereka mau mengampuni dan memohon ampun kepada ayah ibu mereka.

Dalam sesi Pemulihan Hati Bapa, Pdt. Rubin Ong menceritakan bahwa iblis merusak figur bapa-bapa di bumi ini, sehingga mereka otoriter dan sadis, sehingga mereka cuek dan tidak berkomunikasi dengan anak-isterinya, sehingga mereka membeda-bedakan di antara anak-anak. Seorang hamba Tuhan dari Papua, Nathanael, begitu menderita semasa kecilnya. Kalau ia salah, ayahnya yang bertubuh besar akan menendang, memukulinya dan mencambuk dengan kopel rim (ikat pinggang militer), sampai anak itu merangkak kesakitan. Kalau anak ini disiksa, ia akan menderita kesakitan selama tiga bulan. Ia begitu benci kepada ayahnya sehingga ia bertekad membunuh ayahnya. Namun ketika ia mendapatkan pemulihan hati Bapa, ia mengampuni ayahnya.

Suatu kali Bryan Duncan berlibur bersama-sama isteri dan anak-anaknya. Ketika ia menulis lagu-lagu kristiani ia tiba-tiba menangis. Isterinya yang melihat hal itu diam saja, namun setelah suaminya reda, isterinya bertanya : “Ada apa?” Bryan Duncan yang teman dekat Michael W. Smith, penyanyi lagu rohani, mendapatkan pesan Tuhan yang sangat menyentuh. Ia melihat anak-anak mereka berlari kian kemari, bermain-main dengan penuh keriangan, hidup mereka penuh keceriaan. Mengapa? “Karena anak-anak itu tahu bahwa mereka dilindungi, dipelihara, didukung oleh ayah mereka. Ketika mereka merasa aman, merasa di-support, didukung, hidup mereka indah dan penuh sukacita.” Begitulah kasih Bapa melingkupi, melindungi, mendukung, menjadi sumber kehidupan. Itulah yang membuat kita sebagai anak-anak-Nya dapat hidup dengan penuh sukacita. Ilham itu dituliskan Bryan Duncan dalam lagu yang berjudul “Child Love”. Kasih yang dialami oleh anak-anak karena mereka aman dalam pelukan Bapa.

Orang-orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang-orang yang terhubung dengan “Sumber” (sumber kehidupan, sumber sukacita, sumber damai sejahtera, sumber kasih, sumber berkat, sumber kesembuhan, sumber keselamatan dll). Oleh karena itu orang yang mengalami kasih Bapa adalah orang yang merasa aman, secured, gambar dirinya tidak bergantung pada apa kata orang. Ia tidak takut gambar dirinya rusak karena dikritik orang lain atau difitnah orang. Ia merasa aman dan secured karena ia memiliki Bapa, ia hidup intim dengan Bapa, ia mengenal Bapa.

Filipus yang mewakili seluruh dunia ini pernah berseru kepada Tuhan Yesus, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Seluruh dunia membutuhkan Bapa. Seluruh dunia selalu merasa kurang, tidak cukup, ketika mereka belum mengenal Bapa. Seluruh dunia butuh di-bapa-i. Selama orang tidak mengenal Bapa, hidup mereka tidak akan cukup.

23 February 2008

Sayangi Orang Tuamu

Anakku yang kusayangi,

Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku.

Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan, jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri, sabarlah! Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.

Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku! Dengarlah aku! Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hinga kau tertidur. Dan aku lakukan itu untukmu !

Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan. Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu.

Jika aku tidak tahu tentang perkembangan teknologi, jangan tertawakan aku tapi biarkan aku mengerti sendiri. Aku mengajarimu banyak hal. Cara makan yang baik, cara berpakaian yang baik, berperilaku yang baik, bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan.

Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.

Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku! Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.

Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya, bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.

Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup, ketika aku ingin mati, jangan marah, karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti! Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar “hidup” lagi, kita hanya “tidak mati”.

Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.

Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usia ku yang sudah bertambah tua. Kau harus ada didekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang kulakukan pada saat kau lahir.

Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran. Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintanmu padaku.

Aku mencintaimu anakku………

Ayahmu, ibumu

Lemari Kartu

Di ruangan itu, antara sadar dan tidak, aku merasa berada di dalam suatu ruangan. Yeah well, tak ada hal yang menarik di dalam sana, kecuali pada salah satu dindingnya, terdapat lemari dengan laci-laci kecil, membentang dari lantai sampai ke langit-langit. Tiap-tiap laci berisi catatan-catatan sesuai dengan judul yang terdapat pada tiap-tiap laci.

Kudekati salah satu laci yang bertuliskan “Gadis-gadis yang kusukai”. Kubuka laci tersebut dan mulai membaca catatan-catatan yang ada di dalamnya. Aku terkejut! Kututup laci tersebut. Aku mengenal semua nama yang tertulis di sana!

Kini aku sadar, di mana aku berada! Ruangan dengan catatan-catatan yang ada di dalamnya merupakan ruang penyimpanan data kehidupanku. Semua hal dalam hidupku tercatat secara terperinci di sana, Heran dan penasaran dan takut, berbaur menjadi satu. Kubuka laci demi laci secara acak, kubaca tiap catatan yang ada di dalamnya.

Beberapa catatan memberikan sukacita dan kenangan manis, ada pula yang membuat aku malu, bahkan kecewa terhadap diriku sendiri. Berbagai catatan mengenai kehidupanku ada di sana, ada catatan yang berjudul “Teman-teman”, dan di sebelahnya terdapat juga catatan yang berjudul “Teman-teman yang aku khianati”.

Catatan-catatan itu memiliki bermacam-macam judul, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang bagiku cukup ‘aneh’

“Buku-buku yang aku baca”
Kebohongan yang pernah aku ucapkan”
Sampai kepada “Hal-hal yang telah aku lakukan ketika marah”
Dan masih banyak lagi

Aku tak henti-hentinya merasa heran dengan apa yang tertulis di dalamnya. Sering kutemui begitu banyak catatan, lebih banyak dari yang kuharapkan. Seringpula aku berharap catatan yang kubaca berisi lebih banyak data. Catatan ini merupakan sejarah kehidupan secara terperinci. Mungkinkah aku memiliki cukup waktu untuk membuat semua catatan ini? Kartu-kartu ini begitu banyak, ribuan, bahkan jutaan catatan yang ada di dalamnya, dan semuanya benar! Dibuat dengan tulisan tanganku, bahkan ada tanda-tanganku pada setiap kartu. Tiba-tiba aku tersentak, “Catatan-catatan ini tidak boleh dilihat orang lain! Tak seorangpun! Aku harus menghancurkan catatan-catatan ini!”.

Aku mencoba mengeluarkan kartu-kartu ini dari lacinya, namun setiap kartu seolah-olah melekat erat pada lacinya Aku berusaha sekuat tenaga, kucoba merobek catatan tersebut, namun kertas itu terasa begitu keras, sekuat baja, dan… aku tak dapat merobeknya!

Tak berdaya aku mengembalikan laci-laci itu ke tempatnya. Kusandarkan kepalaku ke dinding, malu, marah, kecewa, dan putus asa berbaur menjadi satu. Lalu aku melihat sebuah laci, judulnya “Orang-orang dengan siapa aku berbagi kasih Yesus”. Ku buka laci itu perlahan, terasa ringan, sangaaat ringan dan isinya pun hanya sedikit sangaaat sedikit.

Air mataku mulai bercucuran, aku menangis tersedu-sedu. Aku jatuh, berlutut… dan menangis. Air mata mengaburkan pandanganku. Aku malu, sangaaat malu! Aku malu! Aku malu melihat perjalanan hidupku. “Tak seorang pun boleh memasuki ruangan iniii!” teriakku.

Tiba-tiba aku melihat Yesus berdiri di hadapan. Aku tertunduk, tak sanggup berhadapan dengan-Nya dalam keadaan seperti ini. Ia berjalan menghampiri laci-laci tersebut dan membaca catatan-catatan yang ada di dalamnya. Aku tak sanggup memandang wajah-Nya, aku takuuut.

Ketika aku beradu pandang dengan-Nya, kulihat kesedihan yang sangat dalam di mata-Nya. Jauh lebih dalam dari yang mampu kurasakan. Ya, Tuhan! Mengapa Engkau harus membaca semua itu?

Setelah selesai membaca semuanya, Ia menghampiri aku. Tampak penyesalan di wajah-Nya… Aku tak sanggup memandang-Nya. Ku tundukkan kepalaku dan menangis dengan sedih, aku orang yang berdosaaa!!! Kemudian, Yesus merangkulku, tanpa kata Ia turut menangis bersamaku.

Tiba-tiba Ia berdiri, menghampiri laci-laci itu dan mengeluarkan semua catatan itu. Satu-persatu dikeluarkanNya catatan itu, Ia tersenyum, sebuah senyuman yang pilu, amat memilukan… Lalu Ia mulai membubuhkan tanda tangan-Nya di atas namaku.

Tidaaaaakkk!!! Yesus terlalu suci untuk membubuhkan nama-Nya di atas dosaku. Ku coba merebut catatan-catatan itu. Lalu kulihat nama-Nya, menutupi namaku dan tanda tanganku. Nama Yesus tertera di sana, dengan tinta merah, tebal, dan tampak hidup. But hey! Itu bukan tinta! Itu darah Yesus!!!

Kemudian, Ia menghampiri aku, meletakkan tangan-Nya di bahuku, dan berkata,
“Sudah selesai”. Yesus membantuku berdiri, menuntunku keluar meninggalkan ruangan itu. Ketika aku menoleh ke belakang, ruangan itu masih terbuka dan tak ada kunci di sana yang tinggal hanyalah kartu-kartu kosong yang masih harus kuisi.


Sumber : Reflecta Edisi November 2006

Filsafat Bolak Balik

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing

Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (capek jadi kuli)

Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit

Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan
Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan
udah keburu tua gak ada tenaga

Kasih

Roy Angel adalah pendeta miskin yang memiliki kakak seorang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kayaraya. Setelah itu kaka Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung yang besar. Kini dia tinggal di apartemen mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet.

Seminggu sebelum Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap.

Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman

"Hai.. nak" sapa Roy

Anak itu melihat pada Roy dan bertanya "Apakah ini mobil Tuan?"

"Ya," jawab Roy singkat. "Berapa harganya Tuan?"

"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa".

"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?" Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.

"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya"

Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,"Seandainya.... seandainya..." Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu, "Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku".

Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya : "Seandainya .. seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu".

Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.

Sampai satu kali anak itu berkata, "Tuan bersediakah Tuan mampir ke rumah saya? Letaknya hanya beberapa blok dari sini".

Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini.

"Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah", pikir Roy.

"OK, mengapa tidak", kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.

Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak.

"Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali".

Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh. Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya : "Lihat, seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu".

Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya.

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.

Kisah ini diambil dari sebuah kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku "Stories For The Family's Heart" by Alice Gray.

Bagi saya kisah ini sangat menyentuh dan membuat kita mengerti untuk selalu mengasihi orang lain.

Berikanlah yang terbaik bagi orang yang anda kasihi selagi anda bisa, atau anda akan menyesal seumur hidup anda.

Jika anda tersentuh, kirimkanlah cerita ini kepada orang yang anda kasihi, teman-teman, bahkan untuk orang yang tidak anda sukai sekalipun.

Humor : Kok Tahu

Bulan Desember adalah bulan yang dingin di kota tempat tinggal Jerry, dan hal itu membuat dia sangat malas mandi karena dia tidak suka dingin.

Jika dia disuruh mandi oleh mamanya dia akan masuk kamar mandi dan memainkan air, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan bersikap seolah-olah dia sudah selesai mandi.

Taktik Jerry selalu berhasil, tapi pada suatu saat ketika Jerry selesai "bermain air" di kamar mandi

Mama
: "Jerry ...!!! Ayo, masuk lagi ke kamar mandi ... jangan bilang kalau kamu sudah mandi. Mama tahu kamu bohong!!"

Dengan wajah memerah Jerry yang ketahuan bohongnya masuk lagi ke kamar mandi. Selesai mandi, adik Jerry, si Terry bertanya ...

Terry
:
"Kok mama tahu kalau tadi waktu di kamar mandi kak Jerry tidak mandi?"
Jerry
:
"Aku lupa membasahi sabunnya."

Be Strong in the Lord

Today's Scripture

“Finally, be strong in the Lord and in his mighty power” (Ephesians 6:10).

Today's Word from Joel and Victoria

Everyone has times when they feel weak or discouraged in life. But you don’t have to live that way! You can be strong in the Lord and in His power. You don’t have to walk around defeated and depressed. You can have joy today! In fact, the Bible tells us that the joy of the Lord is our strength. God’s joy isn’t based on circumstances. It isn’t based on the news, the stock market or the housing economy. God’s joy is based on Him. When you think about what He’s done for you—that He’s given you life, that He’s cast your sins as far as the east is from the west—you can’t help but get happy! You can’t help but have joy inside of you. That supernatural joy on the inside of you is supernatural strength. The enemy can’t take away what God has given you deep on the inside. So put a smile on your face today and rejoice in the Lord no matter what battles you may be facing. The joy of the Lord will give you strength, and you’ll live the life of victory God has promised you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for joy which strengthens! Thank you for empowering me today no matter what I may be facing. Fill my heart with Your supernatural joy so I can stand strong in all things. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

The Race

Defeat! He lay there silently, a tear dropped from his eye, "There's no sense running anymore- three strikes and I'm out- why try?"

The will to rise has disappeared, all hope had fled away,
so far behind, so error prone, closer all the way.

"I've lost, so what's the use", he thought "I'll live with my disgrace."

But then he thought about his dad who soon he'd have to face.
Get up, and echo sounded low, get up and take your place. You were not meant for failure here, so get up and win the race. With Borrowed will, "Get up!", It said, "You haven't lost at all, for winning is not more than this, to rise each time you fall."

So he rose to win once more, and with new commitment he resolved to win or lose, at least he wouldn't quit. So far behind the others now, the most he'd ever been, still he gave it all he had, and ran as though to win. Three times he'd fallen stumbling, three times he rose again. To far behind to hope to win, he still ran to the end.

They cheered the winning runner as he crossed. First place, head high and proud and happy, no falling, no disgrace. But when the fallen youngster crossed the line, last place, the crowd gave him the greater cheer for finishing the race. And even though he came in last, with head bow low, unproud. You would have thought he won the race, to listen to the crowd. And to his dad he sadly said, "I didn't do so well". To me, you won, his father said, you rose each time you fell.

And now when things seem dark and hard and difficult to face, the memory of that little boy helps me in my own race. For all of life is like that race, with ups and downs and all. And all you have to do to win is rise each time you fall. "Quit! Give up you're beaten," they will shout in my face. But another voice within me says, "Get up and win that race!"