Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

23 February 2008

Sayangi Orang Tuamu

Anakku yang kusayangi,

Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku telah menjadi sangat tua, cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku.

Jika banyak makanan yang tercecer dikala aku makan, jika aku mendapat kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri, sabarlah! Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala hal yang kau perlu tahu, ketika kau masih kecil.

Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali, jangan menghentikanku! Dengarlah aku! Ketika kau kecil, kau selalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang, dari malam yang satu ke malam yang lain hinga kau tertidur. Dan aku lakukan itu untukmu !

Jika aku enggan mandi, jangan memarahiku dan jangan katakan kepadaku bahwa itu memalukan. Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu menyuruhmu mandi dikala kecilmu.

Jika aku tidak tahu tentang perkembangan teknologi, jangan tertawakan aku tapi biarkan aku mengerti sendiri. Aku mengajarimu banyak hal. Cara makan yang baik, cara berpakaian yang baik, berperilaku yang baik, bagaimana menghadapi problem dalam kehidupan.

Jika terkadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan, beri aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya jangan sombong dan memarahiku, karena yang penting bagiku adalah aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu.

Jika aku tak mau makan, jangan paksa aku! Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.

Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya, bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.

Dan kala suatu saat nanti, ketika aku katakan padamu bahwa aku tak lagi ingin hidup, ketika aku ingin mati, jangan marah, karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti! Cobalah untuk mengerti bahwa pada usia tertentu, kita tidak benar-benar “hidup” lagi, kita hanya “tidak mati”.

Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang aku buat, aku selalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku siapkan dasar bagi perkembangan dan kehidupanmu kelak.

Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntung atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usia ku yang sudah bertambah tua. Kau harus ada didekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu, seperti apa yang kulakukan pada saat kau lahir.

Bantulah aku untuk berjalan, bantulah aku pada akhir hidupku dengan cinta dan kesabaran. Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintanmu padaku.

Aku mencintaimu anakku………

Ayahmu, ibumu

Lemari Kartu

Di ruangan itu, antara sadar dan tidak, aku merasa berada di dalam suatu ruangan. Yeah well, tak ada hal yang menarik di dalam sana, kecuali pada salah satu dindingnya, terdapat lemari dengan laci-laci kecil, membentang dari lantai sampai ke langit-langit. Tiap-tiap laci berisi catatan-catatan sesuai dengan judul yang terdapat pada tiap-tiap laci.

Kudekati salah satu laci yang bertuliskan “Gadis-gadis yang kusukai”. Kubuka laci tersebut dan mulai membaca catatan-catatan yang ada di dalamnya. Aku terkejut! Kututup laci tersebut. Aku mengenal semua nama yang tertulis di sana!

Kini aku sadar, di mana aku berada! Ruangan dengan catatan-catatan yang ada di dalamnya merupakan ruang penyimpanan data kehidupanku. Semua hal dalam hidupku tercatat secara terperinci di sana, Heran dan penasaran dan takut, berbaur menjadi satu. Kubuka laci demi laci secara acak, kubaca tiap catatan yang ada di dalamnya.

Beberapa catatan memberikan sukacita dan kenangan manis, ada pula yang membuat aku malu, bahkan kecewa terhadap diriku sendiri. Berbagai catatan mengenai kehidupanku ada di sana, ada catatan yang berjudul “Teman-teman”, dan di sebelahnya terdapat juga catatan yang berjudul “Teman-teman yang aku khianati”.

Catatan-catatan itu memiliki bermacam-macam judul, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang bagiku cukup ‘aneh’

“Buku-buku yang aku baca”
Kebohongan yang pernah aku ucapkan”
Sampai kepada “Hal-hal yang telah aku lakukan ketika marah”
Dan masih banyak lagi

Aku tak henti-hentinya merasa heran dengan apa yang tertulis di dalamnya. Sering kutemui begitu banyak catatan, lebih banyak dari yang kuharapkan. Seringpula aku berharap catatan yang kubaca berisi lebih banyak data. Catatan ini merupakan sejarah kehidupan secara terperinci. Mungkinkah aku memiliki cukup waktu untuk membuat semua catatan ini? Kartu-kartu ini begitu banyak, ribuan, bahkan jutaan catatan yang ada di dalamnya, dan semuanya benar! Dibuat dengan tulisan tanganku, bahkan ada tanda-tanganku pada setiap kartu. Tiba-tiba aku tersentak, “Catatan-catatan ini tidak boleh dilihat orang lain! Tak seorangpun! Aku harus menghancurkan catatan-catatan ini!”.

Aku mencoba mengeluarkan kartu-kartu ini dari lacinya, namun setiap kartu seolah-olah melekat erat pada lacinya Aku berusaha sekuat tenaga, kucoba merobek catatan tersebut, namun kertas itu terasa begitu keras, sekuat baja, dan… aku tak dapat merobeknya!

Tak berdaya aku mengembalikan laci-laci itu ke tempatnya. Kusandarkan kepalaku ke dinding, malu, marah, kecewa, dan putus asa berbaur menjadi satu. Lalu aku melihat sebuah laci, judulnya “Orang-orang dengan siapa aku berbagi kasih Yesus”. Ku buka laci itu perlahan, terasa ringan, sangaaat ringan dan isinya pun hanya sedikit sangaaat sedikit.

Air mataku mulai bercucuran, aku menangis tersedu-sedu. Aku jatuh, berlutut… dan menangis. Air mata mengaburkan pandanganku. Aku malu, sangaaat malu! Aku malu! Aku malu melihat perjalanan hidupku. “Tak seorang pun boleh memasuki ruangan iniii!” teriakku.

Tiba-tiba aku melihat Yesus berdiri di hadapan. Aku tertunduk, tak sanggup berhadapan dengan-Nya dalam keadaan seperti ini. Ia berjalan menghampiri laci-laci tersebut dan membaca catatan-catatan yang ada di dalamnya. Aku tak sanggup memandang wajah-Nya, aku takuuut.

Ketika aku beradu pandang dengan-Nya, kulihat kesedihan yang sangat dalam di mata-Nya. Jauh lebih dalam dari yang mampu kurasakan. Ya, Tuhan! Mengapa Engkau harus membaca semua itu?

Setelah selesai membaca semuanya, Ia menghampiri aku. Tampak penyesalan di wajah-Nya… Aku tak sanggup memandang-Nya. Ku tundukkan kepalaku dan menangis dengan sedih, aku orang yang berdosaaa!!! Kemudian, Yesus merangkulku, tanpa kata Ia turut menangis bersamaku.

Tiba-tiba Ia berdiri, menghampiri laci-laci itu dan mengeluarkan semua catatan itu. Satu-persatu dikeluarkanNya catatan itu, Ia tersenyum, sebuah senyuman yang pilu, amat memilukan… Lalu Ia mulai membubuhkan tanda tangan-Nya di atas namaku.

Tidaaaaakkk!!! Yesus terlalu suci untuk membubuhkan nama-Nya di atas dosaku. Ku coba merebut catatan-catatan itu. Lalu kulihat nama-Nya, menutupi namaku dan tanda tanganku. Nama Yesus tertera di sana, dengan tinta merah, tebal, dan tampak hidup. But hey! Itu bukan tinta! Itu darah Yesus!!!

Kemudian, Ia menghampiri aku, meletakkan tangan-Nya di bahuku, dan berkata,
“Sudah selesai”. Yesus membantuku berdiri, menuntunku keluar meninggalkan ruangan itu. Ketika aku menoleh ke belakang, ruangan itu masih terbuka dan tak ada kunci di sana yang tinggal hanyalah kartu-kartu kosong yang masih harus kuisi.


Sumber : Reflecta Edisi November 2006

Filsafat Bolak Balik

Masih muda, korbankan kesehatan cari harta.
Sudah tua, korbankan harta cari kesehatan

Karena harta, orang asing menjadi seperti saudara
Karena harta, saudara menjadi seperti orang asing

Orang kaya mampu beli ranjang enak,
tapi gak bisa tidur enak (stress...euiii)
Orang miskin gak mampu beli ranjang enak,
tapi bisa tidur enak (capek jadi kuli)

Orang kaya punya duit buat foya-foya,
tapi gak punya waktu
Orang miskin punya waktu buat foya-foya,
tapi gak punya duit

Masih muda pengen jadi kaya biar nikmatin kekayaan
Udah kaya gak punya waktu buat nikmatin kekayaan
Sekali punya waktu buat nikmatin kekayaan
udah keburu tua gak ada tenaga

Kasih

Roy Angel adalah pendeta miskin yang memiliki kakak seorang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kayaraya. Setelah itu kaka Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung yang besar. Kini dia tinggal di apartemen mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet.

Seminggu sebelum Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap.

Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman

"Hai.. nak" sapa Roy

Anak itu melihat pada Roy dan bertanya "Apakah ini mobil Tuan?"

"Ya," jawab Roy singkat. "Berapa harganya Tuan?"

"Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa".

"Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?" Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.

"Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya"

Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam,"Seandainya.... seandainya..." Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu, "Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku".

Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya : "Seandainya .. seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu".

Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.

Sampai satu kali anak itu berkata, "Tuan bersediakah Tuan mampir ke rumah saya? Letaknya hanya beberapa blok dari sini".

Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini.

"Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah", pikir Roy.

"OK, mengapa tidak", kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.

Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak.

"Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali".

Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh. Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya : "Lihat, seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu".

Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya.

Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.

Kisah ini diambil dari sebuah kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku "Stories For The Family's Heart" by Alice Gray.

Bagi saya kisah ini sangat menyentuh dan membuat kita mengerti untuk selalu mengasihi orang lain.

Berikanlah yang terbaik bagi orang yang anda kasihi selagi anda bisa, atau anda akan menyesal seumur hidup anda.

Jika anda tersentuh, kirimkanlah cerita ini kepada orang yang anda kasihi, teman-teman, bahkan untuk orang yang tidak anda sukai sekalipun.

Humor : Kok Tahu

Bulan Desember adalah bulan yang dingin di kota tempat tinggal Jerry, dan hal itu membuat dia sangat malas mandi karena dia tidak suka dingin.

Jika dia disuruh mandi oleh mamanya dia akan masuk kamar mandi dan memainkan air, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan bersikap seolah-olah dia sudah selesai mandi.

Taktik Jerry selalu berhasil, tapi pada suatu saat ketika Jerry selesai "bermain air" di kamar mandi

Mama
: "Jerry ...!!! Ayo, masuk lagi ke kamar mandi ... jangan bilang kalau kamu sudah mandi. Mama tahu kamu bohong!!"

Dengan wajah memerah Jerry yang ketahuan bohongnya masuk lagi ke kamar mandi. Selesai mandi, adik Jerry, si Terry bertanya ...

Terry
:
"Kok mama tahu kalau tadi waktu di kamar mandi kak Jerry tidak mandi?"
Jerry
:
"Aku lupa membasahi sabunnya."

Be Strong in the Lord

Today's Scripture

“Finally, be strong in the Lord and in his mighty power” (Ephesians 6:10).

Today's Word from Joel and Victoria

Everyone has times when they feel weak or discouraged in life. But you don’t have to live that way! You can be strong in the Lord and in His power. You don’t have to walk around defeated and depressed. You can have joy today! In fact, the Bible tells us that the joy of the Lord is our strength. God’s joy isn’t based on circumstances. It isn’t based on the news, the stock market or the housing economy. God’s joy is based on Him. When you think about what He’s done for you—that He’s given you life, that He’s cast your sins as far as the east is from the west—you can’t help but get happy! You can’t help but have joy inside of you. That supernatural joy on the inside of you is supernatural strength. The enemy can’t take away what God has given you deep on the inside. So put a smile on your face today and rejoice in the Lord no matter what battles you may be facing. The joy of the Lord will give you strength, and you’ll live the life of victory God has promised you!

A Prayer for Today

Heavenly Father, thank You for joy which strengthens! Thank you for empowering me today no matter what I may be facing. Fill my heart with Your supernatural joy so I can stand strong in all things. In Jesus’ Name. Amen.


From : Joel Osteen Ministries

The Race

Defeat! He lay there silently, a tear dropped from his eye, "There's no sense running anymore- three strikes and I'm out- why try?"

The will to rise has disappeared, all hope had fled away,
so far behind, so error prone, closer all the way.

"I've lost, so what's the use", he thought "I'll live with my disgrace."

But then he thought about his dad who soon he'd have to face.
Get up, and echo sounded low, get up and take your place. You were not meant for failure here, so get up and win the race. With Borrowed will, "Get up!", It said, "You haven't lost at all, for winning is not more than this, to rise each time you fall."

So he rose to win once more, and with new commitment he resolved to win or lose, at least he wouldn't quit. So far behind the others now, the most he'd ever been, still he gave it all he had, and ran as though to win. Three times he'd fallen stumbling, three times he rose again. To far behind to hope to win, he still ran to the end.

They cheered the winning runner as he crossed. First place, head high and proud and happy, no falling, no disgrace. But when the fallen youngster crossed the line, last place, the crowd gave him the greater cheer for finishing the race. And even though he came in last, with head bow low, unproud. You would have thought he won the race, to listen to the crowd. And to his dad he sadly said, "I didn't do so well". To me, you won, his father said, you rose each time you fell.

And now when things seem dark and hard and difficult to face, the memory of that little boy helps me in my own race. For all of life is like that race, with ups and downs and all. And all you have to do to win is rise each time you fall. "Quit! Give up you're beaten," they will shout in my face. But another voice within me says, "Get up and win that race!"

22 February 2008

Wanita & Pria Memang Susah Dibuat "BAHAGIA"!

Jika dikatakan cantik dikira menggoda,
jika dibilang jelek di sangka menghina.
Bila dibilang lemah dia protes,
bila dibilang perkasa dia nangis.

Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak
(sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)

Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut
(sambil ngomel,Egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan)

Jika di tanyakan siapa yang paling di banggakan, kebanyakan bilang Ibunya, tapi kenapa ya ….. lebih bangga jadi wanita karir, padahal ibunya adalah ibu rumah tangga

Bila kesalahannya diingatkankan, mukanya merah..
bila di ajari mukanya merah,
bila di sanjung mukanya merah
jika marah mukanya merah,kok sama semua? bingung!!

Di tanya ya atau tidak, jawabnya diam;
ditanya tidak atau ya, jawabnya diam;
ditanya ya atau ya, jawabnya :diam,
ditanya tidak atau tidak, jawabnya ; diam,
ketika didiamkan malah marah
(repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya).

Di bilang ceriwis marah,
dibilang berisik ngambek,
dibilang banyak mulut tersinggung,
tapi kalau dibilang S u p e l
wadow seneng banget..padahal sama saja maksudnya.

Dibilang gemuk engga senang padahal maksud kita sehat gitu lho

Dibilang kurus malah senang padahal maksud kita "kenapa elho jadi begini !!!"

Itulah WANITA makin kita bingung makin senang DIA !


PRIA MEMANG SUSAH DIBUAT "BAHAGIA" !!!

Jika kamu memperlakukannya dengan baik, dia pikir kamu jatuh cinta kepadanya, jika tidak, kamu akan dibilang sombong.

Jika kamu berpakaian bagus, dia pikir kamu sedang mencoba untuk menggodanya, jika tidak dia bilang kamu kampungan

Jika kamu berdebat dengannya, dia bilang kamu keras kepala, jika kamu tetap diam, dia bilang kamu tidak punya otak.

Jika kamu lebih pintar daripada dia, dia akan kehilangan muka, jika dia yang lebih pintar, dia hebat.

Jika kamu tidak cinta padanya, dia akan mencoba mendapatkanmu, jika kamu mencintainya, dia akan mencoba meninggalkanmu.

Jika kamu cerewet pada dia, kamu seperti seorang pengasuh baginya, tapi jika dia yang cerwet pada kamu, itu karena dia perhatian

Jika kamu merokok, kamu adalah cewek liar, kalau dia yang merokok, dia adalah seorang gentlemen.

Jika kamu menyakitinya, kamu sangat kejam, tapi kalau dia yang menyakitimu, itu karena kamu terlalu sensitif dan terlalu sulit untuk dibuat bahagia !

Kursi Kosong

Seorang anak perempuan meminta kepada pendeta untuk datang dan berdoa dengan ayahnya. Ketika pendeta itu tiba, dia melihat seorang pria di atas tempat tidur dengan kepalanya di topang oleh dua buah bantal dan sebuah kursi kosong di sebelah tempat tidurnya. Pendeta itu mengira bahwa pria itu sudah diberitahu kalau dia akan datang. "Aku kira kamu sedang menungguku", kata pendeta itu.

"Tidak, siapa kamu?"

"Aku teman baru dari gerejamu", jawab pendeta itu. "Ketika aku melihat kursi kosong itu, aku mengira kamu sudah tahu jika aku akan datang."

"O ya, kursi itu", kata pria yang berada di atas tempat tidur. "Apakah kamu keberatan untuk menutup pintu itu?"

Dengan bingung, pendeta itu menutup pintu.

"Aku tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun, bahkan juga kepada anak perempuanku", kata pria itu. "Tapi selama hidupku aku tidak tahu bagaimana untuk berdoa. Di Gerejaku aku biasa mendengar pendeta berbicara mengenai doa, tapi itu hanya sekedar lewat di kepalaku".

"Aku sudah lelah mencoba berdoa", pria itu melanjutkan, "Sampai suatu hari sekitar empat tahun yang lalu sahabatku berkata kepadaku, 'Joe, doa adalah cara yang sederhana berbincang-bincang dengan Yesus. Ini saranku. Duduk di kursi, dan letakkan sebuah kursi kosong didepanmu, dan percayai Yesus ada di kursi itu. Hal ini tidak menakutkan karena Dia telah berjanji, "Aku akan selalu bersamamu". Kemudian berkatalah kepada Dia dan dengarkan juga seperti kamu mendengarkanku sekarang."

"Jadi, aku mencobanya dan aku sangat menyukainya dan berdoa beberapa jam setiap hari. Aku berhati-hati, jika anak perempuanku melihat aku berbicara dengan kursi kosong, dia akan takut atau menertawakanku."

Dua hari kemudian anak perempuan itu berbicara kepada pendeta itu bahwa ayahnya meninggal siang itu.

"Apakah dia meninggal dengan tenang?", tanya pendeta itu.

"Ya, ketika aku meninggalkan rumah sekitar jam 2, dia memanggilku, dia menceritakan humor yang tidak begitu lucu, dan menciumku di pipi. Ketika aku kembali dari toko sekitar 1 jam kemudian, aku menemukan dia meninggal. Tapi ada sesuatu yang aneh, kelihatannya, sebelum ayah meninggal, dia menyandarkan kepalanya di kursi yang ada di sebelah tempat tidurnya."

Selamat Pagi, Tuhan!

Selamat pagi Bapa kami yang ada di Surga! Aku sangat sibuk hari ini, tapi aku tahu aku harus berhenti dan berbicara pada-Mu sebelum melalui hari ini. Maafkan aku jika kadang2 aku sangat agresif dan disibukkan oleh pekerjaan yang tidak pernah aku bawa ke Engkau dalam doa. Aku melakukan begitu banyak hal bodoh dan membuat beberapa keputusan yang salah, tapi Engkat tetap melindungi Aku. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Berkati aku. Lindungi aku. Bicaralah padaku. Kirimkan malaikat-Mu di sekitarku setiap saat hari ini. Aku akan memuliakan nama-Mu dengan riang dan terima kasih. Aku akan merayakan kehadiran-Mu dan menceritakan kepada orang lain tentang Firman-Mu. Aku akan melakukan Firman-Mu di setiap waktu dalam hidupku.

Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

Tuhan, Kenapa Engkau Tidak Menolongku?

Ada seorang laki - laki yang tinggal di dekat sebuah sungai. Bulan - bulan musim penghujan sudah dimulai.

Hampir tidak ada hari tanpa hujan baik hujan rintik-rintik maupun hujan lebat.

Pada suatu hari terjadi bencana di daerah tersebut. Karena hujan turun deras agak berkepanjangan, permukaan sungai semakin lama semakin naik, dan akhirnya terjadilah banjir.

Saat itu banjir sudah sampai ketinggian lutut orang dewasa. Daerah tersebut pelan-pelan mulai terisolir. Orang - orang sudah banyak yang mulai mengungsi dari daerah tersebut, takut kalau permukaan air semakin tinggi.

Lain dengan orang-orang yang sudah mulai ribut mengungsi, lelaki tersebut tampak tenang tinggal dirumah. Akhirnya datanglah truk penyelamat berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

“Pak, cepat masuk ikut truk ini, nggak lama lagi banjir semakin tinggi”, teriak salah satu regu penolong ke lelaki tersebut.

S lelaki menjawab: “Tidak, terima kasih, anda terus saja menolong yang lain. Saya pasti akan diselamatkan Tuhan. Saya ini kan sangat rajin berdoa.”


Setelah beberapa kali membujuk tidak bisa, akhirnya truk tersebut melanjutkan perjalanan untuk menolong yang lain.

Permukaan air semakin tinggi. Ketinggian mulai mencapai 1.5 meter. Lelaki tersebut masih di rumah, duduk di atas almari.

Datanglah regu penolong dengan membawa perahu karet dan berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

“Pak, cepat kesini, naik perahu ini. Keadan semakin tidak terkendali. Kemungkinan air akan semakin meninggi.

Lagi-lagi laki-laki tersebut berkata: ” Terima kasih, tidak usah menolong saya, saya orang yang beriman, saya yakin Tuhan akan selamatkan saya dari keadaan ini.

Perahu dan regu penolongpun pergi tanpa dapat membawa lelaki tersebut.

Perkiraan banjir semakin besar ternyata menjadi kenyatan. Ketinggian air sudah sedemikian tinggi sehingga air sudah hampir menenggelamkan rumah-rumah disitu. Lelaki itu nampak di atas wuwungan rumahnya sambil terus berdoa.

Datanglah sebuah helikopter dan regu penolong. Regu penolong melihat ada seorang laki-laki duduk di wuwungan rumahnya. Mereka melempar tangga tali dari pesawat. Dari atas terdengar suara dari megaphone: ” Pak, cepat pegang tali itu dan naiklah kesini. “, tetapi lagi-lagi laki-laki tersebut menjawab dengan berteriak:”Terima kasih, tapi anda tidak usah menolong saya. Saya orang yang beriman dan rajin berdoa. Tuhan pasti akan menyelamatkan saya.

Ketinggian banjir semakin lama semakin naik, dan akhirnya seluruh rumah di daerah tersebut sudah terendam seluruhnya.

Bagaimana nasib lelaki tersebut?

Lelaki tersebut akhirnya mati tenggelam.

Di akhirat dia dihadapkan pada Tuhan. Lelaki ini kemudian mulai berbicara bernada protes:”Ya Tuhan, aku selalu berdoa padamu, selalu ingat padamu, tapi kenapa aku tidak engkau selamatkan dari banjir itu?”

Tuhan menjawab dengan singkat: “Aku selalu mendengar doa-doamu, untuk itulah aku telah mengirimkan Truk, kemudian perahu dan terakhir pesawat helikopter. Tetapi kenapa kamu tidak ikut salah satupun?

Sebuah cerita menarik. Demikian juga dalam kehidupan kita, kita bekerja dan selalu melakukan doa kepada-Nya. Dan Dia sudah sering mengirimkan “truk”, “perahu”, dan “pesawat” kepada kita, tapi kita tidak menyadarinya.