Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

25 December 2007

As You Wish, LORD...

Seorang hamba Tuhan dari Cina - Watchman Nee - pernah menulis sebuah kalimat yang sangat menyentak. I just wanna be as You want me to be, Lord. Wow, ini bukan omongan yang asal-asalan. Ini artinya menyerahkan hidup kita pada Tuhan sesuai dengan kehendak Tuhan dan bukan kemauan kita sendiri. Hmmmm, apakah itu mungkin?

Maria adalah seorang gadis muda yang sangat mengasihi Tuhan. Buktinya, ia terpilih untuk menjadi ibu kandung bagi Yesus Kristus, juru selamat kita. Tentu saja Tuhan tak sembarangan meletakkan janin Yesus dalam kandungan seorang perempuan. Tuhan mencari seorang perawan yang juga sangat mengasihi Dia.

Bukti kedua bahwa Maria memang mengasihi Tuhan adalah saat ia menyatakan kesediaannya untuk mengemban tugas sebagai ibu bagi Yesus. Padahal saat itu Maria belum bersuami. Dengan kata lain, Maria hamil sebelum nikah. Tentu saja itu jadi hal yang memalukan. Toh, ia dengan pasrah berujar, "As You wish, Lord......." Apa saja yang Tuhan mau, terserah deh. Pertanyaannya, kenapa Maria pasrah seperti itu? Maria tahu kalau Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi
dia. Jadi, dia tak perlu khawatir dengan apa yang terjadi padanya.

NATAL selalu jadi momen istimewa buat setiap kita. Kado, pohon Natal, kumpul keluarga, acara-acara di gereja, semua serba menyenangkan dan terasa sangat istimewa. Tapi tahukah kita, bahwa momen istimewa bagi Tuhan bersama kita bukanlah saat Natal tiba, melainkan saat kita berserah kepadaNya dan berkata, "As You Wish Lord." Biar maunya Tuhan saja yang terjadi. Hmmmm......that's the special moment for Him in us.

Tahun ini, kita beri hadiah Natal terindah buat Tuhan. Menyerahkan hidup kita dalam kehendakNya dengan sepenuh hati. As You wish, Lord.......

20 December 2007

Pesan NATAL Dari Seorang Nabi Nyentrik

"...Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya kepada yang tidak punya...." (Lukas 3:11)

Yohanes Pembaptis adalah nabi Perjanjian Baru yang aneh bukan hanya karena pakaiannya aneh (jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit) dan makanannya juga aneh (belalang dan madu hutan) (Mat 3:4). Di tambah lagi dengan lingkungan kerjanya yang juga tidak biasanya padang gurun (Luk 3:2). Gayanya yang langsung dan terus terang rupanya menarik perhatian dan ternyata mendapat perhatian, disimak, dan ditanggapi secara positif oleh para pendengarnya. Seruan-seruannya yang lugas juga bertentangan dengan semangat zamannya, menyejukkan hati dan memberikan inspirasi yang segar bagi mereka yang mendengarnya. Tempat berkarya, pakaian, dan makanannya sudah menjadi aksi simbolik dari sebuah protes terhadap kondisi jamannya seperti layaknya para nabi pra pembuangan di Perjanjian Lama. Dia berkarya tidak di Yerusalem karena kota itu meski pun suci bagi orang Yahudi, sudah menjadi lambang kolusi antara penguasa Roma yang serakah dengan para pemimpin agama Yahudi yang munafik. Gurun pasir mau mengingatkan umat Allah pada perjalanan nenek moyang mereka keluar dari tanah MEsir ribuah tahun yang lewat yang menjadi masa 'bulan madu' yang mengesankan. Mereka merasakan sendiri bagaimana Allah menyertai dan memelihara mereka dengan setia. Belalang dan madu hutan hendak menggambarkan kebersahajaan atau kesederhanaan. Sungguh menjadi tanda-tanda simbolik yang lengkap sekali.

Seruan supaya orang bertobat ditanggapi dengan baik dan positif oleh para pendengar yang 'jauh-jauh' datang hanya untuk mendengarkan suara 'yang lain' daripada suara-suara yang klise. Ketika masyarakat bersikap acuh tak acuh terhadap nilai-nilai hakiki dari iman mereka. Yohanes Pembaptis di utus oleh Allah untuk menyerukan 'pertobatan'. Kata 'bertobat' 'metanoia' dalam bahasa Yunani atau 'syuv' dalam bahasa Ibrani punya makna 'banting setir' atau 'putar balik' karena sudah sadar bahwa perjalanan kehidupan sudah 'salah arah'. Bertobat bagi Yohanes Pembaptis atau, bahkan bagi Tuhan, bukan sekedar dulu saya perokok berat dan sekarang sudah berhenti merokok atau malahan ikut kegiatan anti merokok. Tentu tidak merokok apalagi tidak lagi merokok di sembarang tempat adalah suatu yang sangat luhur dan baik. Bertobat bukan sekadar yang tadinya penjudi lalu sekarang tidak berjudi lagi apalagi berhentinya karena sudah tidak punya duit lagi dan ikut ngegeropyok tempat perjudian. Bertobat lebih dari itu. Bertobat adalah perubahan 'arah' atau 'orientasi' kehidupan seseorang. Kalau selama berdosa orientasi kehidupan seseorang adalah 'aku'nya sendiri dengan segala kepentingan dan ambisinya dan menjadi 'egosentris' atau malahan 'egoistis'. Aku dengan segala kepentingan dan ambisinya menjadi nomor satu dalam kehidupannya. Ketika seorang bertobat maka orientasi atau arah kehidupannya adalah Allah sendiri. Allah dengan semua rencana dan kehendak-Nya menjadi nomor satu dan terutama dari kehidupannya. Allah dengan semua kemauan-Nya (yang pasti baik dan benar) mendapat prioritas dan perhatian utama untuk ditaati. Yesus nanti juga mewujud-nyatakan cita-cita ini secara sempurna dalam pribadi, hidup, dan karya serta kata-kata-Nya. Orang yang belum bertobat adalah orang yang menomor satukan dirinya sendiri. Bagi orang berdosa 'aku' dengan segala keinginan dan angan-angannya adalah yang paling cepat untuk diperjuangkan, juga bila untuk itu, Tuhan dan sesamanya manusia disingkirkan. Bertobat memang mengubah paradigma tetapi tidak boleh menjadi sesuatu yang abstrak. Ia harus menjadi sebuah 'praksis' yang tidak praktis. Biasanya 'praktis' dipakai dalam pengertian mudah, nyamann adem, casual, dan gampang. Praksis artinya saya tahu dan sadar sepenuhnya tentang satu hal yang baik dan benar yang bila dilakukan dengan sepenuh hati akan menciptakan suasana kehidupan yang damai sejahtera. Tetapi ketika saya mencoba mengejawantahkan nilai-nilai yang baik dan benar itu ternyata harus mengalami pergumulan yang tidak enteng melainkan berat, bahkan sangat berat. Hal yang paling berat untuk mempraksiskan nilai iman kepada Tuhan adalah mesti berani menyangkal diri (Luk 9:23). Bertobat artinya menempatkan Tuhan dan kepentingan-kepentingan-Nya di depan diri kita sendiri dengan segala angan-angan dan keinginan-keinginannya. Mari kita lihat bagaimana Yohanes Pembaptis memberikan contoh yang praksis yang tidak praktis, contoh yang sederhana tetapi tidak naif seperti dikutip di awal tulisan ini.

Reaksi spontan kita ketika kita membaca imbauan tadi biasanya adalah : "aku mesti ganti baju apa lagi kalau punya dua diberikan kepada orang lain satu". Kalau kita hanya mempunyai dua stel pakaian maka itu artinya satu stel sekarang melekat di tubuh kita dan satu stel lainnya sedang dicuci. Jadi nampaknya wajar bila reaksi spontan kita mengatakan demikian. Tetapi mestinya kita membayangkan dua stel pakaian saja?" Rasanya tidak satu pun di antara kita yang hanya mempunyai dua stel pakaian saja. Ada yang memiliki lima belas atau dua belas atau sepuluh atau enam stel tetapi PASTI TIDAK satu stel saja. Lalu ingatlah kapan kita paling akhir ikut aksi pengumpulan pakaian pantas pakai (untuk menghaluskan kata "pakaian bekas" dan pantas menurut siapa?) untuk siapa saja. Adakah diantara kita yang secara serta merta pulang ke rumah, masuk ke kamar pribadi, membuka almari pakaian kita, dan begitu saja mengambil dua tiga helai atau setumpuk pakaian tanpa memilihnya lagi? Pastilah kita melakukan seleksi ketat untuk menentukan mana yang kita anggap pantas menurut kita untuk diberikan kepada kaum duafa yang menjadi sasaran aksi sosial kita. Ketika kita melakukan seleksi maka pertimbangan utamanya adalah kepentingan 'aku' bukan? Yang biru, sayang, karena ini oleh-oleh dari pacar yang pulang dari Amerika. Yang merah, sayang, karena masih nyaman dikenakan. Yang hijau, sayang, karena ini hadiah ulang tahun suami, yang coklat, sayang, karena ia adalah kenang-kenangan waktu pergi ke Singapura, dst. Ketika kita mendapati satu kemeja yang sudah luntur warnanya, dengan kain yang sudah menipis dimakan waktu, dan sedikit robek dikerahnya, kita berseru : "Nah, ini yang pantas!" (pantas dijadikan gombal atau dibuang mestinya). Kenapa kita punya berlebih dan selalu pelit untuk membagikannya satu daripadanya yang masih baik atau malahan yang baru? Jawabnya bukan karena saya punya atau tidak punya tetapi karena BELUM BERTOBAT! Ini bukan sekedar kegiatan filantropis asal-asalan tetapi bisa menjadi indikator untuk penghayatan iman kita kepada Tuhan.

Nah, anda ingin Natal tahun 2007 ini memberikan kesan mendalam? Beli dan bagikan pakaian yang baru untuk saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Yang baru tidak harus berarti berharga 500rban karena yang SALE pun boleh lah, sepanjang memang betul-betul baru. Lalu ditambahkan sentuhan pribadi kepadanya (hantarlah dan berikan sendiri) disertai dengan sikap rendah hari yang tulus dan rela. Yang menerima akan berbagaia karena pemberian itu tidak hanya materi tetapi disertai dengan HATI bahkan IMAN. Lakukan, maka Natal tahun ini pasti lebih berkesan ketimbang Natal tahun yang lalu. Selamat.

oleh : Pdt. Samuel Santoso, Mth.

19 December 2007

Kesaksian Dr. Tedjo

CBNI -Saya adalah cucu GPH Tedjo Kusumo. Beliau adalah putra dari Hamengku Buwono VII, sultan Yokyakarta. Entah apa sebabnya, sejak kecil saya punya kekuatan supranatural. Ilmu saya terutama ialah ilmu getaran, saya mempunyai beragam ilmu getaran dan saya juga bisa melihat nasib orang. Orang tua saya mengetahui bahwa saya ini adalah anak aneh dalam keluarga saya. Saya suka berdoa dan berkata-kata sendiri, mereka tidak tahu jika saya sedang berbicara dengan jin yang menyertai hidup saya.

Saat saya kecil, saya ingin bermain dengan teman dan tentu butuh uang. Karena orang tua saya sangat ketat, tidak boleh jajan dan bermain, jadi saya suka mencuri-curi waktu untuk bermain. Karena saya juga butuh uang maka kemampuan saya pakai untuk mencari uang. Untuk urusan berkelahi, orang sebesar apapun akan saya hadapi. Begitu saya maju dan keluarkan ilmu getaran maka mereka semua akan jatuh, walau itu ada 20 orang sekalipun. Jadi jika saya datang, mereka semua sudah tahu ilmu saya, mereka akan takut dan lari. Orang menyebut saya dukun cilik. Jangan main-main dengan dukun cilik.

Sejak kecil Dr. Tedjo selalu melakukan pertapaannya di tempat-tempat sepi. Hal ini berlangsung hingga dewasa. Karena tidak tenang dengan ilmu hitam yang ia miliki, Tedjo beralih ke ilmu putih.

Saya punya tuyul sehingga ibu saya dulu sering kehilangan uang dan sayalah yang mencurinya. Hal ini terus berlangsung hingga saya dimarahi ayah saya, maka ayah sayapun saya santet. Dia sampai tidak bisa buang angin selama sebulan, sama sekali tidak bisa hingga perutnya sakit. Sampai akhirnya dia minta maaf baru kemudian saya keluarkan santetnya. Tapi setelah hal itu, saya menjadi tidak bisa tidur. Ada suara yang berkata: Kamu berdosa, kamu berdosa!. Mungkin itu akibat doa bapak dan ibu untuk saya. Suara itu berkata Ayah sendiri kamu santet, kamu sangat berdosa!. Sampai akhirnya ada teman yang mengatakan bahwa ilmu yang saya miliki adalah roh hitam dan ia mengajak saya untuk masuk perguruannya yang punya roh putih. Saya masuk perguruan itu. Karena saya telah memasuki tingkat 3 dalam ilmu hitam dan bisa berbicara dengan roh hitam maka begitu masuk ilmu putih, saya langsung masuk tahap wawancara.

Sebetulnya saya tetap menderita, saya seperti 'mati' saat masuk ilmu putih. Saya berpikir jika caranya seperti itu terus maka saya akan hancur. Terakhir saya melepaskan jin putih saat saya naik ke gunung Merbabu bersama teman-teman. Saya bermeditasi selama tujuh hari tujuh malam. Tiap-tiap jam 12 saya minum air putih saja. Setelah berpuasa minta makanan yang enak-enak. Saya pejamkan mata, sikap meminta dan ketika saya membuka mata, saya melihat di muka saya sudah ada piring, minuman, nasi, lauk pauk, es dawet sudah lengkap. Saya dan teman-teman makan semua itu, lalu kita tinggalkan.

Di bawah kaki gunung Merbabu itu ada seorang lurah yang sedang pesta mengawinkan anaknya. Lurah ini ternyata kehilangan 7 piring. Setelah saya lihat lauknya, kok sama dengan lauk yang saya makan. Teman-teman saya begitu senang karena jika demikian mereka dapat makan di restoran tanpa membayar. Tapi saat itu saya malah menangis. Saya bilang tujuan saya adalah mencari Tuhan tapi tuhan saya kok mencuri. Saya tahu Tuhan tidak mungkin seperti itu. Saya dan teman bisa makan enak tapi lurah yang sedang berpesta malah kehilangan piring 7. Ini tidak benar menurut saya.

Saya masuk ke Yogya, saya sudah menjadi dokter THT dan membuka praktek. Sejak kejadian itu saya katakan : Tuhan saat ini saya tidak akan mencari Engkau!. Saya menganggap Tuhan adalah penipu dan pencuri. Saya minta Tuhan tapi yang datang malah setan yang mencuri, saya merasa ditipu. Tidak ada gunanya mencari Tuhan.

Suatu saat karena merasa lapar, Tedjo masuk ke restoran. Saya datang ke situ karena katanya mie-nya enak sekali. Saya bercakap-cakap dengan pemilik restoran. Saat itu dia menanyakan mengapa wajah saya kelihatan bingung. Saya kaget karena dia tahu keadaan saya, saat itu saya begitu tidak senang dan menantang dia. Pemilik restoran ini malah merangkul saya. Saya menantang dia beradu ilmu dan santet-santetan. Saya menjadi bingung karena saat saya menantangnya, dia malah mengatakan bahwa dia mengasihi saya. Dia mengatakan bahwa saya harus membaca buku yang diberikannya. Saya melihat kitab injil yang kemudian saya bawa ke rumah.

Di rumah, istri menemukan kitab injil itu dan kemudian dibakarnya. Saya bertambah penasaran, saya katakan: Tuhan, pokoknya saya akan mencari buku yang terakhir itu dan saya akan baca sampai habis!. Saya cari dan kemudian dibakar lagi oleh istri saya. Sampai akhirnya saya membeli injil kecil yang bisa saya kantongi. Saya baca perjanjian lama yang isinya seperti sejarah dan dongeng. Saya tidak perlu kisah seperti itu.

Saya tiduran dan kemudian merasa ada yang mengganjal dibawah bantal saya. Saat ditemukan saya cukup kaget karena itu adalah Alkitab. Saya membacanya, namun kemudian merasa tidak enak. Alkitab itu saya buang keatas, tapi Alkitab itu jatuh dan terbuka. Saya lihat isinya dan ada ayatnya yang mengutip perkataan Yesus: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. "Saya begitu heran dengan isinya yang berani sekali menjamin manusia menemukan jalan menuju surga. Saya penasaran tapi senang, saya lalu membaca kitab itu sampai sembilan bulan.

Satu ketika saya melakukan semedi malam hari. Datanglah jin yang kemudian saya tanyai dan wawancara. Saya tanyakan: Apakah Alkitab betul isinya? Ya betul jawab jin itu, apakah Yesus pernah hidup? Ya betul. Apakah Yesus itu berasal dari perawan Maria? Ya betul, tanpa hubungan suami istri? Iya benar. Jadi Tuhan itu langsung membawa embrio Tuhan Yesus kedalam perut Maria sehingga Tuhan Yesus tidak pernah tersentuh dosa. Setelah itu saya katakan pada jin Kalau begitu kamu pergi saja dari hidup saya!

Tapi ternyata jin atau setan itu tidak mau mau pergi dari hidup saya, malah setan merasuki saya dan membuat tensi darah saya tinggal 70. Saya menangis pada Tuhan, saya bingung karena jin ini tidak mau lepas dari hidup saya. Itu terjadi sampai 5 kali selama 5 hari. Sampai hari kelima saya panggil lagi Tuhan, saat jin atau setan itu marah akhirnya saya katakan : Di dalam nama Tuhan Yesus, roh jin tidak boleh merasuki diri saya lagi! Saat itu juga semua jin dan kuasa setan hilang dari hidup saya.

Di dalam hal apapun kita tidak boleh minta bantuan jin atau kuasa setan. Saya merasakan setelah pelepasan itu saya merasakan kasih Tuhan pada diri saya pribadi. Saya orang yang paling berdosa yang memelihara jin dan setan, dari lembah hitam ataupun lembah putih tapi Tuhan mau datang pada saya dan melepaskan saya dari kuasa gelap. Itu adalah Kasih yang tiada taranya bagi saya.

Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. (2 Korintus 3:16 :
Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.)

Sumber
Kesaksian : Dr. Tedjo

18 December 2007

Iman & Kerendahan Hati

(Yes 2:1-5/Yes 4:2-6; Mzm 122:1-4a; Matius 8:5-11)
( - by: TIM, Bk.RH dan PI "Percikan Hati"/Des'06 - )

Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan".
- jika Anda kurang memiliki sahabat, telitilah jangan sampai Anda terlalu tinggi hati! -

"Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh."
[Matius 8:8a]

Ada banyak orang yang mengalami kesuksesan dalam berbagai bidang. Orang lulus belajar dengan prestasi yang memuaskan, maju dalam bisnis, sehingga mendapatkan banyak keuntungan material. Orang dapat membeli mobil mewah, membangun rumah mewah, memperoleh kedudukan dan jabatan sosial yang membuat namanya menjadi terkenal. Pada zaman kita ini ada banyak orang mengalami kesuksesan, tetapi tidak banyak yang bisa "rendah hati di hadapan Tuhan".

Kerendahan hati adalah ciri khas orang beriman yang selalu merasa, bahwa "semua milik dan pendapatannya" berasal dari TUHAN, dan bukan karena kehebatan atau kemampuannya. Orang yang rendah hati akan sangat berjiwa sosial. Ia tidak merasa rugi bahkan sangat berbahagia bila "memberi dan berkorban" demi orang lain.

Yesus memuji Iman perwira kafir dari Kapernaum yang "rendah hati", yang datang mencari, menyembah dan, lebih dari itu, "percaya pada Yesus". Ia tidak mengetahui banyak tentang Yesus, tentang Allah Orang Yahudi, apalagi tentang Hukum Taurat. Tetapi secara nyata ia menunjukkan, bahwa "Imannya yang matang". Ia tidak membanggakan statusnya sebagai seorang Romawi. Justru dengan segala "kerendahan hati" ia memohon kepada Yesus untuk penyembuhan hambanya. Karena itu Yesus menjawab: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel." [Matius 8:8-10].

Saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus, kerendahan hati adalah tanda dari ciri khas seorang beriman. Bagaimana mungkin kita mengatakan seseorang itu beriman, tetapi nyatanya sombong dan tinggi hati? Bagaimana kita mengatakan seseorang itu beriman, tetapi meremehkan orang lain?! Ketahuilah, bahwa beriman itu bukan soal kita ke gereja atau tahu berdoa. Beriman itu adalah sebuah kesaksian hidup akan kerendahan hati, kebaikan hati dan cinta pada Tuhan dan sesama.

Marilah kita berdoa:
Ya Tuhan, semoga aku semakin menjadi orang beriman dalam kata, sikap dan perbuatan. Amin.

Niatku:
Aku mau berusaha untuk bersikap rendah hati dan menghargai sesamaku.

Tuhan memberkati!

Harga Sebuah Baju

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa
mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.

"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.

"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting
dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat,

"Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?"

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan
perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

Pesan Moral :

Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

--
"Though you cannot go back and make a brand new start, my friend. Anyone can
start from now and make a brand new end"
~Dr. John C. Maxwell~

17 December 2007

Tukang Arloji - Cerita Natal

Di Jerman tinggal seorang tukang arloji. Namanya Herman Josep. Dia tinggal di sebuah kamar yang sempit. Di kamar itu ada sebuah bangku kerja, sebuah lemari tempat kayu dan perkakas kerjanya, sebuah rak untuk tempat piring dan gelas serta tempat tidur lipat di bawah bangku kerjanya.

Selain puluhan arloji yang sudah dibuatnya tidak ada barang berharga lain di kamarnya. Di jendela kaca kamar itu Herman menaruh sebuah jam dinding paling bagus untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Herman adalah seorang tukang arloji yang miskin. Pakaiannya compang-camping. Tetapi dia baik hati. Anak-anak di sekitar rumah menyukainya. Kalau permainan mereka rusak, Herman biasa diminta memperbaiki. Herman tak pernah minta satu sen pun untuk itu. "Belilah makanan yang enak atau tabunglah uang itu untuk hari Natal." Ini jawaban yang Herman selalu berikan.

Sejak dulu penduduk kota itu biasa membawa hadiah Natal ke kathedral dan meletakkannya di kaki patung Maria yang sedang memangku bayi Yesus. Setiap orang menabung supaya bisa memberi hadiah yang paling indah pada Yesus. Orang-orang bilang, kalau Yesus suka hadiah yang diberikan kepada-Nya, Ia akan mengulurkan tangan-Nya dari pelukan Maria untuk menerima bingkisan itu. Tentu saja ini legenda. Belum pernah terjadi bayi Yesus dalam pelukan Maria mengulurkan tangan menerima bingkisan Natal untuk-Nya.

Meskipun begitu penduduk kota itu selalu berusaha membawa bingkisan yang paling indah. Para penulis puisi membuat syair-syair yang aduhai. Anak-anak juga tidak ketinggalan. Setiap orang berlomba memberikan yang terbaik pada Yesus di Hari Natal. Siapa tahu, kata mereka, Yesus mengulurkan tangan menerima pemberian itu. Orang-orang yang tidak punya bingkisan, pergi ke Gereja untuk berbakti pada malam Natal sekaligus menilai bingkisan mana yang terindah. Herman, tukang arloji, adalah salah seorang yang hanya pergi untuk berbakti dan menonton.

Pernah ada seorang teman mencegah Herman dan bertanya: "Kau tidak tahu malu. Tiap tahun kau tak pernah membawa bingkisan Natal buat Yesus?" Pernah satu kali panitia Natal bertanya: "Herman! Mana bingkisan Natal darimu? Orang-orang yang lebih miskin dari kau saja selalu bawa." Herman menjawab: "Tunggulah, satu ketika saya akan bawa bingkisan." Tapi sedihnya, tukang arloji ini tak pernah punya apa-apa untuk Yesus. Arloji yang dibuatnya dijual dengan harga murah. Kadang-kadang ia memberikan gratis pada orang yang benar-benar perlu.

Tetapi dia punya ide. Tiap hari ia bekerja untuk bingkisan natal itu. Tidak satu orangpun yang tahu ide itu kecuali Trude, anak perempuan tetangganya. Trude berumur 7 tahun waktu ia tahu ide Herman. Tetapi setelah Trude berumur 31 tahun bingkisan itu belum selesai. Herman membuat sebuah jam dinding. Mungkin yang paling indah dan belum pernah ada. Setiap bagian dikerjakan dengan hati-hati dan penuh kasih. Bingkainya, jarum-jarumnya, beratnya, dan yang lainnya diukir dengan teliti. Sudah 24 tahun Herman merangkai jam dinding itu.

Masuk tahun ke-25 Herman hampir selesai. Tapi dia juga masih terus membantu memperbaiki mainan anak-anak. Perhatiannya pada hadiah Natal itu membuat dia tidak punya cukup waktu untuk buat arloji dan menjualnya. Kadang Herman tidur dengan perut kosong. Ia makin tambah kurus tetapi jam dindingnya makin tanbah cantik. Di jam dinding itu ada kandang, Maria sedang berlutut di samping palungan yang di dalamnya terbaring bayi Yesus. Di sekeliling palungan itu ada Yusuf serta tiga orang Majus, gembala-gembala dan dua orang malaikat. Kalau jam dinding itu berdering, orang-orang tadi berlutut di depan palungan Yesus dan terdengar lagu "Gloria in Excelsis Deo".

"Lihat ini!" kata Herman pada Trude. "Ini berarti bahwa kita harus menyembah Kristus bukan hanya pada hari Minggu atau hari raya tetapi pada setiap hari dan setiap jam. Yesus menunggu bingkisan kita setiap detik." Jam dinding itu sudah selesai. Herman puas. Ia menaruh benda itu di jendela kaca kamarnya supaya bisa dilihat orang. Orang-orang yang lewat berdiri berjam-jam mengagumi benda itu. Mereka sudah menduga bahwa ini pasti bingkisan Natal dari Herman. Hari Natal sudah tiba. Pagi itu Herman membersihkan rumahnya. Ia mengambil pakaiannya yang paling bagus. Sambil bekerja ia melihat jam dinding itu. Ia takut jangan-jangan ada kerusakan. Dia senang sekali sehingga ia memberikan uang yang dia miliki kepada pengemis-pengemis yang lewat di rumahnya.

Tiba-tiba ia ingat, sejak pagi dia belum sarapan. Ia segera ke pasar untuk membeli sepotong roti dengan uang terakhir yang ada padanya. Di lemarinya ada sebuah apel. Ia mau makan roti dengan apel itu. Waktu dia buka pintu, Trude masuk sambil menangis. "Ada apa?" tanya Herman. Suami saya mengalami kecelakaan. Sekarang dia di RS. Uang yang kami tabung untuk beli pohon Natal dan kue harus saya pakai untuk bayar dokter. Anak-anak sudah menuggu hadiah Natal. Apa lagi yang harus saya berikan untuk mereka?"

Herman tersenyum. "Tenanglah Trude. Semua akan beres. Saya akan jual arloji saya yang masih sisa. Kita akan punya cukup uang untuk beli mainan anak-anak. Pulanglah."

Herman mengambil jas dinginnya lalu pergi ke pasar dengan satu jam tangan yang unik. Ia tawarkan jam itu di toko arloji. Tapi mereka tidak berminat. Ia pergi ke kantor gadai tapi pegawai-pegawai bilang arloji itu kuno. Akhirnya ia pergi ke rumah walikota. "Tuan, saya butuh uang untuk membeli mainan bagi beberapa anak. Tolong beli arloji ini?" Pak walikota tertawa. "Saya mau beli arloji tetapi bukan yang ini. Saya mau jam dinding yang ada di jendela kaca rumahmu. Berapapun harganya saya siap." "Tidak mungkin tuan. Benda itu tidak saya jual.""Apa? Bagi saya semua mungkin. Pergilah sekarang. Satu jam lagi saya akan kirim polisi untuk ambil jam dinding itu dan kau dapat uang 1000 dolar."

Herman pergi sambil geleng-geleng kepala. "Tidak mungkin! Saya mau jual semua yang saya punya. Tapi jam dinding itu tidak. Itu untuk Yesus." Waktu ia tiba dekat rumah, Trude dan anak-anaknya sudah menunggu. Mereka sedang menyanyi. Merdu sekali. Baru saja Herman masuk, beberapa orang polisi sudah berdiri di depan. Mereka berteriak agar pintu dibuka. Jam dinding itu mereka ambil dan uang 1000 dolar diberikan pada Herman. Tetapi Herman tidak menerima uang itu. "Barang itu tidak saya jual. Ambillah uang itu," teriak Herman sedih. Orang-orang itu pergi membawa jam dinding serta uang tadi. Pada waktu itu lonceng gereja berbunyi. Jalan menuju kathedral penuh manusia. Tiap orang membawa bingkisan di tangan.

"Kali ini saya pergi dengan tangan kosong lagi", kata Herman sedih. "Saya akan buat lagi satu yang lebih cantik." Herman bangkit untuk pergi ke gereja. Saat itu ia melihat apel di dalam lemari. Ia tersenyum dan meraih apel itu. "Inilah satu-satunya yang saya punya, makanan saya pada hari natal. Saya akan berikan ini pada Yesus. Itu lebih baik dari pada pergi dengan tangan kosong."

Katedral penuh. Suasana bukan main semarak. Ratusan lilin menyala dan bau kemenyan terasa di mana-mana. Altar tempat patung Maria memangku bayi Yesus penuh dengan bingkisan. Semuanya indah dan mahal. Di situ juga ada jam dinding buatan tukang arloji itu. Rupanya Pak walikota mempersembahkan benda itu pada Yesus. Herman masuk. Ia melangkah dengan kaki berat menuju altar dengan memegang apel. Semua mata tertuju padanya. Ia mendengar mereka mengejek, makin jelas. "Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah dia jual. Lihatlah apa yang dia bawa. Memalukan!"

Hati Herman sedih, tetapi ia terus maju. Kepalanya tertunduk. Ia tidak berani memandang orang sekeliling. Matanya ditutup. Tangan yang kiri diulurkan ke depan untuk membuka jalan. Jarak altar masih jauh. Herman tahu bahwa ia harus naik anak tangga untuk sampai ke altar. Sekarang kakinya menyentuh anak tangga pertama. Herman berhenti sebentar. Ia tidak punya tenaga lagi. Sejak pagi dia belum makan apa-apa. Ada tujuh anak tangga. "Dapakah saya sampai ke altar itu?"

Herman mulai menghitung. Satu! Dua! Tiga! Empat! lalu ia terantuk dan hampir terguling ke bawah. Serentak semua orang berkata: "Memalukan!" Setelah mengumpulkan sisa tenaga Herman bergerak lagi. Tangga kelima. Kedengaran suara mengejek: "Huuuu...!" Herman naik setapak lagi. Tangga keenam. Omelan dan ejekan orang-orang berhenti. Sebagai gantinya terdengar seruan keheranan semua orang yang hadir. "Mujizat! Sebuah mujizat!!!"

Hadirin seluruhnya turun dari kursi dan berlutut. Imam merapatkan tangannya dan mengucapkan doa. Herman, tukang arloji yang miskin ini menaiki anak tangga yang terakhir. Ia mengangkat wajahnya. Dengan heran ia melihat patung bayi Yesus yang ada di pangkuan Maria sedang mengulurkan tangan untuk menerima bingkisan Natal darinya. Air mata menetes dari mata tukang arloji itu. Inilah hari Natal yang paling indah dalam hidupnya.

- Diterjemahkan oleh: Eben Nuban Timo dari buku "Het Hele Jaar Rond. Van sinterklaas tot sintemaarten." Disunting oleh Marijke van Raephorst (Rotterdam: Lemniscaat, 1973), hal. 61-66.

15 December 2007

Catatan Harian Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.

Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.

Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.

Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.

Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia
selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.

Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Tulang Iga Yang Hilang

Seorang gadis yang jatuh cinta bertanya kepada teman lelakinya: "Katakanlah, siapakah yang engkau paling kasihi di dunia ini?" "Kamu, tentu."

"Dalam hatimu, siapa aku ini bagimu?"

Pemuda itu berpikir sejenak dan memandang dengan dalam-dalam mata gadisnya serta mengatakan, "Kamu adalah tulang igaku. Di dalam alkitab, dikatakan bahwa mengamati Adam kesepian, maka ketika Adam tidur, Tuhan mengambil salah sebuah tulang iga dan menciptakan Hawa. Sejak itu, setiap laki-laki mencari tulang iganya yang hilang. Hanya bila ia telah menemukan perempuan untuk menjadi teman hidupnya, ia tidak lagi merasakan rasa sakit di dalam hatinya yang tidak hilang-hilang."

Setelah mereka menikah, pasangan ini untuk beberapa waktu mengalami hidup yang manis dan bahagia. Namun, kemudian pasangan yang muda ini mulai merenggang hubungannya. Ini disebabkan oleh kesibukan pekerjaan mereka dan permasalahan hidup sehari-hari yang tidak ada habisnya. Hidup mereka sebagai suami isteri menjadi tawar dan membosankan. Semua tantangan hidup berupa realitas kehidupan yang keras dan berat, mulai menggerogoti cita-cita dan impian serta mengganggu kasih sayang mereka satu dengan yang lain.

Pasangan suami isteri itu mulai cekcok dan setiap percekcokan menjadi semakin panas.

Pada suatu hari setelah mereka bertengkar, si perempuan lari keluar rumah. Dari seberang jalan perempuan itu berteriak, "Kamu tidak mengasihi aku lagi!". Si pemuda membenci sifat kekanak-kanakannya dan secara impulsive ia melontarkan, "Mungkin kita melakukan kesalahan untuk hidup bersama! Kamu ternyata bukan tulang igaku yang hilang!"

Tiba-tiba perempuan itu membisu dan berdiri di tempat itu nutuk waktu yang lama. Lelaki itu menyesal melontarkan apa yang telah terlanjur diucapkan, namun, kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya adalah seperti membuang air ia tidak mungkin utnuk ditarik kembali.

Dengan menangis, perempuan itu pulang untuk mengemasi barang-barangnya dan mengambil keputusan untuk berpisah.

Sebelum ia meninggalkan rumah, wanita itu berkata, "Bila aku memang bukan tulang igamu yang hilang, maka biarlah aku pergi." Ia melanjutkan, "Dengan cara begini, aku akan merasakannya tidak begitu berat. Biarlah kita menempuh perjalanan kita secara terpisah dan biarlah kita masing-masing mencari teman hidup kita."

Lima tahun telah lewat. Lelaki itu tidak mau menikah lagi namun diam-diam dengan tidak langsung ia mencoba untuk mengetahui akan jalan hidup bekas isterinya itu. Si perempuan sementara telah meninggalkan negerinya dan telah kembali. Ia telah menikah dengan seorang asing namun kemudian bercerai. Ia merasa amat sedih bahwa bekas kekasihnya itu tidak mau menunggu akan dia. Di dalam kegelapan dan keheningan malam hari dia merasakan sakit yang tak mau hilang-hilang dalam hatinya. Ia tidak pernah mengaku bahwa sebenarnya ia amat kehilangan bekas isterinya itu.

Pada suatu hari mereka akhirnya bertemu di bandara udara di sebuah tempat dimana terdapat banyak pertemuan kembali maupun perpisahan antarmanusia.

Ia sedang akan pergi untuk keperluan bisnis. Wanita berdiri seorang diri di sana dengan hanya dipisahkan oleh sebuah pintu keamanan.

L : "Bagaimana keadaanmu?"
W : "Aku baik-baik saja. Apakah kamu sudah mendapatkan tulang igamu yang hilang?"
L : "Tidak."
W : "Aku akan terbang ke New York dengan pesawat berikutnya"
L : "Aku sudah kembali 2 minggu lalu."
W : "Teleponlah aku bila aku kembali. Kamu kan tau nomor teleponku. Tidak ada sesuatu yang berubah!"

Dengan disertai sebuah senyuman, ia berpaling dan melambaikan tangannya untuk berpisah.

Seminggu kemudian, terdengar kabar bahwa perempuan itu telah mati. Ia telah menjadi salah satu korban di dalam peristiwa yang menggemparkan seluruh dunia.

Tengah malam, lagi-lagi, laki-laki itu menyulut rokoknya. Dan seperti sebelumnya, ia merasakan sakit yang tak mau hilang-hilang dalam hatinya. Akhirnya ia menjadi sadar, bahwa bekas isterinyalah yang merupakan tulang iganya yang hilang yang ia telah patahkan di dalam kecerobohannya.

NB :
Kadang2, manusia mengatakan sesuatu dalam saat2 yang dipenuhi dengan kemarahan dan emosi. Seringkali akibatnya justru mendatangkan malapetaka dan merusak. Kita melampiaskan kebingungan dan kejengkelan kita kebanyakan kali kepada mereka yang justru kita kasihi. Dan kendatipun kita tahu untuk "memikir 2 kali dan bertindak bijak" hal ini sering lebih mudah untuk dikatakan dari pada diperbuat.

14 December 2007

Allah or Jesus?

Living in the Detroit area I can concur with this, we have more Muslims moving into our neighborhood monthly and they are very active in the schools, preaching all the time about their "rights" and how tolerant we should be of their faith.

However toleration is a one way street with them. We are to learn about Ramadan, etc. But they are not to learn about Easter or Christmas. What is below is very true.

The Basics of Islam this is a must read -- it's short but Very informative! The Muslim religion is the fastest growing religion per capita in the United States, especially in the minority races!

Allah or Jesus?

Last month I attended my annual training session that's required for maintaining my state prison security clearance. During the training session there was a presentation by three speakers representing the Roman Catholic, Protestant and Muslim faiths who explained their belief systems. I was particularly interested in what the Islamic Imam had to say.

The Imam gave a great presentation of the basics of Islam complete with a video. After the presentations, time was provided for questions and answers. When it was my turn I directed my question to the Imam and asked: Please, correct me if I'm wrong, but I understand that most Imams and clerics of Islam have declared a holy jihad [Holy war] against the infidels of the world. And, that by killing an infidel, which is a command to all Muslims, they are assured of a place in heaven. If that's the case, can you give me the definition of an infidel?"

There was no disagreement with my statements and without hesitation he replied, "Non-believers!"

I responded, So, let me make sure I have this straight. All followers of Allah have been commanded to kill everyone who is not of your faith so they can go to heaven. Is that correct? The expression on his face changed from one of authority and command to that of a little boy who had just gotten caught with his hand in the cookie jar. He sheepishly replied, Yes.

I then stated, Well, sir, I have a real problem trying to imagine Pope John Paul commanding all Catholics to kill those of your faith or Pat Robertson or Dr. Stanley ordering Protestants to do the same in order to go to heaven! The Imam was speechless.

I continued, I also have problem with being your friend when you and your brother clerics are telling your followers to kill me. Let me ask you a question-would you rather have your Allah who tells you to kill me in order to go to heaven or my Jesus who tells me to love you because I am going to heaven and wants you to be with me? You could have heard a pin drop as the Imam hung his head in shame.

Chuck Colson once told me something that has sustained me these 20 years of prison ministry. He said to me, Rick, remember that the truth will prevail. And it will!

Needless to say, the organizers and or promoters of the "Diversification" training seminar were not happy with Rick's way of dealing with the Islamic Imam and exposing the truth about the Muslim beliefs.

I think everyone in the U.S. Should be required to read this, but with the liberal justice system, liberal media, there is no way this will be widely publicized.

Please pass this on to all your e-mail contacts. This is a true story and the author, Rick Mathes, is a well-known leader in prison ministry.

By Rick Mathes

GOOD THINKING.. GBU

TUHAN, Bebanku Berat

"Mengapa bebanku berat sekali?", aku berpikir sambil membanting pintu kamarku dan bersender.

"Tidak adakah istirahat dari hidup ini?"

Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi telingaku dengan bantal.

"Ya Tuhan", aku menangis, "Biarkan aku tidur...Biarkan aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!" Dengan tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku untuk melupakan.

Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku, Lalu, suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan salib.

"Anakku", orang itu bertanya, "Mengapa engkau datang kepada-Ku sebelum Aku siap memanggilmu?"

"Tuhan, aku mohon ampun. Ini karena... aku tidak bisa melanjutkannya. Kau lihat! betapa berat hidupku. Lihat beban berat di punggungku. Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya lagi."

"Tetapi, bukankah Aku pernah bersabda kepadamu untuk datang kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

"Aku tahu Engkau pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi kenapa bebanku begitu berat?"

"Anak-Ku, setiap orang di dunia memiliki beban. Mungkin kau ingin mencoba salib yang lain?"

"Aku bisa melakukan hal itu?"

Ia menunjuk beberapa salib yang berada di depan kaki-Nya. Kau bisa mencoba semua ini. Semua salib itu berukuran sama. Tetapi setiap salib tertera nama orang yang memikulnya.

"Itu punya Joan," kataku.

Joan menikah dengan seorang kaya raya. Ia tinggal di lingkungan yang nyaman dan memiliki 3 anak perempuan yang cantik dengan pakaian yang bagus-bagus.

Kadangkala ia menyetir sendiri ke gereja dengan mobil Cadillac suaminya kalau mobilnya rusak.

"Umm, aku coba punya Joan. Sepertinya hidupnya tenang-tenang saja. Seberat apa beban yang Joan panggul? " pikirku.

Tuhan melepaskan bebanku dan meletakkan beban Joan di pundakku. Aku langsung terjatuh seketika.

"Lepaskan beban ini!", teriakku.

"Apa yang menyebabkan beban ini sangat berat?"

"Lihat ke dalamnya."

Aku membuka ikatan beban itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat gambaran ibu mertua Joan, dan ketika aku mengangkatnya, ibu mertua Joan mulai berbicara, "Joan, kau tidak pantas untuk anakku, tidak akan pernah pantas. Ia tidak seharusnya menikah denganmu.Kau adalah wanita yang terburuk untuk cucu-cucuku..."

Aku segera meletakkan gambaran itu dan mengangkat gambaran yang lain. Itu adalah Donna, adik terkecil Joan. Kepala Donna dibalut sejak operasi epilepsi yang gagal itu.

Gambaran yang ketiga adalah adik laki-laki Joan. Ia kecanduan narkoba, telah dijatuhi hukuman karena membunuh seorang perwira polisi.

"Aku tahu sekarang mengapa bebannya sangat berat, Tuhan. Tetapi ia selalu tersenyum dan suka menolong orang lain. Aku tidak menyadarinya... "

"Apakah kau ingin mencoba yang lain?" tanya Tuhan dengan pelan.

Aku mencoba beberapa.

Beban Paula terasa sangat berat juga: Ia melihara 4 orang anak laki-laki tanpa suami.

Debra punya juga demikian: masa kecilnya yang dinodai olah penganiayaan seksual dan menikah karena paksaan.

Ketika aku melihat beban Ruth, aku tidak ingin mencobanya. Aku tahu di dalamnya ada penyakit Arthritis, usia lanjut, dan tuntutan bekerja penuh sementara suami tercintanya berada di Panti Jompo.

"Beban mereka semua sangat berat, Tuhan " kataku.

"Kembalikan bebanku"

Ketika aku mulai memasang bebanku kembali, aku merasa bebanku lebih ringan dibandingkan yang lain.

"Mari kita lihat ke dalamnya", Tuhan berkata.

Aku menolak, menggenggam bebanku erat-erat.

"Itu bukan ide yang baik", jawabku,

"Mengapa?"

"Karena banyak sampah di dalamnya."

"Biar Aku lihat"

Suara Tuhan yang lemah lembut membuatku luluh. Aku membuka bebanku. Ia mengambil satu buah batu bata dari dalam bebanku.

"Katakan kepada-Ku mengenai hal ini."

"Tuhan, Engkau tahu itu. Itu adalah uang. Aku tahu kalau kami tidak semenderita seperti orang lain di beberapa negara atau seperti tuna wisma di sini. Tetapi kami tidak memiliki asuransi, dan ketika anak-anak sakit, kami tidak selalu bisa membawa mereka ke dokter. Mereka bahkan belum pernah pergi ke dokter gigi. Dan aku sedih untuk memberikan mereka pakaian bekas. "

"Anak-Ku, Aku selalu memberikan kebutuhanmu.... dan semua anak-anakmu. Aku selalu memberikan mereka badan yang sehat. Aku mengajari mereka bahwa pakaian mewah tidak membuat seorang berharga dimataKu. "

Kemudian ia mengambil sebuah gambaran seorang anak laki-laki.!

"Dan yang ini?", tanya Tuhan.

"Andrew..." aku menundukkan kepala, merasa malu untuk menyebut anakku sebagai sebuah beban.

"Tetapi, Tuhan, ia sangat hiperaktif. Ia tidak bisa diam seperti yang lain, ia bahkan membuatku sangat kelelahan. Ia selalu terluka, dan orang lain yang membalutnya berpikir akulah yang menganiayanya. Aku berteriak kepadanya selalu. Mungkin suatu saat aku benar-benar menyakitinya... "

"Anak-Ku," Tuhan berkata.

"Jika kau percayakan kepada-Ku, aku akan memperbaharui kekuatanmu, dan jika engkau mengijinkan Aku untuk mengisimu dengan Roh Kudus, aku akan memberikan engkau kesabaran."

Kemudian Ia mengambil beberapa kerikil dari bebanku.

"Ya, Tuhan.." aku berkata sambil menarik nafas panjang.

"Kerikil-kerikil itu memang kecil. Tetapi semua itu adalah penting. Aku membenci rambutku. Rambutku tipis, dan aku tidak bisa membuatnya kelihatan bagus. Aku tidak mampu untuk pergi ke salon. Aku kegemukan dan tidak bisa menjalankan diet. Aku benci semua pakaianku. Aku benci penampilanku! "

"Anak-Ku, orang memang melihat engkau dari penampilan luar, tetapi Aku melihat jauh sampai ke dalamnya hatimu. Dengan Roh Kudus, kau akan memperoleh pengendalian diri untuk menurunkan berat badanmu. Tetapi keindahanmu tidak harus datang dari luar. Bahkan, seharusnya berasal dari dalam hatimu, kecantikan diri yang tidak akan pernah hilang dimakan waktu. Itulah yang berharga di mata-Ku."

Bebanku sekarang tampaknya lebih ringan dari sebelumnya.

"Aku pikir aku bisa menghadapinya sekarang, " kataku,

"Yang terakhir, berikan kepada-Ku batu bata yang terakhir." kata Tuhan.

"Oh, Engkau tidak perlu mengambilnya. Aku bisa mengatasinya."

"Anak-Ku, berikan kepadaKu."

Kembali suara-Nya membuatku luluh. Ia mengulurkan tangan-Nya, dan untuk pertama kalinya Aku melihat luka-Nya.

"Tuhan....Bagaimana dengan tangan-Mu? Tangan-Mu penuh dengan luka!! "

Aku tidak lagi memperhatikan bebanku, aku melihat wajah-Nya untuk pertama kalinya. Dan pada dahi-Nya, kulihat luka yang sangat dalam... tampaknya seseorang telah menekan mahkota duri terlalu dalam ke dagingNya.

"Tuhan," aku berbisik.

"Apa yang terjadi dengan Engkau?"

Mata-Nya yang penuh kasih menyentuh kalbuku.

"AnakKu, kau tahu itu. Berikan kepadaku bebanmu. Itu adalah milikKu. Aku telah membelinya."

"Bagaimana?"

"Dengan darah-Ku"

"Tetapi kenapa Tuhan?"

"Karena aku telah mencintaimu dengan cinta abadi, yang tak akan punah dengan waktu. Berikan kepadaKu."

Aku memberikan bebanku yang kotor dan mengerikan itu ke tangan-Nya yang terluka. Beban itu penuh dengan kotoran dan iblis dalam kehidupanku: kesombongan, egois, depresi yang terus menerus menyiksaku. Kemudian Ia mengambil salibku kemudian menghempaskan salib itu ke kolam yang berisi dengan darahNya yang kudus.

Percikan yang ditimbulkan oleh salib itu luar biasa besarnya.

"Sekarang anak-Ku, kau harus kembali. Aku akan bersamamu selalu. Ketika kau berada dalam masalah, panggillah Aku dan Aku akan membantumu dan menunjukkan hal-hal yang tidak bisa kau bayangkan sekarang."

"Ya, Tuhan, aku akan memanggil-Mu."

Aku mengambil kembali bebanku.

"Kau boleh meninggalkannya di sini jika engkau mau. Kau lihat beban-beban itu? Mereka adalah kepunyaan orang-orang yang telah meninggalkannya di kakiKu, yaitu Joan, Paula, Debra, Ruth... Ketika kau meninggalkan bebanMu di sini, aku akan menggendongnya bersamamu. Ingat, kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan. "

Seketika aku meletakkan bebanku, cahaya itu mulai menghilang. Namun, masih kudengar suaraNya berbisik, "Aku tidak akan meninggalkanmu, atau melepaskanmu."

Sebuah Penantian (My Hope Indonesia) - by Billy Graham

Saya ingin menginformasikan bahwa akan di putar sebuah film dengan Judul "Sebuah Penantian" pada tanggal 15 Desember 2007, pukul 16:30 - 17:30 WIB di RCTI.

Pemutaran film ini diprakarsai oleh Billy Graham Ministry (USA). Film serupa pernah diputar di India dengan judul "My Hope India" dan berhasil memenangkan jutaan rakyat India untuk menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamat. Untuk pemutaran film ini, Billy Graham Ministry melakukan doa puasa selama sebulan dari tgl. 15 Nopember s.d. 15 Desember 2007. Mereka sangat peduli akan keselamatan jiwa Bangsa Indonesia , bagaimana dengan kita ?Mari kita dukung melalui doa agar pemutaran film ini benar-benar menjadi berkat bagi Bangsa Indonesia.

My Hope Indonesia adalah sebuah organisasi yang didukung oleh Billy Graham Ministry, dan pemutaran film ini akan menggerakkan seluruh denominasi gereja di Indonesia. Para pemain film ini antara lain: Restu Sinaga, Nana Mirdad, Christine dan Mario Lawalatta, ditanyangkan mulai pukul 16.30 - 17.30 TANPA IKLAN.

Sebuah kesaksian:
Para pemain film ini sepertinya sudah disaring oleh Tuhan, yakni dengan batalnya salah seorang pemain yang sudah confirm. Entah kenapa tiba-tiba beliau membatalkan kontraknya. Ternyata Tuhan tahu siapa yang layak main dan siapa yang tidak layak main. Artis tersebut tidak lama kemudian tertangkap polisi karena terlibat narkoba dan saat ini sedang mendekam dipenjara untuk proses peradilan berikutnya. Bayangkan betapa memalukannya film ini apabila yang main adalah artis tersebut. Yang menggantikan peran artis tersebut adalah Rudi Salam.

Film ini luar biasa, sehingga kalau mau nonton sebaiknya ajak keluarga, teman, saudara dan siapapun untuk nonton bareng. Lebih seru!

Sebarkan berita ini ... GBU!!!!