Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

22 November 2007

Bau Keringat

Setiap Minggu pagi aku pergi ke gereja untuk berbakti. Dan selalu duduk di bangku nomer dua dari belakang. Menjelang Natal, pengunjung gereja pun mulai meningkat. Dan kebanyakan orang mempunyai kesenangan sama denganku, yakni duduk di bangku bagian paling belakang. Seperti hukum tak tertulis saja.

Di tengah-tengah kebaktian, ketika aku sedang konsentrasi untuk mendengarkan pendeta yang sedang berkotbah. Tiba-tiba tercium bau keringat seseorang yang menyengat hidungku. Ku lihat ada tiga orang wanita juga menutup hidung mereka dengan tissue Aku asumsikan mereka juga mencium baru keringat itu.

Selesai kebaktian, masih pula tercium bau keringat tersebut. Dan hal itu membuatku lebih heran dan penasaran. Siapakah orang yang mempunyai bau keringat tersebut? Aku mencoba memperhatikan beberapa orang di sekitarku duduk. Untuk mencari kira-kira dari arah mana bau keringat tersebut tersebar. Pilihanku jatuh pada seorang pria yang duduk di bangku paling belakang. Dengan rambutnya yang sebagian telah memutih dan pakaian yang sederhana cukup mudah untuk dikenali, bahwa penampilan om tersebut tampak beda dengan Jemaat yang lain. Akupun mencoba menghampiri dan menyapanya. Dugaanku memang tidak salah, bau keringat tersebut tercium lebih tajam, setelah aku berdiri di hadapannya. Aku juga baru mengenal om itu untuk pertama kali. Aku memanggil dia om Nusa.

Minggu depannya, aku melihat om Nusa kembali duduk di barisan bangku paling belakang. Waktu kebaktian aku mencium bau keringat kembali. Dan beberapa orang juga menutup hidung mereka. Dugaanku, bau keringat itu berasal dari om Nusa. Aku merasa tidak enak jika ingin memberi tahu tentang hal ini secara langsung. Maka aku ada akal. Kebetulan saat itu menjelang Natal, maka tidak ada salahnya jika aku memberi om Nusa sepaket kebutuhan sehari-hari termasuk sabun mandi dan penghilang bau badan. Aku tidak ingin om Nusa tersinggung.

Dua minggu kemudian bertemu dengan om Nusa lagi. Aku bertanya, apakah paket kebutuhan sehari-hari itu sudah dipakainya. Dia sangat senang dengan paket tersebut dan telah memakainya. Aku pun juga senang kalau om Nusa telah memakai pemberianku. Cuma yang membuatku masih heran dan penasaran,waktu kebaktian tadi, aku masih mencium bau keringat. Setelah mengajak om Nusa mengobrol lebih lama dan lebih jauh lagi. Aku baru tahu, kalau om Nusa termasuk kategori lansia dengan usia kepala enam. Dia hidup sendiri, istrinya telah meninggal, anak-anaknya telah berkeluarga dan tidak mau tinggal bersama dengan om Nusa. Uang pemberian anak-anaknya tidak mencukupi untuk biaya hidupnya. Maka om Nusa harus bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Pada hari Minggu pagi pun om Nusa harus bekerja di pabrik pemotongan ikan. Setelah selesai bekerja, om Nusa berjalan kaki menuju ke gereja, yang ditempuhnya dengan kurang lebih setengah jam!

Di atas kepalaku seakan menyala lampu halogen yang sangat terang. Aku baru menyadari, dengan berjalan kaki kurang lebih setengah jam, maka tidak heran om Nusa berkeringat. Aku pun bertanya padanya, mengapa om Nusa tidak mau naik kendaraan umum saja untuk pergi kegereja, supaya tidak bersusah payah kelau ke gereja. Jawabnya sederhana, biar uang untuk angkutan umum itu bisa ditambahkan dengan uang persembahan yang telah dipersiapkannya.

Aku pun tertegun mendengar jawaban om Nusa tersebut. Pintu hatiku seakan diketuk untuk disadarkan setelah mendengar jawaban itu. Aku sebelumnya menyangka bukan-bukan tentang om Nusa. Kini aku lebih menyadari bahwa dugaanku dengan hanya melihat penampilan om Nusa dari luar saja, itu ternyata salah besar. Dan aku tidak pernah berpikir apa yang terjadi sebenarnya. Apakah kebanyakan dari kita seperti demikian ? Ketika kita berhadapan dengan seseorang yang sederhana (terutama di gereja), kita belum-belum sudah mempunyai prasangka negatif terhadap seseorang tersebut.

Ah, Tuhan seakan memberikan suatu pelajaran buatku, lewat caraNya yang unik. Karena dengan mencium bau keringat di waktu kebaktian itu, aku beroleh suatu pelajaran dari seorang tua yang sederhana. Dan aku mengenal satu jemaat lagi di gerejaku. Bukankah kita seringkali dalam satu gereja tidak pernah bertegur sapa dengan jemaat yang lain? Seringkali kita tidak pernah mengenal dan tidak mau mengenal jemaat yang duduk di sebelah kiri, kanan, depan, belakang kita. Sepertinya tujuan kita ke gereja itu begitu 'agung'-kah kita datang ke gereja hanya untuk beribadah kepada sang Pencipta kita. Kita tidak peduli dengan orang lain. Tetapi Tuhan mempunyai keinginan yang berbeda dengan kita. Tuhan menginginkan kita untuk dapat bersekutu dengan sesama kita juga.

Dari bau keringat om Nusa, aku dapat mengetahui masalah om Nusa yang terbatas dalam transportasi. Dan aku dapat memasukkan nama om Nusa dalam daftar doaku pula.
Bukankah itu yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan? Kita dapat menolong sesama saudara seiman kita dan mendoakan. Jika kita tidak mengenal jemaat lain yang dalam masalah bagaimana kita dapat menolong atau mendoakan mereka ?

Setelah kejadian hari Minggu itu, pada minggu-minggu berikutnya aku pun dapat berbakti dengan tenang, tidak terganggu oleh bau keringat lagi.
Karena sekarang om Nusa pergi ke gereja bersamaku dengan mengendarai mobil, sehingga om Nusa tidak perlu berjalan kaki dan "berkeringat".


Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (Ibrani 10:24)

Oleh: Peter Purwanegara

20 November 2007

Apakah Botol Yang Kau Bawa Pecah ?

Dr. Lin Ting Tung adalah orang Taiwan pertama yang menjadi dokter dan menjadi Kristen. Ini terjadi pada akhir abad ke-19. Ia bekerja di rumah sakit kecil yang dirintis oleh Dr. Maxwell,seorang misionaris Inggris. Ketika itu tingkat kesehatan masyarakat di Taiwan sangat rendah dan cara pengobatan masih sangat sederhana.

Pada suatu hari seorang anak datang ke rumah sakit itu dan meminta obat untuk ibunya yang sedang demam akibat malaria. Anak ini berjalan lebih dari dua jam dari desanya ke rumah sakit melalui jalan setapak melewati hutan dan sawah.

Ketika nama ibunya dipanggil, anak ini langsung bangkit dari bangkunya,meraih botol obat dan bergegas pulang. Sore harinya pukul lima, ketika kamar obat akan ditutup, seorang perawat tampak bingung dan berbisik, "Dokter Lin,botol obat untuk pasien malaria masih ada disini. Tetapi ada satu botol yang hilang. Isinya disinfektan. Dr. Lin terkejut,diperiksan ya botol yang tertinggal, benar isinya obat malaria. Jadi, anak tadi membawa botol yang salah! Botol-botol dikamar obat itu memang berbentuk sama dan berwarna sama lagipula, baik obat malaria maupun disinfektan sama-sama cairan.

"Celaka kita. ibu itu bisa mati. Disinfektan itu obat keras pembunuh kuman untuk kamar operasi. Kalau sampai diminum, usus bisa terbakar dan orang itu akan mati" ujar Dr. Lin dengan wajah pucat. Segera mereka melaporkan peristiwa ini kepada Dr.Maxwell. Ia juga terkejut. "Sekarang pukul lima , anak itu pergi dari sini pukul tiga jadi Ia sudah hampir tiba. Tidak mungkin kita mengejarnya. Kita tidak tahu jalan kedesa itu" ujar Dr.Maxwell.

Dr.Maxwell termenung. lalu ia berkata, "Mulai hari ini semua obat keras tidak boleh diletakkan diatas meja. sekarang panggil semua karyawan untuk berkumpul.Kita akan berdo'a." Begitulah semua orang yang bekerja di rumah sakit itu berkumpul dan berdo'a. Dr. maxwell berdo'a, "Tuhan, kami telah membuat kecerobohan. Ampunilah kami.Nyawa seorang ibu sedang terancam. Tolonglah dia, cegahlah dia agar tidak meminum obat yang salah itu......"

Malam harinya Dr. Lin berdinas malam. Ia harus bertanggung jawab atas kematian ibu ini. Esok harinya, ketika masih subuh pintu diketuk. Ternyata itu anak yang kemarin membawa botol yang keliru. Mukanya pucat ketakutan. Dr. Lin juga takut. Kedua orang itu berdiri saling memandang dengan gugup. Kemudian anak ituberkata, "Ma'af dokter. Kemarin saya bawa botol itu sambil berlari, lalu saya jatuh botol itu pecah dan isinya tumpah". Dr. Lin yang masih terpaku karena gugup langsung bertanya, Kapan Jatuhnya? anak itu menjadi makin ketakutan, "Ma'af, dokter. Saya baru datang sekarang. jatuhnya kemarin sore, menjelang gelap," Dr. Lin langsung ingat : Menjelang gelap....itu adalah saat ketika semua karyawan rumah sakit berkumpul mendo'akan ibu anak ini! Jiwa ibu anak ini tertolong, isi botol yang salah itu tidak sampai terminum, karena botol itu pecah ditengah jalan.

Kita bisa lihat peristiwa ini dari sudut si anak. Ia pulang membawa botol obat ini sambil berlari. Ia ingin cepat-cepat memberikan obat ini kepada ibunya.Ia ingin menunjukan baktinya kepada
ibunya. Ia ingin ibunya cepat sembuh. Anak ini tidak mengetahui bahwa botol yang sedang dipegangnya berisi racun. Ia tidak bisa membaca tulisan dibotol itu. Ia buta huruf Anak ini berlari terus. Jalan dari desa ke rumah sakit di kota sangat jauh. Perginya dua jam, pulangnya dua jam. Ia letih. Lalu, tiba-tiba ia tersandung. Ia jatuh. Mungkin Ia terluka, tetapi yang paling celaka: Botolnya jatuh dan pecah, cairan isinya tumpah ditanah. Bayangkan bagaimana perasaan anak itu. Ia kecewa, sedih dan takut.

Bagaimana kalau penyakit ibunya makin parah. Bagaimana kalau dokter itu marah? Anak ini sangat terpukul oleh kejatuhan ini. Saat itu ia belum tahu bahwa justru terjatuhnya dia ini menolong nyawa ibunya. Mungkin orang lain akan ersenyum, "Ah, itu cuma kebetulan," namun
orang percaya akan bersaksi, "Tuhan bisa bekerja melalui sebuah kebetulan," itulah juga kesaksian Rasul Paulus di Roma 8:28 : "....Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia......."

"SEGALA SESUATU" berarti segala keadaan atau segala kejadian, baik berhasil maupun kejatuhan. Kejatuhan dapat berbentuk musibah, penyakit atau kegagalan. Seringkali kita mengira bahwa Allah hanya hadir dan bekerja dalam keberhasilan. Padahal Allah juga hadir dan bekerja dalam kejatuhan. Apa tujuan Allah bekerja dalam kejatuhan?

Paulus menjawab,".. ...untuk mendatangkan KEBAIKAN.... .." Jadi Tuhan dapat mendatangkan kebaikan melalui sebuah kejatuhan.

Tjhin Ce Men

19 November 2007

Hidup Adalah Bagaimana Mengambil Keputusan

Menjadi orang yang berpikir positif

Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, " Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!"

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya. Jerry adalah seorang motivator alami. Jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialaminya.

Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu. Bagaimana kamu dapat melakukannya?"

Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya. Aku selalu memilih sisi positifnya."

"Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu," kata Jerry, "

Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif,Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada didalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut.

Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku? " Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

"Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry. "Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, "Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya. "Disana ada suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry. "Dia bertanya apakah aku punya alergi.

'Ya' jawabku.

Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak,

'Peluru!' Ditengah tertawa mereka aku katakan, ' Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya. Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.


"Life is a matter of making choices. Make up your mind, decide, and be responsible for our own decisions."

14 November 2007

Belajar Dari Ikan Sapu-sapu

Sudah satu minggu ini ikan sapu-sapuku meninggal dunia. Sejak saat dia meninggalkan akuariumku, baru tiga hari saja tidak dibersihkan, lumut pasti akan bermunuculan di akuarium kesayanganku. Aku tidak ada waktu untuk membersihkan lumut-lumut itu dan juga tidak ada waktu untuk membeli ikan sapu-sapu yang baru.

Suatu hari kudapati lumut sudah memenuhi kaca bagian dalam akuariumku. Aku berpikir, ini tidak bisa dibiarkan. Keindahan ikan-ikan kokiku akan tersembunyi jika lumut-lumut itu kurelakan tumbuh dengan sehatnya menemani mereka. Ikan-ikan sapu-sapu, bisa menjadi solusi untuk membantuku membersihkan lumut- lumut itu. Sapu-sapu adalah ikan yang makanan utamanya adalah lumut dalam akuarium atau kolam ikan.

Di sela-sela sempitnya waktuku, sepulang kerja, kuluangkan waktu untuk mampir ke toko ikan dekat rumahku. Aku berkeliling mencari ikan hitam yang tidak menarik dan berkulit kasar itu. Akhirnya kutemukan satu ikan sapu-sapu yang tidak begitu suram kulitnya, walaupun tetap tidak indah dipandang mata dan tetap saja kulitnya akan kasar.

"Berapa Pak, harganya?" tanyaku pada si penjual ikan itu. "Tujuh ratus lima puluh rupiah, Mbak," jawab si penjual itu. Segera kusodorkan uang dan setelah itu langsung kutapakkan kakiku menuju rumah. Ikan sapu-sapu itu lalu aku cemplungkan ke dalam akuarium. Dengan sigap dan bagai habis lepas dari kurungan ikan itu langsung meliuk-liuk. Dan ... betapa senangnya dia menemukan sebuah sisi kaca yang penuh dengan lumut. Ikan itu langsung menempel di kaca penuh lumut tersebut. Tidak peduli dengan ikan-ikan kokiku yang seakan sedang mengerumuni ikan sapu-sapu itu untuk berkenalan.

Lagi-lagi karena tidak ada waktu, ikan itu memang hanya kucemplungkan dulu tanpa kubersihkan akuariumnya. Pikirku weekend nanti pasti aku ada waktu.

Keesokan harinya, saat akan berangkat ke kantor, kusempatkan menyapa ikan-ikan kokiku. Wow, pagi ini mereka tampak begitu indah .... Tapi bukankah memang ikan kokiku itu warnanya indah. Ehhh ... tapi kok lain ya? Warnanya bukan saja indah, tapi begitu bersinar. Terus kuamati ikan-ikan kokiku dengan sirip mereka yang panjang bagaikan kain sutera yang berkibar-kibar seolah ditiup angin. Terus kuperhatikan mereka karena terlalu indah bagiku untuk kutinggalkan.

Saat pandanganku tertuju di pojok akuariumku, ada seekor ikan hitam yang tidak bersinar sama sekali. Dia seolah sedang menepi dalam dunianya sendiri dan takut untuk bergabung dengan koki-koki indah itu.

Aku tersadar .... Ya, ikan-ikan kokiku terlihat begitu indah dan bersinar bukan karena ikan-ikan itu yang berubah, tetapi keadaan di sekitar merekalah yang berubah. Lumut-lumut yang membuat kaca akuariumku buram sudah lenyap! Ya, lenyap! Kaca akuariumku kembali bening sehingga ikan-ikan indahku terlihat semakin indah. Ikan yang tidak menarik yang kubeli kemarin dengan harga murah itu telah melahap habis lumur-lumut itu. Memang untuk itulah ikan itu kubeli, tetapi aku tidak tahu akan mendapat ketakjuban yang luar biasa seperti ini.

Kupandangi kembali ikan hitam yang sedang menyendiri itu. Dia yang tidak menarik itu telah membuat sesuatu yang indah untukku pagi ini.

Ikan sapu-sapu sangatlah tidak menarik. Dia tidak punya kelebihan fisik yang dapat dibanggakan. Harganya pun sangat murah. Tetapi, TUHAN memberikan kelebihan luar biasa pada dia. Dia dapat membersihkan permukaan kaca yang begitu kotor menjadi bening kembali. Itulah yang membuat ikan sapu-sapu begitu dicari-cari oleh siapa saja yang ingin akuarium atau kolam ikannya terbebas dari lumut.

Aku ingat diriku. Begitu banyak protesku pada TUHAN karena merasa aku tidak memiliki kelebihan dari segala sisi. TUHAN memakai ikan kecil itu untuk menyadarkan aku, "KU-ciptakan dirimu bukan untuk hal yang tidak berguna. Kau ada di dunia ini karena kau berarti bagi-KU, untuk melakukan hal-hal besar bagi-KU!"

Aku masih terpaku di depan akuariumku. Aku masih menatap ikan kecil yang tidak menarik itu. Aku seperti menatap diriku. Hari ini TUHAN memberikan aku pelajaran indah dari seekor ikan. Hari ini, TUHAN tidak ingin aku semakin tenggelam dalam pencarian arti hidupku di dunia ini.

Aku berarti bagi-NYA, aku berharga bagi-NYA. Dalam pandangan mata aku memang tidak semenarik mereka yang ada di sekelilingku, tetapi ada hal istimewa yang TUHAN berikan padaku, dan aku yakin itu akan jadi berkat bagi banyak orang, karena TUHAN yang menganugerahkannya. Aku beranjak dari depan akuariumku. Jam di tanganku sudah menunjukkan waktu untuk segera berangkat ke kantor. Semangatku menapaki hari-hari ke depan kembali menyala. Kuucapkan syukur untuk semua pelajaran indah ini.

Terima kasih TUHAN! Terima kasih ikan sapu-sapuku!

Mengucap Syukurlah Dalam Segala Hal!

Ada satu cerita…Seorang bapak dirawat di RS karena tangannya patah, dilawat oleh Pendeta Gerejanya, lalu ia mengeluh tentang kenapa orang2 yang korupsi itu kok bisa hidup enak tanpa ditegur Tuhan, sedangkan dia yang cuma mencuri ayam kok “ditegur” Tuhan karena tangannya patah.

Lalu Pendeta itu tersenyum dan berkata, Coba bapak bayangkan anak bapak berkelahi di sekolah, apa yang akan bapak lakukan terhadap anak bapak itu? Bapak akan memukul anak bapak itu supaya dia kapok dan tidak berkelahi lagi bukan?”

“iya, tentu saja” jawab bapak itu.


“Lalu apa yang akan bapak lakukan terhadap anak yang
menjadi lawan berkelahi anak bapak?”

“Ya, tidak akan saya apa2kan”

”Lho, mengapa tidak bapak pukul juga dia?”


”Ya engga lah, diakan bukan anak saya”


Lalu Pendeta itu berkata “nah, itulah sebabnya bapak harus mengucap syukur, bapak ditegur oleh Tuhan karena Tuhan masih mengasihi bapak sebagai anak-Nya, justru bapak semestinya merasa khawatir kalau kita melakukan banyak sekali hal2 yang buruk tanpa adanya “teguran” dari Tuhan”

The point is :
MENGUCAP SYUKURLAH DALAM SEGALA HAL!!!

Jangan cuma kalau kita sedang sukses, mendapat berkat baru berucap syukur, sedangkan kalau kita sedang mengalami kegagalan atau sedang mengalami sakit dan penderitaan, kita malah bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan… segala "teguran" itu haruslah kita syukuri karena itu berarti Tuhan masih menganggap kita sebagai anakNya dan masih memberikan kita kesempatan untuk bertobat. Jangan sampai nanti tiba waktu kedatanganNya yang kedua kali, kita tidak siap. Jalanilah hari-harimu dengan menganggap bahwa pada hari esok Tuhan akan datang.

13 November 2007

I Saw JESUS

Teman-teman terkasih,

Bulan Februari 2005 ini saya memiliki satu beban dan satu utang yang rasanya menjadi pikiran saya terus-menerus. Satu tahun berlalu dimana saya mengalami sebuah pengalaman yang luarbiasa buat saya. Dalam pengalaman itu saya berjumpa dengan Tuhan Yesus, muka dengan muka.

Tapi saya sangat ragu-ragu untuk mensharingkan pengalaman ini. Hanya setelah menunggu satu tahun, dan mereview berulang-ulang, saya berani mendraft tulisan kesaksian ini. Tahun 2004 itu saya menulis di milis Ayahbunda bahwa saya tergeletak sakit dirawat di RS UKI. Hanya saya tidak menulis bahwa disana saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Pengalaman yang saya tulis ini benar terjadi. Saya tidak berani menambahkan atau mengurangi, sebab kita akan berdiri di depan pengadilan Tuhan Yesus untuk mempertanggungjawabkan semua yang kita jalani di bumi. Dan pengalaman ini hanyalah untuk saya sendiri, tidak boleh dimutlakkan menjadi doktrin. Sebab semua pengajaran harus berdasarkan pada Alkitab saja.

[Tuhan Yesus, ampuni saya. Karena saya menunda janji yang saya ucapkan ini. Mohon ampun Tuhan]

---

Sebelum Februari 2004, saya menganggap diri saya adalah seorang Kristen yang baik. Saya merasa cukup rajin ke gereja [Gereja Kristen Pasundan dan GKI Depok] dan sangat aktif di milis-milis Kristen sebagai pelayanan yang saya pilih. Namun saya punya satu problem besar yang kelak akan mengubah hidup saya. Sesungguhnya saya TIDAK YAKIN bahwa dosa saya telah ditebus dan saya SUDAH SELAMAT ketika mengaku percaya kepada Yesus Kristus!

Setiap hari saya bertanya, kalau saya mati sekarang...kemana saya pergi ? Apakah betul Yesus ini satu-satunya jalan menuju surga ? Jangan-jangan saya sekarang berpikir seperti ini ternyata salah. Jangan-jangan jalan saya menuju neraka, sebab saya bukan orang pilihan dan saya akan dibakar di neraka. Pikiran-pikiran ini sangat merongrong saya, dan saya tidak berani menanyakan hal ini ke milis-milis Kristen. Saya hanya dapat mencari-cari tulisan di internet. Puji Tuhan, saya bekerja di perusahaan network integrator yang menyediakan akses internet 24 jam. Sehingga saya bebas meluncur di internet mencari artikel-artikel untuk *mengobati* iman saya yang sakit karena tidak percaya.

Saya yakin di antara teman-teman saat ini pasti ada yang seperti saya. Tidak yakin akan keselamatan anda, padahal anda telah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus !.

Berhari-hari saya menjelajahi artikel-artikel yang keras, di antaranya adalah situs GKRI Exodus yang beraliran reformed ketat. Salah satu artikel yang saya baca berulang-ulang adalah mengenai "Bisakah orang Kristen kehilangan keselamatan ?". Dan tulisan yang menggetarkan hati saya adalah ketika Pdt Budi Asali MDiv mengatakan, kalau anda masih tidak yakin akan keselamatan anda maka ada masalah pada iman anda.

Karena kegundahan dalam diri saya [akibat tidak tahu apakah saya ini selamat atau tidak], saya pernah menulis email kepada Pdt Budi Asali meminta pertimbangan kalau saya keluar dari pekerjaan ini dan sekolah teologi untuk jadi pelayan Tuhan fulltime. Jawaban beliau, tidak semua orang Tuhan panggil untuk pelayanan fulltime. Saya makin bingung dengan keadaan diri saya.

---

Awal Februari 2004, saya menderita panas tinggi. Istri saya langsung meminta saya masuk ke Unit Gawat Darurat RS UKI. Sebab waktu itu banyak gejala Demam Berdarah melanda Jakarta, pemerintah Megawati mengatakan ini sudah wabah nasional. Jangan-jangan saya kena Demam Berdarah. Saya masuk perawatan di UKI dengan jaminan Asuransi CAR yang diberikan kantor. Dan mendapat ruang yang saya tempati sendiri di bagian Merpati.

Saya diinfus, dan selama beberapa hari panas saya naik turun. Dan kira-kira setelah 4 hari saya merasa badan saya sudah enak walau masih demam. Hari itu adalah hari Minggu, dan saya berpikir besok Senin saya akan minta dr Gultom untuk memberikan surat agar saya bisa keluar hari Selasa.

Sore hari, setelah mandi pancuran air panas, saya berbaring lagi. Istri dan anak saya Willie menemani sambil nonton TV. Tiba-tiba badan saya rasanya dingin dan menggigil. Kaki saya tiba-tiba rasanya kaku, tapi walau kaku bisa menggigil dengan kuat. Dan kaki ini seperti bergerak-gerak sendiri.

Dengan panik, istri saya memanggil suster. Suster hanya mengatakan bahwa saya akan naik panas. Dan efek menggigil ini sudah biasa terjadi. Saya hanya diselimuti tanpa diberi obat apapun. Badan saya sudah terguncang-guncang karena menggigil, dan saya sudah berteriak-teriak "Tuhan Yesus tolong saya, Tuhan Yesus tolong saya !".

Saat itu saya merasa leher saya seperti dicekik oleh sesuatu yang tidak kelihatan, dan saya tidak bisa bernapas. Istri saya melihat wajah saya sudah mulai biru, sementara bagian kaki sudah kaku. Maut telah datang menghampiri saya.

Para suster berkerumun di sekitar saya, dan seorang laki-laki [mantri] dipanggil. Saya tidak tahu pada saat itu mereka berpikir saya sedang 'dirasuki' oleh roh jahat. Saya ditanya nama saya, siapa nama istri saya, dengan kesal saya jawab sambil teriak-teriak. Dan saya usir mereka dari sisi tempat tidur saya. Mereka semua berkumpul dekat pintu. Mereka tidak tahu harus melakukan apa, dan suster senior cuma bertanya apa yang saya rasakan saat itu. Padahal napas saya sudah terhenti beberapa menit, dan saya cuma bisa menunggu maut. Saat itu saya sudah tidak mampu bicara lagi. Saya hanya tersenggal-senggal dengan mata menatap ke langit-langit.

Saya cuma bisa menggunakan pikiran saya. Dan dengan pikiran itu, saya mencoba berkomunikasi dengan Tuhan di akhir hidup saya. "Tuhan Yesus, saya percaya kepadaMu. Tolong saya Tuhan. Tambahkan hidup saya, jangan saya dipanggil sekarang. Beban Lisa sangat berat bila saya tinggal sekarang". Saya terus-menerus melontarkan pikiran seperti itu, minta Tuhan menambahkan usia saya.

Di sisi kiri atas saya, rasanya sudah terbuka sebuah dunia lain. Penuh kegelapan. Saya berpikir ini mungkin lorong orang mati. Saat itu pikiran saya yang merongrong, datang kembali. Apakah saya ini adalah musuh Tuhan ? Apakah saya akan dihukum di hadirat Tuhan ? Tuhan ampuni saya, saya tidak mau mati saat ini, ampuni dosa-dosa saya Tuhan.

Gelisah menghadapi kematian menghantui saya. Rasanya dunia yang satu lagi, yaitu dunia orang mati, sudah terbuka. Dan saya mulai dapat melihat dunia yang samar-samar itu.

Entah mulai kapan, saya merasa ada Orang yang sedang menghampiri saya dari sisi atas kanan. Orang-orang di ruangan itu pasti tidak melihat apa yang saya lihat. Saya memicingkan mata, sambil masih tetap melihat ruangan di RS UKI, saya melihat siluet terang Seorang yang berambut panjang seperti orang barat. Bagian wajahNya gelap, saya tidak bisa lihat, tapi sisi luar mukaNya terang sekali. Seluruh diri saya, pikiran saya dan jiwa saya tiba-tiba TAHU bahwa yang datang adalah Tuhan Yesus sendiri. Entah bagaimana saya dilimpahi pengetahuan bahwa itu Tuhan, tidak salah lagi. Tapi yang pasti saya langsung TAHU bahwa itu DIA. Dan saya bicara dengan Dia dengan pikiran.

Saat itu saya tidak merasa takut. Heran sekali. Tadinya saya takut mati, dan takut dihukum Tuhan. Tapi sekarang, muka bertemu muka, sepertinya biasa saja. Tidak takut apa-apa.

"Pikiran" Tuhan mengatakan kepada saya bahwa saya harus mengucapkan Iman saya di depan orang-orang ini [keluarga, suster dan dokter]. Saya harus mengakui bahwa saya ada masalah dengan iman saya yang tidak percaya kepada Tuhan.

Saya menjawab "pikiran" Tuhan dengan "pikiran" saya. Dan herannya, saya saat itu sangat kurang ajar ketika bicara dengan Tuhan. Kata saya -- Tuhan, memang saya sekarang nggak bisa ngomong, napas tinggal satu-satu, leher tercekik maut. Tapi kalau saya katakan bahwa saya melihat Tuhan, dan mengaku iman, mereka akan menyangka saya sudah gila.

Jadi saat itu saya diam saja, sambil merasakan sakit di leher, dan napas yang sudah hilang beberapa menit lalu. Saya lebih takut dibilang gila daripada mengerjakan perkataan Tuhan. Tuhan masih menatap saya, dan tiba-tiba wajah Tuhan naik ke atas, perlahan-lahan meninggalkan saya.

Jiwa saya mengatakan bahwa saya dalam bahaya!. Saya baru menolak Tuhan!. Tangan kanan saya, saya acungkan ke atas berusaha menahan Tuhan naik ke atas. Istri saya dengan bingung, melihat saya menggapai-gapai udara seperti sedang mengambil sesuatu.

Dengan tenaga terakhir, saya nekat mau mengaku iman saya di depan semua orang ini, dan di depan Tuhan juga. Biar deh dianggap gila, itu masalah belakangan. Dan akhirnya saya bangun di atas tempat tidur.

"Dokter !", teriak saya. Heran juga, kenapa tiba-tiba cekikan leher ini agak merenggang sedikit, sehingga saya bisa bernapas dan bicara. Saya lihat wajah siluet Tuhan Yesus berpindah ke sisi kiri saya. Saya bingung mau bicara apa ? Saya diam. Dan semua orang menunggu saya.

Tiba-tiba saya melihat dekat wajah Tuhan Yesus, ada tulisan di udara [dalam bahasa Indonesia]. Ternyata Tuhan membantu saya untuk mengucapkan kata-kata. "Dokter, saya punya masalah dengan iman. Selama ini saya tidak percaya bahwa sudah selamat".

Semua melihat saya dengan bingung. Saya melanjutkan, "Saat ini Tuhan Yesus sedang berdiri di dekat saya. Dokter harus percaya. Tuhan menuliskan apa yang saya harus ucapkan". Saya melihat Tuhan Yesus menulis sesuatu yang merupakan ujian bagi kehadiran diriNya. "Tuhan tahu dokter tidak percaya, karena itu pikirkan satu kata di dalam hati anda dan saya akan mengucapkan apa yang anda pikir".

Tiba-tiba saya melihat di dada dokter jaga itu ada tulisan melayang bertuliskan "doa" dan pada saat yang bersamaan saya melihat di dada adik saya Ferdy ada tulisan "kakak saya sudah gila".

Saya katakan, "dokter baru berpikir DOA. Dan dik Ferdy berpikir bahwa saya sudah gila, benar tidak dik ?". Ferdy ketakutan, dan menjawab "nggak kok mas". Saya bantah, "Dik, saya baca sendiri pikiran kamu, Tuhan yang menunjukkan pada saya". Akhirnya dia mengaku, "benar mas, saya pikir mas gila".

Saya merasa orang-orang disitu sudah yakin akan kehadiran Tuhan Yesus yang tidak kelihatan oleh mereka. Saya melanjutkan membaca tulisan yang diberikan Tuhan Yesus. "Saya mau mengaku iman saya". Demikian saya membaca satu persatu bayangan tulisan itu. "Saya mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, dan MUNGKIN saya sudah diselamatkan". Padahal Tuhan tidak mengatakan MUNGKIN, tapi saya sengaja menambahkan kata itu dalam pengakuan iman saya. Sebab pemikiran tidak selamat itu masih menghantui saya.

Akibatnya sangat dahsyat, leher saya rasanya dicekik kembali dengan kuat oleh kuasa maut. Rupanya saya nggak boleh mengatakan MUNGKIN, tapi SUDAH !. Maka segera saya meralat, "SAYA SUDAH DISELAMATKAN". Dan leher saya bebas bernapas kembali. Berarti saya sudah mengucapkan maksud Tuhan dengan benar.

Lalu ada perkataan Tuhan lagi yang harus saya ucapkan, "Dan saat ini saya SUDAH sembuh !". Maka siluet wajah Tuhan Yesus menghilang. Saya ambruk ke tempat tidur, dan berkeringat deras sekali. Dokter jaga lalu memberikan suntikan penenang di paha kanan saya. Istri saya menanyakan keadaan saya seperti sedang bicara kepada orang yang tidak waras. Situasi menjadi aneh sekali. Tapi sekarang saya sudah tidak tercekik lagi.

Terima kasih Tuhan. Saya hidup lagi !.

Maka saya segera tidur, sambil badan tetap berkeringat.

---

Esoknya situasi sudah normal. Saya sudah tidak dilihat sebagai orang aneh lagi. Dik Ferdy mengatakan bahwa dia berdoa tadi malam, sebagai bukti kalau memang Tuhan datang -- Ferdy minta saya sembuh hari itu juga dan tidak panas lagi. Dan rupanya terbukti, selama hari itu saya tidak panas dan segar. Dokter Gultom yang tidak tahu kejadian malam tsb, mengijinkan saya pulang Selasa.

Bukti bahwa saya bertemu Tuhan muka dengan muka, dibuktikan dengan kesembuhan mendadak itu. Hasil lab menunjukkan saya tidak kena demam berdarah, tapi mungkin ada virus lain.

PENUTUP

Beberapa hari setelahnya, saya masih diliputi pikiran perjumpaan dengan Tuhan Yesus itu. Saya memuji Tuhan dan bersyukur, berapa orang di dunia ini yang mengucapkan iman langsung di depan Tuhan Yesus ? Saya adalah salah seorang yang sedikit itu. Ini adalah anugerah dari Tuhan yang tidak boleh saya sombongkan.

Dan saya sadar bahwa KETIDAKPERCAYAAN saya akan KESELAMATAN, merupakan hal yang sangat tidak disukai Tuhan. Firman Tuhan di bawah ini tergiang-ngiang di jiwa saya setiap hari :

Matius 10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Jadi pengakuan iman [sidi] dengan mulut itu sangat penting !. Kita harus berani mengakui Tuhan, maka Tuhan akan mengakui kita di depan Bapa.

Buat teman-teman yang sampai sekarang masih TIDAK PERCAYA bahwa engkau sudah diselamatkan dan pasti masuk surga, padahal sudah percaya kepada Tuhan Yesus-- saya harap pengalaman ini bisa jadi pemikiran buat anda. Jangan sampai engkau menghina Tuhan yang sudah menebus engkau dengan darahNya di kayu salib. Tuhan menebus engkau, dan engkau masih tidak percaya bahwa engkau sudah selamat, artinya engkau sudah menghina Tuhan. Percayalah bahwa ketika engkau percaya kepada Tuhan Yesus, maka detik itu juga engkau sudah selamat dan pasti masuk surga.

Tuhan Yesus memberkati teman-teman sekalian.

oleh : Dwi Malistyo

12 November 2007

Dua Pilihan

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? '

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku, "Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan
mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak
beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan
mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju
kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher. Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati
baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya. Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan
canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga. Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan
berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang
berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut
dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan
dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp
pikir panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward email ini,
kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup
setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan bagi kita: Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

10 November 2007

Doa Sang Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil Balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya. Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri. Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap Anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan Tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!". Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala Itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa Kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.


***
Teman, anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Tuhanuntuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, Dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat Perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang saleh.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua. Amin.

08 November 2007

Apakah TUHAN Menciptakan Kejahatan?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.