Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." - Matius 5:2-12

14 November 2007

Mengucap Syukurlah Dalam Segala Hal!

Ada satu cerita…Seorang bapak dirawat di RS karena tangannya patah, dilawat oleh Pendeta Gerejanya, lalu ia mengeluh tentang kenapa orang2 yang korupsi itu kok bisa hidup enak tanpa ditegur Tuhan, sedangkan dia yang cuma mencuri ayam kok “ditegur” Tuhan karena tangannya patah.

Lalu Pendeta itu tersenyum dan berkata, Coba bapak bayangkan anak bapak berkelahi di sekolah, apa yang akan bapak lakukan terhadap anak bapak itu? Bapak akan memukul anak bapak itu supaya dia kapok dan tidak berkelahi lagi bukan?”

“iya, tentu saja” jawab bapak itu.


“Lalu apa yang akan bapak lakukan terhadap anak yang
menjadi lawan berkelahi anak bapak?”

“Ya, tidak akan saya apa2kan”

”Lho, mengapa tidak bapak pukul juga dia?”


”Ya engga lah, diakan bukan anak saya”


Lalu Pendeta itu berkata “nah, itulah sebabnya bapak harus mengucap syukur, bapak ditegur oleh Tuhan karena Tuhan masih mengasihi bapak sebagai anak-Nya, justru bapak semestinya merasa khawatir kalau kita melakukan banyak sekali hal2 yang buruk tanpa adanya “teguran” dari Tuhan”

The point is :
MENGUCAP SYUKURLAH DALAM SEGALA HAL!!!

Jangan cuma kalau kita sedang sukses, mendapat berkat baru berucap syukur, sedangkan kalau kita sedang mengalami kegagalan atau sedang mengalami sakit dan penderitaan, kita malah bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan… segala "teguran" itu haruslah kita syukuri karena itu berarti Tuhan masih menganggap kita sebagai anakNya dan masih memberikan kita kesempatan untuk bertobat. Jangan sampai nanti tiba waktu kedatanganNya yang kedua kali, kita tidak siap. Jalanilah hari-harimu dengan menganggap bahwa pada hari esok Tuhan akan datang.

13 November 2007

I Saw JESUS

Teman-teman terkasih,

Bulan Februari 2005 ini saya memiliki satu beban dan satu utang yang rasanya menjadi pikiran saya terus-menerus. Satu tahun berlalu dimana saya mengalami sebuah pengalaman yang luarbiasa buat saya. Dalam pengalaman itu saya berjumpa dengan Tuhan Yesus, muka dengan muka.

Tapi saya sangat ragu-ragu untuk mensharingkan pengalaman ini. Hanya setelah menunggu satu tahun, dan mereview berulang-ulang, saya berani mendraft tulisan kesaksian ini. Tahun 2004 itu saya menulis di milis Ayahbunda bahwa saya tergeletak sakit dirawat di RS UKI. Hanya saya tidak menulis bahwa disana saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Pengalaman yang saya tulis ini benar terjadi. Saya tidak berani menambahkan atau mengurangi, sebab kita akan berdiri di depan pengadilan Tuhan Yesus untuk mempertanggungjawabkan semua yang kita jalani di bumi. Dan pengalaman ini hanyalah untuk saya sendiri, tidak boleh dimutlakkan menjadi doktrin. Sebab semua pengajaran harus berdasarkan pada Alkitab saja.

[Tuhan Yesus, ampuni saya. Karena saya menunda janji yang saya ucapkan ini. Mohon ampun Tuhan]

---

Sebelum Februari 2004, saya menganggap diri saya adalah seorang Kristen yang baik. Saya merasa cukup rajin ke gereja [Gereja Kristen Pasundan dan GKI Depok] dan sangat aktif di milis-milis Kristen sebagai pelayanan yang saya pilih. Namun saya punya satu problem besar yang kelak akan mengubah hidup saya. Sesungguhnya saya TIDAK YAKIN bahwa dosa saya telah ditebus dan saya SUDAH SELAMAT ketika mengaku percaya kepada Yesus Kristus!

Setiap hari saya bertanya, kalau saya mati sekarang...kemana saya pergi ? Apakah betul Yesus ini satu-satunya jalan menuju surga ? Jangan-jangan saya sekarang berpikir seperti ini ternyata salah. Jangan-jangan jalan saya menuju neraka, sebab saya bukan orang pilihan dan saya akan dibakar di neraka. Pikiran-pikiran ini sangat merongrong saya, dan saya tidak berani menanyakan hal ini ke milis-milis Kristen. Saya hanya dapat mencari-cari tulisan di internet. Puji Tuhan, saya bekerja di perusahaan network integrator yang menyediakan akses internet 24 jam. Sehingga saya bebas meluncur di internet mencari artikel-artikel untuk *mengobati* iman saya yang sakit karena tidak percaya.

Saya yakin di antara teman-teman saat ini pasti ada yang seperti saya. Tidak yakin akan keselamatan anda, padahal anda telah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus !.

Berhari-hari saya menjelajahi artikel-artikel yang keras, di antaranya adalah situs GKRI Exodus yang beraliran reformed ketat. Salah satu artikel yang saya baca berulang-ulang adalah mengenai "Bisakah orang Kristen kehilangan keselamatan ?". Dan tulisan yang menggetarkan hati saya adalah ketika Pdt Budi Asali MDiv mengatakan, kalau anda masih tidak yakin akan keselamatan anda maka ada masalah pada iman anda.

Karena kegundahan dalam diri saya [akibat tidak tahu apakah saya ini selamat atau tidak], saya pernah menulis email kepada Pdt Budi Asali meminta pertimbangan kalau saya keluar dari pekerjaan ini dan sekolah teologi untuk jadi pelayan Tuhan fulltime. Jawaban beliau, tidak semua orang Tuhan panggil untuk pelayanan fulltime. Saya makin bingung dengan keadaan diri saya.

---

Awal Februari 2004, saya menderita panas tinggi. Istri saya langsung meminta saya masuk ke Unit Gawat Darurat RS UKI. Sebab waktu itu banyak gejala Demam Berdarah melanda Jakarta, pemerintah Megawati mengatakan ini sudah wabah nasional. Jangan-jangan saya kena Demam Berdarah. Saya masuk perawatan di UKI dengan jaminan Asuransi CAR yang diberikan kantor. Dan mendapat ruang yang saya tempati sendiri di bagian Merpati.

Saya diinfus, dan selama beberapa hari panas saya naik turun. Dan kira-kira setelah 4 hari saya merasa badan saya sudah enak walau masih demam. Hari itu adalah hari Minggu, dan saya berpikir besok Senin saya akan minta dr Gultom untuk memberikan surat agar saya bisa keluar hari Selasa.

Sore hari, setelah mandi pancuran air panas, saya berbaring lagi. Istri dan anak saya Willie menemani sambil nonton TV. Tiba-tiba badan saya rasanya dingin dan menggigil. Kaki saya tiba-tiba rasanya kaku, tapi walau kaku bisa menggigil dengan kuat. Dan kaki ini seperti bergerak-gerak sendiri.

Dengan panik, istri saya memanggil suster. Suster hanya mengatakan bahwa saya akan naik panas. Dan efek menggigil ini sudah biasa terjadi. Saya hanya diselimuti tanpa diberi obat apapun. Badan saya sudah terguncang-guncang karena menggigil, dan saya sudah berteriak-teriak "Tuhan Yesus tolong saya, Tuhan Yesus tolong saya !".

Saat itu saya merasa leher saya seperti dicekik oleh sesuatu yang tidak kelihatan, dan saya tidak bisa bernapas. Istri saya melihat wajah saya sudah mulai biru, sementara bagian kaki sudah kaku. Maut telah datang menghampiri saya.

Para suster berkerumun di sekitar saya, dan seorang laki-laki [mantri] dipanggil. Saya tidak tahu pada saat itu mereka berpikir saya sedang 'dirasuki' oleh roh jahat. Saya ditanya nama saya, siapa nama istri saya, dengan kesal saya jawab sambil teriak-teriak. Dan saya usir mereka dari sisi tempat tidur saya. Mereka semua berkumpul dekat pintu. Mereka tidak tahu harus melakukan apa, dan suster senior cuma bertanya apa yang saya rasakan saat itu. Padahal napas saya sudah terhenti beberapa menit, dan saya cuma bisa menunggu maut. Saat itu saya sudah tidak mampu bicara lagi. Saya hanya tersenggal-senggal dengan mata menatap ke langit-langit.

Saya cuma bisa menggunakan pikiran saya. Dan dengan pikiran itu, saya mencoba berkomunikasi dengan Tuhan di akhir hidup saya. "Tuhan Yesus, saya percaya kepadaMu. Tolong saya Tuhan. Tambahkan hidup saya, jangan saya dipanggil sekarang. Beban Lisa sangat berat bila saya tinggal sekarang". Saya terus-menerus melontarkan pikiran seperti itu, minta Tuhan menambahkan usia saya.

Di sisi kiri atas saya, rasanya sudah terbuka sebuah dunia lain. Penuh kegelapan. Saya berpikir ini mungkin lorong orang mati. Saat itu pikiran saya yang merongrong, datang kembali. Apakah saya ini adalah musuh Tuhan ? Apakah saya akan dihukum di hadirat Tuhan ? Tuhan ampuni saya, saya tidak mau mati saat ini, ampuni dosa-dosa saya Tuhan.

Gelisah menghadapi kematian menghantui saya. Rasanya dunia yang satu lagi, yaitu dunia orang mati, sudah terbuka. Dan saya mulai dapat melihat dunia yang samar-samar itu.

Entah mulai kapan, saya merasa ada Orang yang sedang menghampiri saya dari sisi atas kanan. Orang-orang di ruangan itu pasti tidak melihat apa yang saya lihat. Saya memicingkan mata, sambil masih tetap melihat ruangan di RS UKI, saya melihat siluet terang Seorang yang berambut panjang seperti orang barat. Bagian wajahNya gelap, saya tidak bisa lihat, tapi sisi luar mukaNya terang sekali. Seluruh diri saya, pikiran saya dan jiwa saya tiba-tiba TAHU bahwa yang datang adalah Tuhan Yesus sendiri. Entah bagaimana saya dilimpahi pengetahuan bahwa itu Tuhan, tidak salah lagi. Tapi yang pasti saya langsung TAHU bahwa itu DIA. Dan saya bicara dengan Dia dengan pikiran.

Saat itu saya tidak merasa takut. Heran sekali. Tadinya saya takut mati, dan takut dihukum Tuhan. Tapi sekarang, muka bertemu muka, sepertinya biasa saja. Tidak takut apa-apa.

"Pikiran" Tuhan mengatakan kepada saya bahwa saya harus mengucapkan Iman saya di depan orang-orang ini [keluarga, suster dan dokter]. Saya harus mengakui bahwa saya ada masalah dengan iman saya yang tidak percaya kepada Tuhan.

Saya menjawab "pikiran" Tuhan dengan "pikiran" saya. Dan herannya, saya saat itu sangat kurang ajar ketika bicara dengan Tuhan. Kata saya -- Tuhan, memang saya sekarang nggak bisa ngomong, napas tinggal satu-satu, leher tercekik maut. Tapi kalau saya katakan bahwa saya melihat Tuhan, dan mengaku iman, mereka akan menyangka saya sudah gila.

Jadi saat itu saya diam saja, sambil merasakan sakit di leher, dan napas yang sudah hilang beberapa menit lalu. Saya lebih takut dibilang gila daripada mengerjakan perkataan Tuhan. Tuhan masih menatap saya, dan tiba-tiba wajah Tuhan naik ke atas, perlahan-lahan meninggalkan saya.

Jiwa saya mengatakan bahwa saya dalam bahaya!. Saya baru menolak Tuhan!. Tangan kanan saya, saya acungkan ke atas berusaha menahan Tuhan naik ke atas. Istri saya dengan bingung, melihat saya menggapai-gapai udara seperti sedang mengambil sesuatu.

Dengan tenaga terakhir, saya nekat mau mengaku iman saya di depan semua orang ini, dan di depan Tuhan juga. Biar deh dianggap gila, itu masalah belakangan. Dan akhirnya saya bangun di atas tempat tidur.

"Dokter !", teriak saya. Heran juga, kenapa tiba-tiba cekikan leher ini agak merenggang sedikit, sehingga saya bisa bernapas dan bicara. Saya lihat wajah siluet Tuhan Yesus berpindah ke sisi kiri saya. Saya bingung mau bicara apa ? Saya diam. Dan semua orang menunggu saya.

Tiba-tiba saya melihat dekat wajah Tuhan Yesus, ada tulisan di udara [dalam bahasa Indonesia]. Ternyata Tuhan membantu saya untuk mengucapkan kata-kata. "Dokter, saya punya masalah dengan iman. Selama ini saya tidak percaya bahwa sudah selamat".

Semua melihat saya dengan bingung. Saya melanjutkan, "Saat ini Tuhan Yesus sedang berdiri di dekat saya. Dokter harus percaya. Tuhan menuliskan apa yang saya harus ucapkan". Saya melihat Tuhan Yesus menulis sesuatu yang merupakan ujian bagi kehadiran diriNya. "Tuhan tahu dokter tidak percaya, karena itu pikirkan satu kata di dalam hati anda dan saya akan mengucapkan apa yang anda pikir".

Tiba-tiba saya melihat di dada dokter jaga itu ada tulisan melayang bertuliskan "doa" dan pada saat yang bersamaan saya melihat di dada adik saya Ferdy ada tulisan "kakak saya sudah gila".

Saya katakan, "dokter baru berpikir DOA. Dan dik Ferdy berpikir bahwa saya sudah gila, benar tidak dik ?". Ferdy ketakutan, dan menjawab "nggak kok mas". Saya bantah, "Dik, saya baca sendiri pikiran kamu, Tuhan yang menunjukkan pada saya". Akhirnya dia mengaku, "benar mas, saya pikir mas gila".

Saya merasa orang-orang disitu sudah yakin akan kehadiran Tuhan Yesus yang tidak kelihatan oleh mereka. Saya melanjutkan membaca tulisan yang diberikan Tuhan Yesus. "Saya mau mengaku iman saya". Demikian saya membaca satu persatu bayangan tulisan itu. "Saya mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, dan MUNGKIN saya sudah diselamatkan". Padahal Tuhan tidak mengatakan MUNGKIN, tapi saya sengaja menambahkan kata itu dalam pengakuan iman saya. Sebab pemikiran tidak selamat itu masih menghantui saya.

Akibatnya sangat dahsyat, leher saya rasanya dicekik kembali dengan kuat oleh kuasa maut. Rupanya saya nggak boleh mengatakan MUNGKIN, tapi SUDAH !. Maka segera saya meralat, "SAYA SUDAH DISELAMATKAN". Dan leher saya bebas bernapas kembali. Berarti saya sudah mengucapkan maksud Tuhan dengan benar.

Lalu ada perkataan Tuhan lagi yang harus saya ucapkan, "Dan saat ini saya SUDAH sembuh !". Maka siluet wajah Tuhan Yesus menghilang. Saya ambruk ke tempat tidur, dan berkeringat deras sekali. Dokter jaga lalu memberikan suntikan penenang di paha kanan saya. Istri saya menanyakan keadaan saya seperti sedang bicara kepada orang yang tidak waras. Situasi menjadi aneh sekali. Tapi sekarang saya sudah tidak tercekik lagi.

Terima kasih Tuhan. Saya hidup lagi !.

Maka saya segera tidur, sambil badan tetap berkeringat.

---

Esoknya situasi sudah normal. Saya sudah tidak dilihat sebagai orang aneh lagi. Dik Ferdy mengatakan bahwa dia berdoa tadi malam, sebagai bukti kalau memang Tuhan datang -- Ferdy minta saya sembuh hari itu juga dan tidak panas lagi. Dan rupanya terbukti, selama hari itu saya tidak panas dan segar. Dokter Gultom yang tidak tahu kejadian malam tsb, mengijinkan saya pulang Selasa.

Bukti bahwa saya bertemu Tuhan muka dengan muka, dibuktikan dengan kesembuhan mendadak itu. Hasil lab menunjukkan saya tidak kena demam berdarah, tapi mungkin ada virus lain.

PENUTUP

Beberapa hari setelahnya, saya masih diliputi pikiran perjumpaan dengan Tuhan Yesus itu. Saya memuji Tuhan dan bersyukur, berapa orang di dunia ini yang mengucapkan iman langsung di depan Tuhan Yesus ? Saya adalah salah seorang yang sedikit itu. Ini adalah anugerah dari Tuhan yang tidak boleh saya sombongkan.

Dan saya sadar bahwa KETIDAKPERCAYAAN saya akan KESELAMATAN, merupakan hal yang sangat tidak disukai Tuhan. Firman Tuhan di bawah ini tergiang-ngiang di jiwa saya setiap hari :

Matius 10:32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Jadi pengakuan iman [sidi] dengan mulut itu sangat penting !. Kita harus berani mengakui Tuhan, maka Tuhan akan mengakui kita di depan Bapa.

Buat teman-teman yang sampai sekarang masih TIDAK PERCAYA bahwa engkau sudah diselamatkan dan pasti masuk surga, padahal sudah percaya kepada Tuhan Yesus-- saya harap pengalaman ini bisa jadi pemikiran buat anda. Jangan sampai engkau menghina Tuhan yang sudah menebus engkau dengan darahNya di kayu salib. Tuhan menebus engkau, dan engkau masih tidak percaya bahwa engkau sudah selamat, artinya engkau sudah menghina Tuhan. Percayalah bahwa ketika engkau percaya kepada Tuhan Yesus, maka detik itu juga engkau sudah selamat dan pasti masuk surga.

Tuhan Yesus memberkati teman-teman sekalian.

oleh : Dwi Malistyo

12 November 2007

Dua Pilihan

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? '

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku, "Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan
mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak
beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan
mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju
kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher. Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati
baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya. Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan
canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga. Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan
berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang
berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut
dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan
dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp
pikir panjang, namun bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward email ini,
kemungkinannya Anda akan memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda email ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup
setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan bagi kita: Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

10 November 2007

Doa Sang Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil Balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya. Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri. Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap Anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan Tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!". Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala Itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa Kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?". Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.


***
Teman, anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan utuk berdoa pada Tuhanuntuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, Dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat Perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang saleh.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua. Amin.

08 November 2007

Apakah TUHAN Menciptakan Kejahatan?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Good Story

Ini adalah cerita seorang ibu yg akan menyelesaikan skripsinya. Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama "Tersenyum". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya, anak bungsu saya, dan saya pergi ke restoran McDonald's pada suatu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami mulai menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir. Saya tidak bergerak sama sekali... suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma. Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang "tersenyum". Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia berkata "Good day" sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, "Kopi saja, Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli. (Jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan). Kemudian saya benar-benar merasakannya - desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata "Terima kasih." Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan."

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan." Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami tahu bahwa hanya karena Rahmat Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan untuk orang lain. Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah.

Saya ke mbali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini ditangan saya. Saya menyerahkan "proyek" saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan..

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang yang ada diMcDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi..

Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT. Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk MENCINTAI SESAMA DAN MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN SESAMA.

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh anda dengan cara apapun, tolong kirimkan cerita ini kepada setiap orang yang anda kenal. Disini ada seorang malaikat yang dikirimkan untuk mengawasi anda. Supaya malaikat itu bisa bekerja, anda harus menyampaikan cerita ini pada orang-orang yang ingin anda awasi. Seorang malaikat menulis:

Banyak orang akan datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat2 sejati yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu. Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu. Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka. Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak; tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya. Orang-orang muda yang cantik adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya seni. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.

*YESTERDAY GOD was with you, TODAY you are under HIS care; don't worry about TOMORROW coz HE is already there...*

05 November 2007

Rules from God

1. Wake Up !!
Decide to have a good day.
"Today is the day the Lord has made;
let us rejoice and be glad in it."

Psalms 118:24


2. Dress Up !!

The best way to dress up is to put on a smile.
A smile is an inexpensive way to improve your looks.
"The Lord does not look at the things man looks at.
Man looks at outward appearance;
but the Lord looks at the heart."

I Samuel 16:7

3. Shut Up!!

Say nice things and learn to listen.
God gave us two ears and one mouth, so He must have meant
for us to do twice as much listening as talking.
"He who guards his lips guards his soul."

Proverbs 13:3



4. Stand Up!!...

For what you believe in.
Stand for something or you will fall for anything..
"Let us not be weary in doing good; for at the proper time,
we will reap a harvest if we do not give up.
Therefore, as we have opportunity, let us do good..."

Galatians 6:9-10

5. Look Up !!...

To the Lord.
"I can do everything through Christ who strengthens me."

Philippians 4:13


6. Reach Up !!...

For something higher.
"Trust in the Lord with all your heart,
and lean not unto your own understanding.
In all your ways, acknowledge Him,
and He will direct your path."

Proverbs 3:5-6


7. Lift Up !!...

Your Prayers.
"Do not worry about anything;
instead PRAY ABOUT
EVERYTHING."

Philippians 4:6




Send this to the people you care about.
I thought this was mighty special, just like you.
Pass this on and brighten someone's day.


FAMILY = Father And Mother I Love You

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, Anak Perempuan saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir sana!!!" kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, ketika kesopanan kamu gunakan, tetapi sanak keluarga yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu."

"Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."

Seketika saya merasa malu, dan sekarang air mata mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku. "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. "

"Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru." Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."

Si kecilku pun berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu." Saya pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."

Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?

Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah semua yang ada disini telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah semuanya tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.

FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU

May God bless you today, and keep smiling on all ur day

02 November 2007

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, "Makanlah nak, aku tidak lapar" --------
KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah diranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku,Aku tidak kesakitan" ----------
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih ibu!"

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "menyesal" di kemudian hari.